BROKE THIS PAIN;; Chapter 14

Previous chapter

Setelah itu Heechul menutup sambungan teleponnya, menatap sang anak yang sedang terkejut luar biasa. “Tuan Li Jiaheng meninggal. Sekarang ayah dan kakakmu ada di Taiwan, dan belum bisa memastikan kapan akan pulang.”

Kabar duka datang dari negeri seberang. Sudah jelas mengapa perasaannya sedari tadi tidak tenang. Tapi Hyukjae sedari tadi memikirkan Donghae, bukan Li Jiaheng.

Bukannya tenang setelah mendengar penjelasan Heechul, perasaan Hyukjae makin tidak karuan karena berita duka tersebut. Sama halnya dengan Heechul.


BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash(But… GS for Heechul, Henry/Xian Hua & Ryeowook), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to All of my beloved reader. Hope you enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream

Chapter 14: Reddish

Eomma harus makan teratur dan jangan lupa minum obat.”

Lee Heechul hanya cemberut sambil menyilangkan tangannya di dalam selendang supaya sang anak tahu bahwa dirinya tidak senang.

“Jangan memasang wajah seperti itu eomma…”

Melihat hal tersebut, Heechul berdecak. “Ayahmu bahkan belum kembali dari Taiwan, tapi kau sudah mengambil keputusan untuk pergi lagi. Katakan, bagian mana yang baik dari semua ini?”

Tiga hari ayah dan kakaknya berada di Taiwan tanpa kepastian kapan mereka akan pulang. Hyukjae tidak bisa lagi menunggu. Masalahnya dengan Kyuhyun juga butuh penyelesaian.

“Aku akan kembali dua atau tiga minggu lagi, eomma.”

“SELAMA ITU?” Sekarang, ibu dengan wajah yang masih muda tersebut berkacak pinggang. “Lain kali, jika kau datang kesini hanya untuk merenungkan masalahmu sendiri, maka aku tidak akan membukakan pintu rumah ini untukmu.”

Wajah Hyukjae dibuat sedih untuk sesaat, sebelum dirinya tersenyum lebar tanpa rasa berdosa. “Abeoji yang akan membukakan pintunya untukku.”

“Ya! Lee Hyukjae!”

Hyukjae segera memeluk sang ibu untuk meredakan amarah wanita tersebut. Tidak baik membuat para pelayan penasaran mengenai keributan yang mereka ciptakan di pagi buta. “Aku akan pulang lagi. Kali ini aku tidak akan pergi terlalu lama. Kakak juga ada di Korea, dia bisa mengambil libur jika eomma memintanya. Kita bisa menghabiskan akhir pekan bersama-sama lagi sebagai keluarga yang bahagia.”

Sejak Hankyung memberi kabar bahwa Jiaheng sudah meninggal, perasaannya tidak pernah tenang, keutuhan keluarga yang dibayangkan Heechul seolah hancur. Pertanyaan mengapa suami dan Donghae tinggal lebih lama membuat berbagai macam persepsi tidak menyenangkan muncul.

Berbela sungkawa seharusnya tidak selama ini.

Tidak jika Donghae belum mengetahui bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga Li Jiaheng.

Pelukan balasan baru diberikan oleh Heechul untuk sang anak. “Baiklah, kau boleh pergi. Dan nanti jika kau kembali, kau harus langsung pulang ke sini, jangan ke kantor ayahmu.”

Hyukjae melepas pelukannya pada Heechul, lalu menunduk untuk mencium pipi halus sang ibu dengan hati senang. “Aku menyayangi eomma.”

Eomma juga menyayangimu, anak nakal.” Heechul tersenyum sambil menangkup pipi Hyukjae. “Hubungi eomma jika kau sudah sampai di Seoul.”

Hyukjae mengangguk sebelum masuk ke dalam SUV. Ia mendengar sang ibu meminta tuan Kim untuk berhati-hati selama mengemudi dan banyak hal yang lainnya.

Setelah merasa puas, Heechul mundur ke belakang dan melambai pada Hyukjae, sang anak balas melambai hingga SUV yang ia tumpangi bergerak menjauh dan bayangan sang ibu semakin mengecil dalam kaca spion.

Selama perjalanan, Hyukjae menghabiskan waktu dengan memandangi Apple-nya yang belum ia hidupkan sejak jumat malam. Hyukjae begitu tergoda untuk menyalakannya, dan menghubungi sang kakak yang telah membuatnya tidak tenang selama berhari-hari. Tapi jika Hyukjae melakukannya, Kyuhyun dan Junsu juga tidak akan tinggal diam. Salah satu dari mereka pasti akan langsung menghubungi Hyukjae dan ketenangan-pun semakin lenyap.

Alhasil, Hyukjae menyimpan kembali ponselnya ke dalam ransel dan menikmati perjalanannya ke Seoul dalam kepasrahan terhadap rasa dingin.

o0o

Tak sanggup menahan kebahagiaan yang meletup dalam dada, Kyuhyun melompat dari tempat duduknya yang nyaman. Namun, perasaan tersebut hanya mampu bertahan beberapa detik karena rasa kesal mengambil alih secara suka rela. “Baiklah, terima kasih.”

Kyuhyun melatakan gagang telepon lalu berjalan keluar ruangannya, berbelok untuk melalui koridor panjang yang membawanya pada sebuah pintu ruangan para komposer tidak tetap. Di sana, sang kekasih sedang berdiri dengan wajah merah padam yang hampir sama dengan warna sweater yang dipakainya. Jaket tebal berwarna coklat tergeletak di samping kaki Hyukjae yang terbungkus jeans biru dan boot coklat.

Jika kemarahan tidak ada dalam hati Kyuhyun, mungkin saat ini akan ada pujian yang mengalun merdu dari bibir Kyuhyun untuk Hyukjae.

“Di sana! Benar. Ya! Ya! Seperti itu. Oh! Lebih cepat, sayang.”

Kyuhyun melirik pintu dengan sebelah alis terangkat.

Suara-suara lain yang selanjutnya terdengar membuat apa yang terjadi di dalam sana tergambar jelas dalam pikiran Kyuhyun. Tak heran sama sekali jika Hyukjae sampai merona saat mendengarnya.

“Oh! Park Yoochun!”

Kepala Kyuhyun mendadak sakit. Ia memijat keningnya, tak habis pikir dengan kegilaan yang ia hadapi sepagi ini. Sekarang Kyuhyun tau mengapa ruangan tersebut sampai beralih fungsi. Itu karena salah satu anggota dewan senior-nya, Park Yoochun, pasti telah mengusir para komposer lain yang seharusnya sudah mulai bekerja di dalam sana.

Kyuhyun yang tadinya tak mau tau jadi mekin terganggu dan merasa perlu untuk memberikan teguran pada dua orang yang berada di dalam sana.

Well, hal tersebut bisa Kyuhyun urus nanti karena saat ini ia tak mau membuang waktu lagi untuk bicara dengan Hyukjae.

Kyuhyun berdehem tidak hanya sekedar membersihkan tenggorokan tapi juga mengarahkan perhatian Hyukjae hanya padanya. Ia melihat sang kekasih terkesiap dan buru-buru mengambil jaketnya di lantai.

“Apa yang kau lakukan di sini, Lee Hyukjae?”

“Maafkan aku.” Hyukjae memalingkan wajahnya dari pintu, ia pun tak berani menatap Kyuhyun. “Ada sesuatu yang harus ku selesaikan dengan Junsu sebelum menemuimu. Tapi…” Tidak bisa. Sekeras apapun Hyukjae mencoba, ia tak bisa mengabaikan rintihan penuh kenikmatan yang disuarakan Junsu di dalam sana.

“Benarkah?” tanya Kyuhyun. Matanya yang jeli tanpa sengaja melihat tanda di pangkal leher Hyukjae.

Sekalipun tak semencolok saat tanda tersebut dibuat, Kyuhyun tetap mengerti simbol apa dan mengapa tanda tersebut ada di sana. Kyuhyun menebak, Donghae-lah orang yang telah meninggalkan tanda tersebut. “Lee Hyukjae.” Suara Kyuhyun keluar dari sela gigi yang terkatup rapat. Begitu pelan tapi sarat akan peringatan yang mampu membuat Hyukjae kembali memperhatikannya dan lupa dengan keadaan sekitar. “Ke ruanganku. Sekarang juga.”

Mata Kyuhyun tak bisa menyembunyikan lagi kemarahan yang berkobar. Hyukjae sampai merasa panas di pangkal lehernya, seolah tatapan Kyuhyun adalah api membara yang membakar kulitnya. Hyukjae menyesal tidak memakai pakaian yang berleher tinggi.

Kyuhyun berbalik dan berjalan meninggalkan Hyukjae, cukup yakin bahwa kekasihnya mengikuti di belakang.

“Jika ada yang ingin bertemu denganku, katakan untuk menunggu. Terutama Komisaris,” kata Kyuhyun pada sekretarisnya sebelum memasuki ruangan. Lelaki bersurai madu tersebut memilih berdiri dengan menumpu ke dua tangannya di tepi meja kerja, menikmati pergerakan Hyukjae ketika menutup pintu ruangan lalu berjalan mendekat.

Mereka berhadapan dan saling pandang dengan jenis tatapan yang bertolak belakang.

“Apa maksudnya semua ini?” Kyuhyun bertanya dengan nada terkendali. Sedangkan yang ditanya mengeluarkan sebuah amplop putih panjang dari dalam ransel untuk diletakkan di atas meja kerja Kyuhyun.

Leher Hyukjae tak lagi terekspos karena jaketnya kembali membungkus badannya. “Aku sudah memutuskan.”

Kyuhyun menyambar amplop tersebut kemudian merobeknya menjadi empat bagian tanpa perlu repot membacanya. “Aku juga sudah membuat keputusan.”

“Aku mengundurkan diri dari perusahaan ini.”

“Tidak bisa! Kau bekerja di sini di bawah kewenanganku. Bukan abeoji. Dia tidak berhak atas apapun, termasuk memintamu untuk melakukan hal-hal bodoh yang jauh diluar jalur kewenangannya.”

“Memangnya apa yang dilakukan komisaris padaku?”

Kyuhyun tak lantas menjawab, ia terdiam sambil menilai pemikiran Hyukjae dengan hati-hati. “Apa yang dikatakan abeoji padamu, kamis lalu?”

“Beliau memberikan selamat karena dewan direksi memasukanku dalam proyek musikal.”

“Omong kosong!”

Tiba-tiba Hyukjae mengepalkan tangannya. Ia tidak berbohong kan? Hyukjae hanya tidak mengatakan segalanya, itu saja. “Kau bertanya dan aku memberikan jawaban yang sebenarnya. Jika kau tidak puas, itu bukan urusanku.”

“Lantas kenapa kau langsung pergi setelah bertemu dengan abeoji? Kau bahkan tidak menghubungiku sampai berhari-hari.”

Hyukjae hanya diam sambil menatap Kyuhyun. Apa yang harus ia katakan sekarang?

“Apapun yang terjadi, aku tidak mengizinkan dirimu pergi dari MCent.”

Hyukjae tidak bisa membantah. Tatapan Kyuhyun membuatnya berpikir dua kali untuk mendebat.

“Kau boleh pergi sekarang.”

“Akan kubuatkan surat pengunduran diri lagi.”

Mata Kyuhyun berkilat menakutkan, tanpa sadar ia menggebrak meja dengan satu tangan. “Jangan menguji kesabaranku, Lee Hyukjae!” Papan nama, PC, telepon, vas bunga dan barang-barang lain yang diletakkan di atas meja kerja Kyuhyun bergeser karena getaran, bahkan piguranya tertelungkup di atas meja.

Hyukjae masih berdiri di hadapan Kyuhyun, sekalipun kakinya seperti kesemutan saat melihat mata Kyuhyun yang penuh amarah.

Tak lama kemudian sang Presdir menunduk sambil menata napasnya yang memburu. Mati-matian meredam amarahnya supaya tidak semakin memperburuk keadaan.

“Tolong…,” pinta sang Presdir.

Hyukjae memaksa kakinya bergerak menuju pintu. Tak mau lagi menoleh bahkan saat menutup lagi pintu ruangan Kyuhyun. Sejujurnya, Hyukjae takut.

Setelah berada di luar ruangan Kyuhyun, Hyukjae masih belum bisa bernapas lega karena matanya bertemu pandang dengan mata ayah Kyuhyun yang sedang duduk tenang di meja sekretariat paling ujung sambil menghisap pipa rokok. “Selamat pagi, pelatih Lee,” sapanya dengan nada paling ramah.

o0o

Ruangan yang sama, tempat dan posisi duduk yang sama. Seolah kamis lalu adalah mimpi dan hari ini adalah pengulangannya. Yang membedakan hanyalah raut wajah sang Komisaris yang kini terlihat lebih berseri.

“Aku sudah menduga kau akan melakukan hal ini, pelatih Lee.”

Pandangan sang Komisaris begitu mencemooh, seolah apa yang Hyukjae lakukan adalah tindakan kekanakan paling ceroboh yang pernah ia temui.

“Mengapa kau memberinya surat pengunduran diri?”

Hyukjae mengangkat dagu dengan penuh keyakinan, tapi tak menatap sang komisaris. “Bukankah itu yang anda inginkan?”

Tawa sang komisaris menggema di seluruh ruangan. “Aku memang memintamu meninggalkan Kyuhyun, tapi bukan meninggalkan MCent, itu karena dia tidak akan membiarkanmu pergi.” Lelaki dengan kedudukan paling tinggi tersebut kemudian berdecak. “Itu sudah jelas dan pasti.”

Lantas bagaimana?

Pikiran Hyukjae benar-benar sudah buntu. Ia tak mendapatkan solusi dari Hankyung untuk masalah ini karena sang ayah pergi di tengah ceritanya. Sedangkan Hyukjae tak sanggup menambah beban pikiran Heechul karena sang ibu tidak berada dalam kondisi seratus persen sehat.

“Tak perlu keluar dari MCent. Kau bisa mencampakan dia tanpa harus pergi dari sini. Kau hanya perlu mengacuhkan Kyuhyun. Sisanya, biar aku yang tangani.”

Hyukjae melirik sang komisaris dengan perasaan jengkel bukan main. Hal tersebut sama saja dengan menyiksa Kyuhyun secara perlahan. Hyukjae tidak menyukai hal tersebut. Kebaikan sang Presdir selama ini padanya tidak pantas mendapat balasan seperti itu.

“Sekarang, kembalilah bekerja.”

Hyukjae bersumpah akan melemparkan apapun kepada ayah Kyuhyun seandainya meja panjang di hadapannya tidak kosong.

“Semoga harimu menyenangkan, pelatih Lee.”

Memilih mengontrol emosinya, Hyukjae bangkit dari kursi, mengangguk sebelum keluar meninggalkan sang komisaris. Ia berjalan menuju ruang latihan sambil berfikir bagaimana cara terbaik memutus hubungannya dengan Kyuhyun tanpa harus melukai perasaan lelaki tampan tersebut.

“Selamat pagi, pelatih Lee.” Ryeowook tiba-tiba muncul di samping Hyukjae, berjalan agak cepat demi mensejajarkan langkah mereka. Manajernya mengikuti di belakang, terlihat sibuk menerima telepon sambil menjinjing tas serba guna milik Ryeowook.

“Selamat pagi, nona Kim,” balas Hyukjae sambil tersenyum masam. Matanya kemudian mengamati pakaian Ryeowook. Mulai dari cats warna putih, disusul celana olah raga hitam dan kaus warna putih berlengan panjang dan berukuran longgar. “Apa hari ini kau dijadwalkan berlatih denganku? Seingatku—”

“Pelatih Kim hari ini tidak bisa menghadiri kelasnya, dia terkena serangan tenggorokan. Jadi, aku akan berlatih bersamamu dan para dancer sampai tenggorokannya sembuh.”

“Oh!” Hyukjae mengangguk beberapa kali. Hanya itu yang bisa ia berikan sebagai tanda pemahaman.

Keduanya kemudian masuk ke dalam ruang latihan yang masih sepi.

Ryeowook menghampiri pemutar musik, menyalakan benda tersebut lalu memulai pemanasan. Gadis tersebut sepertinya benar-benar bersemangat untuk menari.

Membiarkan Ryeowook melakukan ini dan itu, Hyukjae masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti pakaiannya, beruntung karena ia masih memiliki cadangan pakaian bersih di dalam loker.

Tapi masalah tiba-tiba muncul. Hyukjae ternyata tidak memiliki cadangan sepatu dalam lokernya.

Hyukjae tak mau sepanjang hari menari dengan boot-nya yang bertali temali rumit dan berat, dan ia juga tak mau menari dengan kaki telanjang.

Tak ada pilihan lain selain meminjam milik Junsu. Tapi, apa kegiatan Junsu sudah selesai?

Oh! Hyukjae tak mau kembali ke ruangan para komposer jika yang ia dapatkan hanyalah rintihan Junsu.

o0o

Sepasang sepatu hitam berbahan kulit dengan kualitas tinggi sukses membuat Hyukjae bertanya dalam hati, siapakah pemilik barang tersebut?

Bukan Kyuhyun.

Itu sudah sangat jelas.

Terakhir, Hyukjae melihat lelaki tersebut di depan apartemen. Duduk di dalam porsche-nya dengan rambut acak-acakan, lalu pura-pura tidak melihat saat Hyukjae menatapnya.

Dalam keadaan normal, Kyuhyun pasti akan turun dan menghampiri Hyukjae untuk mengajaknya makan malam bersama, mengingat waktu sudah menunjukan pukul tujuh lebih.

Tapi saat ini Kyuhyun sedang menjaga egonya di puncak tertinggi. Ia tidak akan mau turun untuk sekedar menyapa Hyukjae terlebih dulu karena lelaki bersurai madu itu sedang menunggu permintaan maaf dari Hyukjae yang sudah pasti tidak akan terwujud.

Jadi, sepatu tersebut pastilah bukan milik Kyuhyun.

Hyukjae kemudian menahan napas. Satu-satunya yang terlintas dalam pikirannya saat ini adalah Lee Donghae.

Siapa lagi?

Kakaknya yang terkenal dan tampan bukan main pasti sedang duduk manis di dalam sana setelah melakukan segala macam cara untuk bisa masuk ke dalam apartemen.

Kejutan dari Taiwan yang tidak mengesankan bagi Hyukjae.

Tapi Hyukjae juga tidak akan menyangkal bahwa dirinya tidak sabar lagi bertemu dengan Donghae.

Mengganti boot-nya dengan sandal lantai, Hyukjae berjalan masuk ke dalam sesantai mungkin. Tak mau menunjukan bahwa dirinya sedang antusias sekalipun hanya pada semut.

Hyukjae bisa melihat dengan jelas sang kakak duduk di ujung sofa panjang, diam bersandar dengan satu siku bertumpu pada lengan sofa, telapak tangannya menutupi sebagian wajahnya yang terlihat lelah. Suasana berkabung masih melekat di sekitar sang kakak karena kemeja yang dipakai Donghae berwarna kelabu gelap dan celana yang membungkus kakinya berwarna hitam.

Hyukjae kemudian melepas ransel dan jaket yang ia pakai, meletakan keduanya di sofa tunggal.

“Jam berapa kau tiba di Seoul?” tanya Hyukjae sambil berjalan menuju dapur untuk menyimpan beberapa barang belanjaan, lalu kembali dalam waktu satu menit membawa dua kaleng beer. Sedikit heran mengapa pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban.

Hyukjae kemudian meletakan dua kaleng beer di atas meja, memilih duduk di sebelah Donghae dan menyalakan televisi.

Memanfaatkan sudut matanya yang jeli, Hyukjae mengamati sebagian wajah sang kakak yang tidak tersembunyi di balik tangan. Bibirnya yang terkatup rapat bergetar seolah ia sedang berperang dengan amarah. Di pangkuan Donghae, ada satu strip obat tidur yang sudah berkurang empat butir.

Sekuat tenaga Hyukjae menahan rasa paniknya. “Apa segalanya baik-baik saja?”

Donghae masih terdiam. Hal tersebut sukses membuat sang adik gemas. Ingin sekali rasanya Hyukjae menusukkan telunjuknya pada pipi Donghae yang bercambang dan juga lebih tirus dari pada saat terakhir mereka bertemu.

Belum sempat melakukan apa yang ada dalam pikirannya, tiba-tiba Hyukjae dikejutkan dengan Donghae yang bergerak mendekat dan menyenderkan kepala di pundaknya. Sang kakak kemudian bertahan dengan cara memegangi tangan Hyukjae saat yang lebih muda mencoba menghindar.

“Sebentar saja, ku mohon…,” pinta Donghae. Suaranya begitu serak karena menahan duka.

Bukan amarah rupanya.

“Tidak mau! Aku masih marah padamu atas segalanya. Menyingkirlah dariku, sekarang juga!”

Tapi sentuhan Donghae bahkan mampu mengalahkan rayuan dengan nada paling lembut milik siapapun, sehingga Hyukjae tak mampu menyingkirkan kepala Donghae dari pundaknya. Lidah dan hati Hyukjae tidak bisa bekerja sama dengan baik.

“Aku tau. Aku bersedia meminta maaf seumur hidupku jika hal itu bisa membuatmu memaafkanku.”

“Aku tidak menginginkan itu.” Itu tidak akan cukup. Hyukjae raih kaleng beernya dari atas meja dengan tangan kiri kemudian menikmati acara TV yang ia pilih secara acak.

“Berhentilah minum, Hyukkie.”

“Aku tidak bisa.” Tidak mau lebih tepatnya. Hyukjae membutuhkan ketenangan yang dijanjikan oleh minuman beralkohol.

Donghae masih bertahan di pundak Hyukjae. “Kau menyakiti dirimu sendiri.”

Hyukjae diam dalam ketidak setujuan. Yang paling menyakitkan bagi Hyukjae adalah Donghae tidak ada yang lain.

“Apa yang paling kau inginkan saat ini, Hyukkie?”

Ketenangan.

Kebahagiaan.

Dan memiliki seseorang yang bisa menghapuskan seluruh rasa sakit dalam dadanya. Tapi Hyukjae bahkan tidak bisa menunjuk seseorang untuk dimasukan dalam hatinya, karena bayangan Donghae selalu ada tepat di depannya, seolah sedang memberi peringatan pada Hyukjae bahwa sang kakak tidak akan membiarkannya hidup tenang dan bahagia bersama orang lain selain dirinya.

“Apa yang terjadi di Taiwan?” tanya Hyukjae sambil merasakan cairan keemasan yang ia teguk mulai menyebarkan rasa hangat ke seluruh bagian tubuh. Mengabaikan pertanyaan sang kakak. “Kau benar-benar terlihat sedih dengan kematian Li Jiaheng. Aku tidak tahu kalau kau sedekat itu dengannya.”

“Aku tidak berduka atas kematiaan-nya,” balas Donghae, mati-matian menjaga emosinya supaya tak terlihat atau dirasakan oleh Hyukjae. Tapi—

“Kau berbohong.”

—karena Donghae tidak pandai berbohong di hadapan Hyukjae, ia kemudian tersenyum sangat tipis.

Donghae memang berduka, tapi bukan untuk Li Jiaheng, melainkan untuk dirinya sendiri, tepatnya untuk nasibnya.

Kesabaran Hyukjae mulai terkikis. “Kau mau bercerita atau keluar dari apartemen-ku sekarang juga?”

Bercerita atau tidak?

Dua sisi dalam diri Donghae berdebat dan menghasilkan keputusan bahwa ia harus bercerita pada Hyukjae.

“Aku bertemu Zhoumi dan Xian Hua di sana.”

Tak heran jika mereka juga ada di sana saat ritual pemakan. Zhoumi tetap putra Jiaheng sekalipun sudah dicoret dari daftar ahli waris, dan Xian Hua adalah istrinya. Diakui atau tidak oleh keluarga Jiaheng dia akan tetap di sana untuk menemani Zhoumi.

Yang membuat Hyukjae heran adalah cara Donghae menyebut nama pasangan tersebut. Tak ada nada hormat sama sekali. Berbeda dengan beberapa hari yang lalu saat Donghae berusaha keras meyakinkan bahwa dirinya tidak punya hubungan apapun dengan Xian Hua.

“Aku menyesal menghadiri pemakaman Li Jiaheng.”

Mendengar hal tersebut, Hyukjae segera menjauhkan kaleng beer dari bibirnya. “Tuan Li Jiaheng bisa menghantuimu jika kau mengatakan hal itu.”

“Silahkan saja. Aku sangat ingin bertemu dengannya lalu memukul wajah berengseknya.”

“Lee Donghae!”

Hyukjae berharap sang kakak bangkit dari pundaknya untuk membalas tatapan kesalnya. Tapi Donghae bahkan tidak bergeming sedikit-pun setelah dibentak oleh yang lebih muda.

“Dengar, aku…”

Suara Donghae terdengar gugup, Hyukjae bisa merasakan perasaan tidak nyaman yang dirasakan Donghae dari pergerakan kecil di pundaknya.

“Aku bukan…”

Yang lebih tua kemudian berdecak, melenyapkan keinginannya untuk bercerita, dalam keputus-asaan..

“Hyukkie, apakah kau pernah memikirkan bagaimana jadinya jika kita tidak bersaudara?”

Lirikan penuh tanda tanya diberikan oleh Hyukjae.

Tentu saja Hyukjae pernah memikirkan hal tersebut.

Pertama kali pemikiran tidak bijak tersebut muncul saat umurnya masih belia. Saat itu, Hyukjae mencoba melempar hal tersebut jauh-jauh dari pikirannya dan mencoba menerima nasib kisah asmaranya dengan hati lapang.

Hari ini, untuk kesekian kalinya Donghae membuat segala yang ia upayakan hancur berantakan. Tapi Hyukjae tak mau terlena dengan akhir yang bahagia dalam pemikiran tidak bijak tersebut. “Mungkin saat ini kau tidak akan di sini, jika aku tidak terlahir sebagai saudaramu, bahkan kita mungkin tidak akan saling mengenal.” Dan mungkin segalanya akan terasa lebih baik karena segala macam bentuk kerumitan juga penderitaan tidak akan menunjukan wujudnya pada Donghae dan Hyukjae.

Atau mungkin, mereka malah dipertemukan dalam keadaan yang jauh lebih rumit lagi? Siapa yang tau?

Donghae menjatuhkan kepalanya di atas paha Hyukjae dengan gerakan paling pelan, kemudian menghembuskan napas dengan sangat hati-hati, seperti sedang menyihir sang adik supaya tidak menolak apapun yang ia perbuat. “Mungkin kau benar.”

Kelopak mata Donghae tertutup, dan rasa kantuk membawanya pergi ke alam mimpi hanya dalam hitungan menit.

Hyukjae memperhatikan sang kakak yang bernapas dengan teratur di atas pangkuannya. Rambut Donghae menyita perhatiannya. Hyukjae tak sanggup menahan godaan untuk menyentuhnya. Jemari Hyukjae akhirnya disapukan pada helaian hitam kemerahan alami milik Donghae.

Hyukjae sangat menyukai warna tersebut.

Dalam keluarganya, tak ada yang memiliki warna rambut hitam kemerahan seperti Donghae, tidak kedua orang tua atau kakek neneknya. Lantas dari mana gen tersebut turun? Sudah lama Hyukjae memikirkan hal tersebut, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban.

Tidak sampai Hyukjae teringat pada penampilan Zhoumi dan Xian Hua.

Semburat merah di rambut Donghae mengingatkan Hyukjae pada rambut merah gelap milik Xian Hua yang berpotongan pendek dan selalu ditata rapi. Sedangkan hitam pekatnya sama dengan milik Zhoumi.

‘Oh! Mungkin hanya kebetulan.’ Karena memang mereka sedang membahas Zhoumi dan Xian Hua sebelumnya.

o0o

“Sesuai permintaan terakhir tuan Li Jiaheng.” Sebuah dupa di sodorkan dengan sopan di depan Donghae, membuat beberapa kerabat yang terkumpul dalam rumah duka menahan napas karena terkejut. “Yang akan memulai ritual pemakaman adalah cucu laki-laki dari anak lelaki tuan besar Li.”

Setahu Donghae, Anak lelaki Li Jiaheng hanyalah Zhoumi. Tapi pemilik manajemen artis tersebut tidak punya anak lelaki.

Donghae tersenyum canggung. “Anda pasti salah orang. Aku bukan cucu lelaki dari anak tuan Li Jiaheng.”

“Tidak,” sangkal Pria di hadapan Donghae. Matanya menunjukan keyakinan yang teguh. “Tuan Li Jiaheng meminta anda, Lee Donghae, yang memulai ritual pemakaman jika beliau meninggal.”

Donghae kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mengamati wajah puluhan sanak saudara Li Jiaheng. Ada yang menatapnya dengan raut wajah terkejut, ada yang tidak menunjukan ekspresi apapun dan di barisan paling depan sanak saudara Jiaheng, Fei berdiri angkuh sambil menatap Donghae dengan mata sinis tanpa belas kasih.

Zhoumi dan Xian Hua juga ada di sana. Berdiri tak jauh dari Donghae. Tapi keduanya hanya menunduk diam tak berdaya, tidak berani melirik ke kanan atau ke kiri, seolah sedang menanti hukuman atas dosa yang telah dibeberkan di depan umum.

Dirinya?

Cucu laki-laki dari anak lelaki tunggal Jiaheng?

Zhoumi?

Dengan Xian Hua?

Apakah bayi yang dilahirkan Xian Hua tapi tidak pernah diketahui keberadaannya adalah dirinya sendiri?

Donghae tidak bisa dan tidak mau mempercayai kesimpulan konyol yang ia buat sendiri.

Pandangan Donghae kemudian berakhir pada Hankyung yang berdiri di sebelahnya. Tatapan lelaki yang ia panggil ayah selama puluhan tahun tersebut lurus ke depan, tepat di mana potret setengah badan Li Jiaheng yang berwibawa dipajang di antara rangkaian krisan putih.

Abeoji?”

Hankyung menutup matanya supaya tak perlu melihat wajah Donghae yang tersiksa karena beragam pertanyaan sulit. Ia menarik napas sebelum membebaskan sebuah kalimat dari tenggorokannya. “Nyalakan dupanya, Donghae.”

Hati Donghae rasanya seperti di remas saat Hankyung tak menambahkan marga yang selama ini melekat pada namanya.

“Ini tidak benar kan?”

o0o

Donghae terbangun dengan napas memburu, ditambah sekujur tubuhnya terasa dingin karena berkeringat. Ia berharap apa yang mendatanginya saat terlelap hanyalah mimpi.

Tapi tidak.

Donghae tau hal tersebut bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang sampai saat ini belum bisa ia percayai.

Dirinya adalah Lee Donghae, putra pertama dari pasangan Lee Hankyung dan Kim Heechul, serta kakak Lee Hyukjae, meskipun hasil tes DNA menunjukan bahwa dirinya tak memiliki kecocokan apapun dengan pemilik marga Lee tersebut.

Kepala Donghae selalu pusing saat mengingat semua hal tersebut. Dirinya bahkan tidak bisa tidur berhari-hari karena tidak berhasil membuang jauh-jauh ingatan tentang upacara pemakaman Jiaheng. Empat butir obat tidur milik Hyukjae-pun tidak banyak menolong.

Donghae merasakan gerakan kecil di kepalanya.

Tak perlu mengambil cermin untuk melihat apa yang menempel di atas kepalanya yang terbaring miring di atas paha Hyukjae. Donghae bangkit kemudian mengamati Hyukjae yang tertidur pulas dengan separuh wajah yang terbenam pada sandaran.

Seperti badannya yang terasa sakit di sana-sini akibat posisi tidurnya yang sembarangan, Hyukjae pasti akan merasakan hal yang sama saat terbangun nanti.

Donghae singkirkan helaian warna coklat yang menutupi mata Hyukjae sambil bertanya dalam hati. Itukah alasan mengapa warna kemerahan ada dalam rambutnya, bukan coklat seperti rambut Heechul dan Hyukjae? Karena dirinya memang bukan keturunan keluarga Lee?

Hyukjae kembali bergerak resah dalam tidurnya, kali ini disertai gumaman. “Aku harap di kehidupan yang mendatang kita tidak dilahirkan dalam satu keluarga.”

Donghae diam untuk beberapa saat. Tangannya masih memggantung di atas rambut Hyukjae.

Tak perlu menunggu di kehidupan yang akan datang, karena harapan Hyukjae sudah terkabul.

Mereka bukan saudara.

Seharusnya Donghae senang saat ini karena peluangnya bersama Hyukjae jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Tapi, kenyataannya tidak demikian. Donghae merasa semakin susah bernapas karena diusik oleh berbagai macam pertanyaan.

Bagaimana cara Donghae mengatakannya pada Hyukjae? Kata-kata seperti apa yang harus ia ucapkan supaya Hyukjae tak menjauh setelah mengetahui bahwa dirinya hanyalah seorang anak yang terlahir dari pernikahan tidak resmi dan tidak pernah diinginkan oleh seluruh anggota keluarga ayahnya.

Bahkan saat dirinya diambang kesadaran, Donghae tak mampu mengutarakan segalanya. Rasa malunya tiga kali lipat lebih besar dari pada kebahagiaan dalam dadanya.

Donghae menarik napas, mencoba lagi untuk mengutarakan siapakah dirinya pada Hyukjae. Namun, lidah Donghae mendadak kelu. Lelaki tampan tersebut lalu mengacak rambutnya sendiri dengan perasaan frustasi. Bahkan ia pun tidak bisa mengatakannya di depan Hyukjae yang sedang terlelap. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

TBC

big thanks to everyone who give me and this story support

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s