BROKE THIS PAIN ;; Chapter 2

Previous chapter

Tiba-tiba tangan Hyukjae mengepal.  Disengaja ataupun tidak, Kyuhyun sudah menjawab semua Pertanyaan Hyukjae, sekaligus mengungkapkan kelancangannya sendiri pada sang kekasih. Hyukjae tak menyukai hal tersebu,  terlebih saat Kyuhyun membuat keputusan untuk memasukan Donghae ke dalam musikal mendatang.


BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for  Heechul & Henry/Xian Hua), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to MyhyukkiesmileancofishyLyndaariez, and all of my beloved reader. Hope you all enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 2: Shadow


Koper berukuran besarnya sudah penuh dengan berbagai macam benda, mulai dari pakaian, buku, sampai perlengkapan harian. Namun Donghae masih belum puas menyiksa tas beroda tersebut. Sambil senyum-senyum tak jelas, ia tambahkan lagi beberapa potong baju kedalam koper, menjejalkannya di tiap sudut yang masih memiliki sedikit celah. Selama kurang lebih lima tahun tinggal di negeri orang dan tiga tahun menjalani pekerjaan yang sama sekali tidak ia minati, baru kali ini ia mendapat kabar gembira. Kabar yang mampu membuatnya seperti orang gila saking bagusnya kabar tersebut. Pulang ke Korea. Yah meskipun tujuan kepulangannya juga termasuk segelintir dari puluhan poin kegiatan dalam kontrak yang harus ia jalani dengan berat hati.

“Hyukkie akhirnya aku bisa pulang. Aku akan segera menemuimu. Tunggulah aku!”

Dari luar, seseorang berjalan masuk ke dalam apartemen Donghae yang pintunya tidak tertutup rapat. Ia menggeleng maklum. Sudah lebih dari sering Donghae teledor dengan keamanannya sendiri.

Liu Xian Hua—composer ZMent merangkap tetangga Donghae—berdiri di ruang tamu sambil menjinjing satu renteng kotak makanan berukuran besar. “Lee Donghae, kau di dalam?” tanya Xian Hua sambil melongokan kepala ke seluruh arah, mencari keberadaan sang pemilik apartemen. Di sana ia bisa melihat kepala Donghae menyembul dari balik pintu kamar. “Bibi Xian Hua!” seru Donghae penuh semangat.

“Maaf masuk tanpa permisi. Seperti bisa, pintunya tidak tertutup rapat.”

Sambil tersenyum senang, Donghae keluar dari kamarnya, berjalan mendekati Xian Hua. “Tak apa bibi, apartemenku selalu terbuka untuk bibi.”

“Dan juga untuk pencuri,” Xian Hua menambahkan, sehingga membuat Donghae terkekeh.

Ketika Donghae sudah berada di hadapannya, Xian Hua meletakan telapak tangannya di pipi Donghae. Membelainya, seperti yang dilakukan kebanyakan ibu kepada anaknya jika sedang menyalurkan rasa sayang ataupun sekedar memberi nasihat. Ajaibnya, Donghae tidak menolak sama sekali—Donghae tidak pernah menolak satu pun perlakuan lembut Xian Hua terhadapnya.

“Kau harus lebih berhati-hati lagi, Donghae. Lain kali pastikan pintu apartemenmu tertutup dengan benar dan terkunci rapat. Mengerti?”

“Siap, komandan!” kata Donghae sambil menirukan sikap hormat para angkatan. Xian Hua tidak bisa menahan kekehannya. Tanpa perlu meminta izin, Xian Hua melangkah menuju dapur, diikuti Donghae. “Kau pasti belum makan kan? Bibi bawa banyak makanan. Ayo makan bersama.” Mata Donghae berbinar-binar. “Wah~ bibi selalu tau kapan perutku mengadakan konser. Bibi memang yang terbaik!”

Kembali Xian Hua tersenyum mendengarkan perkataan Donghae. Ia pun mulai menata makanan yang ia bawa di atas meja makan. Sedangkan Donghae mengambil peralatan makan dari lemari penyimpanannya.

Salah satu dari segelintir faktor yang membuat Donghae betah di Taiwan adalah Xian Hua. Perhatiannya pada Donghae seperti perhatian seorang ibu terhadap anaknya. Bahkan saat ia pertama kali tiba di Taiwan pun, Xian Hua lah yang menyambutnya di bandara, lalu memberi tumpangan secara cuma-cuma pada Donghae. Tak tanggung-tanggung, bahkan Donghae diizinkan tinggal di apartemen Xian Hua sampai bisa mencari tempat tinggal sendiri. Terkadang, Donghae sendiri bingung dengan keramahan Xian Hua padanya, namun Donghae tidak mau pusing memikirkannya, selama tidak merasa dirugikan.

Ketika semuanya sudah siap, Xian Hua duduk di hadapan Donghae sambil melipat tangannya di atas meja. “Makanlah yang banyak. Tapi jangan terburu-buru. Oke?”

Donghae mengangguk antusias. “Selamat makan bibi!” teriaknya lantang.

Suasana hening untuk beberapa saat. Donghae sibuk menyumpit dan memasukan ini-itu ke dalam mulutnya, sedangkan Xian Hua hanya memperhatikannya sambil sesekali tersenyum.

“Eum, kapan kau berangkat ke Korea?” tiba-tiba Xian Hua membuka suara.

“Kata manajer, besok, dengan penerbangan terakhir. Katanya, supaya fans tidak mengerumuni bandara dan mengganggu kenyamanan pengguna bandara yang lain.”

Raut wajah Xian Hua mendadak berubah murung. Ujung jarinya yang lentik mengetuki meja dengan irama resah. “Jadi selama dua bulan kita tidak akan bertemu ya?” tanyanya setengah menggumam.

Tiba-tiba Donghae berhenti mengunyah, ia menatap Xian Hua lekat-lekat. Donghae cukup cermat untuk mengenali ekspresi sedih Xian Hua. Ia menaruh sumpitnya di atas mangkuk lalu meletakan kedua tangannya di atas tangan Xian Hua. “Hanya dua bulan, bibi. Setelah itu aku akan kembali.” Donghae sendiri tidak mempercayai apa yang mulutnya ucapkan. Padahal sebelum bertemu Xian Hua siang ini, Donghae sudah serius berdoa supaya dirinya tidak kembali lagi ke Taiwan. Ia berencana kabur atau melakukan hal lain yang bisa membuatnya tertahan di Korea. Tapi entah mengapa setelah melihat wajah murung Xian Hua, hati kecil Donghae berkata bahwa ia ingin tetap berada di Taiwan, tepatnya di sisi Xian Hua.

Xian Hua tersenyum lalu mengusap punggung tangan Donghae. Dia harus berbesar hati melepas kepergian Donghae, toh lelaki tampan itu akan segera kembali berapa di sisinya. “Hati-hati di jalan ya. Jika sempat bertemu dengan ayah dan ibumu, sampaikan ucapan terimakasihku untuk mereka.”

Donghae mendekat untuk memeluk erat Xian Hua. “Pasti akan aku sampaikan. Akan ku ceritakan banyak hal tentang bibi pada mereka. Andaikan kalian bisa bertemu, aku yakin kalian akan cocok satu sama lain.”

Xian Hua mengangguk sambil mengusap punggung tegap Donghae, matanya mulai menitikan air mata, sangat kontras dengan Donghae yang tersenyum senang dan terlihat benar-benar menikati pelukan tersebut. Entah kenapa tiap kali Xian Hua memeluknya perasaan Donghae selalu tenang, sama seperti berada dalam dekapan ibunya.

o0o

Satu minggu lebih setelah memberi berita tentang Donghae—yang menurut Kyuhyun adalah idola sang kekasih—Hyukjae secara terang-terangan mendiamkan Kyuhyun. Tidak mau makan siang bersama, tidak mau pulang bersama, bahkan berpapasan sedetik saja Hyukjae tidak mau. Sebenarnya, sudah tidak ada masalah mengenai kerja sama Kyuhyun dengan Zhoumi yang melibatkan Donghae. Hyukjae sadar ia tidak berhak marah pada Kyuhyun mengenai hal itu, toh niat Kyuhyun juga sebenarnya baik—untuk memberikan kejutan pada Hyukjae dengan cara mempertemukan dirinya dengan sang idola—menurut Kyuhyun, namun yang tidak bisa Hyukjae terima adalah: kenapa harus dirinya yang menjadi pembuat koreografi dalam proyek musikal yang akan dibintangi Donghae nanti? Padahal sebelum-sebelumnya, Kyuhyun tidak pernah mengizinkannya masuk ke dalam proyek musikal manapun. Sekalipun hal tersebut atas rekomendasi dewan direksi.

Hyukjae tidak bisa menolak karena rencana tersebut sudah siap direalisasikan. Dan terlepas dari statusnya sebagai kekasih Kyuhyun, Hyukjae sadar dirinya tidak bisa menghindari hal tersebut. Ia harus profesional. Namun ia tidak bisa mengabaikan begitu saja kekesalannya pada Kyuhyun. Lelaki yang mati-matian Hyukjae jaga hatinya, lelaki yang ia harapkan bisa memecahkan seluruh rasa nyeri dalam dadanya dan menguraikannya menjadi butiran kebahagiaan. Lelaki yang sangat Ia harapkan bisa menghapus bayangan cinta lama yang setengah mati ingin Hyukjae lupakan.

“Hyukkie, sampai kapan kau akan mendiamkanku begini?”

Kyuhyun mondar-mandir mengikuti gerak-gerik Hyukjae yang sedang membereskan barang-barangnya untuk dimasukan ke dalam tas punggung besar. “Hyukkie…”

“Kyu, aku lelah. Aku ingin istirahat,” kata Hyukjae dengan nada tegas. Tanpa melihat wajah Kyuhyun, Hyukjae menyandang ranselnya dan berjalan cepat meninggalkan ruang latihan, namun bukan Kyuhyun namanya jika ia menyerah sampai di situ. “Aku antar pulang ya?” tanya Kyuhyun sambil mengikuti Hyukjae di sebelahnya. “Ya? Ya? Ya?”

Hyukjae sama sekali tidak peduli, ia masih berjalan lurus sambil sesekali tersenyum ketika berpapasan dengan staf MCent lainnya.

“Baby…” Kyuhyun merengek.

Sekali, dua kali, tiga kali, rengekan Kyuhyun mampu Hyukjae abaikan, namun rengekan Kyuhyun yang ke tujuh, benar-benar tidak bisa diabaikan karena lelaki tampan itu merengek sambil memasang wajah anak anjing yang baru saja dibuang induknya, tepat di depan wajah Hyukjae.

Akhirnya—dengan sangat terpaksa—Hyukjae menyerah, lalu menghela napas pasrah saat Kyuhyun menyeretnya menuju mobil.

o0o

Sesampainya mereka di depan gedung apartemen Hyukjae, hujan deras di sertai petir besar-besaran tiba-tiba datang. Hyukjae tiba-tiba ingat sebarapa takutnya Kyuhyun ketika mengemudi di tengah badai. Hyukjae pun kembali masuk ke dalam mobil. “Hujannya sangat deras, aku tidak yakin akan cepat reda. Masukan mobilmu, dan menginaplah di sini malam ini.”

Kyuhyun hampir mengorek telinnganya sendiri menggunakan kunci mobil saking sulitnya ia percaya pada apa yang baru saja mengalun lembut dari bibir sang kekasih. Ini adalah kali pertama Hyukjae mengajaknya menginap. Ragu-ragu Kyuhyun berkata. “Aku tidak apa-apa. Aku pulang saja. Aku tidak ingin mengganggu istirahatmu.”

“Ini permintaan, bukan perintah, Kyu,” kata Hyukjae sambil menatap lekat-lekat mata sang kekasih.

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam hanya untuk sekedar menutupi rasa senang yang meluap-luap dalam dadanya. “Baiklah.”

o0o

Berbekal kaus bergambar bajak laut bertopi jerami, celana olah raga selutut milik Hyukjae dan juga handuk untuk mengeringkan helaian sewarna madunya yang basah, Kyuhyun berjalan menuju ruang santai, dimana Hyukjae berdiri di sisi jendela besar, memperhatikan derasnya hujan dari balik kaca. Tak lama kemudian sosok yang begitu Kyuhyun gilai tersebut membalikan badan perlahan, menyapanya dengan senyuman manis yang menjadi favorit Kyuhyun.

“Sudah selesai ya? Persediaan wine ku habis. Jadi aku membuatkanmu teh hangat, supaya badanmu tidak menggigil.”

Satu yang Hyukjae ingat baik-baik dalam otaknya tentang Kyuhyun. Lelaki tampan itu tidak akan bisa bertahan lama dalam kedinginan tanpa wine ataupun faktor penghangat lainnya.

Kyuhyun melirik meja yang berisi teko teh dengan bibir yang masih mengepulkan asap, lengkap dengan dua buah cangkir dan sepiring kue kering. Kyuhyun tersenyum, sekaligus bersorak dalam hati. Semarah apapun sosok manis itu padanya, Kyuhyun tau, Hyukjae tidak akan mengabaikannya terlalu lama, terlebih saat hujan deras begini. Karena sesungguhnya Hyukjae adalah pribadi yang lembut dan penuh perhatian.

“Oh! Dan juga, aku lupa kalau persediaan bahan mentahku di kulkas sudah habis. Tapi jangan cemas, aku sudah memesan makanan untuk makan malam,” kata Hyukjae sambil berbalik untuk kembali mengamati derasnya hujan.

Kyuhun tidak peduli pada apapun. Selama bisa bersama Hyukjae, tidak makan pun Kyuhyun bersedia—cinta memang bisa membuat seseorang malas berfikir realistis. Ia berjalan mendekti Hyukjae, memeluknya dari belakang dan membenamkan wajahnya pada pundak sang kekasih.

Ada satu perasaan yang rasanya tidak asing bagi Hyukjae ketika hembusan napas Kyuhyun menyapa ramah kulitnya.

“Maafkan aku…” bisik Kyuhyun. “Aku tau akhir-akhir ini aku sering seenaknya padamu.”

Mengerti ke mana arah pembicaraan Kyuhyun, Hyukjae pun tersenyum. “Aku sudah memaafkanmu, Kyu. Jadi jangan bahas masalah itu lagi.”

Kali ini giliran Kyuhyun yang tersenyum. “Terima kasih sudah mau mengerti, Hyukkie.” Kyuhyun makin membenamkan wajahnya di pundak Hyukjae, menghirup seluruh wangi tubuh Hyukjae.

“Kyu?”

“Ya?”

“Boleh aku minta sesuatu?”

“Apapun yang kau mau, baby.”

Hyukjae memegangi tangan Kyuhyun yng melingkari pinggangnya. “Jangan pernah lepaskan aku. Jangan pernah lepaskan hatiku yang sudah kau genggam.”

Sambil mengeratkan pelukannya pada Hyukjae, Kyuhyun mendongak, menatap kaca bening yang memantulkan bayangan samar dirinya dan Hyukjae. “Tentu saja aku tidak akan melepaskanmu, baby. Sampai kapanpun. Lagi pula, siapa yang berani merebutmu dariku?”

Hyukjae menutupi rasa mirisnya dengan sebuah senyum palsu, hatinya tak cukup yakin dengan jawaban sang kekasih— “Aku harap juga tidak ada yang berani.” —tapi mulutnya sungguh lancang hingga kebalikannya lah yang mengalun merdu hingga membuahkan senyum puas dari sang kekasih.

Perlahan Hyukjae menutup mata sambil menyamankan posisinya dalam dekapan Kyuhyun. Tiba-tiba ia merasa diberi beberapa kecupan pada pundaknya. Hyukjae tidak menolak, malah menyamankan tubuhnya supaya bisa menikmati sentuhan Kyuhyun. Hyukjae harus bisa terlena dengan sentuhan Kyuhyun. Harus! Demi menghapus bayangan di masa lalunya, dan juga demi kebahagiaan yang dijanjikan Kyuhyun, Hyukjae harus bisa memindahkan hatinya pada Kyuhyun. Secepatnya!

“Hyukkie—”

Tangan Hyukjae bergerak lembut, mengusap helaian sewarna madu milik kyuhyun, memberikan isyarat pada sang kekasih untuk meneruskan ucapannya.

Bibir Kyuhyun perlahan merayap di leher Hyukjae, mengecupi tiap inci kulit mulus tanpa cacat tersebut.

“—apa kau tau—” Kyuhyun mati-matian menahan tangannya untuk tidak menggerayangi bagian tubuh Hyukjae yang lain. Hal intim seperti ini adalah yang pertama bagi mereka, Kyuhyun tidak ingin terburu-buru. Kyuhyun tidak ingin terlalu memaksa Hyukjae. Ia ingin Hyukjae sendiri yang memohon untuk ia sentuh lebih jauh. “—bahwa aku sangat mencintaimu, Hyukkie?” bisik Kyuhyun dengan nada seduktif. Ia mulai melumat leher Hyukjae. Alhasil, satu lenguhan kecil berhasil meluncur dari dari bibir Hyukjae, bersamaan dengan munculnya sebuah bayangan yang tak pernah mau pergi dari pikirannya, sekeras apapun Hyukjae berusaha.

“Emhh, aku juga mencintaimu Ha—” Mata Hyukjae membulat. Sekalipun dia bersama Kyuhyun dalam posisi sangat intim, bayangan Donghae tetap tidak mau pergi dari pikirannya.

Kyuhyun sadar tubuh Hyukjae tiba-tiba menegang. Ia hentikan kegiatannya di leher Hyukjae untuk menatap sang kekasih melalui kaca jendela. “Hyukkie, kau kenapa?”

Untuk kedua kalinya Hyukjae terkesiap. Telinganya memang mendengar dengan jelas suara cemas Kyuhyun , namun dalam bayangan samar kaca bening di depannya, Hyukjae tidak melihat wajah cemas Kyuhyun, Hyukjae malah melihat wajah kekanakan Donghae yang sedang tersenyum manis padanya.

“Hyukkie?” Kyuhyun membalik posisi Hyukjae namun saat Hyukjae berhasil menghadap padanya, Kyuhyun malah mendapat dorongan yang cukup keras dari Hyukjae lengkap dengan teriakan, “Jangan sentuh aku!”

Kyuhyun terjatuh dan ternganga. Tak percaya Hyukjae bisa melakukan hal tersebut padanya.

“Hyukkie?”

Untuk kesekian kalinya Hyukjae terkesiap. Hyukjae baru sadar jika orang yang tadi memeluknya bukanlah Donghae. “Ya Tuhan! Kyu, kau tidak apa-apa?” Hyukjae segera berjongkok untuk membantu Kyuhyun berdiri. “Maafkan aku, Kyu. Aku benar-benar tidak sadar. Maafkan aku.”

“Sebenarnya ada apa denganmu, Hyukkie?”

“Aku…” Hyukjae menggigit bibir, hati kecilnya memilih untuk tidak jujur. Dan keputusan itu di dukung oleh suara bel pintu yang berbunyi nyaring.

“Mungkin itu makanan yang ku pesan. Sebentar, Kyu.”

Hyukjae segera meloloskan diri dari Kyuhyun. Berjalan secepat yang ia bisa menuju pintu.

Ada sesuatu yang aneh dengan Hyukjae, Kyuhyun bisa merasakannya. Selama ia berkencan dengan Hyukjae, baru kali ini ia melihat keanehan tersebut, tapi ia tidak bisa menebak apa itu. Yang jelas Kyuhyun harus mencari tau sendiri apa penyebab perubahan sikap Hyukjae, karena Kyuhyun merasa Hyukjae tidak akan mau mengatakan hal tersebut pada Kyuhyun.

o0o

Katika taxi yang ditumpanginya sampai di depan gerbang tinggi dengan tulisan “kediaman Lee” tepat di atas bel, Donghae keluar dari taxi diikuti sang manajer. Udara dingin di pagi awal musim dingin menyapa ramah wajah Donghae. Ia menengadah sebentar ke langit yang masih berwarna biru tua sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah kembali ke Korea.

“Aku seperti bermimpi. Ini sulit dipercaya,” kata sang manajer dalam bahasa mandarin yang fasih—ia mengerti bahasa Korea namun masih kesulitan untuk melafalkannya.

“Aku lebih tidak percaya daripada dirimu.” Dengan semangat, Donghae menekan bel tersebut, rasanya sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam.. Sang manajer hanya bisa tersenyum maklum.

Donghae dan manajernya hanya butuh waktu dua menit untuk menunggu seseorang membukakan gerbang tersebut. Setelah gerbang terbuka, Donghae dan si pembuka pintu sama-sama tercenung. Saling berdebat dengan sisi lain masing-masing, karena tidak percaya pada kesimpulan yang dibuat otak masing-masing.

“Paman Kim?” Donghae yang paling awal bertanya setengah menjerit. Barulah orang yang membukakan gerbang tersebut menanggapi. “Tuan muda Lee Donghae?”

Donghae mengangguk lalu memeluk si pembuka gerbang. Tuan Kim adalah kepala keamanan di kediaman Lee, sekaligus orang yang berperan paling besar dalam membentuk mental baja Donghae.

“Senang sekali akhirnya saya bisa melihat tuan muda lagi!”

“Aku juga sangat senang paman Kim!”

“Mari masuk, semua orang pasti senang melihat anda. Biar saya bawakan barang-barang anda.” Mendengar hal tersebut, saat itu juga Donghae berlari meninggalkan tuan Kim dan manajernya yang sedang geleng-geleng kepala melihat tingkah ajaibnya. Donghae tidak peduli pada apapun. Yang ia pedulikan hanya satu hal. Menemui seseorang yang sudah lama ia rindukan.

o0o

Hanya ada satu tempat yang ingin Donghae datangi pertama kali ketika kembali ke Korea. Tempat dimana ia menghabiskan satu malam menggairahkan bersama seseorang yang amat ia kasihi. Namun ketika Donghae berada di depan pintu tersebut, ia malah ragu. Donghae tiba-tiba takut. Bagaimana jika seseorang dalam ruangan tersebut menolak kehadirannya? lebih parahnya lagi, bagaimana jika orang itu bersikap acuh padanya? Mengingat bagaimana caranya pergi meninggalkan orang tersebut.

Namun, pada akhirnya Donghae tidak peduli pada apapun. Tekadnya sudah bulat ingin melihat sosok yang ia rindukan itu.

Dalam hitungan detik pintu tersebut dibuka perlahan oleh Donghae.

“Hai! Selamat datang di rumah!”

Donghae termangu di tempatnya. Ia ingin sekali mendengar kalimat tersebut mengalun ceria dari bibir orang itu. Lalu melihat orang itu berlari ke arahnya, memberikan pelukan hangat dan juga kecupan selamat datang, tepat di bibir. Namun Donghae kini sadar hal tersebut hanyalah angan. Kamar yang ia harapkan berpenghuni ternyata kosong, orang yang ia rindukan tidak ada di sana. Semua perabotnya tertutup oleh kain putih. Ia lupa jika penghuninya sudah lama meninggalkan kediaman tersebut, tepatnya sehari sebelum ia pergi ke Taiwan.

Dari sekian banyak orang yang tinggal di kediaman tersebut, Donghaelah yang paling bertanggung jawab atas hilangnya sosok tersebut. Karena menghilangnya sosok itu tak lebih dari sekedar upaya terakhir untuk mencegah kepergian Donghae. Yang tidak Donghae mengerti adalah, kenapa sosok itu tidak juga kembali?

Dari samping kamar yang Donghae masuki, keluarlah nyonya rumah keluarga tersebut. Sedikit mengernyit bingung melihat kamar anaknya terbuka lebar. Penasaran, ia pun mendekat. Matanya membulat seketika, namun keterkejutannya bisa ia kendalikan dengan mudah hanya dalam hitungan detik. Kedatangan Donghae memang bukan sebuah kejutan. Beberapa hari yang lalu, Donghae sudah memberi kabar.

“Donghae-ah…”

Yang disapa menoleh secara perlahan, memaksakan sebuah senyum untuk mengusir rasa perih di hatinya. Sayangnya hal tersebut gagal. “Eomma… aku pulang,” katanya dengan suara tertahan.

Sebagaian dari dirinya ingin sekali menyambut kedatangan Donghae dengan sebuah pelukan hangat, namun sebagian dari dirinya yang lain melarang keras hal tersebut. Ia tetap berdiri di posisinya, tak bergeming. “Ternyata lima tahun benar-benar membuatmu lupa dengan rumah kita ya, Hae-ah. Kamarmu kan yang di sebelah sini.” Katanya sambil menujuk pintu di belakangnya. Hanya basa basi belaka. Ia tau Donghae tidak lupa dengan denah rumahnya, sekalipun rumah tersebut sudah banyak mengalami perubahan interior dari tahun ke tahun.

Eomma…”

Tanpa di duga, Donghae menghambur ke dalam pelukan sang ibu, lalu menangis tanpa suara. “Eomma tidak merindukanku?” kata Donghae teredam pundak sang ibu.

‘Tentu saja aku merindukanmu, sangat meridukanmu.’ Namun dirinya tidak bisa membiarkan perasaan itu terpupuk subur. Akan terasa berat jika suatu saat Donghae kembali meninggalkannya untuk pergi ke Taiwan. “Kau istirahatlah dulu. Kamarmu sudah di bersihkan. Eomma akan memasak. Nanti akan eomma panggil jika masakannya sudah siap.”

Donghae menggeleng pelan lalu melepaskan sang ibu yang tak kunjung membalas pelukannya. “Aku ingin menemani eomma memasak.”

Sang ibu tersenyum dalam rasa perih. Entah sampai kapan ia mampu menahan berbagai macam perasaan yang ada dalam dadanya.

o0o

Hanya ada satu kemeja besar yang Hyukjae simpan dalam lemari pakaiannya, jelas kemeja tersebut bukan milik Hyukjae karena ukuran badan kemeja tersebut sangat besar. Bahkan jika Hyukjae yang memakai kemeja tersebut, ia tidak perlu repot menggunakan bawahan, karena kemeja tersebut sudah mampu menutupi setengah pahanya. Hyukjae sendiri bingung kenapa ia menyimpan benda keramat tersebut sedangkan pemiliknya malah menelantarkan benda tersebut sendirian dalam lemari pakaian yang kosong melompong.

“Baby.”

Hyukjae terkesiap, ia baru ingat bahwa ada orang lain dalam kamarnya. Buru-buru ia tarik kemeja tersebut dari bawah tumpukan kemejanya yang tertata rapi, lalu menghampiri Kyuhyun. “Aku punya kemeja yang seukuran denganmu, tapi aku tidak punya celana yang cocok untukmu.” Hyukjae pun menyerahkan kemeja tersebut pada Kyuhyun. “Tak apa, aku akan memakai celana yang kemarin. Nanti akan ku ganti di kantor, aku punya baju cadangan di sana.” Kyuhyun membuka lipatan kemeja tersebut lalu terdiam cukup lama. Seingat Kyuhyun—dan asumsinya sudah mutlak benar, Hyukjae tidak pernah menyukai warna putih. Ia benci warna tersebut, Kyuhyun bahkan membuang semua koleksi pakaian warna putihnya karena Hyukjae selalu marah-marah ketika melihatnya memakai pakaian warna putih. Dan warna putih kemeja yang diberikan Hyukjae padanya membuat Kyuhyun bertanya-tanya. “Apa ini kemejamu, Hyukkie?”

Seperti sudah mengantisipasi munculnya pertanyaan tersebut, Hyukjae pun menjawab dengan tenang. “Bukan. Kemeja itu milik kakakku.” Hyukjae tidak berbohong. Dengan lembut ia menarik kemejanya dari tangan Kyuhyun lalu memakaikannya pada badan Kyuhyun yang setengah telanjang. Mengancingkan kancingnya satu persatu. Hyukjae pernah mengalami hal ini sebelumnya. Hanya saja, tempat dan orang yang ia pakaikan kemeja tersebut, berbeda. Tangan Hyukjae bergetar hebat, namun ia paksa dirinya untuk menyelesaikan kegiatan tersebut sambil bertanya dalam hati, benarkah dirinya tidak bisa melupakan lelaki tampan itu? Benarkah rasa sakit dalam hatinya tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh Kyuhyun?


Di dalam kamarnya, Hyukjae berdiri di depan seorang lelaki tampan, sibuk memasangkan sebuah kemeja putih pada lelaki di depannya. “Kemejanya pas!” teriak lelaki di hadapan Hyukjae, setelah kemeja tersebut terpasang rapi. “Bagaimana bisa kau tau ukuran kemejaku? Kau mengukur badanku saat tidur?” tanyanya sambil tersenyum jahil.

Hyukjae berdecak, lalu berjalan mendekati ranjangnya, mengambil seutas dasi yang tergeletak di sana. “Aku sering menemani eomma membelikan kemeja untukmu, jelas aku tau ukuranmu. Bodoh!”

Yang dikatai tidak merasa tersinggung sama sekali, justru terkekeh senang. Lelaki tampan itu mendekat, lalu memeluk Hyukjae dari belakang. Tidak ada rasa takut aksi mereka akan diketahui banyak orang. Pintu kamar Hyukjae terkunci dan kedua orang tua mereka tidak ada di rumah. “Lee Hyukjae… saranghanda.”

Ada satu desiran menyenangkan dalam dada Hyukjae, ia merasa nyaman berada dalam dekapan lelaki tampan di belakangnya. Dan pernyataan tersebut sukses membuat pipi Hyukjae tiba-tiba merona merah. Hyukjae tau hal itu tidak benar. Rasanya ia ingin kabur dari pelukan lelaki tampan itu, namun tidak bisa. Kakinya seperti terpaku rapat dengan lantai, tidak bisa digerakkan barang sesentipun. Ini bukan kali pertama Hyukjae mendengar kata sakral tersebut. Lelaki tampan di belakangnya sudah lebih dari sering mengatakan hal tersebut, jika suasananya mendukung. Sayangnya, Hyukjae tidak pernah serius menanggapi pernyataan tersebut. Bahkan tak jarang Hyukjae menanggapinya dengan candaan.

“Oke, cinta-cintaannya nanti saja ya, setelah pulang sidang. heum?” Dengan gesit, Hyukjae berbalik lalu memasangkan dasi yang ia pegang pada lelaki di depannya. Mati-matian Hyukjae meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dikatakan lelaki tempan itu adalah bentuk kasih sayang sesama saudara, tidak lebih.

Lelaki di depannya mendesah kecewa namun tetap mencoba tersenyum.

Ada sedikit rasa bersalah di hati Hyukjae. Namun lagi-lagi Hyukjae harus berusaha keras untuk mengabaikannya.

Setelah selesai menyimpulkan dasi, Hyukjae berniat keluar dari kamarnya. Hawa dalam kamar tersebut sudah sangat tidak nyaman baginya. Namun belum sempat kakinya melangkah jauh, si lelaki tampan menarik lengan Hyukjae dan melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Hyukjae, mengunci mata Hyukjae dengan sorot matanya yang tegas.

“Jika aku bisa mendapatkan nilai A+ dalam sidang nanti. Apa yang bisa aku minta darimu sebagai hadiah kelulusanku?”

Hyukjae berfikir keras. Hal tersebut sudah pernah ia bahas dengan kedua orang tuanya, namun sampai saat ini ia tak menemukan satu pun gagasan menarik yang bisa ia berikan sebagai hadiah kelulusan. “Kau maunya apa? Apapun akan aku beri, asal jangan yang aneh-aneh,” katanya di akhiri dengan sebuah senyum canggung.

“Bagaimana jika aku meminta hatimu?”

Debaran jantung Hyukjae semakin menguat, semakin lama malah semakin kencang. Hyukjae yakin lelaki di depannya juga bisa mendengar debaran itu, bahkan merasakannya—mengingat tidak ada jarak yang memisahkan dada mereka. ‘Ini salah! SALAH BESAR!’ Hyukjae menjerit dalam hati, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Akal sehatnya memang menolak untuk mengakui perasaan yang berbalas tersebut—karena takut dengan konsekuensi yang akan mereka hadapi di kemudian hari. Namun, hati kecilnya mendesak untuk mengiyakan permohonan lelaki tampan itu.

“Hyukkie… ku mohon…” Lelaki tampan itu menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi Hyukjae. “Aku menyayangimu, lebih dari sekedar ikatan kakak-adik. Aku membutuhkanmu di sisiku, sama seperti aku membutuhkan udara untuk bernafas. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.”

Cukup! Lelaki itu sudah berhasil meluruh lantakan pertahanan kokoh yang mati-matian Hyukjae bangun, mendorong Hyukjae untuk membuka ketukan lembut pada pintu hatinya, membangkitkan seluruh gejolak dalam dada Hyukjae. Pada akhirnya, Hyukjae pun menyerah. “Akan ku berikan hatiku, jika memang hal itu yang kau mau,” kata Hyukjae dengan nada lembut namun penuh keyakinan. Ia tidak peduli lagi pada konsekuensi yang menanti mereka di kemudian hari. Yang ia inginkan hanyalah berada di sisi lelaki tampan itu, sampai akhir.

Mata keduanya masih saling membidik, menyelami perasaan dan ketulusan satu sama lain, hingga akhirnya, tanpa mereka sadari, jarak antara wajah mereka sudah lenyap. Mata mereka terpejam, bibir keduanya saling bersentuhan dan bergerak lembut dengan irama pelan namun memabukkan.

“Aku mencintaimu, kakak ku, Lee Donghae.”

(TBC)

Special thanks to: rani gaem 1, nurul p. putri, myhyukkiesmile, lyndaariezz, FN, love haehyuk, Youmustbeknowme, narty2h0415, Mey Hanazaki, nyukkunyuk, fitri, HaeHyuk Love, NovaVishy, rsming, Lan214EunhaElf, NicKyun, akuu, cho ri rin, HaoHaoHyvk, Polarise437, any reviewer with ‘Guest‘ name.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s