BROKE THIS PAIN :: Chapter 1

BROKE THIS PAIN

Warning: Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, showbiz

Dedicated to MyhyukkiesmileancofishyLyndaariez, and all of my beloved reader. Hope you all enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 1: 3 hearts


Sekalipun sosok manis di belakangnya sudah ratusan kali memohon, pemuda tampan itu tetap tidak mau menghentikan langkahnya. Semakin jauh, pergerakan kakinya semakin mantap, seolah tak ada satu hal pun yang bisa meruntuhkan tekad bulatnya—termasuk isakan pilu dari orang yang paling ia kasihi, di belakang sana.

Jika kau tidak berhenti, hubungan kita berakhir!”

Sosok tampan itu tiba-tiba berhenti melangkah. Dia sempat tegang, tapi hanya beberapa detik sebelum akhirnya kembali berjalan maju, meninggalkan sang kekasih yang kini terjatuh duduk di atas lantai yang dingin.

“KAJIMA!” teriak sosok manis itu entah sudah yang ke berapa kalinya, masih mencoba menahan sang kekasih supaya tetap berada di sisinya. “Kajima! Jebal… kajima…,” pinta sosok manis itu dengan perasaan putus asa. Tangisannya semakin kencang ketika bayangan sang kekasih tak lagi terjangkau oleh mata indahnya.


Maafkan aku, Hyukkie. Tolong maafkan aku.”

Matanya tiba-tiba terbuka lebar, peluh membanjiri pelipis, dan wajahnya terlihat pucat. Selalu reaksi itu yang muncul ketika serangkaian memori pahit kembali diputar oleh otaknya lewat mimpi.

Sosok manis itu bangun kemudian meneguk rakus air mineral yang selalu ada di atas meja nakas sebelah ranjangnya, sampai habis.

Namanya Lee Hyukjae, dia berumur 23 tahun, seorang pelatih dance termuda salah satu manajemen artis ternama di Korea. Namun tak banyak yang kenal dekat dan memahami bagaimana kehidupannya.

Hyukjae melirik jam digital di atas meja nakas lalu mendengus kesal, pukul satu dini hari. Hyukjae benci harus terbangun tengah malam begini, terlebih karena mimpi tersebut. Hyukjae bangkit dan berjalan menuju dapur untuk mengisi ulang gelasnya yang kosong, kerongkongan nya masih terasa kering karena mimpi sialan tadi.

Di tengah perjalanan, Hyukjae berhenti sejenak di depan jendela besar ruang santai apartemennya. Ada dorongan kuat dari dasar hatinya untuk melihat bintang-bintang di langit. Hyukjae menyibak sedikit tirai putih transparan yang membentang di sepanjang jendela, ia bisa melihat hamparan luas langit hitam kebiruan yang dihiasi kilau ribuan bintang.

Kau suka yang mana?”

Hyukjae terkesiap, rangkaian bintang-bintang yang ada di depan matanya terlihat sama persis seperti malam itu. Waktu seolah berjalan mundur, Hyukjae seperti dihadapkan lagi pada peristiwa Lima tahun yang lalu,  dimana dirinya dan seorang yang ia kasihi sedang berbagi kehangatan dibawah selimut tebal, sambil mengamati langit malam dari jendela besar yang berhadapan langsung dengan ranjang. Setiap nafas, setiap sentuhan, desahan, erangan, rasa sakit, dan kenikmatan yang muncul malam itu masih bisa Hyukjae ingat betul tiap detailnya. Seolah-olah kejadian tersebut baru terjadi beberapa jam yang lalu.

Hyukjae juga masih mengingat dengan jelas ketika sang kekasih menyatakan kesanggupan untuk tetap berada di sisinya, bertahan sampai akhir, apapun yang terjadi. Tapi apa yang terjadi sekarang? Kata-kata itu hanya bualan. Pemuda berengsek itu kini tak ada di sisinya.

Hyukjae memukuli kepalanya supaya bayangan lelaki itu menghilang dari pikirannya, namun tidak berhasil. Semakin lama bayangan tersebut malah semakin nyata tergambar dalam benaknya. Hyukjae kesal pada dirinya sendiri, mengapa waktu itu ia percaya begitu saja pada bualan lekaki itu.

Lelah karena tindakan konyol nya tidak membuahkan hasil, Hyukjae berhenti memukuli kepalanya, lalu menjatuhkan diri di atas lantai. Air matanya tiba-tiba jatuh setetes demi setetes. “Padahal sudah lima tahun lebih. Kenapa aku tidak bisa melupakannya?”

Tiba-tiba tangan Hyukjae mencengkeram kuat gelas yang masih ia pegang, sampai akhirnya benda kaca itu pecah di tangan mulusnya. Rasanya sakit, apalagi saat serpihan kaca itu berhasil merobek kulitnya yang halus, namun hal itu tak lebih menyakitkan dibanding luka dalam dadanya yang berhasil diukir oleh pemuda tampan pemilik hatinya, dulu.

Aku membencimu, Lee Donghae!”

o0o

Belasan pakaian sudah ia pakai secara bergantian, puluhan hingga ratusan pose sudah dia tampilkan di depan photographer. Sekalipun lelah, bibirnya tetap menyunggingkan senyum menawan di hadapan staf pemotretan malam itu.

“Bagus sekali! Sekarang coba melirik ke samping kiri sambil mengancingkan lengan,” pinta si photographer, entah sudah instruksi yang ke berapa.

Sang model hanya bisa menurut dengan sebaik-baiknya. Semakin kecil ia membuat kesalahan, semakin cepat ia pulang dan berguling di atas ranjangnya yang nyaman.

“Tahan sebentar…” kemudian, kilatan kamera beberap kali menghujani sang model. “Ya, bagus sekali!” puji sang photographer sambil menurunkan kameranya dan tersenyum puas. “Baiklah, cukup untuk hari ini, Lee Donghae. Terima kasih atas kerja samanya.” Kata sang photographer sambil mengacungkan satu ibu jarinya pada sang model.

‘Akhirnya…’ Sang model menghembuskan nafas lega.

Namanya Lee Donghae, dia penyanyi dan juga model yang namanya sedang melambung di Taiwan beberapa tahun terakhir. Dulunya, dia warga negara Korea, namun tiga tahun yang lalu sebelum debut sebagai penyanyi, kewarganegaraan nya berubah menjadi Warga negara Cina. Direktur dari manajemen nya tidak menginginkan para artis nya berkewarganegaraan lain, alasannya terlalu merepotkan.

Jika boleh jujur, lelaki tampan itu tidak ingin mengganti status kewarganegaraan nya. Jika bukan karena hutang keluarganya yang menumpuk pada sang Direktur, mungkin Donghae tidak akan pernah mau mengganti kewarganegaraan nya terlebih menjadi publik figur dan tinggal di negeri orang seperti sekarang.

“Pulang dan istirahatlah. Besok masih ada sesi kedua,” kata sang photographer.

Donghae membalasnya dengan senyum seadanya, tubuhnya terlalu letih untuk memberikan respon berlebih. Lelaki tampan itu kemudian menghampiri sang manajer di belakang properti pemotretan.

“Kau tau? Kau sangat mengagumkan, Lee Donghae,” puji sang manajer dalam bahasa mandarin yang fasih, lengkap dengan mata berbinar-binar.

Tak ada sahutan dari Donghae. Sekali lagi, tubuhnya terlalu letih untuk sekedar meladeni hal-hal sepele macam perkataan manajernya.

“Ini untukmu. Aku tau kau lelah.” Sang manager memberikan sebotol isotonic kepada Donghae, supaya kelelahan yang tampak di wajah tampan Donghae sedikit berkurang. Tapi hal itu sia-sia saja karena kelelahan yang dialami Donghae lebih pada kelelahan batin, bukan fisik.

Namun bukannya berterima kasih, Donghae malah memberikan lirikan sinis pada sang manajer. ‘Jika kau tau aku lelah, tak seharusnya kau masih memintaku untuk melakukan pemotretan malam-malam begini, bodoh!’ umpat Donghae dalam hati. Dia menyambar isotonic tersebut lalu meminumnya, tanpa mengatakan apapun.

Seakan mengerti apa isi pikiran Donghae, sang manajer tersenyum sambil menjawab dengan berbisik di telinga Donghae, “Sudah tidak ada waktu lagi di siang hari. Lagi pula pemotretannya tidak terlalu jauh kan dari apartemen mu. Lagi pula ini juga brand terkenal, sayang sekali kan kalau harus ditolak. Lagi pula—”

Entah sampai kapan ‘lagi pula’ itu akan selesai. Daripada telinganya bengkak karena mendengarkan ocehan sang manajer yang tidak akan selesai dalam waktu satu jam, Donghae memilih pergi meninggalkan sang manajer. Ia ingin segera beristurahat dan bertemu pujaan hatinya, dalam mimpi.

“Hei! Tunggu aku Donghae! Kau mau menyetir sendiri? Kau mau meninggalkanku? Apa kau mau mati?”

Donghae tidak peduli, ia tetap berjalan keluar gedung menuju van sambil menatap langit. Bintang-bintang bertaburan yang ia lihat di atas langit seperti sedang menyusun memori manisnya dengan seseorang yang ia kasihi, dulu sampai sekarang.

“Apa yang sedang kau lakukan di sana?” Donghae menggumam tanpa peduli pada sang manajer yang berhasil mengejarnya lalu terdiam setelah mendengar gumaman sang bintang dalam bahasa korea yang tidak jelas. “Apa kau merindukanku? Aku merindukanmu, Lee Hyukjae,”

o0o

Paginya, seluruh staf yang melihat Hyukjae masuk kantor dengan telapak tangan terbalut perban, langsung heboh. Mereka memberondong Hyukjae dengan berbagai macam pertanyaan, namun sosok manis itu hanya bisa memberikan senyuman canggung sebagai jawaban, dan memohon pada semua orang untuk tidak melebih-lebihkan keadaan tangannya. Hyukjae kemudian melangkah menuju tempat dia biasa berlatih sekaligus melatih para trainee di agensinya. Reaksi para trainee ketika melihat tangan Hyukjae juga tidak jauh beda dengan para staff yang ia temui di depan. “Songsaenim, tangan anda baik-baik saja?” tanya seorang trainee muda bernama Chanyeol. Secepatnya dia berlari menghampiri sang tutor untuk memeriksa keadaan tangan Hyukjae. “Kenapa tangan saem bisa seperti ini?” Chanyeol cemas, dia membolak-balik tangan Hyukjae untuk memastikan tidak ada luka lain lagi di sana.

Hyukjae tersenyum manis melihat perhatian dari didikannya. Meskipun cerewet dan merepotkan, Chanyeol adalah didikan Hyukjae yang paling perhatian padanya. Ada kebahagiaan tersendiri dalam hati Hyukjae. “Hei, nomor 3.” Hyukjae memanggil Chanyeol dengan nomor urutnya, karena—jika boleh jujur—Hyukjae tidak bisa mengingat nama seluruh didikannya. Terlalu banyak. Hyukjae sering tertukar jika menunjuk seseorang dengan nama lengkapnya. Jadi untuk mengantisipasi, Hyukjae memberikan mereka nomor urut sesuai dengan tinggi badan para trainee-nya— kebetulan Chanyeol adalah anak didik nomor tiga-nya yang mempunyai tinggi di atas rata-rata. “Jangan berlebihan. Aku hanya tergores pecahan kaca sedikit, tidak akan membuatku lumpuh,” lanjut Hyukjae diikuti tawa riangnya. Sang anak didik hanya bisa menggembungkan pipi, tanda kesal.

“Baiklah—” Hyukjae berjalan ke tengah ruang latihan, lalu mengambil sebuah papan kecil berisi daftar presensi para trainee yang ia tangani. Daftar nama-nama dalam presensi tersebut pun juga berdasarkan tinggi badan. “—jika semua sudah berkumpul, latihannya akan langsung kita mulai saja. Nomor 2, hari ini giliranmu memimpin pemanasan kan?”

Semua anak didik Hyukjae mulai mengambil tempat masing-masing untuk mulai melakukan pemanasan, tak terkecuali anak bermata panda yang baru saja diminta memimpin pemanasan oleh Hyukjae.

Sambil memberikan tanda centang dalam kertas presensi di tangannya, Hyukjae melangkah menuju barisan paling belakang, menyalakan musik dan ikut melakukan pemanasan sambil mengawasi gerakan tiap anak didiknya yang berjumlah 12 orang. Sesekali Hyukjae harus berteriak kencang jika ada salah satu trainee yang gerakannya salah ataupun kurang bertenaga.

Beberapa saat kemudian, musik sudah diganti oleh Hyukjae, pertanda bahwa pemanasannya sudah cukup. Hyukjae maju menempati posisi paling depan kemudian mulai melakukan gerakan sesuai musik yang ia putar. “Ikuti aku!” titah Hyukjae.

Tak menunggu instruksi ke dua, seluruh trainee segera menirukan gerakan yang dicontohkan oleh Hyukjae, dengan sebaik-baiknya.

Di balik jendela kaca ruang latihan Hyukjae, seorang lelaki tampan berdecak kagum melihat gerakan-gerakan Hyukjae. Lelaki tampan tersebut kemudian menjauh dari ruangan tempat Hyukjae melatih para trainee nya. Ada banyak hal lain yang harus ia kerjakan, sekalipun ia betah-betah saja jika diminta untuk mengamati Hyukjae selama seharian penuh.

Namanya Cho Kyuhyun, dia adalah presiden direktur MCent—singkatan dari Marcus Cho entertainment. Dia jatuh cinta pada Hyukjae ketika sosok manis tersebut berpartisipasi sebagai peserta ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh perusahaannya. Saat itu Kyuhyun sendiri yang menjadi juri. Melihat kemampuan menari Hyukjae yang matang, awalnya Kyuhyun ingin menggabungkan Hyukjae dengan beberapa trainee pilihannya yang sudah siap debut, namun Kyuhyun berubah pikiran. Ia memutuskan untuk menjadikan Hyukjae sebagai pelatih di perusahaannya. Atas ijin ayahnya, Kyuhyun juga memberikan fasilitas pendidikan untuk Hyukjae di kampus milik ayahnya, dengan harapan Hyukjae bisa menjadi pengajar yang handal suatu hari nanti. Kyuhyun senang karena hal itu mulai terwujud sekarang.

Kyuhyun memasuki ruangannya, lalu duduk di balik meja kerja. Matanya tak lepas dari sebuah figura kotak berbingkai sulur yang ia letakan di samping komputer, dan tidak peduli pada setumpuk dokumen yang menunggu untuk ia periksa. “Aku mencintaimu, Lee Hyukjae.”

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan dari seorang Cho Kyuhyun. Dia adalah kekasih Lee Hyukjae, kurang lebih satu tahun terakhir.

o0o

Ketika matahari tepat berada di atas kepala, Hyukjae mengakhiri sesi latihannya dengan para trainee, lalu menghampiri Kyuhyun yang sedang menunggunya di sebuah cafe untuk makan siang bersama. Di tengah makan siang mereka, Kyuhyun mendapatkan sebuah telepon dari kantor cabangnya yang berada di Taiwan. Wajah Kyuhyun cerah seketika. Hal tersebut sukses membuat Hyukjae penasaran. “Ada berita bagus apa?” tanyanya dengan nada lembut.

“Aku berhasil mengajak artis idola mu bergabung dalam Musikal selanjutnya,” kata Kyuhyun dengan wajah kelewat semangat. “Artis Taiwan idola ku? Siapa?” Hyukjae tidak mengerti dari mana Kyuhyun menyimpulkan dirinya menyukai salah satu artis di Taiwan. Justru selama ini Hyukjae sangat anti dengan apapun yang berhubungan dengan daerah tersebut.

“Iya, idola mu, Lee Donghae.” Kyuhyun meyakinkan.

DEG! Seperti ada petir yang menyambar hatinya, Hyukjae mati rasa saat itu juga. Dari mana Kyuhyun bisa menyimpulkan bahwa ia mengidolakan Lee Donghae? Pasti ada kekeliruan di sini. “Beberapa hari yang lalu aku bertemu Zhoumi, presiden direktur agensi Lee Donghae yang sedang melakukan survei di beberapa musikal. Dia berencana untuk mengembangkan potensi artis nya—terutama Lee Donghae—di bidang musikal. Lalu aku teringat satu majalah edisi khusus debut Lee Donghae yang aku temukan di lokermu, juga foto pra debut Donghae di salah satu literatur perkuliahan mu. Aku berfikir kau mengidolakan Lee Donghae makanya aku menawarkan kerja sama pada Zhoumi di musikal mendatang, dengan Lee Donghae sebagai pemeran utamanya.”

Tiba-tiba tangan Hyukjae mengepal. Disengaja ataupun tidak, Kyuhyun sudah menjawab semua Pertanyaan Hyukjae, sekaligus mengungkapkan kelancangannya sendiri pada sang kekasih. Hyukjae tak menyukai hal tersebu,  terlebih saat Kyuhyun membuat keputusan untuk memasukan Donghae ke dalam musikal mendatang.

(T.B.C)


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s