BROKE THIS PAIN ;; Chapter 6

Previous Chapter:

Hyukjae tau benda apa dan milik siapa itu. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa benda itu sampai di tangan Kyuhyun? Apa Donghae sudah bertemu Kyuhyun?

‘Kenapa tidak kau ambil saja nyawaku tadi, Tuhan?’

Badan Hyukjae melemas, ia hampir ambruk di depan rak sepatu, seandainya Kyuhyun tak segera menangkapnya.

BROKE THIS PAIN

Warning: Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved readers. Hope you enjoy this. 😀

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream

Chapter 6: Don’t Go!

Kyuhyun melangkah menuju ranjang Hyukjae sambil membawa segelas air hangat. Hanya itu yang bisa ia bawakan untuk Hyukjae sebagai penghilang pusing akibat alkohol berlebih. Ia dudukan dirinya di tepi ranjang, tepat di depan Hyukjae yang sedang menunduk sambil meremas selimut.

“Cincin itu—”

Tiba-tiba Kyuhyun menyodorkan gelas yang ia bawa ke depan Hyukjae. Ia tak mau mendengarkan penjelasan apapun dari Hyukjae. Kyuhyun tidak bodoh. Nama yang terukir dalam cincin tersebut sudah cukup menjelaskan hubungan macam apa yang pernah dimiliki Hyukjae dan Donghae. Dan kekacauan yang terjadi malam ini pasti penyebabnya tak jauh dari Lee Donghae.

Dulu, Kyuhyun mengira bahwa mengetahui segala sesuatu tentang Hyukjae adalah hal wajib dalam hubungan mereka. Ia juga sempat kesal pada Hyukjae karena merahasiakan seluruh kehidupan lampaunya Tapi sekarang, Kyuhyun benar-benar bersyukur karena Hyukjae tak memberitahukan apapun padanya. Bukankah hal tersebut berarti bahwa Hyukjae tak ingin kembali pada masa lalunya?

“Minumlah ini dulu supaya pusingmu sedikit berkurang.” Ia meraih tangan Hyukjae untuk menyerahkan gelas dalam genggamannya. “Jika kau ingin yang lain, katakan saja padaku, akan ku usahakan apapun untukmu.”

Hyukjae menatap Kyuhyun dengan mata berkaca-kaca. Ia tau bahwa lelaki di depannya sedikit banyak sudah memahami apa yang terjadi tapi coba mengabaikannya. Jika tidak, mungkin saat ini Hyukjae sudah di berondong habis-habisan dengan berbagai macam pertanyaan tentang cincinnya dan Donghae.

Oh Tuhan, mengapa Kyuhyun bersikap seperti ini? Mengapa dia begitu tulus memberikan hatinya pada Hyukjae, sedangkan Hyukjae tak bisa membalasnya sama sekali?

“Maafkan aku…”

Atas dasar apa Hyukjae meminta maaf, Kyuhyun sungguh tak ingin tau, karena… ‘Semuanya pasti ada hubungannya dengan Donghae kan?’ Kyuhyun hapus air mata Hyukjae dengan sangat lembut. “Okay, sekarang kau harus tidur. Ini perintah sekaligus permintaan. Kau tidak punya hak apapun untuk menolak, arrasseo?”

Hyukjae tersenyum samar. Memang dia tak punya alasan kuat untuk menolak, kepalanya masih terasa pusing bukan main, ia benar-benar butuh tidur. Perlahan ia membaringkan diri, lalu mebenarkan posisi selimut yang di naikan Kyuhyun sampai leher.

“Selamat malam…” kata Kyuhyun lirih. Ia berniat pergi dari kamar Hyukjae namun Hyukjae meraih jemarinya. “Bisakah kau tinggal di sini, malam ini?”

Kyuhyun menatap sendu tangan Hyukjae. Sejujurnya, ia ingin menenangkan pikiran tanpa Hyukjae. Sayangnya, sorot mata Hyukjae yang dipenuhi permohonan tak bisa Kyuhyun abaikan begitu saja. Ia pun tak jadi beranjak dari tempatnya. “Aku bisa,” jawab Kyuhyun sambil tersenyum samar.

o0o

Dadanya naik turun, rahangnya mengeras, tangannya mengepal, ia juga hampir melempar ponsel Hyukjae ketika selesai memeriksa isinya—lebih tepatnya memeriksa isi gallery yang dipenuhi potret sang pujaan hati bersama lain. Beruntung bagian otak Donghae yang masih waras segera mengingatkan bahwa benda putih tersebut masih memiliki banyak kegunaan, terutama untuk menemukan sang adik.

Donghae menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosinya, ia juga berbisik pada dirinya sendiri bahwa foto-foto tersebut tak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan foto-foto dirinya bersama Hyukjae yang sampai saat ini masih ia simpan dalam folder pribadi laptopnya.

“Hyukjae bertambah manis.”

Donghae menoleh pada Sungmin yang sedang berjalan mendekatinya. Harus Donghae akui bahwa perkataan Sungmin benar. “Maaf aku tak bisa menahannya.”

Bagaimana cara Sungmin menahan Hyukjae sedangkan dirinya sibuk mencari charger ponsel di kamar Yin He.

“Itu bukan salahmu. Hyukjae butuh waktu.”

Donghae pun meletakan ponsel Hyukjae yang masih menyala di atas meja. Tak sengaja Sungmin melihat isinya. Matanya tiba-tiba memicing. “Lelaki yang bersama Hyukjae itu…” Sungmin raih ponsel Hyukjae.

Donghae mencondongkan diri kepada Sungmin, tak sabar menanti kelanjutan perkataan sang sahabat.

“Pimpinan MCent. Tidak salah lagi.”

“Apa?”

o0o

Hyukjae terbangun ketika merasakan hangatnya sinar matahari pagi menyapa kulit putihnya. Ia mengerjab beberapa kali, menajamkan indera penglihatannya. Setelah itu, Hyukjae duduk sambil memegangi kening, pusing yang menyerangnya semalam belum benar-benar hilang. Hyukjae lalu memeriksa bagian lain tempat tidurnya.

Kosong….

Kyuhyun tak ada di sana. Ketika ia memeriksa seluruh sudut apartemen pun, Hyukjae tak menemukan lelaki bersurai madu tersebut, tapi ia menemukan meja makannya sudah penuh dengan beberapa jenis makanan lengkap dengan sebuah note.

Dari Kyuhyun.

Cukup istirahat untuk hari ini. Tak perlu ke kantor untuk melatih para trainee bandel itu. Tak perlu melakukan pekerjaan berat dan tidak perlu memasak untuk sarapan pagi. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu. Saat aku kembali nanti, ku harap semuanya sudah kau habiskan, ‘kay? ^_~

Hyukjae tersenyum miris. Setelah apa yang terjadi semalam, mengapa Kyuhyun masih sebaik ini padanya?

o0o

Pukul sembilan pagi, Donghae dan Yin He sampai di gedung MCent. Keduanya segera menuju ruang rapat setelah seorang resepsionis memberitahukan kedatangan mereka pada sang pimpinan, via telepon.

Di dalam ruang rapat, yang bisa Donghae kenali hanya Zhoumi dan Ryeowook—partner dalam musikal nanti. Sedangkan lima orang yang lain, Donghae tak tau sama sekali.

“Aku harap kau tak membuat keributan secepat kedatanganmu pagi ini,” kata Yin He yang sedang menyamankan posisi duduknya. Atas apa yang mulutnya katakan, Yin He mendapatkan satu tatapan tak suka dari Donghae. Yin He bisa melihat melalui sorot mata tersebut bahwa Donghae semakin ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat.

Donghae tiba-tiba berdiri. Yin He dan Zhoumi serempak menolah. “Kau mau kemana?” tanya Yin He sambil menarik ujung kemeja putih yang digunakan Donghae. Takut jika Donghae benar-benar membuat kerusuhan.

“Toilet. Kenapa? Apa aku juga harus di awasi sampai masuk ke dalam bilik?”

Yin He hanya bisa mengelus dadanya ketika Donghae melangkah menuju pintu.

“Apa yang terjadi semalam?”

Yin He mengalihkan pandangan pada Zhoumi, buru-buru ia berpindah tempat duduk ke samping Zhoumi. “Ini benar-benar masalah besar, direktur. Donghae sudah menemukan adiknya, tapi ia juga menemukan sebuah fakta yang membuat emosinya naik turun pagi ini.”

Zhoumi mengernyitkan alis. Apa maksudnya?

“Hyukjae berkencan dengan pimpinan perusahaan ini.”

Zhoumi tak terkejut sama sekali. Sejujurnya, ia sudah tau semuanya tentang Hyukjae.

o0o

Kyuhyun keluar dari lift sambil mengancingkan jas abu-abu yang melekat di badannya. Niatnya ingin segera menuju ruang rapat, menemui seluruh partisipan musikal yang dikabarkan sudah berkumpul oleh sang sekretaris. Sayangnya, niatan tersebut gagal ketika melihat seorang lelaki tampan duduk santai di sebuah sofa yang letaknya dua puluh langkah dari tempat Kyuhyun berdiri. Lelaki tersebut kemudian bangkit dan berjalan menghampiri Kyuhyun. Sosok tersebut berusaha tersenyum ramah, namun yang terlihat di mata Kyuhyun malah sebuah seringai jahat tawaran perang—perang untuk memperebutkan hati Hyukjae.

“Selamat pagi, Presdir Cho.”

Terdengar begitu meremehkan. Kyuhyun sama sekali tak suka cara Donghae menyapanya. “Selamat pagi, Lee Donghae. Ah! Atau ku panggil dengan sebutan kakak ipar saja, bagaimana?”

Rahang Donghae tiba-tiba mengeras. Ia tak suka kegamblangan Kyuhyun mengenai hubungannya dengan Hyukjae. “Ku rasa itu terlalu cepat. Kau bahkan belum pernah bertemu dengan ayah dan ibu kami untuk meminta Hyukjae secara formal kan?”

Hati Kyuhyun tertohok. Donghae tak salah untuk hal tersebut. “Apa maumu sebenarnya?” tanya Kyuhyun sambil menahan emosi. Donghae tersenyum puas sekali. “Katakan pada Hyukjae aku menunggunya di taman. Besok sore pukul lima.”

“Kenapa tidak kau katakan sendiri padanya? Kau kakaknya kan?”

Donghae tersenyum miring. Ia keluarkan ponsel Hyukjae dari saku celana. “Well, jika kau ingin tau alasan kenapa aku tak mengatakannya langsung pada Hyukjae—“ Benda elektronik putih tersebut berpindah tangan pada Kyuhyun. “—itu karena aku tak bisa menghubunginya. Anda mengerti sekarang?”

Dada Kyuhyun naik turun, ia remas kuat ponsel Hyukjae.

“Jika kau benar-benar ingin menjadi adik iparku, bersikaplah yang manis. Katakan pada Hyukjae aku menunggunya di taman, besok, pukul lima sore. Arrasseo?”

Donghae tepuk pundak tegap Kyuhyun dua kali sebelum akhirnya meninggalkan lelaki bersurai madu tersebut dalam rasa jengkel yang amat dalam. Kyuhyun bersumpah tak akan pernah menyampaikan pesan tersebut pada Hyukjae.

o0o

Hyukjae sedang memasukan buah dan sayuran ke dalam kulkas ketika mendengar pintu apartemennya terbuka dan tertutup lagi dengan cepat. Hanya ada satu orang yang tau berapa sandi tempat tinggalnya—Kyuhyun. Hyukjae buru-buru berlari ke depan. “Kyu? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Kau seharusnya istirahat, baby,” kata lelaki bersurai madu itu sambil meletakan makanan yang ia bawa di atas meja, bersebelahan dengan barang belanjaan Hyukjae yang belum sempat dibereskan.

“Aku sudah cukup istirahat, Kyu. Dan kau—” Hyukjae membereskan barang belanjaannya di atas meja lalu membawanya ke dapur. “—kenapa ke sini jam segini?”teriak Hyukjae dari dapur. Jarak apartemen Hyukjae dan kantor Kyuhyun itu memakan seluruh waktu makan siang. Dan hari ini masih hari jumat yang artinya jam kerja di kantor Kyuhyun masih berlanjut sampai sore nanti.

“Aku sudah tidak memiliki pekerjaan penting di kantor, jadi aku putuskan untuk pulang.”

Pergerakan Hyukjae di dapur tiba-tiba terhenti, perilaku Kyuhyun mengingatkannya langsung pada perilaku Donghae. Sifat seenaknya mereka sama saja. Pernapasan Hyukjae tiba-tiba terasa sesak, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia butuh sesuatu yang bisa membakar tenggorokan, menghilangkan rasa kering yang menyakitkan dalam kerongkongannya.

Ya, Hyukjae butuh minuman laknat tersebut.

Ia bongkar belanjaannya dengan cepat, mencari dimana kaleng-kaleng beer yang tadi ia beli. Namun kemunculan Kyuhyun yang secara tiba-tiba di tempat tersebut membuat Hyukjae mengabaikan kaleng-kaleng beer yang sudah ada di depan matanya.

“Butuh bantuan?”

Dengan cepat, Hyukjae menggeleng, lalu memasukan kantong berisi kaleng beer itu ke dalam lemari penyimpanan. “Aku sudah selesai.”

Apa? Yang benar saja? Bahkan meja makan Hyukjae masih penuh dengan barang-barang belanjaan. Hyukjae pasti sedang kehilangan fokusnya. Ini bukan hal pertama bagi Kyuhyun. Tiap kali Hyukjae minum, keesokan harinya pasti akan berakhir seperti ini.

Sedikit banyak Kyuhyun merasa bersalah atas hal tersebut. Dialah yang mengenalkan Hyukjae pada alkohol dan memanfaatkan hal tersebut ketika penat di kepalanya tak bisa di keluarkan. Si lelaki tampan menghela napas satu kali. Ia mendekat pada Hyukjae. Berusaha menggapai tangan Hyukjae yang memegang selai. Namun tiba-riba tangan Hyukjae mati rasa, jemarinya bergetar tak menentu, selai di tangannya sampai terjatuh begitu saja di meja.

“Ada apa, Hyukkie?” tanya Kyuhyun sambil memegangi tangan Hyukjae yang bergetar—hanya tangannya saja, bagian tubuh Hyukjae yang lain tak bermasalah sedikitpun.

Buru-buru Hyukjae menggeleng.”Tidak ada, aku tidak apa-apa, Kyu.”

Perlahan, getaran di tangan Hyukjae pun menghilang. Hyukjae bisa merasakan lagi tangannya. Ia bisa mengontrol lagi gerak jemarinya.

“Apa yang kau rasakan? Kita harus memeriksakannya sekarang juga.”

Hyukjae tersenyum manis sambil memegangi tangan Kyuhyun. “Aku tak apa, Kyu. Sungguh. Lihatlah!” Hyukjae pun mengambil selai yang tadi ia jatuhkan, memegangnya dengan benar. “Yang tadi… mungkin hanya lelah karena membawa banyak belanjaan.”

Hati Kyuhyun tak tenang sama sekali, firasatnya mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Hyukjae adalah efek jangka panjang ketergantungan Hyukjae terhadap alkohol, sayangnya Hyukjae mengelak dan terus meyakinkan Kyuhyun jika dirinya hanya lelah.

o0o

Ku tunggu di taman kota, besok sore, pukul 5.

Setelah mengirimkan kata-kata tersebut pada nomor ponsel Hyukjae, Donghae meletakan ponselnya di atas meja makan, lalu mengangkat cangkir berisi cokelat hangat buatan Yin He. Jangan berfikir Yin He mau membuatkan itu untuk Donghae. Tidak, itu untuk Yin He sendiri, sayangnya Yin He belum sempat menikmati setetes pun cokelat tersebut dikrenakan Zhoumi menghubunginya. Jadilah Donghae yang akhirnya mengambil alih minuman itu.

Setelah beberapa kali meneguk cokelat dalam cangkirnya, ponsel Donghae bergetar sekali. Pop up pesan masuk dari Hyukjae muncul di layar ponselnya.

Aku tak akan datang.

Jelas sekali pesan tersebut bukan diketik langsung oleh Hyukjae. Sang adik bukan tipe orang yang akan memberikan balasan seperti itu untuk menolak ajakannya. Jika benar-benar menolak, Hyukjae tak akan pernah membalas pesannya. Itu watak Hyukjae.

“Oh, ternyata ponsel Hyukjae belum dikembalikan. Rupanya kau ingin bermain-main denganku, Cho? Fine.”

Jemari besar Donghae bergerak lincah di atas layar.

Aku memang tak mengharapkan kau yang datang menemuiku, Cho Kyuhyun.

Donghae tersenyum puas ketika membayangkan wajah kesal Kyuhyun usai membaca pesan darinya. Membuat Kyuhyun naik pitam mungkin akan Donghae masukan ke dalam daftar hobi barunya, tak peduli nanti Hyukjae akan merasa terganggu dengan hal itu.

“Mati kau, Lee Donghae!”

Oh! Semoga Yin He tak serius melakukan hal itu ketika ia menjumpai cangkir cokelat di depan Donghae sudah kosong.

o0o

Step up revolution adalah film yang akan diadaptasi menjadi pertunjukan musikal oleh MCent. Bercerita tentang seorang pemuda biasa yang gemar melakukan flash mob ekstrem bersama teman-temannya demi memenangkan kontes yang diadakan oleh Youtube. Tak disangka di tengah upayanya mengumpulkan penonton, sang pemuda bertemu seorang gadis yang berusaha keras melakukan apapun untuk menemukan jiwa dalam tariannya demi bergabung dengan Wynwood, agensi khusus tari terbesar di Amerika Serikat. Sang pemuda tergugah untuk membantu. Namun, ketika mereka hendak mencapai garis finish tujuan masing-masing, cobaan datang. Kekukuhan hati keduanya goyah. Bahkan ada saat dimana salah satu pihak merasa kesal setengah mati karena merasa dikhianati. Meskipun demikian, sang pemuda tetap bisa membuat perjalanan mereka berakhir manis dengan bantuan The Mob dan orang-orang yang peduli pada mereka.

Ryeowook lah yang berperan sebagai sang gadis dalam musikal nanti, sedangkan Donghae menjadi pemeran lelakinya. Tak ada kesulitan bagi Donghae selama ia mempelajari naskah dan daftar lagu yang harus ia nyanyikan, hanya saja, Donghae mencemaskan saat dirinya harus menari salsa bersama Ryeowook nanti. Donghae tidak menyukai tarian tersebut.

“Apa tarian salsanya tidak bisa diganti dengan tarian lain? Tango misalnya?”

Yin He—satu-satunya orang yang duduk di samping Donghae dalam ruang latihan—memutar bola matanya malas. “Jika dalam film tersebut ada satu scene yang berhubungan dengan tango—pesta topeng mungkin, mungkin idemu bisa dipakai. Tapi kau tau sendiri kan bagaimana jalan cerita film yang diadaptasi itu?”

Donghae mendengus tak suka, namun tak bisa melakukan penolakan lain.

CKLEK! Pintu ruang latihan tersebut terbuka, dua orang pemuda bertubuh teramat tinggi serta berwajah terlewat datar masuk ke dalam ruangan, di susul oleh—

“Hyukkie?” Mata Donghae dan Yin He sama-sama membulat sempurna. Beruntung dua pemuda tinggi tadi tak mau ambil pusing mengenai tingkah Donghae.

Awalnya, Hyukjae tak bisa mengontrol detak jantungnya yang kembali menggila ketika melihat Donghae secara langsung. Namun semua itu bisa Hyukjae kendalikan dengan mudah. Ia membungkuk sopan di depan Donghae, bertingkah seolah-olah tak mengenal Donghae sama sekali.

“Kita perlu bicara,” kata Donghae dalam bahasa mandarin. Tangannya, sudah mencengkeram erat tangan Hyukjae supaya si manis tak bisa mengelak. “Ku tunggu di taman pukul lima sore.”

“Aku tidak mau.”

“Akan kutunggu sampai kau datang.”

Hyukjae menggeram tak suka. “Tunggu saja sampai mati! Aku tak akan peduli.” Ia hentakan tangan Donghae sampai lengannya terbebas.

o0o

Sejak pukul lima sore, hujan deras mengguyur kota Seoul tanpa ampun. Hyukjae menatap cemas hujan lebat di balik kaca jendela. Kini sudah lebih dari jam 6 dan hujan belum juga berhenti. Hyukjae gigit ujung ibu jarinya dengan perasaan gusar, kembali Donghae lah yang memenuhi pikirannya. Bagaimana jika sang kakak tetap nekat menunggunya di tengah hujan lebat?

“Tidak, tidak. Dia tidak mungkin sesinting itu.” Setidaknya, sang kakak akan berteduh kan?

Hyukjae mencoba mengabaikan pikiran tentang Donghae. Ia ambil sebuah majalah musik di bawah meja. Sayangnya, isi dari majalah tersebut tak mampu menghilangkan bayangan Donghae yang—mungkin—sedang duduk di bangku taman, menunggunya di tengah hujan lebat seperti orang bodoh.

Tepat pukul tujuh, hujan belum juga reda. Hyukjae berjalan ke sana ke mari. Perasaannya makin tak tenang. Bahkan panggilan dari Kyuhyun pun ia abaikan. Hyukjae akhirnya memutuskan pergi ke apartemen Donghae untuk meyakinkan diri bahwa sang kakak benar-benar tidak menunggunya di tengah hujan.

Tak lama setelah Hyukjae menekan bel, Yin He membukakan pintu. “Oh! Lee Hyukjae?” ia tersenyum ramah di hadapan Hyukjae yang terlihat gusar. “Hai. A—Apa Lee Donghae ada?” tanya Hyukjae terbata-bata, membuat Yin He menautkan alis. “Sebelum pukul lima sore tadi, dia sudah pergi. Dia berdandan sangat rapi seperti mau berkencan.”

‘Oh Shit!’ Tanpa mengatakan apapun lagi, Hyukjae berlari sekencang yang ia bisa menuju taman di mana Donghae menunggunya..

o0o

Bibirnya pucat, hidungnya merah, matanya sayu, dan badannya menggigil. Sudah tidak ada lagi bagian tubuh Donghae yang kering. Sudah terlalu lama ia duduk di tengah hujan lebat hanya demi menunggu kedatangan sang pujaan hati.

Tolol sekali!

Tapi toh Donghae tak peduli jika ia dikatai demikian oleh seluruh dunia. Apapun akan Donghae upayakan asal bisa mendapatkan seluruh perhatian Hyukjae, termasuk bertingkah tolol seperti ini.

“Dia akan datang, pasti.”

Donghae menggeratkan jaket basah yang membalut tubuhnya. Dingin… Lama-lama tubuh tegap itu pun mencapai batasnya. Badan Donghae mati rasa total, dan ia juga tak mampu menahan kelopak matanya yang berusaha mengatup rapat. Tubuhnya pun roboh ke samping.

Tapi, sebelum kepalanya membentur lengan bangku taman, sepasang lengan hangat segera menangkapnya. Dan satu hal yang Donghae dengar sebelum kesadarannya menghilang adalah teriakan seseorang yang sedari tadi ia harapkan kehadirannya.

“Kau bodoh, Lee Donghae!”

o0o

Ketika mendapat pemberitahuan dari universitas mengenai pergantian program study-nya, Hyukjae langsung mendapat firasat buruk, ia benar-benar tak merasakan kegembiraan sedikitpun, terlebih ketika tau bahwa yang mengusulkan hal itu adalah Hankyung. Seingat Hyukjae, jika keputusan ayahnya sudah bulat, tak akan ada satu hal pun yang bisa mengubah hal tersebut. Kecuali jika Hankyung diberi penawaran yang bagus.

Penawaran?

Oh great!

Hyukjae tiba-tiba teringat kata-kata Donghae mengenai perpisahan dan impian malam itu. Hyukjae yakin semua itu berhubungan langsung dengan selembar kertas yang kini ia remas kuat-kuat.

Well, sebelumnya Hyukjae sudah merasa kesal setengah mati pada Donghae karena meninggalkannya tanpa pamit malam itu, ditambah muncul masalah seperti ini. Rasa jengkel Hyukjae pada sang kakak merangkap kekasihnya makin menggunung.

Hyukjae putuskan untuk pulang ke Incheon saat itu juga menggunakan kereta. Ia tiba di rumah tepat pukul 9 malam. Keadaan rumah sudah sangat sepi, selain tuan Kim yang membukakan pintu untuknya, tak ada lagi yang berlalu lalang di dalam rumah. Biasanya pada jam-jam itu rumahnya belum sesepi ini. Perasaan Hyukjae makin tak enak. Ia pun bergegas menaiki tangga, menuju kamar Donghae.

Tanpa mengetuk pintu, Hyukjae masuk ke dalam kamar sang kakak yang tidak terkunci. Di sana gelap sekali. Semuanya tertutup rapat. Bahkan sinar rembulan pun tak dapat masuk melalui celah tirai. Ini benar-benar aneh. Tak biasanya Donghae suka kegelapan. Ia raba dinding di samping kanannya untuk mencari saklar.

Ketika lampu kamar Donghae berhasil menyala seluruhnya, Hyukjae bisa melihat Donghae bangkit dari sofa di depan jendela sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Aku sudah bilang jangan ganggu aku!”

Hyukjae sampai beringsut takut saat mendengar teriakan Donghae.

Sadar siapa yang dirinya bentak, mata Donghae pun membulat. Ia bergegas menghampiri Hyukjae. “Baby, maafkan aku. Ku kira kau—”

Sekalipun cara Donghae meminta maaf sangat lembut, hal tersebut tak mampu menutupi amarah yang meluap-luap di mata Donghae. Hyukjae mundur selangkah untuk menghindari Donghae. Ia amati penampilan Donghae, mulai dari rambutnya yang acak-acakan, kemeja yang tidak terpasang rapi, dan wajah yang terlihat amat frustasi. “Apa yang sebenernya terjadi padamu?”

“Apa yang kau lakukan di sini, baby?”

Ugh! Hyukjae paling tidak suka ketika Donghae mengalihkan pembicaraan. Itu membuat perasaan Hyukjae makin tak karuan.

“Kau tidak suka aku pulang?”

Buru-buru Donghae menggeleng. “Bukan seperti itu, sungguh.”

Tiba-tiba mata Hyukjae menangkap sesuatu yang membuat dadanya berdegup kencang karena takut. Hyukjae kemudian berjalan menghampiri koper besar di depan lemari pakaian yang hampir kosong, hanya tersisa kemeja putih pemberian Hyukjae saja di sana.

“Kau mau kemana?” tanya Hyukjae sambil mencengkeram ujung kemeja yang ia pakai.

Donghae hanya diam di tempatnya sambil menunduk. Segalanya sudah tidak mungkin ditutupi lagi. Lagipula, program study Hyukjae juga sudah resmi dirubah atas upaya Hankyung.

Mata Hyukjae kemudian melirik paspor yang ada di atas nakas. Ia mendekat supaya bisa melihat selembar tiket yang terselip dalam paspor. “Taiwan? Keberangkatan lusa?”

Hyukjae yakin inilah harga yang harus dibayar atas perubahan program study-nya. Air matanya menetes sebutir. “Aku tak pernah meminta itu kan?” Buru-buru Hyukjae menghapus kasar jejak air matanya. “Kenapa kau melakukan ini padaku?”

‘Karena aku ingin mewujudkan impianmu.’

Sayangnya, seorang Lee Hyukjae tak mampu mengetahui isi hati Donghae itu.

“Tolong batalkan keberangkatanmu. Aku akan bicara pada abeoji untuk membatalkan kepindahanku ke program—”

“Cukup, Lee Hyukjae! Cukup!”

Mulut Hyukjae seketika itu juga mengatup rapat, untuk kedua kalinya dalam hari ini ia merasa takut pada Donghae. Air mata Hyukjae makin deras mengucur dari mata indahnya.

Donghae mengusap kasar wajahnya menggunakan dua telapak tangannya. Membentak Hyukjae memang sebuah kesalahan fatal. Ia duduk di ujung ranjang sambil menunduk. “Tolong, jangan lakukan apapun lagi, Hyukjae. Tolong…”

Sang adik tersenyun miris. Bahkan Donghae tak memanggilnya dengan panggilan yang manis lagi. Hati Hyukjae berdenyut sakit. “Kenapa?” Ia mendekati sang kakak. tangannya ia cengkeramkan pada pundak tegap Donghae. “Kumohon, jangan lakukan ini padaku, Lee Donghae!”

Sang kakak tak mampu lagi menghadapi Hyukjae. Ia mendongak, menatap langsung mata sang kekasih dengan sorot menyerah. “Apapun yang kau korbankan. Hubungan kita tak akan pernah berhasil, Hyukjae. Tidak akan pernah. Jadi, tolong berhentilah bertingkah seolah kau tak terluka karena mengorbankan hal yang berharga demi aku, demi hubungan kita!”

“Apa kau pikir, abeoji akan merestui kita jika kau mengorbankan segalanya? Tidak, Hyukjae! Abeoji tidak akan pernah merestui kita. Sampai kapanpun hubungan ini tak akan pernah berhasil.”

Bibir Hyukjae bergetas hebat, kakinya tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya, sehingga tubuh kurus itupun jatuh bersimpuh di depan Donghae. “Kau menyerah?” katanya sambil meraih tangan Donghae, namun sang kakak tak mau menerima kontak fisik macam apapun dari Hyukjae. “Bukankah kau yang dulu berjanji akan memperjuangkan segalanya untuk kita? Mengapa kau menyerah begitu cepat?”

“Hentikan, Hyukjae! Jangan buat keadaan bertambah sulit. Cukup jalani saja apa yang sudah dipersiapkan untukmu.”

“AKU TIDAK MAU! AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU!”

Donghae bangkit, mengambil langkah meninggalkan Hyukjae. Ia tak akan sanggup mempertahankan pendirian jika terus melihat Hyukjae memohon lebih dalam lagi.

“Jangan pergi, pengecut!”

Tanpa menghentikan langkahnya, Donghae memejamkan mata. Umpatan tersebut rasanya sangat pantas ia terima.

“Berhenti!”

Hyukjae coba menyusul langkah Donghae, ia raih lengan sang kakak, namun lengan kekar itu dengan cepat menepis jemari lentik Hyukjae.

“Ku mohon, jangan pergi!”

Berulang kali Hyukjae memohon, namun Donghae tetap tidak mau menghentikan langkahnya. Semakin jauh, pergerakan kakinya semakin mantap.

Jika kau tidak berhenti, hubungan kita berakhir!”

Donghae tiba-tiba berhenti melangkah. Dia sempat tegang, tapi hanya beberapa detik sebelum akhirnya kembali berjalan maju, meninggalkan sang kekasih yang kini duduk terjatuh di atas lantai yang dingin.

Kajima! Jebal… kajima…,” pinta Hyukjae dengan perasaan putus asa. Tangisannya semakin kencang ketika bayangan sang kekasih tak lagi terjangkau oleh mata indahnya.

o0o

Perlahan, tangan besar tersebut merayap menuju kening yang tertutupi benda lembab dan dingin. Matanya perlahan membuka. Ia ambil handuk di keningnya, kemudian bangkit dengan perlahan. Ia amati piyama abu-abu bermotif bulan bintang yang kini ia pakai.

Milik siapa?

Donghae ingat-ingat lagi kejadian apa yang menyebabkan semua ini terjadi. Jeritan panik Hyukjae pun kembali berdengung di telinganya.

‘Ini tempat tinggal Hyukjae kah?’

Buru-buru Donghae keluar dari kamar tersebut untuk mencari keberadaan Hyukjae. Ia pun menemukan Hyukjae tertidur miring di sofa panjang.

Donghae dekati sosok ringkih tersebut, lalu meletakan tangannya di pipi Hyukjae. Suhu tubuh sang pujaan hati cukup tinggi. Donghae panik seketika.

“Jangan pergi…” Hyukjae mengigau.

Donghae tak begitu memikirkan apa yang sedang Hyukjae mimpikan saat ini. Yang Donghae pikirkan saat ini adalah memindahkan Hyukjae ke kamar. Ia angkat tubuh Hyukjae dengan hati-hati, lalu membawanya ke kamar.

Belum sempat Hyukjae terbaring sempurna di atas ranjang, Donghae merasakan bisepnya di cengkeram kuat oleh Hyukjae. “Jangan pergi…”

Lagi? Donghae mengerutkan kening. “Jangan pergi ke Taiwan. Ku mohon…”

Taiwan? Apa Hyukjae memimpikan hari itu? Hari dimana ia memutuskan untuk untuk menolak Hyukjae mentah-mentah?

“Jangan pergi…”

“Aku tak akan pergi kemana-mana, Hyukkie,” kata Donghae sambil membelai surai cokelat Hyukjae.

Sang adik mengeratkan cengkeramannya. “Aku mencintaimu, jangan pergi…” Dalam tidurnya, Hyukjae meneteskan air mata. Donghae menghapus kristal bening tersebut sebelum mendekap erat Hyukjae. “Aku tidak akan pergi lagi, tidak akan.”

TBC

Bang Kyu~(pil) maap ya~

Maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan. Maaf atas semua dramatisasi yang gagal(?) dan sampai juma 😀 *hug & kiss*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s