BROKE THIS PAIN ;; Chapter 7

Previous chapter:

“Aku tak akan pergi kemana-mana, Hyukkie,” kata Donghae sambil membelai surai cokelat Hyukjae.

Sang adik mengeratkan cengkeramannya. “Aku mencintaimu, jangan pergi…” Dalam tidurnya, Hyukjae meneteskan air mata. Donghae menghapus kristal bening tersebut sebelum mendekap erat Hyukjae. “Aku tidak akan pergi lagi, tidak akan.”


BROKE THIS PAIN

Warning: Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved readers. Hope you enjoy this. 😀

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 7: Mistakes (Partie 1)


Hankyung berangkat menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari calon mertuanya bahwa Heechul berada di sana. Hankyung berlari secepat yang ia bisa menuju paviliun ibu dan anak usai menanyakan keberadaan calon istrinya pada seorang resepsionis.

Apa Heechul hamil?

Tidak mungkin. Hankyung belum pernah melakukan hubungan intim dengan calon istrinya tersebut. Ia lelaki kolot dan berprinsip tegas, tidak mudah tergoda dengan kepuasan duniawi yang bersifat sesaat.

Tapi jika bukan karena dihamili Hankyung, lantas apa yang Heechul lakukan di paviliun tersebut? Apakah Heechul dihamili orang lain?

Oh! Hankyung bersumpah akan membunuh siapa saja yang berani menyentuh Heechul—jika hal tersebut benar-benar terjadi.

Tapi… hal itu juga rasanya mustahil. Heechul berada dalam pengawasan ketatnya selama dua puluh empat jam non stop. Tak ada yang berani menyentuh Heechul sekalipun pergaulan model internasional tersebut terbilang bebas.

Tak terasa Hankyung sudah sampai di tempat tujuan. Pemikiran-pemikiran aneh pun semakin bermunculan saat melihat sang tunangan berdiri kaku di depan ruangan berdinding kaca dan berisi seorang bayi sedang tertidur lelap dalam inkubator. “Apa yang terjadi, Chullie?”

Sang tunangan menoleh, menatap sang pujaan hati dengan matanya yang sembab sehabis menangis. “Xian Hua mengalami kecelakaan.”

“Apa?! Bagaimana bisa hal itu terjadi?” Hankyung hapus jejak air mata di kedua pipi halus calon istrinya dengan sangat lembut.

“Mobil Xian Hua di sabotase. Remnya blong. Sopir pribadinya tidak mampu mengendalikan laju mobil yang sudah terlanjur kencang tersebut sehingga menabrak pembatas jalan di sebuah tikungan.”

“Oh Tuhan…” Hankyung mengusap kasar wajahnya sambil mengutuk siapa saja pelaku tindak kriminal tersebut. Tak perlu bertanya siapa pelakunya kepada siapa pun, karena ia sudah bisa menebak siapa saja orang-orang kejam yang mampu melakukan hal nekat dan keji semacam itu untuk menyingkirkan Xian Hua dan calon bayinya, hanya demi sebuah kekuasaan. “Lalu, bagaimana keadaan Xian Hua sekarang?”

“Kata Zhoumi, buruk. Xian Hua kehilangan banyak darah. Mereka bahkan nyaris kehilangan calon bayi mereka seandainya tim medis tak segera melakukan operasi.”

Xian Hua beruntung, sungguh beruntung, karena masih bisa selamat dari kecelakaan tersebut terlebih sampai mempertahankan calon bayi dalam kandungannya.

“Tunggu dulu!” Seperti sadar akan satu hal, Hankyung pun menatap lekat sang tunangan lalu berpindah pada bayi mungil yang masih berkulit merah di balik kaca. “Jangan bilang bayi itu—”

“Li Dong Hai, itu nama yang diberikan Zhoumi pada putranya,” kata Heechul sambil menatap lembut sang bayi. Hal tersebut tiba-tiba membuat Hankyung merasa tak tenang, “Lalu, dimana Zhoumi sekarang?”

“Dia kembali ke Taiwan setelah menyerahkan bayinya padaku.” Heechul hadapkan dirinya pada Hankyung, ia raih tangan sang tunangan untuk digenggam erat. “Dia berpesan, tak masalah jika anaknya tidak tau siapa ayah kandung dan ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini, tak masalah jika dirinya tidak kau izinkan bertemu dengannya, dan tak masalah jika nanti kau memberikan namamu padanya untuk selamanya. Yang terpenting, kita cukup menyayangi dia seperti kita menyayangi darah daging sendiri.”

“Apa dia sudah tidak waras?!” Hankyung melotot tak suka. Zhoumi sama saja dengan membuang anaknya kan? Dan poin paling sinting nya di sini adalah: bagaimana Zhoumi bisa menyerahkan anaknya pada Hankyung dan Heechul yang hubungannya masih sebatas pertunangan?

Oke, mungkin keluarga dan calon mertuanya bisa mengerti situasi gila ini, pandangan relasi bisnis Hankyung tentang hal ini juga pasti bisa di atasi dengan mudah. Tapi bagaimana dengan mulut para media yang tidak bisa diam saja ketika mendengar seorang model internasional seperti Heechul tiba-tiba tertangkap kamera sedang bersamanya sambil menimang seorang bayi lelaki?

Para pesaing Heechul pasti tak segan-segan menggunakan hal ini untuk menghancurkan sang tunangan. Karier Heechul bisa hancur seketika

Hankyung tidak mau hal itu terjadi. Kalaupun Hankyung benar-benar dipaksa untuk membuat Heechul berhenti berkarier di dunia hiburan, bukan cara sekejam itu yang akan Hankyung pilih untuk sang pujaan hati.

“Kehidupan anak itu akan jauh lebih berat jika tetap berada di sisi kedua orang tuanya, Hannie.”

“Itu konsekuensi yang harus Zhoumi terima karena nekat menghianati istrinya dengan cara menikahi Xian Hua secara diam-diam.” Hankyung silangkan kedua lengannya di depan dada. Mencoba untuk tidak peduli pada apapun.

“Tapi anak itu tak mengerti apapun, Hannie… satu huruf pun dia tidak tau. Tak adakah belas kasih untuk dia?”

Sesungguhnya, Hankyung bukanlah lelaki keras kepala yang tidak memiliki hati nurani. Dirinya adalah sosok yang penuh kasih dan penyayang, hanya saja… dalam masalah ini Hankyung tidak mau berurusan dengan keluarga Zhoumi dan istri tuanya yang hampir seluruhnya berotak sinting. Neraka berpindah ke rumahnya pun bukan hal yang mustahil jika dirinya sampai membuat masalah dengan mereka. Hankyung tak mau hal tersebut terjadi, terlebih jika sampai Heechul ikut terlibat.

“Beri dia kehidupan, Hannie… Demi aku….”

Apapun pasti akan Hankyung upayakan jika Heechul yang meminta. Masalahnya hanya ada satu untuk saat ini, permintaan sang kekasih tak lain adalah permohonan secara tak langsung untuk pergi ke neraka. Bagaimana mungkin Hankyung sanggup mengabulkan? “Aku tidak mau!”

“Kau menyayangi ku kan?”

Hankyung tak peduli pada rengekan Heechul. Justru karena rasa sayangnya yang menggunung pada Heechul ia tidak mau menurut. Hankyung berpaling dan mengambil dua langkah untuk pergi dari hadapan Heechul, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara badan sang kekasih jatuh di lantai. Hankyung menoleh ke belakang dan mendapati Heechul sudah berlutut tanpa harga diri.

Hankyung menggeram setengah frustrasi dan kesal. Ia terjebak dalam sorot mata penuh harap sang kekasih. Hankyung tak suka keadaan ini. Ujungnya pasti ia tak mampu lagi menolak keinginan sang tunangan. Hankyung pun menghela napas. “Baiklah.” Sang kekasih tersenyum senang kemudian menghambur ke dalam pelukan Hankyung. “Tapi kau harus keluar dari dunia hiburan.”

DEG! Keluar dari dunia hiburan sama artinya dengan membuang jauh-jauh seluruh hasil kerja keras yang setengah mati Heechul perjuangkan selama bertahun-tahun, dan meninggalkan kehidupan glamour nya yang bebas.

Tapi…

Jika memang hal tersebut adalah harga yang harus ia bayar supaya satu nyawa bisa merasakan pahit dan manisnya kehidupan di dunia ini, Heechul akan mencoba berlapang dada, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangisi karier yang sudah ia bangun hingga ke puncak. Heechul eratkan pelukannya pada sang tunangan sambil mengangguk. Tak membiarkan Hankyung melihat air matanya yang terurai.

o0o

Seharusnya, Kyuhyun tak pergi ke apartemen Hyukjae ketika mencemaskan sang kekasih yang tak kunjung menjawab panggilannya, lalu menemukan Hyukjae terlelap dalam dekapan lelaki yang saat ini sudah resmi Kyuhyun jadikan rival kelas berat—tak peduli bahwa lelaki itu berstatus sebagai kakak Hyukjae.

Dan seharusnya, Kyuhyun bisa menyeret Donghae keluar dari apartemen Hyukjae saat itu juga—Kyuhyun kekasih Hyukjae kan? Ia punya hak penuh untuk marah-marah ketika melihat kekasihnya berada dalam dekapan lelaki lain—apalagi lelaki tersebut adalah Donghae, lelaki yang Kyuhyun yakini sebagai cinta lama Hyukjae.

Tapi, bagaimana bisa Kyuhyun meluapkan kemurkaan nya ketika mengetahui badan Hyukjae terserang demam? Keadaan Hyukjae bisa jauh lebih parah jika dirinya nekat menantang Donghae berduel untuk memperebutkan Hyukjae. Lagipula, Hyukjae sendiri tidak berkehendak untuk melepaskan diri dari Donghae ketika Kyuhyun berusaha selembut mungkin melepaskan jemari Hyukjae yang memerangkap bicep Donghae.

Sedikit banyak Kyuhyun memang kecewa pada Hyukjae.

Mengingat Donghae dan Hyukjae membuat dadanya bergejolak tak menyenangkan. Kyuhyun teguk dengan cepat anggur dalam gelas yang ia pegang. Rasa kesalnya pun makin menggunung ketika efek dari alkohol yang ia teguk tak mampu meredam gejolak dalam dadanya. “Tambahkan lagi!”

“Tapi anda sudah minum sebanyak lima botol, tuan,” kata seorang bartender di depan Kyuhyun.

“Ku bilang tambah lagi!”

Bartender tersebut bergidik ngeri. Buru-buru ia mengambil sebotol fortified wine dari rak di belakangnya. Lebih baik menurut kan, daripada membangkang dan berakhir babak belur karena mendapat bogem mentah dari pelanggan.

Ketika gelasnya kembali terisi, Kyuhyun kembali menghabiskan minuman tersebut dalam satu tegukan cepat.

“Hey! Beri aku red wine, wine, wine~” kata seseorang yang baru saja duduk di samping Kyuhyun. Keadaannya tak lebih baik dari pada Kyuhyun alias mabuk berat.

Dia Lee Sungmin.

Kyuhyun pun menoleh dan mendapati Sungmin sedang mendongak untuk menyambut datangnya cairan terakhir dalam gelas yang ia balik di atas. Di mata Kyuhyun, sosok di sampingnya itu —terlihat seperti—Hyukjae.

Kyuhyun buru-buru meraih dagu Sungmin, hingga mata sayu itu menatap heran Kyuhyun.

Be mine and forget him.”

Sungmin tertawa geli di ambang kesadarannya. “Dasar sinting,” gumam nya sambil menepis tangan Kyuhyun. Satu detik kemudian, tangan Kyuhyun beralih pada tangan Sungmin. Untuk beberapa saat mata sayu mereka berada dalam satu garis lurus tanpa kedipan. Sungmin merasa tak asing dengan wajah lelaki di depannya. Sayang sebelum Sungmin sempat berfikir tentang sesuatu, bibir Kyuhyun tiba-tiba mengunci rapat bibirnya. Konsentrasinya buyar. Sungmin kesulitan bernapas. Ia tak siap dengan cumbuan Kyuhyun yang brutal dan tanpa aba-aba, terlebih kesadarannya sedang di ambang batas.

Sungmin mendorong dada Kyuhyun yang semakin lama semakin mendekat padanya, siapa tau lelaki sinting di depannya menyerah dan berhenti. Namun semakin keras usaha Sungmin untuk melepaskan diri dari Kyuhyun, semakin membara pula semangat Kyuhyun untuk melahap bibir Sungmin, bahkan tanpa ragu Kyuhyun juga memeluk mesra pinggang Sungmin.

Ada perasaan nyaman yang tiba-tiba menghampiri Sungmin. Cumbuan lelaki di depannya memang penuh dengan tuntutan, namun tak ada permainan kasar sama sekali, sentuhan jemari panjang tersebut pada tubuhnya penuh dengan kelembutan. Dan harus Sungmin akui bahwa di detik itu juga dirinya terbuai.

“I—” Sungmin akhirnya melingkarkan lengannya pada leher Kyuhyun, kali ini Sungmin berusaha sebisa mungkin untuk tidak menginterupsi cumbuan Kyuhyun padanya. “—want you.” Efek alkohol yang Sungmin konsumsi berpadu dengan sentuhan Kyuhyun benar-benar mengerikan. Sungmin tak mampu menopang berat badannya, saking terlena nya dengan sentuhan Kyuhyun. Beruntung lelaki di depannya masih sigap dan mampu menopang tubuhnya yang hampir terjatuh dari kursi tinggi.

Me too, Hyukkie.”

Sosok manis dalam dekapan Kyuhyun tak peduli nama siapa yang disuarakan lelaki tampan nan sinting itu, yang Sungmin inginkan malam ini hanya memenuhi hasrat yang tiba-tiba membuncah dalam dirinya. “Call me whatever you want,” bisiknya sambil meremas helaian sewarna madu milik Kyuhyun. Tak peduli pada waktu yang semakin menginjak tengah malam, dan juga tak peduli pada lensa kamera yang menyorot tajam pada aksi intim mereka.

o0o

Hyukjae tau betul rasa hangat dan nyaman yang kini ia rasakan bersumber dari mana. Sekalipun matanya masih terpejam, Hyukjae juga tau dimana kepalanya berbaring nyaman saat ini—dada bidang lelaki yang setengah mati ingin ia hapus dari kehidupannya.

Sejujurnya, Hyukjae tidak ingin cepat-cepat melepaskan diri dari seluruh rasa nyaman yang ia rindukan tersebut. Tapi… “Ini gila!” Benar-benar gila jika boleh ditambahkan. Dirinya sekarang sudah memiliki Kyuhyun kan? Lelaki bersurai madu itu tak pantas Hyukjae perlakukan seperti ini, mengingat betapa baiknya Kyuhyun padanya.

Hyukjae buru-buru membuka matanya dan melepaskan lengan Donghae yang merangkul erat pinggangnya. Hyukjae harus secepatnya mencari kesibukan supaya tak terlarut lagi dengan suasana menyebalkan seperti tadi. Akhirnya, dengan berat hati, Hyukjae pun bangkit dari dada Donghae.

o0o

Bukan wangi strawberry khas tubuh Hyukjae yang Kyuhyun hirup ketika kesadarannya sedikit demi sedikit kembali. Sepasang lengan yang memerangkap leher Kyuhyun pun terasa asing. Kyuhyun singkirkan lengan putih mulus yang melingkari lehernya dengan perlahan, kemudian bangun. Kepalanya terasa pening, pandangannya berkunang-kunang, rasanya sangat berat, dan semua rasa sakit di kepalanya bertambah dua kali lipat ketika menyadari bagaimana keadaannya—NAKED. Sama seperti keadaan sosok manis di sampingnya yang baru saja membuka mata. Tak ada apapun yang menutupi tubuh polos mereka kecuali sehelai selimut putih.

Kyuhyun melotot kaget. “Apa yang terjadi semalam?”

Mendengar hal tersebut, Sungmin pun memeriksa keadaannya lalu ikut melotot, ia buru-buru bangkit sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Pusing di kepalanya tidak sebanding dengan rasa kagetnya. “Katakan bahwa tak terjadi apa-apa semalam.”

Seandainya bisa, Kyuhyun dengan senang hati akan mengatakan hal itu. Tapi semalam Kyuhyun mabuk berat, dia tak ingat apapun selain bercinta dengan—

“Oh Tuhan! Mungkinkah…” Kyuhyun menatap Sungmin sambil menelan ludah. Mungkinkah bukan Hyukjae yang bercinta dengannya semalam?

o0o

Setelah selesai membuat sarapan untuk dirinya dan juga Donghae, Hyukjae duduk santai di kursi meja makan, memeriksa ponsel yang ia abaikan semalaman, sekaligus menunggu sang kakak bangun.

Ada banyak notifikasi panggilan masuk. Hyukjae tak perlu memeriksanya satu persatu karena ia yakin hanya satu orang saja yang begitu gemar melakukan hal tersebut.

Cho Kyuhyun. Siapa lagi?

Hyukjae pun memutuskan untuk menghubungi Kyuhyun. Dua kali mencoba, barulah ia tersambung dengan Kyuhyun.

“Halo, Hyukkie.”

Hyukjae mengernyit. Ada yang aneh dengan suara Kyuhyun, terdengar sangat serak dan gugup, persis seperti seseorang yang tertangkap basah tengah mendua. Tapi Hyukjae tak mau berfikir yang macam-macam tentang Kyuhyun. Kekasihnya bukan tipikal lelaki hidung belang sekalipun di luar sana banyak yang tergila-gila padanya. “Baru bangun?”

“Ti… Ah, maksudku iya, aku baru bangun.”

Hyukjae memasang baik-baik telinganya, dari sambungan telepon mereka, ia bisa mendengarkan deru mobil dan beberapa kali bunyi klakson. Kyuhyun jelas sedang tidak berkata jujur. Dan hanya ada satu alasan mengapa kekasihnya sudah berada di jalanan pada minggu pagi seperti ini. “Kau mabuk semalam?”

Hyukjae butuh waktu beberapa menit sampai Kyuhyun mau bersuara lagi. “Sejujurnya… iya…”

Hyukjae menjauhkan ponsel nya dengan perasaan bersalah. Dimana Hyukjae semalam ketika Kyuhyun menghubunginya berulang kali? Apa yang ia lakukan semalam ketika sang kekasih sedang membutuhkan dirinya?

Apa masih pantas dirinya untuk Kyuhyun?

“Hyukkie.”

Hyukjae dekatkan lagi ponsel nya sambil menata perasaan. “Ne?”

“Apa demam mu sudah turun?”

Mata Hyukjae membulat sempurna. Jika Kyuhyun tau dirinya semalam demam, maka Kyuhyun juga pasti tau dirinya tidur seranjang dengan Donghae.

“Kyu… aku… aku… tak melakukan apapun, sungguh.”

Dari seberang line terdengar kekehan Kyuhyun yang sarat akan kekecewaan. Hyukjae meremas lututnya dengan perasaan was-was.

“Aku tau. Tidak apa, Hyukkie. Aku percaya padamu.”

“Kyu…” Hyukjae gigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dalam keadaan seperti ini saja Kyuhyun tak memarahinya? Mengapa Kyuhyun sampai seperti ini padanya? Apa Kyuhyun tidak ingin membunuhnya jika kemarin sang kekasih benar-benar melihatnya tidur dalam dekapan Donghae? “Marahlah jika kau ingin memarahi ku, Kyu. Jangan bersikap seperti ini padaku.”

Kyuhyun memang kecewa pada Hyukjae semalam, tapi yang ingin ia habisi bukanlah Hyukjae, melainkan Donghae. Huh! Kenapa mencintai seseorang rasanya sangat sulit? “Aku hampir sampai di rumah, nanti ku hubungi lagi, ne?”

Sejujurnya, Kyuhyun masih jauh dari rumah. Dirinya hanya tidak ingin membicarakan masalah semalam dengan sang kekasih lebih lama lagi. Ia tak ingin kehilangan kontrol. Dan karena mengira Kyuhyun benar-benar hampir sampai di rumah, Hyukjae pun mengiyakan perkataan Kyuhyun dengan berat hati.

Setelah itu, sambungan keduanya terputus. Hyukjae letakkan ponsel nya di meja makan, bersamaan dengan masuknya sang kakak ke dapur.

Keduanya sama-sama diam di tempat untuk beberapa saat. Segala sesuatu yang Hyukjae pikirkan tentang Kyuhyun langsung menghilang dengan sangat mudah. Oh Tuhan! Bahkan Donghae hanya menatapnya, tak melakukan hal lain. Mengapa Kyuhyun begitu mudah menghilang dari pikirannya?

“Apa kau baik-baik saja?” Donghae memecah keheningan dengan suara serak. Ia mendekat pada Hyukjae yang masih betah diam. Tangannya menyentuh kening Hyukjae. Sudah tidak sepanas kemarin, justru badan Donghae lah yang masih panas tidak wajar. Donghae tersenyum manis sekali hingga membuat Hyukjae ingin mati saja saat melihatnya.

Hyukjae membenci senyuman itu! Tiap kali melihat dan mengingatnya selalu saja berhasil membuat dada Hyukjae berdebar tak menentu. Dan yang lebih Hyukjae benci adalah fakta bahwa senyuman itu tak akan pernah bisa Hyukjae miliki secara utuh. Tidak akan pernah bisa, karena mereka terikat dalam satu silsilah keluarga yang sama.

Ini tidak boleh dibiarkan! Hyukjae tidak boleh terus-terusan seperti ini. Tak boleh ada lagi hati yang terluka. Semuanya harus di akhiri. Sekarang juga!

“Terima kasih sudah mau datang, kemarin.”

Hyukjae berdiri dari kursi untuk mengambil sebuah gelas kosong dan satu tablet obat flu di dalam kotak obat. Hyukjae benci Donghae—Hyukjae benci seluruh sifat nekat Donghae beserta pesonanya. “Harusnya, kemarin kau tak melakukan hal sinting itu. Bagaimana jika aku tidak datang kemarin?”

Maka Donghae tak akan berada di apartemen Hyukjae untuk memporak-porandakan hati Hyukjae yang sudah hancur berantakan. Right?

“Tapi kau datang kan?” balas Donghae sambil tersenyum lembut.

Hyukjae menarik napas sambil memejamkan matanya. Belum berniat kembali ke meja makan sekalipun ia sudah mendapatkan apa saja yang ia cari. “Aku hanya ingin semuanya berakhir. Maka dari itu aku datang.” Tanpa sepengetahuan Donghae, Hyukjae meremas dadanya yang terasa sesak. Mungkinkah hatinya tak ingin semuanya berakhir? Namun jika demikian, hatinya akan terus merasakan rasa nyeri yang sulit dihancurkan, apalagi dihilangkan.

“Apapun yang telah terjadi di antara kita, tidak akan pernah berakhir, Lee Hyukjae.”

Mungkin, namun jelas bukan kisah percintaan mereka yang tidak bisa diakhiri—karena nyatanya Donghae sudah memilih untuk mengakhiri hubungan mereka dengan cara pergi ke Taiwan.

“Mari kita mulai semuanya dari awal.”

Apa? Bagaimana bisa Donghae mengatakan hal tersebut begitu lancar? Apakah ia tak ingat apa saja yang pernah ia lakukan lima tahun yang lalu terhadap Hyukjae? Bahkan Donghae sama sekali tidak berniat mencari Hyukjae ketika mendengar kabar bahwa Hyukjae menghilang. Ia tetap pergi ke bandara tanpa repot mencari Hyukjae sekalipun hanya untuk berpamitan.

Dan sekarang?

Dengan mudahnya Donghae meminta Hyukjae untuk memulai semuanya dari awal?

Donghae berengsek! Hyukjae meragukan kewarasan otak Donghae.

Hyukjae menghadapkan dirinya pada Donghae, ia ingin melontarkan seluruh caci maki, umpatan serta kutukan terburuk pada Donghae. Sayangnya, ketika mata sayu—yang dulu Hyukjae gilai setengah mati—tersebut menatapnya dengan sorot memohon tanpa harga diri, Hyukjae tak mampu melakukan apapun. Hyukjae seolah melihat dirinya lima tahun yang lalu sedang mengiba untuk tidak ditinggalkan oleh Donghae. Dadanya terasa sakit seperti ditikam. Apakah rasa sakit ini juga dirasakan Donghae ketika melihatnya mengiba, lima tahun yang lalu?

Namun tak ada air mata malam itu di mata Donghae. Kemungkinan Donghae tak merasakan apa yang Hyukjae rasakan saat ini. Tapi—

“Dan sekeras apapun kita mencoba, hubungan ini tidak akan pernah berhasil.”

—apa yang Donghae rasakan malam itu jauh lebih menyakitkan daripada apa yang dirasakan Hyukjae ketika bibirnya mengatup rapat usai mengulang kalimat yang pernah Donghae lontarkan padanya.

Mengapa kehidupan begitu kejam kepada mereka? Di saat yang lain bebas berbagi kasih, mengapa mereka harus ditakdirkan jatuh dalam perasaan dan hasrat terlarang yang melibatkan ikatan persaudaraan? Tidakkah takdir terlalu kejam untuk mereka?

Hyukjae paksa kakinya melangkah dan kembali duduk di kursi meja makan. Sebisa mungkin ia tersenyum, sekalipun rasa sakit dalam dadanya kembali menggila. Ia sodorkan satu gelas air putih beserta obat flu pada Donghae. “Minum itu setelah sarapan.”

Sebenci apapun Hyukjae pada Donghae, lelaki tampan tersebut tetaplah saudaranya kan? Hatinya tak akan sanggup melihat Donghae sekarat, sekalipun bibirnya mampu mengucapkan mantra kematian untuk Donghae.

o0o

Setelah menyelesaikan sarapan dan mencuci piring, Hyukjae menghampiri Donghae yang sedang duduk manis menyaksikan berita pagi di televisi dengan wajah bosan. Hyukjae jadi teringat ayahnya. Sekalipun beritanya tergolong tidak penting dan membosankan, mereka tak akan memindah channel nya. “Ini pakaianmu. Cepat ganti dan pulanglah,” kata Hyukjae sambil menyodorkan pakaian Donghae yang sudah Hyukjae cuci dan keringkan semalam.

Sang kakak melotot tak percaya pada Hyukjae. Baru kali ini ia diperlakukan begitu tidak sopan, terlebih oleh Hyukjae. “Aku masih sakit, badanku masih demam. Bagaimana mungkin kau setega itu padaku?”

Lebih tega mana dengan perlakuannya pada Hyukjae lima tahun yang lalu?

Hyukjae memutar matanya malas. Ia jatuhkan pakaian Donghae yang sudah kering dan terlipat rapi di atas pangkuan Donghae. “Apartemen mu hanya berjarak seratus meter dari sini. Demam mu tak akan bertambah parah sekalipun kau berjalan pulang hanya menggunakan boxer.”

Sejak kapan sang adik memiliki mulut seperti itu? Oh! Donghae hampir melupakan fakta bahwa Hyukjae adalah anak kesayangan Heechul. Tentu saja mulut mereka sama tajamnya. Tapi dulu—sebelum ia pergi ke Taiwan—mulut Hyukjae tak sesadis ini. Kepergiannya benar-benar membuat Hyukjae berubah. Dan apa benar apartemennya berada satu gedung dengan Hyukjae?

Sepertinya Donghae harus lebih sering lagi menempatkan dirinya dalam keadaan yang berbahaya saja supaya bisa mendapatkan lebih banyak berkah-berkah seperti semalam dan pagi ini.

“Oke, aku akan pergi,” kata Donghae sambil mengambil pakaiannya dari pangkuan.

Tapi rasanya… Hyukjae tak yakin Donghae benar-benar akan pergi, apalagi tanpa syarat.

“Tapi setelah kau menjawab tiga pertanyaanku.”

Benar bukan dugaan Hyukjae?

Hyukjae mengedikkan bahu, ia ambil remote di atas meja kemudian mengganti berita membosankan yang sempat ditonton Donghae. “Silahkan,” ucapnya acuh tak acuh.

“Siapa yang mengajari mu menjadi seorang pemabuk dan pemakai obat-obatan?”

“Itu hanya obat penenang.”

“Tapi itu ilegal, dosisnya melebihi standar. Apa lagi jika kau meminumnya tanpa aturan. Kau bisa mati, Lee Hyukjae!”

Asalkan seluruh rasa sakit di hatinya bisa hilang, Hyukjae rela mati, sungguh, ia serius.

Orang yang tidak pernah merasakan sakit hati semacam Hyukjae mungkin akan mengatai Hyukjae tolol bin sinting, tapi toh Hyukjae tidak akan peduli, ia maklumi orang-orang yang tidak bisa mengerti seberapa pedih rasa sakit di hatinya.

Hyukjae memejamkan matanya. Tak mau terlarut lebih lama lagi dengan pikirannya. “Pertanyaan kedua.”

“Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku yang pertama,” kata Donghae sinis, membuat sang adik menghela napas pasrah. “Tak ada satu orang pun yang mengajari ku seperti itu. Aku hanya bereksperimen dengan diriku sendiri.”

Apa? Eksperimen? Hyukjae benar-benar sudah sinting!

Donghae menggeram tak suka. “Kau sudah gila, Lee Hyukjae!”

Dan yang membuat Hyukjae segila itu hanyalah Donghae, tidak ada yang lain. Tak sadar kah sang kakak? “Pertanyaan kedua,” kata Hyukjae kembali acuh tak acuh.

Donghae menata emosinya. Tak mau marah-marah sekarang. “Kenapa kau memilih berkencan dengan Cho Kyuhyun?”

“Dia orang yang baik,” jawab Hyukjae seadanya. “Dan kau pikir dia pantas mendapatkan mu?”

Memang tidak pantas. Hyukjae akui itu. Kyuhyun lebih dari pantas mendapatkan kekasih yang lebih baik dari pada Hyukjae. “Pertanyaan terakhir.” Hyukjae tak perlu menjawab pertanyaan tak penting Donghae tadi kan?

Do you still loving me?”

DEG! Hyukjae lupa caranya bernapas. Jantungnya berdebar kencang seperti usai lari marathon. Hatinya tanpa rasa malu berteriak “Iya!” Tapi otak Hyukjae menjamin bahwa hal itu tak akan terucap oleh bibir Hyukjae. Tidak akan pernah!

Hyukjae sudah membuat keputusan untuk memilih Kyuhyun. Cukup sudah ia menyakiti Kyuhyun.

I’m still loving you, Lee Hyukjae.” Donghae raih tangan Hyukjae secara perlahan untuk digenggam.

Cukup! Ini sudah keterlaluan. Jangan biarkan Donghae kembali memporak-porandakan hati hancurnya. Hyukjae benci pernyataan cinta yang mengalun dari bibir Donghae. Itu miris dan menyakitkan. Hyukjae berdiri sambil menunjuk pintu. “Lebih baik kau pergi dari hadapanku sekarang juga!”

Donghae pun ikut berdiri. Menantang tatapan tajam Hyukjae. “Aku tidak akan pergi tanpa jawabanmu.”

“Kalau begitu, aku yang akan pergi.”

Hyukjae pergi dari hadapan Donghae dengan perasaan gusar bukan main. Ia banting daun pintu nya tanpa belas kasih. Sang kakak hanya bisa menghela napas pasrah setelah gagal meraih tangan sang adik supaya tetap tinggal. Donghae harus berlapang dada memberikan waktu berfikir lagi untuk Hyukjae.

TBC


Tolong jangan pada sebel sama para chara yang Min Gi bikin nista di sini ya 😥 This is just fan fiction, no more. Everything in here’s pure my wild imagination, unrelated to their (casts) real life.

Min Gi minta maaf lagi soalnya gak bisa bales review buat yang enggak log in… TT^TT

Karena FF ini emang duduk perkaranya gak cuman satu, jadi emang masih agak lama endingnya. Belum lagi kalo saya kena penyakit males ngetik. Min Gi minta dukungannya aja ya semoga bisa nyelesein FF ini dan FF Min Gi yang lainnya. J

Last but not least, Big thanks to: reiasia95, rani gaem 1, haehyuk86, fcukchyeah, akuu, Guest1, lee ikan, yhajewell, love haehyuk, Fitri, Bluerissing, Zhouhee1015, natureHole, nurul p putri, azihaehyuk, Depi haehyuk, isroie106, tarrraaaaa, lyndaariezz, NovaPolariself, cho w lee 794, Polarise437, DeclaJewELF, Guest2, Lee Haerieun, 28 favs and 17 followers.

Maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan. Maaf atas semua dramatisasi yang gagal(?) dan sampai jumpa 😀 *hug & kiss*

Advertisements

9 thoughts on “BROKE THIS PAIN ;; Chapter 7

  1. Anyyeong^^ aku new reader, ikut baca ya chingu hehe
    Oh iya sebelumnya aku minta maaf banget baca dr awl tp baru comment di chap ini, ah jeongmal mianhamnida☹
    Aku,suka banget ffnya, dr awal aku naca greget banget, pas chap 1, aku agak ga ngerti sama intronya, baru setelahnya aku ngerti, agak lelet deh aku loadingnya chingu hehe, mian. Terus pas chap berapa ya aku lupa, sempet deg-degan pas tau hyuk ketemu sama hae, berasa ada di posisinya hyuk gitu. Tp kasian sma kyunya, kenapa sih hyuknya ga bisa pindah ke kyu aja☹
    Overall aku suka banget sama ffnya chingu^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s