Always be my baby :: Chapter 6 [HaeHyuk]

Previous Chapter

“Eomma, eomma, dengarkan aku, apapun yang eomma dengar, eomma harus percaya padaku, aku—“

“DIAM!”

“Eomma kecewa padamu.”

“Mengecewakan,”

“Eomma!”

ALWAYS BE MY BABY

Pairing: HaeHyuk (Lee Donghae X Lee Hyukjae)

Warning: GS/Genderswitch, Typo(s) miss typo, EYD Failure, Adult Content, Out Of Character, Bad Description, Don’t Like Don’t Read

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort, Family

+/- 8.461 words (siap-siap bosen) YoY

Rated: M

All Cast belongs to GOD, but this story belongs to ME.

Summary: Terlepas dari maut, nyonya Lee tak lantas berterimakasih pada sang anak yang sudah berusaha menyelamatkannya, justru sebaliknya. Nyonya Lee memutuskan hubungannya dengan Donghae karena sang anak lebih membela Eunhyuk.

Note:

“…” Talk
‘…’ Think

HAPPY READING!

Chapter 6: As long as you love me

Ketika Donghae sibuk dengan setumpuk dokumen pentingnya di balik meja kerja, ponselnya berdering. Sungmin menghubunginya untuk memberitahu Donghae bahwa nyonya Lee masuk rumah sakit. “Kau tidak sedang bercanda kan, noona?” Donghae berdiri dari tempat duduknya dengan wajah terkejut luar biasa. “Kau tau sendiri kan aku tidak berani membuat lelucon tentang bibi Lee. Cepat ke rumah sakit, aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak lagi di telepon.” Setelah itu, sambungan telepon mereka terputus. Tanpa berfikir dua kali, Donghae mengambil kunci mobilnya dan segera berlari keluar dari ruangannya.

Ketika melihat Donghae, Ryeowook langsung berdiri dari tempat duduknya. “Presdir anda mau kemana? Jangan lupa ada rapat dengan dewan direksi pukul satu.” Gadis mungil itu berusaha mencegah kepergian Donghae. Karena jika Donghae sudah pergi dari kantor, dia akan lama kembali, apa lagi jika itu urusan dengan Eunhyuk.

“Yesung hyung, tolong gantikan aku,” pinta Donghae pada Yesung yang kebetulan ada di dekat ruangannya—apalagi kalau bukan untuk menggoda Ryeowook—tanpa melihat Ryeowook.

Rasanya gadis mungil itu ingin sekali melempari Donghae dengan sepatu kantorannya yang bersol tebal. “Ya, Lee Donghae! Aku tidak peduli kau presdir di sini. Tapi kau tidak bisa terus bersikap seperti itu! Lagi pula kau kan sudah menikah dengan Eunhyuk, kau bisa menyelesaikan urusanmu dengannya setelah pulang kantor kan?” Ryeowook tidak peduli jika saat ini banyak karyawan lain yang memperhatikannya, dia juga tidak peduli pada Yesung yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh, yang Ryeowook pedulikan hanyalah Donghae yang saat ini sedang diam di tempatnya. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat senyum samar terulas di wajah Ryeowook.

“Ini bukan masalah Hyukkie, ini… masalah Eomma yang masuk rumah sakit.” Ryeowook membekap mulutnya, terkejut hingga matanya benar-benar membulat. Dalam hati dia bertanya bagaimana mungkin bibinya bisa masuk rumah sakit lagi? Ryeowook ingin bertanya lebih banyak lagi pada Donghae namun sepupunya yang tampan itu sudah menghilang dari pandangannya.

o0o

Menunggu itu menyebalkan. Bahkan untuk beberapa orang, menunggu itu menyakitkan. Seperti yang dirasakan Eunhyuk saat ini. Perasaannya bercampur antara bersalah, cemas, takut dan sakit. Andaikan dia mau mengikuti saran Sungmin memilih jalan lain supaya tidak bersimpangan dengan Yoona, mungkin nyonya Lee tidak akan masuk ruang gawat darurat karena terkejut mendengar kenyataan tentang dirinya dan Yoona.

Melihat badan sang sepupu ipar gemetar hebat, Sungmin menggengam erat tangan Eunhyuk. “Tenanglah, Hyukkie. Bibi Lee orang yang kuat.” Tanpa menghadap Sungmin, Eunhyuk menggigit ujung ibu jarinya yang bebas dari genggaman Sungmin. “Ini semua salahku, eonni. Seandainya aku tadi mendengarkan perkataanmu—” Sungmin mengusap pelan rambut Eunhyuk sambil memotong ucapan sang sepupu ipar. “Semuanya sudah terjadi, Hyukkie. Ini bukan hanya salahmu. Ini sudah takdir.”

“Donghae pasti tidak akan memaafkanku, eonni.” Pemilik gummy smile itu bisa merasakan tangan Sungmin makin erat menggenggamnya. “Kau tau betapa sayangnya Donghae padamu kan? Dia tidak akan marah padamu. Dia pasti mengerti.”

Semua perkataan Sungmin seperti angin, tak ada yang bisa masuk ke dalam hati Eunhyuk dan menenangkan wanita cantik itu. “Tidak, eonni. Dia tidak akan mau mengerti jika itu menyangkut eomma.”

Sungmin tidak tau harus menenangkan Eunhyuk dengan perkataan apa lagi. Keadaan begitu rumit bagi Sungmin. Wanita yang kini menyandang marga Cho itu berfikir bahwa dia sudah tau semua tentang keluarga Donghae, ternyata dia salah. Masih banyak hal yang belum ia ketahui, terutama tentang mantan sepupu iparnya, Yoona.

Bicara tentang Yoona, Sungmin mengalihkan sebentar atensinya dari Eunhyuk lalu menoleh pada Yoona yang duduk di deretan kursi sampingnya. Sedikit iba melihat wajah yang dipenuhi perasaan bersalah dari perempuan itu, terlebih jika ingat bagaimana Donghae memperlakukannya setelah mereka menikah.

Sungmin tidak menyalahkan Yoona jika sampai dia selingkuh dan hamil dengan pria lain, karena Donghae juga melakukan hal yang sama. Tapi jika sampai berbohong kepada bibinya bahwa anak yang ada dalah perutnya itu adalah anak Donghae, rasanya Sungmin ingin menghajar Yoona. Sayangnya Sungmin sedang tidak ingin menjadi pusat perhatian sekarang, jadinya dia hanya diam dan mengembalikan atensinya pada Eunhyuk.

Memikirkan semua yang terjadi, membuat kepala Sungmin menjadi pening. Dia tidak tau harus melakukan apa lagi sekaranng, termasuk bagaimana dia harus menyambut Donghae yang baru saja muncul di ujung koridor. Lelaki tampan itu segera berlari setelah melihat istrinya duduk gemetar di sebelah pintu ruang gawat darurat..

“Hyukkie!”

Eunhyuk tau betul siapa yang menyerukan namanya. Dia menoleh ke arah sumber suara. Ketakutannya bertambah besar ketika melihat sang suami menghampirinya.

Donghae berjongkok dihadapan sang istri, lalu mencengkeram kedua pundaknya. “Hyukkie, katakan kalau eomma baik-baik saja!” Eunhyuk tidak tau harus memberikan jawaban seperti apa pada Donghae, dia ketakutan melihat sorot mata sang suami yang tajam.

Sungmin yang mengerti bagaimana kondisi Eunhyuk, mencoba menengahi. “Hae-ah, tenanglah dulu. Kami akan jelaskan semuanya tapi kau harus tenang dulu.” Sayangnya, Donghae tidak mau mendengar perkataan Sungmin. Pikirannya terlalu keruh untuk saat ini. “Hyukkie, katakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa eomma bisa ada di sini?” tanya Donghae tak sabar.

“Maafkan aku, Hae…” gumam Eunhyuk. Entah kenapa wajah Donghae tiba-tiba menjadi ketakutan. “Tidak. Jangan meminta maaf!” Dalam pikiran Donghae, jika Eunhyuk meminta maaf padanya, maka Eunhyuk memang salah dan jujur Donghae tidak menginginkan hal itu. “Eomma pingsan setelah memdengar pembicaraanku dengan Yoona. Kami bertengkar dan tanpa sengaja mengatakan kebohongan satu sama lain.” Saat itu Donghae baru sadar bahwa Yoona juga ada di sana. Donghae yakin bahwa ibunya bisa berada di tempat terkutuk ini karena mengikuti Yoona. Tidak ada kepentingan lain yang bisa dilakukan nyonya Lee di rumah sakit, apalagi di sekitar paviliun khusus ibu dan anak. Mata penuh kilatan amarah itu menatap Yoona sengit. “Kau,” desis Donghae. Hampir saja dia menghampiri Yoona untuk melampiaskan kemarahannya, seandainya Eunhyuk tidak menahannya. “Kenapa kau membawa eomma ke sini? Kau sudah tidak waras? Apa sebenarnya maumu?” tanya Donghae dengan nada tinggi.

Sambil menyembunyikan rasa takutnya, Yoona menggeleng cepat. “Aku bersumpah tidak mengajak eomma ke sini. Aku juga tidak tau bagaimana eomma bisa datang ke sini. Aku berangkat sendirian. Kau bisa bertanya pada kepala pelayan Kim jika tidak percaya padaku.”

Tidak ada alasan untuk tidak mempercayai perkataan Yoona. Wanita itu sudah membawa nama kepala pelayan yang paling ia percayai, jadi sulit untuk tetap menyalakan Yoona.

Donghae mengusap kasar wajahnya lalu jatuh terduduk di atas lantai rumah sakit yang dingin. Memikirkan bagaimana nasib sang ibu di dalam sana. Eunhyuk mengikuti jejak Donghae, dia bersimpuh dihadapan sang suami sambil menunduk dalam, meminta pengampunan sambil menangis tanpa isakan. “Maafkan aku…”

Jika ada yang bertanya pada Donghae mengenai siapa orang paling bodoh di dunia ini, maka lelaki tampan itu akan menjawab dirinya lah orang itu. Dia bodoh karena membiarkan orang yang ia cintai merasa bersalah karena menanggung akibat dari kesalahan yang ia ciptakan.

Dengan lembut Donghae mengangkat dagu Eunhyuk supaya ia bisa menatap sepasang mata indah milik sang istri. “Ini bukan salahmu, ini salahku. Maafkan aku.” Dia berbisik begitu lembut hingga bisa membuat hati Eunhyuk nyaman. Perlahan, Donghae menyelipkan helaian rambut Eunhyuk ke belakang telinga, sehingga Donghae bisa melihat pipi Eunhyuk yang memerah. Dia yakin warna merah itu bukan efek dari rasa malu ataupun tangisan, karena hanya pipi kiri Eunhyuk yang merah sedangkan pipi kananya tidak.

Donghae mengusap pipi Eunhyuk yang telah ditampar oleh Yoona dengan penuh perasaan sayang. “Apa eomma juga menamparmu?”

Yang ditanya hanya diam, menimbang beberapa kata sebelum keluar dari bibirnya. “Tidak, Hae-ah. tidak ada yang menamparku,” dusta Eunhyuk sambil memberikan isyarat pada Sungmin untuk mendukung keputusannya. Eunhyuk tidak ingin memperkeruh suasana dengan berkata jujur. Dia tau keributan macam apa yang akan ditimbulkan Donghae jika sampai sang suami tau bahwa mantan istrinya telah memukul Eunhyuk dua kali.

Sekalipun hatinya tidak terima dengan tamparan Yoona, Eunhyuk tidak akan membalas, toh keadaan Yoona sudah sangat mengenaskan saat ini, lebih parah dibandingkan mendapat dua kali tamparan di pipi. Eunhyuk berani bersumpah ada raungan keputusasaan dan tumpukan perasaan cemburu di mata Yoona, ketika melihat Donghae memperlakukan Eunhyuk dengan sangat lembut dan penuh perhatian. Bagi Eunhyuk, hal itu sudah lebih dari cukup untuk membalas dua tamparan Yoona. Tamparan di pipi yang rasa sakitnya mudah hilang dibalas dengan ramparan di hati yang rasa sakitnya sulit hilang, bukankah itu lebih kejam?

Donghae menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Eunhyuk lalu menyatukan kening mereka. “Maafkan aku, Hyukkie. Aku suami yang tidak berguna.” Donghae bisa merasakan Eunhyuk menggeleng dan menangkup tangannya. “Jangan berkata seperti itu, ku mohon.”

Tepat setelah itu, pintu ruang gawat darurat terbuka. Donghae segera bangkit untuk mencari tau kondisi sang ibu. “Bagaimana keadaan ibu saya, dok?” Seorang dokter berperawakan tinggi melepas maskernya. “Pasien masih belum bisa dikatakan selamat. Kondisinya masih kritis. Jantungnya sudah mencapai batas toleransi. Kemungkinan untuk selamat sangat kecil.”

Donghae tidak tau harus melakukan apa lagi selain memohon pada sang dokter. “Tolong lakukan apapun demi ibu saya, dok. Tolong selamatkan dia.” Dokter itu memegangi lengan Donghae supaya tenang. “Ada satu cara untuk menyelamatnya nyonya Lee. Transplantasi jantung.”

“Tolong lakukan apa saja. Yang penting ibu saya selamat. Saya akan laksanakan semua prosedurnya,” kata Donghae mantap. Sang dokter mengangguk kemudian meminta sebagian perawat yang ada di dalam ruang gawat darurat untuk memindahkan nyonya Lee ke ruang operasi, sedangkan sisanya mengurusi persiapan transplantasi jantung.

Dari belakang, Donghae dan yang lain mengikuti rombongan dokter yang membawa nyonya Lee. Wajah pucat sang ibu benar-benar membuat Donghae ingin menghampiri sang ibu lalu menguncang badannya sampai bangun, tapi Eunhyuk dan Sungmin menahannya. Mereka membisikan kata-kata penenang untuk Donghae supaya lelaki itu bisa tetap sabar.

Setelah nyonya Lee di masukan ke dalam ruang operasi, Donghae, Eunhyuk, Sungmin dan Yoona diminta menunggu saja di luar. Di sana mereka melihat seorang suster berlari dari ujung koridor rumah sakit kemudian masuk ke dalam ruang operasi dengan wajah cemas. Tak lama kemudian sang dokter keluar di temani suster tadi.

Tak bisa mengabaikan rasa ingin tahunya, Donghae menghampiri sang dokter. “Ada apa dok?” Mau tak mau dokter itu harus menjawab pertanyaan Donghae. “Jantung yang akan di donorkan pada nyonya Lee sudah digunakan oleh dokter lain.” Saat itu juga amarah Donghae tersulut. “Apa maksudnya ini?” lagi-lagi Eunhyuk dan Sungmin berusaha keras mencegah supaya Donghae tidak membuat keributan. “Tenanglah Hae, jangan marah-marah dulu,” kata Sungmin. “Dok, masih ada jantung yang lainnya kan? Operasinya masih bisa berjalan kan?” tanya Eunhyuk sambil memegangi lengan Donghae erat-erat. “Saya menyesal mengatakan hal ini, di sini hanya itu yang kami punya.”

Semuanya kecewa, sampai-sampai Donghae bisa lepas dari cengkeraman Eunhyuk dan Sungmin. Dia berlutut di hadapan sang dokter, menanggalkan seluruh harga diri yang ia punya demi keselamatan sang ibu. “Tolong selamatkan ibu saya, dok.”

Sang dokter buru-buru mengajak Donghae berdiri, agak risih juga karena ada yang memohon dengan cara seperti ini padanya. “Kami tetap akan melakukan yang terbaik. Tapi kami butuh bantuan anda,” ucap dokter itu.

“Lebih cepat anda mengatakan apa yang anda butuhkan, itu lebih baik.”

Dokter bermarga Choi itu kemudian menatap Donghae dengan sorot tidak main-main. “Bantu kami mencari pendonor. Waktu kita hanya tiga kali dua puluh empat jam. Pendonor harus seseorang yang baru saja meninggal.”

o0o

Satu minggu setelahnya, tepat pukul delapan pagi, Eunhyuk berjalan menuju kamar rawat nyonya Lee. Tangan kananya menjinjing sebuah kotak berisi berbagai macam makanan, sedangkan tangan kirinya menimang satu buket bunga lili putih. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Donghwa. Keduanya berbincang sebentar, hanya beberapa menit karena Eunhyuk memang sudah tidak sabar memberikan makanan yang ia bawa pada Donghae.

Ketika sampai di ruang rawat nyonya Lee, Eunhyuk membuka pintu dengan sangat pelan, tak ingin mengganggu siapapun yang ada di dalam, terutama nyonya Lee. Eunhyuk masuk dan mendapati nyonya Lee masih terbaring lemah di atas ranjang ditemani Donghae yang tertidur di sampingnya.

Tanpa suara berisik, Eunhyuk menaruh kotak makanannya di meja dan mengganti bunga di samping ranjang rawat nyonya Lee yang sudah layu. Untuk sesaat ia memperhatikan detak jantung nyonya Lee yang mulai normal. Dia tersenyum sambil mengucapkan syukur dalam hati. Tadinya Eunhyuk sangat cemas jika nyonya Lee tidak bisa mendapatkan donor, mengingat jantung adalah anggota yang vital dan jarang sekali ada keluarga dari orang yang meninggal mau menyumbangkan bagian tersebut. Tiga hari penuh Donghae, Eunhyuk, Sungmin, Kyuhyun, Reyowook, Yesung dan Yoona—sekalipun dia adalah wanita menyebalkan, dia tetap manusia yang mempunyai sedikit rasa kasihan, dia juga ikut membantu—mencari pendonor, namun tak ada hasil. Harapan mereka mulai redup terlebih ketika dokter Choi berkata bahwa nyonya Lee sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Tapi, di saat-saat terakhir itulah mereka akhirnya mendapat donor dan operasi bisa terlaksana.

Setelah selesai merenungi saat-saat paling mendebarkan dalam hidupnya, barulah Eunhyuk menghampiri Donghae yang sedang tertidur dengan posisi kepala terbenam dalam lengan di tepi ranjang rawat nyonya Lee. Eunhyuk mengusap helaian hitam kemerahan milik Donghae supaya sang suami bangun. Memang cara Eunhyuk membangunkan Donghae sedikit aneh dan tidak masuk akal untuk seorang tukang tidur yang susah bangun seperti sang suami. Tapi cara itu benar-benar ampuh untuk Donghae jika yang memakainya adalah Eunhyuk.

Beberapa detik kemudian Donghae mengeliatkan kepalanya dan bangun dari tidurnya. Dia menegakan badan sambil mengucek matanya seperti anak kecil. “Pagi, Hae-ah,” sapa Eunhyuk dengan gummy smile-nya yang selalu berhasil membuat hati Donghae tenang. “Selamat pagi, jagiya.” Balas Donghae sambil memamerkan senyuman khas anak kecilnya.

“Bagaimana keadaan eomma?” Yang ditanya menoleh pada sang ibu lalu menghela nafas berat. “Masih sama. Hanya detak jantungnya saja yang menguat,” jawab Donghae lemah. “Sabarlah, Hae-ah. Eomma pasti akan sadar, jangan cemas,” kata Eunhyuk sambil mengusap bisep Donghae.

Kembali menghadap Eunhyuk, Donghae tersenyum untuk menghargai usaha sang istri dalam menghiburnya. “Baiklah, sekarang istirahatlah. Biar aku yang menggantikanmu menjaga eomma, kau juga butuh istirahat kan?” Donghae menggeleng sambil memegangi tangan Eunhyuk yang ada di lengannya. “Aku ingin menjaga eomma. Aku ingin melihat eomma bangun.”

“Aku mengerti, tapi kau tidak perlu memaksakan diri, Hae-ah.” Lagi-lagi Donghae menggeleng, membuat Eunhyuk menghela nafas. “Baiklah, kalau tidak mau istirahat. Tapi kau harus makan dulu sekarang. Aku bawa sarapan untukmu.” Lelaki tampan itu berniat protes lagi, tapi kali ini Eunhyuk tak membiarkan hal itu. “Aku tidak mau ada penolakan!” kata Eunhyuk tegas. Terpaksa Donghae menurut ketika sang istri menggandengnya menuju sofa. Dengan cekatan Eunhyuk menata makanan yang ia bawa di atas meja supaya Donghae bisa leluasa memakannya.

“Aku tadi bertemu Donghwa,” kata Eunhyuk di sela kegiatannya. Donghae langsung menoleh dan menatap sang istri yang sedang sibuk mengisi sebuah mangkuk dengan nasi. “Donghwa? Di rumah sakit ini?” tanya Donghae sambil menerima mangkuk yang diberikan Eunhyuk. “Dia anak dari dokter kandunganku,” jawab Eunhyuk sambil meletakan sayuran ke dalam mangkuk Donghae. Sang suami hanya menyuarakan huruf O panjang lalu memakan makanannya tanpa minat. Entah kenapa mendengar nama Donghwa hatinya menjadi dongkol. “Kalian bicara lama?” Eunhyuk menuang teh hangat dan meletakannya di depan Donghae. “Tidak banyak, hanya bertanya bagaimana keadaanku, eomma, dan anak kita,” jawab Eunhyuk sambil menambahkan daging ke dalam mangkuk Donghae.

Mungkin jika saat ini Donghae sedang menenggak minuman atau dalam proses menelan makanan, bisa dipastikan lelaki tampan itu tersedak. Sayangnya, makanan yang dia makan belum masuk ke tenggorokan. Jadinya, Donghae hanya diam dengan sebelah pipi menggembung akibat makanan. Donghae merasa bersalah. Perkataan Eunhyuk seperti tamparan baginya. Satu minggu ini ia terlalu sibuk menjaga nyonya Lee sampai-sampai mengabaikan Eunhyuk yang sedang hamil. “Jagiya, mianhae…” Eunhyuk mengerutkan dahinya tak mengerti. “Untuk apa?”

” Maafkan aku karena tidak memperhatikanmu selama satu minggu ini. Bagaimana keadaanmu dan… anak kita?” Setelah itu, Donghae hanya mengaduk makanannya tanpa berani menatap Eunhyuk.

Sejujurnya, Eunhyuk sendiri tidak begitu peduli dengan keadaannya sendiri. Dia sama seperti Donghae—hanya mencemaskan keadaan nyonya Lee. “Aku baik-baik saja, yeobo. Jangan cemaskan aku. Arrasseo?”

Donghae berdecak lalu memasukan satu sendok penuh makanannya ke dalam mulut—dengan perasaan cemburu. “Bagaimana aku tidak cemas kalau istriku dicemaskan orang lain.” Beruntung perkataan Donghae tidak terlalu jelas terdengar oleh Eunhyuk karena mulut Donghae masih penuh dengan makanan. “Telan dulu, Hae-ah. Nanti tersedak,” kata Eunhyuk sambil tersenyum. Donghae pun melanjutkan gerutuannya tentang Donghwa dalam hati.

o0o

Seusai makan, Donghae menghubungi Yesung untuk memantau keadaan perusahaan. Setelah memastikan tidak ada masalah di perusahaan, Eunhyuk mulai bercerita tentang cafenya hingga Donghae tertidur dengan berbantalkan paha Eunhyuk. Sekalipun sebelumnya Donghae menolak untuk beristirahat dan bersikeras untuk menjaga nyonya Lee sambil mendengarkan cerita sang istri, Donghae tetap jatuh tertidur ketika tangan Eunhyuk membelai lembut surai hitam kemerahannya. Dalam diam, Eunhyuk memperhatikan wajah sang suami yang tertidur tenang, wajah itu begitu damai di mata Eunhyuk. ia suka.

Di sisi lain, Eunhyuk tidak menyadari jika sang mertua perlahan terbangun dari tidur panjangnya. Nyonya Lee bertanya dalam hati perihal keberadaannya saat ini. Jika wanita paruh baya itu tidak salah tebak, ia sedang berada di rumah sakit—terbukti dari interior serba putih dan bau antiseptik yang tercium olehnya. Kemudian nyonya Lee mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Nyonya Lee ingin menangis saat itu juga mengingat dua gadis yang begitu ia sayangi tega berbohong kepadanya.

Menoleh sedikit ke kanan, nyonya Lee langsung terkejut melihat Donghae tertidur pulas di pangkuan Eunhyuk. Sudah lama sekali nyonya Lee tidak melihat raut nyaman itu di wajah Donghae. Setelah menikah dengan Yoona, Donghae tak pernah memperlihatkan wajah bahagianya. Hanya sesekali tersenyum saja, itupun terpaksa.

Apakah keputusannya menikahkan sang putra dengan Yoona merupakan kesalahan? Pertanyaan itulah yang memenuhi pikiran nyonya Lee saat ini. Dan sebagian dari diri nyonya Lee menjawab tidak. Justru nyonya Lee menyalahkan tindakan Donghae. Sang anak salah besar telah mempertahankan hubungannya dengan Eunhyuk. Seandainya Donghae berusaha keras melupakan Eunhyuk dan memulai semuanya dengan Yoona. Mungkin Yoona tidak akan nekat ikut berselingkuh, terlebih hamil.

Sungguh memikirkan hal itu membuat dada nyonya Lee kembali sesak. Alat pendeteksi jantung nyonya Lee berbunyi nyaring tak beraturan. Secepatnya Eunhyuk menoleh dan mendapati nyonya Lee sedang kesulitan bernafas. “Ya Tuhan, eomma!” Eunhyuk ingin menghampiri nyonya Lee tapi ia tidak tega membangunkan Donghae yang tertidur pulas. Beruntung sang suami terbangun setelah mendengar teriakan Eunhyuk. Donghae kemudian berlari menuju ranjang nyonya Lee untuk memeriksa keadaan sang ibu. “Eomma? Eomma?”

Tanpa diminta, Eunhyuk segera berlari meninggalkan ruangan nyonya Lee untuk memanggil dokter. Tak lama setelah itu, Eunhyuk kembali masuk ke kamar nyonya Lee ditemani dokter Choi.

Sang dokter mendekati nyonya Lee dan memeriksa keadaan nyonya Lee. Sang dokter menambahkan kecepatan sirkulasi udara di selang pernafasan nyonya Lee. Beberapa saat kemudian, barulah nyonya Lee mulai tenang, pernafasannya sudah teratur. Matanya juga perlahan menutup namun nyonya Lee tidak tidur. “Sebaiknya, jangan biarkan nyonya Lee memikirkan hal-hal berat dulu. Atau jangan berdebat dulu dengan beliau. Itu tidak baik untuk proses kesembuhannya.” Donghae dan Eunhyuk mengangguk bersamaan. “Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu.” Setelah dokter Choi pergi, Donghae segera duduk di kursi samping ranjang rawat sang ibu, menggenggam jemari yang mulai keriput tersebut dan meletakannya di pipi. “Eomma… aku menyayangi eomma,” lirih Donghae.

Perlahan tangan itu terlepas dari genggaman Donghae. Tak hanya Donghae saja yang terkejut, Eunhyuk yang berdiri di belakang Donghae juga ikut tercengang. “Eomma…” gumam Donghae setengah merajuk lengkap dengan wajah tersiksanya. Sayangnya nyonya Lee enggan menanggapi hal itu. Nyonya Lee tetap diam dan menolak setiap kontak fisik yang diciptakan oleh sang anak.

o0o

Tiga hari berlalu tanpa ada kemajuan berarti dari nyonya Lee. Wanita paruh baya tersebut tetap tidak mau membuka matanya, makan dan melakukan kegiatan kecil lainnya ketika Donghae dan Eunhyuk ada di dekatnya. Semua kegiatan uang harusnya dilakukan oleh Donghae diambil alih oleh seorang suster atas permintaan nyonya Lee sendiri. Dan keadaan bertambah parah ketika Yoona mengunjungi nyonya Lee di rumah sakit.

Siang itu nyonya Lee tidak di temani siapapun. Donghae sudah mulai bekerja dan Eunhyuk kebetulan sedang keluar untuk menyelesaikan sesuatu.

“Selamat siang, eomma.” Nyonya Lee membuka matanya ketika suara yang begitu familiar tersebut menyapanya. “Kau,” desis nyonya Lee setengah mengeram. “Iya, ini aku, eomma. Bagaimana keadaan eomma?” Nyonya Lee memalingkan wajahhnya tanpa menanggapi ucapan Yoona. “Aku rasa keadaan eomma sudah lebih baik.”

“Untuk apa kau ke sini?” tanya nyonya Lee dengan nada tidak bersahabat. “Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku, eomma,” kata Yoona sambil menunduk. Tentu saja nyonya Lee tidak akan semudah itu memaafkan Yoona, sekalipun dulu nyonya Lee begitu menyayangi Yoona. “Eomma memaafkanku kan?”

“Setelah apa yang kau lakukan? Jangan harap!”

“Lalu kenapa eomma bisa dengan mudah menerima wanita itu? bukankah dia juga melakukankesalahan yang fatal?”

“Aku tidak emmafkan siapapun.”

Eomma membiarkan dia tetap disini bersama Donghae, bukankah itu namanya sudah memaafkan? Itu tidak adil, eomma!”

“Kau salah!”

“Aku memang salah.”

Nyonya Lee tau bahwa pembicaraannya dengan Yoona sudah berpindah topik, pembicaraan itu merujuk pada perselingkuhan yang Yoona lakukan.

“Jika kau sadar kau melakukan kesalahan, kenapa kau melakukannya? Apa kau tidak berfikir dampak dari perbuatanmu?“

“Jika eomma ada di posisi ku saat itu, pasti eomma juga melakukan hal yang sama denganku.”

Nyonya Lee terpaksa menelan lagi seluruh protesnya. Wanita paruh baya itu tau bahwa apa yang dilakukan Yoona adalah pelampiasan dari rasa sakit hati dan keputus asaannya akibat menunggu hati Donghae. Nyonya Lee merasa iba pada Yoona. Gadis kecilnya itu pasti terluka setiap malam saat melihat tempat kosong di ranjangnya, gadis kecilnya juga pasti terluka ketika mendapati fakta bahwa dia diceraikan supaya Donghae bisa menikahi Eunhyuk. Namun, perselingkuhan sampai berujung kehamilan sudah melewati batas toleransi bagi nyonya Lee.

“Baiklah, jika memang eomma tidak mau memaafkanku, aku tidak akan memaksa.mungkin sekarang memang bukan waktunya eomma untuk memaafkanku.” Yoona kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Ini, bukti kepemilikan saham perusahaan yang pernah eomma berikan padaku. Aku kembalikan pada eomma, karena itu yang diinginkan kedua orang tuaku. Mereka juga minta maaf kepada eomma atas semua kesalahanku. Mereka tidak punya muka untuk bertemu langsung dengan eomma.” Yoona meletakan sebuah amplop cokelat besar di atas meja nakas nyonya Lee, membungkuk dalam dan pergi dari hadapan nyonya Lee.

Nyonya Lee tidak ingin perpisahan semacam ini dengan Yoona. Di matanya, wanita itu tetaplah gadis kecil yang selalu mempunyai tempat tersendiri di hati nyonya Lee. Hubungan dekatnya dengan kedua orang tua Yoona membuatnya susah membenci wanita itu, separah apapun kesalahan yang pernah ia lakukan.

Sebelum Yoona melewati pintu kamarnya, nyonya Lee melihat Yoona berhenti di depan pintu. Terlihat seperti ragu untuk mengatakan satu hal. Tapi nyonya Lee senang setidaknya ia tidak harus memanggil Yoona supaya menoleh padanya. “Katakan apa yang ingin kau katakan,” titah nyonya Lee sebelum wanita paruh baya itu mengeluarkan semua uneg-unegnya pada Yoona.

“Pernahkah eomma berfikir kenapa wanita itu mau-mau saja menjadi istri Donghae?”

Nyonya Lee tidak menjawab, takut dengan dugaannya sendiri.

“Uang.” Yoona melanjutkan ucapannya kemudian menutup pintu kamar nyonya Lee dan pergi meninggalkan nyonya Lee yang bimbang. Sebelum Yoona pergi, dia akan meninggalkan sesuatu untuk Donghae dan Eunhyuk. “Jika aku tidak bisa bahagia, maka kau juga tidak bisa, Lee Donghae.” Wanita itu memang licik, karena hatinya sudah dibutakan oleh cinta tak berbalasnya.

o0o

Kamsahamnida,” ucap Eunhyuk setelah mengambil alih nampan berisi makanan dari seorang petugas. Ia meletakan nampan itu di atas meja lalu memperhatikan sang mertua yang sedang menutup mata. Eunhyuk tau nyonya Lee tidak tidur. Dengan seluruh keberaniannya, Eunhyuk menghadap nyonya Lee. “Eomma, waktunya makan.” Nyonya Lee diam saja, hal itu menandakan nyonya Lee masih belum mau berbica padanya, otomatis tidak akan mau ia suapi juga. Eunhyuk lalu berinisiatif untuk memanggilkan suster untuk menyuapi nyonya Lee, seperti biasa namun sebelum Eunhyuk sempat melangkah menuju pintu, nyonya Lee memanggilnya. “Hyukjae.”

Pergerakan Eunhyuk tiba-tiba terhenti ketika nyonya Lee menyebutkan nama samarannya dulu. “Kau dulu pernah bekerja di bar bukan? Sudah berapa lelaki yang mengajakmu ‘tidur’?” tangan Eunhyuk langsung gemetar, ia baru sadar jika penilaian seseorang pada mantan pekerja bar hanya sebatas itu saja. Eunhyuk sebisa mungkin menyembunyikan senyum penuh lukanya. “Anakku orang yang keberapa?”

Belum sempat Eunhyuk menanggapi, seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu menyela. “Aku yang pertama, eomma. Sebelum dan sesudahnya tidak ada lagi.”

Eunhyuk membulatkan matanya ketika melihat sang suami berdiri tegak di hadapannya. “Hae-ah? apa yang kau lakukan di sini?”

“Apa ini bagian dari kebohonganmu, Lee Donghae? logikanya, tidak ada pekerja di bar yang tidak—“

“Kumohon cukup, eomma!”

“LEE DONGHAE! Sampai kapan kau akan menentangku?”

Donghae hendak menghampiri nyonya Lee namun Eunhyuk mendorong tubuh Donghae hingga jauh.

“Sampai eomma mengerti kalau Eunhyuk bukan wanita seperti ‘itu’.”

Sebelum pertengkaran ibu dan anak itu menjadi makin parah, Eunhyuk segera menengahi dan mengajak Donghae keluar dari ruangan nyonya Lee sambil memperingatkan sang suami perihal kesehatan nyonya Lee.

“Ada ribuan wanita baik-baik di luar sana, kenapa kau memilihnya?” kata nyonya Lee sambil berusaha bangkit dengan susah payah.

Eunhyuk sangat ingin membantu nyonya Lee bangkit dari ranjangnya seandainya Donghae tidak sedang dalam keadaan kacau.

“Karena sejak awal pilihanku sudah ditetapkan pada Lee Eunhyuk,” jawab Donghae lalu keluar dari ruangan itu bersama Eunhyuk.

o0o

Setelah perdebatan itu, Donghae tidak membiarkan Eunhyuk menjenguk nyonya Lee, dia takut istrinya kembali dipojokan oleh sang ibu. Donghae tau itu menyakitkan bagi Eunhyuk sekalipun Eunhyuk tidak menunjukan ekspresi terlukanya. Donghae sendiri hanya sesekali mengunjungi nyonya Lee di kamar rawatnya, hal itu pun berlangsung tidak lama dan tanpa komunikasi. Namun setiap saat Donghae selalu memantau keadaan nyonya Lee melalui dokter Choi dan seorang suster.

Suatu ketika, Donghae sangat mencemaskan keadaan sang ibu, tapi Donghae tidak bisa berkunjung karena ada rapat dengan dewan direksi. Donghae tidak enak pada jajaran dewan direksi jika ia harus mewakilkan kehadirannya pada Yesung—untuk yang kesekian kalinya, jadinya Donghae meminta Ryeowook untuk mengunjungi sang ibu, dan meminta sekertarisnya yang lain untuk menggantikan pekerjaan Ryeowook menjadi notulen rapat.

“Bibi, aku datang!” sapa Ryeowook ketika ia memasuki ruang rawat nyonya Lee. “Oh, kau Wookie, masuklah,” ucap nyonya Lee.

Dari sekian banyak sepupu Donghae, Ryeowooklah yang paling dekat dengan nyonya Lee. Tidak heran jika nyonya Lee bersikap biasa-biasa saja ketika gadis berperawakan mungil itu menjenguknya. Sekalipun perasaan curiga memang ada di hati nyonya Lee, karena Ryeowook mengunjunginya saat jam kerja. Namun nyonya Lee diam saja tanpa menyuarakan kecurigaannya, ia ingin tau apa maksud Ryeowook sebenarnya. “Maaf baru bisa menjenguk bibi sekarang, pekerjaan di kantor sangat banyak.” nyonya Lee tersenyum maklum sambil mengusap lengan Ryeowook. “Ah, bibi sudah makan? Aku membawa makanan untuk bibi. Aku tau bibi pasti bosan memakan makanan rumah sakit,” kata Ryeowook sambil mengambil kotak makanan yang ia bawa. “Kau benar, bibi bosan berada di sini.”

“Kata dokter, jika besok detak jantung bibi tetap normal, lusa bibi sudah boleh pulang.”

“Begitu ya?” Ryeowook pun mengangguk semangat sambil membuka kotak makannnya.

Nyonya Lee berfikir apakah Donghae juga mengetahui tentang hal ini? Sejujurnya, nyonya Lee ingin pulang ditemani Donghae, sayangnya sang anak tidak pernah menunjukan kepeduliannya langsung di hadapan nyonya Lee hingga sang ibu berfikir bahwa Donghae sudah tidak lagi perduli padanya, anaknya lebih peduli pada Eunhyuk.

Mengingat Eunhyuk, entah kenapa perasaan nyonya Lee langsung kacau balau. Dia marah, kecewa tapi juga iba. Jika benar Eunhyuk bukan wanita murahan seperti yang dikatakan Donghae, Eunhyuk juga pasti sama tersiksanya dengan Yoona ketika Donghae meberitahukan rencana pernikahannya. Lalu nyonya Lee kembali teringat perkataan Donghae saat mereka berdebat. Nyonya Lee kembali ragu jika Eunhyuk adalah wanita baik-baik. Ia juga masih penasaran dengan kesimpulan yang dibuat Yoona bahwa Eunhyuk mempertahankan hubungannya dengan Donghae hanya untuk uang.

Untuk membuktikan kata-kata Yoona dan juga meyakinkan dirinya bahwa Eunhyuk memang wanita baik-baik—terlepas dari pekerjaan lamanya—hanya ada satu cara yang melintas di pikiran wanita paruh baya itu.

“Wookie, bibi ingin meminta bantuan padamu. Bibi harap kau mau membantu bibi.” Ryeowook yang tadinya sibuk menata makanan langsung menoleh pada sang bibi dengan senyum manisnya. “Apa itu? Jika aku bisa pasti aku akan membantu bibi.”

“Tolong siapkan rapat di akhir bulan ini. Bibi ingin mengganti presiden direktur yang sekarang.”

Hampir saja makanan yang ada di tangan Ryeowook terjatuh. Dia benar-benar terkejut. “Bi—Bibi mau menurunkan Lee Donghae dari posisinya?” sang bibi hanya diam namun raut wajah yang keras itu sudah lebih dari cukup bagi Ryeowook untuk mewakili kata ‘iya’. “Kenapa, bibi? Donghae hampir tidak pernah melakukan kesalahan fatal saat memimpin perusahaan. Dewan direksi juga tidak pernah mengeluh dengan kerjanya, sekalipun banyak yang tidak menyukai Donghae. Lagipula dia anak bibi, jabatan itu memang miliknya kan?”

Nyonya Lee menghela nafas panjang. “Jika kau punya anak nanti, kau akan tau kenapa bibi melakukan hal ini.”

Sesaat Ryeowook diam untuk memikirkan beberapa hal yang mungkin menjadi dasar keputusan nyonya Lee, dan pikiran Ryeowook hanya tertuju pada satu bayangan, Eunhyuk. jika dugaannya benar, maka ia tidak bisa melakukan apapun lagi.

‘Bencana! Kiamat akan segera datang!’ jerit Ryeowook dalam hati.

o0o

Oppa, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” keluh Ryeowook pada Yesung setelah ia pulang dari rumah sakit. Gadis mungil itu langsung menemui Yesung di ruangannya dan menceritakan permintaan nyonya Lee, pada sang kekasih. “Ini benar-benar gawat, oppa. Jika sampai bibi memilih orang yang salah, kita semua bisa tamat. Ah tidak! Lebih parah lagi, perusahaan akan hancur!”

Yesung memijat pelipisnya sambil memutar otak. Sekalipun wajahnya terlihat tenang, pikirannya ternyata sedang cemas.

Merasa tak ditanggapi, Ryeowook pun mengguncang badan sang kekasih. “Oppaeottoke?”

Yesung menyudahi acara berfikir dalam keheningannya kemudian memegangi tangan Ryeowook, supaya gadisnya itu bisa sedikit tenang. “Kau tenang saja. Aku akan membicarakan ini dulu dengan Donghae.” Jujur Yesung tidak bisa berfikir jernih untuk saat ini. Seandainya permintaan itu datangnya dari jajaran direksi, maka Yesung masih bisa mencari jalan keluar. Tapi kali ini permintaannya datang langsung dari nyonya Lee, Komisaris Lee’s company, pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan. Itu artinya siapapun tidak bisa menolak.

Oppa…”

Yesung mengecup kening Ryeowook lalu tersenyum manis sebelum pergi meninggalkan sang kekasih tanpa penjelasan lagi.

o0o

“Jadi… apa rencanamu selanjutnya, Hae?” tanya Yesung setelah memberitahukan rencana nyonya Lee kepada Donghae. Keduanya duduk di single sofa yang berhadapan dalam ruangan Donghae.

Setengah sadar dan tidak, Donghae tersenyum tanpa menghadap Yesung. “Eomma membuangku. Aku bisa apa selain menuruti keinginannya?”

“Apa itu artinya…” Yesung tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. lelaki tampan pecinta kura-kura itu tak bisa meneruskan perkataannya, takut salah.

“Aku akan berhenti dan keluar dari perusahaan. Setelah eomma menunjuk presdir yang baru.”

“Hae-ah, ini sama saja menyetujui ajakan perang eomma-mu!”

Eomma juga tidak mungkin membatalkan ajakan perangnya kan, hyung?”

“Tapi kau bisa mengalah, Hae?”

“Jika aku mengalah pada eomma, aku akan kehilangan Hyukkie.”

“Pikirkan nasib semua karyawan yang mendukungmu di sini. Ada banyak dewan komisaris yang berpotensi menjadi penghancur perusahaan, jika mereka terpilih menjadi presdir selanjutnya. Kau tau sendiri kan?”

“Aku tau, tapi aku yakin Eomma tidak akan memilih orang yang salah, hyung.” dengan raut wajah santai, Donghae menepuk pundak Yesung. “Sudahlah hyung. Perusahaan akan baik-baik saja jika aku pergi.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah kau keluar dari perusahaan ini?”

“Tentu saja melanjutkan hidupku dengan Eunhyuk. Aku akan memulai semuanya dari awal lagi bersamanya.”

“Hah, terserah kau, Lee Donghae.” Yesung yang sudah pusing membujuk Donghae, akhirnya pasrah dengan keputusan sang sahabat merangkap atasannya. “Tapi aku akan ikut denganmu jika kau pergi.” Tentu saja Donghae tidak setuju dengan ide Yesung. “Tidak, jangan ikuti aku. Hyung harus membantu eomma, begitu pula Wookie. Perusahaan ini butuh kalian.”

“Tapi, Hae—”

“Jika hyung tidak mau melakukan ini demi aku, lakukan ini demi Wookie. Cukup Sungmin saja yang dimusuhi eomma, jangan sampai Wookie juga ikut di musuhi eomma gara-gara kalian mengikutiku keluar dari perusahaan.”

Untuk kedua kalinya, Yesung menghembuskan nafas pasrahnya. “Baiklah, jika itu keputusanmu.”

“Jangan cemas, hyung. aku akan tetap membantu jika kau butuh bantuanku.”

“Kau menyindirku? Harusnya aku yang berkata seperti itu di saat seperti ini, Lee pabo!”

Akhirnya mereka berdua bisa tertawa, suasana tegang dalam ruangan itu perlahan hilang. Sayangnya, seseorang yang sejak tadi menguping di balik pintu ruangan Donghae malah menangis tanpa suara. Dia benar-benar mencemaskan nasib sang sepupu.

o0o

Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini sampai jam delapan malam Eunhyuk masih berada di cafe untuk menunggu Donghae menjemputnya. Sedikit heran kenapa sang suami belum juga menampakan batang hidungnya, biasanya Donghae akan menghubunginya jika lelaki tampan itu lembur atau hanya sekedar telat pulang.

Daripada mati bosan plus penasaran—dan yang pasti tidak mau berfikiran macam-macam tentang Donghae, Eunhyuk memutuskan ke dapur saja, membuatkan makan malam untuk Donghae.

Eunhyuk selesai memasak ketika jarum jam pendek menunjuk angka sembilan. Tapi sang suami belum juga menunjukan batang hidungnya. Eunhyuk mencoba menghubungi Donghae, namun tidak ada jawaban dari sang suami. Lama-lama Eunhyuk menjadi kesal pada Donghae. Dia berjalan ke arah piano klasik untuk menghilangkan rasa kesalnya. Ia buka satu persatu lembawan partitur sampai akhirnya menemukan sebuah lagu lama. Semoga lagu itu bisa membantunya menghilangkan rasa kesalnya pada sang suami.

o0o

Suasana hatinya kini sama kelamnya dengan langit malam yang ada di atas sana. Donghae masih merenungi rencana nyonya Lee untuk mengganti posisinya. Sulit sekali rasanya untuk percaya bahwa sang ibu secara terang-terangan akan membuangnya. Tapi yang lebih tidak ia percaya adalah dirinya yang kini sedang memperhatikan surat pengunduran diri yang ia buat sendiri. Setelah difikir lagi, menunggu sang ibu menunjuk presdir baru terlalu lama, Donghae ingin segera mengakhiri semuanya, selagi tekatnya masih bulat. Berulang kali Donghae menghela nafas lelah hingga Yesung dan Ryeowook yang setia menungguinya jadi bosan.

“Hae oppa, apa tidak bisa kau pertimbangkan lagi keputusanmu ini?” tanya Ryeowook setengah kesal dan sedih.

Donghae mendongak lalu memaksakan sebuah senyuman untuk sang sepupu. “Aku sudah mempertimbangkan semuanya, Wookie. Ini keputusan finalku.”

Mata Ryeowook mulai berkaca-kaca, namun sebisa mungkin ia menahan tangisannya. Tidak mau dikatai cengeng oleh Yesung dan Donghae. Meskipun untuk saat ini menangis adalah hal yang benar-benar wajar.

“Baiklah, karena ini sudah so—“ Donghae tidak melanjutkan kata-katanya lagi ketika matanya melihat warna kelam langit malam dari jendelanya. Ia lalu beralih memeriksa jam tangan dan ponselnya secara bergantian, ada banyak panggilan masuk dari Eunhyu di sana. Demi Tuhan dia mengutuk kecanggihan teknologi yang telah menciptakan aplikasi penghemat daya yang bisa membuat profil ponsel berubah menjadi mode silent dengan sendirinya—ketika batreinya menipis. “Mati aku!” Donghae menepuk jidatnya sendiri kemudian berlari secepatnya meninggalkan Ryeowook dan Yesung dalam ruangannya.

“Aku turut berduka untukmu Lee Donghae, jika nanti malam Eunhyuk tidak mau tidur satu kamar denganmu,” kata Yesung. Sang kekasih langsung menyikut rusuk Yesung sehingga lelaki berkepala besar itu nyengir lebar.

“Tapi oppa, aku jadi penasaran bagaimana cara Eunhyuk eonni memarahi ikan itu jika dia melakukan kesalahan.” Yesung melirik Ryeowook dengan pandangan mencibir kemudian berfikir sejenak sebelum bertanya, “mau melihatnya?” pada Ryeowook. Secepatnya sang gadis mengangguk semangat pada sang kekasih.

o0o

Sesampainya di depan pintu cafe, Donghae menyempatkan diri untuk berdoa sebentar supaya Eunhyuk sedang dalam suasana hati yang baik saat ini, supaya Donghae terhindar dari ancaman tidur sendirian di sofa.

Ketika kakinya mulai menapaki lantai cafe, pendengarannya langsung di sambut dengan melodi merdu yang dimainkan oleh Eunhyuk. Beberapa pengunjung cafe ada yang sampai melupakan makanannya karena terlena dengan permainan Eunhyuk, namun ada juga yang biasa-biasa saja. Donghae jadi teringat saat pertama kali bertemu dengan Eunhyuk di bar Sungmin. Saat itu Eunhyuk juga memainkan lagu ini, salah satu lagu favorit Donghae dari boyband kesayangannya, Bacstreetboys. Saat itu Donghae yang sedang berduka—karena kepergian sang ayah—Ingin sekali menghampiri Eunhyuk dan bermain piano bersama, sayangnya Donghae tidak terlalu percaya diri dengan kemampuan pianonya. Alhasil, Donghae hanya bisa menyaksikan Eunhyuk bermain sampai selesai, beruntung sekali setelah itu Sungmin mengenalkannya pada Eunhyuk. Donghae juga ingat ketika Donghae menyatakan cintanya pada Eunhyuk. Saat itu adalah kali pertama Donghae memberanikan diri bermain piano dengan Eunhyuk di bar Sungmin. Donghae sengaja meminta Eunhyuk meminkan lagu tersebut untuk mengingat pertemuan pertama mereka. Dan setelah lagu itu selesai, setangkai mawar merah tiba-tiba muncul di samping Eunhyuk lengkap dengan pertanyaan, “would you be my baby?”

Donghae tidak akan pernah melupakan ketika Eunhyuk mengangguk senang sampai menangis, malam itu. Donghae bersumpah hal itu adalah salah satu hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Herannya, kenapa Eunhyuk memainkan lagu itu lagi saat ini? ketika hatinya bersedih lagi karena sang ibu membuat keputusan untuk membuang nya.

Perlahan Donghae mendekati Eunhyuk sambil tersenyum samar. Entah kenapa seluruh penatnya menguap ketika melihat sang istri. Lelaki tampan itu perlahan-lahan duduk di samping Eunhyuk dan ikut bermain. “Aku terlambat. Maafkan aku, Hyukkie,” gumam Donghae di sela permainannya. Sang istri hanya tersenyum malas pada sang suami, tidak memberikan tanggapan lain. Rupanya Eunhyuk masih marah pada Donghae.

Mengerti sang istri marah padanya, Donghae berinisiatif meminta maaf dengan cara menyanyikan lagu yang sedang mereka mainkan melodinya. Meskipun lagu itu bukan lagu permintaan maaf, tapi tak apalah dicoba.

I’ve tried to hide it, so that no one knows
But, i guess it shows
When you look into my eyes
What you did and where you’re comin from
I don’t care, as long as you love me, baby…

Jemarinya memang masih bermain di atas deretan tuts piano, namun pikirannya sudah melayang entah kemana. Ketika Donghae menyanyikan bait demi bait lagu tersebut, Eunhyuk teringat pertengkaran Donghae dengan nyonya Lee beberapa hari yang lalu—yang mempermasalahkan pekerjaannya, dulu. Jujur Eunhyuk merasakan sakit di hatinya. Sekalipun kenyataan mengatakan bahwa ia memang pernah bekerja di bar, tapi dia bukan wanita murahan yang akan membuka kakinya untuk semua lelaki—seperti yang dituduhkan nyonya Lee. Eunhyuk hanya membuka kakinya untuk Donghae. Eunhyuk jadi berfikir apakah Donghae terlambat karena mengunjungi nyonya Lee dan berdebat lagi?

I don’t care who you are, where you from, what you did, as long as you love me.” Donghae masih menyanyi di sela permainannya, kali ini sambil menatap wajah sang istri yang terlihat berfikir keras. Donghae tidak mau pusing memikirkan apa yang ada dalam pikiran sang istri, karena Donghae yakin hanya dirinya lah yang ada dalam pikiran Eunhyuk.

As long as you love me, baby.”

Donghae mengakhiri permainan mereka—karena Eunhyuk memang sudah berhenti bermain—dengan sebuah kecupan di kening yang cukup lama. Sebenarnya Donghae mngincar bagian yang lain, tapi karena ia ingat banyak anak kecil dalam cafe Eunhyuk ia jadi tidak berani bertindak vulgar.

Tanpa sadar semua pengunjung cafe memberikan tepuk tangan pada Eunhyuk dan Donghae. Saat itulah, Eunhyuk tersadar dari lamunannya. Entah mengapa Eunhyuk merasa seperti selesai melakukan upacara pernikahan, pipinya tiba-tiba memerah.

Di sisi lain, Ryeowook terlihat kesal karena tidak jadi melihat Donghae dimurkai Eunhyuk, malahan dia menjadi iri pada mereka. “Oppa, kita salah situasi,” kata Ryeowook sambil berdecak kesal dan menggoyang-goyangkan lengan Yesung persis seperti anak kecil yang gagal mendapatkan lolipop berukuran jumbo.

Mengerti jika sang kekasih sedang ingin mendapat perlakuan manis seperti Eunhyuk, Yesung langsung menggandeng Ryeowook untuk menghampiri Donghae dan Eunhyuk.

“Ehem, bisa aku pinjam itu,” tanya Yesung sambil menunjuk piano Eunhyuk.

Eunhyuk dan Donghae langsung menoleh dan tersenyum. “Kenapa tidak bilang kalau mau datang?” tanya Eunhyuk sambil berdiri dan memberikan pelukan ringan pada Ryeowook.

“Tadinya kami hanya ingin melihat Donghae—“ Sebelum Yesung membongkar aib mereka sendiri di hadapan Donghae dan Eunhyuk, Ryeowook buru-buru membekap mulut sang kekasih. “Oppa, aku yang akan bermain piano. Kau nyanyikan lagu yang romantis saja ya!” pinta Ryeowook dengan nada manja pada Yesung.

Ryeowook memandang Donghae dan Eunhyuk dengan tatapan meminta ijin tanpa melepaskan tangannya dari Yesung.

Tanpa pikir panjang Eunhyuk dan Donghae mengangguk. “Kalian bintangnya,” ucap Donghae kemudian mengajak Eunhyuk masuk ke dalam ruangan Eunhyuk.

Begitu sampai, Donghae langsung mengunci pintu dan memeluk Eunhyuk dari belakang. Sang istri diam saja, karena sesungguhnya Eunhyuk tau jika Donghae sedang ada masalah.

“Ada apa, yeobo?” tanya Eunhyuk sambil meletakan tangannya di atas tangan Donghae.

“Maafkan aku, Hyukkie.”

“Aku sudah memaafkanmu, yeobo. Aku tau kau punya alasan kenapa kau sampai terlambat.” Eunhyuk tersenyum tanpa berniat membalik tubuhnya. Ia suka posisi seperti ini, terlebih dentingan piano yang dimainkan Ryeowook dan suara Yesung yang samar-samar terdengar membuat Eunhyuk nyaman ketika kakinya dan Donghae bergerak pelan ke kiri dan ke kanan. Mereka berdansa sederhana.

“Aku ingin bertanya,” kata Donghae sambil meraparkan kepalanya pada Eunhyuk.

“Apa?” Eunhyuk meletakan sebelah tangannya di pipi Donghae.

“Jika eomma ‘membuangku’, apa kau akan tetap mencintaiku?”

Eunhyuk tiba-tiba berbalik lalu melingkarkan lengannya di leher Donghae, menatap sang suami dengan raut wajah tidak mengerti. “Membuangmu bagaimana?”

“Ya, seperti tidak menganggapku anaknya lagi, mungkin. Atau mengusirku dari perusahaan.”

“Jangan bercanda! Eomma mu tidak akan melakukan hal itu, Hae-ah. tidak ada ibu yang seperti itu,” kata Eunhyuk bijak.

“Hyukkie, tolong jawab saja, apa kau akan tetap mencintaiku jika eomma membuangku?”

Eunhyuk tiba-tiba mendapat firasat jika pertanyaan Donghae bukan sekedar pertanyaan biasa. Eunhyuk yakin jika ibu Donghae sudah melakukan hal itu pada Donghae.

Eunhyuk mengangkup wajah Donghae supaya tatapan mereka saling menaut. “Tentu aku akan tetap mencintaimu. Itu janjiku ketika berada di altar kan? Menerimamu dalam keadaan apapun, mencintaimu dalam suka maupun duka.” Sejak awal Eunhyuk memang tidak mengincar apapun dari Donghae—selain hati Donghae tentunya. Eunhyuk bahkan tidak tau jika Donghae adalah pengusaha muda yang sukses, yang Eunhyuk tau saat Sungmin mengenalkannya pada Donghae, Eunhyuk hanya melihat seorang pemuda tampan yang sedang berduka karena kepergian ayahnya.

Hati Donghae benar-benar lega sekarang. Sekalipun tidak memberikan Eunhyuk penjelasan secara detail, Donghae yakin sang istri sudah memahami situasi yang terjadi. Donghae menyimpan wajahnya di bahu Eunhyuk lalu memeluk sang istri dengan sangat erat.

“Aku akan melakukan apapun supaya kau bahagia, Hyukkie. Aku janji.”

Eunhyuk tersenyum sangat manis sambil membalas pelukan sang suami.

“Aku percaya padamu, Hae-ah. Selama kau mencintaiku.” kata Eunhyuk sambil membelai punggung Donghae.

o0o

Sehelai pita merah lebar dengan simpul bunga di bagian tengahnya terkait langsung dengan dua tiang kecil yang di letakan di samping kiri dan kanan pintu masuk sebuah gedung baru berlantai lima. Ketika seorang lelaki berusia tiga puluh tahun memotong pita tersebut dengan gunting yang dihiasi bunga-bunga kecil dan juga pita, puluhan orang yang berdiri dibelkangnya bertepuk tangan meriah, bahkan ada juga yang berteriak heboh. Lelaki itu memimpin puluhan orang masuk ke dalam gedung sambil tersenyum bahagia melihat semua pegawai, rekan bisnis, hingga kerabatnya berkumpul di tempat itu untuk meresmikan kantor barunya. Lebih dari itu, lelaki itu merasa senang karena bisa mendapat pelukan hangat dari seorang wanita yang sudah lebih dari enam tahun belakangan ini menemani hari-harinya. “Selamat atas peresmian gedung barumu, yeobo, predir Lee Donghae.” Lelaki itu, Donghae melepas pelukan mereka dan memberikan ciuman singkat di pipi sang istri. “Semuanya ini berkat dirimu. Tanpa dukungan dan kesabaranmu dalam menemaniku, aku tidak yakin hari ini bisa datang.” Sang istri menunduk malu, sang suami terlalu melebih-lebih kan keadaan. Tapi kenyataannya memang benar kalau selama enam tahun belakangan ini Eunhyuk tak pernah sedetikpun membiarkan Donghae terpuruk karena dibuang oleh nyonya Lee. Eunhyuk akan dengan sabar menghibur Donghae jika lelaki tampan itu terlihat murung karena memikirkan sang ibu.

“Ehem, maaf mengganggu.”

Eunhyuk dan Donghae langsung menoleh ke sumber suara dan langsung menemukan Yesung beserta Ryeowook berdiri di samping mereka. “Selamat, presdir Lee,” kata Yesung sambil memberikan pelukan hangat pada Donghae.

“Demi Tuhan! Aku sangat senang kalian bisa datang. Terima kasih presdir Kim,” balas Donghae sambil menepuk-nepuk punggung Yesung.

“Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak suka dipanggil presdir! Panggil aku pengacara Kim!” geram Yesung, namun dia hanya bercanda. Donghae, Eunhyuk dan Ryeowook langsung terkekeh.

Setelah Donghae pergi dari Lee’s company enam tahun yang lalu, nyonya Lee menunjuk Yesung sebagai presiden direktur yang baru. Donghae sangat senang ketika mendengar ibunya memilih Yesung. Bagi Donghae, di dalam jejeran direksi, tidak ada orang yang lebih kompeten di bandingkan Yesung. Hasil kerjanya juga sudah tidak perlu dipertanyakan. Firasat Donghae yang dulu mengatakan nyonya Lee tidak akan memilih orang salah sudah terbukti benar. Sayangnya, setelah memutuskan Yesung sebagai presdir Lee’s company, nyonya Lee tak lagi menampakan batang hidungnya—kecuali jika ada kepentingan di perusahaan yang benar-benar mendesak.

“OH, hampir saja aku lupa!” tiba-tiba Ryeowook berteriak sambil menepuk jidatnya. “Oppa, karangan bunga yang tidak ada namanya itu dari karyawan di Lee’s company. Aku tadi cepat-cepat jadinya tidak sempat memberikan nama pada rangkaian bunganya. Satu lagi, katanya mereka ikut senang karena kau sudah sukses lagi,” lanjut Ryeowook sambil menunjuk rangkaian bunga tanpa identitas yang diletakan berdampingan dengan jejeran bunga yang lainnya.

“Katakan pada mereka aku sangat berterima kasih,” ucap Donghae sambil tersenyum senang. Tidak disangka setelah enam tahun berlalu, para karyawan yang ada di perusahaan ibunya masih mengingatnya.

“Tapi mereka semua marah karena kau tidak mengundang mereka.”

Bagaimana bisa mengundang mereka jika Lee’s company masih mutlak ada di bawah pengawasan nyonya Lee? Sekalipun sang ibu tidak pernah muncul di perusahaan, Donghae yakin ibunya tidak melepas pengawasannya pada perusahaan, terutama pada Yesung. Dan, Donghae tidak ingin mencari ribut dengan sang ibu lagi. Selama enam tahun terakhir, Donghae benar-benar menjaga jarak dengan Yesung, sebisa mungkin menghindari kerja sama dengan Lee’s company. Namun keduanya masih sangat akrab ketika bertemu di luar urusan pekerjaan, seperti perayaan hari ini. Yesung tidak datang sebagai presdir Lee’s company, melainkan sebagai teman Donghae.

Sadar suasana tidak begitu baik—karena perkataan spontan Yesung, Ryeowook buru-buru mengalihkan topik pembicaraan. Dia menanyakan tentang keberadaan Henry, putra semata wayang Donghae dan Eunhyuk.

“Dia bersama Sungmin, Kyuhyun dan Sandeul—anak pasangan KyuMin, tadi.” Eunhyuk menjawab dengan senyuman ramahnya.

Wanita mungil yang kini berstatus sebagai istri Yesung itu pun mengangguk paham.

“Hae-ah, apa kau sudah siap dengan acara utamanya?” tanya Sungmin yang tiba-tiba muncul di hadapannya bersama sang suami, Kyuhyun.

Mengerutkan kening, Donghae berfikir keras tentang kata-kata Sungmin. Setaunya—dan pemikirannya itu sudah mutlak benar—acara puncak adalah pemotongan pita tadi, tidak ada yang lain.

“Jangan dipikirkan terlalu keras, cukup lihat saja. Oke?” kata Kyuhyun mempersingkat waktu.

Menyetujui perkataan Kyuhyun, Donghae pun berjalan sambil menggandeng Eunhyuk mengikuti pasangan KyuMin yang berjalan menuju hall lantai satu. Di sana sudah ada sebuah piano klasik berwarna hitam plus anak lelaki bertuxedo putih yang menggemaskan. Tidak salah lagi, anak itu adalah Lee Henry, anak Donghae dan Eunhyuk.

Demi Tuhan! Donghae tidak bisa memikirkan apa yang akan dilakukan anak itu selanjutnya, sekalipun clue-nya sudah sangat jelas—piano dan anak itu sama seperti sang istri, suka bermain piano.

Jari-jari kecil anak itu mulai bergerak lincah di atas tuts piano. Matanya sesekali melirik partitur di depannya untuk memastikan tuts yang ia tekan tidak salah. Kembali Donghae bisa mendengarkan lagu yang dimainkan Eunhyuk saat pertemuan pertama mereka. Bedanya kali ini dimainkan oleh sang anak dan dalam keadaan bahagia.

Donghae memperhatikan anaknya dengan tatapan bangga. Berbeda dengan Eunhyuk yang sedang kebingungan memandangi sang anak. Eunhyuk yakin seyakin-yakinnya jika bukan lagu ini yang ia ajarkan pada Henry untuk acara kejutan Donghae, lalu darimana anaknya bisa memainkan lagu ini?

Ketika Eunhyuk menengok pada pasangan KyuMin dan YeWook—yang bersekongkol dengannya untuk menyiapkan kejutan—untuk mencari jawaban, istri Donghae tidak menemukan apapun selain ekspresi kaget. Lalu secara tiba-tiba Eunhyuk teringat pernah menemukan partitur lagu miliknya yang berjudul ‘As long as you love me’ dalam tas Henry. Kemungkinan Henry mempelajari lagu tersebut di tempat kursus pianonya. Kemudian Eunhyuk ingat ketika menemani Henry tidur, anaknya pernah bertanya tentang lagu apa yang disukai Eunhyuk dan Donghae. Eunhyuk pun menjawab ‘As long as you love me’. Setelah itu sang anak memejamkan matanya sambil mengganti ucapan selamat tidur dengan kalimat, “suatu saat aku akan memainkan lagu itu untuk appa dan eomma.”

Eunhyuk tidak bisa menyembunyikan rasa harunya ketika sekeping demi sekeping kejadian itu tersusun dalam ingatannya. Niatnya, Eunhyuk yang ingin memberikan kejutan pada Donghae, tapi malah dirinya yang mendapat kejutan dari sang anak. “Aku tidak menyangka selain pandai membuat ulah anak itu juga bisa membuatku bangga,” bisik Donghae pada Eunhyuk, ibu dari anak laki-laki yang sedang bermain piano itu berdecak kesal karena suasana harunya terusik oleh Donghae. “Kau merusak suasana, Lee Donghae,” gumam Eunhyuk sambil menyeka air mata harunya. Dia mengabaikan sang suami untuk kembali memperhatikan malaikat kecilnya.

Rasanya baru kemarin Eunhyuk berjuang keras saat melahirkan Henry, tapi kini bayi mungilnya sudah tumbuh menjadi anak lelaki berumur enam tahun yang menggemaskan dan juga membanggakan. Waktu enam tahun benar-benar bagaikan beberapa bulan saja bagi Eunhyuk. Meskipun demikian, bukan berarti kehidupan yang ia jalani bersama Donghae, lancar tanpa hambatan.

Setelah Donghae benar-benar keluar dari perusahaan yang didirikan ayahnya, lelaki tampan itu memulai semuanya dari awal lagi bersama Eunhyuk. ia bangun perusahaannya sendiri dengan keringat dan darahnya. Di tahun pertama Donghae menjalankan usahanya, semuanya berjalan lancar. Hampir tidak ada hambatan dalam membangun relasi dengan para klien dan investor. Namun memasuki tahun ketiga, Donghae mengalami guncangan dari para pesaing dan investor, perusahaan Donghae mengalami krisis. Hal tersebut membuat Donghae hampir putus asa. Untungnya, Eunhyuk selalu ada di sisi Donghae untuk membangkitkan kembali semangat Donghae dan terus mempertahankan perusahaannya. Memasuki tahun kelima, tepatnya sebelum pesta pernikahan Yesung dan Ryeowook, perusahaan Donghae dinyatakan bebas dari krisis dan mulai berjalan dengan normal lagi. Keuntungan yang didapatkan Donghae di tahun tersebut berhasil membuatnya menutupi kerugian yang ia alami tahun sebelumnya. Kemudian ditahun keenam ini, Donghae berhasil memindahkan seluruh karyawannya di kantor baru yang lebih baik dari pada sebelumnya.

Tepuk tangan meriah terdengar di telinga Eunhyuk. semua lamunannya menguap seperti air yang dipanaskan. Dia melihat malaikat kecilnya membungkuk sopan kepada semua orang yang ada lantai dasar gedung itu, kemudian dengan imutnya Henry membuat tanda hati dengan tangannya. “Abeoji, eomma, aku mencintai kalian. Selamat atas peresmian gedung barunya.”

Perasaan Eunhyuk dan Donghae saat ini bercampur aduk. Mereka sungguh bahagia sekaligus terkejut. Dalam hati mereka bertanya bagaimana bisa anak mereka mengucapkan lima kalimat terakhir tadi? Mereka tau benar jika anak berusia enam tahun seperti Henry tidak akan perduli dengan hal-hal semacam itu.

Kemudian empat kekehan tepat di belakang mereka menjawab semuanya. Pasti dua pasangan itu lah yang mengajarkan kata-kata tersebut pada sang anak, “Terima kasih karena tidak mengajarkan kata-kata aneh pada anakku,” bisik Donghae pada pasangan KyuMin dan YeWook.

“Kami tidak akan merusak acara bahagia seperti ini, Hae-ah,” kata Yesung. Yang lain mengangguk setuju.

Abeoji!” anak lelaki berusia enam tahun itu berlari untuk memeluk sang ayah.

“Hei jagoan!” Donghae mengangkat anaknya untuk ia bawa ke dalam gendongannya. “Permainanmu bagus sekali. Terimakasih untuk kejutannya ya.”

Abeoji suka?”

“Tentu saja!”

“Kalau begitu abeoji harus berterima kasih pada eomma.”

“Ini ide eomma?”

“Ne, eomma yang merencanakan semua ini.”

“Tapi aku tidak mengajarkan lagu itu padanya, dia belajar sendiri Hae-ah.”

“Benar kata eomma?”

“Eum… ne, abeoji.”

“Kalian memang yang terbaik,” ucap Donghae sambil menarik Eunhyuk kedalam pelukannya dan juga Henry.

Sisa waktu pesta dimanfaatkan oleh Donghae dan Eunhyuk dengan bercakap-cakap bersama para tamu. Mereka membiakan Henry bermain dengan Sandeul. Jarak kelahiran mereka yang tidak sampai enam bulan memudahkan mereka dalam berinteraksi. Ketika Donghae dan Eunhyuk berjalan-jalan pelan di deretan rangkaian bunga ucapan selamat,  Donghae menemukan sesuatu yang menarik, sebuah ucapan selamat atas nama Lee’s company.

Jika Donghae tidak salah, tadi dia sudah melihat rangkaian bunga dari Lee’s company yang di bawa langsung oleh Ryeowook—rangkaian bunga tanpa identitas. Jadi sudah jelas yang ini bukan dibawa oleh Ryeowook dan Yesung. Ketika Donghae menanyakan asal karangan bunga tersebut pada petugas keamanan, dia tidak mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan. Petugas itu hanya mengatakan bahwa yang membawa rangkaian bunga tersebut adalah seorang supir perusahaan atas nama dewan direksi.

“Aku bertaruh ini bunga dari eomma.”

Dengan wajah terkejutnya, Donghae menoleh pada sang istri. “Itu tidak mungkin, jagiya.”

Eunhyuk kemudian menunjuk beberapa bunga warna biru seperti mawar dan lily. “Bukankah eomma menyukai yang seperti itu? kebiasaan akan sulit hilang, Hae-ah. omma juga tau kalau warna biru adalah warna kesukaanmu.”

“Entahlah, selera orang bisa sama kan?” Donghae mengangkat bahunya acuh kemudian mengajak Eunhyuk pergi dari sana—dengan sedikit ancaman bibir bengkak jika sang istri berniat membantah keinginannya—untuk berbincang dengan tamu-tamu yang lainnya, melupakan teka-teki siapa pengirim rangkaian bunga itu. Donghae tidak mau banyak berharap karena jika boleh jujur, Donghae memang mengharapkan nyonya Lee lah yang mengirimkan bunga itu kepadanya.

o0o

Di luar gedung baru perusahaan Donghae, sebuah mobil Audy klasik berwarna berhenti tepat di seberang jalan. Di kursi penumpang bagian belakang, nyonya Lee menatap gedung itu dengan perasaan yang sulit dijabarkan.

“Nyonya tidak ingin masuk?” tanya supir pribadi nyonya Lee.

Yang ditanyai tersenyum tanpa menoleh. ”Tidak perlu. Aku hanya akan merusak kebahagiaan keluarga kecil itu,” kata nyonya Lee sambil menatap sepasang suami istri beserta seorang anak lelaki menggemaskan yang baru saja keluar dari gedung itu. “Nyonya tidak ingin bertemu dengan cucu nyonya?” tentu saja nyonya Lee sangat ingin menemui cucunya terlebih anaknya. Tapi… mungkin memang belum saatnya. “Tidak. kita pulang saja sekarang.” Sang supir melirik nyonya Lee dari spion dalam kemudian mengangguk.

Setelah itu mobil nyonya Lee perlahan menjauh dari kantor Donghae. Memang benar kata orang kalau penyesalan itu selalu datang terlambat. Nyonya Lee merasakannya sekarang. Wanita itu membiarkan dirinya menyandar pasrah di jok mobilnya. Tidak ada ibu yang menginginkan anaknya sengsara, begitu pula nyonya Lee. Dan jika kebahagiaan sang anak memang bersama Eunhyuk, nyonya Lee akan ikhlas menerima semua itu. “Semoga kalian bahagia.”

(THE END)

Special thanks to: 149 review, 43 favorite, 40 followers. I’m sorry coz I can’t mention the names one by one.

One more time, thank you very much for your attention and everything. I love you all! See ya!! 😀

Advertisements

36 thoughts on “Always be my baby :: Chapter 6 [HaeHyuk]

  1. FINALLY ITS BEEN A LONG TIME GUE NEMU FF INI, BACA FF INI. gue nungguin bgt ff ini ,pernah waktu itu ilang link ff nya waktu di ffn:( tp akhirnya nemu juga :””). nice ceritanya dan suka bgt! keep writing ya author fighting!╭(╯ε╰)╮ ╭(╯ε╰)╮ ╭(╯ε╰)╮ ╮(╯▽╰)╭ anw,how to get password ya? thankiss.

    • Iya, aku juga udah lama bgt gk nongol d sini ataupund ffn, jd bingungmau ngomongapa. hehehe.
      Makasihudah mau mampir plus suka sama epep ini.Makasih juga buat semangatnya, klo ada waktu luang pasti Min Gi nulis lagi.
      sampai jumpa d epep mingi selanjutnya. ^^
      Oiya pw chap 7 681991
      Happy reading^^

  2. Hi author-nim…
    Sebenarnya sih aku bukan reader baru alias dulunya penumpang gelap atau silent reader, hehe
    Hbis klo bca ff cma bisa nyari tpi gak smpet mau kasih revieww.. :v
    #malah curcol, mian#

    Akhirnya setelah sekian lama aku nemu ini lanjutannya hehe…
    Aku selalu suka epep mu author-nim, epep mu keren2, n aku suka bgt ama ending nya disini, bca epep ini bisa bikin aku nangis, ketawa, blushing, n terharu juga…
    Tetep lanjutin buat epep ne author-nim, klo ada kesempatan aku bakal ninggalan jejak di semua epep kamu nanti 😀

    Salam hangat…
    Fighting ne!!! 💪💪💪

    • Hai ^^
      Makasihudah ninggalin jjak. :*
      Seneng rasanyaklo bisa bikin temen2 suka sama epep Min Gi 😀
      Klo ada waktu pasti Min Gi nulis lagi. Lama gk muncul Min Gi jd speachless. ^^a Pokoknya Sekali lagi makasihbanyak ya chingu *peluk+cium*

  3. hi thorrr aku reader baru… mian br bisa baca+ review
    wahhhhhhh ending ny kerennnnnnn bgtttttt, suka sama ceritanya… hah ny. lee bnr2 mnyesal… udh taukn btapa baiknya hyuk. hyuk itu slalu ada buat hae krn hyuk itu mncintai hae bkn krn uang. semoga keluarga kecil haehyuk bahagia walaupun mereka belum sempurna krn blm ada ny.lee ditengah2 keluarga kecil haehyuk, tpi seenggkny ny.lee tau bhwa haehyuk saling mncintai dan saling membutuhkan… hah suka,sama ending nya
    smg ja ny.lee mau brada ditengah2 keluarga kecil haehyuk….

    • Thanks for reading my fic :*
      Awalnya emang cuman mau bikin ending sampe disini aja, berhubung ide lagi lancar kayak air, makanya aku bikin sequelnya. Klo mau baca silahkan ^^

  4. hi thorrr…. aku reader baruuuu mian baru bisa baca+review

    hah ahirnya ny. lee mengakui bhwa dirinya menyesal… hah kau memang terbaik hyuk… kau selalu ada buat donghae dalam susah maupun senanggggggggg…. daebak buat endnya… seneng bgt lht kelurga kecil haehyuk bahagia, tapi rasanya belum lengkap klo tdk ada ny.lee…. bgaimanapun jg hae tetap jdi anak dr ny. lee… toh ahirnya ny.lee merasa menyesal…
    kerennn deh
    daebakkk bgt..

  5. One of my favorite fanfiction, akhirnya bisa baca chapter akhirnya karena udah sibuk sekolah tingkat akhir. Aku minta password chapter bonusnya ya^^

    • Makasih banyak udah suka fic ini.
      Min Gi minta maaf soalnya ngasih balesan komennya luama bgt. Kerjaan gk bisa ditinggal…. 😥
      Dibaca ataupun enggak, Min Gi bener2 ngucapin makasih yg sebesar2nya. :*

  6. hyukjae emng istri yg soleh yg mw nrima donge dlm keadaan appun .. happy end sneng bgt . krain eomma hae bkln dteng ngrestui hbungan mreakaa .

    ff.nya bguss 🙂

  7. Waahh akhir’y happy ending juga….
    Tapi aku ngerasa kurang greget gmna gtu diakhir cerita’y. Tp yg ini jg aku ska cm kurang greget aja. Trs bkin ff yg pair’y haehyuk ya chingu. Oia aku bsa pnggl chingu apa ya, saeng or eonnie?? Aku 94line. Gomawo 🙂

  8. Saeng,baru baca yg ini..
    Ooh ternyata Hae udah ga d’anggap ama eomma’a…
    Aku ga bisa ngomong apa” d’chap ini,Nyonya Lee s’gthu benci’a ya ama Hyuk ampe ngehina bgthu.

    • Hehehe, sebenernya saeng juga gk tega eon sama Hyuknya. waktu ngetik juga sebel banget ama charanya yg saeng buat sendiri. Tapi gak tau kok ya ttp saeng publish. 😀

  9. tancap gas nih baca part 6 nya…keren..haehyuk akhirnya happy end…tp sayang hae blm baikan sm nyonya lee….

  10. Woooaahhhhh,, daebak!! Daebak!! DAEBAK!!

    Ceritany ngalir gitu aj… Meski sempet kesel n mangkel ma Yoona pi bodo ah…

    Yg penting HaeHyuk plus Henry bahagia 😀

    Hah! Nyonya Lee masih aj percaya ma si nenek lampir aka yoona. Pdhl ap yg d tuduhin yoona tu g bener

    Hyukkie tu perempuan baik2 mski kerja d bar pi dy g menjajakan tubuhny k cowo lain
    Pengecualian wat Donghae :p

    Seru. Seru. Seruuuuuu…. >_<

    • Gomawo chingu 😀
      Waktu buat ini emang lagi kesel2ny ama si Yoona. Hehehe.
      Hu’um chingu. Hyuk emang maunya dimasukin ama Hae aja. Yang udah terbukti… apa ya??? 😀

  11. yoshh…sudah selesai..aku kira anaknya kembar. trnyata Lee henry duluan yang muncul. berarti adeknya besok Lee Taemin.. kkk
    lanjut chapter bonusnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s