BROKE THIS PAIN;; Chapter 16

Previous chapter

Hyukjae diam mengamati Donghae yang membaringkan kepalanya di tepi ranjang, menghadap tepat pada Hyukjae. Memar di wajah Donghae menarik perhatiannya, tapi Hyukjae tak mau tahu bagaimana wajah Donghae bisa kembali babak belur begitu.

Beberapa saat kemudian Donghae terbangun secara mengejutkan. Hyukjae bertaruh Donghae mengalami mimpi buruk, dan lagi-lagi Hyukjae tidak peduli. Ia hanya diam sampai Donghae menyadari bahwa pujaan hatinya sudah siuman.

BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul, Henry/Xian Hua & Ryeowook), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to All of my beloved reader. Hope you enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream

Chapter 16: Breaking up

“Semua organ vitalnya stabil,” kata seorang dokter usai melakukan pemeriksaan pada Hyukjae. “Jika nanti malam kondisinya tidak mengalami penurunan, maka besok adik anda sudah diizinkan pulang. Perawatan bisa dilanjutkan di rumah.”

Donghae memejamkan mata, menghembuskan napas lega dan mengucap syukur di dalam hati. “Terimakasih, dokter.”

Lelaki setengah baya tersebut mengangguk sambil tersenyum kemudian keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Donghae berdua saja dengan Hyukjae.

Donghae duduk di samping ranjang dengan perhatian penuh kepada Hyukjae, jemarinya yang besar dan kokoh dengan lembut meraih jemari lemah sang pujaan hati untuk digenggam. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu yang berpadu dengan keletihan. “Bagaimana perasaanmu sekarang, Hyukkie?”

Buruk!

Apalagi yang Hyukjae lihat pertama kali setelah membuka mata adalah Donghae. Kecemburuan dan kemarahan dalam hati Hyukjae yang sempat lenyap kembali terasa menyesakan dalam dadanya.

Hyukjae memejamkan mata lagi, mengabaikan Donghae dengan segala macam keingintahuannya.

“Apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu sampai kau memutuskan untuk melakukan hal ini?”

Semua yang ia upayakan bersumber dari Donghae, karena Donghae meninggalkannya, karena Donghae tak sekalipun mencoba untuk menghubunginya sewaktu di Taiwan, dan karena Donghae memberikan perhatian untuk orang lain. Memikirkan semua hal tersebut membuat Hyukjae ingin sekali mengumpati Donghae dengan ratusan kata-kata terhina, tapi ia tidak berdaya, bahkan untuk membayangkan saja Hyukjae rasanya tidak sanggup, ditambah lagi wajah Donghae sudah babak belur begitu.

Mengapa Donghae selalu datang padanya dalam kondisi seperti itu ketika suasana hati Hyukjae buruk? Hyukjae jadi tak bisa mengeluarkan kemarahan yang mengganjal dalam dadanya.

“Maukah kau membaginya denganku, Hyukkie?”

Hyukjae tidak bisa.

“Baby…”

Oh Tuhan…

Betapa rindunya Hyukjae dengan panggilan tersebut, sehingga rasanya Hyukjae ingin menghambur dan meringkuk dalam dada Donghae saat ini juga, seperti yang dilakukan Xian Hua kemarin.

Iya, Xian Hua.

Hanya dengan teringat namanya saja sudah membuat Hyukjae muak bukan main. Apa yang akan terjadi jika Hyukjae bertemu dengan Xian Hua? Entahlah. Yang jelas, kebencian Hyukjae pada wanita tersebut sudah tidak bisa dikompromikan lagi.

“Pergilah,” gumam Hyukjae. Suaranya begitu lemah dan serak, namun ketidaksukaan yang diperdengarkan bisa sampai ke dalam hati pendengarnya.

Donghae tersenyum dalam rasa getir, tiba-tiba teringat pada perkataan Kyuhyun bahwa Hyukjae melakukan semua ini karena dirinya.

Donghae benar-benar tidak bisa menyimpulkan sesuatu. Tidak, sampai dirinya teringat akan usahanya memberikan ketenangan untuk Xian Hua, ibu kandungnya.

“Apa ini semua terjadi karena bibi Xian Hua?”

Mata Hyukjae masih terpejam namun jemarinya bergerak perlahan untuk mencari kebebasan dari jemari Donghae yang mulai menegang, sebisa mungkin ia mengontrol tarikan napasnya yang semakin dalam.

“Karena kau melihatku memeluknya?”

Dinding kesabaran Hyukjae hancur lebur, matanya yang dipenuhi kecemburuan terbuka lebar dan terarah langsung kepada Donghae. “Aku melihatmu menuntunnya masuk dengan begitu lembut. Aku tidak bisa menerima hal itu tapi aku tidak bisa melakukan apapun.” Hyukjae merasa begitu putus asa hingga kematian terlihat lebih mudah dari pada menerima kenyataan bahwa dirinya tidak bisa memiliki Donghae.

Sedalam itukah perasaan Hyukjae untuk Donghae?

Lantas apa yang harus Donghae lakukan untuk menenangkan ibunya yang sedang sedih? Donghae tidak bisa membiarkan mereka berdua berdiri sepanjang malam di sana dan membuat banyak orang salah paham pada mereka, seperti yang telah terjadi pada Hyukjae.

“Tidak bisakah kau menyimpulkan hal lain atas kedekatan kami?”

“Apa lagi yang bisa kupikirkan tentang kalian?”

“Dia ibuku, Hyukkie!”

“Tidak!” teriak Hyukjae dengan sekuat tenaga. “Ibumu adalah wanita yang juga melahirkanku. Sikapmu pada Liu Xian Hua tidak sama seperti sikapmu kepada ibu kita.” Hyukjae tertawa dalam rasa pahit. Ia menggeleng lemah dengan pancaran kepedihan dalam matanya. “Tidak sama, Lee Donghae.”

Apakah nama itu masih bisa di miliki oleh Donghae setelah mengetahui siapa jati dirinya?

Donghae gemetar, ia ketakutan tapi berusaha keras untuk tidak memutuskan kontak matanya dengan Hyukjae.

Donghae tak akan terkejut jika saat ini Hyukjae mengatakan bahwa apa yang ia ucapkan hanyalah lelucon, karena sampai saat ini Donghae sendiri juga masih belum yakin bisa menerima jati dirinya sendiri, tak peduli seberapa keras usahanya untuk mencoba. Memanggil Xian Hua dengan sebutan ‘eomma‘ bahkan belum dipertimbangkan oleh Donghae. “Dia ibuku, dia—”

“Cukup, jangan memberikan alasan lagi, ku mohon.” Hyukjae memejamkan matanya lagi, kali ini ia terlihat benar-benar pasrah jika memang takdir tidak mengizinkannya memiliki Donghae. “Aku tidak akan mau mempercayai apapun yang kau katakan.”

Pikiran Donghae kacau balau, apakah ia harus pergi ataukah menetap dalam ruangan tersebut bersama Hyukjae? Jika harus berada di sana, apa lagi yang harus ia katakan pada Hyukjae?

Hyukjae jelas belum siap untuk diajak membicarakan segalanya karena hati dan pikirannya masih diselimuti api cemburu.

Donghae akhirnya bangkit dari kursi dan berkata, “Istirahatlah, Hyukkie.” Kemudian melangkah keluar ruangan, tanpa menoleh sedikitpun.

Di luar, Ia melihat Yin He yang sedang melongo mengamati layar ponsel, lalu Xian Hua yang sedang berbicara lewat telepon sambil memijat kening.

Xian Hua yang pertama kali menoleh saat menyadari keberadaannya.

“Tolong jangan ada yang masuk ke dalam, biarkan dia beristirahat sendirian.” Setelah mengucapkan hal tersebut, Donghae berjalan melewati keduanya tanpa menoleh kemanapun.

“Lee Donghae, tunggu!” Suara Yin He terdengar jauh di belakangnya.

Lee

Marga itu sekarang terdengar tabu disandingkan dengan namanya.

Tapi Donghae tak mau memakai marga ataupun nama lain. Ia ingin tetap menjadi Lee Donghae yang mencintai Lee Hyukjae, putra Hankyung dan Heechul.

Semua hal itu, ditambah perkelahiannya semalam dan kurangnya waktu istirahat membuat kepala Donghae mendadak pusing.

“Berhenti, Donghae!”

Demi Tuhan! Donghae butuh ketenangan dan udara segar. Ia tak mau diganggu apalagi oleh Yin He.

Donghae mempercepat langkahnya. Tak lama kemudian dirinya sampai di lobi. Ia melihat sekitar dua lusin orang sedang sibuk dengan berbagai macam peralatan jurnalistik masing-masing, salah satu dari mereka sedang menatapnya dengan penuh pertimbangan kemudian berseru kepada temannya yang lain, “Itu Lee Donghae!”

Jurnalis yang lain menoleh secara serempak lalu berlomba lari menuju arah Donghae, tak peduli pada petugas keamanan yang berusaha keras menahan mereka.

Untungnya Yin He datang tepat waktu. Dengan sigap pemuda tersebut menarik lengan Donghae dan mengajaknya berlari ke dalam lift yang kebetulan terbuka tanpa ada seorangpun di dalamnya.

Yin He segera menekan tombol penutup, memilih angka teratas sebagai tujuan lalu bersandar pada salah satu sisi lift sambil menata napas.

“Aku tidak mengerti mengapa ada begitu banyak wartawan di sana,” kata Donghae diantara napasnya yang tersenggal.

Yin He menyerahkan ponselnya yang berisi rentetan berita pada Donghae. “Ini semua terjadi karena dirimu, bodoh!”

Donghae mengambil ponsel tersebut lalu membaca berita di dalamnya, beberapa saat kemudian matanya membelalak kaget. “Bagaimana mungkin mereka menyebarkan berita seperti ini hanya berdasarkan dari sebuah foto?” Oh, ayolah! Itu hanya pelukan pelepas rindu antar sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. “Keterlaluan.”

“Seperti kau tidak tahu mereka saja,” komentar Yin He.

Donghae menggeser layar tersebut kemudian menemukan video perkelahiannya dengan Kyuhyun, durasinya tidak cukup panjang dan berakhir saat Sungmin memasukan Kyuhyun ke dalam mobil. Salah satu paragraf dalam laman tersebut menyita perhatian Donghae. Adik dari Lee Donghae, Lee Hyukjae mencoba bunuh diri karena patah hati. “Bagaimana mereka bisa tahu?” Kekasihnya, Cho Kyuhyun, Presiden direktur MCent telah berhianat dengan Lee Sungmin, kekasih kakaknya, yang saat ini bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Sang Presiden direktur bahkan sudah mengakui kedekatan mereka saat konferensi drama musikal yang akan dibintangi Lee Donghae.

“Aku memang punya firasat bahwa orang yang bersama Kyuhyun dalam foto tersebut adalah Sungmin. Tapi ini semua…” Oh! Donghae tak sanggup meneruskan kalimatnya. Ia terkejut dan marah apalagi nama Hyukjae dimasukkan dalam berita setengah omong kosong tersebut.

“Tidak harus tersebar dengan dramatis seperti ini kan?”

Donghae membenarkan komentar Yin He. Kini, ia tertawa sekaligus mencemooh. “Aku penasaran siapa kira-kira orang jenius di balik omong kosong sialan ini.”

“Bibi Xian Hua sudah menghubungi beberapa pimpinan surat kabar dan menanyakan hal tersebut secara langsung, tapi mereka tidak mau memberitahu ataupun menghapus berita tersebut. Mereka berdalih berita tersebut tidak akan merugikanmu sama-sekali.”

Mungkin. Karena bukan Donghae pusat rumornya. Hanya saja Donghae merasa takut dengan tanggapan Hyukjae setelah melihat berita tersebut. Kesalah pahaman Hyukjae dengan Xian Hua saja belum selesai, Donghae takut pujaan hatinya akan salah paham lagi dengan kedekatannya dengan Sungmin. Hubungan mereka sedang dipertaruhkan di sini.

Lebam di pelipis Donghae seperti mengamuk, kepala Donghae jadi makin sakit sampai rasanya mau pecah sebelah. Masalah mana yang harus ia selesaikan terlebih dahulu? Apakah kecemburuan Hyukjae yang tidak berujung? Ataukah gosip-gosip sialan ini?

o0o

Malamnya, Junsu dan Yoochun mengunjungi Hyukjae di rumah sakit. Mereka memberondong Hyukjae dengan berbagai macam pertanyaan—tepatnya Junsu yang memberondong Hyukjae, karena Yoochun hanya berdiri diam dan mengamati di sampingnya.

“Baiklah, jika kau tidak ingin bercerita.” Junsu menyilangkan tangannya. “Tidak masalah. Jangan pernah ceritakan apapun. Karena kita bukan teman lagi.”

Hyukjae menatap Junsu dengan segala macam penyesalan yang tak terucap. Tak mungkin dia menceritakan alasannya bunuh diri terlebih di hadapan Yoochun. Lagi pula, Hyukjae juga tidak mau mengingat lagi kejadian tersebut. “Mianhae…”

Junsu memalingkan wajahnya, ia tidak serius dengan perkataannya, tentu saja. Ia hanya jengkel dan cemas. Junsu lalu mengamati sekeliling ruangan, tak ada siapa-siapa selain mereka bertiga. ia pun menyodorkan ponselnya pada Hyukjae.

“Untuk apa?” tanya Hyukjae sambil memicingkan mata.

“Presdir Cho ingin bicara denganmu. Dia tidak bisa langsung datang ke sini karena masih sibuk.”

“Jika dia sibuk, aku tidak boleh mengganggunya.”

Junsu membuka mulutnya bersamaan dengan dering ponsel yang membuat semua orang memusatkan perhatian pada layar.

Nama Cho Kyuhyun tertera di sana.

Junsu mendorong ponselnya pada dada Hyukjae lalu berdiri. “Bicaralah dengannya, dia benar-benar mencemaskanmu. Kami akan keluar sebentar.” Ia menggandeng lengan Yoochun dan keluar tanpa keributan.

Haruskah Hyukjae menjawab panggilan tersebut?

Hyukjae sedang tidak ingin bicara dengan siapapun, namun ponsel Junsu berdering lagi dan lagi seperti sedang merongrong dirinya.

Setelah menghembuskan napas menyerah, Hyukjae kemudian menjawab panggilan tersebut.

“Kau sudah bertemu Hyukjae? Bagaimana keadaannya?”

Dari nada suaranya yang terdengar tidak sabar, Hyukjae yakin saat ini Kyuhyun memang sibuk dan sedang diburu waktu.

“Aku baik-baik saja, Kyu.”

Hembusan napas terdengar di seberang sana.

Oh! Syukurlah kau sudah bangun. Bagaimana perasaanmu sekarang, Hyukkie?”

Pertanyaan tersebut mengingatkan Hyukjae langsung kepada Donghae. Setelah mereka memperdebatkan Xian Hua, kakaknya itu tidak menampakkan diri lagi di kamarnya. Entah berada di mana Donghae sekarang, hanya Yin He yang keluar masuk kamar rawatnya tiap satu jam sekali.

“Hyukkie?”

Hyukjae terbangun dari lamunan dan segera memusatkan pikiran hanya pada Kyuhyun. “Aku baik-baik saja. Dokter mengatakan besok aku sudah boleh pulang.”

“Apakah kau mau aku yang mengantarmu pulang, besok?”

“Itu tidak perlu, Kyu. Junsu ada di sini untuk membantuku besok.” Dan juga Donghae. Tapi Hyukjae tidak yakin kemarahannya pada Donghae sudah mereda atau belum.

Hembusan napas terdengar lagi dari sambungannya.

“Maafkan aku karena tidak bisa berada di sampingmu saat ini. Sejujurnya aku sangat ingin menemanimu, tapi—”

“Tidak masalah, Kyu. Konsentrasi saja pada pekerjaanmu. Jangan cemaskan aku..”

Siapa yang tidak akan cemas jika kekasihnya berpotensi tinggi lari ke dalam pelukan kekasih di masa lalunya?

“Aku ingin berbicara lebih lama lagi denganmu, Hyukkie, tapi abeoji memintaku untuk segera menemuinya di rumah.”

Oh, jadi itu alasan mengapa Kyuhyun terdengar seperti berlomba dengan waktu. “Pergilah, Kyu,” kata Hyukjae penuh pengertian.

“Hubungi aku saat kau sudah pulang, aku akan mencari waktu untuk segera menjengukmu. Semoga kau lekas membaik, Hyukkie.”

“Terima kasih, Kyu.”

Hyukjae kemudian memutuskan sambungan teleponnya lalu meletakan ponsel Junsu di bawah tangannya yang tertumpuk.

“Siapa yang kau hubungi?”

Donghae tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan mendekati Hyukjae, emosi yang diperdengarkan dari nada suaranya cukup terkendali. Di belakangnya, Junsu berdiri dengan wajah takut.

“Apa pedulimu?” kata Hyukjae, menantang keributan pada Donghae.

Untungnya Donghae sedang amat sangat menyadari bahwa keributan di saat seperti ini bukanlah hal yang baik. Donghae mendekat dan menarik ponsel Junsu dari bawah tangan Hyukjae dengan amat lembut dan hati-hati sehingga Hyukjae tidak memiliki kesempatan untuk menepis tangannya.

Donghae kemudian mengulurkan ponsel tersebut pada Junsu tanpa mengalihkan wajah dari Hyukjae. “Kau boleh menghubungi siapapun, tapi itu nanti setelah kondisimu benar-benar pulih,” kata Donghae, ia membaringkan Hyukjae dan menaikan selimutnya sampai setengah dada. “Kau harus lebih banyak beristirahat dulu.”

Hyukjae diam sambil menatap ke dalam mata Donghae. Sikapnya yang begitu lembut membuat Hyukjae semakin kesulitan mengendalikan hatinya, bahkan setelah apapun yang terjadi Hyukjae tetap menginginkan Donghae. “Bisakah kau pergi dari sini? Aku tidak ingin melihatmu.”

Penghianat!

Mulut Hyukjae merupakan penghianat keji yang berhasil membuat hati Donghae terluka.

Tapi Donghae mengerti, sangat amat mengerti. Ia pun mengangguk sambil memaksakan satu senyuman yang tetap terlihat menawan di mata Hyukjae. “Istirahatlah, baby.”

Hyukjae memiringkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan Donghae lalu menutup mata dan bertanya dalam hati ‘Kapankah semua ini akan berakhir?’

o0o

Junsu menuntun Hyukjae dengan penuh kesabaran dan ketelitian keluar dari dalam lift. Mereka berjalan menuju Van Donghae dalam keheningan. Donghae sendiri berjalan di belakang Hyukjae sambil membawa barang-barang, bersama dengan Yin He.

Di tengah perjalanan, mereka mendengar keributan yang berasal dari beberapa langkah kaki. Mereka memutuskan menoleh secara serempak lalu menemukan beberapa jurnalis dengan peralatan lengkap sedang berlari mendekat, mereka langsung menghadang Donghae dan yang lainnya.

Para jurnalis benar-benar cepat, padahal sebelumnya Donghae sudah memastikan tak ada satupun orang di basement tersebut. Untungnya beberapa petugas keamanan menghampiri mereka dan mencarikan jalan keluar dari para Jurnalis.

“Lee Donghae-ssi, bisakah anda memberikan penjelasan tentang rumor yang sedang beredar tentang anda dan Lee Sungmin?” kata salah seorang jurnalis yang berjalan tepat di belakang Donghae..

Mendengar hal tersebut, Hyukjae langsung menoleh kepada Donghae dengan wajah kaget.

“Mohon pengertian dari teman-teman, di sini sedang ada yang sakit, kami tidak bisa membiarkannya berdiri terlalu lama,” kata Yin He.

Namun para wartawan tersebut nampaknya tidak mau mengalah apalagi menyerah. “Apakah benar Lee Sungmin menghianati anda?”

“Tolong berikan kami titik terang, Lee Donghae-ssi.”

“Apakah Lee Sungmin saat ini masih menjadi kekasih anda?”

Donghae tak tahan lagi. “Sungmin adalah sahabatku sejak kecil dan hubungan kami tidak lebih dari itu. Jadi sudah jelas kalau Lee Sungmin tidak berselingkuh dariku,” kata Donghae dengan sopan dan lancar, seolah kata-kata tersebut sudah ribuan kali diulang saat latihan.

“Itu artinya, Lee Sungmin benar-benar memiliki hubungan dengan Presdir Cho?”

“Aku tidak tahu. Mengapa tidak kalian konfirmasikan langsung pada yang bersangkutan?”

“Mengenai adik anda yang mencoba bunuh diri karena patah hati, apakah itu benar karena dia dikhianati Presdir Cho?”

Donghae ingin sekali tertawa dan memaki di saat yang bersamaan.

“Lee Hyukjae-ssi, bagaimana tanggapan anda mengenai hal ini?”

“Dia sedang dalam masa pemulihan, tolong jangan mendesaknya.”

Wartawan tersebut terus mendesak dengan beragam pertanyaan, tapi tak dipedulikan lagi oleh Donghae. Ia sudah lebih dari cukup memberikan penjelasan.

Mereka sampai di samping van Donghae, Yin He membukakan pintu dan membantu Hyukjae masuk di susul Junsu.

Setelah menutup pintu, Yin He segera berlari ke sisi lain Van untuk menempati kursi pengemudi, Donghae sendiri sudah duduk di sampingnya sambil menggerutukan masalah ini dan itu..

Van tersebut perlahan bergerak maju, meninggalkan kerumunan jurnalis dan petugas keamanan yang masih setia dengan aksi mendorong dan menahan mereka.

Donghae benar-benar merasa lega saat kendaraan yang mereka tumpangi menginjak jalan raya. Ia menoleh ke belakang untuk melihat kondisi Hyukjae dan mendapati pujaan hatinya sedang membaca berita di dalam ponsel Junsu tanpa berkedip dan melongo. “Apa ini?”

“Tidak perlu cemas, Aku akan segera melakukan sesuatu untuk menghapus semua omong kosong tersebut dari media.”

“Apa benar kau berkencan dengan Lee Sungmin?”

“Ayolah Hyukkie, kau sendiri tahu siapa Sungmin itu.”

Hyukjae tak memberikan respon, suara perkelahian terdengar dari ponsel Junsu. Donghae sungguh tak tahan ingin merenggut ponsel tersebut tapi Donghae harus menahan diri, karena ponselnya sendiri saat ini sedang bordering merdu,

Heechul menghubunginya.

Isakan tangis Heechul menyambut Donghae begitu ia meletakkan ponselnya di telinga. Kepanikan muncul di wajah Donghae. “Eomma, ada apa?” Ia melirik Hyukjae dan menemukan pujaan hatinya sudah beralih atensi dari ponsel kepada dirinya.

“Ayahmu mengalami kecelakaan Hae-ah.

Donghae terlonjak hingga hampir berdiri. “Bagaimana—”

“Kau harus segera pulang ke Incheon.”

“Baiklah, aku mengerti.”

Setelah sambungan teleponnya terputus. Donghae kembali menghadap Hyukjae sambil mempertimbangkan beberapa omong kosong.

“Apa yang dikatakan eomma?”

Donghae tidak mungkin memberitahu Hyukjae bahwa ayah mereka mengalami kecelakaan. Hyukjae bisa saja langsung melompat dari dalam van dan memutuskan untuk pergi sendiri ke Incheon, tak peduli bagaimana kondisinya saat ini.

Tapi apa yang harus Donghae katakan? Tanpa sadar, Donghae menggigit ibu jarinya.

“Apa yang dikatakan eomma, Lee Donghae?” tanya Hyukjae lagi, penuh tuntutan dan ketidaksabaran.

Eomma memintaku untuk pulang ke Incheon.”

Mata Hyukjae memicing tapi mempesona. “Untuk apa?”

Supaya Hyukjae tidak melihat gelagat mencurigakannya, Donghae menyembunyikan tangannya yang mengepal di bawah paha. “Mengurus surat-surat untuk beberapa properti.”

“Kenapa harus dirimu? Kemana abeoji?”

“Di Mokpo, sedang memantau proyek renovasi.”

Donghae melihat ada sedikit perasaan tak suka di mata Hyukjae, tepatnya perasaan tak rela ditinggalkan oleh Donghae. Entah mengapa hal tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Donghae di tengah suasana hatinya yang gelisah atas berbagai macam hal. Ia kemudian tersenyum. “Aku tidak akan lama berada di sana. Setelah semua urusan selesai, aku akan segera kembali.” untukmu.

Hyukjae membisu seketika. Ia jadi merasa seperti remaja yang rewel karena kekasihnya hendak pergi wajib militer. Hyukjae langsung menunduk tanpa memberikan tanggapan apapun, ia kembali fokus kepada gosip-gosip setengah omong kosong dalam ponsel Junsu.

o0o

Hampir menjelang tengah malam, Hyukjae terbangun ketika alam bawah sadarnya selesai memutarkan kembali kenangan buruk saat Donghae meninggalkannya dengan begitu kejam dan tanpa alasan. Hyukjae tidak begitu memusingkan Donghae untuk saat ini, karena pikirannya disita oleh ayahnya yang tiba-tiba muncul memberikan senyuman bahagia di akhir mimpi tersebut.

Hal tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya.

Hyukjae tiba-tiba saja merasakan kerinduan mendalam kepada ayahnya. Tapi tidak mungkin kan dia menelepon ayahnya tengah malam begini?

Baiklah, Hyukjae bisa menunggu pagi tiba untuk menghubungi Hankyung.

Setelah memiringkan badan menghadap sisi yang lain dan tiga kali menghela napas dalam-dalam, Hyukjae baru menyadari bahwa ada orang lain dalam kamarnya, duduk diam di samping ranjang sambil menatapnya lekat-lelat.

“Apa yang kau lakukan di sini, Kyu?” tanya Hyukjae sambil berusaha duduk.

Alih-alih menjawab, Jemari Kyuhyun bergerak dengan cekatan menata bantal pada kepala ranjang lalu membantu Hyukjae bersandar.

“Kau tidak seharusnya ada di sini, Kyu.”

“Aku sudah memintamu untuk menghubungiku jika kau sudah pulang, tapi kau tidak melakukannya. Aku tidak bisa menahan diri untuk menunggumu menghubungiku. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu.” Tapi Kyuhyun tidak bisa melakukannya ketika siang hari, di mana dirinya sibuk mengumpulkan bukti-bukti untuk membuat Shim Changmin mengakui kejahatannya pada perusahaan. Belum lagi masalah gosip-gosip yang membuat kepalanya makin pusing tujuh keliling.

“Kau harus pulang, Kyu.”

Kyuhyun meraih gelas panjang berisi air untuk diserahkan kepada Hyukjae. “Bisakah aku di sini bersamamu, Hyukkie?”

Untuk apa?

“Apa kau sudah membicarakan hal ini dengan Lee Sungmin?”

“Lee Sungmin?”

Di dalam pemberitaan, Sungmin adalah kekasih lain Kyuhyun, sangat wajar jika Hyukjae menanyakan hal tersebut.

“Apa Lee Sungmin tahu kalau saat ini kau di sini?”

Sekarang Hyukjae yang merasa jadi selingkuhan Kyuhyun padahal orang lain yang mencumbu kekasihnya.

Kyuhyun tertawa dalam rasa jengkel. “Untuk apa aku memberitahu dia? Dia bukan apa-apaku, Hyukkie.” Ia mengembalikan gelas ke atas nakas lalu menggenggam tangan Hyukjae. “Aku akui kami memang pernah melakukan kesalahan karena terpengaruh alkohol. Tapi aku berani bersumpah bahwa aku tidak sedikitpun tertarik pada Lee Sungmin. Apapun yang diberitakan oleh media, itu semua hanya omong kosong.”

Anehnya, Hyukjae tak merasakan kejengkelan luar biasa atas apa yang telah dilakukan Kyuhyun dan Sungmin seperti yang ia rasakan pada Donghae dan Xian Hua. Hyukjae hanya merasa lelah dengan segala macam hal yang berhubungan dengan percintaan.

Hyukjae lelah mencintai, Hyukjae juga lelah dicintai oleh seseorang yang tidak bisa ia miliki, baik itu Donghae maupun Kyuhyun. “Kita hentikan saja semua ini.”

Wajah tenang Kyuhyun berubah jadi pucat dan cemas.

“Mari kita akhiri hubungan kita,” kata Hyukjae sambil menatap mata Kyuhyun dengan permohonan maaf.

“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku dan Lee Sungmin tidak memiliki hubungan apapun—”

“Masalahnya tidak sesederhana itu, Kyu.”

“Lantas kenapa? Apa yang sangat membuatmu ingin meninggalkanku?”

“Ada banyak hal yang bisa ku sebutkan sebagai alasan perpisahan kita.” Seperti komisaris Cho yang menginginkannya meninggalkan Kyuhyun, lalu tempat Donghae dalam hatinya yang tidak bisa Hyukjae berikan pada Kyuhyun, dan juga masalah Sungmin. Semua hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai alasan perpisahan.

“Kau sendiri tahu apa saja alasan itu, Kyu.”

“Jika ini masalah abeoji, kau tidak perlu mencemaskannya. Aku akan mempertahankan hubungan kita sampai akhir, apapun yang terjadi.”

Dulu Donghae juga pernah menjanjikan hal yang sama, sekarang lihatlah apa yang terjadi pada Hyukjae. Donghae meninggalkan Hyukjae dengan kejam tanpa memberikan alasan yang bisa diterima oleh Hyukjae.

Hyukjae patah hati. Ia tak mau hal tersebut terulang.

“Aku mencintaimu, Lee Hyukjae. Aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu. Aku serius, sangat serius.”

Harusnya Hyukjae tersentuh, harusnya Hyukjae luluh ke dalam tatapan sang Presdir yang penuh permohonan tanpa harga diri. Tapi Hyukjae tidak bisa. Yang bisa Hyukjae gambarkan dalam angannya hanyalah Donghae. Ia dan Donghae hidup bersama, mengumpulkan sisa kebahagian yang tersisa untuk mereka.

“Ini bukan hanya masalah Komisaris.” Hyukjae memejamkan mata dan bayangan Donghae semakin tidak memberinya izin untuk memikirkan hal lain. “Ada hal lain yang menjadi dinding penghalang antara kita.”

Dinding terkokoh diantara elemen penghalang yang lain.

“Apakah Donghae?”

Keheningan mewakili persetujuan Hyukjae.

“Aku bersedia menunggumu melupakannya. Aku bersungguh-sungguh.”

“Aku sudah berusaha melupakannya, Kyu, dan aku tidak bisa. Bayangannya selalu mengikuti kemanapun aku pergi.”

Jadi, selama ini saat mereka berbagi canda dan tawa, apakah saat itu juga Hyukjae selalu memikirkan orang lain?

Tangan Kyuhyun mengepal di atas lutut dadanya berdenyut menyakitkan. “Aku akan melakukan apapun supaya kau bisa melupakannya.”

Hyukjae tidak akan ragu Kyuhyun bisa melakukan apapun, yang Hyukjae takutkan adalah dirinya sendiri yang kemungkinan besar tidak bisa menyingkirkan Donghae dari hatinya. Kebersamaan mereka hanya akan memberikan luka untuk Kyuhyun. “Aku mencintainya, Kyu.”

“Jangan katakan hal itu, Hyukkie. Kumohon, jangan.” Kyuhyun menangis, menanggalkan seluruh wibawanya di depan cinta pertamanya. “Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu.”

Lantas apa gunanya jika Kyuhyun tetap bersama Hyukjae sedangkan hatinya masih tetap milik orang lain?

Apa gunanya sebuah raga tanpa jiwa?

Nan neorul saranghanda.”

Air mata Hyukjae menuruni pipinya. Inikah rasanya melihat seseorang memohon untuk dicintai?

Menyakitkan.

Dan Hyukjae tetap tidak bisa mencintai orang lain sekalipun orang tersebut sudah mengemis cinta kepadanya. Yang ada dalam hatinya masih putra pertama ayahnya, kakaknya, Lee Donghae. “Aku tidak bisa, Kyuhyun, sungguh.”

Kyuhyun tiba-tiba berdiri dan melepaskan tangan Hyukjae. Ia menatap Hyukjae dengan sorot mata menakutkan dan penuh rasa sakit. “Kita tidak bisa berakhir seperti ini, tidak bisa!” Ia berjalan mundur perlahan, “Aku tidak akan membiarkanmu lari dariku.” lalu membuka pintu kamar Hyukjae tanpa memutus kontak mata. “Kau kekasihku, Lee Hyukjae.”

“Cho Kyuhyun, ku mohon…” Hyukjae turun dari ranjang, berusaha keras untuk tidak terhuyung selagi tangannya mencoba menggapai Kyuhyun.

“Kau milikku. Tak ada yang bisa mengubah hal itu kecuali aku.” Kyuhyun keluar dari kamar Hyukjae dan membanting pintunya dengan kasar sekali.

TBC

big thanks to everyone who support me

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s