BROKE THIS PAIN ;; Chapter 9

“Persetan dengan persaudaraan!” Hyukjae sudah tidak tahan, secepatnya ia berdiri dari tempat duduk. Hyukjae bisa gila jika terus mendengarkan Junsu merinci satu-persatu fakta mengapa dirinya tidak bisa mengusir sang kakak dari dalam hati dan pikirannya. Sekalipun Hyukjae memang masih menyimpan perasaan untuk Donghae, Hyukjae tidak akan memupuk perasaan tersebut supaya subur kembali. Hyukjae akan coba menghancurkannya sekali lagi. Ia pasti bisa. Hyukjae tidak mau jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ia tidak boleh menambah dosanya lagi dengan memelihara perasaannya pada sang kakak. “Aku pasti bisa melupakannya.”


BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul & Henry/Xian Hua), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved reader. Hope you all enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 9: Concern

Hal pertama yang Donghae lihat ketika membuka mata adalah jam digital di atas meja nakas. Pukul 06:11. Terakhir kali ia melihat jam adalah pukul sepuluh pagi. Waktu tidak mungkin berjalan mundur, jika demikian maka Donghae tidak akan terbangun di ranjang kamarnya melainkan  di ranjang Hyukjae. Donghae memijat keningnya meskipun kepalanya tidak terasa sakit, mengingat kembali apa yang membuatnya jadi seperti beruang kutub.

“Minum ini setelah makan.”

“Obat itu…”

Oh! Tentu saja. Obat flu dengan dosis tinggi yang diberikan Hyukjae padanya, sudah pasti menjadi sumber rasa kantuknya.

Donghae sibak selimutnya kemudian berjalan menuju tirai, membukanya lebar-lebar. Sinar matahari pagi yang lembut menyapanya. Badan Donghae bergerak melakukan peregangan ringan. Meskipun badannya terasa kaku dan sakit di sana-sini karena kebanyakan tidur tapi tubuhnya terasa ringan, kepalanya sudah tidak pusing dan pengar di pangakal hidungnya sudah hilang.

Luar bisaa.

Obat yang diberikan Hyukjae sungguh manjur, sayangnya efek yang ditimbulkan cukup mengerikan. Donghae bersyukur tak ada hal pernting yang harus ia lakukan kemarin.

Berbicara tentang hal penting, Donghae tiba-tiba teringat Hyukjae yang kebur dari apartemen sendiri hanya untuk menghindari pertanyaannya. Sang adik tak mampu memberikan jawaban, bukankah itu berarti Donghae masih memiliki tempat istimewa dalam hati Hyukjae.

Tanpa sadar Donghae tersenyum sambil berjalan menuju pintu, melenggang keluar dan berbelok menuju dapur. Di sana, ia menemukan Xian Hua berdiri di depan kompor, menuang semangkuk sayuran dan bumbu ke dalam panci. Suasana hati Donghae semakin baik terlebih saat wanita tersebut menyadari kehadirannya.

“Selamat pagi Donghae.” Xian Hua memberikan senyuman termanisnya

Sang anak balas tersenyum. “Selamat pagi juga, bibi. Aku kira bibi sudah pergi.”

Tidak mungkin. Xian Hua tidak mungkin tega meninggalkan sang anak terlebih Donghae tertidur sepanjang hari. Ia bahkan memanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaan Donghae, namun sang dokter hanya tersenyum dan dengan sabar menerangkan pada Xian Hua bahwa Donghae hanya terkena efek obat. “Bagaimana kondisimu? sudah lebih baik?”

Donghae mengangguk. “Berkat obat flu yang diberikan Hyukjae.”

“Syukurlah.” Xian Hua mengambil sebuah cangkir dari lemari penyimpanan. “Kopi hitam?”

Donghae tersenyum sampai deretan gigi rapinya terlihat. “Bibi selalu tau apa yang aku inginkan.”

Tentu saja. Tak ada satupun kebisaaan Donghae yang Xian Hua lupakan. Ia mempelajari segalanya tentang Donghae, ia ingin menebus semua kesalahannya pada Donghae dengan cara menjadi teman yang baik, ia ingin Donghae bahagia bagaimanapun caranya.

Xian Hua mengangkat teko berisi air mendidih dari atas kompor, menuang isinya ke dalam cangkir yang sudah diberi bubuk kopi dan gula.

“Oh iya, apa semalam Hyukjae pulang?”

Xian Hua mengangguk. “Ia pulang cukup larut dalam keadaan mabuk.”

Donghae memijat pelipis sambil memikirkan cara untuk membuat Hyukjae berhenti minum. Sang adik tidak bisa dibiarkan seperti itu.

“Selamat pagi~” Donghae dan Xian Hua menoleh ke arah Yin He, keduanya sama-sama tersenyum melihat pemuda tersebut berjalan sambil mengucek matanya.

“Selamat pagi, Yin He.” Hanya Xian Hua yang menjawab sapaan tersebut karena Donghae tak pernah peduli dengan hal-hal semacam itu. “Kau mau kubuatkan kopi atau teh?”

Yang ditanya sedang menyamankan kepala di atas meja makan, setelah itu mulai mengutak-atik tabletnya. “Terima kasih bibi, tapi aku sedang tidak ingin minum apapun.”

Xian Hua menggelengkan kepala beberapa kali sebelum berkutat lagi dengan masakannya.

Diam-diam Donghae memperhatikan apa yang dibuka Yin He, sebuah situs jejaring sosial. Karena jarak mereka tidak terlalu jauh, Donghae bisa membaca dengan jelas apa saja yang tertera di layar tablet Yin He. Sebuah gambar beserta caption-nya membuat Donghae amat tertarik, bahkan mata Yin He langsung terbuka lebar.

Setelah tertegun sejenak, Yin He mulai berkomentar. “Ini sudah sangat jelas. Gambar itu bukan hasil rekayasa. Aku yakin pria yang sedang bercumbu ini adalah Cho Kyuhyun.”

Donghae raih gadget Yin He supaya bisa mengamati dua objek dalam foto tersebut dengan seksama sebelum akhirnya mengangguk membenarkan. Tapi, ada satu hal yang tidak Donghae mengerti di sini. Donghae tak bisa menemukan ciri-ciri khusus apapun yang bisa membuat otaknya menyimpulkan orang yang diajak bercumbu adalah sang adik, dia justru menemukan sebuah gelang yang sama persis dengan milik Sungmin. Raut wajahnya dipenuhi kebingungan, entah harus bahagia ataukan marah saat ini. Donghae tidak mengerti.

o0o

“Pergilah ke ruang latihan dulu, aku akan menyusul.”

Setelah menepuk pundak Yin He sebanyak dua kali, Donghae melenggang pergi, tak mau pusing memikirkan protes yang dilontarkan Yin He. Ia masuk ke dalam lift dan menekan angka 3, tempat dimana ia bisa menemukan Hyukjae.

Ketika pintu lift terbuka, Donghae melangkah keluar, hanya kesunyian yang menyapa. Kebanyakan pegawai dan para trainee sedang beraktivitas di lantai lain. Ia berjalan lurus hingga tiba di depan ruang latihan tujuh, pintunya tidak tertutup rapat sehingga Donghae bisa melihat sedikit ke dalam dan mendengar percakapannya.

“Aku tidak menghianatimu.”

Perasaan Donghae jadi tak enak ketika suara Kyuhyun menyapa telinganya. Ia pegang handle pintu dan mendorongnya, tak terlalu lebar, hanya cukup untuk memperlihatkan wajahnya yang cemas dan melihat Kyuhyun sedang memeluk Hyukjae erat-erat. Keduanya tak menyadari kehadiran Donghae ataupun api amarah yang mulai berkobar dalam hati Donghae.

“Kau tau hatiku hanya milikmu kan?”

Topik perbincangan mereka pasti tak jauh dari foto Kyuhyun yang sedang beredar di internet.

“Tolong maafkan aku jika hal itu membuat hatimu hancur.”

Donghae bisa melihat sang adik mengangguk tanpa mengatakan apapun, artinya….

Sudah cukup!

Donghae hampir meninju tembok karena tak mampu lagi menahan amarahnya. Atas dasar apapun Hyukjae sudah berlaku kejam padanya. Lima tahun yang lalu ia melakukan kesalahan dengan meninggalkan Hyukjae, tapi ia melakukan hal itu supaya Hyukjae bisa kembali mengejar mimpinya, Donghae tak pernah berfikir untuk mencari pengganti Hyukjae dalam hatinya, bahkan perasaannya tak pernah berubah sedikitpun pada Hyukjae. Donghae mengakui kalau caranya pergi amatlah menyakitkan. Sampai detik inipun ia masih menyesali kejahatannya itu dan terus merasa bersalah. Ia bisa berlapang dada apabila Hyukjae belum mau memberikan maaf padanya.

Tapi, bagaimana dengan Kyuhyun? Ia melakukan sesuatu yang lebih menyakitkan, bercumbu di depan umum sampai tertangkap kamera dan menghebohkan seluruh pengguna internet, seolah Hyukjae tak memiliki status apapun di hatinya. Lalu lihatlah Hyukjae yang dengan mudah bisa memberikan maaf pada Kyuhyun.

Itu tidak adil!

Sebelum emosi Donghae meluap dan tak terkendali, Yin He menyeret paksa Donghae untuk menjauhi tempat tersebut, berjalan secepat yang ia bisa dan tidak memberikan kesempatan protes pada sang bintang.

o0o

Donghae bukanlah bintang yang populer karena suara buruk. Sebaliknya, suaranya amat merdu, cukup untuk membuat para penggemarnya melayang apabila dia menyanyikan lagu romantis dan menangis ketika mendengar lagu sendu. Di tahun pertama debut, Donghae bahkan mendapat penghargaan sebagai pendatang sekaligus soloist pria terbaik, dan sampai saat ini semua album ataupun singlenya tak pernah absen dari penghargaan.

Tapi tidak untuk saat ini.

Donghae benar-benar buruk. Satu nada saja Donghae tak bisa melantunkannya dengan benar. Semua penghargaan yang pernah ia terima seolah tak berarti. Kim Jongwoon selaku pelatih vokal sampai merasa sedikit kesal dan heran. “Laaaa~” Ia kembali memberikan contoh, namun Donghae tak kunjung menyuarakan nada yang sama. Semuanya kacau.

Tidak bisa dilanjutkan lagi.

Jelas suasana hati Donghae sedang buruk, jika terus dipaksa, hanya akan membuang waktu, sedangkan ia masih perlu mendengarkan suara partisipan yang lain. Jongwoon angkat tangan, menyerah. “Pergilah ke ruang latihan tujuh, kau juga perlu melatih kemapuan tarimu.”

Mendengar hal itu, Donghae terlihat makin tidak bersemangat. Ruang latihan tujuh berarti ruangan Hyukjae, Donghae sedang tidak ingin melihat Hyukjae—untuk sementara waktu sampai ia bisa meredam amarahnya. Donghae juga tidak ingin berada di gedung MCent untuk alasan apapun. Ia ambil jaketnya kemudian keluar ruangan dengan langkah lebar.

Semua orang termasuk Yin He berfikir, ia pergi ke ruang tujuh untuk berlatih, tapi di dalam lift, Donghae menekan huruf B.

Benda kotak tersebut berhenti lalu terbuka, Donghae segera disambut deretan mobil yang tertata rapi di hadapanya. Ia berjalan ke samping kiri kemudian berbelok setelah melewati mobil ke tiga.

“Menunduk!”

Donghae berhenti melangkah sambil menoleh ke samping kanan, arah datangnya suara tersebut.

DORR!!

Terlambat.

Donghae membungkuk sambil memegangi lengan kanannya, telapak tangan kirinya berlumuran darah, rasa nyeri mulai muncul dan menguat di lengannya. Ia meringis sambil mengedarkan pandangan, namun tidak menemukan siapapun dengan senapan di tangan, bahkan petugas keamanan juga tak terlihat. Di tempat itu hanya ada Hyukjae yang sedang berlari mendekat, ikut berjongkok kemudian memeriksa lukanya.

“Kenapa kau malah menoleh? Aku menyuruhmu menunduk kan?”

Seandainya Donghae tau ada seseorang yang menargetkan dirinya, ia pasti menunduk tanpa diminta. Salahkanlah ketidak tahuan Donghae.

“Dimana orang itu?”

Hyukjae menunjuk pintu keluar lebar yang jauh di sana. “Sudah pergi, mungkin dia mengira sudah menembakmu di tempat yang benar.” Ia pegang lengan sang kakak yang tidak terluka kemudian membantunya berdiri. “Akan kuantar ke rumah sakit.”

“Tidak perlu!”

“Diamlah!”

Ada perasaan cemas luar biasa bercampur ketakutan yang terlihat di mata Hyukjae. Donghae bisa melihatnya, bahkan merasakannya dalam sentuhan tangan yang terkasih, namun haruskah Donghae bahagia atas semua ini? Hatinya masih diselimuti rasa iri, diberi perhatian saja belum cukup untuk Donghae.

o0o

Hyukjae meremas kertas putih yang setengahnya berisi deretan not angka. Matanya melirik tajam layar tv yang sedang menampilkan sang kakak, rapi dan mempesona seperti bisaa, tapi di situlah letak masalahnya. Semakin tampan akan semakin banyak orang yang terpikat. Itu menjengkelkan.

Di sana Donghae sedang berbicara panjang lebar mengenai ketidak benaran gosip yang beredar antara dirinya dan Xian Hua. Donghae menjelaskan bahwa hubungan dirinya dan Xian Hua tak lebih dari sekedar partner kerja. Mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk menciptakan kombinasi bait dan ritme yang sempurna, bukan berarti mereka melakukan hal lain yang tidak sepantasnya dilakukan, mereka bahkan tidak benar-benar berdua saja karena Yin He selalu bersama Donghae. Para wartawan saja yang keterlaluan, suka membesar-besarkan masalah.

Meskipun sudah mendengar penjelasan tersebut berulang kali dalam tiga hari, Hyukjae tetap tak puas. Ia bisa melihat hal lain dalam hubungan tersebut, tapi tidak bisa memberikan kesimpulan yang benar. Dalam sebuah video kebersamaan Donghae dan Xian Hua—diambil dari sebuah acara penghargaan yang sering di putar sejak skandal tersebut muncul, Hyukjae melihat ada kasih sayang berlebih dan rasa bangga yang terpancar dari mata Xian Hua ketika wanita tersebut memandangi sang kakak. Hyukjae tak mengerti mengapa semua itu terjadi, yang jelas itu sangat mengganggunya.

“Demi Tuhan! Apa mereka tidak bosan menonton berita basi itu lagi?”

Hyukjae mengalihkan perhatiannya pada Junsu yang kini duduk di hadapannya sambil menggerutu tak jelas. “Dari mana saja? Aku menunggumu dari tadi?”

Junsu tak langsung menjawab, ia raih sumpit dalam nampan Hyukjae lalu mengambil irisan daging menu makan siang Hyukjae, memasukannya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan wajah damai. “Aku berada di antara surga dan neraka.”

Hyukjae menaikan sebelah alisnya. Sungguh! Ia tak mengerti.

“Aish, lupakan itu! Bagaimana tugas aransemenmu?”

Oh, benar. Beberapa saat yang lalu Hyukjae sedang mengaransemen sebuah lagu. Ia lirik kertas dalam genggamannya sebelum melempar gumpalan putih ringan tersebut ke dalam tempat sampah. “Aku belum menemukan inspirasi.”

Junsu mengembalikan sumpit Hyukjae di atas nampan, kemudian sibuk mengaduk isi tasnya. “Well, jika inspirasi yang menjadi masalah,” Ia letakan dua buah tiket drama musikal di samping nampan makan siang sang sahabat. “Kau tinggal memanfaatkan waktu luangmu untuk mencarinya kan?”

Hyukjae memperhatikan tiket tersebut kemudian beralih pada Junsu. Ajakan kencan secara tidak langsung? Tapi drama musikal bukanlah hobi Junsu, jadi Hyukjae berfikir pasti ada orang lain. Ia gerakan kepalanya ke kiri, saat itu pula ia melihat seorang lelaki berpakaian rapi berdiri di luar pintu kantin sambil menyimpan tangannya ke dalam saku celana. Dia adalah Cho Kyuhyun wakil direktur MCent yang sudah sering mengajaknya berkencan, namun selalu gagal karena Hyukjae menolaknya dengan segala cara dan ribuan alasan.

Tapi tidak untuk kali ini.

Hyukjae tersenyum manis pada pria di seberang sana, “Aku punya waktu luang malam ini.” kemudian kembali menghadap sang sahabat.

Seperti sudah menduga hal tersebut, Junsu hanya menghembuskan napas, kembali mengambil sumpit Hyukjae dan memakan jatah sang sahabat. Tak ada antusiasme khusus di mata Hyukjae yang berarti bahwa sang sahabat tidak benar-benar ingin berkencan, hanya ingin mencari pengalih pikirannya dari Donghae. Hyukjae mungkin tau hal itu sia-sia saja, karena Lee Donghae tak akan bisa luput dari pikirannya, sekalipun di alam mimpi.

Junsu jadi tidak enak hati pada Kyuhyun. Hatinya resah. Sudah Junsu katakana sebelumnya bahwa ia berada di antara surga dan neraka. Ia bisa mengirim Hyukjae ke surga yang penuh kebahagiaan meskipun sesaat, dan ia bisa menjatuhkan Kyuhyun dengan mudah dalam neraka harapan yang tidak berujung.

o0o

Isi kantong tersebut sudah sama persis dengan catatan kecil yang diberikan seorang dokter. Hyukjae membungkuk sambil mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan counter. Ia hampiri Donghae yang sedang duduk di kursi tunggu. Wajah sang kakak terlihat datar tanpa adanya sedikit rasa ingin tahu, padahal beberapa saat yang lalu nyawanya hampir melayang. Apakah sang kakak tak ingin tau siapa orang yang membuatnya celaka? Hyukjae bahkan lebih antusias dengan hal itu.

Perlahan Hyukjae menarik lengan Donghae yang tidak sakit hingga sang kakak berdiri sempurna meskipun satu lengan bajunya telah dilenyapkan oleh dokter guna mempermudah pengobatan.

Tak masalah, Donghae tetap tampan meskipun memakai pakaian seperti itu.

“Seharusnya kau istirahat di sini satu atau dua hari.”

“Ada konferensi pers besok, aku tidak mau mencari masalah dengan pimpinan MCent yang menyebalkan.”

“Dia tidak seburuk yang kau pikirkan.”

Hyukjae tersenyum, ia mengamit tangan Donghae sambil berjalan pelan menuju pintu keluar.

Ayolah, mengapa di saat seperti ini Hyukjae malah menunjukan kepeduliannya yang besar pada Donghae, seperti seorang kekasih yang penuh perhatian, atau seseorang yang sudah selayaknya peduli pada saudaranya sendiri?

Hati Donghae kembali gusar. Ia hentikan langkahnya lalu melirik tangan sang adik di lengannya. Untuk situasi lain Donghae pasti merasa sangat bahagia. “Kakiku baik-baik saja, aku bisa berjalan tanpa dituntun.”

Hyukjae segera menjauhkan diri dari Donghae. Sikap sang kakak sungguh menyebalkan. Tapi benar, untuk apa Hyukjae sampai menuntun Donghae berjalan? Hyukjae kembali berjalan, meninggalkan Donghae dengan langkah menghentak, seperti kebisaaannya saat kesal waktu kecil.

Tanpa sadar Donghae tersenyum. Apapun yang ada dalam hatinya untuk Hyukjae tak pernah berubah. Ia bisa marah namun Hyukjae bisa membuatnya melupakan kekesalannya dengan mudah. Ia ikuti langkah sang adik sambil sesekali meringis menahan sakit di lengannya.

Sebuah taxi berhenti di depan lobi, Hyukjae segera masuk dan menyamankan diri. Donghae hanya diam mengamati di depan pintu.

“Apa lagi yang kau tunggu? Aku lelah dan ingin segera istirahat.”

Donghae menaikan alis. Beberapa saat yang lalu Hyukjae berjalan pelan dan tenang di sisinya, seolah sang adik tak keberatan menghabiskan malam dengan cara seperti itu bersamanya.

Mungkin bukan fisik yang lelah, melainkan hati Hyukjae, sama seperti hatinya yang lelah dipermainkan oleh takdir.

o0o

Mata Yin He membelalak ketika melihat Donghae pulang. Ia hampiri sang bintang kemudian menunjuk bagian lengan Donghae yang terbalut perban. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Donghae hanya diam, melepas jaket dan kemejanya yang sudah pasti tidak bisa dipakai lagi lalu melemparnya ke tempat sampah.

“Jika kau tidak mau bicara, aku akan minta paman Zhoumi dan bibi Xian Hua untuk menanyaimu.”

Sang bintang diam di tempat sambil melirik kesal sang manajer. “Ada yang mau membunuhku.”

“Di Korea? Kapan dan di mana kejadiannya?” Rasanya tak masuk akal bagi Yin He. Donghae baru saja sampai di Korea, belum membuat masalah dengan siapapun kecuali Kyuhyun. Itupun belum mencapai level serius. Mungkinkah karena kewarganegaraan Donghae yang berpindah? “Oh! Mungkin orang itu tidak menyukai kau yang berpindah kewarganegaraan. Sebagian orang berfikir kewarganegaraan sama dengan keyakinan pada Tuhan kan?”

“Jangan konyol! Tidak ada yang seperti itu di sini!”

“Kau tidak akan tau isi hati seseorang!”

Semua orang mungkin. Tapi Hyukjae? Donghae rasa ia tau isi hati sang adik, meskipun sedikit membingungkan.

“Oh ya, siapa yang membawamu ke rumah sakit? Dompet dan ponselmu ada padaku.”

Donghae tersenyum samar ketika bayangan sang adik yang sedang panik kembali diputar oleh otaknya. “Hyukjae.” Ia pun melangkah masuk ke dalam kamar.

Ketika Yin He masih sibuk memproses seluruh perkataan Donghae, ponselnya berbunyi, ia melihat nama Zhoumi di sana. Yin He segera keluar, karena jika Donghae melihatnya berbicara lewat telepon dengan Zhoumi, sang bintang tidak akan suka. “Yeobosaeyo?”

“Donghae baik-baik saja kan?”

Berita sungguh cepat menyebar. “Dia tertembak di lengan. Tapi dia baik-baik saja.”

“Dengarkan aku Yin He, kau harus mengawasinya lebih ketat.”

“Paman tau siapa yang mencelakai Donghae?”

“Pelakunya sama.”

Yin He menganga. “Artinya nyonya yang melakukannya?”

“Yang terpenting terus awasi Donghae, jangan biarkan dia luput dari pengawasanmu, mengerti?”

“Ba-Baik paman, akan kulakukan yang terbaik.”

Yin He menutup sambunganya lalu berjalan menuju pintu.

“Tunggu!”

Oh, tidak!

Yin He membatu di tempat untuk beberapa detik. Ia menoleh dan mendapati Hyukjae berdiri di sampingnya. Cukup dekat untuk mendengar semua percakapannya di telepon, jika Hyukjae memang sudah sejak tadi ada di sana. Yin He paksakan wajahnya untuk tersenyum. “Ada yang bisa ku bantu?”

“Paksa dia makan dan berikan ini padanya.” Hyukjae menyodorkan kantung berisi obat Donghae.

Yin He mrnerima kantong tersebut tanpa ragu, sedangkan hatinya berdebar tak menentu. “Aku akan memesan makanan untuknya. Apakah kau mau bergabung?”

Hyukjae menggeleng, tak ada senyuman di wajahnya. Hati Yin He makin tak tenang. “Baiklah, apa ada hal lain yang kau perlukan?”

“Berapa kali kakak mendapat ancamam seperti ini?”

Ini dia. Sudah pasti Hyukjae ada di dekatnya sejak tadi. Bagaimana mungkin Yin He seceroboh ini?

Yin He menutup mata sambil berfikir, tak ada ruginya Hyukjae tau semuanya. Tapi dia bisa celaka di tangan Zhoumi atau mungkin di tangan Hankyung jika berani membongkar semuanya.

“Tolong katakan padaku.”

“Di Korea, ini yang pertama.”

“Di Taiwan?”

“Dua kali. Yang pertama ia hampir di tabrak truk, lalu ke dua ia hampir mati karena menghirup asap beracun di dalam van. Semuanya bukan murni kecelakaan.”

Hyukjae seperti berhenti bernapas. “Siapa yang—”

“Nyonya Fei. Istri tuan Zoumi. Dia sangat membenci Donghae.”

Sudah cukup, Hyukjae tidak boleh tau lebih banyak lagi. Yin He membunguk, mengucapkan selamat malam dan masuk ke dalam apartemen, meninggalkan Hyukjae yang tidak mampu menggerakan badannya. Apa salah sang kakak hingga menerima kebencian sebesar itu?

TBC


*deep bow

Neomu-neomu mianhae karena nelantarin ff ini dua tahun. Banyak hal yang bikin Min Gi susah nyari waktu buat maen ke ffn ini. Tapi Min Gi akan usahain buat nyelesaiin semua FF Min Gi.

Buat kalian semua yang ngasih dukungan ke Min Gi, Min Gi ucapin banyak terima kasih, Saya bukan apa2 tanpa kalian. *peluk cium satu2

Special thanks to: everyone who gave me support.

I know it’s too late, i love you all. thaks for everything

Advertisements

2 thoughts on “BROKE THIS PAIN ;; Chapter 9

  1. gemesh sama hyuknya, semoha kyu kecantol ming jadi hyuk bisa putus dari kyu
    .
    .
    istrinya zhoumi bukannya xian hua ya thor ? terus kenapa istrinya zhoumi ngincar donghae n pengin ngebunuh segala ?
    .
    .
    semoga haehyuk bersatu

    • Jadi istrinya Zhoumi di sini ada dua. *tolong jangan ditampol*
      Xian Hua istri keduanya.
      Masalah kenapa Hae dijahatin gitu ama Fei sebenernya cukup umum kok. heheheee, udah aku selipin beberapa di chap 10.
      Makasih udah mau mampir di sini ya ^^ hug

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s