BROKE THIS PAIN ;; Chapter 5

Previous chapter

Sungmin membenarkan posisi duduknya. Wajahnya berubah pucat dan serius. Dalam hati ia bertanya apakah ia harus menceritakan segala sesuatu yang ia tau tentang Hyukjae? Sekarang?


BROKE THIS PAIN

Warning: Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved readers. Hope you enjoy this. 😀

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 5: It’s hurt


Hyukjae berjalan melintasi jalur khusus pejalan kaki. Masing-masing tangannya menjinjing kantong-kantong berisi belanjaan. Seharusnya, setelah selesai berbelanja, Hyukjae bisa langsung pulang ke apartemen untuk menyiapkan makan malam, namun entah mengapa ketika di dalam bus, dirinya tiba-tiba berkeinginan untuk turun di sebuah halte yang letaknya dua distrik dari apartemen. Hyukjae sendiri tak tau apa yang ia inginkan—mungkin hanya jalan-jalan sore untuk membuang penat setelah seharian melatih para trainee, atau mungkin untuk mengenang masa lalu dengan… ‘Oh, Tuhan. Ku mohon jangan dia lagi!’ Buru-buru Hyukjae menyibukkan diri dengan memperhatikan toko-toko di kanan kirinya, sebelum bayangan Donghae semakin jelas dalam ingatannya.

Harusnya Kyuhyun lah yang ada dalam ingatannya barusan, Hyukjae hanya memiliki kenangan bersamanya di tempat ini, tapi kenapa bayangan Donghae dengan kejamnya muncul dan menutupi seluruh hal tersebut?

Oh Tuhan, sampai kapan bayangan Donghae akan muncul untuk mengganggu ketenangan dan menyiksanya?

Apapun yang Hyukjae pikirkan pasti berujung pada Donghae, Donghae dan Donghae. Hyukjae MUAK! Jika memang ia tidak diperbolehkan bersatu dengan Donghae, mengapa Tuhan tak melenyapkan seluruh ingatannya tentang Donghae saja? Mengapa Tuhan membiarkan seluruh kenangan manisnya bersama Donghae melekat kuat di sudut-sudut ingatannya? Mengapa Tuhan membiarkan dirinya mengingat setiap detail perlakuan lembut Donghae padanya?

Apakah ini hukuman untuk Hyukjae karena mencintai seorang Lee Donghae? Kakaknya?

Semua itu menyakitkan, sungguh. Hyukjae benar-benar lelah dengan semua ini, ia tak sanggup lagi menanggung rasa sakit di hatinya, ia ingin secepatnya menghancurkan perasaan menjengkelkan tersebut. Dan satu-satunya cara yang terlintas di otak Hyukjae adalah kejadian dua setengah tahun yang lalu.

Sekalipun hal tersebut pernah membuatnya terbaring lemah di rumah sakit selama beberapa minggu, Hyukjae tak akan keberatan untuk mengulanginya. Asalkan ia bisa bebas dari rasa sakit di hatinya, dan terlepas dari bayangan lelaki yang tidak akan mungkin bisa bersanding dengannya, Lee Donghae.

o0o

“Ketika aku ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan di sebuah rumah sakit, aku menemukan dokumen berisi riwayat kesehatan seseorang bernama Lee Hyukjae. Awalnya aku juga tidak yakin itu adikmu, tapi setelah aku periksa nomor penduduk yang dicantumkan di sana, aku benar-benar yakin jika dia Hyukjae.”

Semua yang dikatakan Sungmin di cafe seperti CD yang tak mau berhenti di putar dalam otak Donghae. Menghantui ke mana pun kakinya melangkah.

“Adikmu pernah dirawat intensif selama beberapa minggu karena over dosis obat penenang ilegal dan minuman beralkohol tinggi.”

Hal itu sungguh berbahaya. Orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh tinggi sudah pasti mati jika melakukan hal sinting seperti Hyukjae. ‘Apa yang ada di pikiranmu sampai nekat melakukan hal itu, baby?’ Donghae sungguh tidak mengerti. Apakah itu semua karena luka yang berhasil ditinggalkan oleh Donghae? Seberapa parah rasa sakit di hati Hyukjae, sampai-sampai sang pujaan hati mengambil cara sedemikian keji untuk menghilangkannya?

Donghae berjalan lurus tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Dalam otaknya hanya ada tiga hal, Hyukjae, Hyukjae, dan Hyukjae. Tak ada yang lain. Ia merasa jadi seorang kriminal sekarang. Andaikan dulu dirinya lebih cerdik sebelum menerima tantangan Hankyung, mungkin semua kekacauan ini tidak akan terjadi.

“Menyesal sekarang pun tak akan ada gunanya. Semuanya sudah terjadi.”

Di samping kiri belakang Donghae, Sungmin berjalan sambil memasang sikap waspada, ia tak langsung pulang ketika Donghae mengakhiri pertemuan mereka, ia ingin membantu sang sahabat menemukan Hyukjae.

Di persimpangan jalan, langkah mereka terhenti ketika melihat seseorang sedang berjalan gontai tepat di tengah persimpangan. Dari cara jalannya yang sempoyongan dan wajahnya yang tertunduk, Donghae dan Sungmin menyimpulkan orang tersebut sedang mabuk atau semacamnya.

DIN! DIN! DIIIIN!

Dari arah kanan, mereka melihat sebuah motor melaju dengan kecepatan mengerikan ke arah pemabuk tersebut. Ada semacam dorongan kuat dalam hati Donghae untuk menyelamatkan orang itu. Donghae pun berlari menerjang si penyebrang jalan, keduanya berguling beberapa kali sampai di tepi jalan. Mereka berhasil selamat, sekalipun belanjaan yang dibawa orang tersebut berceceran di jalan. “Hey! Kau sudah bosan hidup?” teriak Donghae pada seseorang yang kini menindihnya, wajahnya tak terlihat karena terbenam di dada Donghae.

Tak ada tanggapan apapun, tak ada pergerakan apapun, Donghae jadi penasaran, ia angkat wajah orang tersebut dan… Demi apapun, Donghae terkejut bukan main. Orang itu Hyukjae, sang adik yang amat ia rindukan. Badannya tak memiliki daya, wajahnya pucat dan berkeringat.

Dengan cepat Donghae duduk lalu mendekap erat badan Hyukjae, memeriksa satu-persatu kantong jaket Hyukjae. Ia menemukan satu tablet pil putih tanpa merek dan label resmi yang sudah berkurang beberapa butir, Donghae yakin Hyukjae menelannya bersamaan dengan alkohol, bau tersebut masih bisa Donghae cium dari napas Hyukjae yang tidak teratur. “Hyukkie! Ayo bangun!” Donghae menepuk-nepuk pipi Hyukjae cukup keras supaya sang adik terbangun. Sayangnya, Hyukjae tetap diam, sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mata.

o0o

Di bawah langit sore kota Daegu, Donghae merangkul erat pinggang Hyukjae menggunakan sebelah tangannya. Keduanya berjalan santai mengikuti jalan setapak di kaki bukit. Sesekali Donghae harus mau membuka mulutnya untuk kudapan yang disuapkan Hyukjae.

Tepat di depan padang ilalang yang berwarna keemasan karena matahari sore, keduanya menghentikan langkah, mata Hyukjae berbinar senang. “Di sini indah~”

Donghae menoleh pada Hyukjae yang mulai berjalan membelah padang ilalang, ia ikuti langkah sang kekasih yang kini menyapukan satu tangannya pada ilalang sambil menengadah ke langit, mengagumi jutaan warna tak rata yang menyebar di antara awan berarak dan langit. Donghae amati sejenak wajah sang kekasih yang tertimpa sebagian sinar matahari di ufuk barat. Rasanya, bukan tempat berpijak mereka saat ini yang indah, tapi Hyukjae. Donghae pun sedikit mencondongkan badan. “Memang, tapi tak bisa dibandingkan dengan keindahanmu,” kata Donghae lirih, tepat di telinga kanan Hyukjae.

Hyukjae tertegun sesaat sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain, ke mana saja asal Donghae tidak bisa melihat wajahnya yang merona habis-habisan. Hyukjae sendiri heran bagaimana bisa dirinya selalu sukses tersipu ketika Donghae memuji—atau menggombalinya, padahal ia tidak pernah seperti itu jika dipuji orang lain.

Hyukjae memasukan sepotong kudapan ke dalam mulutnya sendiri sambil berjalan. Caranya mengunyah sambil menahan malu terlihat amat lucu di mata Donghae. Sang kakak pun terkekeh pelan.

Mungkin pujian Donghae memang terdengar berlebihan untuk sebagian orang, namun kenyataannya memang demikian. Tak ada yang bisa menandingi keindahan paras mempesona sang kekasih, tak ada apapun yang bisa menandingi binar indah mata Hyukjae ketika sosok menawan itu senang akan sesuatu, dan tak ada yang bisa menandingi keindahan senyum manis Hyukjae. Donghae rela melakukan apapun supaya semua itu tak hilang dari Hyukjae.

Merasa Donghae semakin intens menatapnya, Hyukjae pun berdehem sekali kemudian membalik badan hanya untuk menyuapkan lagi sepotong kudapan pada Donghae. “Kenapa kau tiba-tiba datang ke sini? Kau tau, aku hampir jantungan ketika melihatmu di beranda rumah bibi.”

Hyukjae tidak melebih-lebihkan, ia benar-benar terkejut bukan main ketika melihat Donghae berdiri di depan pintu rumah sang bibi, merentangkan tangannya lebar-lebar sambil berteriak, “Aku datang!” tanpa rasa malu. Tak ada yang tidak terkejut saat itu. Semua orang ingin memukuli Donghae karena membuat keributan kecil, tapi mereka semua—terutama Hyukjae—juga senang melihat kedatangan Donghae.

Hyukjae pikir, selama di Daegu, dirinya tak akan pernah bisa bertemu Donghae, mengingat hubungannya dengan sang kekasih tidak semudah dulu, bahkan komunikasi mereka pun tidak intens. Hankyung benar-benar mengalihkan perhatian mereka dengan berbagai cara.

Setelah kudapan di mulutnya tertelan, Donghae berhenti melangkah sambil menarik lengan Hyukjae menuju tanah yang agak tinggi dan tidak banyak ditumbuhi ilalang. Keduanya duduk berhadapan di sana. “Aku ke sini karena sangat amat teramat rindu padamu, baby~” kata Donghae sambil mencubit gemas dua pipi tembam Hyukjae.

Sang adik berdecak kesal sambil menyumpal mulut Donghae dengan kudapan. dua minggu tak bertemu membuat Donghae lihai menggombal, apa yang akan terjadi pada Donghae jika mereka tidak bertemu selama satu bulan penuh? Apakah Donghae akan berubah jadi playboy yang suka menggombali banyak orang? Awas saja jika sang kakak berani melakukan hal tersebut. Hyukjae pastikan nasib Donghae tak akan jauh beda dengan kudapan yang baru saja ia masukan ke dalam mulut dan terkunyah kasar. “Berhenti menggombal, atau aku akan mengusirmu.”

Donghae tidak melebih-lebihkan, sungguh. Ia tidak hanya sekedar rindu pada Hyukjae. Tiap jam yang terlewat tanpa kehadiran sang kekasih, terasa lebih lama dari biasanya. Namun, mau dijelaskan dengan cara apapun Hyukjae tetap tak akan bisa mengerti isi hatinya itu. Jadilah Donghae hanya mengacak surai cokelat kemerahan milik pang pujaan hati sambil tersenyum.

“Apa abeoji tau kau ke sini?”

Mendadak senyuman Donghae hilang. Harusnya, Donghae memberi peringatan di awal untuk tidak membahas topik lain ketika mereka berduaan, hanya hal-hal menyenangkan saja yang boleh jadi bahan perbincangan, tak ada Hankyung atau topik berat lain yang mungkin bisa memicu pertengkaran di antara mereka. Jika seperti ini, Donghae jadi teringat waktu keberangkatannya ke Taiwan, seminggu lagi.

Donghae tak tau harus mengatakan apa pada Hyukjae mengenai kepindahannya ke Taiwan. Dirinya tak bisa jujur pada Hyukjae, Hankyung sudah memberikan peringatan tegas supaya kekacauan dalam perusahaan tak sampai di telinga siapapun, terutama Heechul dan Hyukjae. Tak boleh ada yang membebani Hyukjae ataupun Heechul.

Sebenarnya, Hankyung juga tidak ingin membebankan masalah perusahaan pada Donghae, hal tersebut murni kesalahan yang timbul karena pikirannya yang berantakan. Hankyung sendiri yang mutlak bertanggung jawab. Namun Donghae menantang, Hankyung jadi tidak punya pilihan selain membuang Donghae ke Taiwan. Lagi pula, dengan melakukan hal itu, siapa tau Hankyung sekaligus bisa mengembalikan Donghae ke tempat yang semestinya—di sisi kedua orang tuanya, sekalipun Hankyung sendiri tidak rela melepaskan lelaki yang sudah ia sayangi seperti darah daging sendiri selama bertahun-tahun.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Hyukjae sambil memiringkan kepalanya. Donghae pun tersadar dari lamunan panjangnya, ia tersenyum pada Hyukjae sambil mengingat apa yang ditanyakan Hyukjae sebelum ini. “Tidak, abeoji dan eomma tidak ada di rumah, mereka keluar kota untuk tiga hari.”

Hyukjae mengangguk. Lagipula, tidak mungkin Donghae bisa sampai di Daegu jika kedua orang tuanya di rumah.

Donghae ambil sepotong kudapan untuk disuapkan pada Hyukjae. “Cukup tentang abeoji. Giliranmu sekarang. Bagaimana persiapan kuliahmu? Ada masalah?”

Wajah Hyukjae berubah kesal. Tak ada masalah apapun sebenarnya. Semua proses administrasinya sudah beres, salah satu teman Hankyung yang bekerja di sanalah yang mempermudah segalanya untuk Hyukjae—sesuai keinginan Hankyung. Hanya saja, jika membicarakan pendidikan, dada Hyukjae rasanya sangat sesak karena tidak bisa memasuki program study impiannya. “Pulang saja jika kau datang hanya untuk membahas hal itu,” kata Hyukjae disela kegiatan mengunyah kudapan.

Sang kakak tersenyum sambil berpindah duduk di samping Hyukjae. Donghae sandarkan kepala sang adik di pundaknya. “Ada ribuan orang yang ingin berada di posisimu saat ini. Masuk program study favorit tanpa kesulitan, dan saat lulus, kau bisa langsung menjadi eksekutif muda di perusahaan. Sempurna kan? Tapi kenapa kau malah menginginkan hal lain yang lebih sederhana sekaligus merepotkan?”

Sang adik berdecak tak suka. “Ada hal lain yang lebih penting dan berarti daripada sebuah kedudukan.” Ia cabuti ilalang di depannya tanpa ampun. “Lagipula, menjadi guru itu bukan pekerjaan yang merepotkan dan sederhana. Itu pekerjaan mulia! Kita bisa membantu banyak orang dengan mengajarkan ribuan hal positif yang kita bisa, membimbing mereka menuju impian.”

“Lantas, kenapa kau tidak mengambil kesempatan yang abeoji tawarkan untuk ber-study di Oxford? Selain bisa ber-study di kampus idamanmu, kau bisa masuk program study impianmu, dan bisa mendaftar jadi guru setelah lulus. Apa yang kurang dari pilihan itu?”

Mungkin, jika Hyukjae yang pergi ke Inggris, semuanya tak akan terasa seberat ini bagi Donghae, jika Hyukjae tidak merelakan impiannya dan mengalah demi kebersamaan mereka, Donghae pasti tidak akan merasa sebersalah ini pada Hyukjae—secara tak langsung, ia lah penghalang Hyukjae menuju impiannya.

“Aku tidak ingin meninggalkanmu…” kata Hyukjae sambil melingkarkan lengannya di pinggang Donghae. Sang kakak tertunduk sedih. Kenapa harus Hyukjae yang berkorbn untuk hubungan mereka? “Maafkan aku…”

Hyukjae mendongak untuk menempelkan bibirnya pada Donghae. “Sudahlah, itu bukan masalah besar, tidak ada yang salah, tidak ada yang harus meminta maaf, toh kita masih bisa bertemu kan?” kata Hyukjae sambil melingkarkan lengannya di leher Donghae.

Donghae tak yakin mereka bisa bertemu lagi setelah ini, dan Donghae tak sependapat dengan Hyukjae. Di sini, dirinya lah yang salah. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Hyukjae ketika sang kekasih mati-matian mempertahankan kebersamaan mereka. Namun, Donghae tak menyesali pilihannya. Bukankah setelah ini Hyukjae bisa kembali berlari menuju impiannya? Masalahnya sekarang hanya tinggal satu. Bagaimana caranya membuat Hyukjae mengerti dan membiarkannya pergi ke Taiwan? Haruskah ia menggores hati Hyukjae dulu supaya sang adik membencinya kemudian mengusirnya secara kejam?

o0o

Donghae memang sangat ingin bertemu Hyukjae, tiap malam sebelum ia berangkat ke alam mimpi, dirinya selalu berdoa supaya cepat dipertemukan lagi dengan Hyukjae. Kini do’a Donghae memang sudah terkabul, tapi kenapa dirinya harus dipertemukan dengan Hyukjae dalam keadaan sekacau ini?

Dokter yang baru saja dipanggil Sungmin ke apartemen Donghae untuk memeriksa keadaan Hyukjae mengatakan bahwa sang adik hanya pingsan akibat alkohol dan obat penenang yang berlebihan. Sang dokter juga mengatakan bahwa Hyukjae depresi berat, Donghae yakin itu semua karena ulahnya lima tahun yang lalu.

Tanpa sadar, setetes air mata Donghae jatuh tepat di atas telapak tangan pucat Hyukjae.

Di sebuah ruangan serba cokelat muda berpenerangan minim yang sebelumnya tidak pernah mereka huni, di atas ranjang yang sama, Donghae dan Hyukjae berbaring nyaman sambil menghadap satu sama lain. Selain selimut berwarna cokelat tua, tak ada apa-apa lagi yang terpasang di tubuh mereka. Keduanya saling mengamati keindahan masing-masing, tak ada yang berniat memejamkan mata sekalipun waktu di tempat tersebut sudah lewat pukul 12 dini hari.

Jemari lentik Hyukjae bergerak pelan menelusuri dahi sampai hidung Donghae. ‘Tampan…’ Ia tak akan pernah lelah untuk mengagumi paras rupawan sang kekasih, sekalipun dalam keadaan terberantakan usai bercinta. “Tidak lelah?” tanya Hyukjae dengan nada lembut.

Donghae memejamkan mata sejenak, menikmati pergerakan lembut jemari Hyukjae di wajahnya. Ia tentu saja lelah. Perjalanan dari Incheon menuju Daegu tidaklah sebentar, sekalipun Donghae bepergian menggunakan kereta tercepat. Belum lagi, mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk jalan-jalan yang berakhir di kaki bukit. Namun semua rasa lelah itu tak ada artinya bagi Donghae ketika jemari Hyukjae membelai dadanya, dan Hyukjae mengecup bibirnya sambil mengatakan bahwa Donghae punya kuasa penuh atas tubuh Hyukjae malam ini. Rasanya seperti mendapatkan imbalan yang setimpal atas pekerjaan berat yang menyiksa.

“Kau harus istirahat…” kata Hyukjae sambil membelai pipi Donghae. Sang kakak memasang senyumnya. “Peluk aku,” katanya manja.

Hyukjae terkekeh geli melihat wajah manja Donghae, ia geser tubuhnya supaya makin menempel dengan Donghae. Ia lingkarkan lengannya di leher sang kakak sambil menyatukan kening mereka. “Sudah, sekarang tidur, ‘kay?” Donghae menggeleng. “Masih ada satu lagi.”

Sambil menunggu lanjutan kalimat sang kekasih, ia mainkan surai Donghae.

“Cium aku.”

Tak cukupkah cumbuan yang mereka lakukan sebelum, sesudah dan ketika mereka bercinta beberapa saat lalu? Keduanya bahkan sudah tiga kali melakukan penyatuan, jelas bibir mereka tak hanya pernah menaut sekali.

Hanya sekali dan aku janji akan tidur.”

Helaan napas kecil terdengar, Hyukjae pun mencium kening Donghae sekilas hingga membuat Donghae mengerang tak suka ketika wajah Hyukjae sudah ada lagi di depannya. Sang kekasih tersenyum senang atas kejahilannya “Baiklah, akan kulakukan dengan benar.” Bibir Hyukjae pun mendarat pelan di bibir Donghae, ia kecup dengan lembut benda tipis yang berhasil membuat bibirnya bertambah sexy karena membengkak.

Donghae tutup matanya untuk menikmati suasana tenang tersebut.

“Tuan muda akan berangkat ke Taiwan satu minggu lagi, itu pesan Tuan besar sebelum beliau dan nyonya pergi keluar kota.”

Demi Tuhan! Kenapa di saat seperti ini, percakapannya dengan tuan Kim sebelum berangkat ke Daegu malah muncul? Sialan!

Tiba-tiba rahang Donghae mengeras. Hyukjae sampai menjauhkan wajahnya karena terkejut. “Ada apa?” tanya Hyukjae sambil menatap bingung sang kekasih. Salah satu tangannya meraih jemari Donghae yang melingkar di pinggangnya untuk digenggam.

“Dirimu, tentu saja,” jawab Donghae dengan nada tersendat lalu memalingkan wajah.

Hyukjae memicingkan mata, ia hadapkan lagi wajah Donghae padanya. “Tidak, kau bohong. Di matamu tidak ada bayanganku,” kata Hyukjae sambil membidik mata Donghae.

Donghae memejamkan mata sambil menarik napas. “Baby…” Donghae benamkan wajah Hyukjae di dadanya. Inikah saatnya mengatakan dia akan pergi? Donghae cium puncak kepala Hyukjae satu kali. “Mulai sekarang, kau dan aku harus terbiasa hidup berjauhan. Aku tidak tau berapa banyak kesempatan yang bisa kugunakan dalam setahun untuk menemuimu di sini. Yang jelas kau herus mengingat satu hal. Aku mencintaimu dan hal itu tidak akan pernah bisa dirubah oleh apapun atau siapapun.”

Hyukjae tiba-tiba merasakan sesuatu yang buruk sedang berbaris di belakang, siap membuatnya jatuh dan terpuruk. “Kau mengatakannya seolah ingin pergi jauh saja.” Hyukjae mencoba untuk mengabaikan firasatnya, namun ia tidak bisa. Sampai saat ini firasatnya mengenai segala sesuatu tentang Donghae selalu benar. Ia semakin cemas ketika Donghae diam saja, seolah membenarkan pernyataannya. Pelukan Hyukjae pada sang kakak ia pererat. Seolah tak memberikan ijin pada Donghae untuk pergi kemanapun. “Kau tidak akan pergi kemana-mana kan?”

Donghae tersenyum pahit sambil membelai punggung halus Hyukjae. Hatinya ingin mengatakan apa saja yang berhubungan dengan kepindahannya ke Taiwan, namun bibirnya tidak bisa diajak kompromi. “Incheon dan Daegu itu jauh, baby. Dan besok aku sudah harus kembali ke Incheon supaya abeoji tidak curiga.” Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bukan hal itu yang ingin Donghae katakan.

Wajah Hyukjae menjadi sendu. Ia jelas tidak rela ditinggalkan Donghae secepat ini. Hyukjae makin membenamkan lagi wajahnya dalam dada Donghae supaya air matanya tidak tumpah. “Nyanyikan aku sebuah lagu…”

Donghae menaikan selimut sampai menutupi pundak polos Hyukjae. “Kau mau lagu apa?”

“Apa saja, asal bukan nyanyian yang miris.”

Dengan sangat lembut, jemari Donghae membeli surai cokelat Hyukjae. Bibirnya mulai menggumamkan sesuatu.

Banyak yang bisa aku lihat hanya dari mu, Banyak yang bisa ku cintai dari mu. Hanya kau yang bisa membuat hatiku berdebar, bernapas karenamu. Ketika kau menatapku, ketika kau mencintaiku. Aku tak bisa menukarmu dengan apapun di dunia ini. Tetaplah dalam dekapanku seperti ini. Tetaplah disini, seperti ini. Dan katakan bahwa kau mencintaiku, seperti ini. Tetaplah tersenyum seperti ini. Dan katakan bahwa kau bahagia seperti ini.” (Just like now – Donghae ft Ryeowook)

Hyukjae terisak lirih, ia tak bisa lagi menahan air matanya, ia menangis dalam dekapan Donghae. Entah kenapa hatinya berteriak bahwa Donghae akan pergi jauh meninggalkannya, tak hanya sekedar pulang ke Incheon.

“Baby…”

Hanya iasakan tangis yang Donghae dengar, ia pun menanamkan sebuah kecupan pada puncak kepala Hyukjae. “Aku mencintaimu.”

“Dan aku membencimu,” kata Hyukjae di sela isak tangisnya. Donghae hanya mamapu tersenyum dalam rasa getir. ‘Kau pantas membenciku setelah ini…’ Asal Donghae bisa mengembalikan apa saja yang seharusnya Hyukjae capai saat ini, Donghae tak masalah dibenci oleh Hyukjae, ia rela.

“Aku membencimu karena kau membuatku sangat mencintaimu.”

Air matanya pun meluncur setetes. Jemarinya ia gerakan untuk membelai rambut sang kekasih. Taukah sang adik bahwa hatinya hanya milik Hyukjae? “Sekarang tidurlah. Matamu bisa bengkak dan hitam jika kau kurang tidur karena terlalu banyak menangis.”

Hyukjae menggeleng cepat. “Aku tidak ingin tidur malam ini, aku ingin memandangimu sepuasku, sebelum kau kembali ke Incheon besok.”

Dengan lembut Donghae mendongakan wajah Hyukjae, ia kecup singkat bibir sang adik, belum berniat melakukan lebih.

“Jangan tinggalkan aku…” bisik Hyukjae parau.

Tidak bisa, tak ada lagi kompromi dengan Hankyung, persetujuan sudah disepakati. Donghae harus pergi.

Seolah tau apa yang sedang Donghae teriakan dalam hati, Hyukjae menangkup pipi Donghae kemudian melumat kasar bibir tipis sang kakak sampai bengkak. “Jangan tinggalkan aku,” katanya di sela-sela cumbuan.

Donghae itu lelaki berhasrat besar, ia mudah tergoda, terlebih ketika Hyukjae menawarkan diri untuk disentuh—sekalipun secara tidak langsung. Donghae layani ajakan perang bibir dari Hyukjae, ia dekap erat tubuh sang adik yang mulai merangkak di atasnya.

Aku tidak akan pernah ‘meninggalkan’ mu.” Donghae menjawab dengan bisikan paling tulus untuk menutupi makna yang tersirat dalam perkataannya. Ia mungkin akan meninggalkan Hyukjae, namun akan Donghae pastikan hati Hyukjae akan ikut pergi bersamanya.

Dengan cepat, Donghae membalik posisi mereka. Kini Hyukjae lah yang terbaring pasrah di bawah kungkungan Donghae. Ia cumbu leher jenjang Hyukjae, ia kecup, gigit dan hisap bagian pangkalnya tanpa ampun.

Dada Hyukjae naik turun, ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan Donghae padanya. Hyukjae rela memberikan apapun untuk Donghae asalkan ia bisa bersama Donghae selamanya.

Hyukjae menggigit bibir bawahnya ketika Donghae kembali memasukinya, memberinya rasa perih dan kenikmatan yang tidak bisa dijabarkan satu persatu. Ia lingkarkan lengannya pada leher Donghae seerat mungkin. Desahannya menggila, apa yang diberikan Donghae saat ini membuat Hyukjae terlena dan tidak peduli pada apapun.

“Kau harus percaya padaku, percaya pada keputusan yang ku buat, dan percaya bahwa aku akan mencintaimu selamanya,” kata Donghae disela kegiatan penyatuan mereka.

Hyukjae pun mengangguk, tak bisa melakukan hal lain, semua kenikmatan yang diberikan Donghae, melumpuhkan sebagian dari dirinya, terutama saat Donghae menusuknya tepat di pusat. Hyukjae melenguh, ia teriakan nama Donghae sambil memohon supaya Donghae tak meninggalkannya. Tapi Donghae tak membalasnya, sang kekasih hanya diam sambil mengatur napasnya yang memburu.

Karena lelah, kepala Hyukjae akhirnya terkulai lemas ke kiri, kelopak matanya perlahan mengatup.

Sebelum kesadaran Hyukjae hilang, Donghae sempat mendengar bisikan kata cinta yang mengalun merdu dari bibir sang kekasih. Terdengar tulus dan penuh harap. Donghae menunduk untuk mencium ujung bibir Hyukjae. “Aku lebih dari sekedar mencintaimu, baby.”

Setelah memastikan sang kekasih benar-benar sudah jatuh ke alam mimpi, Donghae bangkit perlahan dari ranjang dan membenarkan posisi selimut yang digunakan Hyukjae. Setelah itu, Ia pungut pakaiannya yang tercecer di lantai, lalu memakainya dengan cepat. Mungkin pergi secara diam-diam adalah cara terbaik. Tak akan ada pertanyaan yang macam-macam dari Hyukjae. Dan yang jelas, ia tak perlu melihat Hyukjae menangis sambil mengemis untuk tidak ditinggalkan.

Setelah pakaiannya terpasang rapi, Donghae belai rambut Hyukjae sebelum menanamkan lagi sebuah kecupan di puncak kepala Hyukjae. “Selamat tinggal, baby.”

Donghae pun keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Hyukjae yang terbaring tak nyaman dalam kamar hotel itu.

o0o

Sepenggal bait dari lagu berjudul ‘With you’ yang diperdengarkan oleh benda elektronik di atas meja menandakan bahwa sang pemilik harus berbicara pada seseorang. Terhitung sudah lebih dari sepuluh kali benda tersebut berdering tanpa peduli jarum jam dinding yang menunjuk angka satu. Tidur tak nyaman Sungmin di sofa semakin terusik. Orang sinting macam apa yang begitu ingin menghubunginya malam-malam begini? Yang jelas, bukan rekan kerja Sungmin. Dengan malas, ia raih benda berwarna putih tersebut. “Kau tau jam berapa ini?” tanya Sungmin tak bersahabat.

“Baby, kau dimana? Maafkan aku, direktur Kang tak membiarkanku pulang lebih cepat—”

Sungmin mengerutkan dahi, kesadarannya dengan cepat kembali. Apa maksud lelaki di seberang line memanggilnya begitu? “Kau ini siapa?” tanyanya memotong perkataan lelaki di seberang line. Serius, dia sedang tidak berkencan dengan siapapun.

“Baby, aku tau kau marah, tapi—”

‘Lelaki sinting,’ maki Sungmin dalam hati. “Kau salah sambung!”

“Apa? Baby, ayolah~”

“Aku tidak pernah merasa punya kekasih sepertimu. Jadi, jangan mengaku-ngaku. ”

“Aku mulai tidak suka caramu bercanda, baby. Demi Tuhan! Ini sudah jam satu dini hari. Kau dimana sekarang, Hyukkie?”

Nama tersebut seperti pernah didengar oleh Sungmin. Jangan bilang ini bukan ponselnya? Sungmin pun menjauhkan ponsel tersebut dari telinga, ia amati sejenak. Iphone4, itu memang ponselnya. Tapi kenapa warnanya jadi putih dan ada stiker monyet kecil lucu di pojok kiri atas?

Saat itu juga Sungmin sadar bahwa benda di tangannya milik orang lain. Hyukjae, siapa lagi yang suka monyet lucu?

Sungmin memang sedang menginap di apartemen Donghae. Ia cemas pada keadaan Hyukjae dan Donghae saat ini. Keduanya sudah seperti saudara bagi Sungmin. Lagi pula, Sungmin juga tidak ingin melewatkan penjelasan dari bibir Hyukjae mengenai seluruh kekacauan yang terjadi sekarang dan beberapa tahun lalu.

Sungmin tempelkan lagi ponsel tersebut ke telinga. “Oh, maaf. Aku yang salah mengambil ponsel. Ku kira ini milikku. Ringtone-nya sama seperti milikku.”

“Kenapa ponsel ini bisa ada padamu? Dimana Hyukkie?”

Nada tanyanya terdengar cemas sekaligus menuntut. Sungmin yakin orang yang sedang bercakap-cakap dengannya adalah teman dekat Hyukjae. Donghae tak akan senang jika tau hal ini. “Aku menemukan dia mabuk di jalanan.”

“Mabuk? Dia di rumah sakit mana sekarang? Kamar nomor berapa?”

Orang ini benar-benar berlebihan. Mabuk bukan berarti over dosis dan harus dibawa ke rumah sakit kan?

Baru saja Sungmin ingin menjawab, ponsel Hyukjae tiba-tiba mati total. Dayanya habis. “Oh, shit!” Sungmin menggerutu kesal.

o0o

Perlahan, Hyukjae membuka mata. Semuanya hampir berwarna gelap dan kabur. Namun Hyukjae masih bisa merasakan genggaman seseorang pada tangannya, rasanya hangat dan nyaman, sama seperti saat telapak tangan Donghae menggenggam tangannya, dulu.

“Baby…”

Suara itu…

Hyukjae tak akan pernah lupa siapa pemiliknya, sekeras apapun Hyukjae mencoba. Ia tak berniat menoleh ke kanan atau kiri untuk mencari dimana sumber suara itu. Ia tak yakin sekarang ada di dunia nyata atau di alam mimpi. Biasanya, Hyukjae hanya mendengar suara Donghae di alam mimpi.

Telapak tangan itu berpindah membelai rambutnya, dan wajah yang paling ingin ia lupakan pun tergambar jelas di matanya. Tak seperti biasanya, garis-garis tegas wajah tampan itu sungguh jelas di matanya.

Hyukjae terkejut bukan main. Ini jelas bukan mimpi.

“Syukurlah kau sudah sadar, baby,” kata Donghae sambil tersenyum lega.

DEG! DEG! DEG! Untuk beberapa saat, Hyukjae benar-benar tak tau harus berbuat apa, bahkan ia sampai lupa bagaimana caranya memasukan oksigen ke dalam pernapasan. Cara Donghae menatapnya penuh dengan kasih, cara Donghae menggenggam tangannya erat namun nyaman, dan cara Donghae mengecup punggung tangannya pun lembut sekali. Semuanya masih sama seperti dulu, tak berkurang sedikitpun.

Hal tersebut membuatnya teringat pada Kyuhyun. Hyukjae ingin mendapatkan semua itu dari Kyuhyun. Ia ingin dadanya berdegup kencang tiap kali Kyuhyun menatapnya dengan mata penuh kasih, tapi tidak bisa! Dadanya tak pernah berdebar sehebat ini jika bersama lelaki tersebut, bahkan ketika Kyuhyun membisikan kata cinta terlembut untuknya, Hyukjae tetap tidak bisa terlena.

Hati Hyukjae benar-benar berantakan, Ia tarik tangannya dari genggaman Donghae kemudian berusaha bangkit, namun pergerakannya terhenti di tempat ketika rasa pusing yang amat dahsyat menghantam kepalanya.

“Jangan banyak bergerak, baby.”

Donghae berusaha meraih Hyukjae, namun tangannya ditepis secara kasar. Ia lalu terdiam, membiarkan Hyukjae memijat kepalanya yang mungkin terasa amat sakit. Tapi yang namanya manusia pasti punya sifat tidak sabaran kan? Begitu juga Donghae. “Baby…” ia coba lagi menarik perhatian Hyukjae.

“Pergi,” kata Hyukjae dengan nada dingin.

Hati Donghae hancur, melihat pujaan hatinya seperti ini. “Baby…”

“Ku bilang PERGI!” teriak Hyukjae sambil turun dari ranjang.

Donghae mengikutinya. “Baby, please…”

I’m not your baby, anymore!” setengah frustasi Hyukjae meneriakan kata-kata tersebut. Air mata sudah meluncur di kedua pipinya. “Kau yang membuat pilihan itu. Kuingatkan jika kau lupa.”

“Jika kau tak berhenti, hubungan kita berakhir!”

Donghae memtung di tempat, ia kalah telak. Teriakan Hyukjae saat dirinya berjalan keluar dari kamarnya di Incheon, kembali terngiang. Donghae menyesal, sungguh memyesal. Seandainya dulu dirinya tak punya kepedulian tinggi terhadap perusahaan, seandainya… Oh! Bisakah ‘seandainya’ tidak muncul untuk saat ini? Semua itu membuat Donghae hampir gila karena menyesal. “Maafkan aku…”

“Jangan pernah muncul dihadapanku lagi! AKU MEMBENCIMU!”

Donghae tak mampu berbuat apapun ketik Hyukjae berlari keluar dari kamarnya, ia membeku di tempat seperti pahatan tak bernyawa. Perkataan Hyukjae tak main-main—tak pernah main-main.

o0o

Ketika Hyukjae berhasil keluar dari apartemen Donghae tanpa halangan, ia terpaku sejenak di depan pintu.

Sekalipun kepalanya masih pusing tujuh keliling karena pengaruh alkohol tinggi bercampur obat penenang, otaknya masih bisa menyimpulkan dengan benar di mana kakinya berpijak saat ini—gedung yang sama dimana apartemennya berada. “Apa lagi sekarang?” tanyanya sambil memijat pelipis. Demi Tuhan, ia hampir gila malam ini.

Hyukjae kemudian memaksa kakinya untuk berlari ke ujung lorong dan masuk ke dalam tempat tinggalnya dengan perasaan gusar bukan main.

Ia banting pintu apartemennya tanpa belas kasih, ia ingin berlari menuju kamar mandi dan merendam kepalanya dalam bongkahan es batu, mungkin hal tersebut bisa meringankan kepalanya. Namun, sosok yang berdiri di depannya sambil menunduk mengamati benda perak di atas telapak tangan, membuat Hyukjae mengenyahkan keinginannya. Hyukjae tau benda apa dan milik siapa itu. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa benda itu sampai di tangan Kyuhyun? Apa Donghae sudah bertemu Kyuhyun?

‘Kenapa tidak kau ambil saja nyawaku tadi, Tuhan?’

Badan Hyukjae melemas, ia hampir ambruk di depan rak sepatu, seandainya Kyuhyun tak segera menangkapnya.

TBC


Cukup panjang kan? Maaf kalau semakin ngawur kemana-mana TT^TT

Big thanks to: Polarise437, NicKyun, cho w lee794, alejee, tarrraaa, haehyuk86, fitri, rani gaem 1, lyndaariezz, nurul p. putri, baby Baekie, sweetyhaehyuk, ZhouHee1015, azihaehyuk, Lee Ikan, FN, narty2h0415, akuu, any reviewer with ‘Guest‘ name, 21 favs, and 12 followers.

Seeya! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s