BROKE THIS PAIN ;; Chapter 8

Previous chapter:

“Kalau begitu, aku yang akan pergi.”

Hyukjae pergi dari hadapan Donghae dengan perasaan gusar bukan main. Ia banting daun pintu nya tanpa belas kasih. Sang kakak hanya bisa menghela napas pasrah setelah gagal meraih tangan sang adik supaya tetap tinggal. Donghae harus berlapang dada memberikan waktu berfikir lagi untuk Hyukjae.


BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul & Henry/Xian Hua), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved reader. Hope you all enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 8: Mistakes (Partie 2)

Belum ada satu menit sejak Hyukjae menutup pintu apartemennya untuk pergi dari hadapan Donghae namun batin Donghae sudah dipenuhi dengan perasaan cemas. Bayangan Hyukjae yang sedang memasukan beberapa butir obat penenang ke dalam mulut, meneguk alkohol, dan berjalan gontai tak tentu arah di persimpangan berulang kali muncul di kepala Donghae. Ia takut sang adik akan melakukan kegilaan yang sama seperti malam itu.

“Tidak! Itu tidak bisa dibiarkan!”

Tanpa berfikir panjang, Donghae mengganti piama Hyukjae dengan pakaiannya. Ia harus mengikuti kemana Hyukjae pergi, supaya ia bisa mencegah—seandainya—Hyukjae melakukan hal-hal bodoh yang merugikan diri sendiri.

Mengabaikan demam yang menyerangnya, Donghae nekat keluar apartemen Hyukjae sambil berdoa semoga sang adik belum pergi terlalu jauh. Tapi—

“Lee Donghae!”

Bukan waktu yang tepat.

—Donghae memutar bola mata malas. Mengapa di saat seperti ini ia harus mendengar suara menyebalkan Yin He?

Donghae tak berniat menoleh ataupun menghentikan langkah cepatnya, namun panggilan berikutnya mengubah seluruh keputusan Donghae.

“Berhenti, Lee Donghae!”

Bukan suara cempreng khas sang manager yang menerobos masuk ke dalam gendang telinganya, melainkan suara lembut seorang wanita yang hampir satu minggu tidak ia temui. Xian Hua.

Donghae pun berhenti melangkah kemudian berbalik tanpa rasa ragu untuk melihat Xian Hua berlari mendekat.

Wajah Xian Hua terlihat begitu lega. Ia raih wajah Donghae dengan kedua telapak tangannya. “Syukurlah kau tidak—” Kata-katanya terputus, Xian Hua mengerutkan alis ketika merasakan suhu badan Donghae di atas normal. “Kau demam? Apa yang terjadi padamu, Donghae?” tanya Xian Hua dengan wajah panik, sedangkan yang ditanya hanya tersenyum sambil menurunkan tangan Xian Hua dari pipinya. “Apa yang bibi lakukan di sini? Dan kapan bibi sampai di Korea?”

Xian Hua berdecak kesal. Kesabarannya habis seketika. “Kenapa kau mengalihkan pembicaraan? Aku bertanya kenapa bisa badanmu jadi demam begini?”

Donghae bisa melihat seluruh amarah di mata sipit yang berkaca-kaca tersebut. Donghae tidak mengerti mengapa Xian Hua bersikap demikian, hal tersebut berlebihan untuk seorang Xian Hua yang hanya berstatus sebagai tetangga dan partner kerja, bagi Donghae. Meskipun demikian, Donghae tidak punya alasan yang cukup kuat untuk tidak menjawab Xian Hua karena wanita tersebut sudah banyak berjasa untuknya. “Tadi malam aku kehujanan. Hanya itu saja, bibi. Jangan cemas, aku sudah lebih baik sekarang.”

“Hei Lee Donghae,” Yin He tiba-tiba menyela sebelum Xian Hua sempat membuka lagi bibirnya yang terkatup. “Aku melihatmu keluar dari apartemen ini.” Yin He kemudian menunjuk pintu apartemen Hyukjae. Mau tak mau Donghae dan Xian Hua sama-sama menoleh ke pintu, keduanya sama-sama terkejut—meskipun alasan keterkejutan mereka berbeda. “Bukankah kau bilang cincinmu masuk ke sini? Kau sudah mengambil cincin itu? Apartemen ini milik siapa?”

“Itu—”

o0o

Tak ada satu orang tuapun yang tega melihat anaknya menderita. Hal tersebut juga berlaku untuk Hankyung. Sekalipun raut wajahnya terlihat keras dan angkuh, jauh di dasar hatinya Hankyung merupakan pribadi yang penuh dengan sifat belas kasih. Ia ikut menangis dalam hati ketika melihat Hyukjae membenamkan wajahnya di lutut dalam kamar Donghae. Hankyung sangat menyayangi Hyukjae. Hankyung hanya tidak ingin melihat Hyukjae seperti ini—jatuh dalam lubang yang sama seperti Xian Hua karena mencintai seseorang yang tidak seharusnya dicintai. Hankyung berdiri tepat dihadapan Hyukjae, ia ingin merengkuh tubuh kecil sang anak, namun tangannya hanya bisa ia simpan di samping tubuh, tidak bisa digerakan barang sedikitpun. “Kau lihat sendiri kan?” ia palingkan wajahnya ke sembarang arah supaya hatinya tidak akan bertambah sakit ketika melihat wajah tersiksa Hyukjae. “Dia bahkan tidak mau menoleh padamu saat pergi. Dia tidak peduli padamu.”

Hyukjae sedang tidak ingin mendengarkan apapun atau siapapun. Hyukjae tekan kuat-kuat kedua telapak tangannya di telinga.

“Dia tidak mencintaimu, Lee Hyukjae.”

Namun sekeras apapun Hyukjae mencoba, kata-kata Hankyung tetap bisa masuk ke dalam telinga lalu menghujam jantungnya.

“Lee Donghae, kakakmu, tidak mencintaimu, Lee Hyukjae!”

Menyakitkan.

CUKUP!” Hyukjae tak tahan lagi. Ia angkat wajah basah dan mata hampir bengkaknya hingga bertatapan langsung dengan sang ayah. “Hentikan abeoji, kumohon…” ia pegangi dadanya kuat-kuat. Rasa sakit di dalamnya semakin menjadi-jadi. Tak cukupkah hanya Donghae yang merobek-robek hatinya malam ini? Mengapa Hankyung ikut menuangkan air garam di atas sobekan hatinya?

Melihat keadaan Hyukjae yang amat memilukan, Hankyung jadi tak tega untuk meneruskan kata-katanya. Ia hanya bisa diam saat Hyukjae berlari meninggalkannya dalam kamar Donghae yang hening. Demi Tuhan! Hankyung hanya ingin yang terbaik untuk Hyukjae, itu saja. Meskipun ia tak sadar jika cara yang ia ambil tidak tepat dan malah membuat semua pihak menderita.

o0o

Karena mencintai Donghae, Hyukjae terjatuh sangat dalam dan hatinya terluka. Mencintai Donghae, sang kakak, adalah kesalahan terbesar yang pernah Hyukjae perbuat. Namun, Hyukjae tidak memungkiri jika kesalahan tersebut juga merupakan hal terindah yang pernah ia miliki selama napasnya berhembus.

‘Cukup! Keluar!’

Hyukjae mengaduk teh melati di depannya dengan napas memburu. Ia ingin melupakan Donghae, ia ingin mengusir Donghae dari dalam pikirannya. Kali ini harus bisa. Tak peduli bagaimanapun caranya.

“Tak bisa Hyukkie. Kau tidak akan berhasil.”

Hyukjae mendekatkan cangkir pada bibirnya dengan mata memicing lurus ke depan. Sedikit tidak suka dengan ucapan sosok manis yang sedang menikmati semangkuk cereal tepat di hadapannya. “Katakan, mengapa demikian.”

Kim Junsu—teman bicara Hyukjae saat ini sekaligus sahabat baik Hyukjae sejak kecil—menatap Hyukjae sambil mengunyah cereal, sendok yang ia pegang mengacung tepat di depan hidung Hyukjae. “Karena kau masih mencintainya.”

Senyuman miring penuh cemooh Hyukjae tunjukkan untuk sang sahabat setelah ia meletakan kembali cangkirnya. “Aku tidak mencintainya. Aku membencinya.”

Giliran Junsu yang kini tersenyum miring penuh cemooh pada Hyukjae. “Jika kau membencinya, saat ini kau tidak akan berada di depanku dengan hati bimbang dan pikiran kacau begitu, Lee Hyukjae.”

Skak mat!

Hyukjae tidak bisa membalas. Ia terdiam dengan perasaan kesal bukan main. Bukan kepada Junsu, melainkan pada dirinya sendiri. Hyukjae harus mengakui bahwa perkataan sang sahabat tidak ada salahnya. Jika Hyukjae memang membenci ataupun tidak lagi memiliki perasaan untuk Donghae, seharusnya ia bertahan di apartemen dan menghadapi Donghae tanpa rasa bimbang maupun takut. Harusnya Hyukjae tetap berdiri tegak di tempatnya seusai mendengar pengakuan Donghae tentang perasaannya, bukan malah mencoba untuk mengusir Donghae dan pergi begitu saja dari apartemennya sendiri.

“Bukan hanya itu saja alasan kau tidak akan bisa menyingkirkan apapun tentang Lee Donghae dari pikiranmu.”

Hyukjae menumpukan kedua sikunya di atas meja, ia menunduk dan menutupi telinganya dengan telapak tangan. Hyukjae tidak ingin mendengarkan perkataan Junsu lebih banyak lagi. Hal tersebut hanya akan membuat dirinya semakin bimbang dan kacau. Tujuan Hyukjae datang kepada Junsu adalah untuk menenangkan pikiran, bukan malah di sidang habis-habisan seperti ini.

“Dia kakakmu. Kalian terikat dalam satu ikatan yang sulit untuk dilepaskan—”

“Persetan dengan persaudaraan!” Hyukjae sudah tidak tahan, secepatnya ia berdiri dari tempat duduk. Hyukjae bisa gila jika terus mendengarkan Junsu merinci satu-persatu fakta mengapa dirinya tidak bisa mengusir sang kakak dari dalam hati dan pikirannya. Sekalipun Hyukjae memang masih menyimpan perasaan untuk Donghae, Hyukjae tidak akan memupuk perasaan tersebut supaya subur kembali. Hyukjae akan coba menghancurkannya sekali lagi. Ia pasti bisa. Hyukjae tidak mau jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ia tidak boleh menambah dosanya lagi dengan memelihara perasaannya pada sang kakak. “Aku pasti bisa melupakannya.”

TBC


TBC dulu ya, waktu saya benar2 sedikit. Tapi saya akan ttp berusaha ngeluangin buat nyelesaiin ff saya. Buat sementara saya akan fokus d ff ini, yang lain saya pending dulu. Mohon maaf sebesar2nya. *bow* maaf juga klo ceritanya tambah ngawur kemana2 TTnTT serius ini masih panjang. Last, maaf belum bisa bales review satu-satu… *nangis gelundungan*

Thanks to: Riaa, Nishikadoyukito, yu chan, erszone, dan semua teman2 d ffn

Makasih banyak buat kalian semua. Love U ALL :*

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s