BROKE THIS PAIN;; Chapter 12

Previous chapter

“Bagus.” Hyukjae mencicit, menahan getaran pada suaranya. “Kau telah memberiku sebuah alasan untuk tidak memaafkanmu, selamanya.”

Dada Donghae terasa sesak bukan main ketika Hyukjae berlalu dari hadapannya. Yang bisa Donghae lakukan hanyalah memijat pelipisnya karena menyesal tak akan berguna, dirinya sudah terlanjur kehilangan kendali dan membuat Hyukjae semakin membencinya.

BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul, Henry/Xian Hua & Ryeowook), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved reader. Hope you enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream

Chapter 12: Sorry

Untuk apa dirinya sampai tega melayangkan tangan pada seseorang yang paling ia kasihi?

Tidakkah hal tersebut sungguh kejam? mengingat tujuannya hanya untuk membuat emosi sang pujaan hati mereda.

Demi siapa?

Xian Hua?

Siapakah wanita tersebut sampai-sampai dirinya tak menerima perkataan kasar yang dilemparkan sang adik untuknya?

Kenapa?

Donghae tak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kegelisahan dan keputus-asaan berpadu jadi satu, menghiasi raut tampannya yang tak bercela. Denyutan pada tengkuk Donghae berubah menjadi rasa pusing dan menjalar sampai ke puncak kepala.

“Donghae…”

Begitu menjengkelkan ketika suara lembut Xian Hua kembali memunculkan bayangan Hyukjae dengan segala macam emosi yang tergambar jelas melalui sorot matanya yang indah. Donghae tidak marah atas apa yang telah diucapkan Xian Hua, namun Donghae juga tidak mau menatap wajah wanita tersebut, untuk saat ini. Donghae butuh ketenangan, ia butuh kesunyian untuk merenungkan kejadian pagi ini. Ia gerakkan kedua kakinya menjauhi Xian Hua dan Yin He.

“Tunggu, Donghae!”

Langkah kakinya semakin mantap, “Jangan ikut campur lagi,” seolah menegaskan jika ada yang berani menahannya maka akibatnya tidak akan baik, keadaan bisa semakin buruk. “—ku mohon.”

Xian Hua terhuyung sambil memegangi kepalanya, beruntung Yin He tidak terjebak terlalu lama dalam ketercengangan sehingga ia mampu menangkap Xian Hua yang hampir roboh. “Bibi tidak apa-apa?”

Xian Hua mengatur napasnya yang putus-putus. “Apa yang telah aku lakukan?” tanyanya entah pada siapa, berulang kali hingga membuat Kyuhyun tersadar dari keterkejutan.

Lelaki bersurai madu tersebut mengedarkan pandangan, Donghae tak terlihat di manapun begitu pula Hyukjae. Ia segera berlari sambil berdoa supaya sang kekasih belum terlalu jauh, beruntunglah karena doanya terkabul.

Kyuhyun menemukan Hyukjae sedang berdiri di halte bersama puluhan orang yang menanti kedatangan bus. Di sisi yang lain, ia melihat Donghae berdiri di samping pintu taxi yang terbuka, pandangannya tertuju pada Hyukjae, raut wajahnya menunjukan rasa sakit atas sebuah penolakan. Kyuhyun yakin telah terjadi kontak mata antara Donghae dan Hyukjae sebelum ia datang.

Detik berikutnya, Kyuhyun melihat sang bintang masuk ke dalam taxi dan melesat pergi.

Kaki Kyuhyun membawa sang pemilik ke tempat Hyukjae berdiri, mensejajarkan diri di samping pujaan hatinya lalu menyimpan kedua tangan dalam saku celana. “Tempat mana yang ingin kau tuju sekarang?” tanya Kyuhyun, pandangannya lurus ke depan.

“MCent.”

Kyuhyun tak yakin dengan keputusan yang diambil Hyukjae. Sang kekasih jelas membutuhkan waktu untuk menyendiri, bukan bekerja. “Kau boleh meninggalkan kelasmu hari ini. Kim Ryeowook bisa berlatih vokal saja hari ini.”

“Tidak, aku akan menghadiri kelasku.”

Kyuhyun akhirnya menoleh, memperhatikan Api amarah yang masih berkobar dan terlihat jelas di mata Hyukjae. Amarah yang memperlihatkan betapa besar rasa cinta Hyukjae kepada orang yang telah menyulutnya, Donghae.

Rasa iri merayap dalam hati Kyuhyun. Ia menginginkan hal itu, sangat ingin. Lelaki bersurai madu tersebut bahkan bersedia menggantikan posisi Donghae untuk menerima semua penderitaan dan amarah tersebut jika imbalannya adalah hati Hyukjae.

“Baiklah, jika itu maumu.” Kyuhyun berpikir jika dirinya bisa memanfaatkan para trainee untuk menghibur Hyukjae, suasana hati Hyukjae mungkin saja bisa lebih baik.

Tangan pucat Kyuhyun melambai ketika melihat sebuah taxi, benda beroda tersebut berhenti tepat di depannya. Kyuhyun membuka pintu kendaraan tersebut untuk Hyukjae. “Masuklah.” Ia tak mau membuang waktu dengan kembali ke basement apartemen Hyukjae untuk mengambil mobil.

Hyukjae menurut, ia masuk ke dalam taxi tanpa kata, disusul Kyuhyun.

Tak ada perbincangan apapun antara Kyuhyun dan Hyukjae selama perjalanan, ketika tiba di MCent, bahkan ketika mereka memasuki lift. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing sampai pintu terbuka di lantai tujuan. Mereka berjalan sampai berhadapan dengan seorang pria bersetelan hitam rapi yang berkedudukan sebagai wakil Kyuhyun.

“Selamat pagi presdir.”

Lelaki tersebut mengangguk hormat. Mau tak mau Kyuhyun dan Hyukjae berhenti berjalan dan balas mengangguk.

“Para dewan direksi sudah berkumpul di ruang presentasi, mereka menunggu kedatangan anda.”

“Aku akan segera ke sana.”

Kyuhyun menoleh pada Hyukjae, ingin sekali meletakan tangannya di pipi Hyukjae untuk menghapus tanda merah di pipi sang kekasih yang perlahan memudar. “Penawaranku masih berlaku, Hyukkie. Aku mengizinkanmu meninggalkan kelasmu hari ini.”

“Terima kasih, tapi aku tidak menginginkan itu.”

Kyuhyun tersenyum tipis, kali ini sambil menahan godaan untuk mencium kening Hyukjae. “Sampai jumpa nanti.”

Hyukjae mengangguk tanpa senyuman, membiarkan sang presdir pergi dari sisinya. Rasanya sangat sulit untuk membalas senyuman manis Kyuhyun sekalipun dalam kepura-puraan.

Hyukjae menghela napas. Butuh waktu beberapa detik sampai Hyukjae menyadari bahwa lelaki rapi yang menyapa dirinya dan Kyuhyun masih berdiri di dekatnya, terlihat gelisah karena takut.

“Komisaris ingin bertemu, beliau menunggu di ruang rapat,” kata pria tersebut sambil melirik Kyuhyun di kejauhan.

Hyukjae mengangguk tanpa berpikir panjang, ia ikuti langkah sang wakil presdir berjalan memasuki koridor panjang dan berhenti di depan pintu ganda. Hyukjae terdiam sejenak ketika pintu ruang rapat dibukakan untuknya.

Di dalam, seorang lelaki tua dengan rambut abu-abunya duduk tenang sambil membaca sebuah dokumen di kursi pimpinan rapat.

Hyukjae memasuki ruangan tersebut, ia membungkuk hormat selagi pintu di belakangnya tertutup dengan hati-hati. “Selamat pagi, Komisaris.”

Ayah Kyuhyun mengangguk dan menunjuk deretan kursi di sebelah kirinya. “Duduklah.”

Hyukjae memilih duduk dengan jarak tiga kursi dari ayah Kyuhyun. Suasana makin terasa canggung bagi Hyukjae karena tak berhasil menebak apa topik pembicaraan mereka.

Ayah Kyuhyun meletakkan mapmya di atas meja, ekspresi wajahnya lelah karena kurang tidur. “Aku dengar dewan direksi memasukanmu ke dalam proyek musikal sebagai pelatih tari utama.”

“Benar, tuan,” kata Hyukjae sambil mengangguk sopan.

“Selamat.”

“Terima kasih.”

“Kau pantas mendapatkannya.”

“Tapi saya merasa tidak pantas mendapat pujian langsung dari anda.”

Hanya sekedar basa-basi, Hyukjae merasa yakin tujuan ayah Kyuhyun memanggilnya bukan hanya untuk memberinya selamat, mungkin pujian tersebut adalah awal dari kemurkaan sang komisaris karena semalam Kyuhyun tidak pulang ke rumah untuk menghabiskan sisa hari.

Diam-diam Hyukjae menghembuskan napas, bahunya yang sudah terasa berat akibat pertengkaran dengan Xian Hua dan Donghae makin merosot, tapi Hyukjae meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sekokoh tembok.

“Satu tahun terakhir ini, Kyuhyun sama sekali tak menunjukan kelayakan menjadi seorang pemimpin. Dia begitu sibuk mengurusi urusannya sendiri, hingga melupakan tanggung jawabnya pada perusahaan.”

Sepanjang ingatan Hyukjae, satu tahun terakhir dihabiskan Kyuhyun dengan bekerja lebih keras. Tak jarang sang presiden direktur terjun langsung ke lapangan untuk melakukan survei. Keberhasilannya terlihat jelas ketika para bintang dibawah naungan MCent merilis album baru tepat sesuai jadwal yang ditentukan dan selalu menduduki peringkat pertama di berbagai program musik selama masa promosi, program musikalnya juga terbilang sukses mengingat tiket yang dijual di tiap pertunjukan hampir seluruhnya habis terjual. Belum lagi banyak rumah produksi yang silih berganti mengirimkan tawaran menggiurkan untuk para bintang MCent supaya mau membintangi drama ataupun film mereka, sekaligus mengisi soundtrack-nya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hal tersebut memang menjadikan Kyuhyun jarang memiliki waktu untuk keluarganya. Kalaupun memiliki waktu luang, sang presiden direktur lebih senang menghabiskannya bersama Hyukjae, sekedar untuk jalan-jalan atau hanya makan bersama.

Semua masalah laporan kantor beserta tetek bengeknya diserahkan pada direktur yang lain toh dalam kantornya sudah ada puluhan karyawan yang kompeten dalam semua bidang.

Mungkinkah hal tersebut yang dipermasalahkan sang komisaris? Mengingat ada sekelompok orang dalam MCent yang mencoba untuk korupsi melalui anggaran pajak, dan kebobrokan lain yang tidak pernah terpikir akan terjadi dalam MCent.

Jika benar demikian, maka masalahnya sudah sangat jelas. Bukan semata-mata karena Kyuhyun tak peduli pada urusan administrasi kantor tapi manajemen dalam MCent yang butuh perbaikan.

“Anda bisa melihat hasil kerja keras presdir Cho dari sisi yang lain.”

Ayah Kyuhyun bersandar pada kursi, menumpuk tangannya di atas perut yang mulai membuncit sambil memicingkan mata pada Hyukjae. “Kesempurnaan tidak bisa di peroleh dari satu sisi saja, pelatih Lee.”

Dulu, ketika masih di universitas, Junsu sering mengeluh mengenai perfeksionisme ayah Kyuhyun yang diterapkan dalam perkuliahan. Kyuhyun juga sering mengeluhkan hal yang sama ketika sang komisaris menerapkan prinsip-prinsip kolot nan tegasnya dalam rumah maupun perusahaan.

Hari ini, Hyukjae memahami betapa menjengkelkannya hal tersebut. Mungkin setelah ini dirinya yang akan mengeluhkan hal tersebut pada Junsu.

“Seperti saat kau memutuskan untuk membuka pintu hatimu untuk seseorang.”

Hyukjae tidak mengerti apa hubungannya dengan topik yang sebelumnya.

“Kau harus membuka lebar-lebar pintu hatimu jika ingin memasukan seseorang ke dalamnya.”

Ayah Kyuhyun mencondongkan badan ke depan hanya untuk memperlihatkan pada Hyukjae bahwa dirinya punya kekuasaan atas segalanya ditempat ini.

“Kau tidak boleh hanya membukanya sedikit karena kau hanya akan menyusahkan orang yang berusaha melintas.”

Sekarang, Hyukjae mulai mengerti kenapa sang komisaris membicarakan semua bualan ini.

“Kau juga tidak boleh memasukan seseorang ke dalam hatimu jika orang lain sudah berada di sana.”

Lelaki tua tersebut ingin menuntut kejelasan mengenai posisi Kyuhyun dalam hatinya.

Hyukjae memejamkan matanya. Jarum pendek bahkan belum menunjuk angka sembilan, mengapa semua orang seperti sedang berlomba untuk menghakimi dirinya karena mencintai sang kakak?

Hyukjae tidak tahan lagi. Kelopak matanya terangkat. “Apa yang sekarang anda inginkan dari saya?”

Sang komisaris kembali bersandar di kursinya. Raut wajahnya menunjukan rasa tidak nyaman atas apa yang akan dikatakan, tapi hal tersebut juga sudah dipertimbangkan puluhan kali. “Tolong, tinggalkan Kyuhyun.”

o0o

Hyukjae berlari sekuat yang ia bisa, rasa lelah membuat Hyukjae susah bernapas, namun hal tersebut tak lebih menyakitkan daripada dua kejadian yang ia alami pagi ini. Ditampar sang kakak dan ayah dari kekasihnya meminta untuk menjauhi anaknya.

Sekarang, Hyukjae membutuhkan tempat untuk membongkar seluruh isi hatinya. Hyukjae butuh seseorang untuk membagi beban yang ada di pundaknya.

Bukan Junsu.

Ia butuh lebih dari sekedar pengertian seorang sahabat. Ia butuh seseorang yang mempunyai pemikiran searah dengan ayah Kyuhyun.

Hyukjae berhenti di persimpangan jalan, menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki sambil menata napasnya. Ucapan ayah Kyuhyun dan pertengkarannya dengan Xian Hua berulang kali muncul dalam ingatannya. Seolah berlomba untuk mendapatkan tempat terbanyak dalam pikiran Hyukjae.

Ia bergegas menyeberang ketika lampu menjadi hijau, meneruskan perjalanannya menuju gedung paling tinggi di ujung jalan, tapi langkahnya tiba-tiba melambat ketika matanya menangkap punggung tegap Donghae yang sedang berjalan lima meter di depannya.

“Tidak mungkin dia ada di sini.”

Tapi tanpa sadar Hyukjae mengikuti langkah lelaki tersebut lalu berhenti di tengah jalan kecil menuju pecinaan.

Hyukjae kehilangan jejak Donghae.

Atau mungkin sedari tadi Hyukjae telah dipermainkan oleh pikirannya yang kacau?

Dan lagi, untuk apa dirinya berharap bahwa lelaki tadi benar-benar Donghae? Untuk membalas tamparan sang kakak? Atau Hyukjae membutuhkan bahunya untuk bersandar dan meletakan semua bebannya?

“Tidak!” Hyukjae menggeleng di tengah rintik Hujan yang memadat dengan cepat. Ia berlari lagi, menuju gedung paling tinggi di depan matanya, menerobos kerumunan orang dan guyuran hujan.

Hyukjae berhasil sampai di beranda gedung dalam keadaan basah kuyup. Ia mengatur napas sambil membungkuk memegangi lutut. Air bercucuran dari rambut dan hidung mancungnya.

Seorang petugas keamanan menghampirinya. “Ada yang bisa saya bantu?”

Hyukjae tak peduli. Ia menegakan badan, melewati petugas keamanan untuk menyusuri lobi. Petugas keamanan yang lain sampai harus mengejar dan menangkap Hyukjae.

Hyukjae meronta. “Aku hanya ingin bertemu komisaris kalian!”

“Ada aturan yang harus dipatuhi untuk itu. Jika belum membuat janji, anda tidak bisa bertemu dengan komisaris,” kata salah satu petugas yang mencengkeram erat pergelangan tangan Hyukjae.

“Lepaskan dia.”

Semua berbalik untuk menghadap seseorang dengan kedudukan paling tinggi dalam gedung tersebut. Mereka membungkuk hormat sekalipun tangan mereka masih mengunci pergerakan Hyukjae.

“Aku lihat kalian belum melaksanakan perintahku. Cepat lepaskan dia dan kembali ke posisi masing-masing.”

Para petugas keamanan melepaskan Hyukjae yang tiba-tiba diam dan melemah, kemudian kembali ke pos masing-masing.

“Apa yang membuatmu nekat membuat kegaduhan disini, Lee Hyukjae?”

Sorot mata Hyukjae dipenuhi keputus-asaan. “Aku menyerah, abeoji…” Ia menunduk dalam sambil mengepalkan tangan. “Aku tidak sanggup lagi.”

Hankyung meliat air bercucuran dari dagu Hyukjae, tidak hanya air hujan, Hankyung yakin anaknya sedang menangis.

Hankyung mendekati Hyukjae, mengangkat wajah sang anak untuk membersihkan wajah manis tersebut dari air mata kemudian melepas jasnya untuk dipasangkan pada pundak Hyukjae.

“Katakan, abeoji.” Pipi kering Hyukjae kembali basah oleh air mata. “Apa aku begitu buruk sampai semua orang tidak mengizinkanku bahagia?”

Hankyung membisu.

“Apa aku memang tidak pantas bahagia, abeoji?”

Tidak, tentu saja tidak. Semua orang pantas bahagia. Hanya saja, Hankyung tidak mampu mengucapkan hal tersebut sampai Hyukjae berlutut di depannya dengan hati hancur.

o0o

Setelah mandi dan memakai pakaian hangat warna putih gading yang dipersiapkan pengurus rumah, Hyukjae keluar dari kamar yang pernah dipakai Hankyung untuk mengurungnya beberapa tahun yang lalu. Kaki rampingnya yang dibalut celana hitam menyusuri koridor pendek berlantai kayu hingga berakhir di ruang baca terbuka. Sang ayah duduk di sebuah sofa yang menghadap rak buku sambil menghisap pipa rokok, tirai di sebelah kanannya masih terbuka lebar, menampakan warna langit yang dipenuhi awan pekat tanpa bintang.

Hyukjae mendekat untuk mengisi sofa yang lainnya.

“Bibi Yoon masih menyiapkan makan malam, sementara itu hangatkan dirimu dengan ini.”

Tentu saja bukan pipa rokok dalam apitan jemari Hankyung yang dimaksudkan.

Hyukjae melirik meja berisi dua cangkir teh yang mengepulkan asap tipis, satu kotak racikan tembakau beserta pemantik api, dan sebotol anggur.

Untuk pertama kalinya Hyukjae merasa tidak mempunyai minat pada minuman jenis apapun. Yang Hyukjae butuhkan saat ini adalah ketenangan supaya pikirannya jernih, dan suasana rumah peristirahatan milik sang ayah sudah memberikan lebih dari apa yang ia harapkan. Hyukjae bersandar lalu memejamkan mata, menikmati suara debur ombak yang terdengar samar ditengah rintik hujan. “Bagaimana kabar eomma?”

“Kenapa kau menanyakan kabar eomma-mu? Kau tidak ingin menanyakan kabarku?”

Hyukjae cemberut tanpa membuka mata. Mengapa ayahnya malah bersikap seperti Donghae di saat Hyukjae sedang tidak ingin memikirkannya? “Abeoji terlihat baik-baik saja.”

Kenyataannya tidak.

Senyum getir menghiasi wajah Hankyung sebelum lelaki berstatus ayah tersebut kembali mengisap pipanya.

“Jadi, bagaimana kabar eomma?”

“Besok abeoji akan membawamu pulang, kau akan tahu bagaimana kabar eomma-mu.”

Diam-diam Hyukjae bersyukur karena sang ayah tidak langsung membawanya pulang dalam suasana hati yang kacau.

Kepulan asap menyembur kencang dari bibir Hankyung lalu menari di atas kepalanya, menyebar ke segala arah dan lenyap sebelum sempat mencapai sisi Hyukjae. “Apa yang ingin kau hindari dengan datang ke sini?” Hankyung melirik sang anak melalui sudut matanya. “Ceritakanlah.”

Menimbang sejenak, Hyukjae meletakan sikunya pada lengan sofa untuk menumpu pipinya di atas kepalan tangan. “Abeoji ingat pertanyaan yang pernah abeoji berikan padaku tentang apakah aku benar-benar membutuhkan kehadiran kakak disisiku sebagai orang yang kucintai, bukan sekedar kebiasaan sejak kecil?”

Hankyung hanya menggumam.

“Setahun terakhir, aku mencari perasaan seperti yang aku rasakan pada kakak dari orang lain.”

“Hasilnya?”

Hyukjae menghembuskan napas. “Aku tidak bisa menemukannya.”

Kepulan asap kembali muncul di atas kepala Hankyung, mengisi jeda sesaat yang diciptakan Hyukjae.

“Awalnya aku pikir masalahnya terletak pada rentan waktu kedekatan kami. Tapi hari ini aku sadar masalahnya tidak sesederhana itu.”

Dari percakapannya dengan ayah Kyuhyun, Hyukjae sadar bahwa Kyuhyun tidak akan pernah bisa menggantikan tempat Donghae dalam hatinya tak peduli sebaik apapun perlakuan lelaki bersurai madu tersebut. Dan dari pertengkarannya dengan Xian Hua, Hyukjae menyadari bahwa dirinya benar-benar membutuhkan Donghae di sisinya bukan sebagai kakak yang selalu menyayanginya, tapi sebagai lelaki yang bersedia menjadi sandaran dan memberikan seluruh hatinya hanya pada Hyukjae.

Hanya Hyukjae.

Pundaknya kembali terasa berat ketika Hyukjae teringat seluruh perkataan Xian Hua.

Rasanya masih sulit untuk percaya bahwa wanita tersebut benar-benar memiliki kedekatan khusus dengan Donghae.

Tapi Donghae memukulnya, tepat di pipi, tanpa peringatan sebelumnya. Bagi Hyukjae hal tersebut sudah menjelaskan bahwa sang kakak dan wanita Cina tersebut memiliki hubungan lebih dari sekedar partner kerja.

“Aku tidak bisa menggantikan dia dengan orang lain sekalipun dalam mimpi.” Dan sekejam apapun hal yang telah dilakukan Donghae padanya, Hyukjae tetap tidak bisa mengusir Donghae dari dalam hatinya.

“Hyukjae—”

“Tidak, aku datang ke sini tidak untuk meminta supaya abeoji membiarkanku bersama kakak. Jika itu yang ingin abeoji ketahui.”

Hembusan napas lelah Hankyung membuat raut wajahnya terlihat dua kali lebih tua. Di satu sisi ia menginginkan kebahagiaan Hyukjae, tapi di sisi lain ia tak mampu mengatakan bahwa Donghae bukan anak kandungnya.

“Aku tidak menginginkan hal itu.”

Perhatian Hankyung terpusat pada Hyukjae yang meremas tepi pakaiaannya. antara kebimbangan dan keyakinan belum ada yang terlihat dominan dalam raut wajah Hyukjae.

“Makan malam sudah siap, tuan.”

Hankyung mengangguk tanpa kata dan meminta sang pengurus rumah menjauh dengan isyarat tangannya.

“Ayo, kau harus makan sesuatu.”

Dering gadget pintar Hankyung lebih menarik perhatian Hyukjae, ia lirik sang ayah yang sedang mengeluarkan ponsel dari saku untuk menjawab panggilan tersebut.

Beberapa detik kemudian wajah santai sang ayah berubah menjadi beragam bentuk yang menunjukan rasa tidak senang, tangannya yang kekar meremas pipa rokoknya. “Pastikan tidak ada satu wartawanpun di sana. Aku akan segera datang.”

Sambungan telepon terputus. Hankyung meletakan pipa rokoknya dan berdiri untuk mengancingkan rompi. “Kau harus makan, setelah itu istirahatlah. Abeoji punya sedikit urusan. Jika memungkinkan, abeoji akan kembali lagi ke sini.”

‘Kemungkinan-nya pasti sedikit untuk kasus semacam itu,’ pikir Hyukjae, tapi sang anak hanya mengangguk dengan wajah tertekuk dan membiarkan sang ayah berlalu dari ruangan tersebut.

Urusan penting macam apa yang membuat ayahnya memilih untuk pergi meninggalkannya? Terlebih sang ayah tahu bahwa Hyukjae benar-benar membutuhkan teman bicara.

Hyukjae kembali menyandarkan punggung, tapi tak bisa mendapatkan kenyamanan. Akhirnya, ia bangkit dan berjalan menuju kamar. Lupakan urusan makan malam karena Hyukjae benar-benar tidak ingin makan apapun.

o0o

Mata Hankyung melirik tajam pada sosok muda dan tampan di hadapannya, duduk tenang sambil membalas tatapannya seolah tak memiliki dosa sama sekali, padahal lebam di wajahnya jelas-jelas menunjukan bahwa lelaki tampan tersebut penuh dengan masalah.

“Apa yang dia lakukan?”

Seorang lelaki bersetelan hitam rapi di belakang Hankyung mencondongkan badan. “Tuan muda berkelahi di tempat perjudian, dekat pecinaan.”

Berkelahi?

Judi?

Sekalipun bukan anak kandung dan uang yang dihamburkan bukan milik sang ayah, mana dari dua hal tersebut yang tidak akan membuat orang tua murka ketika tahu anaknya terlibat di dalamnya?

“Siapa yang memulainya?”

“Tuan muda.”

“Alasannya?”

“Ejekan.”

Salah satu alis Hankyung terangkat dramatis. “Hanya sebuah kalimat dan kau langsung memukul orang? Bagus sekali, Lee Donghae.” Menekankan nama marganya seolah menunjukan pada Donghae bahwa Hankyung-lah pemiliknya. Segala sesuatu yang menempel pada nama tersebut harus tunduk pada Hankyung tak terkecuali Donghae.

Seorang petugas kepolisian menghampiri Hankyung, menunduk singkat sebelum memberikan sebuah dokumen lalu pergi. Hankyung membuka map tersebut dan membaca isinya secara cepat.

“Kau sangat beruntung karena putri dari kepala polisi di sini adalah penggemar beratmu. Kau tinggal memberikan tanda tangan, dan semua masalah selesai.” Hankyung menutup map tersebut untuk diberikan pada lelaki di belakangnya. “Tolong urusi sisanya,” kata Hankyung pada lelaki tersebut. Sorot matanya yang penuh cemooh kembali diperlihatkan pada Donghae. “Jika tidak, mereka akan mengirim surat peringatan untuk negaramu karena salah satu warganya membuat onar di negara lain.”

Tangan Donghae mengepal, ia tak menyukai kata-kata Hankyung, terdengar seperti sang ayah benar-benar menganggap dirinya sebagai orang asing, bukan putranya. “Dia tidak terima aku mengalahkannya saat berjudi. Dia berkata bahwa aku curang lalu mengumpat padaku menggunakan seluruh isi kebun binatang, tepat di depan wajahku. Apa yang akan abeoji lakukan jika berada di posisiku?”

Pastinya bukan memunguti koin yang ia menangkan dan pergi begitu saja tanpa memberikan pelajaran pada orang yang berani kurang ajar padanya.

Donghae berdiri dan berjalan, namun lengannya yang sakit diraih oleh Hankyung hingga membuat Donghae meringis.

Tatapan tajam mereka kemudian bertemu.

“Mau kemana kau?” Yang lebih tua menahan giginya supaya tidak bergemeretak.

Donghae mencoba melepaskan diri dari Hankyung, tapi sang ayah makin mempererat cengkeramannya sampai-sampai lengan Donghae berdenyut nyeri.

“Jangan pikir kau bisa melakukan apa yang kau mau, di sini.” Hankyung mendesis. “Kau akan pulang bersamaku, sekarang juga.” Ia menyeret Donghae keluar dari kantor polisi seperti sedang menarik lengan bocah berusia lima tahun yang sangat bandel, memaksa yang lebih muda masuk ke dalam Lexus hitamnya, tak peduli pada hati Donghae yang jengkel bukan main.

Tak bisa digambarkan betapa malunya Donghae saat semua orang yang ia lewati melihatnya dengan beragam ekspresi.

Hankyung menyalakan mobil dan mengemudi dengan kecepatan sedang, tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi. “Apa yang terjadi di Seoul sampai kau memutuskan datang ke sini dan membuat onar?”

Tak disangka dirinya akan mengulangi pertanyaan tersebut. Firasat Hankyung mengatakan apa yang terjadi pada Donghae ada hubungannya dengan Hyukjae, begitupun sebaliknya.

“Banyak yang terjadi.”

“Ceritakanlah.”

Tidak!

Hankyung bisa jadi makin murka ketika tau dirinya melayangkan tangan untuk Hyukjae.

Meskipun Hankyung memiliki kepribadian yang keras, ia tak pernah melakukan hal-hal kasar pada anak-anaknya apalagi sampai memukul yang paling manis.

Saat tahu Hyukjae bercumbu dengan Donghae, Hankyung hanya membawanya pergi dari rumah dan mengurungnya di rumah peristirahatan untuk merenungkan perbuatannya. Sedangkan untuk Donghae, perlakuan Hankyung yang paling kasar hanya mendorong Donghae sampai jatuh, tidak ada yang lainnya.

Donghae memalingkan wajahnya. Tiba-tiba teringat hal lain yang sama menjengkelkannya dengan sebuah umpatan. “Kenapa si berengsek Zhoumi—”

“Kau tidak boleh memanggilnya seperti itu!”

“—tidak memotong pendapatanku untuk melunasi hutang perusahaan?”

Meskipun jawabannya amat mudah, Hankyung lebih memilih diam.

“Pendapatanku bukan hasil berjudi, abeoji.”

Justru karena pendapatannya murni berasal dari keringat Donghae sendiri Hankyung tak sampai hati menerima uang tersebut bahkan sebelum diberikan.

Hankyung seorang komisaris perusahaan konstruksi yang tidak kecil, bahkan bisa dikatakan terbesar di Korea. Relasinya ada di mana-mana. Menarik investor masuk ke dalam perusahaannya semudah membalikan telapak tangan sekalipun keadaan perusahaannya sedang di ujung tanduk. Pernyataan bahwa dirinya bisa menangani masalah keuangan perusahaan sendirian bukanlah sebuah bualan. “Kau tidak perlu memusingkan hal itu.”

Abeoji!”

Di tengah perdebatan, ponsel Hankyung berdering. Yang lebih tua mengambil ponsel tersebut dari dalam saku jas untuk menjawab panggilannya.

Donghae memalingkan wajah pada jendela yang tertutup rapat, makin terlihat jengkel karena Hankyung tidak menempatkan dirinya pada prioritas utama.

Sambungan tersebut membuat wajah Hankyung pucat seketika. Detik berikutnya ia mengatakan akan sampai dalam waktu seperempat jam. Setelah itu Hankyung menelepon seseorang untuk menanyakan keadaan dan juga minta disiapkan sebuah kamar.

Setelah sambungannya terputus, Hankyung memutar kemudi sehingga mobilnya berbelok menuju arah pantai. Lexus hitam tersebut kemudian memasuki sebuah pekarangan dan berhenti di depan sebuah rumah, dinding luarnya didominasi kayu dan kaca, tirai-tirai berwarna pastel menghiasi kaca-kaca tersebut.

Alis Donghae menaut sedangkan matanya memicing. “Kenapa abeoji membawaku ke tempat ini?” Rumah peristirahatan yang pernah digunakan untuk mengurung Hyukjae. “Abeoji mau mengurungku di sini?”

“Turunlah.”

“Benarkah abeoji akan mengurungku?”

Tak ada waktu lagi untuk membawa Donghae ke rumah peristirahatan yang lain, Hankyung sedang berlomba dengan waktu. “Abeoji tidak akan membawamu pulang sekarang, ada hal yang harus diselesaikan, tapi abeoji juga tidak bisa membiarkanmu berkeliaran di luar sana dengan emosi seperti anak usia belasan.” Hankyung memberi isyarat tegas pada Donghae untuk cepat keluar dari mobil. “Apa kau mau abeoji yang menyeretmu keluar?”

Demi Tuhan! Donghae bukan anak kecil! Dan Donghae sudah muak ditarik ke sana-sini.

Donghae mendengus sebelum turun dari mobil tanpa mengucapkan selamat malam ataupun kata-kata lain. Rasa jengkel dalam hatinya benar-benar sudah menggunung ketika Lexus hitam Hankyung tak juga menderu, yang berarti bahwa lelaki yang dia kenal sebagai ayahnya benar-benar akan memastikan Donghae masuk ke dalam rumah.

Donghae merasa lebih buruk dari pada pelaku tindak kriminal pembunuhan berantai, padahal yang ia lakukan hanya memukul, itupun tak sampai membuat orang tersebut pingsan.

Seorang wanita yang lebih tua dari pada Heechul atau Xian Hua menyambutnya di depan pintu, membungkuk hormat dan memandu Donghae masuk ke dalam rumah, menaiki tangga untuk menyusuri koridor pendek hingga berakhir di depan dua pintu kamar yang bersebelahan.

Wanita tersebut membuka salah satunya sambil berkata, “Jika anda menginginkan sesuatu, saya berada di dapur bawah untuk menyiapkan makan malam.”

“Aku tidak akan makan dan aku tidak butuh apapun. Bibi boleh beristirahat.”

Selera makannya hilang sejak tadi pagi.

“Handuk dan es?”

Ah! Benar.

Denyutan di beberapa bagian wajah Donghae mulai terasa mengganggu, terasa perlu untuk segera disingkirkan. Jika tidak, besok Yin He akan berceramah sepanjang hari saat melihatnya—jika pemuda Cina itu bertemu dengannya besok.

“Baiklah, tolong ambilkan handuk dan es saja.”

Rasa penasaran Donghae tiba-tiba muncul kala melihat ventilasi di atas pintu kamar di sebelahnya. Terang karena lampu yang belum dipadamkan. Sedangkan ruangan yang lain terlihat gelap. “Apa ada tamu di rumah ini?” Telunjuk Donghae mengarah pada pintu di sampingnya.

Sang pengurus rumah menggeleng. “Hanya adik anda,” katanya sebelum meninggalkan Donghae bersama rasa tidak percayanya.

o0o

Seperti mimpi-mimpinya yang lain. Donghae selalu berdiri di ambang pintu yang terbuka sambil menyimpan tangannya dalam saku celana. Penyesalan atas segala macam hal menghiasi wajahnya yang lelah.

Hyukjae bangkit dari tempat tidur untuk menghampiri Donghae. Semakin dekat, semakin jelas pula jejak perkelahian pada wajah tampan tersebut.

Tangan Hyukjae terulur. Ujung jemarinya yang lentik menyentuh lebam di sudut bibir Donghae kemudian berpindah pada bagian pelipis. “Apa yang telah kau lakukan pada wajahmu, Lee Donghae?”

Bukannya menjawab, yang ditanya malah sibuk memperhatikan mata pujaan hatinya.

“Kau berkelahi?”

“Apa kau masih marah padaku?”

“Tidak untuk saat ini.”

Bagaimana bisa Hyukjae marah sedangkan sang kakak sudah babak belur begitu?

“Akan kuambilkan handuk dan es.”

Donghae menggeleng. Sorot matanya menunjukkan bahwa kehadiran Hyukjae adalah satu-satunya hal yang ia butuhkan, bukan yang lain.

Hyukjae melingkarkan lengannya yang hangat pada leher Donghae. “Kenapa kau lakukan ini padaku?” Merapatkan tubuhnya pada Donghae, seolah jika Hyukjae menyisakan jarak sedikit saja orang lain akan dengan mudah menempatinya.

“Maafkan aku, Hyukkie.”

“Kau sungguh kejam!” Jemarinya menelusuri pelipis sebelah kiri Donghae, lalu turun ke rahang dan berhenti untuk menangkup leher Donghae. “Kau menyakiti hatiku…” pikiran dan juga raga Hyukjae. Semuanya.

Jeongmal mianhae.”

Tangan Donghae ditempatkan pada pingganng Hyukjae. Matanya menikmati tatapan Hyukjae yang penuh luka tapi menggoda, seperti sedang membujuk lawan bicaranya untuk membangkitkan gairah yang tidak seharusnya ditempatkan dalam situasi tersebut.

“Aku merindukanmu.”

Donghae juga merasakan hal yang sama, bahkan jauh lebih besar. Saat Hyukjae menyentuhnya, kerinduan tersebut tak lagi dapat disembunyikan.

Donghae merindukan apapun yang ada dalam diri Hyukjae. Perhatiannya yang lembut, tatapannya yang penuh cinta, gairahnya yang menggebu saat mereka bercinta, senyuman yang mampu membuat Donghae merelakan apapun hanya untuk melihatnya, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hyukjae kembali membawa tangan kanannya ke belakang leher Donghae, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersebelahan.

Ujung bibir mereka bertemu.

Siapa yang akan kebal dengan godaan semacam itu?

Yang jelas bukan Donghae.

Semakin dekat, semakin pekat pula kabut hasrat yang menutupi mata Donghae.

“Tidakkah kau mengerti bahwa aku hanya tidak senang melihatmu bersama orang lain? Kenapa kau tega—”

Donghae raup bibir menggoda tersebut, membungkamnya dengan cumbuan lembut yang penuh nafsu sehingga Hyukjae lupa dengan kata-kata yang hendak berhamburan dari bibirnya.

Keduanya berlomba mengecup, meraup, dan menyesap rasa manis masing-masing untuk menghilangkan dahaga mereka atas kepuasan.

Lengan kokoh di pinggang Hyukjae naik, meraba punggung sampai ke tengkuk untuk memberikan tekanan lembut, serta menuntut cumbuan yang lebih dalam.

Sesekali mereka melepaskan tautan tersebut untuk mengisi paru-paru mereka dengan oksigen dan memulai kembali sesi cumbuan lain yang lebih memabukkan.

Jemari Hyukjae turun ke dada bidang Donghae, meraba, sebelum meremas pakaian hangat Donghae. Melampiaskan rasa frustrasi karena jemarinya tak bisa menyusup masuk ke dalam pakaian untuk meraba otot kekar yang terbungkus kulit maskulin Donghae.

Donghae melepas tautan bibir mereka kemudian berkata, “Bangunlah.”

“Aku tidak mau,” kata Hyukjae sambil menggeleng. Suaranya begitu memanja. Ujung jemarinya berputar-putar di dada Donghae. “Jika aku bangun, kau akan menghilang.” Bibirnya yang mulai merekah dikecup dengan lembut oleh Donghae.

“Aku tidak akan pergi ke manapun,” kata Donghae. Napasnya yang hangat membelai rahang Hyukjae kemudian turun sampai perpotongan leher. Ia hisap bagian tersebut hingga meninggalkan bekas yang cukup mencolok pada kulit halus Hyukjae.

Kenikmatan memenuhi wajah Hyukjae dan menjalar ke seluruh tubuh, tapi hal tersebut belum cukup. Ia remas rambut Donghae sambil mendongak. “Aku menginginkanmu, sekarang!”

Hasrat Donghae sudah berada di ubun-ubun, siap meledak kapan saja. Donghae juga menginginkan Hyukjae berada di bawahnya, memohon kenikmatan padanya tanpa henti, lalu meneriakkan namanya dalam kepuasan yang tidak dapat dijelaskan, cukup dirasakan.

Tapi akal sehat Donghae melarangnya melakukan hal itu, karena lawan bicaranya saat ini sedang terjebak di antara dunia nyata dan alam mimpi. Memberi Hyukjae kepuasan dalam keadaan tersebut tidak akan berdampak baik.

Donghae membalik Hyukjae, sengaja membenturkan punggung sang adik dengan daun pintu.

Rintihan mengalun manja dari bibir Hyukjae sebelum jemari putihnya meraba tengkuk. Rasa nyeri menjalar dengan cepat ke seluruh tubuh Hyukjae, menyadarkan seluruh indra di tubuhnya.

Hyukjae meraba bibirnya, sepasang mata indahnya yang masih memperlihatkan betapa besar gairahnya saat ini membulat sempurna. Tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa apa yang telah terjadi bukanlah ilusi bunga tidur.

“Apa kau sudah bangun?”

Hyukjae tak yakin untuk mengangguk.

“Maaf karena membangunkanmu—”

“Kenapa kau bisa ada di sini?”

Donghae ingat-ingat lagi apa saja yang telah terjadi padanya sepanjang hari, kemudian si lelaki tampan tersenyum miris. “Mungkin… takdir.”

Takdir kejam yang membuat Donghae jatuh pada Hyukjae, bahkan saat dirinya ingin merenungkan segalanya sendiri, seolah siksaan batin yang di terimanya sampai saat ini belum juga cukup. “Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi tadi pagi.” Ia meraih jemari Hyukjae untuk digenggam dengan dua tangan. “Aku benar-benar tidak punya hubungan dengan bibi Xian Hua, hubungan kami hanyalah sebatas partner kerja.”

Bagaimana dengan perkataan Xian Hua yang seolah menegaskan bahwa keduanya memiliki hubungan?

Donghae meletakkan tangan Hyukjae ke dadanya. “Hatiku, akan selalu jadi milikmu. Tolong jangan mempercayai ucapan bibi Xian Hua karena itu tidak benar.”

Hyukjae sangat ingin mempercayainya, tapi rasa cemburu dan kecurigaannya lebih besar hingga mampu mengalahkan segalanya.

Melihat Hyukjae yang tak kunjung menanggapi, Donghae mengacak rambut Hyukjae. Berfikir bahwa sang adik masih berdebat dengan sisi lain dalam hatinya. Menanyakan apakah dia benar-benar sudah bangun atau masih bermimpi. “Istirahatlah.”

Donghae berniat keluar dari kamar Hyukjae namun pengurus rumah menahan pergerakannya, bahkan Hyukjae sampai menoleh untuk melihat apa yang membuat sang kakak berhenti. Wanita tua tersebut berdiri di luar kamar dengan wajah kaget bukan main dan mati-matian menahan getaran tangannya supaya es yang sebagian sudah mencair dalam wadah yang ia pegang tidak jatuh ke lantai. Donghae menyimpulkan bahwa bibi Yoon sudah lama berdiri di sana hanya untuk tertegun atau memperhatikan kegiatan intimnya dengan Hyukjae.

“Apa air dalam mangkuk tersebut bisa dipakai mengompres memar, bibi?”

Sang pengurus rumah terkesiap, menunduk, kemudian menggeleng dengan cepat. “Akan saya ambilkan yang baru.”

Bibi Yoon mulai berjalan, tapi matanya tak mau berpaling dari Hyukjae, seolah sedang bertanya bagaimana mungkin dua orang dengan ikatan saudara kandung bisa melakukan hal intim semacam tadi?

Jenis pertanyaan yang akan dilemparkan setiap orang jika mengetahui hubungan macam apa yang terjalin di antara Donghae dan Hyukjae.

Dulu Hyukjae berfikir, asalkan Donghae mencintainya, tanggapan macam apapun yang akan dilemparkan orang-orang untuk dirinya dan Donghae dalam berbagai situasi pasti bisa dilalui.

Kenyataannya, situasi saat ini tidak semudah itu.

Donghae kembali menatap Hyukjae, meletakan tangannya di pipi pucat Hyukjae untuk menghapus kecemasan dalam raut memesona sang pujaan hati, tapi Hyukjae mendorong pelan Donghae hingga keluar dari kamarnya tanpa mengatakan apapun. Yang bisa ia perlihatkan hanyalah sorot mata menyerah dan lelah sebelum daun pintu menjadi satu-satunya penghalang bagi mereka.

TBC

Big thanks to everyone who give me support

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s