BROKE THIS PAIN ;; Chapter 11

Previous chapter:

Betapa sesaknya hati Hyukjae saat melihat dirinya ada dalam album art lagu tersebut, sedang menunduk sambil tersenyum manis sekali. Hyukjae tak ingat kapan foto tersebut diambil, yang jelas itu pasti sebelum Donghae pergi meninggalkannya.

Hati Hyukjae kembali berantakan hanya karena hal-hal kecil yang tidak secara langsung dilakukan oleh Donghae.


BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul, Henry/Xian Hua & Ryeowook), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved reader. Hope you enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 11: A reason

Kesialan.

Adalah kata yang tepat untuk diberikan pada sang presiden direktur MCent.

Kyuhyun tak mengerti kenapa, yang jelas semalam ia tak memimpikan apapun atau melakukan hal-hal aneh untuk mengundang kesialan tersebut datang dan menempel pada dirinya sepanjang waktu.

Dimulai saat pagi buta ketika Hyukjae tak membalas kata cintanya dengan benar, kemudian terungkapnya rahasia keluarga Hankyung dan Jiaheng di balik punggungnya yang berpotensi tinggi merusak kedekatannya dengan Hyukjae, di susul dengan kaburnya calon investor karena tidak puas dengan sikap Kyuhyun dalam pertemuan.

Terhitung sudah ada tiga kesialan yang datang secara berturut-turut dalam waktu setengah hari, dan angka tersebut berubah menjadi empat ketika para wartawan dengan penuh keberanian mempertanyakan siapakah pasangan Kyuhyun dalam foto yang beredar luas di media.

“Tuan Cho—”

Ingatkan Kyuhyun untuk memberi pelajaran pada para wartawan biang kerok yang sudah mengungkit skandalnya dalam konferensi.

“—apakah orang tersebut rekan bisnis anda?”

Bukan, tentu saja. Kyuhyun bahkan tidak tau siapa namanya.

“Apakah anda berniat meresmikan hubungan kalian dalam waktu dekat?”

Kyuhyun buka suara. “Seharusnya ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal tersebut. Para tamu musikal kita—”

“Kami rasa, para tamu juga penasaran dengan masalah ini. Tidakkah begitu, Donghae-ssi?”

Keterlaluan! Mengapa wartawan tersebut lancing sekali? Bahkan dia berani memotong perkataan Kyuhyun. Apa para wartawan itu tidak takut? Kyuhyun seorang presiden direktur MCent, bukan selebriti baru naik daun yang tidak tau bagaimana cara mengatasi masalah seperti ini.

Tapi…

Kyuhyun teringat akan sesuatu. Sebelum masuk ke dalam ruang konferensi dirinya mendapat laporan bahwa seluruh stasiun televisi dan surat kabar menolak untuk menghapus seluruh pemberitaan yang berkaitan dengan skandalnya sekalipun sang presiden direktur mau memberikan kompensasi dalam jumlah yang fantastis.

Sudah jelas ada yang menginginkan MCent hancur dengan cara merusak reputasi pimpinannya.

“Jadi, tuan Cho?”

Memberikan jawaban apapun, sampai lusa tiba dirinya akan tetap menjadi topik perbincangan dalam berbagai media.

Kepala Kyuhyun sakit seperti dihujani seribu jarum. Ia membayangkan sebotol anggur ada di depannya. Akan sangat menyenangkan jika Kyuhyun bisa meminum cairan merah tersebut sekarang, sekalipun hanya satu tegukan terlebih ditemani Hyukjae.

“Kami memang memiliki hubungan.”

Mulut para wartawan diam seketika—seperti yang sudah Kyuhyun duga, digantikan dengan helaan napas tertahan. Sebagian buru-buru mencatat pengakuan tersebut, yang lain memilih fokus dengan kamera beresolusi tinggi masing-masing.

Tak ada gunanya mengatakan tidak punya hubungan dengan orang yang ada dalam foto, para wartawan tidak akan berhenti merongrong dirinya, kemudian predikat pemimpin paling tidak bertanggung jawab yang gemar mendatangi tempat hiburan malam dan senang bergonta-ganti pasangan akan tertempel seumur hidup di wajah Kyuhyun, jika ia bersikeras mengaku tidak memiliki hubungan apapun. Bisa dipastikan hal tersebut adalah akhir dari MCent karena tidak akan ada lagi pihak-pihak yang mau bekerja sama berkat image buruk sang presdir.

Dan Kyuhyun juga mencemaskan Hyukjae. Akan seperti apa reaksi sang kekasih ketika melihat acara ini?

Kyuhyun tak sanggup membayangkan.

Lalu reaksi Donghae?

Oh! Kyuhyun benar-benar lupa jika dirinya berada satu meja dengan Donghae, calon kakak ipar angkat yang berpotensi tinggi merebut Hyukjae darinya.

Kyuhyun melirik Donghae di samping kiri, rupanya sang bintang juga sedang melirik dirinya. Ekspresi wajahnya antara girang dan murka. Girang karena menemukan salah satu aib yang bisa digunakan untuk merusak hubungannya dengan Hyukjae, dan murka karena orang seperti Kyuhyun berani menjadikan adik tercintanya sebagai kekasih. Kyuhyun tak tau mana yang lebih dominan, yang jelas keduanya bukan hal yang baik.

Kyuhyun jadi menyesali tiap kata yang keluar dari mulutnya.

Rupanya, seorang presiden direkturpun bisa melakukan kesalahan, dan hal tersebut menjadi kesialan Kyuhyun yang kelima.

o0o

Butuh waktu 10 menit sampai Hyukjae sadar bahwa dirinya tak lagi di alam mimpi. Sambil menguap lebar, Hyukjae menggerakan badannya yang terasa kaku, memutar setengahnya ke kiri lalu ke kanan untuk membuat peregangan.

Jarum pendek jam dinding Hyukjae masih berada di antara angka enam dan tujuh. Artinya masih banyak waktu luang yang bisa ia maanfaatkan sebelum berangkat ke MCent.

Setelah merasa cukup melakukan peregangan, Hyukjae kemudian memperhatikan ruang santainya yang sangat berantakan. Kaleng beer dan soda tergeletak di sekitar kaki meja, beberapa bungkus camilan menyebar di sana-sini. Di bawah meja juga ada satu panci berisi bekas ramen serta alat makan lainnya.

Hyukjae ingat tak hanya dirinya yang bertanggung jawab atas kekacauan tersebut, Junsu juga ikut ambil bagian. Tapi ngomong-ngomong, Hyukjae tak melihat sahabatnya di sekitar situ…

Oh! Jangan katakan Hyukjae telah mengusir Junsu keluar dari apartemen karena mengatakan hal-hal yang berbau omong kosong ataupun penghakiman.

“Aish~”

Hyukjae menggerutu sambil memegangi kepalanya yang terasa pening sekaligus kesal karena tak ingat kekacauan macam apa yang ia buat semalam, yang Hyukjae ingat dengan jelas hanyalah mencari Junsu, lalu pergi dari MCent bahkan sebelum konferensi dimulai dan mengajak sang sahabat menghabiskan sisa hari dengan minum-minum sampai tak sadarkan diri.

“Aku tak menemukan apapun yang bisa digunakan untuk menghilangkan efek alkohol semalam. Bahkan kopi-pun tak ada. Keterlaluan kau Lee Hyukjae!”

Yang merasa dimaki segera menoleh, mengikuti arah jalan Junsu yang malas-malasan. Sebuah handuk ditekan kuat-kuat ke kepalanya. Berisi es? atau air panas? Hyukjae tak yakin. Tapi satu hal yang Hyukjae yakini, ia tak mengusir Junsu.

Betapa leganya Hyukjae sekarang…

Junsu mengenyakan pantatnya pada sofa di samping Hyukjae, menyandarkan punggungnya untuk mencari kenyamanan. “Sialan kau Lee Hyukjae! Kau membuatku minum banyak sekali,” teriak Junsu sambil memperkuat tekanan handuknya di kepala.

Percayalah! semalam bukan kali pertama mereka minum sampai tak sadarkan diri.

Hyukjae berdecak kemudian bangkit meskipun kepalanya juga sakit, tapi semua bisa diatasi karena ia sudah terbiasa. “Aku punya obat pereda sakit kepala, jika kau mau,” kata Hyukjae, tangannya mulai memunguti sampah yang berserakan di segala tempat.

“Di mana kau menyimpannya? aku tidak bisa menemukan apapun selain kain kasa dan obat merah di kotak obat.”

Hyukjae berdecak lagi, ia ingat dengan jelas telah meletakan segala macam obat di tempatnya, dan bahan makanan keringnya juga masih ada, bahkan cukup sampai akhir pekan. Mungkin Junsu yang tidak benar-benar mencarinya. “Akan kuambilkan. Tapi bantu aku membersihkan ini, pantat bebek! Aku tidak mau terlambat. Direktur Kang akan menceramahi kita jika hal itu terjadi.”

“Jika dia memarahimu, kau tinggal bilang saja pada presdir Cho, dan semua masalah selesai.”

“Kim Junsu!” Hyukjae sampai menjatuhkan sampah yang sudah ia pungut, hanya untuk memberikan tatapan bahwa dirinya tak setuju dengan saran tersebut, sedangkan Junsu mengangkat tangan, mengalah akan lebih baik. “Oke, akan ku bersihkan,” kata Junsu dengan wajah tanpa dosanya.

Ketika Hyukjae berlalu dari hadapannya untuk mengambil obat, Junsu meraih remote TV, menyalakan benda berlayar datar tersebut dan memilih channel secara acak. Kebetulan sekali pilihannya jatuh pada acara gosip pagi.

Junsu meletakan kompresnya di atas meja yang sudah bersih kemudian mulai berjongkok, memungut sisa sampah yang masih berserakan lalu memasukannya ke dalam tempat sampah sambil menyimak televisi yang sedang berceloteh riang.

“Berita selanjutnya datang dari MCent. Presiden direktur Marcus Cho entertainment, Cho Kyuhyun telah memberikan pernyataan resmi terkait skandalnya yang ramai dibicarakan publik.”

Pergerakan Junsu terhenti. Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada layar televisi.

“Kami memang memiliki hubungan.”

Pernyataan Kyuhyun berulang kali ditampilkan seolah siapapun yang melihatnya butuh pengulangan untuk memahami kalimat tersebut.

Mata Junsu melotot menakutkan. Dalam hati bertanya, benarkah ini lelaki yang mengemis pertolongan padanya demi mendapatkan hati Hyukjae? dan sekarang apa yang dia lakukan?

“Lee Hyukjae, kau harus melihat ini!”

Tapi Hyukjae tak segera datang, hingga membuat kesabaran Junsu hilang. “Lee Hyukjae!”

Jeda beberapa detik barulah Hyukjae muncul, meletakan segelas air di atas meja serta obat sakit kepala yang ia janjikan. Wajahnya terlihat kesal. “Apa yang membuatmu seheboh itu, Kim Junsu?! Demi Tuhan! Ini masih pagi dan aku hanya memintamu untuk membereskan sampah-sampah ini!”

Sakit kepala Junsu sudah tidak terasa, berganti dengan amarah yang menggebu. Jemarinya menunjuk layar televisi, seolah memberikan perintah mutlak pada Hyukjae untuk melihat apa yang ia tunjuk. Tapi matanya tak lepas dari wajah Hyukjae.

“Aku sangat yakin yang bercumbu dengan Kyuhyun bukan dirimu. Lalu bagaimana bisa dia mengatakan punya hubungan dengan orang itu?”

Hyukjae mengamati layar dengan seksama, mencerna tiap kata yang diucapkan Kyuhyun berpadu dengan komentator. Kemudian matanya berkedip beberapa kali seolah baru menyadari sesuatu, tapi Hyukjae tak menunjukan ekspresi yang membuat Junsu berfikir bahwa sang sahabat sedang murka karena berita tersebut.

o0o

Setelah melewati malam dengan kombinasi sebutir obat tidur dan obat sakit kepala, pagi harinya Kyuhyun dibangunkan oleh telepon dari direktur Kang yang tanpa basa-basi memberi kabar bahwa hari ini pihak audit pemerintahan akan melakukan kunjungan ke MCent. Mau tak mau Kyuhyun segera mengumpulkan seluruh dewan direksi dan beberapa pegawai yang memiliki jabatan khusus untuk memastikan dokumen-dokumen penting dalam perusahaannya layak untuk diserahkan pada pihak auditor.

Sepertinya, kesialan belum mau pergi dari Kyuhyun karena saat rapat dadakan sang akuntan mengatakan bahwa laporan keuangan yang ada hanyalah yang asli dan laporan keuangan khusus untuk keperluan proposal. Keduanya tidak bisa diberikan untuk keperluan pemeriksaan, terlebih yang asli. Jika laporan tersebut sampai diperiksa, maka pihak pemerintah akan tau jika selama ini MCent melakukan kecurangan dalam hal pembayaran pajak—Kyuhyun baru mengetahui hal tersebut.

Kyuhyun memijat pelipisnya, nampak lelah sekaligus kesal bukan main, tapi juga pasrah saat melempar ringkasan laporan ke atas meja, menyatukannya dengan benda serupa yang lainnya.

Seseorang mengetuk pintu ruang rapat, kemudian membukanya, membungkuk hormat pada Kyuhyun sebelum berjalan masuk mendekati sang pimpinan. “Pihak auditor pemerintahan sedang menunggu di lobi bawah.”

Mata Kyuhyun melotot mengerikan. Ruangan tersebut-pun mulai ramai dengan suara teredam di sana-sini.

Jarum pendek bahkan baru saja beranjak sedikit dari angka delapan dan orang dari pemerintahan sudah datang?

Sambil mengucap sumpah serapah dalam hati, Kyuhyun melonggarkan dasinya supaya bisa mengambil napas lebih banyak, dasinya terasa sangat tidak bersahabat. Kedua tangannya kemudian mencengkeram pinggiran meja, matanya melirik kanan dan kiri mengamati para anggota dewan yang pasrah menunggu keputusannya.

Kyuhyun tak punya pilihan lain.

“Katakan bahwa aku menunggu pimpinan tim auditor itu di ruanganku.”

Si pembawa pesan membungkuk kemudian berlalu, menghilang di balik pintu ruangan yang tertutup dengan hati-hati.

Kyuhyun berdiri diikuti seluruh anggota rapat, “Para auditor tidak boleh membaca laporan ini, aku tidak mau tau bagaimana cara kalian melakukannya. Aku akan mengulur waktu sampai jam sembilan.” Kyuhyun kemudian pergi tanpa peduli pada anggukan tanda hormat yang diberikan untuknya.

Sambil berjalan menuju ruangannya, Kyuhyun menghirup napas sebanyak yang ia bisa. Udara di luar ruangan lebih terasa segar dan menenangkan. Di belakangnya, para anggota dewan satu-persatu keluar dari ruang rapat lalu menyebar ke segala penjuru untuk melakukan apa yang diperintahkan pimpinan mereka.

Kyuhyun mengencangkan kembali dasinya. Akan sangat memalukan jika dirinya terlihat berantakan di hadapan auditor. Mereka bisa menebak bagaimana keadaan perusahaan hanya dengan melihat penampilan Kyuhyun saja.

“Selamat pagi, presdir.” Sekretaris Kyuhyun berdiri untuk menyapa dari balik meja kerjanya. Ada banyak tumpukan map yang nantinya berakhir di atas meja kerja Kyuhyun.

“Atur ulang jadwal meeting hari ini. Dan akan ada kepala audit yang datang ke sini, langsung persilahkan dia masuk. Selain dia, jangan biarkan orang lain mengganggu kami.”

Setelah sang sekretaris mengangguk mengerti, Kyuhyun berjalan memasuki ruangannya, menutup pintunya dan berjalan melewati meja kerja. Kyuhyun memilih berdiri, mengamati ramainya lalu lintas kota dari jendela ruangan.

Tiba-tiba dirinya teringat Hyukjae.

Kyuhyun belum menghubungi Hyukjae sejak konferensi, begitupun sebaliknya.

Ketika Kyuhyun mengeluarkan gadget pintarnya dari saku jas, pintu ruangannya di ketuk tiga kali lalu terbuka. Sang sekretaris mempersilahkan seseorang memasuki ruangan tersebut, seseorang yang Kyuhyun temukan satu ranjang dengannya tanpa busana beberapa hari yang lalu.

Lee Sungmin.

Kyuhyun mengamati penampilannya dari atas sampai bawah. Helaian cokelat yang menghiasi kepalanya disisir rapi, lalu pakaian kantorannya melekat sempurna di tiap lekuk tubuh, dan sepatunya mengkilap sampai-sampai bisa dipakai untuk bercermin.

Setelah Sungmin memasuki ruangan dan berjalan mendekati Kyuhyun, beberapa huruf di papan nama kecil yang tersemat di dadanya terlihat jelas, menunjukan nama dan profesi si pemakai.

“Selamat pagi, presdir.” Sungmin menyapa Kyuhyun tanpa mengangguk, wajahnya dipenuhi rasa jengkel, berbeda dengan Kyuhyun yang hanya memperlihatkan keterkejutan dalam raut rupawannya.

Pintu rauangan tersebut akhirnya tertutup, Kyuhyun bisa lebih leluasa berbicara. “Kau pimpinan auditornya?”

“Seharusnya bukan aku, tapi karena rekanku sakit secara mendadak, aku yang ditugaskan untuk memeriksa perusahaan ini.”

Kyuhyun tersenyum miring, keterkejutan belum hilang dari wajahnya. “Sulit dipercaya.”

“Percayalah, aku tidak ingin lama-lama di tempat ini. Sekarang, mari kita mulai saja pemeriksaannya.”

Kyuhyun berdehem sambil melihat jam tangan. Pukul setengah sembilan pagi. Kyuhyun harus membuat pengalihan. Dirinya maju selangkah. “Karena ini masih sangat pagi, bagaimana kalau kita minum secangkir kopi dulu?”

Mata Sungmin memicing tak suka. “Apa kau berniat menyuapku?”

“Dengan kopi?” Kyuhyun tertawa kencang sekali, “Tidak dengan hal semacam itu, sayang. Aku akan menyuapimu dengan makanan, katakan apa yang kau suka.”

‘Laki-laki sinting!’ Sungmin mengutuk Kyuhyun. Ia yakin mulutnya tidak salah mengucapkan kata-kata. Menyuap! Tanpa tambahan huruf I. Sungmin jadi ingin sekali memukul kepala Kyuhyun. “Sebaiknya kita langsung pada intinya.”

“Tidak bisa seperti itu, sayang. Mari kita bicarakan ini sambil minum kopi. Ada sebuah restoran dengan menu kopi pagi yang luar biasa, letaknya dua blok dari sini.”

“Aku bisa mencatat ini sebagai usaha penyuapan dalam berita acaraku. Ayolah, tak perlu basa-basi. Kau tinggal menunjukan laporan-laporan yang aku minta.”

Kyuhyun tersenyum miring. “Jika aku menyuapmu, sayangku, aku akan mengeluarkan buku cek dan memintamu untuk menulis beberapa kombinasi angka supaya kau bersedia untuk melakukan pemeriksaan selama sepuluh menit saja. Tapi aku tidak melakukannya, kan?”

“Tentu saja.” Sungmin menambahkan. “Tidak sekarang.”

“Begini, ada banyak kekacauan dalam perusahaanku. Kau tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaanmu hanya dalam sehari, bahkan jika kau membawa dua lusin rombongan ke sini. Bagaimana kalau aku membantumu untuk menguraikan kekacauan dalam perusahaanku, tentunya ditemani dengan secangkir kopi. Kau memahami maksudku sekarang?”

Sekarang, bagaimana Sungmin harus membalas perkataan Kyuhyun?

“Seperti katamu tadi, kita langsung pada intinya saja supaya waktu kita tidak terbuang sia-sia”

“Baiklah, begini tuan Cho, jika kau benar-benar berniat ingin menyuapku,”

“Oh sayangku—”

“Hentikan! Panggilan itu menjijikan, tuan Cho Kyuhyun yang tidak sopan!”

“—aku hanya ingin membantu meringankan pekerjaanmu, bukan menyuapmu.”

“Terserah apa katamu.” Sungmin melanjutkan. “Aku sudah punya satu unit rumah mewah di kawasan elit luar kota, aku juga sudah punya mobil pribadi, dua unit, semuanya jenis mobil mewah dengan pajak selangit. Dan jumlah tabunganku dalam bentuk deposito di beberapa bank sudah cukup untuk menghidupi keturunanku sampai dua generasi yang akan datang. Satu-satunya yang belum kumiliki hanyalah teman kencan, jadi mulutku akan tertutup rapat bukan karena uang, tapi teman kencan.”

“Apa?!” Kyuhyun melotot tak percaya.

Tawaran macam apa itu?

“Dasar tidak waras!”

“Akan kumasukan itu ke dalam penilaian sikap nanti. Dan tuan Cho, jika anda tidak bisa memenuhi permintaan itu, sebaiknya anda segera menyiapkan laporan-laporan yang saya minta.”

Kyuhyun tentu saja tidak akan repot berfikir memasukan beberapa nama ke dalam daftar hanya untuk menyenangkan sosok di depannya ini, apa lagi untuk menawarkan dirinya sendiri, kecuali Kyuhyun sedang mabuk dan membayangkan sosok yang ada di depannya adalah Lee Hyukjae.

‘Terkutuklah!’ Kyuhyun tak akan berhenti mengumpat sampai sosok yang ada dihadapannya ini pergi.

o0o

Setelah membungkus rapat dirinya dengan jaket tebal berwarna coklat, Hyukjae menggeser panel penyimpanan sepatu, mengeluarkan sneakers hitam dengan tali dan sol warna kuning kemudian duduk di samping Junsu untuk memasang sepatunya.

“Aku benar-benar ingin mencekik leher Kyuhyun,” gerutu Junsu ditengah kegiatannya menyimpulkan tali sepatu.

Hyukjae tak berniat menanggapi karena bosan. Sejak mereka mematikan televisi, Junsu tidak berhenti mengomel tentang Kyuhyun, seolah-olah dirinyalah kekasih Kyuhyun yang sedang dihianati.

Hyukjae memutar matanya malas. Ia yakin apapun yang dikatakan Kyuhyun saat konferensi sudah ada pertimbangannya sendiri—meskipun memang ada sedikit rasa penasaran dan tidak nyaman dalam hatinya.

“Saat sampai di kantor, kau harus menanyakan apa maksud Kyuhyun mengatakan hal tersebut dalam konferensi, HARUS! Tanyakan juga bagaimana status hubungan kalian!”

Sekarang, Junsu terdengar seperti ibu Hyukjae yang suka marah-marah karena Hyukjae tak mau makan sayur.

Ibu, ya…

Benar juga. Bagaimana kabar Heechul sekarang?

Bohong jika Hyukjae berkata selama ini ia tak merindukan ibunya.

Akhir-akhir ini dirinya bahkan lebih sering memikirkan Heechul, terkadang sampai merasa tak nyaman sendiri. Jauh dalam lubuk hatinya, Hyukjae sangat ingin bertemu dengan Heechul, namun Hyukjae tak punya nyali, sekalipun hanya untuk menghubungi sang ibu lewat telepon.

“Kau dengar apa yang ku katakan, Hyukkie?”

Junsu memicingkan matanya untuk mengamati mata Hyukjae yang tak bernyawa. Ia mendesah setengah jengkel saat tau Hyukjae sedang melamun, lalu menepuk bahu sang sahabat. Saat itulah kesadaran Hyukjae kembali. “Jangan terlalu banyak berfikir. keluarkan saja semua isi hatimu jika kau di depan Kyuhyun.”

Hyukjae mengangguk dan memasang wajah seolah mengerti akan segalanya.

Setelah simpul di ke dua sepatunya rapi, Hyukjae membuka pintu apartemen. Junsu keluar lebih dahulu sambil menyandang tasnya di punggung, setelah itu barulah Hyukjae yang keluar dan menutup pintu.

“Selamat pagi.”

Oh tidak!

Diantara beberapa orang yang tinggal satu lantai dengan Hyukjae, kenapa harus suara Donghae yang menyapanya pertama kali pagi ini?

Takdirkah?

Rasa tak nyaman saat melihat gambaran dirinya dalam gadget sang kakak masih bisa Hyukjae rasakan.

Junsu dan Hyukjae menoleh ke belakang, mendapati Donghae, Yin He dan Xian Hua berjalan mendekat, ketiganya tersenyum ramah, bahkan Donghae terlihat berbunga-bunga.

Raut wajah Hyukjae langsung berubah masam, tapi bukan senyuman Donghae penyebabnya melainkan senyuman Xian Hua. Dalam hati bertanya apa yang dilakukan wanita tersebut bersama sang kakak sepagi ini?

Junsu maju satu langkah. “Nyonya Liu Xian Hua?”

Xian Hua berhenti tepat di hadapan Junsu. “Halo.” senyuman manisnya membuat hati Junsu senang bukan main, menendang jauh amarahnya pada Kyuhyun.

“Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan anda di sini. Ngomong-ngomong, apa yang anda lakukan di sini, nyonya Liu? Em… anda mengerti apa yang kukatakan?”

Xian Hua tertawa tanpa mengurangi keanggunannya. “Tentu saja aku mengerti, ” katanya dalam bahasa Korea beraksen mandarin, yang terdengar begitu memikat.

Junsu terlihat lega tapi sedikit terganggu saat tangannya di tarik oleh Hyukjae. Siapa lagi?

Ketika menoleh ke belakang, Junsu mendapati wajah Hyukjae sudah masam bukan main. Ia lupa bahwa sahabatnya yang satu ini memiliki dendam tersendiri pada komposer favoritnya.

“Aku tidak mau terlambat. Ayo.”

Kata-kata Hyukjae begitu pelan namun penuh amarah. Junsu jadi tak punya daya mempertahankan keinginannya untuk berbincang dengan Xian Hua.

“Bagaimana kalau kalian berangkat bersama kami, bukankah tujuan kita sama?” tanya Xian Hua.

Mata Hyukjae berkilat penuh amarah, seolah ia sanggup melakukan berbagai macam hal buruk pada Xian Hua. “Tidak, terima kasih.”

“Itu ide yang bagus, bibi!” Donghae membuka suaranya. “Bolehkah Yin He dan Junsu satu mobil dengan bibi?”

“Hei!” Yin He berteriak hendak protes, tapi Xian Hua memegangi tangan pemuda tersebut lalu mengambil alih kunci van dari tangan Yin He untuk dilemparkan pada Donghae.

“Tentu saja, Donghae. Kau bisa pergi sekarang.”

Tanpa menunggu Hyukjae memahami situasinya, Donghae segera menyambar tangan Hyukjae dan mengajaknya turun ke bawah. Meninggalkan Junsu yang terlihat lega bukan main, Xian Hua yang tersenyum penuh arti, dan Yin He yang menggerutu tapi wajahnya cerah.

Hyukjae baru menyadari situasi yang terjadi ketika berdiri di samping pintu van yang terbuka untuknya dan Donghae sedang tersenyum lebar tanpa dosa sambil memegangi pintu. “Berikan alasan kenapa aku harus berangkat denganmu,” kata Hyukjae, menekankan kata harus di depan wajah Donghae.

Eomma.”

Kerah jaket Hyukjae seperti mengerut, mencengkeram kuat lehernya hingga rasanya sulit untuk memasukan udara ke dalam tenggorokan. Wajah Hyukjae memucat, kerinduan terlihat jelas di matanya.

Hal pertama yang dilakukan sang kakak saat tiba di Korea pastilah mengunjungi rumah mereka. Hyukjae ingin mendengar banyak tentang tempat ia tumbuh besar, terlebih tentang ibunya. “Berikan kuncinya padaku.”

“Tidak. Aku bisa menyetir dengan satu tangan. Aku cukup mahir.”

Sejenak Hyukjae nampak ragu, namun hal tersebut tak bertahan lama. Satu-satunya hal yang membuat Hyukjae yakin dengan kemampuan menyetir satu tangan Donghae adalah vitur otomatis yang terpasang dalam van tersebut.

Hyukjae masuk ke dalam van, diikuti Donghae. Keduanya sibuk memasang sabuk pengaman dan sama-sama terdiam mulai van dinyalakan sampai van berada di jalan raya.

Eomma terlihat lebih kurus dari pada lima tahun yang lalu.” Donghae memulai percakapan, tertawa getir mengingat sambutan ala kadarnya dari Heechul dan Hankyung. “Eomma merindukanmu, Hyukkie.”

Hyukjae menelan ludah, menelan bulat-bulat seluruh rasa rindunya untuk sang ibu.

“Kau sangat keterlaluan, Lee Hyukjae! Kenapa kau tidak pernah pulang ke rumah? Tidakkah kau juga merindukan eomma?” nada bicara Donghae meninggi. “Jika kau memang tidak punya waktu, setidaknya kau menelepon eomma untuk sekedar bertanya bagaimana kabarnya, atau memberitahu bahwa kabarmu baik-baik saja di sini.”

Hyukjae memalingkan wajahnya pada gedung-gedung yang ia lalui. Nyatanya, keadaannya selama ini tidak pernah baik-baik saja. Selain ia bisa menyelesaikan pendidikan di sebuah universitas seni tak, ada hal lain lagi yang menurut Hyukjae menggembirakan, dan hal tersebut bukanlah yang diharapkan kedua orangtuanya, jadi untuk apa Hyukjae memberitahu orang tuanya? Mereka toh tidak akan senang. “Aku harap eomma baik-baik saja.”

Donghae mencengkeram kuat-kuat kemudi. “Sayangnya, keadaan eomma tidak seperti itu.”

Hyukjae menelan ludah lagi, tak sanggup menatap Donghae sekalipun dalam bentuk bayangan samar yang terpantul dari kaca mobil.

“Apa… eomma sakit?” Itukah alasan mengapa akhir-akhir ini Hyukjae sering memikirkan sang ibu?

“Aku rasa begitu, meskipun eomma tidak mengatakannya.”

Keberanian merayap di hati Hyukjae. Ia menoleh pada Donghae dengan sorot mata menyelidik. “Apa maksudmu?”

Donghae menginjak pedal rem saat melihat lampu lalu lintas berwarna merah, lalu menoleh untuk membalas tatapan Hyukjae. “Eomma terluka karena kepergianmu, Hyukjae. Apa kau belum mengerti juga?”

Hyukjae meremas tepi jaketnya dengan perasaan sesak bukan main. Sorot matanya meminta pada Donghae untuk membawanya pulang ke Incheon saat ini juga.

Tapi tidak bisa!

Hyukjae tidak punya keberanian.

Dengan cepat Hyukjae memutus kontak matanya dengan Donghae.

Seolah tau apa maksud sang adik, Donghae menghela napas, namun memaklumi dilema yang dialami Hyukjae. Ia memindah persneling dengan cekatan. “Tidak masalah.”

Ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, van Donghae sudah siap melaju.

“Tapi kau harus tau satu hal, Lee Hyukjae—”

Tiap kali nama lengkapnya dialunkan oleh Donghae, hati Hyukjae berdebar tidak menentu. Dalam beberapa kasus, Hyukjae harus mati-matian memegangi akal sehatnya supaya tidak hilang terbawa senyuman Donghae.

“—eomma akan selalu menyayangimu, meskipun sikapmu terhadap orang tua lebih buruk daripada anak usia lima tahun.”

Donghae melirik sang adik yang sedang tertunduk, ia bisa melihat genangan air mata di sudut mata Hyukjae.

Roda kemudi diputar dengan cepat oleh Donghae, membawa benda beroda tersebut ke dalam basemen MCent. Menempatkannya di dekat pintu masuk lain yang mengarah langsung pada lobi. Mobil Xian Hua mengikuti di belakangnya.

“Aku akan pulang.” Hyukjae melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu, sang kakak melakukan hal yang sama. Sebelum turun ia sempatkan menoleh lagi pada sang kakak. “Suatu hari, nanti.”

Donghae tersenyum dari sisi yang berbeda dengan Hyukjae. Sejak awal, Donghae sudah yakin Hyukjae akan mengatakan hal tersebut. Kini, Donghae hanya perlu menunggu sampai Hyukjae benar-benar siap untuk dibawa pulang ke rumah dan mungkin kembali lagi di sisinya.

“Terimakasih untuk tumpangannya.”

Donghae mengangguk. Dirinya sangat menyukai Hyukjae yang bersikap manis seperti ini, adik kecilnya yang manis, pemegang kunci atas pintu di hatinya. “Kau belum menanyakan bagaimana kabarku pagi ini.”

Perkataan Donghae membuat Hyukjae mengurungkan niatannya untuk keluar dari dalam van. “Kau bisa mengemudi dengan baik dari apartemen sampai ke sini. Bagiku, keadaanmu sudah jauh lebih baik.” Hyukjae condongkan sedikit badannya. “Apa aku masih perlu bertanya padamu, kakak?”

Donghae mengangkat bahunya, kebahagiaan dalam hatinya tidak bisa di gambarkan. Hyukjae kembali memanggilnya kakak, dengan nada manis, sama seperti dulu. Hal tersebut cukup untuk menumbuhkan keyakinan bahwa suatu hari Hyukjae akan benar-benar kembali padanya.

Kali ini Donghae biarkan Hyukjae keluar dari van untuk menghampiri Junsu yang sepertinya tidak bosan mengobrol dengan Xian Hua dan terlihat kesal ketika Hyukjae mengajaknya pergi.

“Aku sangat senang bisa mengobrol dengan anda. Semoga kesempatan seperti ini bisa datang lagi,” kata Junsu sambil membungkuk hormat sebelum meninggalkan Xian Hua.

Setelah keduanya menjauh, Donghae baru berada di dekat Xian Hua dan Yin He. “Suatu saat dia akan menjadi komposer mengagumkan,” gumam Xian Hua.

“Benanrkah?” Donghae mengangkat alisnya, baru tau jika teman Hyukjae sejak kecil adalah seorang komposer. Donghae pikir Junsu adalah seorang dancer karena memilih warna rambut pirang platina yang mencolok. “Apa saja yang bibi bicarakan dengan Kim Junsu? Sepertinya menyenangkan.”

Ketiganya mulai berjalan mengikuti arah yang diambil Junsu dan Hyukjae.

Xian Hua tersenyum pada Donghae, langkah mereka sejajar. “Cara yang terbaik dalam menentukan nyawa untuk sebuah lagu.”

Donghae tertawa geli, mengingat kembali saat Xian Hua pertama kali mengajarinya tentang membebaskan ekspresi ketika bernyanyi. “Harusnya aku sudah bisa menebak apa yang akan dibahas dua orang komposer jika mereka bertemu.”

Ketiganya tertawa sambil terus berjalan dan meneruskan perbincangan, lalu mereka berhenti di lobi, memperhatikan puluhan orang yang berlalu lalang.

“Apa akan ada perayaan di MCent?” Yin He bertanya dengan wajah polos sambil menoleh ke kanan kiri.

“Tidak,” jawab Xian Hua. “Aku dengar hari ini MCent mendapat kunjungan dari auditor pemerintahan.”

“Artinya kita bisa bersantai seharian?” wajah Yin He semakin berbunga-bunga.

“Entahlah, mungkin sebaliknya.”

Bahu Yin He merosot lemah, keceriaannya hilang. Berbeda dengan Donghae yang terlihat biasa-biasa saja.

Perhatian sang bintang tertuju pada sang adik yang sedang berbincang dengan seorang pelatih vokal, tak jauh dari tempatnya berdiri, Donghae bahkan bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas sekalipun keadaan di sekitar mereka sangat bising.

“Heem, kita akan berlatih di ruangan yang sama sampai nanti sore.” Adalah hal terakhir yang diucapkan Jongwoon sebelum Hyukjae mengarahkan tatapan tak terbacanya pada Donghae.

o0o

“Aku sangat letih.”

Hyukjae tersenyum geli melihat Ryeowook terlentang di atas lantai. Bagian-bagian tertentu dari pakaiannya basah karena keringat, hasil dari usaha kerasnya melakukan modern dance mulai dari jam sepuluh sampai jam enam petang, tentu saja diselingi dengan makan siang dan istirahat beberapa menit tiap satu jam.

“Tapi aku masih ingin menari~”

Sebenatnya berapa banyak tenaga yang dimiliki gadis ini?

Hyukjae membungkuk, memunguti papan penjepit dan beberapa kertas yang berserakan di lantai, sementara para trainee dan dancer membereskan barang bawaan masing-masing di sisi ruangan.

“Kau masih punya waktu dua bulan lebih bahkan seumur hidupmu untuk menari. Tapi tidak untuk saat ini,” kata Jongwoon. Sang pelatih vokal sedang mematikan pemutar musik dan alat elektronik lain yang mereka gunakan untuk berlatih.

“Kami pulang duluan songsaenim.” Satu persatu para trainee berpamitan pada Jongwoon dan Hyukjae, disusul para dancer, hingga akhirnya ruangan tersebut hanya berisi Hyukjae, Jongwoon, Ryeowook dan Donghae.

Ryeowook tiba-tiba duduk bersila menghadap Jongwoon. “Jika kau berfikir aku akan jenuh, kau salah besar, pelatih Kim!”

Dasar anak kecil keras kepala!

“Mungkin tidak, tapi kau bisa jatuh sakit dan kemungkinan terburuknya presdir Cho akan mencarikan seorang artis untuk menggantikan posisimu,” Hyukjae menambahkan.

Kini Ryeowook melotot pada Hyukjae.

“Itu tidak mungkin! Kami sudah melakukan konferensi—”

Jongwoon menyelanya. “Apapun masih bisa terjadi. Jadi, sebaiknya sekarang kau pulang, dan beristirahat, anak kecil tidak boleh membuat ibunya cemas dengan pulang terlambat kan?”

Sang pelatih vokal tak mampu menyembunyikan tawanya, bahkan Hyukjae ikut tersenyum di sela kegiatannya.

“Hei!” Ryeowook merasa jengkel bukan main. Semua orang selalu menganggap dan memperlakukan dirinya layaknya remaja berusia dua belas tahun, padahal usianya hampir dua puluh dua. Ia melirik Donghae di sisi lain ruangan sedang duduk memancarkan aura tampannya dan membolak-balik naskah, tak berniat bergabung dengan pembicaraan lalu menyelamatkan dirinya dari pembulian dua pelatih usil, ataupun membereskan barang bawaan lalu pulang.

Rasa ingin tau Ryeowook muncul. “Hei, Lee Donghae! Kenapa tidak beres-beres? Apa kau ingin tidur di gedung ini?”

Yang ditanya hanya mengangkat sedikit kepalanya lalu menggeleng, detik berikutnya ia mengalihkan perhatiannya pada Jongwoon yang sedang mendekat pada Hyukjae.

Ryeowook melakukan hal yang sama.

“Apa rencanamu setelah ini, pelatih Lee?”

Donghae mengangkat alisnya.

“Pulang, apa lagi?” jawab Hyukjae sambil memasukan barang bawaannya.

“Bagaimana kalau kita makan malam di restoran yukgaejang, aku akan mentraktirmu.”

Donghae meletakan siku kirinya di atas meja kemudian menumpu kepalanya, bertaruh dengan dirinya sendiri bahwa Hyukjae tak akan mau menerima ajakan tersebut.

“Baiklah.”

Oh sialan! Perkiraannya meleset. Donghae berdecak lalu berdiri, merasa perlu melakukan sesuatu.

“Belikan aku soju juga.” Hyukjae menambahkan.

Jongwoon tersenyum sampai bola matanya tidak terlihat. “Tentu saja.”

Donghae benar-benar tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Ia mendekat bersamaan dengan datangnya teriakan yang membuat telinganya berdenging.

“AKU IKUT!”

Donghae, Jongwoon dan Hyukjae menoleh kesal pada Ryeowook.

Jongwoon berkacak pinggang. “Tidak boleh! Kau masih kecil!”

“Umurku 22!”

“Tetap tidak bisa! Jika kau ikut, kami tidak bisa makan di restoran semau kami. Kau mau wartawan menangkap gambarmu bersama kami lalu membuat berita yang tidak-tidak?”

“Apa masalahnya? Kita tidak sedang bercumbu seperti yang dilakukan presdir kan?”

Jongwoon melotot, dan Ryeowook segera munutup mulutnya rapat-rapat sambil melirik Hyukjae.

Seperti yang mereka duga, Hyukjae bereaksi sedikit tak nyaman, sang pelatih tari memasang jaketnya dengan canggung. “Jika kalian sudah siap, ayo berangkat,” kata Hyukjae tanpa memperlihatkan wajahnya pada siapapun.

“Ah! Lee Donghae, kau mau ikut juga?” Ryeowook mengalihkan perhatian, mengedipkan bulu matanya yang lentik di depan Donghae, sedangkan yang ditanya nampak berfikir.

“Oh tidak, aku bisa bangkrut jika harus mentraktir dua bintang sekaligus,” kata Yesung sambil menepuk jidat, membayangkan Yin He dan Jonghyun—manajer Ryeowook tersenyum lebar padanya.

o0o

Sambil mengunyah perpaduan nasi dan potongan daging dalam sup merah yang kental dan pedas, Donghae menyimak perdebatan tidak penting antara Jongwoon dan Ryeowook, melirik Jonghyun dan Yin He yang sedang menyesap kuah yukgaejang-nya dengan penuh kenikmatan lalu mengamati sang adik yang meletakan alat makannya padahal nasi dalam mangkuknya belum berkurang setengahnya.

Donghae melihat tangan Hyukjae meraih sebuah gelas bening berukuran sedang, dengan ketepatan perhitungan yang sudah Donghae buat, ia menyambar botol soju di depan Hyukjae sehingga sang adik hanya bisa memegangi punggung tangan sang kakak.

Keduanya melirik satu sama lain sambil melemparkan permohonan tanpa suara, namun tangan mereka tak ada yang bergerak hingga mulut usil Ryeowook mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya. “Apa kalian sedang berdebat tentang siapa yang seharusnya menuangkan soju?” Ryeowook mengangkat botol hijau di depannya. “Tidak perlu berdebat, biarkan aku yang menuangkan untuk kalian. Ayo, siapa duluan?”

Jongwoon menyambar botol soju dari tangan Ryeowook. “Anak kecil tidak boleh menyentuh ini, apa lagi mencoba untuk meminumnya.”

“YA!”

Donghae menghela napas, tak peduli pada dua orang di depannya yang mulai bertengkar, sama seperti tiga orang yang lain dalam meja tersebut.

Donghae menarik botol soju dari genggamannya hingga tangan Hyukjae terlepas. “Habiskan makananmu dulu baru kau boleh menyentuh ini.”

Sang adik jelas tidak setuju namun berusaha keras tidak berteriak, dirinya bisa bernasib sama seperti Ryeowook—dikatai anak kecil. Hyukjae mendengus lalu meraih botol soju milik Jongwoon, menuangnya ke dalam gelas tanpa persetujuan.

Kini giliran Donghae yang mendengus. Harus dengan cara apa supaya adik tercinta ini mau berhenti minum? Donghae merampas gelas dari tangan Hyukjae ketika sang adik berniat meneguk sojunya untuk yang kedua kali. “Akan lebih baik jika kau tidak mabuk saat ini.” Akibatnya akan sangat buruk jika Hyukjae membantah. Donghae berusaha menegaskan hal tersebut dalam tatapan matanya pada Hyukjae.

Sang adik mendongak, membalas tatapan tersebut tanpa rasa gentar. “Kau tidak bisa mengancamku, karena aku tidak takut.”

“Aku bisa. Dan kau harus takut!”

Pertengkaran Jongwoon dan Ryeowook entah sejak kapan sudah usai, keduanya kini memasang telinga sambil memperhatikan Donghae dan Hyukjae.

“Jangan berfikir aku akan menurutimu karena aku adikmu. Tidak! Aku tidak mau kau mengatur hidupku. Aku bisa menentukan sendiri apa yang terbaik untuk diriku sendiri.”

UHUK!

Semua menoleh pada Jonghyun yang kini menyambar segelas air dan menandaskan isinya, mengatur sebentar napasnya sambil meletakan gelasnya kembali ke meja. Matanya yang dipenuhi keterkejutan terarah pada Donghae dan Hyukjae. “Benarkah kalian bersaudara?”

Hyukjae mendadak merasa cemas, ia meremas lap putih di dekatnya sambil melirik Donghae, takut jika sang kakak akan murka karena mulutnya yang lancang, tapi Donghae terlihat amat tenang.

“Benar, kami bersaudara,” kata Donghae. “Kandung.”

Donghae jadi bertanya dalam hati, akan seperti apa reaksi orang-orang ini saat dirinya mengakui pernah ada hubungan yang tak biasa antara dirinya dengan sang adik, bahkan sampai di atas ranjang. Apakah mereka akan berterik lalu mengumpat tanpa henti seperti yang dilakukan Sungmin dan Junsu? Ataukah seperti Xian Hua yang diam dengan wajah tenang seolah hubungan semacam itu wajar-wajar saja?

Jongwoon dan Ryeowook mengerjabkan mata mereka, tak mau terlalu cepat menyerahkan diri pada keterkejutan. Jadi, mereka menyangga kepala dengan tangan, mendongak dan menikmati khayalan masing-masing. “Jika aku seorang wartawan dan kau pimpinan redaksi surat kabar, berapa yang akan kau berikan padaku untuk berita seperti ini?” tanya Ryeowook, sorot matanya seperti tak ada ujungnya, sama seperti Jongwoon.

“Mungkin hanya sedikit,” jawab Yin He dalam bahasa Mandarin dan setengah menggerutu. “Karena kalian tidak sedang menemukan foto mereka berdua sedang bercumbu.”

Donghae melirik Yin He dengan tatapan mematikan, beruntung tak ada yang mengerti apa yang diucapkan pemuda tersebut, bahkan Hyukjae pun tidak mengerti.

o0o

Hyukjae menutup pintu apartemennya lalu menyandarkan diri pada pintu, menghembuskan napas dengan kepala tertunduk, matanya tak sengaja menemukan sepasang sepatu kantoran yang Hyukjae ketahui menjadi favorit Kyuhyun selama sebulan terakhir. Hyukjae bergegas melepas sepatu, menggantinya dengan sandal rumah lalu berjalan masuk dengan langkah cepat.

Hyukjae menemukan Kyuhyun duduk sambil menerawang di depan televisi yang menyala, ditangannya ada gelas wine yang sudah kosong.

Sesuatu yang buruk sedang menimpa Kyuhyun.

Perlahan Hyukjae mengambil tempat di samping Kyuhyun lalu mematikan televisi dan membuat sang kekasih meninggalkan alam khayalan.

“Apa kau sudah makan malam?” tanya Hyukjae, nada suaranya sangat lembut dan menenangkan.

Betapa leganya Kyuhyun. Ia sangat bersyukur dalam hati karena Hyukjae tak langsung memilih topik tentang pengakuannya dalam konferensi. “Sudah,” dusta Kyuhyun. Nyatanya, ia bahkan tidak mampu untuk mengunyah sebutir nasi. “Apa kau menikmati acara makan malammu?”

Bukan hal yang baru bagi Hyukjae jika Kyuhyun mengetahui seluruh kegiatannya dan tak jarang Hyukjae merasa tak nyaman, kali inipun sama tapi Hyukjae hanya mengangguk. “Kim Jongwoon sedang bermurah hati malam ini.” Ia raih botol wine Kyuhyun dari atas meja, kemudian menuangkannya pada gelas sang kekasih. “Bagaimana pemeriksaannya?”

Kyuhyun memutar kaki gelasnya, membuat cairan merah di dalamnya bergulir mengikuti arah jarum jam. “Segalanya berjalan sesuai keinginan Cho senior.”

Mata Hyukjae membulat. “Komisaris? Kapan beliau tiba di Seoul?”

“Pagi ini. Aku juga tidak tau kapan tepatnya, yang jelas tempat pertama yang dituju abeoji adalah MCent.”

Kyuhyun terlihat mulai enggan membicarakan hal tersebut, raut wajahnya menunjukkan betapa malu dirinya saat pihak luar perusahaan membedah perusahaannya dan membeberkan satu-persatu kebobrokan yang ada di malamnya, tepat di depan sang ayah.

Mungkin besok akan ada rapat dengan komisaris untuk membahas masalah pemeriksaan hari ini.

Pantas Kyuhyun merasa amat tertekan.

Hyukjae raih gelas kosong Kyuhyun lalu meletakan benda tersebut di atas meja. “Akan kusiapkan air hangat dan handuk. Kau butuh mandi dan beristirahat.”

Ketika Hyukjae hendak beranjak dari tempatnya, jemari Kyuhyun yang besar dan panjang meraih pergelangan tangan Hyukjae, menahan sang kekasih supaya tidak beranjak tanpa kata-kata.

“Masalah pengakuanku di konferensi, itu tidak benar. Aku harap kau percaya bahwa aku tidak mempunyai kekasih lain.” Meskipun pernah tidur dengan orang lain. Kyuhyun tak punya keberanian menyuarakan hal tersebut.

Jauh dari apa yang diharapkan Kyuhyun, Hyukjae menanggapi perkataannya sambil tersenyum maklum, seolah mengerti atas segala alasan yang mendasari perbuatan Kyuhyun.

“Aku percaya padamu, tuan muda Cho.”

Kyuhyun tersenyum, rasanya seperti tak membutuhkan hal lain lagi selain senyuman manis Hyukjae untuknya, hanya untuknya.

“Aku percaya kau tidak akan berkhianat ataupun menyembunyikan sesuatu semacam itu dariku.”

Oh tidak!

Seharusnya Hyukjae tidak mengeluarkan kata-kata tersebut supaya Kyuhyun tidak mengingat seluruh rahasia yang dibeberkan Hankyung dan Jiaheng di balik punggungnya.

Kini, Kyuhyun harus mati-matian menahan lidahnya untuk tidak mengeluakan satu pun kata yang ia dengar dari pertemuan tak terduganya dengan Hankyung dan Jiaheng.

o0o

“Mungkin aku sudah bisa mulai berlatih menari hari ini,” kata Donghae di depan penyimpanan sepatu, menggerakan lengannya ke atas dan bawah, rasa nyerinya tidak setajam saat Donghae memutar kemudi kemarin.

Xian Hua berdiri di depannya, wajahnya selalu dihiasi senyuman manis. “Kau bisa mencobanya, tapi jangan memaksakan diri, mengerti?” Ia rapikan syal yang dililitkan pada leher Donghae. “Ayo, kita ajak Hyukjae sarapan bersama.”

Xian Hua membuka pintu, melangkah keluar diikuti Donghae dan Yin He.

Setelah Yin He memastikan pintu tempat tinggal mereka tertutup rapat, Xian Hua mengamit lengan kiri Donghae dan mulai berjalan. Saat itulah Kyuhyun keluar dari apartemen Hyukjae dengan senyuman lebar yang membuat perasaan Xian Hua dan Yin He.

Donghae?

Sang bintang bahkan merasa tidak perlu menutupi rasa tidak senangnya.

Ketika Hyukjae keluar dari apartemen jarak mereka tak lebih dari sepuluh langkah dan belum menyadari keberadaan pihak lain. Ketika Hyukjae menutup pintu, jarak mereka menjadi tiga langkah. Barulah saat itu mereka menyadari kedatangan Donghae, Xian Hua dan Yin He.

Rasa kesal tiba-tiba muncul dan terlihat jelas di wajah Hyukjae.

“Apa yang dia lakukan di sini?”

Donghae membuka suara, telunjuknya terangkat tepat di hidung Kyuhyun, sedangkan mata Hyukjae tak lepas dari tangan Xian Hua pada lengan Donghae.

Hyukjae mendadak muak.

Melihat Xian Hua berada di sekitar Donghae saja sudah membuat hati Hyukjae jengkel, apa lagi melihatnya mengamit tangan sang kakak seolah ingin menunjukan pada dunia bahwa Donghae adalah miliknya.

“Pertanyaan itu lebih cocok ditujukan untuk nyonya yang satu ini.” Hyukjae menunjuk Xian Hua dengan dagunya.

“Lee Hyukjae.” Donghae menahan geramannya.

“Kenapa? Apa kau keberatan aku menanyakan itu?” Hyukjae menahan kepalan tangannya supaya tetap berada di sisi tubuhnya. “Setiap pagi aku melihat nyonya ini keluar dari apartemenmu. Apa dia juga tinggal bersamamu selama ini? Apa kalian benar-benar mempunyai hubungan khusus?”

“Jaga bicaramu, Lee Hyukjae!”

Suasana menjadi tidak nyaman bagi Kyuhyun, ia yakin semua orang merasakan hal yang sama. Ia raih siku Hyukjae untuk ditarik ke belakang sambil berharap sang kekasih bisa mengontrol emosinya, tapi Hyukjae malah melepas tangannya dengan kejam dan tanpa memutus kontak matanya dengan Donghae.

“Dari dulu aku sudah yakin kalian benar-benar mempunyai hubungan. Kenapa kau berbohong pada semua orang, Lee Donghae? Apa kau tidak berfikir bahwa orang yang kau kencani ini lebih pantas kau panggil ibu daripada kekasih?”

Xian Hua mengangkat satu tangannya, mengisyaratkan Donghae untuk diam saat sang bintang hendak menjawab Hyukjae.

“Apa kau merasa terganggu dengan kedekatan kami, Lee Hyukjae?” Xian Hua menarik napas ketika Hyukjae tidak menjawab. “Kenapa? Karena usiaku yang terpaut jauh dengan Donghae? Diluar sana ada banyak sekali pasangan dengan rentan usia seperti kami, tapi tidak ada orang yang mempermasalahkannya. Kenapa kau mau repot-repot mempermasalahkan hubungan kami?”

Donghae menahan napas, tak menyangka sang komposer cantik yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri mengatakan semua itu.

“Kenapa kau tidak menjawabku, Lee Hyukjae?”

Karena terkejut, lidah Hyukjae menjadi kelu, tenggorokannya tak mampu meloloskan satupun kata.

“Apa kau juga menaruh hati pada Donghae? Kakakmu? Sehingga kau tidak bisa membiarkan orang lain bersama kakakmu?”

“Bibi…” Donghae mencengkeram lengan Xian Hua, memintanya untuk berhenti. Hyukjae sudah terlihat amat murka, Donghae takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Kenapa kau membalikan keadaan? Wanita tidak tau malu.”

“Sekali lagi, jaga bicaramu, Hyukjae. Dia lebih tua darimu.” Donghae setengah berteriak, dirinya amat yakin kalau Xian Hua bukan wanita seperti yang ada dalam pikiran Hyukjae.

“Jawab saja pertanyaanku. Apa kau menyukai kakakmu sendiri?” nada bicara Xian Hua meninggi. Aksen Mandarinnya membuat Hyukjae semakin jengkel.

“Tidak! Aku tidak menyukainya! Aku sangat membenci kakakku!” napas Hyukjae memburu, dalam matanya hanya terpancar kebencian yang teramat besar untuk Xian Hua.

“Kau membohongi dirimu sendiri.”

“Apa hak-mu untuk menilai diriku, nyonya Liu?” Demi Tuhan! Kenyataan dirinya tidak bisa bersama Donghae sudah cukup menyesakan. Sampai kapan dirinya akan terus dihakimi semua orang karena mencintai sang kakak? “Nilailah dirimu sendiri, nyonya Liu!” Hyukjae mengatur napasnya. “Berapa nilainya seorang wanita paruh baya yang menggoda lelaki seusia anaknya?”

Xian Hua terdiam menahan ribuan kata yang berdesakan di tenggorokan. Jika membuka mulut setelah Hyukjae menyebut kata ‘anak’, Xian Hua tak yakin rahasianya akan tetap tersimpan rapi seperti sebelumnya.

Mengabaikan seluruh rasa sakit, Donghae maju untuk mencengkeram lengan Hyukjae dengan tangan kanannya, tak ada kesabaran di matanya yang gelap. “Cukup, Lee Hyukjae, kendalikan dirimu!”

“Tidak! Aku belum selesai denganmu!” Tidak akan pernah. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Lee Donghae!” Hyukjae menyentakan tangan Donghae dari lengannya sampai terlepas. “Apa yang dilakukan wanita penggoda ini bersamamu tiap pagi atau tiap malam?”

“Lee Hyukjae!”

Hyukjae memalingkan wajah, selagi rasa panas menyebar di pipi kirinya. Kejadiannya begitu cepat sampai Hyukjae tak bisa mencerna keadaan tersebut. Akal sehatnya kalah oleh rasa cemburu, sehingga dirinya jadi tak terkendali.

Xian Hua, Yin He, bahkan Kyuhyun pun sampai menahan napas. Tak ada satupun dari mereka yang menduga pertengkaran tersebut berakhir seperti ini.

“Apa yang telah kau lakukan, Donghae…” Xian Hua membekap mulutnya dengan jari-jari.

Sambil mengatur napas dan memegangi pipinya yang memerah, Hyukjae kembali menghadap ke depan, tempat di mana sang kakak tertegun dengan tangan kanan menggantung di udara, tangan serupa yang menciptakan rasa pedih tak hanya dipipi tapi juga dihatinya.

Donghae bisa melihat banyak hal di mata Hyukjae seperti amarah, air mata yang sekuat tenaga tidak diijinkan keluar, kebencian, rasa cinta yang berusaha dibuang, kekecewaan, dan jauh di dasar mata yang selalu membuat Donghae kehilangan kendali untuk beberapa saat ada rasa sakit luar biasa yang tidak bisa dihancurkan.

“Bagus.” Hyukjae mencicit, menahan getaran pada suaranya. “Kau telah memberiku sebuah alasan untuk tidak memaafkanmu, selamanya.”

Dada Donghae terasa sesak bukan main ketika Hyukjae berlalu dari hadapannya. Yang bisa Donghae lakukan hanyalah memijat pelipisnya karena menyesal tak akan berguna, dirinya sudah terlanjur kehilangan kendali dan membuat Hyukjae semakin membencinya.

TBC

Big thanks to everyone who support me

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s