BROKE THIS PAIN;; Chapter 13

Previous chapter

Donghae kembali menatap Hyukjae, meletakan tangannya di pipi pucat Hyukjae untuk menghapus kecemasan dalam raut memesona sang pujaan hati, tapi Hyukjae mendorong pelan Donghae keluar dari kamarnya tanpa mengatakan apapun, yang bisa ia perlihatkan hanyalah sorot mata menyerah dan lelah sebelum daun pintu menjadi satu-satunya penghalang bagi mereka.


BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul, Henry/Xian Hua & Ryeowook), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to Myhyukkiesmile, ancofishy, Lyndaariez, and all of my beloved reader. Hope you enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream


Chapter 13: Obituary

Sambil mengusap perut seolah menyuruh bagian tubuhnya tenang, Hyukjae menyelesaikan satu putaran terakhir acara gosok giginya, mengambil segelas air untuk dipakai berkumur.

Setelah gelasnya kosong, Hyukjae kemudian menyalakan keran, menyatukan kedua telapak tangan di bawahnya untuk mengumpulkan air yang mengalir. Ia membungkuk di atas kabinet lalu membasuh wajah, beberapa kali hingga rasa kantuk benar-benar tergantikan dengan rasa segar.

Ketika badannya kembali tegak, Hyukjae menarik handuk putih dari gantungan, memperhatikan pantulan sempurna dirinya dalam cermin sambil menekankan kain berserat tersebut pada wajah dan lehernya.

Hyukjae memicingkan mata, merasa ada yang janggal dengan wajahnya sendiri—tepatnya di bagian bibir yang warnanya cukup mencolok. Biasanya, warna bibir Hyukjae lebih pucat dari pada warna tomat yang matang, bahkan setelah menggosok gigi. Kegiatannya dengan Donghae semalam pastilah menjadi penyebab mengapa warna bibirnya berubah menjadi lebih ranum.

Tanpa sadar, ibu jari dan telunjuk Hyukjae meraba bibirnya, kembali teringat bagaimana rasanya saat bibir tipis Donghae membelai sebagian wajahnya hingga ke leher.

Begitu memabukan hingga mampu mendesak keluar keinginan Hyukjae untuk disentuh secara mendalam. Rasanya sungguh tak rela saat Donghae memutuskan untuk menyadarkan dirinya.

Harusnya sang kakak membiarkan saja kegiatan tersebut sampai tuntas.

Jemari Hyukjae bergerak menuju rahang kemudian turun ke leher dan berakhir di pangkal, tepat pada kulit yang berwarna merah gelap hampir biru. Tanda lain yang akan meyakinkan semua orang bahwa dirinya dan sang kakak telah melakukan sesuatu yang berbau intim tapi terhenti di tengah jalan.

Astaga! Apa yang kau pikirkan Lee Hyukjae?

“Sialan!”

Lee Donghae sialan! Pikiran kotornya sialan! Perutnya yang keroncongan juga sialan! Hyukjae mengutuk semuanya.

Hyukjae kelaparan dan butuh makanan! Tapi, sebelum dirinya turun ke bawah, tanda di lehernya harus segera disembunyikan. Tak ada yang boleh melihatnya, terutama Hankyung.

Hyukjae keluar dari kamar mandi dengan langkah menghentak. Kutukan masih berhamburan dari bibirnya yang terlihat amat manis. Secepatnya ia berjalan menuju lemari pakaian, meraih kedua handle pintu untuk membuka benda tersebut.

Beberapa jaket tebal dan pakaian hangat tergantung di samping tumpukan kemeja, dan jenis pakaian yang lainnya. Tangan Hyukjae mengaduk isi gantungan hingga menemukan sebuah pakaian hangat berwarna coklat tua dengan leher tinggi.

Tanpa pikir panjang, Hyukjae mengganti atasan piamanya dengan pakaian hangat tersebut, merapikan bagian lehernya sampai ia yakin tanda sialan di lehernya benar-benar tertutup sempurna.

Sekarang, Hyukjae bisa keluar kamar dengan perasaan tenang, sekalipun celana tidurnya yang berwarna biru pucat tak serasi sama sekali dengan atasannya.

Kesunyian menyapa Hyukjae di sepanjang koridor.

Diam-diam, matanya mengamati tiap pintu yang terlewati dan menjadi penasaran dengan letak kamar Donghae.

Apakah sang kakak sudah bangun?Apa Donghae semalam tidur nyenyak? ataukah sama seperti dirinya yang tidur dalam ketidak nyamanan akibat kegiatan mereka yang tidak selesai? Bahkan kombinasi obat tidur dan obat penenang tak mampu membuatnya tidur dengan nyaman.

Hyukjae menggeleng berkali-kali. Ia memutuskan untuk tidak memikirkan Donghae lagi. Cukup konsentrasi dengan acara konser dalam perutnya saja.

Ketika menuruni tangga, suasana terasa makin sunyi. Pengurus rumah tak terlihat di manapun bahkan di dapur. Menengok keluar jendela, Hyukjae pun tidak dapat menemukan tanda keberadaan tukang kebun.

Sebenarnya kemana perginya semua orang? Hyukjae menggaruk bagian belakang telinganya.

Memeriksa lagi seluruh isi dapur, Hyukjae menemukan salah satu kompor sedang menyala, di atasnya terdapat panci bening berisi sup ikan yang mendidih.

Mata Hyukjae berbinar senang. Akhirnya ia menemukan sesuatu untuk di makan tanpa susah payah, tak masalah jika sup tersebut adalah makanan yang tidak sempat ia makan semalam.

Hyukjae mengambil sebuah mangkuk sedang dan sendok, mematikan kompor lalu mambuka penutup panci. Hampir saja Hyukjae memekik senang saat kepulan asap beraroma ikan segar dan campuran rempah-rempah menyapa hidungnya.

Dengan sabar, Hyukjae memindah isi dalam panci tersebut ke dalam mangkuk menggunakan sendok sayur, gerak tangannya seirama dengan langkah kaki berat yang semakin mendekat.

“Selamat pagi.”

Hyukjae tak perlu menoleh untuk tau siapa yang menyapanya, karena suara tersebut sudah dipastikan milik Donghae.

Begitu jernih untuk ukuran lelaki yang baru bangun tidur. Hyukjae sendiri tak yakin suaranya sejernih itu sekarang. Ia menebak bahwa Donghae sudah bangun sejak tadi.

Lelaki tampan tersebut kemudian membuka kulkas hanya untuk terdiam di depannya.

Karena rasa penasaran, Hyukjae melirik sang kakak serta bagian dalam kulkas dengan sudut matanya.

Ternyata, isi kulkasnya kosong.

Sekarang Hyukjae tahu mengapa tak satu-pun orang terlihat di dalam rumah. Pasti bibi pengurus rumah sedang pergi berbelanja dan lupa mematikan kompor, dan pasti paman tukang kebun yang mengantarnya.

Hyukjae kembali mengisi mangkuknya, agak terganggu ketika perut Donghae mengeluarkan bunyi khas orang kekurangan makan, sama seperti dirinya.

Hyukjae tidak peduli.

Ia berjalan menuju pantry kemudian menarik kursi dan menyamankan posisi duduknya di atas kursi tinggi. Meskipun demikian, mata Hyukjae masih terhubung pada sosok tampan yang kini memunggunginya sambil memegang perut serta menggaruk tengkuk.

Membayangkan wajah sang kakak membuat Hyukjae menahan tawa. Pasti sangat lucu. Donghae menginginkan telur dadar untuk perutnya, tapi dirinya tak punya pilihan lain selain sup ikan.

Dengan wajah cemberut, Donghae akhirnya mengambil mangkuk lalu mengisinya dengan sup, namun karena tangan kekarnya tidak ditakdirkan untuk sekedar memegang peralatan dapur, kuah dalam sendok sayur tersebut malah menyiram tangan kirinya.

Donghae mengaduh, buru-buru meletakkan mangkuknya di samping kompor sebelum menoleh ke sana-sini untuk mencari lap.

Rasa cemas segera menghantam Hyukjae, ia bangkit untuk menyambar lap di dekatnya lalu menghampiri yang lebih tua. Ia raih tangan Donghae yang tersiram kuah panas untuk segera dibersihkan dari cairan lengket kekuningan. “Bagaimana mungkin kau tidak bisa menuang sup ke dalam mangkuk dengan benar? Hanya menuang. Itu pekerjaan yang sangat mudah!”

“Aku tidak pernah melakukannya sendiri. Biasanya bibi Xian Hua yang menyiapkan segalanya.”

Pergerakan Hyukjae terhenti. Ia mengangkat dagu hingga tatapan tidak sukanya bertemu dengan mata Donghae. “Xian Hua? Benarkah?”

Donghae jadi tergagap lengkap dengan wajah gugup. “Tidak! Yin He yang lebih sering menyiapkan makanan untukku—”

Omong kosong! Yin He juga tak handal membuat apapun kecuali cokelat panas dan kopi.

“—bukan bibi Xian Hua.”

Penjelasan Donghae seperti tak ada artinya bagi Hyukjae. Perkataan pertama sang kakak sudah menancap dan terlanjur membuat hati Hyukjae dongkol. Ia lempar lap di tangannya ke atas meja lalu keluar dari dapur. Mengacuhkan Donghae dan sup-nya yang masih mengepulkan asap tipis.

Donghae mengacak rambutnya sambil menggerutu kemudian menjulurkan kepalanya, samar-samar melihat Hyukjae menjatuhkan diri di atas sofa panjang di depan televisi.

Perut Donghae berbunyi lagi. Lelaki tampan tersebut menunduk lalu mengumpati bagian dirinya sendiri yang tidak bisa diajak kompromi. Ia raih mangkuk berisi sup di atas pantry lalu membawanya menuju tempat Hyukjae.

Donghae memilih duduk di ujung sofa, takut Hyukjae akan berdiri dan pergi jika ia terlalu dekat. Siap dengan kalimat yang harus ia ucapkan terlebih dahulu. “Apa aku terlihat se-tidak waras itu sampai-sampai kau mengira aku berkencan dengan istri pemilik ZMent?” nada suaranya makin tegas kata demi katanya.

Sontak Hyukjae menoleh. Menatap sang kakak dengan pemikiran baru yang lebih mengerikan. “Apa? Kau berkencan dengan Fei?”

Kepala Donghae rasanya mulai pusing. Ia menghembuskan napas untuk membangun dinding kesabaran. “Tidak. Aku bicara tentang Liu Xian Hua. Dia istri kedua Li Zhoumi.”

Hyukjae menghadapkan diri sepenuhnya pada Donghae. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tau tapi mencemooh. “Kau pasti sedang mengarang cerita untuk isi album terbarumu.” Kemudian, mata Hyukjae memicing. “Itu sangat tidak bagus.”

“Aku tidak mengarang cerita, sungguh!”

“Jika dia istri Li Zhoumi, harusnya lelaki itu menendangmu dan Liu Xian Hua jauh-jauh dari perusahaannya karena kalian lebih sering terlihat bersama dari pada pasangan kekasih yang sekarang gencar di perbincangkan media.”

“Siapa? Cho Kyuhyun?”

Tidak! Bukan Kyuhyun yang di maksud Hyukjae.

“Jadi, sebenarnya kau cemburu padaku atau pada Cho Kyuhyun?”

Tidakkah hal tersebut sudah jelas? Oh Tuhan, berikan Hyukjae kesabaran.

“Jangan mengalihkan pembicaran.” Mati-matian Hyukjae menahan telunjuknya supaya tidak teracung di depan hidung Donghae. “Jika Xian Hua memang istri Zhoumi, mengapa wanita itu terus menempel padamu? Apa Zhoumi sudah mencampakkan-nya?”

“Tidak, bukan begitu.” Donghae menggeleng lalu mendekat pada Hyukjae, menyodorkan sesendok sup ke depan bibir Hyukjae. “Tenanglah dan buka mulutmu.”

Karena lapar dan tergoda dengan aroma sup, tanpa pikir panjang Hyukjae menyesap sup tersebut.

“Bibi Xian Hua tinggal bersama Zhoumi. Apartemen mereka ada di dekat apartemenku. Sebenarnya mereka punya rumah yang lebih besar di daerah pinggiran kota, tapi mereka hanya menempatinya saat akhir pekan.”

Donghae menyendok sup dalam mangkuk untuk dirinya sendiri sebelum menyuapkan untuk Hyukjae lagi.

“Bagaimana mereka bisa menikah sedangkan Zhoumi masih memiliki istri? Apa Zhoumi memang tipikal lelaki hidung belang?”

Donghae nampak berpikir sambil mengunyah daging ikan dalam mulutnya. “Aku tidak banyak tahu tentang hal itu. Yang jelas, Zhoumi rela keluar dari daftar ahli waris tuan Li Jiaheng hanya untuk menikahi seorang Liu Xian Hua yang saat itu adalah komposer tidak tetap di perusahaan kecil. Sepanjang pengetahuanku, bibi Xian Hua juga begitu mencintai dan menghormati Zhoumi. ZMent bisa sebesar sekarang adalah hasil kerja keras mereka selama puluhan tahun.”

“Berapa lama usia pernikahan mereka?”

Tiga, empat, lima. Hyukjae terus menerima suapan dari Donghae, mengabaikan segala macam hal di sekitarnya.

“27 atau 28, entahlah. Aku sendiri tidak yakin. Yin He pernah menceritakannya padaku tapi aku lupa.” Cengiran lucu Donghae muncul dengan rasa tidak berdosanya.

“Selama itu? Apa mereka punya anak?”

Donghae mengangkat bahu lalu menyuapkan sup lagi pada Hyukjae. “Tidak ada yang pernah menyinggung hal tersebut, bahkan Yin He. Yang aku dengar dari beberapa orang, bibi Xian Hua mengalami kecelakaan saat hamil 7 bulan. Dia berhasil selamat tapi tak ada satu-pun orang yang tahu apakah bayinya saat itu bisa diselamatkan atau tidak.”

Setengah dari diri Hyukjae merasa iba pada Xian Hua. Bagaimanapun kehilangan seseorang apalagi bagian dari dirinya sendiri pasti amat menyakitkan. “Semuanya jadi jelas. Dia tidak punya anak dan suaminya cukup sibuk untuk diurusi, maka dari itu dia menempel padamu sepanjang waktu.”

“Mungkin.”

“Maka dari itu dia dengan berani mengatakan bahwa rentan usia kalian bukanlah masalah untuk hubungan kalian. Tidakkah kau memahami apa artinya itu?”

Donghae memutar matanya, mulai jengah dengan perasaan cemburu Hyukjae yang tanpa ujung. “Kata-kata yang diucapkannya padamu kemarin hanya emosi karena kau tidak bersikap sopan padanya.” Sang bintang menelan ikannya dengan hati tidak sabar. “Jadi, berhentilah memiliki prasangka buruk pada bibi Xian Hua dan diriku karena kami memang tidak berkencan.”

Hyukjae memandang Donghae dengan wajah menilai, masih mempertimbangkan segalanya.

Sambil berfikir, ia amati Donghae yang sedang memasukan sup ke dalam mulutnya. Hyukjae berkedip beberapa kali sampai Donghae menyodorkan sesendok sup padanya.

“Ini yang terakhir.”

Secepat itu?

Seharusnya belum. Hyukjae yakin telah mengisi mangkuk tersebut sampai penuh, dan amat yakin bisa membuatnya kenyang jika ia menghabiskannya. Jika supnya habis secepat ini sedangkan perutnya masih lapar, maka—

” Jika kau mau lagi, aku bisa mengambilkan untukmu. Kali ini aku akan berhati-hati memindahkannya dari dalam panci.”

—sedari tadi mereka memakan sup dengan alat makan yang sama.

Apa hal tersebut bisa dikatakan ciumam tak langsung?

Bisa ataupun tidak, Hyukjae tak bisa menahan warna merah alami yang menyebar dengan cepat di kedua pipinya.

“Kau mau aku mengisinya sampai penuh, baby?”

Ya! Pencuri kesempatan!”

Donghae segera bangkit dan berlari menuju dapur sebelum Hyukjae melemparinya dengan apapun yang mampu ia jangkau. Diteriaki pencuri kesempatan oleh orang yang paling ia kasihi tidak terdengar buruk untuk Donghae. Di dalam dapur, Ia tersenyum—hampir tertawa seperti orang kehilangan akal.

o0o

Telepon aku setelah membaca pesan ini.

Ibu jari Hyukjae ditekankan pada simbol panah yang melengkung, kemudian berpindah pada nama Junsu yang tercetak tebal di bawah nama Kyuhyun.

Demi Tuhan! Jangan membuatku cemas! Cepat hubungi aku!

Setelah menghembuskan napas, Hyukjae memutuskan untuk menghubungi Junsu. Meletakan ponselnya di telinga sambil mendengar dering nada tunggu.

“Sialan kau, Lee Hyukjae!”

Hyukjae langsung menjauhkan gadget-nya dari telinga karena tak mau tuli mendadak.

“Bagaimana bisa kau mematikan ponsel-mu selama dua puluh empat jam penuh?”

Benarkan sudah 24 jam dari saat ia melintasi pintu MCent dan mengambil keputusan untuk pergi ke Incheon?

“Apa kau tidak berfikir aku mencemaskanmu?”

Bahkan teriakan Junsu masih terdengar dari jarak sejauh lengan Hyukjae.

“Mianhae!” Hyukjae balas berteriak sambil menggosok telinganya.

Ya! Jangan berteriak padaku!”

“Baiklah, aku tidak akan berteriak, tapi kau juga jangan berteriak, oke?”

Hembusan napas terdengar dari seberang line, sebelum Hyukjae benar-benar yakin untuk menempelkan gadget-nya lagi di telinga.

“Baiklah. Kau di mana sekarang? Kau tahu, aku seperti orang gila saat tidak bisa menemukanmu di kantor.”

“Aku di Incheon.”

Mwo? Kau pulang?”

Ne.”

Wae?”

Haruskah Hyukjae menceritakan percakapannya dengan ayah Kyuhyun pada Junsu?

“Komisaris tidak memintamu untuk mengundurkan diri, kan?”

Tidak.

Tapi, secara tidak langsung, iya.

Entahlah!

Hyukjae tak bisa membayangkan solusi lain selain keluar dari MCent sebagai upaya memenuhi permintaan ayah Kyuhyun.

“Jangan diam saja, Lee Hyukjae. Demi Tuhan, aku sangat takut.”

“Beliau tidak melakukan apapun padaku. Apa yang kau takutkan, Kim Junsu?”

“Apa kau tau, Komisaris berencana mengganti semua anggota dewan termasuk presdir Cho.”

Mata Hyukjae berkedip beberapa kali sebelum akhirnya membulat sempurna. “Bagaimana mungkin?”

“Komisaris tidak menyukai kenyataan bahwa beberapa karyawan terlibat dalam penyelewengan dana pajak. Beliau bersikeras bahwa presdir yang bertanggung jawab penuh atas hal tersebut. Orang tua menyebalkan itu benar-benar marah saat rapat kemarin. Bahkan suara teriakannya terdengar sampai beberapa meter di luar ruangan. Aku heran bagaimana bisa pak tua itu keluar dari ruang rapat dengan punggung tegap tanpa memegangi dadanya.”

Atau mungkin ayah Kyuhyun sudah mempersiapkan diri dengan baik sebelum menghadapi para bawahannya?

“Yang lebih parah, beliau akan menjadikan Cho Kyuhyun dosen biasa di MC university jika dirinya tidak segera menemukan siapa saja pelaku penyelewengan tersebut.”

“Tidak mungkin.” Setegas apapun prinsip yang dianut ayah Kyuhyun, Hyukjae berfikir keputusan tersebut tidaklah bijak.

Menjadikan Kyuhyun sebagai dosen biasa sama saja seperti membanting harga diri Kyuhyun tanpa belas kasih. Meskipun Hyukjae tau tidak ada yang bisa menguasai segala macam materi tentang dunia hiburan sebaik Kyuhyun, terutama materi tentang tarik suara.

“Orang tua itu benar-benar tidak memecatmu kan, Lee Hyukjae?”

“Tidak.” Setidaknya belum. Suara Hyukjae melemah.

“Lalu apa yang dikatakan orang tua itu sampai kau memutuskan pulang?”

“Beliau hanya memberiku selamat karena dewan direksi memasukanku dalam proyek musikal.”

“Hanya itu? Aku pikir dirimu sedang mengarang omong kosong.”

Hyukjae memutar mata dengan wajah malas. “Beliau mengatakan itu, sungguh.” Dan juga banyak omong kosong lainnya. Yang jelas, Hyukjae tak ingin membahas semua itu sekarang.

Junsu kembali berceloteh namun Hyukjae tak memperhatikan, matanya menangkap Lexus hitam milik Hankyung yang memasuki pekarangan di susul SUV kelabu. Hyukjae ingin tau apa yang selanjutnya akan terjadi. “Junsu-ah, aku harus menemui abeoji.”

“Tunggu, Hyukjae. Aku belum selesai.”

“Nanti kita sambung lagi. Oke?”

Sambungan telepon di putus secara paksa oleh Hyukjae. Setengah berlari dirinya keluar dari kamar, menyusuri koridor dan menuruni anak tangga. Hyukjae berhenti sebelum mencapai dasar dan diam saat sang ayah berjalan menuju sofa panjang di depan televisi. Ada sebuah paper bag di tangan kirinya sedangkan yang kanan menempelkan Note-nya di telinga.

“Atur ulang jadwal meeting setelah makan siang, lalu kirimkan proposal pembangunan gedung yang baru ke email-ku.” Hankyung duduk di ujung sofa sambil melonggarkan dasinya. “Baiklah, jika revisinya sudah selesai cepat kirimkan padaku. Jangan buat kesalahan sedikit-pun karena itu bisa membuat kita kehilangan kesempatan bahkan untuk sekedar mengikuti tender.”

Setelah Hankyung memutus sambungan teleponnya, ia menatap sang anak yang masih betah diam di tangga. “Lee Hyukjae, kau akan pulang dengan tuan Kim.” Lalu Hankyung berpindah pada Donghae yang baru memasuki rumah dan berjalan mendekat. “Sedangkan kau, Lee Donghae.” Paper bag di sampingnya berpindah ke atas meja. “Cepat ganti pakaianmu.”

Donghae mendekat untuk mengintip isi tas tersebut. “Kenapa aku harus memakainya?”

Hankyung menyilangkan tangannya di depan dada, memunculkan rasa tak sabar pada wajahnya yang berwibawa. “Apa aku terlihat punya banyak waktu? Cepat ganti saja pakaianmu!”

Wajah Donghae merah karena menahan emosi. Ia menyambar paper bag di hadapan Hankyung sebelum berjalan menuju tangga, tapi masih sempat terdiam sejenak karena berhadapan dengan Hyukjae.

Donghae tak Ingin sang adik melihat kemarahannya. Maka dari itu, ia berusaha sekuat tenaga meredam amarahnya dengan senyuman tipis sebelum kembali bergerak dengan cepat menaiki anak tangga.

Hyukjae tak bisa memperlihatkan ekspresi selain kebingungan saat sang kakak memasuki koridor.

“Apa aku harus mengulangi lagi kata-kataku untuk kakakmu tadi, Lee Hyukjae?”

Kali ini, ketidak mengertian Hyukjae ditujukan pada Hankyung. “Kenapa aku tidak pulang bersama abeoji saja?”

“Aku dan kakakmu harus menyelesaikan sesuatu.”

“Apa—”

“Tolong, jangan bertanya lagi Hyukjae. Ganti saja bajumu. Bibi Jung sudah menatanya di lemari kan?” Sang ayah mengangkat tangan seolah menyerah. Raut wajahnya benar-benar terlihat lelah, tak mau berdebat, dan sepertinya sang ayah tidak bercukur pagi ini karena banyaknya masalah yang mengganggu pikirannya.

Tak mau membuat masalah sang ayah semakin berat, Hyukjae segera berbalik dan menaiki anak tangga.

Beberapa saat kemudian Hyukjae kembali turun, badannya sudah dibalut dengan jaket tebal warna hitam serta jeans biru langit lengkap dengan ransel hitam di pundak kanannya. Donghae menyusul di belakangnya dalam balutan kemeja dan celana serba hitam khas orang berkabung. Tak ada dasi dan jasnya masih dijinjing di tangan kiri.

“Tuan Kim sudah menunggumu di luar,” kata Hankyung pada Hyukjae.

Sang anak kemudian mengangguk sopan pada sang ayah. “Aku pergi, abeoji.”

“Hati-hati di jalan,” jawab Hankyung sambil bangkit dari tempatnya duduk. “Ayo.” Ia berikan isyarat pada Donghae untuk mengikuti.

Keduanya berjalan sedikit cepat sampai berada di samping Lexus Hankyung.

Donghae berhenti sejenak untuk memakai jas-nya sambil mencuri kesempatan untuk melihat Hyukjae masuk ke dalam SUV.

Sang adik tak sedetikpun menoleh ke arahnya. Hal tersebut seperti cubitan yang cukup sukses membuat hati Donghae sakit dan kesal. Ia baru membuka pintu penumpang bagian depan ketika Hankyung menyalakan mesin. “Sebenarnya kita mau kemana?” tanya Donghae sambil menarik sabuk pengaman.

“Bandara.”

Hal tersebut sudah pasti menimbulkan rasa ingin tau bagi Donghae. “Untuk apa?”

“Tolong jangan bertanya lagi.”

Donghae terpaksa menelan bulat-bulat rasa jengkelnya untuk sang ayah.

o0o

Hantu tidak menginjakkan kakinya di lantai, kan? Hantu juga tidak menampakan dirinya di tengah hari. Lantas mengapa pengurus rumahnya melihat Hyukjae seolah sedang berhadapan dengan hantu?

“Bibi baik-baik saja?” tanya Hyukjae, menyadarkan wanita tua tersebut dari rasa tidak percayanya.

Wanita tersebut akhirnya tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. Sang pengurus rumah mengaitkan kedua tangannya sambil menghadap ke atas, seolah sedang berterima kasih kepada sang pencipta karena mengembalikan anggota keluarganya sendiri. Wanita tua tersebut juga terlihat menahan diri untuk memeluk Hyukjae. Bagaimanapun, titual tersebut harus dilakukan terlebih dahulu oleh nyonya rumah mereka.

“Anda pasti ingin bertemu nyonya, mari saya antarkan.”

Hyukjae menggeleng sambil tersenyum, sedikit kesal karena sang bibi menatapnya seolah Hyukjae masih berumur tujuh tahun yang tidak akan bisa menemukan ibunya seorang diri. “Beri tahu saja di mana eomma sekarang. Aku ingin menemuinya sendirian. Dapur atau kamar?”

Menahan rasa kecewanya, sang pengurus rumah menunduk murung. “Nyonya di dalam kamar anda.”

“Baiklah, terima kasih.” Ia segera naik ke lantai atas menuju kamarnya.

Oh, tunggu dulu!

Kamarnya?

Rasa penasaran muncul diikuti perasaan gugup yang merayap dari kaki Hyukjae kemudian menjalar naik sampai puncak kepala. Tangannya mulai gemetar karena takut saat berhenti di depan pintu kamar yang sudah lama ia tinggalkan. Tempat yang menyimpan banyak kenangan bersama Donghae. Mulai dari susah, senang sampai hal paling intim yang mereka bagi bersama.

Well, Hyukjae bisa memikirkan hal itu lagi, nanti. Sekarang ia hanya perlu menyingkirkan rasa gugup dan membulatkan tekat untuk masuk.

Dengan gerakan sangat pelan, Hyukjae membuka pintu kamarnya sampai bisa melihat sang ibu terbenam dalam kenyamanan sebuah sofa dan selimut tebal. Tangannya terlipat di depan dada sedangkan pandangannya melayang jauh melintasi tirai tipis dan kaca bening di sampingnya, entah sedang memikirkan apa.

Hyukjae juga suka melakukan hal tersebut saat sedang suntuk atau memikirkan sesuatu, Donghae juga memiliki kebiasaan yang sama. Hanya Hankyung yang tidak pernah melakukan hal tersebut saat penat memenuhi kepalanya, anggur atau racikan tembakau menjadi solusi terbaik.

Eomma…”

Suara Hyukjae hampir seperti bisikan, namun cukup untuk membuat wanita paruh baya tersebut menoleh dan memicingkan mata untuk mengamati lekat-lekat siapakah sosok yang berdiri di ambang pintu kamar.

“Aku pulang.”

Mata Heechul membulat sempurna. Ia bangkit, tak peduli pada selimutnya yang terjatuh di lantai, untuk menghampiri anaknya yang telah lama pergi. “Apa aku bermimpi?”

Sambil tersenyum, Hyukjae menggeleng cepat-cepat lalu merasakan tubuh kurus sang ibu menabrak dan memeluknya dengan erat.

“Dasar anak nakal! Bodoh! Bodoh!” Heechul memukuli punggung Hyukjae berkali-kali sampai-sampai sang anak meringis menahan sakit. “Kenapa kau baru pulang sekarang!?” wanita cantik paruh baya tersebut kemudian terisak dalam perasaan lega bercampur kesal. “Apa kau tidak menganggapku sebagai ibumu lagi?”

Hyukjae membalas pelukan sang ibu, membenamkan wajahnya di pundak kurus Heechul. “Mianhae…”

“Tidak! Kau tidak akan kumaafkan! Sekalipun kau minta maaf seribu kali padaku, setiap satu jam sekali!”

Hyukjae jadi ikut menangis. “Mianhae eomma, jeongmal mianhae.”

“Kau anak Lee Hankyung yang menyebalkan! Sikapmu sama menyebalkannya dengan ayahmu.” Tangannya berhenti memukuli punggung Hyukjae, kepalan tangannya terbuka di bagian punggung Hyukjae yang sedari tadi ia hujani pukulan, membelainya dengan lembut seolah menghilangkan rasa sakit yang ia timbulkan. Amarahnya surut perlahan-lahan. “Tapi aku tidak menyesal memiliki kalian.”

Mianhae eomma, mianhae, mianhae…”

Heechul mendongak sambil membelai rambut Hyukjae, bersyukur atas kembalinya sang anak ke dalam pelukannya. “Selamat datang di rumah, Hyukkie.”

o0o

Setelah bosan menangis, Heechul kembali duduk di sofa. Sang anak memasangkan selimutnya kembali untuk melindungi diri dari hawa dingin. Tak ada lagi wajah murung, yang terlihat hanya rasa bahagia dalam raut pucatnya.

Jemari Heechul yang kurus membelai lembut rambut Hyukjae, yang mana sang anak sedang merebahkan kepala di pangkuannya.

“Aku merindukan eomma.”

Telunjuk dan ibu jari Heechul bersatu untuk memberikan sengatan ringan di dahi sang anak. “Jika kau merasa rindu, maka kau bisa pulang kan? Anak bodoh.”

Hyukjae tersenyum tanpa dosa sambil mengusap dahinya, belum berniat bangkit dari tempatnya merebahkan kepala.

“Aku merindukan Eomma.”

Jemari Heechul berhenti mengusap rambut Hyukjae. Matanya memicing seolah sedang membongkar isi kepala Hyukjae

Mungkin kerinduan tersebut hanyalah sebagian kecil alasan kepulangan Hyukjae. Alasan yang lebih besar tidak bisa Heechul ketahui. Yang jelas, Hyukjae tak bisa menyembunyikan hal tersebut darinya bahkan sejak sang anak mengucapkan salam.

Hyukjae tiba-tiba mengangkat kepala, duduk tegak lalu mengambil mangkuk berisi bubur dari atas meja. “Waktunya makan! Aku akan menyuapi eomma.”

Heechul tersenyum lalu mengangguk tanpa dua kali berfikir. Biasanya para pelayan akan menghabiskan waktu sampai beberapa jam hanya untuk membujuk Heechul supaya mau makan, sedangkan Hankyung membutuhkan waktu lima belas menit untuk membujuk sang istri.

Hyukjae mulai meyuapkan bubur untuk Heechul, sesendok demi sesendok dengan penuh kesabaran.

“Ayahmu bilang, kau lulus dari universitas seni milik MC group dan bekerja di MCent.”

“Itu benar.”

“Selamat.”

Meskipun terlambat, tapi Hyukjae sangat bahagia mendengar hal tersebut. Ia tersenyum lebar sehingga matanya tersembunyi dengan amat manis di balik kelopaknya. “Terima kasih, eomma.”

“Meskipun kau memilih program study yang tidak disukai ayahmu, kami tetap merasa senang dan bangga saat kau bisa bertahan tanpa kami sampai detik ini.”

Entah Heechul harus berterima kasih ataukah marah pada Donghae atas semua ini. Secara tak langsung, Donghae telah memisahkannya dari Hyukjae, tapi Donghae juga yang telah mendorong Hyukjae pada kemandirian yang tidak pernah Heechul bayangkan akan bisa dilalui Hyukjae.

“Awalnya aku hanya mengikuti Junsu audisi, tapi pihak MCent malah menawarkan kami pendidikan. Mereka bilang akan sangat disayangkan jika bakat kami tidak memiliki dasar.”

“Eomma mengetahui hal itu. Semuanya, dari ayahmu. Dia tak melewatkan sedikitpun informasi tentangmu. Termasuk saat kau dirawat intensif karena over dosis.” Jemarinya membelai pipi Hyukjae dengan penuh rasa sayang. “Katakan, apa kau masih memiliki kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan ilegal?”

Berbohong bukan pilihannya saat ini. Hyukjae mengangguk dengan perasaan takut.

“Tolong berhentilah. Kasihanilah dirimu sendiri.”

Hyukjae menelan ludahnya. Sangat sulit untuk berhenti, terutama di saat bayangan Donghae menghancurkan ketenangannya. “Aku akan berusaha…” Ia suapkan lagi sesendok penuh bubur untuk sang ibu.

“Baiklah kalau begitu.” Sambil menelan buburnya, Heechul nampak sedang berfikir tentang Donghae dan Hyukjae. Perusahaan tempat kedua anaknya bekerja sedang melakukan kerja sama, harusnya mereka sudah bertemu. Dan jika mereka sudah bertemu maka Heechul jadi penasaran dengan reaksi Hyukjae. “Apa kau sudah bertemu kakakmu?”

Sang anak menoleh ke arah yang berlawanan dengan sang ibu sebelum menjawab, “sudah,” dengan cukup lancar.

Otak Heechul kemudian menemukan kesimpulan. “Apa kau pulang karena ingin menghindari Donghae?”

Dan juga Kyuhyun.

Tadinya, itu menjadi pertanyaan dan jawaban yang tepat sekali, sebelum akhirmya Donghae muncul di kamar Hyukjae dengan jutaan pesona sekalipun mukanya babak belur.

“Kakak juga ada di sini.”

MWO?” Posisi duduk Heechul yang tadinya santai berubah menjadi tegak. Tak bisa lagi menutupi rasa penasarannya. “Apa yang sebenarnya terjadi di sana?”

“Sebenarnya aku sampai di sini kemarin sore, sebelum jam kantor berakhir. Setelah itu, abeoji membawaku ke rumah peristirahatan di dekat pantai. Dan kakak…” Ingatan tentang lelaki yang diikuti Hyukjae sampai menghilang di pecinan kembali muncul. Mungkinkah laki-laki tersebut bukan ilusi melainkan benar-benar sosok Donghae? “Aku tidak tahu kapan tepatnya dia datang. Yang jelas, aku bertemu dengannya lewat dari jam sembilan malam di rumah peristirahatan.” Hyukjae mengaduk bubur yang sudah berkurang setengah dalam mangkuk sambil mengusir bayangan dari kegiatan bercumbunya dengan Donghae.

Kemarahan nampak jelas di wajah Heechul— “Itukah alasan ayahmu pulang lewat tengah malam kemarin?” —meskipun suaranya begitu lemah dan lelah.

Hyukjae tau pasti bukan dirinya ataupun Donghae yang membuat sang ayah tidak pulang tepat waktu. Semalam, ketika menengok pekarangan melalui jendela kamarnya, Hyukjae tak menemukan Lexus Hankyung di manapun.

“Lalu di mana kakakmu sekarang?”

Abeoji pergi dengan kakak ke suatu tempat,” dengan pakaian gelap seperti mau menghadiri pemakaman.

Hyukjae tak berani berkomentar. Takut pikirannya keliru dan membuat sang ibu cemas.

“Apa kau tau sesuatu, sayang?”

Hyukjae menggeleng dengan polosnya sehingga membuat sang ibu mendesah pasrah.

Heechul kemudian menunjuk Note-nya di atas meja. “Tolong ambilkan itu.”

Hyukjae meraih alat komunikasi yang dimaksud untuk diserahkan pada sang ibu.

Kedua ibu jari Heechul segera bergerak cepat di atas layar. Tak terlalu lama. Mungkin hanya menanyakan di manakah posisi sang suami saat ini.

“Baiklah, tinggal beberapa sendok lagi, setelah itu eomma bisa meminum obatnya.”

Heechul bersidekap sambil mentap Hyukjae. “Eomma-mu ini tidak sakit, Hyukkie. Dokter sok tau itu saja yang melarang eomma makan ini atau itu, makanya bibi Jung memanfaatkan kesempatan itu untuk membuatkan eomma bubur supaya dia mendapat keuntungan tidak memasak banyak makanan.”

Sekalipun sifat cerewetnya masih sempurna, suara Heechul yang lebih berat daripada penderita flu berat cukup untuk membuktikan bahwa ibunya tidak cukup sehat untuk mengelilingi pusat perbelanjaan sekalipun hanya seperempat jam.

“Aku tidak mau tau! Eomma harus meminum obat ini!”

Heechul mengacak rambut Hyukjae dengan wajah kesal bercampur senang. “Kau tau eomma tidak pernah bisa menolak kemauanmu makanya kau memanfaatkan kesempatan ini. Dasar anak nakal.”

o0o

Hujan kembali mengguyur Incheon, lebih lebat disertai angin kencang dan petir. Hawa dingin dan perasaan was-was yang berlebihan menyerang siapa saja termasuk mereka yang duduk nyaman dalam rumah yang dilengkapi dengan penghangat.

Hyukjae mengambil cangkir tambun dari atas meja, memeganginya dengan kedua tangan supaya rasa hangat dari cairan dalam perabot porselen tersebut mampu menghilangkan rasa dingin yang mengusik jemarinya.

Sang ibu duduk di seberang Hyukjae, sibuk merapal doa dan bergandengan tangan dengan teman baiknya yang bernama Kim Jaejoong. Wanita cantik pemilik rumah mode tersebut sedang menyempatkan diri untuk menjenguk Heechul yang sedang sakit, semakin senang saat mengetahui Hyukjae pulang setelah sekian lama.

Mata Hyukjae tertuju pada jendela.

Kilatan cahaya membelah pekatnya langit malam. Begitu terang hingga warna langit berubah menjadi kelabu untuk beberapa saat. Gemuruhnya yang dahsyat terdengar beberapa detik setelah-nya.

Hampir saja Hyukjae menumpahkan coklatnya karena terkejut bukan main. Heechul dan Jaejoong mengalami hal serupa.

Heechul mengusap dadanya sambil menatap hujan lebat di balik jendela. “Oh, ya Tuhan. Apakah badai seperti ini akan berlangsung sampai pagi?”

“Ini akan segera berakhir, jangan cemas,” kata Jaejoong, mencoba menenangkan lalu membenarkan letak selendang yang digunakan Heechul untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin.

Hyukjae tiba-tiba teringat dengan Hankyung dan Donghae yang tidak kunjung memberi kabar.

Perasaan cemas yang berlebihan memasuki hati Hyukjae tanpa permisi.

Sebuah pesan masuk membuat ponsel Hyukjae berdenting di atas pangkuan. Tanpa meletakan cangkirnya, Hyukjae membuka pesan tersebut dengan sedikit perasaan kecewa karena pengirimnya bukan ayahnya atau Donghae, melainkan Kyuhyun.

Telepon aku! Atau aku akan mencarimu ke Incheon. Sekarang juga!

Di tengah hujan badai?

Apa lelaki bersurai madu itu sudah tidak waras?

Mata Hyukjae membulat, otomatis posisi duduknya langsung tegak. Siapa lagi yang memberikan info pada Kyuhyun mengenai keberadaannya saat ini selain Kim Junsu?

“Ada apa, Hyukkie?” tanya Jaejoong. Wajah jelitanya dipenuhi rasa ingin tau, seolah Hyukjae mendapat sebuah pesan yang berisi teror atau pemerasan.

Suasana jadi makin mencekam dan menyebalkan.

Hyukjae tersenyum ganjil. “Aniyo. Hanya teman.” Hyukjae kembali bersandar dan membalas pesan dari Kyuhyun dengan hati dan kepala dingin. Jelas dirinya tak bisa berlari ke kamarnya saat atensi Heechul dan Jaejoong terpusat padanya. Hyukjae malas ditanyai ini dan itu oleh kedua ibu tersebut.

Maafkan aku
Saat ini aku bersama beberapa orang dan tidak memungkinkan untuk meneleponmu.

Setelah menekan tanda kirim, Hyukjae kembali teringat perkataan Junsu. Merasa bersalah karena tak bisa menemani Kyuhyun saat lelaki bersurai sewarna madu tersebut sedang terjebak dalam keadaan sulit.

Mau bagaimana lagi?

Dentingan kembali terdengar.

Sebelum membuka pesannya, Hyukjae melirik sang ibu dan Jaejoong yang mulai larut dalam percakapan—lebih tepatnya gosip-gosip tidak penting, sekalipun kecemasan akan badai masih menghantui mereka.

Kita harus bertemu.
Kau yang menentukan waktu dan tempatnya. Secepatnya.

Oh, tekanan. Hyukjae tak menyukai sifat Kyuhyun yang suka menekan akibat banyak tekanan. Hyukjae menggeram sangat pelan.

Aku akan kembali hari senin.
Kita akan bicara hari itu di ruanganmu.

“Oh, ngomong-ngomong, ini sudah jam sembilan lebih. Kenapa Hankyung dan Donghae belum juga pulang?”

Itu juga yang dipikirkan Hyukjae sejak tadi. Dan jika dilihat dari situasinya, sudah pasti ayah dan kakaknya akan pulang setelah badai reda.

Ketika Hyukjae mendongak, sang ibu sedang meraih Note-nya di atas meja lalu berkata, “Aku akan coba menghubunginya.”

Ponsel Hyukjae berdenting lagi. Hyukjae menunduk lagi.

Aku tidak bisa menunggu selama itu, baby~

Baiklah. Hyukjae sudah amat jengkel dengan keadaannya saat ini. Ia pun menulis tanpa pikir panjang.

Hari senin, atau tidak sama sekali.

Selesai. Hyukjae mematikan ponsel-nya tanpa kompromi lagi.

Mwoya?”

Semua perhatian tertuju pada Heechul yang sedang menutupi mulutnya dengan jemari, seolah telah mendengar berita kematian dari seorang kerabat.

“Bagaimana dengan Donghae?”

Mendengar nama sang kakak, perasaan Hyukjae jadi tidak karuan. Berbagai macam hal buruk muncul dalam pikirannya.

“Baiklah, aku mengerti. Jaga dirimu. Dan semoga arwah tuan Li bisa beristirahat dengan tenang.”

Setelah itu Heechul menutup sambungan teleponnya, menatap sang anak yang sedang terkejut luar biasa. “Tuan Li Jiaheng meninggal. Sekarang ayah dan kakakmu ada di Taiwan, dan belum bisa memastikan kapan akan pulang.”

Kabar duka datang dari negeri seberang. Sudah jelas mengapa perasaannya sedari tadi tidak tenang. Tapi Hyukjae sedari tadi memikirkan Donghae, bukan Li Jiaheng.

Bukannya tenang setelah mendengar penjelasan Heechul, perasaan Hyukjae makin tidak karuan karena berita duka tersebut. Sama halnya dengan Heechul.

TBC

Big thanks to everyone who support me and this story

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s