BROKE THIS PAIN ;; Chapter 4

Previous chapter

Sambil berjalan menuju lift, Donghae merogoh saku celananya untuk mengeluarkan cincin Hyukjae. Ia pandangi sejenak cincin tersebut sebelum ia sematkan di jari kelingking, bersebelahan dengan cincinnya. Namun, karena Donghae sedang sial, cincin tersebut malah jatuh dan menggelinding, sampai akhirnya masuk ke dalam apartemen seseorang melalui celah pintu.

Donghae berulang kali menekan bel, namun pintu apartemen tersebut tak kunjung terbuka.


BROKE THIS PAIN

Warning: Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved readers. Hope you enjoy this. 😀

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 4: Hope
NO SUMMARY


“Apa Donghae sudah bertemu Hyukjae?”

Zhoumi tersenyum pada layar tablet yang sedang menampilkan wajah cantik Xian Hua. “Aku rasa belum. Dia sedikit lamban dalam masalah percintaan.”

“Sama sepertimu,” kata Xian Hua sambil tersenyum manis

“Tentu saja sama, dia kan…” Demi Tuhan, Xian Hua tidak ingin mendengarkan kata itu. Xian Hua mengalihkan pandangannya ketika Zhoumi selesai mengatakan kata, “Anakku” dengan penuh keyakinan.

Xian Hua tersenyum miris. Sampai kapanpun, ia dan Zhoumi tidak punya hak untuk mengucapkan kata tersebut. Selama Donghae aman, tak bisa ‘disentuh’ oleh siapapun, mereka rela melakukan apapun, termasuk tidak menceritakan siapa sesungguhnya mereka pada Donghae.

“Maafkan aku, Xian Hua.”

Sekalipun sumber masalahnya memang terletak pada Zhoumi, Xian Hua tetap tidak akan menyalahkan Zhoumi. Lelaki itu sudah melakukan apapun yang ia bisa untuk mempertahankan segalanya—kebersamaan mereka dan nyawa anak mereka.

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, sampai akhirnya Zhoumi menerima sebuah panggilan masuk di ponselnya. Xian Hua kembali menatap Zhoumi.

“Yin He menelepon,” kata Zhoumi sambil menunjukan layar ponselnya yang berkedip pada Xian Hua.

“Jawablah, mungkin dia membawa kabar tentang Donghae.” Senyuman manis Xian Hua pun kembali.

Zhoumi menjawab panggilan Yin He. Ia mengaktifkan speaker di ponsel-nya, supaya Xian Hua bisa ikut mendengarkan. “Ada apa?” tanya Zhoumi tanpa basa basi.

“Lee Donghae berulah lagi, dia meninggalkanku di apartemen dan menyuruhku mencari makan malam sendiri. Aku kan turis di negara ini, paman. Aku tak tau jalan dan tempat apapun di sini.”

Zhoumi dan Xian Hua saling melempar tatapan tidak mengerti. “Dia bilang pergi ke mana?”

“Dia hanya bilang punya urusan.”

“Yin He!”

Dari seberang terdengar suara debuman keras, Zhoumi yakin Yin He terjatuh karena terkejut mendengar teriakan seseorang.

“Berengsek kau, Lee Donghae! Apa maumu?”

“Yin He. Aku butuh bantuanmu. Pasangan cincinku masuk ke dalam apartemen seseorang.”

“Lalu?”

“Tolong ambilkan untukku…”

“Tidak mau! Aku sibuk.”

“Sibuk apa kau?”

“Mencari nomor telpon restoran yang menyediakan jasa pengiriman. Kau sendiri yang memintaku untuk cari makan malam sendiri kan? Sialan!”

“Aish, aku yang akan mencarikan makan malam untukmu. Sekarang kau tunggu pemilik apartemen itu pulang ya.”

“Aku tidak mau!”

“Ayolah Yin He…”

“Tidak!”

“Kesempatanku untuk bertemu temanku hanya malam ini. Besok pagi dia akan pergi keluar kota.”

“Apa peduliku?”

“Ayolah Yin He, bantu aku~”

“TIDAK!”

“Ku mohon~”

“Jangan pasang wajah seperti itu. Aku ingin muntah.”

“Yin He… buing buing

Oh Tuhan, apakah Donghae barusan melakukan aegyo? Zhoumi tidak menyangka anaknya yang mempunyai tampang keren dan dingin itu bisa melakukan aegyo hanya untuk meminta pertolongan pada Yin He. Namun, jika Zhoumi mengingat lagi siapa pemilik pasangan cincin Donghae, ia tidak begitu heran jika anaknya mampu melakukan apapun. Bahkan mungkin, jika orang itu meminta mutiara yang indah dari dasar lautan, Donghae pasti akan mengabulkannya tak peduli bagaimanapun caranya. Zhoumi yakin akan hal itu.

“Dia pasti sangat manis saat melakukannya,” kata Xian Hua sambil tersenyum penuh arti. Zhoumi jelas tidak sependapat dengan Xian Hua. Tapi Zhoumi hanya diam, tidak ingin memancing keributan dengan siapapun, terutama Xian Hua.

“Kau memang berengsek, Lee Donghae.” Kembali suara Yin He terdengar.

Zhoumi mematikan sambungan mereka. Sudah cukup acara mengupingnya. Lagipula ia yakin Yin He akan membantu Donghae dan lupa jika sedang menghubunginya.

“Menurut mu, cincin Donghae masuk ke apartemen siapa?”

“Aku tidak tau. Tapi aku berharap cincin itu kembali pada pemiliknya.”

“Semoga….”

Semuanya sudah di rencanakan. Kepulangan Donghae ke Korea dan apartemen yang kini menjadi tempat tinggal Donghae, semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Zhoumi dan Xian Hua. Mereka berdua ingin membantu Donghae mengembalikan keadaan. Hanya itu yang bisa mereka lakukan sebagai orang tua yang tidak pernah Donghae ketahui keberadaannya.

o0o

“Dia masih tidak mau makan?”

Seorang pelayan di hadapan Hankyung hanya mengangguk. Nampan berisi makanan yang ada di tangannya bergetar hebat, pertanda takut jika Hankyung akan memarahinya habis-habisan karena Hyukjae belum juga mau makan. Sudah lewat tiga hari Hankyung mengurung Hyukjae di sebuah rumah peristirahatan di dekat pantai, dan selama itu pula tak ada apapun yang masuk ke dalam lambung Hyukjae selain air mineral, itu pun tidak banyak tiap harinya.

Tak ada satu orang pun yang tau jika Hankyung mempunyai sebuah rumah peristirahatan di dekat pantai—bahkan Heechul pun tidak tau.

Niat Hankyung membawa Hyukjae ke sana hanyalah untuk membuat Hyukjae merenungkan semua perbuatan-nya dan sadar bahwa apa yang telah ia lakukan dengan Donghae adalah suatu kesalahan.

“Kau boleh pergi.”

Sang pelayan menunduk dalam sebelum mengambil langkah mundur, membawa pergi nampan berisi sarapan untuk Hyukjae tadi pagi, yang tak tersentuh sedikitpun.

Hankyung masuk ke dalam kamar tersebut, membawa kakinya menuju sofa panjang di mana Hyukjae sedang duduk meringkuk di salah satu sudutnya. Hati Hankyung seperti tersayat benda tak kasat mata saat melihat keadaan Hyukjae yang berantakan—rambutnya tidak rapi seperti biasanya, pakaiannya juga asal terpasang, dan yang paling parah adalah badan Hyukjae yang mengurus drastis.

“Jangan menyiksa dirimu sendiri,” kata Hankyung sambil mengambil tempat di samping Hyukjae. Sang anak tak berniat menanggapi. “Lihatlah, badanmu jadi kurus.” Wajah Hankyung menjadi sendu. “Kau harus makan, Hyukkie. Abeoji suapi ya?”

Merendahkan seluruh harga dirinya sebagai lelaki yang dihormati banyak orang, Hankyung mengangkat nampan berisi makan siang untuk Hyukjae yang diletakan di atas meja.

“Aku mau pulang ke rumah…” Hyukjae berkata lirih tanpa mengangkat kepalanya yang terbenam di antara dua lutut.

Hankyung mencoba untuk tersenyum. “Nanti setelah kau benar-benar siap pulang, abeoji akan membawamu pulang.”

“Aku ingin bertemu eomma.”

“Nanti abeoji akan menelepon eomma supaya datang ke sini. Sekarang makan dulu, ya?”

“Aku juga ingin menemuinya…”

Pergerakan Hankyung terhenti. Dadanya tiba-tiba bergemuruh ketika otaknya memutar kejadian dalam kamar Donghae. Hancur sudah dinding kesabaran yang susah payah ia buat untuk Hyukjae. Tapi Hankyung masih mencoba untuk mengendalikan emosinya. Marah-marah di saat seperti ini hanya akan memperparah kekacauan. Ia letakan lagi nampan berisi makanan untuk Hyukjae di atas meja, kemudian membelai surai sang anak yang masih betah menyembunyikan wajahnya.

Abeoji tidak pernah membatasi pergaulanmu. Kau bebas berteman dengan siapapun selama kau nyaman dengan mereka. Abeoji juga tidak pernah menuntut yang macam-macam darimu. Asal kau senang, itu sudah cukup bagi abeoji. Tapi, kenapa harus Donghae? Kenapa harus kakakmu sendiri yang kau goda?” Seandainya malam itu Hankyung tak melihat Hyukjae yang berada di atas pangkuan Donghae, mencumbu sambil berusaha melepas kemeja Donghae, Hankyung tak akan berfikir bahwa Hyukjae lah yang menggoda Donghae terlebih dulu—pemikiran kolot. “Di dunia ini, banyak sekali lelaki yang lebih baik dari pada Donghae. Lelaki yang menyatakan perasaannya padamu saat kelulusan juga tidak buruk, dia tampan. Hanya saja, kelakuannya memang sedikit memalukan, ah tidak, itu mengerikan menurut eomma-mu. Tapi memang tidak ada yang sempurna kan di dunia ini? Cobalah melihat lelaki lain yang lebih baik dari pada kakakmu.”

“Tidak ada yang bisa memperlakukanku lebih baik daripada kakak.”

“Kau belum mencobanya, tidak boleh memutuskan sesuatu seperti itu. Lagipula, Donghae selalu bersikap baik padamu karena kau saudara tunggalnya. Sejak kau lahir, dia sudah menyayangi dan memperlakukan mu dengan baik.”

Hyukjae menggeleng, bukan hal itu yang ia lihat di mata Donghae ketika sang kakak sedang memberi perhatian padanya. Hyukjae yakin rasa sayang Donghae kepadanya lebih dari sekedar ikatan persaudaraan.

“Pernahkah kau berfikir bahwa Donghae salah mengartikan perasaannya sendiri?”

Tiba-tiba Hyukjae menutup telinganya. Ia tak ingin memikirkan perkataan Hankyung, ia tak ingin berfikir macam-macam tentang Donghae. Hal itu hanya akan membuat Donghae terlihat seperti seorang pembual di mata Hyukjae.

“Dari kecil kalian tidak pernah terpisah, jika menjumpai kesulitan, kalian akan saling tolong menolong untuk menyelesaikannya, saling berbagi apa yang kalian miliki. Kakakmu bisa saja salah mengartikan perasaannya sendiri.”

“Dia membutuhkanku dan aku membutuhkannya.”

“Kalian saling membutuhkan karena itu kebiasaan sejak kecil, tidak lebih.”

Abeoji, cukup!”

“Tidak! Kau harus mendengarkan abeoji. Kau tidak boleh menaruh hati pada kakakmu, Hyukkie.”

“Kumohon hentikan, abeoji!”

Akhirnya Hyukjae mengangkat wajahnya, menatap Hankyung. Keduanya sama-sama terperanjat melihat keadaan satu sama lain. Tak hanya Hyukjae yang keadaannya berantakan, Hankyung pun demikian. Wajah tampannya terlihat lelah, bahkan rahang dan dagu yang biasanya bersih, kini ditumbuhi banyak rambut. Mata Hankyung juga dihiasi lingkaran hitam, sama seperti Hyukjae.

Sang anak menangis sesenggukan. Menangisi hubungannya dengan Donghae sekaligus menangisi keadaan sang ayah yang kacau.

Hankyung jadi tidak tega untuk mengeluarkan lagi isi pikirannya. Ia tarik perlahan Hyukjae untuk masuk ke dalam pelukannya. Sang anak menurut.

“Aku mencintainya, abeoji. Sungguh.”

“Dan abeoji menyayangi kalian. Tolong mengertilah. Abeoji tak ingin melihat kalian menyesal di kemudian hari karena pilihan kalian.”

Air mata Hyukjae semakin deras. Ia tak sanggup lagi melawan. Ia hanya berharap supaya Hankyung mengerti isi hatinya lewat isakan pilunya.

“Tolong lihat ke dasar hatimu, Hyukkie. Tanyakan pada dirimu sendiri apakah benar kau membutuhkan kehadirannya sebagai seorang yang kau cintai, bukan hanya sekedar membutuhkan kehadirannya sebagai seorang kakak.”

“Aku yakin, aku mencintainya.”

Hankyung menghela napas. Ia baru tau jika Hyukjae mempunyai sifat keras kepala yang sama sepertinya. Hankyung memutar otak untuk mencari topik lain. Perdebatannya dengan Hyukjae tak boleh diteruskan jika dirinya tidak ingin kelepasan membicarakan seluruh rahasia yang ia simpan rapi selama dua puluh dua tahun.

Abeoji akan menanda tangani formulir pendaftaran-mu di Oxford university program study seni. Bukankah kau ingin meneruskan pendidikan di sana?”

“Aku berubah pikiran, abeoji. Aku ingin meneruskan pendidikan di Korea.”

Hankyung mengerutkan kening, ia masih ingat betul perdebatan sengitnya dengan Hyukjae beberapa bulan yang lalu. Saat itu Hyukjae benar-benar bersikeras untuk mengambil pendidikan di luar negeri. Hyukjae malah sempat mengancam kabur dari rumah jika dirinya tidak boleh mendaftar di program study seni universitas Oxford. “Apa ini semua karena Donghae? Kau melepaskan keinginanmu karena Donghae? Demi Tuhan! Dimana otakmu, Lee Hyukjae?”

Abeoji…” Hyukjae berlutut di depan Hankyung. Sang ayah mengusap wajahnya kasar. “Hanya ini yang aku inginkan dalam hidupku. Bersama dia.”

“Kau masih muda, tidak mungkin hanya itu yang kau inginkan! Abeoji mohon jangan segila ini, Lee Hyukjae!”

Abeoji…”

“Cukup!” Hankyung sudah lelah berdebat dengan Hyukjae. “Kau benar-benar tidak ingin melanjutkan pendidikan di Inggris? Kau ingin tetap tinggal di Korea?”

Hyukjae mengangguk mantap sambil menyeka air matanya.

“Baik. Abeoji akan mengabulkannya. Asal kau mau menuruti kemauan abeoji.”

“Apa itu?”

“Teruskan pendidikan di Universitas Daegu, ambil program study bisnis.”

Mata Hyukjae membulat, pilihan tersebut mutlak mengartikan bahwa Hyukjae harus ikut terjun di dunia bisnis yang telah ayahnya bangun. Hyukjae tidak mau. Ia punya cita-cita sendiri, guru seni, terutama untuk anak sekolah dasar. Dan semua orang termasuk Hankyung tau akan hal itu. “Aku tidak menginginkan semua itu, abeoji.”

Kesabaran Hankyung benar-benar sudah mencapai batasnya. “Pilihannya hanya dua. Silahkan ambil program study apapun yang kau mau di Oxford, atau memeruskan study di Korea tapi harus mengambil program study bisnis, bukan yang lain.” Hankyung berdiri, siap-siap untuk meninggalkan kamar. Nampaknya keputusan Hankyung sudah bulat. “Waktumu untuk berfikir hanya dua hari, pertimbangkan semuanya. Semakin cepat kau mengambil keputusan, semakin cepat kau pulang ke rumah.” Hankyung melangkah pergi dari kamar Hyukjae, meninggalkan sang anak yang kembali menangis kencang setengah frustasi.

o0o

Kyuhyun keluar dari ruang rapat sekitar pukul lima lebih lima belas menit. Sebelum kembali ke ruangannya, Kyuhyun menyempatkan diri mampir di ruang latihan 7, tempat Hyukjae melatih para trainee. Ia sandarkan tubuh jangkungnya di ambang pintu sambil mengamati pergerakan Hyukjae. “Sudah mau pulang?”

Hyukjae menjeda sejenak kegiatannya membereskan barang-barang, ia tersenyum manis kepada Kyuhyun. Baru kali ini Kyuhyun sadar ada kesan hati-hati dalam senyuman manis tersebut—bukan berarti senyuman itu tidak tulus. “Aku sudah tidak punya jadwal mengajar.”

“Aku juga sudah selesai. Ayo, ku antar pulang.”

Tiba-tiba sekertaris Kyuhyun muncul di belakangnya. “Maaf presdir, Direktur Kang menunggu anda di ruang latihan 4.”

Kyuhyun berdecak kesal. Sungguh waktu yang tidak tepat. “Katakan besok pagi saja.”

“Kata direktur Kang, ini mendesak, mengenai draft yang pernah anda buat.”

Gagal sudah rencananya pulang bersama sang kekasih. Untuk saat ini, draft tersebut memang lebih penting dari pada Hyukjae. “Baiklah, aku akan menemui direktur Kang. Kau, pergilah ke ruanganku dan matikan personal komputerku. Aku lupa tidak mematikannya tadi.”

Sang sekretaris hanya mengangguk sebelum pergi meninggalkan ruang latihan 7.

Hyukjae terkikik sambil berjalan mendekati Kyuhyun. “Kalau begitu, sampai jumpa besok, Presdir.”

“Kau tidak mau menungguku?” tanya Kyuhyun dengan wajah sedih.

Jika Hyukjae menunggu Kyuhyun yang urusannya belum tentu selesai dalam waktu lima belas menit, bisa dipastikan Hyukjae akan mati bosan. “Begini saja. Setelah ini, aku akan berbelanja, dan membuat makan malam. Aku tunggu kau di apartemen saja, bagaimana?”

Tawaran yang jelas tidak buruk untuk Kyuhyun. “Baiklah. Aku setuju, kebetulan ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Baik. Sampai jumpa di apartemen.” Hyukjae melangkahkan kakinya meninggalkan Kyuhyun, namun belum sampai ia mengambil banyak langkah, Kyuhyun menarik lengan Hyukjae hingga pergerakannya terhenti. “Ada apa lagi?” tanya Hyukjae sambil menoleh pada Kyuhyun. Sang kekasih mendekatkan wajahnya pada Hyukjae—meminta ‘ucapan sampai jumpa’ dari Hyukjae.

Seandainya Hyukjae tidak peduli di mana mereka sekarang, seandainya Hyukjae tidak peduli akan konsekuensi yang akan didapat oleh Kyuhyun jika paparazi melihat aksi mereka, mungkin Hyukjae akan memberi apa yang diinginkan Kyuhyun. “Tidak di tempat yang mempunyai banyak mata dan telinga seperti ini, Kyu,” kata Hyukjae sambil menyentuh pipi Kyuhyun sekilas, hanya beberapa detik.

Kyuhyun berdecak kesal, apapun alasan Hyukjae, Kyuhyun tetap tidak suka.

“Aku pulang dulu.”

Dengan wajah cemberut akhirnya Kyuhyun mengangguk. Hyukjae pun beranjak dari ruangan tersebut dan mata Kyuhyun masih belum bisa lepas dari Hyukjae. Ia menunggu dan masih menunggu Hyukjae berhenti melangkah lalu berbalik hanya untuk mengucapkan sebuah kalimat yang selalu ia dambakan mengalun duluan dari bibir Hyukjae. Namun sampai Hyukjae lenyap di persimpangan lorong, langkah kaki sang pujaan hati tak pernah terhenti sedetikpun. “Kenapa selalu aku duluan yang mengatakan ‘aku mencintaimu’? Kenapa harus selalu aku yang lebih dulu menciummu? Apa kau tidak mencintaiku?” Kemudian Kyuhyun menghibur dirinya sendiri dengan mengingat permintaan Hyukjae kemarin, ‘Jangan pernah lepaskan hatiku yang sudah kau genggam’. Kyuhyun berharap, sangat berharap bahwa dia benar-benar memiliki hati Hyukjae, sekalipun hatinya sendiri mulai tidak yakin akan hal itu.

o0o

Hankyung membuka pintu kamar Hyukjae, kemudian melangkah menuju single sofa di depan jendela yang diduduki Hyukjae. “Semua keperluanmu sudah dipersiapkan. Besok pagi abeoji sendiri yang akan mengantarmu ke Daegu. Untuk sementara, kau akan tinggal di rumah paman dan bibimu. Setelah masa orientasi dimulai, kau baru masuk asrama.”

Hyukjae diam saja sambil menatap langit malam dari balik jendela kamarnya, terlalu malas menanggapi ucapan sang ayah. Toh apapun yang akan keluar dari bibirnya tak akan bisa mengubah apapun yang sudah terjadi. Seminggu yang lalu, Hyukjae sudah memutuskan untuk meneruskan pendidikan di Daegu, tak masalah dia harus mengambil program study yang tidak ia minati, yang terpenting Hyukjae tidak terpisah jauh dari Donghae.

“Jangan tidur terlalu larut. Abeoji menyayangimu.” Hankyung mengecup puncak kepala sang anak sebelum pergi meninggalkan kamar Hyukjae.

Setelah sang ayah menutup pintu kamarnya, Hyukjae berbalik menghadap pintu. Dalam hati Hyukjae berharap semoga pilihan yang ia ambil adalah pilihan yang terbaik untuk semua orang.

Di luar kamar Hyukjae, ternyata Donghae sudah menunggu Hankyung. “Aku ingin bicara dengan abeoji.”

“Jika itu tentang Hyukjae, abeoji tidak mau.”

“Bukan, bukan masalah itu.” Donghae mencengkeram erat map yang ia bawa sebelum diserahkan kepada Hankyung. Sang ayah mengerutkan kening, sambil mengambil map tersebut, ia keluarkan lembaran-lembaran putih dari dalam map lalu membacanya secara acak. Hankyung kemudian melirik Donghae. “Kita bicara di ruang kerja.”

“Kenapa abeoji menyembunyikan semua ini dariku?”

“Ku bilang, kita bicara di ruang kerja!”

Donghae menghela napas karena tidak bisa membantah. Kakinya pun bergerak mengikuti langkah kaki Hankyung masuk ke dalam ruang kerja.

“Kunci pintunya dan kecilkan suaramu. Aku tidak ingin ada seorang pun yang tau masalah ini, terutama eomma dan adikmu.”

Donghae menurut, ia kunci pintu ruang kerja Hankyung setelah itu berjalan cepat mendekati sang ayah yang sedang mengeluarkan sebotol anggur dari lemari penyimpanan. “Kenapa abeoji tidak memberitahu bahwa perusahaan mengalami kerugian besar pada proyek pembangunan yang terakhir, dan berhutang jutaan dolar pada ZMent.”

Hankyung tersenyum miring, ia berjalan santai menuju meja kerjanya, mengambil gelas dan menungkan anggur ke dalamnya. “Jadi, sekarang kau peduli pada perusahaan?”

Abeoji!”

“Kau pikir apa penyebab perusahaan mengalami kerugian sampai jutaan dolar seperti sekarang? Ini semua karena pikiranku hanya penuh dengan bayangan anak-anakku melakukan hal intim.” Hankyung menghabiskan anggurnya dalam sekali tegukan, lalu mengisi ulang gelasnya yang sudah kosong. “Entah apa yang akan terjadi malam itu seandainya aku tidak masuk ke dalam kamarmu.”

Andaikan Hankyung tau Donghae dan Hyukjae benar-benar pernah melakukan sesuatu yang sekarang dipikirkannya….

Donghae menunduk dalam, ia mengerti betapa sulitnya keadaan saat ini. Bahkan Donghae sendiri sulit berkonsentrasi ketika bekerja, otaknya hanya dipenuhi bayangan Hyukjae yang sedang menangis ketika Hankyung membawanya pergi malam itu. Donghae baru menyadari bahwa tak hanya dirinya dan Hyukjae saja yang tersiksa, Hankyung mungkin lebih tersiksa dari pada dirinya. Tak hanya Hyukjae yang ada di pikiran Hankyung, tapi Heechul yang tiap hari berusaha meluluhkan hati sekeras batu milik Hankyung, perusahaan yang butuh kebijaksanaan dari Hankyung, dan mungkin dirinya sendiri juga mengisi sebagian besar pikiran Hankyung. “Aku minta maaf, abeoji.”

“Permintaan maafmu tidak ada gunanya.” Hankyung kembali meneguk anggurnya dalam sekali tegukan.

“Aku tetap minta maaf.”

Hankyung menatap garang Donghae. “Kau pikir hanya dengan minta maaf, perusahaan bisa selamat dari kebangkrutan?!”

Sang anak hanya bisa menunduk dalam. “Aku akan bekerja lebih keras untuk menutup hutang perusahaan.”

“Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya sendiri.”

“Aku akan melakukan apapun untuk membantu abeoji.”

“Kau tidak akan bisa melakukan apapun.”

“Aku akan berusaha semampuku untuk melakukan apapun yang abeoji inginkan, dengan baik.”

Hampir saja Hankyung meremas gelas yang ada di tangannya. Ia benci ditantang, terutama oleh Donghae. “Jika itu yang kau inginkan. Baiklah, kau bisa mulai dengan bekerja pada ZMent sebagai publik figur di Taiwan untuk melunasi sebagian hutang perusahaan.”

Donghae tercengang, sulit untuk mempercayai apa yang Hankyung katakan.

Abeoji tidak serius kan?”

“Kenapa? Kau tidak sanggup?” Hankyung sendiri tidak percaya mulutnya bisa melantunkan kata-kata terkutuk itu, namun egonya yang tinggi memaksa Hankyung untuk tidak peduli, ia teguk lagi anggur-nya.

Bukannya Donghae tidak sanggup, sungguh. Donghae hanya memikirkan jauhnya jarak yang akan memisahkannya dengan Hyukjae, jika ia benar-benar harus pergi ke Taiwan. Daegu tidaklah terlalu jauh, dirinya tidak perlu tiket pesawat, paspor dan visa untuk mengunjungi Hyukjae secara diam-diam, tapi Taiwan? “Tidak sanggupkah? Aku sudah bilang, kau tidak akan bisa melakukan apapun untuk membantuku.”

Donghae menarik napas untuk mencoba mengontrol perasaannya. Ia kembali memikirkan segala sesuatunya, sampai akhirnya sebuah keputusan berat tercipta. “Aku mau melakukannya. Aku mau bekerja untuk ZMent.”

Hankyung melirik sinis Donghae. “Aku kira kau akan menolaknya mentah-mentah.” Cairan merah itu kembali mengaliri kerongkongan Hankyung. “Jadi hanya sebatas ini saja usahamu mempertahankan kebersamaanmu dengan Hyukjae? Aku yakin dia akan sangat kecewa mendengar keputusanmu ini.”

Donghae tertegun mendengar perkataan Hankyung.

“Aku sedang mengujimu, jika kau ingin tau.”

Donghae membeku di tempat. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

“Kau tau, Hyukjae menolak tawaranku melanjutkan study di Oxford, supaya dia tidak terpisah jauh darimu. Kau sendiri tau kan bahwa Hyukjae sangat ingin melanjutkan study di sana? Hyukjae bahkan butuh waktu 2×24 jam untuk mengambil keputusannya. Sekarang lihatlah dirimu, tak sampai satu jam kau bahkan bisa mengambil keputusan untuk meninggalkan Hyukjae. Kau bahkan tidak menanyakan apakah aku punya opsi lain untukmu atau tidak.”

Hankyung meletakan gelasnya di meja. Perbincangannya dengan Donghae sudah lebih dari cukup. Kesimpulan yang ia ambil adalah Donghae tidak benar-benar mencintai Hyukjae. “Sudah cukup larut. Sebaiknya kau istirahat. Besok setelah pulang dari Daegu aku akan menghubungi Zhoumi untuk membicarakan keputusan yang telah kau ambil.”

Sebelum Hankyung meninggalkan ruangannya, Donghae menghadang langkah Hankyung. “Aku akan melakukan semua itu, asalkan abeoji tidak terlalu memaksakan kehendak pada Hyukjae, biarkan dia melakukan apapun yang ia inginkan, biarkan dia memilih program study yang dia mau dan jangan dekatkan dia dengan siapapun. Aku tau abeoji berencana mendekatkan Hyukjae dengan salah satu anak teman abeoji di Daegu sana.”

“Kepandaian analisismu memang tidak pernah membuatku kecewa, tapi kau tidak berhak berkompromi denganku mengenai Hyukjae. Aku hanya ingin dia mendapatkan yang terbaik.”

‘Begitu juga denganmu,’ ucap Hankyung dalam hati.

Tanpa pikir panjang, Donghae berlutut. “Aku mohon, abeoji.”

Hankyung langkahkan kakinya menuju pintu, ia tidak ingin luluh saat ini. Saat tangannya menggenggam gagang pintu, Hankyung menunduk, mempertimbangkan segala sesuatunya sekali lagi. “Baiklah, tapi aku akan melakukan hal itu setelah kau tiba di Taiwan.”

“Abeoji tidak berbohong kan?”

“Perlukah kita buat kesepakatan hitam di atas putih?”

“Bukan ide yang buruk.”

Hankyung menghela napas. Ia hampir lupa jika tingkat kewaspadaan Donghae hampir sama sepertinya. Hampir semua sifat Hankyung dimilikinya. “Kau akan mendapatkannya setelah Zhoumi menetapkan kontrak untukmu. Aku jamin itu tidak butuh waktu satu minggu.”

Setelah hankyung keluar dari ruang kerjanya, Donghae jatuh terduduk di lantai. Untuk beberapa saat Donghae sempat menyesali perbuatannya, tapi jika ia mengingat Hyukjae akan mendapatkan segalanya, tak harus melakukan apapun yang tidak Hyukjae inginkan, Donghae sesegera mungkin menegarkan hatinya. Semua ia lakukan untuk Hyukjae, Donghae berharap, tak akan pernah melihat Hyukjae bersedih lagi setelah ia memutuskan semua ini.


Seandaimya Donghae bisa mengutuk, seandainya Donghae bisa mengumpat, seandainya Donghae bisa memaki, Donghae akan dengan senang hati melakukan semua hal itu pada Hankyung. Tapi Donghae tidak bis,  Hankyung adalah ayahnya, orang yang harus ia hormati dengan segenap jiwa raga, tak peduli sekejam apapun perlakuan Hankyung padanya.

Donghae melirik jam tangan yang ia pakai, sudah lebih dari lima belas menit ia duduk tanpa teman di sebuah café yang terletak di kawasan Myeong-dong. Beberapa kali ia juga sempat meminta pengampunan kepada Tuhan, karena telah berani berfikir untuk mengutuk ayahnya, mengingat betapa kejamnya cara Hankyung menciptakan jarak untuknya dan juga Hyukjae.

“Maaf membutmu lama menunggu.”

Seorang berparas manis tiba-tiba muncul di hadapan Donghae, otomatis semua lamunan Donghae buyar, terganti dengan sebuah senyum. Donghae berdiri untuk menyambut sahabat baiknya dengan sebuah pelukan. “Tidak masalah. Terima kasih sudah mau datang, Lee Sungmin. Aku yang harusnya meminta maaf karena membuatmu membuang waktu hanya untuk menemuiku.”

“Ayolah, kita ini teman, Lee Donghae. Kau tidak perlu bersikap seperti ini.”

Donghae tertawa lepas sambil mengutuk sifat formal-nya. Keduanya segera memisahkan diri dan duduk di kursi yang berhadapan.

“Bagaimana rasanya menginjakkan kaki di Korea tapi berkewarganegaraan lain?”

“Tidak ada yang berbeda. Rasanya sama saja. Bisa kita langsung ke intinya?”

Sungmin mengangkat bahunya. “Baiklah, kau memang bukan tipe orang yang mempunyai tingkat kesabaran tinggi. Sekarang ijinkan aku tau apa alasanmu ingin bertemu denganku.”

“Aku ingin meminta bantuanmu untuk menemukan Hyukjae,” kata Donghae penuh keyakinan.

Sungmin membenarkan posisi duduknya. Wajahnya berubah pucat dan serius. Dalam hati bertanya, apakah ia harus menceritakan segala sesuatu yang ia tau tentang Hyukjae? Sekarang?

TBC


What do you think about this? Let me know ^^

Special thanks to: Merly R dan semua teman-teman yang berkunjung di acc FFn saya.

See ya! 😀


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s