BROKE THIS PAIN;; Chapter 15

Previous chapter

Bahkan saat dirinya diambang kesadaran, Donghae tak mampu mengutarakan segalanya. Rasa malunya tiga kali lipat lebih besar dari pada kebahagiaan dalam dadanya.

Donghae menarik napas, mencoba lagi untuk mengutarakan siapakah dirinya pada Hyukjae. Namun, lidah Donghae mendadak kelu. Lelaki tampan tersebut lalu mengacak rambutnya sendiri dengan perasaan frustasi. Bahkan ia pun tidak bisa mengatakannya di depan Hyukjae yang sedang terlelap. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul, Henry/Xian Hua & Ryeowook), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to All of my beloved reader. Hope you enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream

Chapter 15: Uncontrollable

Hal pertama yang muncul dalam ingatan Hyukjae adalah rambut hitam kemerahan milik Donghae yang dimainkan oleh jemarinya. Namun ketika Hyukjae membuka mata hal pertama yang menyambutnya hanyalah bantal yang terabaikan di sisi lain ranjangnya. Donghae tak ada di sana untuk mengucapkan salam pagi yang manis.

‘Itu tidak benar!’

Hyukjae menggeleng kencang untuk menghalau pemikirannya. Mimpi apa ia semalam sampai-sampai saat bangun tidur ia mengharapkan hal yang mustahil begitu.

Setelah kesadarannya terkumpul, Hyukjae duduk bersila di atas ranjangnya, mengamati sweater merah dan jeans yang sejak kemarin terpasang di tubuhnya.

Baguslah, setidaknya Donghae hanya memindahkannya ke kamar, tidak mengganti pakaiannya dan tidak perlu melihatnya telanjang.

Apa masalahnya jika Donghae melihatnya telanjang? Toh dulu Donghae—

“Cukup, cukup, oke?”

Terserahlah.

Hyukjae menghembuskan napas lalu keluar kamar menuju dapur, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering, Hyukjae butuh air. Ia ambil sebuah gelas bening panjang lalu mengisinya dengan air.

Ketika meneguk air minumannya, Hyukjae melihat benda perak tersemat di jari manisnya dan berkilauan seperti sedang mengejek dirinya.

Hyukjae tersedak dan hampir menyemburkan air dalam mulutnya. Hyukjae lalu memelototi cincin pemberian Donghae seolah benda tersebut bisa lepas sendiri saat ia menatapnya seperti itu.

Orang yang dengan berani memasangkan benda tersebut pada jarinya pastilah Donghae. Tidak ada yang lain. Tapi di mana dia sekarang? Hyukjae tidak bisa menemukannya di manapun.

Dengan rasa tidak sabar, Hyukjae meletakan gelasnya di meja dan melepas cincin tersebut dari jarinya, tapi cincin tersebut tak bisa dilepaskan meskipun Hyukjae melumuri jarinya dengan sabun cuci piring atau cairan licin yang lain. Cincin tersebut seperti di lem dengan jari manis Hyukjae.

o0o

Hyukjae akhirnya menyerah dan pasrah. Sebisa mungkin ia bersikap biasa-biasa saja saat berangkat ke kantor. Toh tak akan ada yang tahu bahwa cincin yang ia pakai adalah pemberian dari Donghae karena ukiran nama mereka terletak di bagian dalam.

Kecuali Kyuhyun, Junsu dan Donghae sendiri.

Sekarang, Hyukjae berharap tidak bertemu dengan mereka semua.

Sialnya, doa Hyukjae tidak terkabul.

Begitu memasuki gedung MCent, Junsu dengan wajah gusarnya telah menyambut Hyukjae di depan meja resepsionis. Mau tak mau Hyukjae memberikan senyuman yang sudah pasti dilengkapi rasa canggung. Apa yang Hyukjae dengarkan di luar ruang para komposer terngiang lagi dalam pikirannya. “Se-lamat pagi, Junsu-ah.”

Seperti halnya Hyukjae yang merasa telah melakukan hal bodoh, Junsu tidak bisa menunjukan sikap yang lebih baik dari pada sapaan kaku Hyukjae. Ia berdehem untuk menghilangkan kegugupan lalu memberanikan diri menghampiri Hyukjae. “Aku dengar kau mencariku kemarin?”

Sang sahabat mengangguk tapi tak mau menatap Junsu secara langsung. “Aku ingin meminjam sepatu. Tapi tidak jadi.”

Junsu sadar apa yang telah ia lakukan sehingga Hyukjae enggan menemuinya secara langsung. Ia menarik napas. “Kenapa tidak mengirim pesan atau menelepon jika tidak ingin bertemu langsung denganku?”

“Itu… aku…”

‘Oh! Sialan!’

Hyukjae mengumpat dalam hati, menyerah pada segala macam hal yang ingin ia gunakan sebagai alasan karena melihat Park Yoochun melewati pintu masuk dan berjalan tenang di depan mereka sambil memberikan senyum sopan penuh wibawa. Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Park Yoochun yang ada dalam gambaran buram ingatan Hyukjae kemarin. Hyukjae bisa melihat Junsu sedang mati-matian menahan diri untuk tidak meleleh hanya karena senyum lelaki tersebut.

Apa dirinya juga terlihat seperti itu saat melihat Donghae tersenyum?

Hyukjae kemudian berdehem cukup keras untuk membuyarkan lamunannya sendiri dan juga membuat perhatian Junsu segera kembali padanya.

Seolah tahu apa isi kepala sang sahabat, Junsu mengambil napas dalam-dalam untuk memantapkan niatnya. “Baiklah, akan kujelaskan,” kata Junsu sambil mengangkat tangan, menyerah karena tidak mempunyai pilihan lain. “Kami sudah lama berkencan. Lebih lama dari pada kau dan Kyuhyun.”

“Jadi karena itu juga kau tidak mau lagi satu apartemen denganku dan menyewa apartemen sendiri?”

Junsu hanya mengangguk sebelum berjalan. Hyukjae mengikuti di sebelahnya.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakan hal ini padaku?”

Junsu menghembuskan napas dilengkapi dengan wajah lelah. “Apa yang bisa kulakukan? Dia memiliki istri, sedangkan kami saling terpikat. Mungkin kau akan membunuhku bahkan sebelum aku selesai bercerita.”

Dari apa yang Hyukjae alami, ia sadar bahwa seseorang tidak bisa memilih kapan dan pada siapa ia akan jatuh dan takluk pada pesona orang lain, jadi untuk apa Hyukjae menghakimi Junsu? Hyukjae tidak berhak karena dirinya sendiri telah terpikat pada kakaknya. Jenis orang yang seharusnya juga tidak boleh dicintai.

“Kenyataannya, sekarang tidak kan?”

Mendengar hal tersebut, Junsu hanya cemberut lalu memilih diam.

Mereka kemudian berjumpa dengan Yoochun, Kyuhyun dan Sungmin yang sibuk mendiskusikan sesuatu sambil menunggu lift.

Sungmin yang pertama kali menyadari kedatangan Junsu dan Hyukjae. Ia menggumamkan sesuatu untuk membuat kedua teman berundingnya menoleh ke arah yang dilihat Sungmin. Sang auditor kemudian tersenyum manis pada Hyukjae dan Junsu. “Lama tak bertemu, Lee Hyukjae, Kim Junsu.”

Yoochun kembali memasang senyum berwibawanya, sedangkan Kyuhyun memalingkan muka tanda tidak peduli. Rupanya sang presdir benar-benar kukuh membuat Hyukjae meminta maaf padanya.

Berada di sekitar Kyuhyun yang memasang wajah seperti itu mengingatkan Hyukjae pada bentakan Kyuhyun kemarin pagi, Hyukjae jadi tidak bernyali sekalipun untuk sekedar memasang senyuman pada sang Presdir.

Memilih untuk mengalihkan pandangan dari Kyuhyun, Hyukjae membalas senyuman Sungmin. “Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini. Bagaimana kabar kakak?”

“Aku semakin sibuk.” Sungmin kemudian tertawa, detik berikutnya wajahnya dipenuhi keantusiasan. “Tapi aku punya waktu luang setelah jam kantor selesai. Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Kau bisa mengajak Donghae juga. Dia berada di sini kan? Ini akan menjadi semacam reuni yang menyenangkan.”

Mendengar nama Donghae disebut, jari manis Hyukjae jadi terasa berat dan lebih dingin. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa perlu memasukan ke dua tangannya ke dalam saku jaket. “Mianhae.” Hyukjae kemudian menoleh pada Junsu sambil memasang mata permohonan untuk memaksa Junsu berkompromi dengannya tanpa syarat. “Hari ini aku sudah memiliki acara.”

“Oh, sayang sekali,” kata Sungmin sambil menahan kekecewaannya.

Melihat hal tersebut, Junsu mencibir dalam hati. Rasanya ingin sekali berteriak bahwa Donghae-lah alasan Hyukjae menolak ajakan Sungmin, tapi Junsu tak sampai hati.

Lift berdenting kemudian pintunya terbuka. Kyuhyun masuk ke dalamnya di susul Yoochun. “Mari berunding di ruanganku,” kata Kyuhyun pada Sungmin, tak ada nada ramah sama sekali dalam suaranya.

“Kalian tidak masuk juga?” tanya Sungmin pada Hyukjae dan Junsu yang terlihat bingung. Lalu, matanya tak sengaja melihat ke balik punggung Hyukjae.

Di belakang sana, Donghae dan Yin He sedang berjalan mendekat. Keceriaannya kembali. “Hai, Lee Donghae.”

Semua orang menoleh kepada Donghae dan Yin He, tapi hanya ada sepasang mata yang membuat Donghae benar-benar gugup karena takut. Lee Hyukjae.

Sebisa mungkin Donghae bersikap tenang, seolah semalam dirinya tidak melakukan kecerobohan dalam bentuk apapun. “Senang bertemu denganmu, Lee Sungmin,” balas Donghae. Matanya kemudian berpindah pada Kyuhyun. “Selamat pagi, Presdir Cho.”

Sang Presdir samar-samar mendengus. “Seharusnya kau belum boleh kembali ke sini kan, Lee Donghae?”

Hal tersebut membuat Donghae mengerutkan kening. Apa yang dimaksudkan Kyuhyun pastilah kembali dari acara pemakaman Jiaheng, tapi bagaimana mungkin sang Presdir tahu akan hal tersebut? Tak satu pun paparazzi diperbolehkan untuk mendekati rumah duka, dan berita kematian Jiaheng baru akan diumumkan Minggu depan. Kyuhyun pasti menguntit. “Kenapa aku tidak boleh kembali ke sini? Bukankah aku memang seharusnya di sini untuk berlatih supaya perusahanmu tidak rugi?”

Samar-samar Donghae melihat Kyuhyun melemparkan kata ‘bodoh’ tanpa suara kepada dirinya sendiri kemdian berkata, “Tinggalkan saja mereka, Lee Sungmin-ssi.” Lalu memberikan isyarat supaya Yoochun tidak lagi menekan tombol untuk menahan pintu lift.

“Baiklah, karena kita akan lebih sering bertemu, aku rela berpisah dengan kalian sekarang.” Sungmin akhirnya masuk ke dalam lift dan mengambil tempat di samping kanan Kyuhyun. “Sampai jumpa lagi, semuanya,” kata Sungmin sebelum akhirnya pintu tertutup.

“Seharusnya kita ikut masuk, kita bisa jamuran jika menunggu lagi,” gerutu Junsu.

Hyukjae cukup yakin bukan kejenuhan yang membuat Junsu ingin cepat-cepat naik, tapi anggota dewan senior tadi. Oh, baiklah. Orang kasmaran memang selalu ingin bersama-sama.

Hyukjae kemudian berpindah menatap Donghae sambil menyilangkan tangan di depan dada. Sang kakak sesekali meliriknya dengan wajah waspada. “Bisakah aku meminta pertanggung jawaban darimu?” tanya Hyukjae, seolah ia sedang hamil beberapa bulan dan meminta Donghae untuk mengakui anaknya.

Mengerti kemana arah pertanyaan Hyukjae, Donghae memasang kaca mata hitam untuk menyembunyikan kegugupan dalam matanya. “Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah membuatmu menurunkan berat badan.”

Hyukjae berkedip beberapa kali tanda belum bisa percaya. “Apa kau sedang melawak?”

Apa lagi yang bisa Donghae lakukan? Dirinya sudah berusaha melepaskan cincin di jari manis Hyukjae sesaat setelah memasangkannya. Tapi hal tersebut tak ada gunanya, cincin tersebut mengetat di sana seolah tidak mau terlepas lagi dari pemiliknya.

o0o

Setelah pintu ruangan Kyuhyun di tutup dari luar oleh Yoochun, Sungmin menarik maju kursi yang ia duduki supaya lebih dekat dengan meja.

“Aku tak bisa mengatakan ini di depan sembarang orang, sekalipun dia adalah salah satu anggota dewan senior yang dekat denganmu.” Ia keluarkan sebuah map kuning dari dalam tas kerjanya untuk diserahkan pada Kyuhyun. “Kita tidak tau dia sekutumu atau musuh dalam selimut.”

Kyuhyun tak langsung berkomentar. Setelah menerima map tersebut, Kyuhyun membukanya dan mulai membaca lembar demi lembar laporan yang tertulis di dalamnya

“Penggelapan dana pajak ini bukan kasus penyelewengan biasa.”

Sang Presdir mengangguk sambil mengkombinasikan informasi yang ia baca dan ia dengar.

“Salah satu staf dalam divisiku menemukan hal aneh pada salah seorang pemegang saham prioritas, Direktur Shim Changmin.” Mata Sungmin mulai menikmati garis wajah Kyuhyun yang dihiasi keseriusan. Untuk beberapa saat ia terjatuh dalam pikiran bodohnya yang berteriak bahwa lelaki di hadapannya ini benar-benar tampan luar biasa. Hanya untuk beberapa saat saja, karena Sungmin masih merasa waras. “History kepemilikan menunjukkan bahwa sahamnya meningkat drastis setiap bulan, dan total kenaikannya sama persis dengan dana pajak yang hilang dari laporan perusahaanmu.”

Kyuhyun mengangkat matanya dari laporan. “Mungkin saja itu hanya kebetulan.”

Seolah sudah menduga akan tanggapan sang Presdir, Sungmin menggeleng sambil menarik dokumen yang dipegang Kyuhyun lalu membuka lembar ke dua sebelum penutup. Jarinya menunjuk bagian bawah laporan. “Saat ini, jumlah saham direktur Shim sama dengan jumlah saham yang kau miliki, Presdir Cho. Apa kau mengerti artinya itu?”

Perhatian Kyuhyun kembali lagi pada laporan Sungmin, tepatnya pada bagian bawah telunjuk sang auditor.

“Dan masalah foto ‘sialan’—” kita “—yang tersebar di media—”

Kepala Kyuhyun kembali mendongak, kali ini dengan ekspresi heran.

Kenapa Sungmin mengungkitnya lagi? Kyuhyun bahkan sudah pasrah dengan apa saja yang dikatakan para media, toh sejauh ini belum ada hal buruk yang menjadi imbas foto tersebut. “Kau melakukan pemeriksaan sampai sejauh itu?”

Tentu saja.

Sungmin benar-benar penasaran mengenai siapakah orang yang telah menyebarkan foto dirinya bersama Kyuhyun.

“Yang mengirimkan foto tersebut pada seluruh surat kabar adalah seorang jurnalis yang memiliki kedekatan khusus dengan Direktur Shim.”

Kyuhyun menahan napas dengan mata membulat sempurna. “Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Apakah informasi yang kau temukan benar-benar sudah valid?”

Sungmin mengangguk penuh keyakinan, namun sang Presdir menggeleng tidak percaya.

“Bahkan seseorang yang kuperintahkan untuk mengumpulkan informasi saja tidak bisa menemukan siapa nama jurnalis yang memberikan foto kita pada media. Bagaimana mungkin kau—”

“Itulah sebabnya kenapa aku mengatakan kita tidak tahu mana yang jadi sekutumu dan mana yang menjadi musuh dalam selimut, Presdir Cho.”

Kyuhyun memijat keningnya, akhir-akhir ini kepalanya sering sekali pusing. Ia ingin minum anggur sekarang untuk menyegarkan pikirannya.

“Apa kau sudah bisa membuat kesimpulan? Ataukah kau masih belum mengerti?”

Kyuhyun mengabaikan anggur yang begitu ia dambakan, kemudian memutar otaknya lagi, ia akhirnya bertemu dengan kesimpulan yang membuat matanya melotot menakutkan ke arah Sungmin. “Jangan-jangan…” Kyuhyun tak bisa meneruskannya, namun ia yakin apa yang ia simpulkan sama persis dengan apa yang sudah disimpulkan Sungmin.

Kudeta.

“Mereka ingin merebut kursi kepemimpinan MCent dari tanganmu, dengan merusak citramu sebagai langkah awalnya.” Sungmin menatap Kyuhyun dengan sorot mata prihatin. “Dan kau harus siap apabila suatu saat mereka menyudutkanmu dengan fitnah keji yang bermula dari penggelapan dana pajak ini.”

Sang Presdir menggepalkan tangan sampai dokumen dalam tangan kirinya rusak tak berbentuk.

“Sekarang, kira-kira apa yang akan kau lakukan, Presdir?”

Jujur saja, untuk saat ini otak Kyuhyun masih buntu, tapi hal tersebut tidak akan berlangsung lama.

o0o

Donghae sibuk memperhatikan Hyukjae dan Ryeowook yang sedang menari di depan cermin, tak peduli pada dancer wanita yang saat ini menggengam kedua tangannya sama seperti yang dilakukan Ryeowook pada Hyukjae.

Kaki mereka bergerak seirama dengan hitungan pelan Hyukjae. “Nona Kim, fokus. Selaraskan gerakan kakimu denganku,” kata Hyukjae ketika cats putih Ryeowook menginjak sneakers hitam-kuning-nya.

Tiba-tiba Ryeowook berhenti bergerak. Tangannya menghempaskan tangan Hyukjae tanpa perasaan. Wajahnya jengkel tak tertahankan. “Ini sangat sulit, kau tahu?”

Hyukjae memutar mata sambil melipat kedua tangannya.

Tentu saja. Jika ini mudah, maka Kyuhyun tidak akan menyediakan waktu lebih dari sebulan untuk berlatih.

“Kau terus memberikan instruksi harus begini dan begitu padaku. Aku ragu kau sendiri akan bisa melakukannya.”

Sebelah alis Hyukjae terangkat dramatis. Apa Ryeowook meragukan kemampuan Hyukjae? Gadis itu sudah tidak waras ya?

Di awal latihan, Hyukjae sudah memberikan contoh gerakan dengan seorang dancer wanita. Tak ada cela sama sekali dalam gerakan Hyukjae.

“Sekarang kau yang akan menggantikan posisiku menari dengan Lee Donghae dalam latihan ini.”

“Aku?” Mata Hyukjae melotot.

Ryeowook mengangguk serius tanpa senyuman, seolah jika kemauannya tidak dituruti maka seluruh orang yang ada dalam ruang latihan akan terkena dampak kemarahannya.

o0o

Hyukjae mematikan lampu ruang latihan dan menutup pintu. Para dancer sudah berpamitan pulang sepuluh menit yang lalu. Ryeowook bahkan pulang sebelum latihan selesai karena mempunyai jadwal pemotretan. Lalu Donghae? Kakaknya itu juga sudah pergi sejak Hyukjae mengatakan bahwa latihan mereka sudah selesai. Entah hal apa yang membuat sang kakak tidak bisa membuang-buang waktu seperti itu.

Setelah membalik badan, Hyukjae langsung dihadapkan dengan Kyuhyun yang berdiri sambil menyimpan tangan di dalam saku celana. Lelaki bersurai madu tersebut tak bisa menyembunyikan perasaan iri yang melandanya tadi siang, tepatnya saat ia melihat Hyukjae menari salsa dengan Donghae.

Cara Hyukjae menatap mata Donghae saat itu seolah mengatakan bahwa Donghae bisa memiliki Hyukjae apapun yang terjadi tak peduli jika mereka bersaudara atau saling memiliki kekasih. Sama sekali berbeda saat Hyukjae menatap Kyuhyun.

Sang Presdir tidak menyukai hal tersebut.

Kata-kata sudah berjajar rapi di tenggorokan Kyuhyun dan siap untuk disuarakan. Sayangnya, ponsel pintarnya berdering kencang tak sopan dan memecah keheningan.

Sang Presdir menjawab panggilan tersebut dan memberikan isyarat pada Hyukjae untuk menunggu. Untungnya sambungan tersebut tidak berlangsung lama sehingga Kyuhyun bisa mengembalikan atensinya pada Hyukjae dengan cepat. “Aku akan mengantarmu pulang,” kata Kyuhyun sambil menyimpan ponsel di balik jas birunya yang gelap.

Hyukjae membuat pertimbangan.

Jika ayah Kyuhyun tahu, maka hal sesepele pulang bersama bisa menjadi malapetaka besar bagi Hyukjae dan Kyuhyun. Hyukjae mencoba untuk tersenyum hangat meminta pengertian. “Terima kasih, tapi ada hal yang harus ku selesaikan dengan Junsu, jadi bolehkah aku pulang dengan Junsu saja hari ini?”

Tak ada keraguan dalam nada suara Hyukjae yang bisa menuntun pendengarnya pada kesimpulan bahwa Hyukjae sedang berbohong, tapi tetap saja sang Presdir tidak bisa menghalau rasa kesal karena ajakannya ditolak oleh sang kekasih. “Tak masalah, masih ada hari esok,” kata Kyuhyun. Sang Presdir kemudian berbalik dan meninggalkan Hyukjae tanpa ucapan selamat malam.

Diam-diam Hyukjae menghela napas sambil bertanya dalam hati, apakah yang ia lakukan sudah benar?

o0o

Saat melihat Xian Hua bersandar pada tembok di samping pintu apartemen, langkah kaki Donghae jadi melambat dan membiarkan Yin He terus berbicara mengenai penawaran-penawaran yang datang secara serempak di waktu yang tidak tepat.

Donghae mengingat kembali kapan terakhir kali dirinya bercengkerama dengan wanita yang ternyata adalah ibu kandungnya itu, kemudian perasaan rindu akan kedekatan mereka-pun tanpa permisi menerobos masuk ke dalam hati Donghae.

Menyadari ada seseorang yang mendekat, Xian Hua segera menjauh dari tembok untuk menyambut kedatangan Yin He. Pemuda asal Taiwan tersebut awalnya terkejut namun lebih memilih menikmati keterkejutannya di dalam apartemen.

Xian Hua kemudian maju mendekati Donghae. Wanita cantik tersebut meremas tasnya untuk menahan keinginan memeluk sang anak. “Apa kau sudah makan malam, Donghae?” tanya Xian Hua, suaranya lembut namun sarat akan kecemasan.

Kini, Donghae bisa melihat pancaran kasih sayang yang dilihat Hyukjae sampai-sampai pujaan hatinya berpendapat bahwa dirinya dan Xian Hua memiliki hubungan yang lebih dekat dari pada sekedar partner kerja. Hyukjae tak tahu bahwa pancaran kasih sayang tersebut bukan ditujukan untuk seorang kekasih melainkan untuk seorang anak.

“Maukah kau menemaniku makan malam, Donghae?”

“Aku lelah,” jawab Donghae. Lelaki tampan tersebut mengambil langkah untuk maju ke depan lalu meraih handle pintu masuk, namun Xian Hua memegangi tangannya sehingga sang bintang memilih diam saja di tempat.

“Marahlah jika kau ingin meluapkan isi hatimu, jangan bersikap seperti ini.”

Mendengar hal tersebut, napas Donghae mulai memburu.

“Aku tau semua ini sulit untuk kau terima, tapi Donghae—”

“Kenapa tidak kalian katakan kalau aku adalah anak kalian ketika pertama kali kita bertemu? Kenapa kalian harus menunggu sampai Li Jiaheng meninggal?”

Bahu Xian Hua merosot, tiba-tiba wanita cantik tersebut terlihat lelah tak tertahankan. “Tidak semudah itu, nak…” Xian Hua berusaha mengangkat tangan Donghae dari handle pintu, namun sang anak menarik tangannya lalu menjauhkan diri, memberi isyarat mutlak bahwa dirinya tak mau melakukan kontak fisik macam apapun dengannya. “Kami bahkan tidak tahu bahwa tuan Li mempunyai permintaan terakhir seperti itu.”

“Jadi, jika Li Jiaheng tidak punya permintaan terakhir seperti itu, apa kalian tidak akan mengatakan kenyataan sialan ini padaku?” Nada suaranya naik satu oktaf.

“Tepatnya, kami tidak bisa.” Matanya menatap ke dalam mata Donghae yang tajam namun menyiratkan luka. “Kami tidak mau menghianati Hankyung dan Heechul.”

Xian Hua kemudian memejamkan matanya sambil menghembuskan napas. “Mungkin memang aku yang melahirkanmu, tapi merekalah yang lebih berhak atas dirimu. Mereka yang berhak memberitahu tentang siapa dirimu yang sebenarnya.”

“Tapi mereka tidak mengatakan apapun padaku, terlebih saat mereka tahu aku mencintai Hyukjae. Mereka menjauhkanku dari Hyukjae seolah aku benar-benar tidak pantas untuk bersamanya.”

Mata Xian Hua terbuka lebar dan menunjukan ketidak sabaran. “Tidakkah kau mengerti situasi dan apa yang mereka rasakan, Donghae?” Xian Hua maju satu langkah, kali ini Donghae tidak berusaha menjauh. “Kau adalah anak pertama mereka, meskipun hanya di atas selembar kertas. Mereka merawatmu sejak kau bayi, dan menyayangimu sama seperti mereka menyayangi Hyukjae sampai kau tumbuh sebesar ini. Coba tempatkan dirimu pada posisi mereka. Apa kau sanggup jika tiba-tiba saja situasi mendesakmu untuk mengungkapkan segalanya?”

Dalam hati Donghae mengakui bahwa dirinya tidak sanggup.

Mengapa Li Jiaheng begitu berengsek? Semasa hidupnya dia tak pernah muncul di hadapan Donghae sekalipun untuk sekedar memberikan senyum sekilas. Lalu setelah meninggal, mengapa dia membuat hidup Donghae semakin berantakan dengan meninggalkan pesan bahwa Donghae adalah cucunya dan harus berbakti pada sang kakek dengan cara memimpin upacara pemakamannya. Seharusnya pria tua tersebut membawa mati saja rahasia yang ia simpan tersebut, toh yang lain juga tidak ada yang berniat membeberkan fakta bahwa Donghae adalah bagian dari keluarganya.

Amarah dalam dada Donghae padam secara perlahan. “Setidaknya, kalian bisa berkunjung untuk melihat keadaanku.”

Xian Hua menggeleng sambil menunduk, menyembunyikan air mata yang lolos dari pelupuk mata. “Tolong mengertilah, Donghae. Kecelakaan itu membuat kami takut. Kami tidak ingin meninggalkan jejak apapun yang bisa menuntun mereka sampai kepadamu.” Dan Xian Hua bisa saja tergoda untuk mengambil Donghae kembali jika mereka sering bertemu.

Mengingat semua kenangan mengerikannya di masa lalu, Xian Hua tak sanggup lagi menahan kesedihan dan air mata yang berdesakan. “Tolong maafkan kami,” kata Xian Hua di sela isakan. bahunya bergetar tak terkendali. “Kami tidak berniat membuangmu, Demi Tuhan.”

Melihat hal tersebut, tangan Donghae terulur di kedua sisi tubuh Xian Hua, gemetar tak yakin, namun akhirnya Donghae memegangi lengan Xian Hua dan membawanya ke dalam pelukan.

o0o

Pukul sepuluh malam tepat.

Donghae mulai merasakan kegelisahan yang berlebih. Ia bahkan hampir menelan obat kumur karena bayangan Hyukjae yang sedang kacau tiba-tiba melintas dalam pikirannya.

Tak mau membuang waktu dengan hanya menelepon Hyukjae karena belum tentu dijawab, Donghae memutuskan untuk langsung masuk ke dalam apartemen Hyukjae.

Bagian depannya dibiarkan gelap, satu-satunya penerangan yang dinyalakan hanya bagian dapur.

Sambil meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, Donghae melangkah masuk.

Di ambang pintu dapur, kecemasan mulai menggerogoti akal sehat Donghae.

Ia melihat kotak obat Hyukjae terbuka, isinya tak beraturan seperti habis diaduk. Berpindah ke bagian bawah, Donghae menemukan lebih banyak lagi obat-obatan yang tercecer di lantai, berpadu jadi satu dengan pecahan kaca yang tersebar di dekat kaki meja dan kaki Hyukjae.

Tidak!

Donghae bergegas memutari meja dan mendapati Hyukjae duduk tanpa daya di lantai, punggung dan wajahnya menempel pada kabinet dapur, di pangkuannya terdapat beberapa butir kapsul yang tumpah dari botol obat dalam genggaman Hyukjae.

Donghae berjongkok, meraih wajah Hyukjae yang pucat pasi, berkeringat dan menggigil. “Ayo bangun, Hyukkie! BANGUN!” Donghae menepuk pipi Hyukjae yang lengket, namun Hyukjae tak merespon.

Menyerah dengan usahanya, Donghae mengangkat badan Hyukjae untuk ditempatkan pada pundak kiri, lalu berlari secepatnya menuju pintu masuk.

Kyuhyun menyambut Donghae di ambang pintu yang terbuka. Mata sang presdir langsung melotot begitu melihat Hyukjae di atas pundak Donghae. “Mau kau bawa kemana Hyukjae?” Wajahnya mulai tak santai seolah Donghae akan membawa Hyukjae pergi jauh darinya.

“Menyingkirlah, atau aku akan menendangmu, Cho Kyuhyun.”

Ketika melihat wajah pucat Hyukjae di balik punggung Donghae, Kyuhyun mengerti bahwa kekasihnya tidak baik-baik saja. Kyuhyun pun menyingkir dari pintu. “Apa yang terjadi pada Hyukjae?”

“Aku tidak tau.”

Donghae menerobos melewati Kyuhyun.

Di luar, Donghae bertemu dengan Yin He. Pemuda tersebut menghadang Donghae dengan wajah penuh tanda tanya. “Apa yang terjadi, Lee Donghae?”

“Tolong ambil kunci van-nya. Aku akan membawa Hyukjae ke rumah sakit.”

Tanpa bertanya ini dan itu, Yin He pun kembali masuk ke dalam apartemen untuk mengambil kunci van dan barang-barang lain yang kemungkinan akan dibituhkan Donghae. Penjelasan dari Donghae bisa menunggu.

o0o

Setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan Xian Hua, Yin He kemudian mengamati dua lelaki tampan yang betah mondar-mandir dengan wajah cemas bukan main di depan ruang gawat darurat.

Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Donghae yang pertama kali mendekat, Kyuhyun dan Yin He menyusul kemudian.

“Bagaimana keadaan adik saya?”

Sang dokter memberikan senyum penuh pengertian pada Donghae. “Pasien telah melewati masa kritis. Namun, kami masih perlu memantau perkembangan kondisinya sampai 24 jam ke depan.”

Ketiganya sama-sama menghembuskan napas lega, dan berterima kasih kepada sang dokter sebelum pria paruh baya tersebut berlalu.

Pintu ruang gawat darurat kembali terbuka, kali ini dua perawat muncul dengan ranjang dorong, Hyukjae terbaring di atasnya tanpa daya meskipun wajahnya sudah tidak sepucat tadi.

Kyuhyun tak pernah menyangka akan melihat Hyukjae dalam kondisi seperti ini lagi. Mimpi buruknya seolah terwujud untuk yang kedua kalinya.

Mimpi buruk yang sebelumnya membuat Kyuhyun bertanya-tanya, masalah sialan macam apa yang membuat Hyukjae lebih memilih untuk mencoba mengakhiri hidupnya dari pada menyelesaikan masalahnya?

Sekarang Kyuhyun tahu bahwa jawabannya adalah Lee Donghae, ataukah perlu Kyuhyun sebut Li Donghai?

Tak sanggup menahan diri lagi, Kyuhyun akhirnya menahan langkah Donghae sebelum sang bintang menyusul Yin He masuk ke dalam ruang perawatan Hyukjae. Tangannya mencengkeram erat lengan Donghae sampai sang bintang benar-benar memusatkan perhatian hanya padanya. “Aku perlu bicara denganmu.”

Tanpa menunggu persetujuan dari Donghae, Kyuhyun menyeret Donghae sampai mereka berada di basement rumah sakit.

Tak banyak yang berlalu lalang di tempat tersebut, dan kelihatannya mereka juga tidak peduli.

Kyuhyun mendesak Donghae ke sebuah pilar lalu menarik kerah kemeja biru Donghae di balik sweater putih.

“Apa yang kau lakukan pada Hyukjae sampai dia seperti ini, huh?”

Donghae menepis tangan Kyuhyun dari kemejanya, tak bisa lagi mentolerir perlakuan Kyuhyun. “Saat aku datang, keadaannya sudah seperti itu!”

Kyuhyun meraih kerah kemeja Donghae lagi. Dan berteriak tepat di depan wajah Donghae. “Dia tidak akan seperti itu jika bukan karena dirimu!”

Donghae merasa tidak perlu memberikan penjelasan apapun pada Kyuhyun, karena Donghae benar-benar merasa tidak menyakiti Hyukjae.

“Kau tidak pantas mendapatkan cinta Hyukjae. Anak haram sepertimu tidak pantas mendapatkan Hyukjae!”

Donghae tidak terkejut, dugaannya benar bahwa Kyuhyun tahu sesuatu tentang dirinya. Tapi sejauh apa? Dan satu lagi. Donghae bukan anak haram, ia hanyalah anak yang terlahir dari pernikahan yang tidak resmi.

“Aku yang lebih pantas mendapatkan Hyukjae,” teriak Kyuhyun.

Kesabaran Donghae habis. Tinjunya melayang tanpa pertimbangan dan mendarat tepat di pipi Kyuhyun. “Menjauhlah dari Hyukjae, Cho Kyuhyun sialan!

“Kau yang harusnya menjauh dari Hyukjae, anak haram sialan!” Kyuhyun sambil mengusap pipinya yang berdenyut menyakitkan. “Karena kau hanya bisa memberikan penderitaan pada Hyukjae!”

Tapi Kyuhyun adalah orang yang menarik penderitaan tersebut mendekat pada Hyukjae.

Lantas bagaimana?

Amarah semakin pekat menutupi mata Donghae. Ia menerjang Kyuhyun dan melayangkan tinju keduanya. Kali ini mengenai pelipis sang Presdir.

Tak mau hanya menjadi sasaran hantaman Donghae, Kyuhyun menendang kaki Donghae hingga membuat sang bintang jatuh karena kehilangan keseimbangan.

Pertikaian kecil tersebut berubah jadi perkelahian sengit dalam hitungan detik. Lutut menghantam perut, kepalan tangan menghantam rahang dan masih banyak aksi kekerasan yang lain. Keduanya seperti remaja, tak ada yang mau mengalah.

Mereka tidak sadar telah berada di jalur masuk mobil dan telah menghentikan laju sebuah Mercedes hitam.

Menyadari siapa yang terlibat baku hantam di depannya, sang pengemudi—yang tidak lain adalah Sungmin—segera keluar dari dalam mobil dengan wajah panik. “Hentikan!” teriaknya sambil berlari mendekat.

Sungmin menyusup di antara Donghae dan Kyuhyun, otomatis dua lelaki tersebut menahan masing-masing kepalan tinjunya di udara. Wajah kedua lelaki tersebut tak lagi tampan karena tertutup lebam di sana-sini. “Kalian sadar apa yang kalian lakukan?”

Kyuhyun dan Donghae tak lantas menjawab, mereka hanya melempar tatapan tajam tanda tak bersahabat.

“Ini rumah sakit, bukan Colosseum!” Sungmin kemudian mendorong dada keduanya supaya makin menjauh. “Dan tolonglah ingat kalian ini bukan remaja yang baru masuk usia pubertas.”

“Bawa dia pergi dari sini, dan katakan padanya untuk tidak menemui Hyukjae lagi,” kata Donghae sebelum berbalik dan melangkah pergi.

Kyuhyun semakin tak bisa mengendalikan diri. Ia hendak melompat untuk menerjang Donghae dari belakang, namun Sungmin menahan langkah dan seluruh perkataan buruk dan terkutuk yang hendak berhamburan dari mulutnya.

“Jangan membuat situasimu sendiri tambah buruk, Presdir Cho.”

Sungmin mengisyaratkan pada Kyuhyun untuk melihat sekeliling mereka. Beberapa orang sedang memperhatikan mereka dengan penuh minat.

Detik berikutnya, tangan Sungmin mencengkeram erat lengan Kyuhyun dan memaksa sang Presdir duduk di bangku penumpang mobilnya. Napas Kyuhyun masih memburu dan tatapannya semakin tajam mematikan tanda amarahnya belum reda—atau mungkin tidak akan bisa reda.

o0o

Ketika Xian Hua sampai di dalam ruang perawatan Hyukjae, Yin He langsung berdiri untuk menyambutnya.

“Bagaimana kondisi Hyukjae?”

Yin He melirik Hyukjae dari balik punggungnya. “Perawat mengatakan, Hyukjae akan bangun besok. Yang harus kita lakukan hanyalah menunggu.”

“Lalu, di mana Donghae?”

Pintu terbuka sebelum Yin He membuka mulutnya, kemudian Donghae masuk dengan langkah pelan karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Xian Hua membekap mulutnya yang menganga sambil mendekati sang anak. “Apa yang terjadi padamu Donghae?”

Yang ditanya tak lantas menjawab, hanya menarik kursi dan duduk tenang di samping ranjang Hyukjae.

Xian Hua kemudian melirik Yin He untuk meminta penjelasan, namun pemuda tersebut hanya menggeleng gugup tanda tak tahu apapun.

Perhatian Xian Hua dikembalikan pada Donghae. “Kau tidak mau bercerita padaku—”

Donghae melirik sedikit dari balik bahunya, meminta Xian Hua untuk berhenti mendesaknya.

“Baiklah.” Xian Hua menghela napas. “Tapi kau juga perlu perawatan—”

“Aku tidak membutuhkan apapun, bibi.”

Bukan ibu?

Xian Hua menghela napas lagi dan menyerah atas segala usahanya. Donghae benar-benar tidak sedang dalam mood bagus.

o0o

Yang dapat dilakukan Park Yoochun hanya diam mengamati Kyuhyun yang sedang mondar-mandir dan terus mengulangi kata-kata, “Aku tidak mau tahu!” dan, “Aku tidak peduli.” Jari Yoochun sampai tidak cukup lagi untuk menghitung berapa kali kalimat tersebut diucapkan Kyuhyun.

“Aku ingin membatalkan kerja sama dengan ZMent. Tak masalah jika aku harus membayar kompensasi.”

Mulut Yoochun menganga lebar. “Tolong pikirkan lagi, Presdir. Nilai kontraknya sangat besar, jika kita—”

Sang Predsir tiba-tiba berhenti dan menatap Yoochun dengan mata penuh keyakinan.”Aku tidak peduli!”

Lagi?

“Kontrak kerjasama itu harus dibatalkan. Aku masih bisa mencari pemeran lelaki yang lain.”

“Tapi, presdir—”

Tok tok tok

Oh, gangguan…

Kyuhyun tak menyukai adanya gangguan di saat seperti ini. Kemarahan Kyuhyun semakin tidak terkendali. Ia berteriak. “Bukankah aku sudah bilang, tidak ada yang boleh—”

Pintu ruangan Kyuhyun terbuka kemudian Sungmin masuk ke dalam ruangan dengan wajah benar-benar muak bukan main. “Tolong tinggalkan kami, Direktur Park,” kata Sungmin.

“Ya! Kau tidak bisa masuk seenaknya ke sini!”

“Dilihat dari cara penyambutanmu padaku, aku yakin kau belum melihat berita terbaru pagi ini, Presdir Cho.” Suasana menjadi hening penuh tanda tanya. Sungmin merasa perlu membuka suara. “Jika kau mengusirku, akan ku pastikan kau menyesal, Presdir Cho.”

Kyuhyun mendengus dan merasa tak punya pilihan lain. “Kita akan bicarakan masalah ini lagi, nanti, Direktur Park.”

Yoochun kemudian bangkit dan mengangguk hormat pada Kyuhyun sementara Sungmin menunggunya keluar dengan wajah tidak sabar lalu menutup pintu.

“Baiklah, baik. Sekarang apa yang ingin kau bicarakan, Lee Sungmin-ssi?”

Sungmin mengeluarkan Note-nya yang menyala, menampilkan beberapa tajuk berita yang saling berhubungan. “Seharusnya aku tidak meleraimu dan Lee Donghae, kemarin.”

Kyuhyun mengambil Note Sungmin dan menekankan ibu jarinya pada tulisan tebal yang berbunyi ‘Jati diri kekasih Presiden Direktur MCent’

Inti dari artikel tersebut mengatakan bahwa seseorang yang diakui Kyuhyun sebagai kekasih dalam konferensi pers seminggu yang lalu adalah kekasih Donghae, dan kemarin mereka bertengkar di basement rumah sakit untuk memperebutkannya. Artikel tersebut juga didukung beberapa bukti untuk memperkuat pendapat nara sumber berupa foto Donghae dan Sungmin yang sedang berpelukan di kawasan Myeong-dong, foto Kyuhyun yang sedang mencumbu Sungmin, dan beberapa hal yang mempunyai kemiripan satu sama lain dalam dua foto tersebut terutama gelang yang tidak pernah dilepaskan Sungmin.

“Apa-apaan ini?”

Sungmin segera meraih Note-nya dari tangan Kyuhyun sebelum sang Presdir melempar gadgetnya ke tembok. “Apapun yang akan kau lakukan, ku harap kau mempertimbangkan segalanya dengan kepala dingin. Karena tidak hanya reputasimu yang dipertaruhkan di sini.”

o0o

Mulanya, Hyukjae mengira bahwa cincin yang tidak bisa dilepas dari jari manisnya adalah pertanda bahwa dirinya dan Donghae bisa memperbaiki segalanya dan memulai lagi dari awal. Namun, ketika Hyukjae berada di lorong menuju apartemennya dan melihat Donghae memeluk erat Xian Hua sambil memejamkan mata, harapan tersebut hancur menjadi debu.

Setelah apa yang Donghae katakan tentang Xian Hua, Hyukjae tetap saja tidak bisa menerima kedekatan mereka. Jika Xian Hua yang memberikan pelukan dan Donghae menerima dengan pasif, mungkin Hyukjae masih bisa memberikan toleransi. Tapi di sini Donghae yang memberikan pelukan, Xian Hua hanya terisak di dada Donghae sambil menutupi wajahnya.

Hal tersebut lebih menyakitkan daripada melihat Kyuhyun yang berstatus sebagai kekasihnya tertangkap kamera sedang mencumbu orang lain.

Kemudian Donghae membuka pintu apartemen dan menuntun Xian Hua masuk ke dalam dengan hati-hati. Hyukjae seperti kehilangan napasnya saat melihat hal tersebut.

Apa yang terjadi di depannya seolah menegaskan bahwa sampai kapanpun, dirinya dan sang kakak tidak akan bisa bersatu.

Ketika Hyukjae tak sanggup lagi menahan segala macam hal yang berkecambuk dalam dadanya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang menyedihkan. Tapi bukan kedamaian yang Hyukjae dapat setelah matanya terpejam usai menelan selusin obat penenang, melainkan rasa sakit lain yang tak terkendali dan membuat dirinya makin tersiksa secara fisik.

Ketika Hyukjae terbangun dari tidurnya yang menyiksa, dirinya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, itu artinya usaha bunuh dirinya yang ke tiga juga gagal. Rupanya takdir tidak membiarkannya mati konyol. Hyukjae tak tahu dirinya harus mengucap syukur atau malah memaki nasibnya itu.

Hyukjae diam mengamati Donghae yang membaringkan kepalanya di tepi ranjang, menghadap tepat pada Hyukjae. Memar di wajah Donghae menarik perhatiannya, tapi Hyukjae tak mau tahu bagaimana wajah Donghae bisa kembali babak belur begitu.

Beberapa saat kemudian Donghae terbangun secara mengejutkan. Hyukjae bertaruh Donghae mengalami mimpi buruk, dan lagi-lagi Hyukjae tidak peduli. Ia hanya diam sampai Donghae menyadari bahwa pujaan hatinya sudah siuman.

TBC

Big thanks to everyone who support me and this story

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s