BROKE THIS PAIN ;; Chapter 10

Previous chapter

“Dua kali. Yang pertama ia hampir di tabrak truk, lalu ke dua ia hampir mati karena menghirup asap beracun di dalam van. Semuanya bukan murni kecelakaan.”

Hyukjae seperti berhenti bernapas. “Siapa yang—”

“Nyonya Fei. Istri tuan Zoumi. Dia sangat membenci Donghae.”

Sudah cukup, Hyukjae tidak boleh tau lebih banyak lagi. Yin He membunguk, mengucapkan selamat malam dan masuk ke dalam apartemen, meninggalkan Hyukjae yang tidak mampu menggerakan badannya. Apa salah sang kakak hingga menerima kebencian sebesar itu?


BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul & Henry/Xian Hua), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved reader. Hope you all enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 10: Always

Tidak bisa tidur, gusar, dan cemas.

Hyukjae hanya berguling-guling resah di atas ranjangnya. Saat itu Hyukjae tak berfikir untuk meminum obat tidur seperti biasa karena pikirannya disibukan oleh hal lain, Donghae— selalu. Namun kali ini masalahnya amat berbeda.

Semua yang dikatakan Yin He telah memenuhi kepala Hyukjae, menggema di tiap sudut pikiran dan tak mau keluar dari kepalanya. Memerangkap Hyukjae dalam rasa takut, seperti hantu gentayangan

Ingin rasanya Hyukjae menyambar ponsel lalu menghubungi Donghae guna meminta penjelasan tentang perkataan Yin He, namun ia tak sampai hati. Sang kakak butuh istirahat supaya lukanya lekas pulih. Satu-satunya yang bisa menolongnya hanya Yin He, namun Hyukjae tak mempunyai nomor ponsel pemuda tersebut. Selain itu, Yin He langsung kabur tanpa mau menunggu Hyukjae tersadar dari rasa terkejutnya. Artinya Yin He tidak mau menceritakan semua yang telah terjadi secara mendetail. Lantas, pada siapa Hyukjae menuntut penjelasan?

Internet?

Tidak ada gunanya! Hyukjae sudah coba menjelajah dunia maya untuk mencari sedikit pencerahan tentang Fei, Fei Li, atau siapapun itu namanya. Hasil yang muncul dari pencarian tersebut banyak sekali, namun Hyukjae tak menemukan satupun petunjuk yang mengarah pada nama Fei yang berstatus sebagai menantu keluarga Li, bahkan Hyukjae tak bisa menemukan biodatanya.

Nada singkat terdengar dari ponsel Hyukjae, layarnya berkedip menandakan adanya pesan masuk. Hyukjae raih benda tersebut dari atas nakas. Hal pertama yang dilihat Hyukjae adalah jam digital.

Pukul lima pagi. Kemudian mata Hyukjae berpindah pada bagian jendela yang tidak tertutup tirai.

Masih gelap. Tapi tepi kaca jendelanya sudah berembun tebal.

Cuaca awal musim dingin… jam lima pagi.

Mata Hyukjae membulat ketika sadar bahwa dirinya tidak tidur sepanjang malam gara-gara memikirkan masalah sang kakak. Hyukjae duduk dan membuka pesan yang masuk. Kepalanya sedikit berat efek tidak tidur.

Nama Kyuhyun tertera di bagian atas layar ponsel.

Selamat pagi.
Apa tidurmu nyenyak?

Hyukjae menggerakan jarinya untuk membuat sambungan telepon dengan Kyuhyun. Ada banyak hal yang tiba-tiba muncul dalam kepalannya, menyulut api amarah dalam dada Hyukjae.

Begitu suara bass milik Kyuhyun menyapa, Hyukjae langsung menarik napas. “Selamat pagi juga.”

“Hyukkie. Tolong jangan katakan apapun dulu, kumohon dengarkan aku.”

Ada jeda sejenak, tapi Hyukjae tak mau memanfaatkannya untuk menyela. Hyukjae perkokoh dinding kesabarannya.

“Aku menyesal atas apa yang terjadi pada kakakmu.”

Sepanjang ingatan Hyukjae, dirinya belum menceritakan pada Kyuhyun mengenai Donghae ataupun hubungan yang mereka miliki. Tapi jika dilihat dari kejadian beberapa hari terakhir, bukan hal yang tidak masuk akal kalau Kyuhyun mencari tau sendiri siapa sebenarnya Donghae dan hubungan macam apa yang pernah terjalin di antara mereka..

Hyukjae menghembuskan napas. Setelah Kyuhyun mengetahui semuanya, pria yang memiliki warna rambut seperti madu itu bahkan tidak berfikir untuk menjauhi Hyukjae. Mata hati Kyuhyun yang sudah buta, ataukah dia memang tidak bisa berfikir rasional tentang cinta?

Haruskah Hyukjae senang akan hal itu? Haruskah ia senang karena membuat Kyuhyun tergila-gila padanya?

Kenyataannya Hyukjae tak senang, karena dalam hal itu akan selalu ada perasaan bersalah yang cukup mendalam.

“Aku ingin menghubungimu semalam, setelah aku mengetahui semuanya. Lalu aku berfikir kau sudah tidur, jadi aku menundanya. Aku benar-benar minta maaf.”

“Masalahnya tidak selesai hanya dengan permintaan maaf, Kyu. Aku tidak melihat satupun petugas keamanan, bahkan di posnya. Bagaimana bisa mereka melalaikan kewajiban seperti itu? Lalu bagaimana jika orang gila itu salah sasaran dan mengenai orang lain? Atau malah mengenai dirimu sendiri?” Masih ada banyak sekali hal yang ingin dikatakan Hyukjae, namun ia butuh okesigen, ia hirup udara sebanyak-banyaknya.

Hyukjae menghawatirkan Kyuhyun, terlihat jelas dari sorot matanya, namun prioritas utama untuk protesnya masih tetap Donghae. “Aku tidak mendoakan hal buruk terjadi padamu, Kyu. Sungguh! Tolong jangan salah paham.”

Sekarang Hyukjae terdengar seperti seseorang yang mempunyai kekasih ganda, tertangkap basah sedang mendua dan tidak mau disalahkan atas apa yang sudah terjadi.

“Tolong jangan terlalu mencemaskan hal ini, baby. Semalam aku sudah menyelesaikan masalahnya. Para petugas yang berjaga saat kejadian sudah mendapatkan skorsing. Keamanan di kantor juga sudah ditingkatkan. Aku berjanji hal seperti itu tidak akan terjadi lagi.”

“Sudah seharusnya seperti itu,” kata Hyukjae sambil bernafas lega.

“Terima kasih karena kau mau memarahiku, baby.”

“Aku tidak memarahimu, Kyu.”

Karena merasa gugup, Hyukjae menggigit ujung jari telunjuknya.

“Tak masalah, baby. Saat seseorang marah pada kekasihnya, itu berarti orang tersebut menyayanginya.”

jemari Hyukjae berpindah pada selimut di perut, meremasnya hingga kusut.

Harusnya Hyukjae bisa membenarkan perkataan Kyuhyun, tapi mulutnya bungkam tanda dari ketidak setujuan hatinya yang ramah.

“Sekali lagi aku minta maaf untuk kakakmu.”

Tiba-tiba tenggorokan Hyukjae terasa kering, ia melirik segelas air di atas nakas tapi tidak tergoda, selain itu, kelopak matanya mulai terasa berat. Hyukjae pun turun dari ranjang dan keluar kamar. “Kenapa tidak kau katakan sendiri padanya?”

“Baby, aku…” terdengar hembusan napas berat dari seberang line. “Baiklah, aku akan melakukannya nanti.”

Kobaran emosi dalam dada Hyukjae perlahan menyurut, hatinya jadi menghangat dan lega. Kyuhyun memang pria baik, malahan bisa dibilang murah hati untuk beberapa hal. Pria tersebut selalu bisa membuat Hyukjae merasa bersalah karena menerima kebaikan hatinya.

Hyukjae sampai di dapur, mengisi teko stainless dengan air lalu meletakannya di atas kompor yang menyala. “Apa yang sedang kau lakukan? Harusnya ini masih terlalu pagi untuk bangun, benar?”

“Heem. Aku sedang menyiapkan beberapa dokumen.”

Biasanya yang menyiapkan dokumen adalah sekretaris Kyuhyun, itu pun tidak dilakukan pagi buta. Hyukjae menaikan alisnya. “Apa kau akan keluar kota?”

“Iya, ke Incheon. Ada seorang pengusaha yang tertarik untuk berinvestasi. Beliau tidak punya waktu ke Seoul, jadi aku yang mengalah untuk menemuinya di Incheon.”

“Aku pikir investasi untuk drama musikal sudah lebih dari cukup.”

Hyukjae berjalan menuju lemari penyimpanan barang pecah belah lalu mengeluarkan sebuah cangkir, setelah itu ia berpindah pada lemari penyimpanan makanan kering untuk mengambil bubuk kopi instan.

“Untuk project lain, baby. Ingat saat aku tidak bisa mengantarmu pulang karena direktur Kang?”

Ah, tentu saja. Itu adalah hari di mana Hyukjae kembali dipertemukan dengan seseorang yang bayangannya tidak pernah berhenti menyiksa batin Hyukjae, mantan kekasih Hyukjae, Lee Donghae, kakaknya. Hyukjae jadi cemberut. “Kau diajak membahas sebuah draft.”

“Draft tersebut sekarang sudah jadi sebuah proposal debut artis. Dan jika nanti semuanya berjalan lancar, beberapa trainee yang dulu kau rekomendasikan akan debut awal tahun depan.”

Mata Hyukjae berkedip beberapa kali, mulutnya terbuka dan tertutup sebelum akhirnya berubah menjadi senyuman yang manis. “Itu kabar yang sangat baik, Kyu! Ya Tuhan, aku sangat bahagia.” Hyukjae menutup mulutnya dengan tangan, masih meyakinkan dirinya sendiri bahwa berita yang diberikan Kyuhyun bukanlah mimpi.

“Aku tau ini akan membuatmu bahagia. Tapi baby, tolong jangan memeluk mereka nanti, oke? Kau belum boleh memberi tahu siapapun. Selain itu, aku bisa cemburu.”

Hyukjae tertawa. “Baiklah, aku tidak akan membicarakan hal ini pada siapapun.”

“Terima kasih, baby.”

Bunyi berisik air yang mendidih bersama kepulan asap memadat di samping Hyukjae.

“Baiklah, karena persiapanku sudah selesai, aku akan segera berangkat.”

“Mandi?” Setelah mematikan kompor, Hyukjae angkat tekonya dari atas kompor, lalu menuangkan isinya ke dalam cangkir berisi bubuk kopi instan.

“Aku bisa melakukannya nanti.”

Kyuhyun terkekeh, terdengar penuh dengan rasa bahagia.

“Jorok sekali.” Hyukjae aduk kopinya perlahan. Aroma harum yang khas membuat Hyukjae tak sabar untuk menikmatinya.

Kekehan terdengar dari seberang line, kali ini lebih nyaring. “Tapi aku tampan. Tak akan ada masalah.”

Hyukjae bisa membayangkan Kyuhyun berdiri di depan cermin sambil mengusap rambut madunya atau menggosok dagunya ketika memuji dirinya sendiri dengan rasa bangga. Pastinya sangat tampan, tapi Hyukjae tak tersipu, berbeda saat ia memikirkan Donghae.

Tiba-tiba Hyukjae merasa tak nyaman. “Baiklah, terserah apa kata tuan Cho saja.”

“Akan kututup teleponnya.”

Hyukjae mengangguk. “Oke, hati-hati di jalan.”

“Aku mencintaimu.”

Bibir Hyukjae terbuka, namun kata-kata yang ingin ia ucapkan berhenti di tenggorokan, seolah tak memberikan ijin.

Setelah percakapan panjang lebar mereka yang menyenangkan, harusnya Hyukjae bisa membalas kata itu dengan mudah kan? “Aku… juga.” butuh waktu sepuluh detik hanya untuk mengeluarkan dua kata tersebut. Keterlaluan! Itu bahkan tidak bisa dikatakan sebagai jawaban.

“Sampai jumpa di konferensi. Dan jangan lupa sarapan.”

Dengungan panjang menggantikan suara Kyuhyun, memutus sambungan telepon Hyukjae. Seharusnya ini jadi lebih mudah bagi Hyukjae mengingat ia sudah bertekad untuk membuka hatinya untuk Kyuhyun. Nyatanya sebuah tekad saja belum cukup untuk mengusir Lee Donghae dari dalam hatinya.

o0o

Mengendap, melihat kiri dan kanan, lalu mengintip layar intercom.

Kosong, tak ada gambar siapa-pun dalam layar berukuran 10 inchi tersebut. Yin He menghembuskan napas lega kemudian berbalik.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Yin He terkejut bukan main, ia melompat ke belakang kemudian memegangi dadanya yang berdegup tak karuan. “Sialan kau, Lee Donghae! Kenapa kau mengagetkanku?”

Sebelah mata Donghae memicing heran. Ia yakin tidak berbicara dengan nada yang terlalu tinggi sehingga bisa membuat orang menyimpulkan bahwa ia sedang mengejutkan Yin He. “Aku hanya bertanya.”

Sejak bangun tidur, Yin He terus membayangkan bagaimana kelanjutan kehidupannya setelah Zhoumi atau Xian Hua tahu bahwa dirinya sudah bercerita pada Hyukjae mengenai permasalahan dalam keluarga mereka. Meskipun hanya sedikit, namun jika mereka mengetahuinya dalam suasana yang tidak tepat bisa menjadi malapetaka besar bagi Yin He. Pemuda tersebut mengacak rambutnya, terlihat amat frustasi. “Baiklah, maafkan aku. Aku hanya memeriksa intercom. Beberapa saat yang lalu Hyukjae berdiri di luar, kemudian dia pergi.”

Yin He bukanlah perayu ulung yang pintar berbohong. Nyatanya Hyukjae sudah berdiri sekitar lima belas menit sebelum akhirnya pergi karena tak ada seorang-pun yang keluar dari apartemen. Kenyataan bahwa Hyukjae tidak membunyikan bel seolah menjadi dukungan besar bagi Yin He untuk mengarang indah. Tapi mata Yin He melirik ke sana-sini saat berbicara, hal tersebut sedikit mengganggu Donghae.

“Kenapa tak membukakan pintu jika kau tau dia di luar?” tanya Donghae, sorot matanya menyelidik. “Siapa tau ada yang penting.”

Yin He menunjuk dirinya sendiri, memutar otaknya yang cerdas dengan cepat untuk mendapatkan alasan. “Lihat.” Kemudian ia mencubit kaus dalan warna putih tipis dan boxer yang melekat di badannya. “Tentu saja aku tidak mau dia jatuh hati padaku karena pakaian ini.”

Donghae tertawa geli setengah jengkel. “Omong kosong!”

Dentingan bel membuat Yin He dan Donghae terdiam. Dengan perasaan was-was Yin He kembali melihat intercom, bibirnya merapalkan kata-kata penolakan untuk Hyukjae.

Ketika matanya menangkap gambaran cantik Xian Hua, hatinya merasa lega bukan main. Yin He bergegas membukakan pintu.

Tak ada salam ataupun sapaan ramah, Xian Hua menerobos masuk melewati Yin He dan berhenti tepat di hadapan Donghae. Satu renteng kotak makan di tangannya bergetar ketika melihat perban di lengan kanan sang anak. Air matanya menggenang dan siap tumpah lewat sudut mata. “Kau tau siapa yang melakukan ini? Maksudku, apa kau melihat wajah orang yang memegang senapan?” Jemarinya terangkat, hendak menyentuh perban Donghae namun niatnya diurungkan, jadi jemari lentik Xian Hua hanya menggantung di udara.

“Tidak.” Donghae menggeleng. “Aku bahkan tidak tau dia ada di mana saat menembakku.”

Xian Hua menarik napas guna menenangkan dirinya sendiri. “Baiklah, sepertinya kau perlu seorang bodyguard—”

“Itu tidak perlu, bibi, sungguh!”

Donghae meraih tangan Xian Hua, memegangnya sambil menyembunyikan rasa sakit saat tangannya bergerak. “Itu hanya akan membuatku tak senang sepanjang waktu. Cukup Yin He saja yang menjadi temanku.”

Xian Hua menghembuskan napas putus asa, jika ia bersikukuh atas sarannya, Donghae bisa curiga, kemudian suasananya akan semakin tidak kondusif. Akhirnya Xian Hua memberikan kotak makan yang ia pegang pada Yin He lalu meletakan tangannya di atas tangan Donghae, menepuknya beberapa kali. “Jika itu yang kau inginkan, apa lagi yang bisa kulakukan?” Air matanya jatuh, namun Xian Hua menyekanya sebelum Donghae sadar.

Bahkan perlindungan sederhana saja tidak bisa Xian Hua berikan pada Donghae. Apa dirinya memang tidak pantas menjadi seorang ibu? “Tapi kau benar-benar harus ekstra hati-hati, mengerti?”

Anggukan Donghae membuat Xian Hua tersenyum meskipun kegelisahan masih membungkus rapat hatinya. “Ayo, kau harus sarapan dulu sebelum berangkat ke MCent.” Ia membalik Donghae lalu mendorongnya perlahan menuju meja makan. “Hari ini tidak akan melelahkan. Aku jamin.”

Mereka berhenti di samping meja makan, memperhatikan Yin He yang diam menatap makanan di dalam wadahnya.

“Ada masalah?” Xian Hua bertanya.

“Apa bibi salah makan semalam? Atau bibi masih setengah tidur saat masak?” tanya Yin He. Ia meyodorkan satu kotak makanan berisi irisan daging dengan taburan wijen yang beraroma manis dan kotak satunya berisi potongan telur gulung. Tak ada satu helai sayurpun yang selama ini menjadi ciri khas masakan Xian Hua.

“Zoumi baru memberitahuku mengenai keadaan Donghae, pagi ini. Aku bergegas kesini setelah mandi dan tidak sempat memasak,” jawab Xian Hua seadanya. Ia duduk di kursi dengan anggun, memamerkan senyuman penuh teka-teki di wajah cantiknya yang terlihat lelah. “Menurut kalian, dari mana aku dapat makanan itu?”

“Restoran?” jawab Yin He, Donghae hanya mengangguk, memberi dukungan pada sang manajer.

“Tidak bisakah kalian berimajinasi sedikit?” Xian Hua berdecak. “Aku mendapatkannya di depan. Hyukjae yang meletakan makanan itu di luar sana.”

“Apa?”Donghae dan Yin He sama-sama menautkan alis, hampir meneriakan ketidak percayaan.

“Aku tidak berbohong, tanyakan saja pada Hyukjae ketika kalian bertemu dengannya nanti.”

Betapa bahagianya Xian Hua ketika melihat perubahan pada air muka Donghae, mulai dari terkejut menjadi bingung dan berakhir gembira dengan senyum lebar seperti anak remaja yang sedang kasmaran, konyol sekali.

Akhirnya perasaan sedih dalam hati Xian Hua dapat teralihkan, meskipun hanya sesaat.

o0o

Yang bertugas memberikan keterangan selengkap-lengkapnya tentang proposal debut artis-nya adalah seorang wakil khusus Kyuhyun yang juga mempunyai jabatan sebagai pengacara di perusahaan Kyuhyun, sedangkan sang presiden direktur cukup memperhatikan, sesekali memberikan tambahan penjelasan pada calon investornya jika hal tersebut memang dibutuhkan.

“Maaf membuatmu lama menunggu.”

Kyuhyun tiba-tiba tidak fokus pada rapat kecil-kecilannya. Senyuman di wajah tampannya berubah menjadi seribu tanda tanya. Tiba-tiba ia tergoda untuk tau siapa orang yang mengambil tempat duduk di belakangnya  Ia menengok kebelakang melalui pundaknya. Seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya sedang memberi hormat pada lelaki tua di depannya. Kyuhyun mengenal lelaki tersebut dengan nama Li Jiaheng ayah Zhoumi.

Mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, hanya saja Kyuhyun sering melihat foto dan mendengar cerita kesuksesan Jiaheng dimana-mana, jadi tak mungkin ia salah.

Mereka larut dalam percakapan ringan yang membawa Kyuhyun pada sebuah kesimpulan bahwa lelaki yang duduk beradu punggung dengannya adalah Lee Hankyung, ayah Hyukjae. Dan jika keberuntungan sedang membuka tangannya untuk Kyuhyun, pria paling mengagumkan di Incheon tersebut juga akan menjadi ayahnya.

Kyuhyun memasang telinganya baik-baik, tak mau ketinggalan satu hurufpun dari percakapan dua orang tersebut.

Oh, Kyuhyun sadar betul bahwa perbuatannya amat tidak terpuji, tapi Kyuhyun tak mampu melenyapkan rasa penasarannya, lagi pula, kesempatan mendengar percakapan antara dua orang hebat tidak datang setiap hari.

Kyuhyun mendengar Jiaheng menanyakan kabar perusahaan Hankyung, lalu Hankyung memberikan gambaran betapa pesat perkembangan perusahaannya setelah mendapatkan seorang investor dari negeri sebelah. Topikpun beralih pada istri Hankyung yang kondisinya sedikit menurun beberapa hari terakhir. Dan setelah Jiaheng memilih topik tentang anak-anak Hankyung, suasananya menjadi senyap.

Kyuhyun meneguk kopinya dengan perasaan tidak sabar. Tak salah jika Donghae menjadi kesayangan seluruh ZMent jika faktanya Komisaris dari salah satu perusahaan tambang besar di Cina mengenal baik keluarga Lee Hankyung.

“Sampai detik ini aku masih belum mengerti, mengapa kau mengirim cucuku, Donghae, kepadaku? Apa kau ingin mengembalikannya pada keluargaku? Apa kau sudah tidak sanggup menghidupinya? Aku pikir kau tidak akan membiarkan nama besar ku melekat padanya meskipun kau jatuh miskin dan mengemis ke sana-sini.”

Mata Kyuhyun membulat, ia tidak bodoh. Kyuhyun bisa menyimpulkan dengan benar arti dari tiap kata yang keluar dari mulut Jiaheng.

Donghae… adalah cucu Li Jiaheng? Artinya, sang bintang bukan kakak kandung Hyukjae.

Tenggorokan Kyuhyun mengering seketika.

“Tuan Li, ku mohon. Bukan itu tujuan kita ada di tempat ini.”

“Tentu saja. Itulah tujuanku ke sini. Aku baru mengetahui bahwa Zhoumi punya seorang anak lelaki yang sangat tampan. Aku harus tau semuanya tentang anak itu, cucuku, langsung dari lelaki yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.”

Ada jeda sejenak ketika seorang pelayan datang membawa secangkir kopi untuk Jiaheng dan Hankyung. Kyuhyun jadi bertanya-tanya, mengapa mereka mendiskusikan hal tersebut di tempat umum, terlebih di dekatnya? Apakah mereka sadar siapa yang duduk di dekat mereka?  Apakah mereka sengaja melakukan hal tersebut supaya Kyuhyun tau bagaimana kehidupan mereka? Atau mungkin mereka mengira tempat tersebut sudah cukup aman untuk membicarakan masalah keluarga mereka sebab keduanya berbicara menggunakan bahasa mandarin dengan nada cepat. Beruntunglah Kyuhyun karena bahasa mandarinya cukup baik.

“Tuan Li, bisakah anda menyerahkan harta anda pada orang lain saja? Ku mohon, jangan serahkan setengah harta anda pada Donghae. Anda mempunyai cucu lain yang diakui semua orang. Dia cukup bijak untuk memimpin perusahaan anda. Dengan sedikit arahan dari anda, dia pasti bisa merangkul hati semua karyawan anda.”

“Dia tidak bisa. Cucu perempuanku sudah menikah dan tidak mau kembali ke Taiwan.”

“Dengan mengumumkan bahwa harta anda sebagian akan diberikan pada Donghae, anda secara tidak langsung sudah mencoba untuk membunuh cucu anda untuk yang kedua kalinya.”

Kyuhyun sejajarkan cangkirnya dengan bibir, rasa pahit yang ia kecap tak mampu menandingi pahitnya kenyataan yang baru saja ia ketahui. Bagaimana jika Donghae dan Hyukjae juga mengetahui hal ini? Hyukjae mungkin bisa langsung pergi ke pelukan Donghae tanpa berfikir dua kali. Apa lagi yang lebih pahit daripada hal itu?

Satu-satunya hal yang bisa membuat Kyuhyun tenang saat ini hanyalah Hankyung. Ayah Hyukjae yang membuang Donghae ke Taiwan, artinya Hankyung tidak menyetujui Donghae bersanding dengan Hyukjae.

“Aku mendengar kabar bahwa seseorang sedang mencoba untuk melukai Donghae, kemarin. Kita berdua tau bahwa hal itu merupakan bentuk ketidak setujuan atas keputusan yang anda ambil.”

“Aku tau.”

Suasana menjadi hening sejenak, Kyuhyun mendapat kesempatan ekstra untuk membuat beberapa rencana. Kyuhyun tak bisa diam saja tanpa melakukan apapun setelah mengetahui semua rahasia tersebut.

“Aku pikir selama ini aku sudah berhasil memahami Fei. Nyatanya aku salah dan Zhoumi yang benar. Aku tak memahami apapun tentang menantuku itu.”

Tidak sulit bagi Kyuhyun untuk memahami situasi yang dihadapi Jiaheng. Dirinya pernah dihadapakan pada situasi yang sama, di mana anak lelaki mendapatkan seluruh kekayaan milik orang tuanya sedangkan saudarinya tidak mendapatkan apapun. Hal tersebut sudah pasti akan menimbulkan konflik dari pihak anak perempuan.

“Tuan Li, dengan sangat menyesal aku harus mengatakan bahwa anda tidak bisa menyerahkan sebagian harta anda pada Donghae.”

“Bagaimana jika aku bersikeras?”

“Maka Donghae harus tau terlebih dahulu segala sesuatu yang tidak dia ketahui. Lantas bagaimana cara anda menjelaskan tentang jati diri Donghae? Tentang dia yang hampir meninggal bahkan sebelum dilahirkan? Bagaimana cara anda menjelaskan pada Donghae bahwa kakeknya ikut terlibat dalam rencana pembunuhan tersebut karena tidak mengharapkan keturunan dari hubungan gelap.”

Dentingan benda pecah belah bahkan sampai di telinga Kyuhyun lebih jelas. Salah satu dari mereka pasti merasa kesal bukan main, dan itu jelas bukan Hankyung.

“Kau berbicara dengan lancar seolah kau sendiri tidak punya dosa pada anak itu. Apa kau lupa telah membuatnya terpisah dengan satu-satunya orang yang dia cintai?  Hyukjae, anakmu sendiri.”

“Benar. Tapi meskipun demikian, tuan, bukan aku yang harusnya mengatakan semua itu pada Donghae. Itulah sebabnya aku mengirimkan Donghae pada anda.”

Supaya Donghae tau bahwa dirinya bukan putra seorang Lee Hankyung, kemudian Hankyung bisa mempersatukan Donghae dengan Hyukjae. Semua maksud yang tersirat dari Hankyung bisa Kyuhyun pahami. Hankyung ingin menebus kesalahannya, ia ingin Hyukjae bahagia bersama Donghae.

“Mr. Cho?”

Kyuhyun tersadar akan lamunannya setelah sang wakil menepuk pundaknya, matanya kemudian menatap lurus sang investor, wajahnya dipenuhi rasa tidak sabar yang seolah mengatakan jika Kyuhyun tidak ‘merayu’, usahanya datang ke Incheon akan sia-sia.

o0o

Memberanikan diri, Hyukjae menghampiri Yin He usai makan siang, memintanya bertemu di ruang latihan tujuh. Pemuda tersebut menyetujui.. Jadwal mengajar Hyukjae sudah usai, atas intruksi dari pihak direksi seluruh kegiatan latihan diselesaikan lebih awal untuk persiapan konferensi pers. Tapi bukan Yin He yang datang menemui Hyukjae, Donghaelah orang yang masuk ke dalam ruang latihan tujuh dengan wajah super tenang.

“Apa manajermu tidak memberi tahu bahwa hari ini tak ada latihan tari?”

Donghae berjalan melintasi ruangan, tak memperdulikan Hyukjae sama sekali, merogoh kantung celana untuk mengeluarkan ponsel lalu menyambungkannya dengan pengeras suara. Donghae memilih salah satu lagu dari album keduanya yang berjudul beautiful. Dentingan piano mengalun memenuhi seluruh ruangan.

Hyukjae kemudian mengerti jika Donghae melakukan hal tersebut suapaya suara mereka teredam oleh musik sehingga tak ada satu orang-pun yang bisa menguping di luar sana.

Kaki Donghae menbawa sang pemilik lebih dekat pada Hyukjae.

“Seharusnya kau bersiap untuk acara—”

“Terima kasih.” Donghae menyela. Tangannya disimpan dalam kantung celana, ekspresi wajahnya tidak berubah tapi sorot matanya menegaskan bahwa ia bersungguh-sungguh..

“Untuk apa?” Hyukjae tetap bertanya meskipun sudah tau kemana arah pembicaraan tersebut.

“Karena menolongku, kemarin. Dan untuk makanan tadi pagi.”

“Oh. Tak perlu dipikirkan. Aku adalah adikmu, sudah seharusnya aku menolongmu.”

Alasan sialan!

Donghae ingin sekali memusnahkan kata ‘aku adalah adikmu’ itu dari muka bumi supaya Hyukjae tak lagi mengulang kalimat itu.

Sabar…

Donghae harus tenang dan memutar otak untuk mencari topik perbincangan lain, ia tidak boleh terbawa emosi karena waktu yang ia miliki untuk bersama Hyukjae tidaklah banyak. Akan lebih menjengkelkan jika semua kesempatan tersebut menguap dan hilang bersamaan dengan emosi yang meluap. “Jadi, berapa lama kau menunggu di depan apartemen? Harusnya kau meneleponku. Yin He sialan! Dia tau kau di depan, tapi tidak mau membukakan pintu.”

“Dimana Yin He sekarang?”

Rasa tidak suka diperlihatkan dengan jelas oleh Donghae di wajah tampannya ketika Hyukjae secara terang-terangan memilih untuk menanyakan Yin He dari pada memilih topic lain. “Kenapa kau ingin berbicara dengan Yin He? Dia itu sangat cerewet dan menyebalkan.”

Tapi Yin He mempunyai informasi yang Hyukjae inginksn. Hyukjae tak peduli pada sifat Yin He yang cerewet ataupun hal lainnya. “Kau tidak perlu tau. Kau tidak ada hubungannya dengan hal ini.”

Tentu saja omong kosong! Bahkan Donghaelah satu-satunya alasan Hyukjae ingin menemui dan berbicara dengan Yin He.

“Tapi karena Yin He manajerku, aku jadi berhubungan langsung dengan hal yang kau maksud itu.”

Wajah Hyukjae tertekuk lucu. “Kau terdengar seperti kekasih Yin He yang sangat pessessive.”

Sang kakak berdecak, wajahnya memang terlihat kesal namun tak menyangkal jika hatinya sedang menikmati suasana tersebut. “Tentu saja bukan! Ayolah Hyukkie, berhentilah berfikir yang macam-macam. Tidakkah berbicara denganku sama saja?” Donghae senang sekali melihat Hyukjae yang berwajah kesal.

Sang adik diam dengan bibir mengerucut, serta wajah yang terlihat sedang mempertimbangkan perkataan Donghae. Tiba-tiba merasa perlu menguji kebenaran cerita Yin He tentang sang kakak. Mengingat ia tak menemukan materi apapun tentang Fei di internet, tidak menutup kemungkinan Yin He membohonginya.

“Baiklah.” Hyukjae duduk bersila di atas lantai, disusul Donghae, jarak mereka tak lebih dari dua langkah. “Ceritakan padaku mengenai kejadian kemarin.”

“Kau sudah melihatnya sendiri kan? Haruskah aku mencerikan lagi detailnya?”

“Tidak, bukan itu! Maksudku, apa kau tau siapa yang telah melakukan hal itu padamu? Maksudku, apa kau punya gambaran tentang seseorang yang tidak suka padamu?”

Donghae nampak berfikir sejenak. “Ada seseorang yang amat membenciku, aku juga tidak suka padanya. Tapi dia tidak mungkin melakukan hal itu. Lagipula, aku tidak pernah melakukan hal buruk apapun yang ada diluar kemampuanku untuk membuatnya sakit hati atau semacamnya.”

Betapa lugunya pemikiran tersebut.

“Siapa dia?”

“Fei, istri Zhoumi.”

Hyukjae dapat satu.

“Mungkin kau pernah menyakiti anak atau saudaranya. Seperti berkencan dengan mereka lalu mencampakannya begitu saja.” Raut tak nyaman kembali menghiasi wajah Hyukjae. Sehingga membuat sang kakak tertawa geli.

“Fei dan Zhoumi hanya punya satu anak perempuan dan dia sudah menikah. Dia tinggal di Macau, membantu suaminya mengelola usaha.” Donghae merebahkan dirinya di lantai, menyamankan kepalanya di atas satu tangan yang terlipat. “Yang jelas aku tidak akan memasukannya ke dalam daftar orang yang kucurigai.”

Hyukjae tak bisa menyuarakan ketidak setujuannya pada Donghae, sang kakak bisa protes lalu tidak mau lagi ditanyai.

“Sekarang kau yang terlihat seperti seorang kekasih yang possessive, Hyukkie.”

Well, Hyukjae harus segera mencari pengalih perhatian supaya rona merah tidak muncul dan menyebar dengan cepat di wajahnya. Jika tidak, Hyukjae bisa menjamin sang kakak akan semakin gencar menggodanya.

Tapi tawa Donghae setelahnya membuat hati Hyukjae tiba-tiba dongkol, sangat jelas terlihat bahwa sang kakak cukup terhibur dengan suasana menjengkelkan itu.

“Apakah itu kejadian pertama?”

“Kemarin adalah yang ke tiga.”

Hyukjae dapat dua.

Tawa Donghae menghilang, berganti dengan decakan. “Seharusnya aku dapat sebuah piring cantik kan karena hampir mati sebanyak tiga kali.”

“Jangan konyol!” Hyukjae melempar papan penjepit presensi tepat di dada Donghae. Tak suka dan takut mendengar kata ‘mati’. Sedangkan sang kakak langsung duduk, mengusap dadanya sambil menampilkan deretan giginya tanpa suara.

Bahkan cengirannya saja sungguh menawan—selalu menawan.

Seandainya otaknya memberi ijin, Hyukjae pasti sudah meleleh dibawah kaki Donghae, lalu tunduk pada apapun yang disuarakan sang kakak.

Tidak! Tidak! Dan TIDAK BOLEH! Hyukjae tidak mau tunduk lagi pada pesona Donghae.

“Jadi hanya ini yang ingin kau bicarakan dengan Yin He? Lagi-lagi Donghae berdecak. Ia menunduk, mengamati nama-nama yang tertera dalam presensi di tangannya. “Kau bisa bertanya langsung padaku. Aku kakakmu, jika kau meminta sesuatu pasti akan ku kabulkan.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.”

“Tapi kau pernah mengabaikan permintaanku.”

Donghae tiba-tiba terdiam. Hawa dingin dalam ruangan membuat dadanya sesak seperti dihimpit.

“Kau pernah pergi meninggalkanku meskipun aku sudah memohon padamu.”

Perkataan Hyukjae membuat kenangan buruk itu muncul dan menghantamnya tepat di wajah. Setiap kali teringat Hyukjae yang sedang memohon padanya, Donghae merasa amat buruk, bahkan ia tidak sudi melihat dirinya sendiri ketika bercermin.

“Apa kau belum bisa memaafkanku, Hyukkie?”

Belum, sudah pasti dan sudah jelas.

Sebenarnya tidak sulit untuk mendapatkan maaf dari Hyukjae. Donghae tinggal menceritakan pada Hyukjae bahwa Hankyung terjerat hutang, dan Donghae berkewajiban membantu dan memanfaatkan hal tersebut untuk melakukan sedikit negosiasi.

Tapi hal itu tidak mudah. Donghae sudah mengaduk isi kepalanya untuk mencari kenangan terkejam yang pernah Hankyung tinggalkan untuknya supaya Donghae bisa menggunakannya sebagai alasan untuk mengingkari janji yang pernah ia buat dengan Hankyung. Tapi Donghae tetap tidak mampu meloloskan satu katapun dari bibirnya. Hankyung adalah ayahnya, anggota keluarganya yang berharga.

“Aku bersedia melakukan apapun supaya kau memaafkanku, Hyukkie. Kau tinggal katakan apa yang kau inginkan dan aku akan segera memenuhinya.”

Harusnya Donghae mengatakan hal itu beberapa tahun yang lalu, sebelum ia pergi meninggalkan Hyukjae, atau setidaknya setelah tiba di Taiwan.

Sekarang hal tersebut tidak ada artinya..

Hyukjae hendak mengatakan sesuatu ketika pintu ruangan tersebut terbuka, memperlihatkan Yin He berdiri di ambang pintu dengan wajah ragu. Hyukjae pun menelan kembali seluruh kata yang ingin ia keluarkan..

“Persiapan konferensi pers. Kau harus segera ganti baju, Lee Donghae.”

Sang bintang menghela napas sambil berdiri. Sorot matanya kembali pada Hyukjae namun tidak ada kata yang keluar. Hanya ada penyesalan yang terpancar dari raut wajahnya.

Hyukjae hanya diam sampai Donghae memutuskan untuk pergi menjauh lalu lenyap di balik pintu.

Untuk kedua kalinya Hyukjae ditinggal sendirian dalam sebuah ruangan oleh Donghae, namun kali ini dirinya tidak merasa hancur karena Hyukjae tau kemana dan apa tujuan sang kakak pergi.

Musik dalam ruangan tersebut entah sejak kapan sudah berganti, lebih mendayu namun tetap suara Donghae yang memenuhi ruangan juga hati dan pikirannya. Hyukjae ingat lagu tersebut adalah salah satu lagu Donghae di album pertamanya, My everything.

Hyukjae berdiri, menghampiri ponsel Donghae di atas pemutar musik. Membuka gadget tersebut supaya bisa mematikan musik yang diputar.

Setelah menggeser lock screen, jemari Hyukjae hanya mampu melayang di atas layar.

Betapa sesaknya hati Hyukjae saat melihat dirinya ada dalam album art lagu tersebut, sedang menunduk sambil tersenyum manis sekali. Hyukjae tak ingat kapan foto tersebut diambil, yang jelas itu pasti sebelum Donghae pergi meninggalkannya.

Hati Hyukjae kembali berantakan hanya karena hal-hal kecil yang tidak secara langsung dilakukan oleh Donghae.

TBC


Big thanks to: Sweet dendelion dan teman2 yang berkunjung d akun ffn.

I’m nothing without you. Thankyou so much and I love you all

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s