BROKE THIS PAIN ;; Chapter 3

Previous chapter

Dengan lembut ia menarik kemejanya dari tangan Kyuhyun lalu memakaikannya pada badan Kyuhyun yang setengah telanjang. Mengancingkan kancingnya satu persatu. Hyukjae pernah mengalami hal ini sebelumnya. Hanya saja, tempat dan orang yang ia pakaikan kemeja tersebut, berbeda. Tangan Hyukjae bergetar hebat, namun ia paksa dirinya untuk menyelesaikan kegiatan tersebut sambil bertanya dalam hati, benarkah dirinya tidak bisa melupakan lelaki tampan itu? Benarkan rasa sakit dalam hatinya tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh Kyuhyun?


BROKE THIS PAIN

Warning: Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to MyhyukkiesmileancofishyLyndaariez, and all of my beloved reader. Hope you enjoy this. 😀

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 3: Ring


Pukul sebelas malam waktu Incheon.

Setelah memastikan tak ada satu pun orang yang masih terjaga dalam rumahnya, Hyukjae mengendap masuk ke dalam kamar Donghae. Hyukjae tau sang kakak sedang marah besar padanya. Sumber masalahnya adalah Hyukjae tidak bisa mengatakan kata tidak pada Nichkhun, teman seangkatan Hyukjae yang mengungkapkan isi hatinya pada Hyukjae. Tadi sore, tepat setelah acara kelulusan berakhir, dan disaksikan ratusan undangan acara tersebut, termasuk Donghae dan kedua orang tua Hyukjae.

Hyukjae menghirup napas sebanyak yang ia bisa setelah melihat Donghae bersandar pada single sofa yang menghadap langsung pada jendela. Hyukjae menutup pintu kamar Donghae dengan sangat pelan, lalu berjalan menghampiri sang kakak, tanpa memastikan pintu tersebut sudah tertutup sempurna atau belum.

Donghae pura-pura menutup mata ketika Hyukjae sudah sampai di depannya.

Jemari lentik Hyukjae meraih jemari besar Donghae, menggenggam-nya dengan penuh perasaan. “Nan neorul saranghanda…

Mata Donghae tiba-tiba terbuka, ia berikan tatapan tajamnya pada Hyukjae. “Jika kau mencintaiku, kau akan langsung menolak lelaki tadi, bukan malah mengatakan akan mempertimbangkannya!”

“Dan membuat abeoji malu di depan ratusan orang karena mempunyai anak yang tidak mempunyai sopan santun?”

Donghae menarik tangannya dari genggaman Hyukjae, tatapan tajamnya berubah menjadi tatapan sendu. “Kau selalu memikirkan perasaan orang lain, tapi tidak pernah memikirkan perasaanku terlebih dulu ketika bertindak. Selalu orang lain yang kau utamakan perasaannya.”

Mata Hyukjae mulai berkaca-kaca, ia jatuh bersimpuh di depan Donghae. “Bukan seperti itu maksudku, sungguh. Aku hanya tidak ingin suasana menjadi tidak nyaman. Tolong mengertilah…”

Donghae menghela napas pasrah, air mata Hyukjae adalah kelemahannya. Predikat orang paling kejam sedunia selalu ia lekatkan pada dirinya sendiri jika melihat Hyukjae menitikan air mata untuknya. Donghae mengulurkan tangannya pada lengan Hyukjae, mengajak sang adik yang amat ia cintai berdiri. Hyukjae hanya bisa pasrah., termasuk saat Donghae mendudukkan dirinya di pangkuan, kemudian membidik matanya dengan sorot putus asa. “Harus dengan cara apa supaya kau bisa mengutamakan aku dalam pikiranmu?”

Demi Tuhan! Hyukjae tidak pernah menomor-akhirkan Donghae, justru sebaliknya. Semua tindakan yang diambil Hyukjae, ia putuskan atas dasar Donghae, Donghae dan Donghae.

Seandainya Hyukjae langsung menolak pernyataan cinta Nichkhun, lelaki tampan tersebut sudah pasti langsung menuntut penjelasan. Hyukjae jelas tidak akan bisa mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki Donghae sebagai kekasihnya di hadapan sang ayah. Selain bisa mencoreng nama baik keluargnya sendiri, Hyukjae yakin hubungan asmaranya dengan Donghae juga tidak akan bertahan lama—tak ada satupun orang tua waras di dunia ini yang akan diam saja ketika tau anak-anaknya saling berbagi tempat khusus di hati masing-masing, Hyukjae meyakini hal itu.

Hyukjae tak mau hal mengerikan itu terjadi, ia ingin terus berada di sisi Donghae, tak masalah jika seumur hidup Hyukjae harus menggunakan embel-embel saudara untuk menyamarkan perasaan yang mereka miliki. Hyukjae menarik pelan salah satu tangan Donghae, lalu menautkan jemari mereka. “Dan harus dengan cara apa lagi supaya aku bisa membuatmu mengerti bahwa isi pikiranku hanyalah dirimu?”

Donghae kalah telak, ia tak bisa membalas. Perkataan dan tatapan mata sang adik tak main-main, penuh dengan keyakinan. Pada akhirnya, Donghae pun menyerah, menanggalkan seluruh keegoisannya di hadapan Hyukjae, pujaan hatinya. “Mianhae…”

Mau tak mau, Hyukjae tersenyum. Tautan jari mereka semakin erat, Hyukjae menyatukan kening mereka tanpa memutus kontak mata. “Tak ada yang salah, tak ada yang harus meminta maaf.”

Satu tangan Hyukjae yang melingkar di leher Donghae, menarik tubuh sang kakak hingga tak ada jarak untuk dada mereka. Hyukjae menatap dalam-dalam mata Donghae, dan kata itu pun keluar lagi dari bibir Hyukjae. “Aku mencintaimu,” bisiknya lembut. Hyukjae menghapus jarak antara bibirnya dan Donghae. Hyukjae tidak membutuhkan balasan dari Donghae, karena ia tau Donghae juga mencintainya—sangat mencintainya. Sudah lebih dari sering Donghae membuktikan hal tersebut.

Perlahan tapi pasti, Donghae membalas perlakuan Hyukjae pada bibirnya. Semakin lama semakin dalam. Ia dekap erat tubuh ramping sang adik, seolah ia tak punya kesempatan melakukan hal tersebut di hari esok. Beruntung, Hyukjae sama sekali tak keberatan dengan perlakuan Donghae.

Cumbuan Donghae mulai merayap turun ke leher jenjang Hyukjae, bibir tipis tersebut menyapu tiap inci kulit leher mulus Hyukjae, dan berhenti tepat di pangkal. Ia hisap kuat bagian tersebut hingga membuat Hyukjae mendesah pelan. Tak ada satu hal pun yang mereka pedulikan—tirai jendela yang masih terbuka lebar, lampu kamar Donghae yang masih menyala terang benderang, bahkan Hankyung yang baru saja membuka pintu kamar Donghae pun tak mereka pedulikan.

Bagaimana cara Hyukjae mengangkat wajah Donghae yang dibenamkan pada pangkal lehernya, bagaimana cara keduanya beradu tatapan penuh rasa sayang, bagaimana cara keduanya menautkan bibir, saling mencumbu untuk menikmati rasa manis bibir satu sama lain. Demi Tuhan, Hankyung tidak akan pernah melupakan kejadian memalukan tersebut. Hankyung merasa darahnya tiba-tiba mendidih di puncak kepalanya, terlebih saat melihat Hyukjae berusaha melepas kemeja yang dipakai Donghae dengan gerakan sensual.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?”

Hyukjae terkejut bukan main ketika melihat Hankyung berdiri di ambang pintu dengan sorot mata mengerikan. Buru-buru ia bangkit untuk menjauh dari Donghae sambil membekap mulutnya. “Abeoji…”

“Bagaimana bisa kau menggoda KAKAKMU sendiri, Lee Hyukjae?”

Hankyung berjalan cepat mendekati Hyukjae, namun langkahnya dihadang oleh Donghae. Lelaki tampan itu tau saat-saat seperti ini akan datang dalam hidupnya, dan ia sudah siap untuk menghadapinya. “Dia tidak menggodaku. Kami saling mencintai.”

“DIAM KAU!” Hankyung makin terlihat geram, perkataan Donghae sama sekali tak membuatnya tenang. Hankyung mendorong Donghae sampai jatuh di lantai.

ABEOJI!”

Hyukjae ingin mendekati Donghae dan membantu sang kakak berdiri, namun Hankyung tak membiarkan hal itu. Dengan cepat Hankyung menarik lengan Hyukjae lalu membawanya keluar dari kamar Donghae.

Abeoji, tolong lepaskan Hyukjae.” Lagi-lagi Donghae ingin menghadang Hankyung namun saat itu juga ia kembali didorong oleh Hankyung. “Abeoji, aku mencintainya, sungguh.” Hyukjae ikut memohon. Namun hal tersebut tak ada gunanya, Hankyung berjalan seperti orang tuli.

Donghae berusaha bangkit dan mengejar langkah Hankyung, namun usahanya sia-sia. Pintu kamarnya sudah ditutup dengan keras oleh Hankyung lalu dikunci dari luar. “Abeoji buka pintunya!” Berulang kali Donghae menggedor pintu kamarnya.

Abeoji, tolong kelurkan dia.” Hyukjae memohon sambil menyeka air matanya.

Tanpa melepaskan cengkeramannya di lengan Hyukjae, Hankyung tetap berjalan lurus meninggalkan kamar Donghae menuju pintu masuk. Hyukjae mulai cemas. “Abeoji, aku mau dibawa ke mana?”

Tetap tak ada respon dari Hankyung bahkan sampai mereka berada di depan mobil yang tidak sempat di masukan ke dalam garasi, Hankyung tak kunjung buka mulut.

“Hannie! Mau kau bawa ke mana Hyukjae?”

Heechul tiba-tiba muncul di depan pintu masuk dan berjalan cepat menghampiri Hankyung yang memaksa Hyukjae masuk ke dalam mobil.

Tak sedikitpun Hankyung menanggapi Heechul. Setelah berhasil memasukan Hyukjae ke dalam mobil, Hankyung pun ikut masuk ke dalamnya.

“Hannie! Buka pintunya!” Heechul menggedor kaca mobil Hankyung, namun sang suami tak juga mau menanggapi sang istri. Malahan, dengan sadis Hankyung menghidupkan mobilnya dan menjalankan benda tersebut seperti orang kesetanan.

o0o

Jika ibu Donghae sudah memberikan sambutan dingin padanya, giliran Hankyung yang memberikan sambutan tak layak atas kepulangan Donghae. Setelah lima tahun tidak bertemu, Hankyung hanya memberikan senyum sekilas pada Donghae, ketika mereka bertemu di meja makan. Tak ada pelukan atau semacamnya. Donghae tak heran, memang sudah lama ayahnya bersikap begitu dingin padanya, terhitung sejak hubungannya dengan sang adik terbongkar.

Mereka sarapan pagi dalam keadaan hening yang menyebalkan. Donghae melirik tempat duduk di sebelahnya. Tak ada lagi tangan usil yang menjahilinya ketika makan, tak ada lagi cengiran lucu, tak ada lagi rajukan manja yang akan membuat Donghae rela menghabiskan jatah sayuran sang adik, secara diam-diam. Donghae sendiri benci makan sayuran, terutama wortel, brokoli dan lobak. Namun untuk menghindarkan sang adik dari amukan sang ibu, Donghae rela menelan semua sayuran tersebut untuk Hyukjae.

Semua untuk Hyukjae, demi Hyukjae dan hanya Hyukjae. Kepindahannya ke Taiwan pun juga ia lakukan demi Hyukjae, supaya sang adik tidak harus melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.

Donghae tersenyum miris ketika sadar bahwa apa yang telah ia lakukan tidak berdampak baik pada siapapun. Bahkan sebelum ia pergi ke Taiwan pun semuanya sudah hancur berantakan. Adik yang setengah mati ia cintai menghilang, dan sekarang kehangatan keluarganya memudar.

“Apa jadwal Donghae hari ini langsung padat?” Heechul memecah keheningan dengan bertanya pada Yin He—manajer Donghae—yang duduk di sebelahnya, tentunya menggunakan bahasa mandarin.

Hati Donghae semakin miris. Bahkan sang ibu enggan bertanya langsung pada Donghae yang duduk tepat di hadapannya. Mereka menganggap Donghae itu apa? Batu?

“Tidak, bibi. Hari ini jadwalnya hanya berangkat ke Seoul dan mencari letak apartemen yang akan kami tempati selama dua bulan ke depan, Direktur baru saja mengirimkan alamatnya. Besok dia baru dijadwalkan mengunjungi MCent, untuk bertemu Presdir MCent dan para partnernya di musikal nanti. Kemudian, hari selasa siang ada pres. con. musikal-nya, dan setelah itu jadwal Donghae hanya latihan, latihan dan latihan sampai hari H.”

Salah satu kursi meja makan tersebut berderit kencang, Hankyung, Heechul dan Yin He serempak menoleh pada Donghae yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Donghae muak dengan sederet jadwal yang disebutkan Yin He, terlebih, Ia muak dengan keluarganya. “Aku selesai.” Donghae meninggalkan meja makan dengan langkah cepat, menuju kamarnya di lantai atas.

Yin He menatap nasi dalam mangkuk Donghae yang masih utuh, belum berkurang sebutir pun. “Selalu seperti ini.” Yin He membuang napas lelah ketika Heechul menatapnya “Apa dia sering seperti ini?”

“Tiap kali aku menyebutkan jadwalnya secara rinci,” jawab Yin He. Lelaki asal Taiwan tersebut bangkit dari tempat duduk lalu membereskan makanannya dan juga Donghae. “Aku akan membujuk Lee Donghae supaya mau makan. Aku permisi dulu, bibi, paman.”

Hankyung tak mau ambil pusing dengan kejadian tersebut. Ia kembali berkutat dengan alat makannya dan memasang wajah tidak peduli.

“Aku tidak bisa melanjutkan ini, Hannie,” kata Heechul dingin, tanpa melirik sang suami yang masih duduk tenang di kursinya, masih menggunakan bahasa mandarin supaya tak ada satu orang pun yang memahami percakapan mereka. “Donghae harus tau semuanya. Dia harus tau semua rahasia itu.”

“Cukup!” Hankyung tiba-tiba berteriak sambil menggebrak meja. Ia takut Heechul menyebutkan kalimat itu. Kalimat yang setengah mati ia samarkan selama dua puluh tujuh tahun terakhir, dengan segala macam cara.

Dengan perlahan, Heechul meraih tangan Hankyung lalu menggenggam nya dengan penuh perasaan. “Kita sudah gagal menjadi orang tua yang baik, terutma untuk Donghae.” Genggaman tangan itu semakin erat, raut wajah Heechul memelas. Tak hanya Donghae dan Hyukjae yang tersiksa akibat tindakan Hankyung, Heechul juga sama tersiksanya. “Mari kita akhiri semuanya. Kita ceritakan semua kebenarannya pada Donghae, bahwa dia—”

“Tidak ada kebenaran yang harus diungkapkan. Kebenaran yang harus diketahui oleh semua orang hanya satu, Lee Donghae adalah anakku. Dan hal itu tidak akan berubah sampai kapan pun.”

“Jika kau menganggap dia anakmu, tak seharusnya kau menyiksanya seperti ini!”

“Aku melakukan ini semua karena aku menyayanginya. Bukan menyiksanya.”

“Jika kau memang menyayanginya, kau tidak akan memisahkannya dari Hyukjae. Dia…” Heechul sendiri tidak suka dengan apa yang akan ia ucapkan. Ia meremas lap putih yang ada di atas meja “mencintai Hyukjae. Aku yakin jika kau menyetujui hubungan mereka, Hyukjae akan kembali pada kita.”

Raut wajah Hankyung semakin mengeras. Ia benar-benar tak suka dengan perkataan sang istri.

“Donghae tidak pernah mencintainya, Hyukjae juga tidak. Malam itu, Hyukjae hanya menggodanya, tidak lebih. Tidak pernah ada cinta di antara mereka.”

Hankyung menarik tangannya dari genggaman Heechul, mengambil tas kerja dan kunci mobilnya, lalu berjalan cepat keluar rumah menuju mobilnya. Berangkat ke kantor tanpa berpamitan pada sang istri.

Heechul hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan hati hancur. Sama seperti keadaan keluarganya saat ini.

o0o

Ketika Hyukjae memeriksa tasnya untuk mengambil DVD yang kemarin baru ia beli , ponsel Hyukjae berbunyi, nama sang kakak tertera di layar ponselnya yang berkedip. Mau tak mau Hyukjae harus menjeda kegiatannya untuk mengangkat panggilan tersebut, jika tidak, bisa dipastikan sang kakak akan mengamuk dan memporak-porandakan kamarnya. “Yeobosaeyo,” sapanya tanpa minat.

“Sedang apa?”

“Mencari DVD yang kemarin aku beli.”

“Kenapa tidak meminta bantuanku? Siapa tau aku bisa bantu mencarinya.”

Hyukjae berdecak sambil menuang isi tasnya di atas ranjang. “Mana mungkin kau bisa bantu, sedangkan kau masih di kantor.”

Tak ada suara apapun dari seberang line, Hyukjae sempat mengira sambungan mereka terputus, namun saat Hyukjae memeriksa layar ponsel-nya, sambungan mereka belum terputus. Hyukjae kembali meletakan ponsel-nya di telinga. “Kau masih di sana?”

Tanpa diduga, Hyukjae tiba-tiba mendapat sebuah pelukan dari belakang lengkap dengan sebuah kecupan di pipi sebelah kanan. “Aku tidak mungkin menawarkan bantuan jika aku tidak bisa membantu, baby.”

Hyukjae terkesiap, lalu menoleh ke samping, mendapati Donghae sedang tersenyum manis padanya. “Kenapa sudah pulang?” Ia melirik jam dinding, masih pukul lima sore. Biasanya Donghae baru sampai rumah sekitar pukul tujuh sore, jika ada lembur bisa sampai pukul sebelas malam.

“Tadi pagi eomma tiba-tiba ke kantor, lalu mengajak Abeoji ke Daegu untuk mengunjungi bibi yang sedang sakit, jadi, hari ini aku bebas, dan bisa langsung pulang setelah semua pekerjaanku selesai.”

“Ck, jadi seperti itu kelakuan wakil presdir? Tidak bertanggung jawab. Akan kulaporkan nanti pada abeoji.” Hyukjae mencoba melepaskan diri dari pelukan Donghae, namun gagal. Ia lalu melirik pintu kamar, tertutup rapat, tapi tak terkunci. Hyukjae menjadi sedikit resah. Ia takut ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.

“Yang terpenting aku sudah menyelesaikan tugas-tugasku, baby.”

Hyukjae kembali mengeliat tak nyaman. “Tatap saja, itu tidak baik. Lepaskan aku! Aku mau mencari DVD ku.”

Donghae menepuk jidatnya. “Oh, hampir saja aku lupa.” Donghae kemudian melepaskan pelukannya untuk mengambil sebuah DVD dari dalam tas kerjanya. “Ini yang kau cari kan?” tanyanya dengan wajah tanpa dosa.

Mata Hyukjae membulat sekaligus berbinar. “Ya! Kenapa tidak bilang kalau kau membawanya?! Kau melihatnya duluan? Ish, kau ini menyebalkan sekali.”

“Aku belum melihatnya, baby. Tenng saja.”

Hyukjae pun menghadiahkan pukulan-pukulan ringan di lengan sang kakak sebelum mengambil DVD-nya dari tangan Donghae. “Ish, kau benar-benar menyebalkan!” Hyukjae mendengus. Sekarang, ia ingin pergi dari kamarnya, meninggalkan Donghae. Namun, belum sempat ia mengambil langkah ke dua, lengan Hyukjae ditarik oleh Donghae, sehingga sang adik kembali duduk di ranjang. “Jangan marah, baby~” pinta Donghae sambil memasang wajah anak anjing yang baru saja dibuang.

Jika jurus tersebut sudah dikeluarkan, sudah pasti Hyukjae tak bisa berkutik. Puppy-eyes Donghae adalah kelemahan Hyukjae. Ia menghela napas, kalah. “Maaf diterima kalau ada satu kotak cokelat. Bagaimana?” Sebenarnya Hyukjae tidak sungguhan menginginkan hal itu.

Donghae menjentikan jarinya. Matanya berbinar penuh semangat. “Kebetulan sekali.” Ia pun kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya. “Tada!”

Sekotak cokelat berada tepat di depan Hyukjae. Mata Hyukjae jadi berbinar-binar, indah. “Wah! Ini untukku?”

Donghae hanya mengangguk sekali.

“Wah~ Gomawo~” Hyukjae mengecup pipi kanan Donghae, lalu mengambil cokelat tersebut dari tangan sang kakak. Hyukjae langsung membukanya. Mata Hyukjae makin berbinar-binar ketika melihat berbagai macam bentuk cokelat berjajar rapi dalam kotak tersebut. Namun wajah Hyukjae langsung terlihat bingung ketika melihat cokelat di tengah-tengah kotak tersebut terbungkus rapi seperti permen. Hyukjae mengambil cokelat tersebut, mengamatinya dengan seksama. “Kenapa hanya ada satu yang dibungkus seperti ini?”

“Bukalah, baby.” Donghae tersenyum, sangat tampan, tak sabar melihat bagaimana reaksi Hyukjae ketika melihat isinya.

Hyukjae menatap Donghae sekilas, sebelum akhirnya memelintir kedua ujung pembungkus cokelat tersebut. Matanya langsung membulat ketika melihat apa yang ada dibalik pembungkus. Bukan gumpalan cokelat, tapi sebuah cincin perak tanpa hiasan apapun, hanya ada ukiran namanya dan Donghae di sisi dalam cincin tersebut.

“Astaga! Ini—”

Tak mampu meneruskan ucapannya, Hyukjae menatap Donghae sambil membekap mulutnya yang menganga, takjub. Reaksi tersebut cukup membuat hati Donghae senang—sang adik menyukai kejutannya.

Donghae mengambil cincin tersebut dari tangan Hyukjae, kemudian menyematkannya di jari manis Hyukjae. Cincinnya melingkar sempurna, tidak kekecilan dan tidak kebesaran. “Itu hadiah karena kau bisa lulus ujian akhir dengan nilai terbaik. Aku harap kau menyukainya.” Donghae lalu merunduk untuk mencium punggung tangan Hyukjae.

Pipi Hyukjae merona. Rasanya Hyukjae ingin sekali melompat-lompat, hanya untuk menunjukan pada dunia jika ia sedang senang setengah mati, terlebih saat ia tau di jari manis Donghae juga tersemat benda yang sama.

Tanpa, aba-aba, Hyukjae memeluk Donghae erat, membenamkan wajahnya di leher Donghae. “Gomabta.”

o0o

Hatinya seperti teriris ketika menemukan cincin yang dulu pernah ia sematkan di jari manis Hyukjae, tergeletak begitu saja di tempat kemeja putih pemberian Hyukjae yang sengaja ia tinggalkan dalam lemari pakaiannya. Tak hanya cincin, benda-benda lain yang pernah ia berikan pada Hyukjae juga ada di sana. Tertata rapi dalam sebuah kotak harta karun berukuran sedang.

Air mata Donghae jatuh setetes, hatinya menjerit, frustasi. Begitu fatalkah pilihan yang telah ia ambil, sampai-sampai dunianya yang dulu indah kini menjadi hancur berantakan? Tak cukupkah fakta bahwa ia tak bisa melihat pujaan hatinya ketika pulang? Tak cukupkah hanya sambutan dingin dari keluarganya saja yang mengoyak hatinya? Donghae mulai merasa kehidupan tidak pernah adil padanya.

Dari ambang pintu, Heechul bisa melihat Donghae bersimpuh pasrah di depan lemari pakaiannya. Hati Heechul seperti teriris melihat hal tersebut. Perlahan, Heechul mendekati Donghae, lalu ikut bersimpuh di depan lemari pakaian, bersama Donghae. Matanya tanpa sengaja melihat sebuah cincin perak di atas telapak tangan lunglai Donghae.

Dulu, Heechul mengira cincin tersebut hanyalah cincin biasa yang tak ada maknanya. Donghae dan Hyukjae memakainya hanya sebagai simbol persaudaraan, tidak lebih.

Eomma juga merindukannya.”

Mendengar pengakuan sang ibu, Donghae tersenyum sinis sekaligus miris, tatapannya masih lurus ke depan. “Kenapa aku harus terlahir sebagai anak kalian? Kenapa aku harus jatuh cinta padanya? Dan kenapa aku juga harus dipisahkan darinya?”

Dada Heechul terasa sesak. Ia ingin sekali memeluk Donghae lalu menenangkannya, namun tidak bisa. Tubuhnya membatu di tempat.

“Ini cobaan untukmu… nak. Kuatkan hatimu untuk menghadapinya.”

Setetes air mata Donghae jatuh tepat di atas cincin Hyukjae. Donghae menggenggam erat cincin tersebut. “Jika aku menemukannya, aku tidak akan melepaskannya lagi.”

Heechul meletakan tangannya di bahu Donghae. Tak bisa memberi respon berlebih, ia dilema. Jika ia mendukung Donghae, sama artinya dengan ia menentang Hankyung, suami yang sangat ia cintai. Tapi jika Heechul tidak mendukung keputusan Donghae, ia tak akan bisa melihat senyum-senyuman manis yang dulu menghiasi wajah setiap anggota keluarganya.

o0o

Hal pertama yang ingin Kyuhyun lakukan untuk mencari tau apa sebab keanehan sikap Hyukjae semalam, adalah mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang kakak Hyukjae. Kyuhyun sudah lama tau bahwa Hyukjae mempunyai seorang kakak lelaki, namun Kyuhyun tak pernah tau siapa namanya, bagaimana rupanya, apa pekerjaannya, dan di mana orang tersebut saat ini. Hyukjae selalu menolak untuk bercerita. Tak hanya kakak, Kyuhyun juga tidak pernah tau siapa ayah, dan ibu Hyukjae. Selama ini, yang Hyukjae perkenalkan sebagai walinya adalah paman dan bibinya yang tinggal di Daegu. Seperti halnya sang kekasih, paman dan bibi Hyukjae pun tidak pernah mau menceritakan apapun tentang ayah, ibu, kakak, dan kehidupan Hyukjae sebelum bertemu dengan Kyuhyun.

Karena hasratnya untuk mencari tau segala sesuatu tentang Hyukjae sudah di ubun-ubun, Kyuhyun memilih jalan pintas untuk mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya tentang Hyukjae.

Dengan memanfaatkan kemampuan informan terbaiknya, tak sampai satu jam menunggu, Kyuhyun sudah mendapatkan data lengkap tentang Hyukjae beserta keluarganya. Dengan sabar, Kyuhyun membaca selembar demi selembar dokumen yang dikirimkan informan-nya melalui e-mail.

Dan betapa terkejut-nya Kyuhyun saat tau bahwa ayah Hyukjae adalah Lee Hankyung, seorang pengusaha sukses—namun sulit ditemui—yang berkediaman di Incheon, dan ibunya adalah Kim Heechul, seorang model internasional yang tiba-tiba menghilang dari dunia entertainment sekitar dua puluh tujuh tahun yang lalu. Dan kakak Hyukjae adalah… “Lee Donghae?” Sulit bagi Kyuhyun untuk mempercayai apa yang ia temukan.

Bicara soal Donghae, Kyuhyun teringat saat Hyukjae memakaikan kemeja putih yang sampi saat ini masih melekat di tubuhnya, ia teringat tangan Hyukjae yang bergetar hebat ketika mengancingkan kemeja di badannya. Dan ingatan Kyuhyun pun tiba-tiba tersambung pada saat ia memberitahukan rencana kerja sama-nya dengan Zhoumi pada Hyukjae. Hari itu adalah pertama kalinya Hyukjae bersikap aneh pada Kyuhyun. Hyukjae menjadi lebih sentimen pada siapapun, sering melamun dan menggerutu tak jelas. “Lee Donghae, dia penyebabnya, tidak salah lagi.” Kyuhyun yakin seyakin-yakinnya, tapi, ia masih tidak mengerti ada apa di antara kakak-beradik tersebut.

Ketika Kyuhyun ingin menekuni lagi informasi yang baru saja ia dapatkan, telepon-nya tiba-tiba berbunyi, sang sekretaris dari seberang line mengingatkan Kyuhyun untuk segera menghadiri rapat dengan para penanggung jawab musikal selanjutnya.

Kyuhyun terpaksa menunda keinginannya, ia berjalan cepat meninggalkan ruangannya, meninggalkan personal komputernya yang masih menyala dan menampilkan satu catatan yang amat kecil, namun sangat penting bagi siapapun. Catatan tersebut berbunyi, Donghae adalah anak angkat Lee Hankyung dan Lee Heechul.

o0o

Jalanan dari Incheon menuju Seoul tidak terlalu padat, rute menuju apartemen yang diberikan Zhoumi pun tidak berbelit-belit, jadi, pukul lima sore mereka sudah berada di apartemen. Yin He meletakan kopernya di sembarang tempat, lalu menghempas kan tubuhnya di sofa. “Direktur benar-benar baik. Aku kira dia akan menempatkan kita di flat sempit yang minim ventilasi serta jauh dari keramaian.”

Donghae menarik kopernya sambil berjalan mengelilingi apartemen. “Aku akan membunuhnya jika dia berani melakukan hal itu padaku.”

“Memangnya siapa dirimu?” Perkataan pedas itu meluncur begitu saja dari bibir Yin He.

Donghae memilih diam saja, bukan karena ia tidak bisa membalas ucapan Yin He, hanya saja, Donghae tak mau mendengar Yin He mengoceh sepanjang sisa hari dan membuatnya lupa pada sederet kegiatan yang sudah ia susun sendiri untuk mulai mencari keberadaan Hyukjae. Setelah meletakan kopernya di salah satu kamar, Donghae buru-buru melangkah menuju pintu masuk. “Carilah makan malam sendiri, aku ada urusan,” kata Donghae sambil memakai air jordan warna hitam dengan sentuhan warna merah dan putih di bagian sol-nya.

Yin He yang tadinya merebahkan diri di sofa langsung berdiri dan memelototi Donghae. “Kau mau kemana? Aku pendatang di negara ini. Aku tak tau harus—”

BRAK! Donghae tak lagi mendengar ocehan Yin He, ia tersenyum geli sendiri di depan pintu ketika membayangkan ekspresi kesal Yin He. Donghae yakin jika ia pulang lebih awal dirinya tidak akan bisa tidur tenang karena mendengar Yin He terus mengomel padanya.

Masa bodoh, Donghae tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah pergi ke suatu tempat untuk meminta bantuan pada teman lamanya yang tinggal di Seoul. Donghae sangat berharap temannya bisa membantu dirinya menemukan sang pujaan hati yang sudah lama menghilang.

Sambil berjalan menuju lift, Donghae merogoh saku celananya untuk mengeluarkan cincin Hyukjae. Ia pandangi sejenak cincin tersebut sebelum ia sematkan di jari kelingking, bersebelahan dengan cincinnya. Namun, karena Donghae sedang sial, cincin tersebut malah jatuh dan menggelinding, sampai akhirnya masuk ke dalam apartemen seseorang melalui celah pintu.

Donghae berulang kali menekan bel apartemen tersebut, namun pintu di hadapannya tak kunjung terbuka.

TBC


Special thanks to: akuu, anon, azihaehyuk, Bluerissing, cho ri rin, fitri, FN, HaeHyuk Love, haekhyuklveo, haehyuk86, HaoHaoHyvk, Lan214EunhaElf, LHLHleena, love haehyuk, lyndaariezz, Mey Hanazaki, myhyukkiesmile, narty2h0415, NicKyun, NovaVishy, nurul p. putri, nyukkunyuk, Polarise437, rani gaem 1, rsming, tarrraaa, Xiuxiu Lu, Youmustbeknowme, and any reviewer with ‘Guest‘ name.

Sampai jumpa di chapter depan 😀 *Peluk & Cium satu-satu*

Advertisements

2 thoughts on “BROKE THIS PAIN ;; Chapter 3

  1. aku baru berkunjung ke wp ini, tapi udah tau kamu dari ffn
    sekarang jarang ff haehyuk tapi kamu bikin ffnya bagus, aku suka ff konflik yang kamu buat walau terkadang aku ga suka sama endingnya
    lanjutkan ff ini walaupun bingung tapi sepertinya ini maju mundur ya plotnya hehehe

    • Mianhae baru bales, ini baru bisa buka wp TT^TT
      Iya, aku sendiri kadang juga enggk suk m ending yg aku buat, gara2 kelamaan update, trus ide baru bermunculan jadi ide lamanya ketimbun dan akhirnya endingnya melenceng jauh daei perkiraan TT^TT
      Iya, ini alusrnya maju mundur, lagi demen make alur kayak gitu. hehehe Mianhae klo bingung ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s