BROKE THIS PAIN;; Chapter 17

Previous chapter

Kyuhyun tiba-tiba berdiri dan melepaskan tangan Hyukjae. Ia menatap Hyukjae dengan sorot mata menakutkan dan penuh rasa sakit. “Kita tidak bisa berakhir seperti ini, tidak bisa!” Ia berjalan mundur perlahan, “Aku tidak akan membiarkanmu lari dariku.” lalu membuka pintu kamar Hyukjae tanpa memutus kontak mata. “Kau kekasihku, Lee Hyukjae.”

“Cho Kyuhyun, ku mohon…” Hyukjae turun dari ranjang, berusaha keras untuk tidak terhuyung selagi tangannya mencoba menggapai Kyuhyun.

“Kau milikku. Tak ada yang bisa mengubah hal itu kecuali aku.” Kyuhyun keluar dari kamar Hyukjae dan membanting pintunya dengan kasar sekali.

BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul, Henry/Xian Hua & Ryeowook), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to All of my beloved reader. Hope you enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream

Chapter 17: Kidnapped

Kim Jaejoong keluar dari kamar rawat Hankyung. Wajahnya terlihat benar-benar lesu, sedih dan lelah. Ia mengambil langkah menjauh dari pintu sambil mengusap kedua lengannya, berusaha menghilangkan hawa dingin yang mengusik.

Suara dua pasang langkah kaki yang mendekat menarik perhatian Jaejoong, ia mendongak kemudian memicingkan mata sehingga pandangannya yang lelah bisa mengenali wajah tampan dua orang yang mendekat.

Lee Donghae dan Li Zhoumi.

Ketiganya berhenti di dekat persimpangan dua koridor.

Jaejoong segera meraih lengan Donghae dengan wajah benar-benar kesal. “Ibumu menghubungimu sebelum tengah hari, tapi kenapa kau baru datang hampir tengah malam?”

Penyesalan menghiasi wajah Donghae. “Ada sesuatu—”

“Apakah itu lebih penting daripada ayahmu?”

Bisa dikatakan perbandingannya seimbang.

Donghae ingin bertemu dengan Hankyung namun sebelum itu dirinya harus melakukan upaya penghapusan gosip-gosip sialan yang telah ia susun dengan rapi bersama Xian Hua. Tepatnya melakukan negosiasi dengan beberapa pimpinan surat kabar supaya mau menghapus pemberitaan tentang Hyukjae dan segala yang bersangkutan dengan pujaan hatinya itu termasuk dirinya sendiri, Sungmin bahkan Kyuhyun. Intinya, Donghae tidak mau nama Hyukjae disebut dalam pemberitaan jenis apapun, di manapun.

“Ku mohon mengertilah.” Zhoumi menyela, wajahnya menunjukkan permintaan maaf dari dasar hatinya yang paling dalam. “Yang terpenting dia sudah berada di sini, sekarang.”

Jaejoong menangkup keningnya sambil memejamkan mata dan mengatur napas, meredakan emosinya. “Maafkan aku. Keadaan ini membuat semua hal rasanya bisa meledakkan emosi kami kapan saja.”

Donghae bisa memahami hal tersebut, begitu pula Zhoumi.

“Bibi bisa pulang. Biar aku yang—”

“Tidak, tidak. Aku akan menemani ibumu di sini. Lagi pula, suamiku sedang di luar kota, jadi tidak masalah jika aku tidak pulang.”

Bukan suami Jaejoong yang dipikirkan Donghae, tapi kesehatan Jaejoong itu sendiri. Wanita tersebut terlihat sudah tidak mampu lagi menahan matanya supaya tetap terjaga, kelelahannya sudah di ambang batas. Sangat tidak menyenangkan jika Jaejoong sampai jatuh sakit karena begadang sepanjang malam bersama Heechul untuk menjaga Hankyung.

“Tapi, bibi—”

“Masuk dan temanilah orang tuamu, aku akan ke bawah mengambil selimut dan pakaian hangat yang dikirimkan pengurus rumahmu.” Jaejoong berlalu dari hadapan Donghae tanpa mau memberikan kesempatan kepada Donghae untuk membantahnya.

“Wanita memang susah untuk dikendalikan,” komentar Zhoumi sambil memperhatikan Jaejoong hilang di persimpangan yang lain. Ia kemudian menepuk bahu Donghae dua kali sebelum membuka pintu ruang rawat Hankyung dan berkata, “Ayo masuk.”

Di dalam ruangan, mereka bisa melihat Heechul sedang duduk pasrah sambil menatap Hankyung yang terbaring tanpa daya dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.

Donghae segera menghampiri Heechul dan menggenggam tangannya. “Bagaimana semua ini bisa terjadi, eomma?”

Menyadari siapa yang datang, Heechul mendongak untuk menatap Donghae dengan ketakutan yang menghiasi matanya. “Ayahmu…” Bibirnya bergetar dan air mata menggenang di pelupuk matanya. “Mengalami musibah ini dalam perjalanan menuju Seoul untuk menemui Hyukjae.”

Karena tidak sanggup menahan kesedihan dalam dadanya, Heechul menunduk, tangisnya pecah. Ia terisak sambil membekap mulutnya dengan satu tangan. “Saat aku menghubunginya, Ayahmu sudah berada di jalan utama menuju Seoul. Dia terdengar sangat marah pada Hyukjae sampai-sampai tidak sadar ada truk yang keluar jalur dan melaju kencang tepat di depannya.”

Donghae segera menghilangkan bayangan kecelakaan yang menimpa Hankyung dari dalam pikirannya, lalu merangkul Heechul, mencoba memberikan ketenangan untuk wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu sepanjang usianya.

“Seandainya eomma tidak menelepon ayahmu, mungkin ini semua tidak akan terjadi.”

“Ini bukan kesalahan eomma.”

Eomma takut sekali, Hae-ah…”

Donghae menepuk punggung Heechul beberapa kali sambil berkata, “Abeoji akan segera bangun, abeoji pria tangguh. Kita harus percaya pada abeoji.”

Seperti tersadar akan sesuatu, Heechul melepaskan diri dari Donghae dan mendongak sambil memegangi kedua lengannya. “Hyukjae, bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Mengapa dia ingin mencoba bunuh diri?”

Bagaimana Donghae menjelaskan semua itu kepada Heechul? Karena kecemburuan telah membakar akal sehat Hyukjae? Apakah kata-kata itu tepat?

“Apakah dia tidak memikirkanku saat melakukan semua itu? Apa dia tidak memikirkan penderitaan yang harus aku tanggung jika dia benar-benar pergi?”

Heechul menunduk lagi, air mata yang mengalir turun di pipinya semakin deras dan tak terkendali. Kesedihannya sampai ke dalam hati Donghae dan Zhoumi.

Mianhae eomma.” Kali ini Donghae tidak bisa melakukan apapun, sepatah kata untuk menenangkan saja tidak bisa diucapkan oleh Donghae. “Aku yang bersalah, aku tidak bisa menjaganya dengan baik.”

Setelah itu, tak ada lagi yang mengeluarkan kata-kata, Donghae tetap berdiri dan hanyut dalam kebungkaman, membiarkan Heechul bersandar padanya sampai tangisannya terhenti dan Heechul jatuh ke alam mimpi.

o0o

Sekitar pukul delapan pagi, Donghae terbangun dari tidur singkatnya yang tak nyaman. Ketika ia berdiri untuk merenggangkan badan, Donghae merasakan sekujur tubuhnya kaku karena ia tidur dengan posisi duduk di sofa. Sama seperti Zhoumi saat ini.

Setidaknya Heechul dan Jaejoong tidak merasakan hal yang sama dengan mereka karena semalam Donghae berhasil memulangkan Heechul dalam keadaan tidur dan membujuk Jaejoong supaya mau menemani Heechul d rumah saja.

Sambil memijat bagian belakang leher, Donghae berjalan mendekati Hankyung dan memperhatikan peralatan medis di sekitar ranjang. Tak ada kemajuan yang berarti pada lelaki yang selama ini Donghae kenal sebagai ayahnya itu.

Perhatian Donghae kemudian berpindah pada pintu ruangan yang dibuka oleh kepala sekretaris Hankyung di perusahaan. Pria tersebut membungkuk setelah melihat Donghae.

“Selamat pagi tuan muda Lee,” sapanya dengan ramah.

“Selamat pagi,” balas Donghae.

Menyadari ada orang lain dalam ruangan tersebut, Zhoumi terbangun dan langsung memasang sikap siaga.

“Bagaimana kondisi tuan Komisaris?” lelaki tersebut berbasa-basi, nampak sedang mempertimbangkan beberapa hal dalam pikirannya.

“Belum ada perubahan.” Firasat Donghae mengatakan lelaki ini datang bukan hanya untuk mengetahui keadaan Hankyung. “Katakanlah apa yang menjadi tujuan anda datang ke sini.”

Sang sekretaris mengangguk. “Saya ingin melaporkan hasil penelusuran pihak berwajib atas kecelakaan yang menimpa tuan Lee,” ucapnya kemudian.

Donghae memberikan isyarat pada lelaki tersebut untuk terus bicara.

“Sampai saat ini, pihak kepolisian belum berhasil mengidentivikasi siapa pengemudi truk yang menabrak tuan Lee.”

Sekalipun banyak pertanyaan yang berdesakan dalam kepalanya, Donghae hanya diam saja, sabar menanti penjelasan sekretaris Hankyung selanjutnya.

“Tidak ada sidik jari yang ditemukan dalam truk tersebut, dan beberapa mobil yang kebetulan melintas saat kecelakaan terjadi juga tidak merekam bagaimana rupa pengemudi truk tersebut ataupun caranya melarikan diri dari tempat kejadian.”

“Apakah ini semacam percobaan pembunuhan?” Zhoumi menyela, merasa tidak sabar lagi menahan isi kepalanya.

“Hal tersebut masih belum bisa dipastikan. Setibanya Komisaris dari Taiwan, jadwalnya sangat padat dan tidak menentu. Tidak ada yang tahu pada jam-jam tertentu Komisaris akan berada di mana dan melakukan apa. Kepergian beliau ke Seoul juga tidak ada dalam daftar kegiatan, semuanya terjadi secara cepat. Sedangkan, kecelakaan tersebut cukup terkoordinir dengan baik. Akan lebih masuk akal jika kecelakaan ini digolongkan pada kejahatan yang salah sasaran. Itu adalah kesimpulan pihak berwajib dari hasil investigasi sementara.”

Donghae menyilangkan tangan di depan dada sambil menunduk memikirkan sesuatu. “Apakah tidak ada petunjuk lain dalam kecelakaan ini? Mungkin seperti rem mobil blong atau keganjilan yang lain?”

Sang sekretaris menggeleng. “Tidak ada. Jalanan saat itu juga tidak licin. Tapi…” Sang sekretaris menyerahkan tas kerja milik Hankyung yang sedari tadi ia jinjing dan langsung diterima oleh Donghae. “Sebuah dokumen penting yang diberikan oleh pengacara sebelum kecelakaan tersebut terjadi tidak bisa ditemukan di manapun. Petugas mengatakan bahwa mereka hanya memindahkan tas tersebut dari mobil ke kantor polisi, sama sekali tidak membuka ataupun mengurangi isi tas tersebut.”

“Dokumen apa?”

Sang sekretaris menoleh kepada Zhoumi untuk beberapa saat, seolah meminta persetujuan untuk bicara. Setelah Zhoumi mengangguk barulah ia kembali menatap Donghae. “Dokumen pengalihan kepemilikan saham dan beberapa properti.”

“Untuk apa abeoji ingin mengalihkan saham dan propertinya?”

“Bukan saham milik Lee Hankyung,” kata Zhoumi yang sukses menarik perhatian Donghae. “Tapi pengalihan kepemilikan saham dan properti milik ayahku.”

Li Jiaheng? Mata Donghae memicing dipenuhi rasa ingin tahu. “Mengapa abeoji mengurusi hal itu?”

Kekecewaan.

Donghae bisa melihat hal itu di mata Zhoumi, karena orang lain yang ia panggil dengan sebutan ayah, bukan Zhoumi.

Mau bagaimana lagi?

Kebiasaan yang sudah tertanam selama hampir tiga puluh tahun tidak bisa semudah itu diubah hanya dalam waktu beberapa hari saja.

Setelah semenit tenggelam dalam keheningan, Zhoumi kembali membuka suaranya. “Seperti yang kau tahu, aku tidak ada dalam daftar ahli waris ayahku, juga bukan wali dari anak lelakiku.” Zhoumi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil memandangi langit-langit. “Itulah sebabnya mengapa ayahku datang ke sini. Untuk membujuk Hankyung supaya mau mengurus segala sesuatu yang bersangkutan dengan pemindahan kekayaannya kepadamu. Di akhir hidupnya, ayahku bahkan memohon pada Hankyung supaya mau menuruti permintaannya itu.”

Donghae teringat saat Hankyung meninggalkannya di rumah peristirahatan bersama Hyukjae. Li Jiaheng meninggal pada tanggal tersebut juga.

Jadi, Hankyung menemui Jiaheng saat itu? Donghae jadi merasa kesal sekali.

“Ayah sangat ingin memberikan sebagian kekayaannya padamu sebagai bentuk permintaan maaf dan penyesalan atas apa yang telah terjadi di masa lalu.”

Apa itu lelucon dalam bentuk yang lain?

Sekalipun Jiaheng memberikan seluruh isi dunia untuk Donghae, cucunya itu tidak akan sudi memberikan maaf atas apa yang telah lelaki itu perbuat. Tidak akan pernah.

“Sebelum kecelakaan itu terjadi, Komisaris baru saja selesai menemui pengacara untuk membicarakan langkah akhir dari proses pengalihan tersebut.”

Donghae mengusap wajahnya yang gusar karena belum bisa mendapatkan petunjuk dari apa yang telah dikatakan oleh kepala sekretaris Hankyung.

“Apa adik anda ada di sini?”

Apa lagi ini? Ia melirik tajam sang sekretaris. “Mengapa semua ini jadi berhubungan dengan Hyukjae?”

Sang sekretaris berkedip beberapa kali, lalu ketakutan mulai muncul menghiasi wajahnya yang memucat. “Karena adik anda adalah satu-satunya orang yang bisa mengubah isi dokumen yang hilang itu, atas nama tuan Lee.”

o0o

Hyukjae bangun sekitar pukul sepuluh pagi.

Setelah Kyuhyun meninggalkannya semalam, Hyukjae mengalami sakit kepala hebat yang menyebabkan dirinya tidak bisa tidur sampai menjelang fajar.

Bahkan saat bangun, Hyukjae masih merasakan sedikit pening di kepalanya.

Usai menyelesaikan semua kegiatan paginya di kamar mandi, Hyukjae berjalan menuju dapur dan mendapati Junsu sedang tersenyum seperti orang gila kepada ponselnya. Mungkin sedang bermesraan dengan Yoochun lewat obrolan.

Hyukjae memilih untuk mengabaikannya lalu beralih atensi pada beberapa jenis makanan yang tertata rapi di depan Junsu. Semuanya jenis makanan rumahan dan terlihat masih hangat.

“Oh, selamat pagi, Hyukkie,” sapa Junsu saat menyadari kehadiran orang lain dalam ruangan tersebut. Ia menaruh ponselnya di sisi kiri meja lalu melipat kedua tangannya sambil mengarahkan senyuman misterius pada Hyukjae.

“Selamat pagi juga, Junsu,” balas Hyukjae sambil mengisi gelas panjang dengan air. Ia mengambil tempat duduk berseberangan dengan Junsu lalu mengamati sup dalam panci berukuran sedang. Seingat Hyukjae, Junsu tidak suka memasak bahkan untuk dirinya sendiri, yah meskipun potongan wortel yang tidak wajar di dalam sup sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa Junsu telah berusaha keras membuat semua ini. Apakah Park Yoochun yang merubah sahabatnya jadi seperti ini?

Oh! Itu masih terasa tidak masuk akal untuk Hyukjae, tak peduli sedalam apapun perasaan Junsu pada Yoochun. Setidaknya, ada satu orang lagi yang membantu Junsu tadi.

“Siapa yang membuat semua makanan ini?” tuntut Hyukjae.

“Aku.”

“Omong kosong.”

“Aku serius! Aku yang mengupas dan memotong semua sayuran ini. Aku bahkan membolos kerja untuk melakukan semua ini untukmu, sayangku. Tidakkah kau mengerti bahwa aku sebenarnya punya bakat terpendam dalam hal mengolah makanan?”

Hyukjae masih tidak bisa percaya.

“Direktur Park yang membuat semua ini?”

“Apa pentingnya hal itu? Yang terpenting makanan ini diolah dengan higienis, tanpa tambahan pengawet dan pewarna tekstil.”

Sudut bibir Hyukjae tertarik dan berkedut. Buru-buru ia meneguk air sebelum tawanya yang kencang pecah dan membuat seisi meja berantakan.

“Ayolah kita makan saja, aku sudah kelaparan setengah mati karena kau tidak juga bangun,” kata Junsu sambil menyodorkan semangkuk nasi pada Hyukjae.

“Aku tidak akan memakan semua ini jika Park Yoochun yang membuatnya.”

Meskipun mengancam, Hyukjae tetap menerima mangkuk berisi nasi dari Junsu tanpa ada sedikitpun rasa enggan.

Makanan yang ada di hadapan Junsu sudah jelas bukan buatan Yoochun, kekasihnya itu hanya bisa memasak ramen itupun kuahnya hampir menyamai sungai. Junsu jadi ingin tertawa terpingkal-pingkal jika mengingatnya.

Kembali pada makanan di depannya.

Jika Hyukjae tahu siapa yang memasak semua makanan tersebut, sahabatnya itu sudah pasti tidak akan sudi bahkan hanya untuk mencium aroma makanan tersebut.

Ah, benar sekali!

Makanan di depan mereka adalah buatan Xian Hua.

“Tidak masalah, aku sanggup menghabiskan semua ini sendirian.” Kapan lagi junsu mendapat kesempatan memakan masakan idolanya itu? Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Biarlah ketidaktahuan Hyukjae menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Junsu. Dengan begini, Junsu juga tidak perlu pusing keluar apartemen untuk mencari makanan bernutrisi untuk Hyukjae.

“Aku serius, Kim Junsu. Apa semua makanan ini buatan oleh Direktur Park?”

“Dari pada menanyakan hal tidak penting itu, lebih baik kau menceritakan apa yang terjadi semalam antara dirimu dan Presdir Cho,” pinta Junsu di tengah acara menikmati makanannya.

Mengingat kekerasan hati Kyuhyun padanya, sumpit di tangan Hyukjae menggantung di udara, urung mencubit nasi dalam mangkuknya.

“Cho Kyuhyun tampaknya terlihat tidak senang saat meninggalkan tempat ini. Aku harap sesuatu yang buruk tidak terjadi kemarin.”

“Aku memintanya mengakhiri hubungan kami.”

Junsu memperhatikan Hyukjae dengan wajah biasa saja, tenang, terlihat tidak begitu terkejut, mungkin karena sudah memprediksikan hal tersebut sebelumnya. “Jadi, apa semua ini karena Lee Donghae sudah kembali?”

Sahabatnya itu memang yang terbaik dalam hal menebak situasi ataupun perasaan. Hyukjae hanya perlu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Junsu.

“Bicara soal Lee Donghae, kakakmu yang tampan itu meneleponku dua jam yang lalu, menanyakan keadanmu dan memintaku menghubunginya saat kau sudah bangun. Haruskah aku menghubunginya? Atau kau sendiri yang akan menghubunginya?”

Sekalipun enggan, Hyukjae tetap memasukan makanan ke dalam mulutnya. “Aku tidak akan melakukan apapun, kau juga tidak. Abaikan saja saat dia menghubungimu lagi.”

Junsu mencibir pada Hyukjae, merasa gemas sendiri dengan kelakuan sahabatnya ini.

Keduanya kemudian melanjutkan acara makan mereka tanpa membicarakan apapun, sibuk dengan pikiran masing-masing sampai-sampai makanan yang mereka telan seperti tak ada rasanya.

o0o

Setelah membereskan meja makan dan mencuci piring, Junsu mengambil jaket tebalnya dan meminjam syal merah milik Hyukjae untuk pergi ke apartemen mengambil barang-barang.

Atas bujuk rayu Hyukjae yang luar biasa manis, Junsu memutuskan tinggal beberapa hari di apartemen Hyukjae untuk menemani sang sahabat.

Ketika Junsu memasang sepatu di depan penyimpanan, ia berteriak pada Hyukjae yang sedang membersihkan satu demi satu ruangan dalam apartemen.

“Jangan memaksakan diri dulu, Hyukkie. Kau istirahat saja. Akan kubereskan semuanya untukmu saat aku kembali.”

“Aku sudah cukup banyak istirahat, aku tidak mau tidur lagi. Kau cepat kembali saja biar aku tidak bosan sendirian.”

Junsu berdecak karena tingkah super aktif Hyukjae padahal dia baru keluar rumah sakit. “Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan kembali dengan cepat.”

Tak lama kemudian, Hyukjae mendengar pintu apartemennya terbuka dan tertutup lagi dalam hitungan detik. Dan tempat tinggal Hyukjae pun menjadi sepi sekali.

Selesai membereskan seluruh apartemen, Hyukjae menjinjing kantong hitam besar berisi sampah, hendak membuangnya ke bawah.

Ketika Hyukjae membuka pintu, dirinya di sambut dengan dua lelaki bersetelan serba hitam dan terlihat rapi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Salah satunya bertubuh tinggi dan hendak menekan bel.

“Nugusaeyo?” tanya Hyukjae.

Pria tinggi tersebut langsung menurunkan tangan dan membungkuk sekilas. “Anda diminta pulang ke Incheon oleh nyonya Lee, sekarang juga.”

Hyukjae tiba-tiba teringat mimpinya semalam, tentang Hankyung yang tersenyum padanya, dan sikap aneh Donghae setelah ibunya menelepon. Perasaan Hyukjae mulai tak tenang. “Kenapa?”

“Komisaris mengalami kecelakaan.”

Hyukjae terlonjak kaget, jantungnya berpacu dengan cepat. Matanya melotot menakutkan kepada dua lelaki di hadapannya. “Kalian tidak bisa bercanda denganku.”

Dua lelaki tersebut menunduk penuh penyesalan. “Kami tidak mungkin berani melakukan hal itu.”

Ketika mereka kembali mendongak, Hyukjae tak menemukan indikasi kebohongan macam apapun dalam raut wajah keduanya.

Sakit kepala kembali menyerang Hyukjae, kakinya lemas dan rasanya tidak kuat menopang berat tubuhnya.

Beruntung lelaki di hadapannya dengan sigap menangkap Hyukjae ketika ia hampir ambruk di lantai.

“Anda baik-baik saja?”

Hyukjae mengangguk dengan wajah mulai pucat dan masih dihiasi keterkejutan. Ia berusaha keras untuk bangkit. “Tunggu sebentar, aku akan segera kembali.”

Hyukjae melepaskan diri dari lelaki tersebut, dan berjalan masuk untuk berganti pakaian dan memasukan ponsel serta dompet ke dalam tasnya.

o0o

Semua gosip tentang dirinya, Sungmin, Donghae dan Hyukjae, hilang dengan tiba-tiba dari media. Kyuhyun tak dapat menemukan satupun laman yang berhubungan dengan dirinya ataupun tiga orang yang lain di internet. Dalam semua surat kabar pun sudah tidak ada kolom gosip tentang mereka.

Saat Kyuhyun bertanya kepada Yoochun, pria tersebut hanya mengatakan bahwa ada seseorang yang sudah melakukan upaya untuk menghapus semua pemberitaan miring tersebut. Tak ada yang tahu siapa dan untuk apa. Tapi Kyuhyun menyimpulkan hal tersebut dilakukan oleh Donghae.

Sekali lagi Donghae telah mengalahkannya. Kyuhyun benar-benar kesal dengan semua ini.

Ditambah lagi, Shim Changmin sudah mengajukan usulan kepada ayahnya untuk menurunkan Kyuhyun dari kursi kepemimpinan MCent, beberapa anggota dewan juga setuju dengan usulan tersebut dan meminta untuk segera diadakan rapat pemegang saham.

“Jika lebih dari setengah pemegang saham prioritas berpihak pada Direktur Shim dalam rapat, maka komisaris akan mengabulkan usulan untuk menurunkan anda dari kursi kepemimpinan MCent.”

Kyuhyun menaruh laporan terakhir yang ia baca di atas dokumen lain yang sudah ia periksa.

“Lalu apa yang akan anda lakukan saat ini?”

Kyuhyun menghela napas dalam-dalam. “Direktur Shim tentu tidak bekerja sendirian dalam menggelapkan dana pajak perusahaan. Pasti ada salah satu karyawan bagian keuangan atau pembukuan yang membantunya. Aku akan mencari orang tersebut kemudian membongkar kedok Direktur Shim di depan semua orang.”

“Jadi, apa Anda ingin memeriksa data-data karyawan yang berhubungan langsung dengan Direktur Shim?”

“Cukup data mutasi karyawan dari awal tahun sampai bulan ini. Karyawan tersebut sudah pasti keluar dari perusahaan karena kita bisa menemukan penyelewengan tersebut sebelum pihak pemerintah melakukan pemeriksaan pada MCent.”

“Tapi laporan tersebut dan semua laporan lain yang berhubungan dengan kepegawaian sudah di bawa oleh Lee Sungmin dan timnya.”

Itu bukan perkara besar bagi Kyuhyun.

Dengan santai sang Presdir mengangkat ponsel dari atas meja dan menghubungi Sungmin.

Berterima kasihlah kepada penemu alat komunikasi tersebut, yang membuat sebagian masalah terasa lebih mudah. Hanya sebagian saja. Jangan terlalu senang.

Ketika Kyuhyun terdiam untuk menunggu Sungmin menjawab telepon, pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu dan Lee Sungmin berdiri di ambang pintu dengan santai tak peduli pada salah satu sekretaris Kyuhyun yang membungkuk memohon ampun di belakangnya.

Kyuhyun memberikan isyarat pada sang sekretaris untuk segera pergi.

“Apa kau pikir ini kantormu, Lee Sungmin-ssi? Kenapa kau gemar sekali membuka pintu ruanganku tanpa izin?”

Sungmin menunjukan layar ponselnya yang sedang menampilkan nama Kyuhyun. “Aku pikir kau tahu kalau aku datang, makanya aku langsung membuka pintu tanpa permisi.” Sungmin melangkah masuk sambil memasukan ponselnya ke dalam saku jas bagian dalam. “Baiklah, lupakan saja itu. Aku membawakan kabar baik untukmu, Presdir Cho. Tapi…”

Sungmin melirik Yoochun sekilas dan Kyuhyun langsung mengerti apa maksudnya.

“Dia bersama kita,” kata Kyuhyun kemudian.

Sungmin tidak mau banyak berfikir. Ia hanya mengangkat bahunya. Park Yoochun adalah seseorang dengan alibi paling lemah dalam kasus ini, jadi Sungmin tidak akan terlalu cemas.

Setelah menutup pintu ruangan, Sungmin melangkah maju, lalu mengambil tempat duduk di samping kursi Yoochun. “Pagi ini aku berhasil menemukan dimana keberadaan salah satu staf keuanganmu yang mengundurkan diri seminggu sebelum aku melakukan pemeriksaan di sini.”

Sebelah alis Kyuhyun terangkat penuh rasa ingin tahu sekaligus rasa jengkel, karena sang Presdir merasa sudah dikalahkan oleh dua orang sekaligus sepagi ini.

“Dia adalah karyawan yang menangani pembiayaan untuk pajak. Aku mempunyai dugaan kuat bahwa dialah yang membantu Direktur Shim menggelapkan dana pajak selama ini.”

“Itu tidak cukup kuat untuk dijadikan bukti.” Park Yoochun menyela.

“Aku punya print out rekening koran miliknya yang terdaftar di bank swasta yang tidak terkenal. Delapan puluh persen transaksinya berhubungan langsung dengan keuangan perusahaan dan rekening Direktur Shim.”

Bagaimana bisa? Dan mengapa Sungmin melangkah sejauh itu? Kyuhyun tiba-tiba merasa benar-benar lamban dan tidak berguna. Sedangkan Yoochun langsung terdiam dengan mempertimbangkan segala sesuatu yang ia dengar.

“Begini Presdir Cho, Direktur Park, yang terpenting sekarang kita harus menemuinya dulu dan membuat kesepakatan. Jika kita bisa membuat penawaran yang bagus dengannya, aku yakin dia akan dengan senang hati mengatakan apapun yang ingin kau ketahui tentang sepak terjang Direktur Shim.”

“Bagaimana jika dia tidak mau melakukan tawar menawar?”

“Kau bisa mengancamnya dengan jalur hukum. Posisinya dulu dalam perusahaanmu dan kasus ini sudah cukup untuk menjadikannya tersangka utama.”

Harus Kyuhyun akui bahwa Lee Sungmin membuatnya kagum. Lee Sungmin benar-benar berotak cerdas dan cekatan, dia sudah berada dalam jalur pekerjaan yang benar. Tapi ada satu pertanyaan tentang Lee Sungmin yang sejak tadi mengganggu pikiran Kyuhyun.

Sang presdir mengaitkan jemarinya untuk menopang dagu sambil menatap Sungmin lekat-lekat. “Kenapa kau sangat peduli pada perusahaan ini, Lee Sungmin-ssi? Bahkan kau terlihat lebih peduli daripada aku sendiri.”

Ah! Benar juga. Sungmin tidak pernah memikirkan hal tersebut sampai detik ini. Sungmin akhirnya bertanya pada hati kecilnya, apakah karena ini semua masuk ke dalam rentetan prosedur pemeriksaan yang harus ia jalankan? Tapi Sungmin belum pernah mau terjun langsung untuk menyelidiki kasus penyelewengan seperti ini. Biasanya anggota stafnya yang melakukan semua itu, Sungmin tinggal memonitor saja.

Ataukah karena ia peduli pada Kyuhyun yang tidak sepenuhnya bersalah dalam kasus ini? Tapi pandangan subjektif seperti itu dilarang dalam pekerjaannya, dan Sungmin belum pernah melanggar peraturan itu bahkan saat dirinya memeriksa salah satu perusahaan besar milik salah satu kerabatnya.

Jadi, apakah dirinya terpikat pada Kyuhyun?

APA?

Jika Sungmin bisa, Ia pasti akan menampar pemikirannya tadi dengan tangan telanjang.

Sungmin kemudian berdehem untuk membersihkan tenggorokannya dari rasa gugup “Aku bertanggung jawab atas masalah ini sampai akhir, itu saja,” katanya.

Sang auditor tentu tidak sedang membual ataupun mengarang omong kosong, tapi entah mengapa hatinya terasa resah saat mengucapkan hal tersebut, seolah ia telah mengatakan kebohongan yang keji kepada Kyuhyun.

“Anda bisa pergi bersama Lee Sungmin-ssi,” kata Yoochun. “Sementara itu saya bisa membantu anda mengurus para pemegang saham di sini.”

“Baiklah kalau begitu.” Kyuhyun bangkit dan mengambil mantel di sandaran kursi. “Aku menyerahkan urusan kantor kepadamu, Direktur Park.”

Park Yoochun ikut berdiri dan mengangguk dengan hormat.

“Tapi aku tetap tidak akan melupakan kejadian di ruangan para komposer beberapa hari yang lalu. Setelah semua ini selesai, kita harus menyelesaikan masalah itu.”

Yoochun hanya memalingkan wajah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berpura-pura tidak mendengar dan mengerti apa yang telah dikatakan Kyuhyun.

“Ayo kita pergi, Lee Sungmin-ssi.”

Ketiganya kemudian keluar dari ruangan tersebut meninggalkan ponsel Kyuhyun yang tergeletak di samping figura berisi fotonya dan Hyukjae.

o0o

Hyukjae dibuat mengernyit saat mobil yang ditumpanginya mengambil rute menyimpang dari Incheon, menaiki bukit hingga melewati deretan rumah besar dekat perbatasan kota. “Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Hyuikjae, memuaskan rasa ingin tahunya.

Pria yang tidak lebih tinggi dari pada yang memegang kemudi melirik Hyukjae melewati bahunya. “Nyonya meminta kami meletakkan sesuatu di sini terlebih dahulu,” katanya dengan tenang.

Hyukjae tidak curiga sama sekali. Ia teringat belum memberitahu Junsu bahwa ibunya memintanya pulang. Hyukjae mengambil ponsel lalu mengetikan sebuah pesan singkat untuk Junsu.

Mobil yang ia tumpangi akhirnya masuk melintasi pekarangan depan yang dipenuhi berbagai macam bunga hingga mencapai bangunan utama.

Hyukjae menyimpan lagi ponselnya ke dalam tas ketika mesin mobil dimatikan, si pengemudi turun dan membukakan pintu untuknya.

“Silahkan.”

Hyukjae keluar dari mobil tanpa bertanya ini dan itu. Ia berfikir, semakin cepat urusannya selesai di sini, semakin cepat pula ia bertemu Hankyung. Ia tinggalkan tasnya di dalam mobil karena merasa tidak dibutuhkan.

Hyukjae berjalan di belakang dua lelaki tadi yang menuntunnya masuk ke dalam rumah hingga berakhir di ruang tamu yang begitu luas dengan sofa utama berbentuk setengah lingkaran yang ditata mengitari meja bundar tepat di bawah lampu gantung kristal yang besar.

Di sana sudah ada dua lelaki dengan pakaian serba hitam, identik dengan dua lelaki yang sedang menunjukkan jalan padanya. Dan di depan mereka sudah ada sebuah map merah tua dengan secarik kertas putih yang masih kosong, tanpa ada satupun huruf di sana.

o0o

Junsu tak jadi menginap di apartemen Hyukjae karena beberapa saat yang lalu sahabatnya itu mengatakan sedang dalam perjalanan menuju Incheon. Ibunya mengirimkan orang untuk memintanya segera pulang, entah kapan ia akan kembali.

Di tengah acaranya menata kembali barang-barang yang hendak ia bawa ke apartemen Hyukjae, ponsel nya berdering. Tak ada nama yang tertera di layarnya, hanya nomor rumah diindikasikan dari luar kota yang muncul dalam layarnya.

Junsu menjawab panggilan tersebut dan langsung disambut dengan omelan Donghae.

“Apa-apaan ini Kim Junsu? Kenapa kau tidak menjawab satupun panggilanku? Benarkah Hyukjae baik-baik saja di sana?”

Junsu memutar matanya. “Jangan panik, Hyukjae sudah bangun, sarapan dan berangkat.”

“Berangkat? Kemana?”

Kerutan muncul di dahi Junsu. Apa Donghae sedang bercanda? “Bukankah Hyukjae sedang dalam perjalanan menuju Incheon? Bibi Lee mengirim orang untuk menjemputnya.”

“Apa?”

Junsu tak lagi mendengar suara Donghae, lelaki tersebut entah sedang melakukan apa di sana. Perasaan Junsu jadi tak tenang. “Apa yang terjadi?”

Butuh waktu satu menit sampai Junsu mendengar suara Donghae lagi.

“Dengarkan aku Kim Junsu. Jika kau berada di apartemen, segeralah temui Yin He, dan minta dia untuk menghubungiku segera.”

“Ada apa ini sebenarnya?”

“Ibuku tidak pernah mengirimkan orang untuk menjemput Hyukjae, lantas siapa orang tersebut?”

Junsu bahkan tidak tahu bagaimana rupa orang yang menjemput Hyukjae. Bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan Donghae?

Penculik.

Ini penculikan!

Junsu menggigit ujung ibu jarinya sambil menggumankan kata, “Tidak mungkin.”

“Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu sekarang, Kim Junsu. Tolong carikan Yin He.”

“Aku tidak di apartemen sekarang.”

“Oh, ya Tuhan.” Jeda sesaat, mungkin digunakan oleh Donghae untuk mengusap wajahnya yang gusar. “Kalau begitu tolong pergi ke kantor polisi, laporkan masalah ini sebagai upaya penculikan. Aku akan kembali ke Seoul sekarang juga.”

“Baiklah.”

Junsu menyambar jaket lalu memakainya dengan asal. Ia bergegas keluar apartemen dan berlari menuju kantor polisi terdekat.

Dalam perjalanan, ia menghubungi Hyukjae, namun yang ia dapati hanya nada sambung tanpa kepastian kapan Hyukjae akan menjawab panggilannya. Junsu kemudian menghubungi Kyuhyun untuk meminta bantuan, semakin banyak yang mencari semakin cepat Hyukjae bisa ditemukan, namun Kyuhyun juga tidak mengangkat panggilannya.

Junsu jadi kesal sekali, ia menyebrang jalan tanpa melihat lampu merah untuk pejalan kaki.

Bunyi klakson yang panjang dan nyaring menghentikan langkah Junsu. Ia berniat mundur namun tersandung kakinya sendiri sehingga ia terjatuh di atas aspal dengan mata membelalak kaget. Jaraknya dengan bemper mobil hanya beberapa senti saja. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang.

Sang pengemudi turun untuk menghampiri Junsu.

“Apa kau—” Kata-katanya terhenti, lelaki tersebut kemudian membantu Junsu berdiri. “Kenapa kau menyebrang saat lampu untuk pejalan kaki berwarna merah, Kim Junsu? Apa yang kau pikirkan?”

Junsu tersadar dari keterkejutannya, dan menemukan wajah bingung Kyuhyun tepat di hadapannya.

Sebuah kebetulan dari kesialan yang menimpa. Apa yang harus Junsu lakukan sekarang? Bersyukur ataukah kesal?

Tidak keduanya!

Tanpa pikir panjang, Junsu mendorong Kyuhyun kembali masuk ke bagian kemudi, Junsu sendiri mengambil tempat di belakang Kyuhyun karena menyadari orang lain sudah mengisi tempat di samping Kyuhyun, siapa lagi kalau bukan Lee Sungmin?

Junsu sempat mengomel dalam hati karena mengira gosip yang beredar memang benar, mereka sedang berkencan atau semacamnya. Pantas saja panggilannya sejak tadi diabaikan. Tapi Junsu tidak peduli kalaupun hal itu benar.

“Hyukjae di culik, cepat antarkan aku ke kantor polisi.”

Baik Kyuhyun maupun Sungmin sama-sama menoleh ke belakang dengan wajah antara percaya dan tidak. “Jangan bercanda!” teriak keduanya.

“Apa untungnya bagiku?” Junsu mengibaskan tangannya ke depan. “Cepat, antarkan saja aku ke kantor polisi, aku akan menceritakan semuanya dengan rinci sambil jalan.”

Kyuhyun menurut tanpa pikir panjang. Ia memindah persneling dan melajukan mobilnya menuju kantor polisi sambil mendengarkan Junsu yang mulai bercerita.

o0o

“Kami akan langsung kepada intinya.”

Salah satu pria tadi menunjuk bagian bawah kertas, tempat di mana sebuah tanda tangan biasanya dibubuhkan. “Yang perlu kau lakukan hanyalah menanda tangani ini, lalu kau bisa melanjutkan perjalanan menuju Incheon.”

“Itu hanya kertas kosong. Mengapa aku harus menandatanganinya?”

Mereka semua mempertahankan ekspresi datar yang sudah terlatih dengan sangat baik. “Sebaiknya jangan banyak bertanya. Kami tidak akan menyakitimu jika kau menurut.”

Yang benar saja?

Hyukjae tidak bodoh. Kertas kosong tersebut bisa diisi dengan tulisan apa saja setelah Hyukjae memberikan tanda tangannya. Siapa yang bisa menjamin mereka akan menuliskan hal-hal baik di sana? Dan siapa juga yang bisa menjamin orang-orang tersebut tidak akan menyakiti Hyukjae setelah ia memberikan tanda tangan. Di dalam film-film yang biasa Hyukjae lihat, para penjahat biasanya menyakiti tawanannya setelah mereka mendapat apa yang mereka inginkan.

Hyukjae kemudian melirik kiri dan kanan. Rupanya, para pria yang menjemputnya sedang meningkatkan kewaspadaan kepadanya.

Hyukjae benar-benar sedang ditawan meskipun mereka tidak menunjukkannya secara gamblang. Bagaimana mungkin dirinya masuk ke dalam jebakan semudah ini?

“Jangan sampai kami memaksamu, Lee Hyukjae.”

Hyukjae harus melakukan sesuatu untuk melarikan diri. “Bolehkah aku ke kamar mandi dulu?”

“Berikan tanda tanganmu dulu, baru kau bisa bebas melakukan apapun yang kau inginkan.”

Tidak ada toleransi untuk Hyukjae.

Sialan!

Dengan cepat Hyukjae berlari dari tempat tersebut menuju pintu masuk.

Para lelaki yang tadi menjemput Hyukjae dengan sigap segera mengejar Hyukjae, tak sulit bagi mereka untuk menangkap Hyukjae lagi, bahkan sebelum Hyukjae berhasil meraih pintu masuk.

Salah satu pria menarik ke dua tangan Hyukjae ke belakang dan memeganginya dengan kuat supaya Hyukjae tidak bisa lagi macam-macam.

Dua lelaki yang sedari tadi duduk dan salah satunya terus mengoceh sekarang berjalan mendekati Hyukjae. Salah satunya menarik rambut Hyukjae dengan kencang sampai mendongak dan merintih kesakitan.

“Kami tidak bisa lagi bersikap baik kepadamu, karena kau telah menyia-nyiakan kemurahan hati kami.”

Ketika lelaki tersebut hendak mengeluarkan kata-kata selanjutnya, seseorang dari pos keamanan tiba-tiba berlari masuk dan mengatakan, “Kita harus segera pergi. Polisi sedang menuju ke sini.”

Keempat pria bersetelan hitam tersebut saling pandang sebelum mengangguk penuh arti.

Dua diantaranya beranjak pergi. Tak lama kemudian, salah satunya kembali lagi membawa tali warna hitam dan sebuah sapu tangan.

Mereka bertiga mengikat kedua tangan Hyukjae di belakang badan dan menyumpal mulutnya dengan sapu tangan berbau busuk. Hyukjae kemudian dibawa keluar dan dimasukkan ke dalam mobil yang digunakan untuk menjemputnya.

Di dalam mobil, Hyukjae masih sempat meronta sehingga lelaki yang duduk di sampingnya menjambak rambut Hyukjae untuk memberikan peringatan tanpa kata.

Setelah pintu gerbang terbuka sempurna, mobil yang mereka kendarai melaju dengan cepat lalu berbelok ke kanan untuk memasuki jalan raya yang tidak begitu ramai.

Tapi tiba-tiba sebuah SUV berhenti tepat di depan mobil yang ditumpangi Hyukjae dengan posisi melintang di tengah jalan.

Sang penculik yang memegang kemudi terpaksa berhenti sambil membunyikan klakson dua kali untuk membuat mobil di depan mereka segera menyingkir. Sayangnya, SUV tersebut tidak bergerak sekalipun hanya satu senti.

Dua orang yang duduk di depan Hyukjae melepas sabuk pengaman lalu keluar, menyambut Donghae yang turun dari dalam SUV.

“Mobilmu menghalangi jalan, cepat singkirkan!”

“Singkirkan sendiri jika kau mau.” Donghae menanggapi dengan nada dingin dan wajah penuh amarah.

Kedua lelaki tersebut tampak jengkel. Salah satunya maju, hendak masuk ke dalam mobil untuk memindahkannya sendiri dari tengah jalan, tapi Donghae melayangkan tinjunya dengan cepat dan mendarat tepat di pelipis lelaki tersebut.

Perkelahian tidak bisa dihindari.

Awalnya hanya satu lawan satu, setelah sadar bahwa Donghae bukan lawan yang mudah untuk di kalahkan, lelaki yang lain akhirnya bergabung dalam perkelahian tersebut.

Sekarang Donghae yang terlihat kualahan menghadapi dua orang terlatih sekaligus.

Hyukjae sampai menahan napas ketika melihat Donghae mendapatkan pukulan dari orang-orang tersebut. Ingin sekali rasanya melompat keluar untuk membantu Donghae seandainya saja rambut dan tangannya tidak dicengkeram erat-erat oleh lelaki sialan di sampingnya.

Untungnya bantuan datang di waktu yang tepat.

Hyukjae melihat mobil Kyuhyun berhenti di belakang SUV, kemudian Kyuhyun juga Sungmin keluar dari dalam mobil dan segera bergabung dalam perkelahian.

Setelah mengumpat, lelaki di samping Hyukjae keluar untuk membantu dua rekannya yang mulai kehilangan fokus.

Hyukjae tak bisa diam saja menunggu seseorang menyelamatkannya. Apapun bisa terjadi padanya mengingat masih ada dua orang dari komplotan penculik tersebut yang masih tertinggal di belakang sana. Hyukjae bertekat supaya bisa bebas, ia berusaha keras meraih handle pintu dengan tangannya yang terikat sampai akhirnya berhasil membuka pintu mobil.

Hyukjae keluar dari mobil bersamaan dengan mobil lain yang muncul dari tikungan. Hyukjae menunduk di samping mobil, sebisa mungkin menyembunyikan diri supaya tidak terlihat oleh siapapun.

Mobil yang baru keluar itu menabrak bagian belakang SUV hingga tak lagi melintang di tengah jalan. Sang pengemudi kemudian menurunkan kaca mobil sehingga semua orang bisa melihat wajahnya. “Tinggalkan saja mereka. Polisi akan segera sampai di sini,” katanya.

Setelah itu, lelaki tersebut menjalankan lagi mobilnya sambil menutup kaca jendela.

Ketiga lelaki tadi berhasil melepaskan diri dari lawan masing-masing menggunakan sisa kekuatan yang mereka miliki, kemudian berlari menuju mobil dan kabur secepat yang mereka bisa. Sama sekali tidak menyadari bahwa tawanan mereka telah kabur.

Tak lama kemudian, dua mobil polisi tiba, Junsu berada di dalam salah satu mobil tersebut dan berlari begitu melihat Hyukjae berusaha berdiri.

Junsu langsung meraih bagian belakang kepala Hyukjae untuk melepas sapu tangan yang menyumpal mulut sahabatnya itu. “Apa kau baik-baik saja, Hyukkie?”

Hyukjae mengangguk dan menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Rasanya jauh lebih baik karena sesuatu yang bau tidak lagi mengganjal di mulutnya.

“Syukurlah.”

Hyukjae bisa mendengar Junsu menghela napas lega lalu menggerutu jengkel di belakang ketika sahabatnya itu kesulitan melepas ikatan di tangannya.

“Ada yang mempunyai pisau atau korek api? Simpulnya rumit, aku tidak bisa melepasnya,” teriak Junsu pada siapa saja yang mendengarkan.

Ada sebuah pisau lipat di dekat kaki Kyuhyun, milik salah satu penculik yang ia lawan tadi. Kyuhyun lalu memberikan isyarat kepada Junsu untuk menunggu sebentar selagi dirinya memungut pisau tersebut.

Sayangnya, setelah Kyuhyun kembali menegakkan badan, orang lain sudah berdiri di belakang Hyukjae, mengambil alih pekerjaan Junsu untuk membantu kekasihnya melepaskan diri dari tali yang membelenggu tangannya.

Amarah membakar hati Kyuhyun. Ia meremas pisau lipat di tangannya sambil menahan diri supaya tidak membuka dan melempar pisau di tangannya itu kepada Donghae.

Setelah ikatan di tangan Hyukjae terlepas, Donghae membalik Hyukjae, menatapnya dengan kemarahan tanpa toleransi yang terlihat jelas di matanya.

“Kau punya ponsel kan? Kenapa tidak mencoba menghubungi eomma untuk menanyakan apakah orang yang mendatangimu benar-benar mendapatkan perintah darinya atau tidak?” kata Donghae sambil mengguncang lengan Hyukjae. Ada kecemasan luar biasa di dasar amarah yang diluapkan oleh Donghae. Kecemasan mendalam yang membuat Hyukjae merasa terlindungi dan aman.

“Aku tidak bisa berfikir jernih saat itu, aku begitu terkejut mendengar kabar bahwa abeoji mengalami kecelakaan,” kata Hyukjae. Ia kemudian menunduk. “Aku memang ceroboh. Maafkan aku…”

Tiba-tiba Hyukjae merasakan sepasang lengan kokok memerangkap dirinya. Tidak ada kehangatan ataupun kenyamanan dalam pelukan tersebut. Rasanya sama seperti melihat tatapan mata Kyuhyun semalam. Dingin dan hanya kepossessivan yang menguar di sekitarnya.

“Tidak apa, semuanya sudah selesai. Kau aman sekarang,” kata Kyuhyun. Suaranya begitu lirih seperti tiupan angin.

Astaga! Mengapa Kyuhyun harus menengahi di saat seperti ini?

Hyukjae melepaskan diri selembut mungkin dari rengkuhan Kyuhyun supaya lelaki tersebut tidak tersinggung. Biar bagaimanapun lelaki ini juga ikut andil dalam upaya menyelamatkan dirinya. “Terimakasih, Kyu.”

Setelah melihat senyuman Kyuhyun, Hyukjae bergeser ke samping sehingga bisa melihat Donghae yang berusaha keras menahan tangannya yang mengepal di samping tubuh. Sang kakak sama sekali tidak melihat Hyukjae karena matanya yang penuh kebencian terkunci hanya pada Kyuhyun.

Hyukjae mendekat pada Donghae lalu meraih tangannya yang terkepal.

Perhatian Donghae langsung tertuju pada jemari halus yang membungkus tangannya.

“Apakah abeoji benar-benar mengalami kecelakaan?”

Tatapan mata Donghae beralih pada wajah Hyukjae, sorot matanya perlahan melembut, dan akhirnya lelaki tersebut mengangguk penuh penyesalan. “Abeoji mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju Seoul untuk menemuimu, setelah sebelumnya mendapat kabar bahwa kau masuk rumah sakit.”

Di tempat tersebut, salju mulai turun, sebutir demi sebutir. Hawa dinginnya seolah berkompromi dengan penyesalan untuk mengusik hati Hyukjae, membuatnya sesak dan sakit.

Bibir dan tangan Hyukjae bergetar.

Apakah jika Hyukjae tidak melakukan upaya bunuh diri dan masuk rumah sakit ayahnya tidak akan pergi ke Seoul dan mengalami musibah tersebut?

Mengapa malah jadi seperti ini?

Hyukjae bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Hankyung.

“Jangan pernah berfikir untuk menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang telah menimpa abeoji.”

Tidak bisa! Hankyung mendapatkan musibah tersebut karena ingin menemuinya. Hyukjae adalah sumber dari kekacauan ini.

“Kecelakaan itu tidak ada hubungannya denganmu. Polisi sudah melakukan investigasi dan sudah mencapai kesimpulan sementara bahwa kecelakaan tersebut memang sudah direncanakan meskipun targetnya bukan abeoji.”

Apapun yang dikatakan Donghae sama sekali tidak bisa membantu menenangkan hati Hyukjae. Semuanya seperti dengungan tak jelas di telinga Hyukjae.

Di saat seperti ini, Hyukjae hanya membutuhkan pelukan dari Donghae untuk menguatkan batinnya. Sebentar pun tidak masalah, hanya sebagai bukti bahwa orang yang ia kasihi akan selalu disampingnya untuk memberikan kekuatan dalam menghadapi segala masalah.

Tapi Donghae hanya menatapnya tanpa berniat melakukan apapun.

Haruskah Hyukjae menangis supaya Donghae mau memeluknya? Seperti yang dilakukan Xian Hua beberapa hari yang lalu?

Tidak, tidak. Hyukjae tidak selemah itu sekalipun rasanya saat ini ia ingin sekali membaringkan diri di ranjang karena lelah.

Hyukjae manarik napas, menunggu dengan sabar Donghae selesai berbicara dengan seorang petugas kepolisian yang entah sejak kapan sudah ada di hadapannya.

Secara tiba-tiba Donghae menyentuh pundak Hyukjae kemudian bertanya, “Apa kau bisa memberikan sedikit keterangan kepada polisi?”

Hyukjae mengangguk, dan petugas tersebut langsung meminta Hyukjae menceritakan detail kejadian dari penculikan yang ia alami.

Setelah polisi tersebut merasa informasi yang diberikan oleh Hyukjae sudah cukup, lelaki paruh baya dengan kumis melengkung dramatis tersebut segera berpamitan kepada semua orang untuk melakukan tugasnya yang lain.

Hyukjae segera menghampiri Donghae yang sedang berdiri bersebelahan dengan Sungmin dan Junsu. Kyuhyun juga ada di sana, berdiri dengan jarak terjauh dari Donghae sambil menatapnya, seolah sedang menuntut kejelasan hubungan mereka. Hyukjae jelas tidak punya waktu untuk hal itu. Kyuhyun harus mau menunggu.

“Aku ingin menemui abeoji,” kata Hyukjae pada Donghae.

Lelaki tersebut mengangguk kemudian mengucapkan salam perpisahan pada Sungmin dan Junsu, seratus persen mengabaikan keberadaan Kyuhyun di tempat tersebut.

Hyukjae juga melakukan hal yang sama seperti Donghae—mengabaikan Kyuhyun. Karena jika Hyukjae menghiraukan sang Presdir, urusannya di tempat ini tidak akan selesai dalam waktu sepuluh menit. Ia berjalan menuju SUV tanpa keributan lalu melangkah masuk dengan anggun ketika Donghae membuka pintu penumpang bagian depan untuknya.

Beberapa saat kemudian, mobil tersebut menderu dan berlalu meninggalkan Junsu dan Sungmin yang masih diam memperhatian apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka.

Sedangkan Kyuhyun?

Sang presdir masih tenggelam dalam rasa jengkel setengah mati karena kekasihnya pergi bersama orang lain sedangkan dirinya tidak bisa melakukan apa-apa.

“Presdir Cho Kyuhyun yang sedang mengumpulkan kepingan hatinya di udara.”

Daftar kejengkelan Kyuhyun rasanya bertambah saat mendengar kalimat tersebut, terlebih Sungmin yang mengalunkannya dengan nada geli.

Baiklah, apakah nasibnya memang semenyedihkan itu? Baik kedudukan maupun kekasih tidak ada yang benar-benar ada dalam genggaman Kyuhyun.

Setelah menghela napas, Kyuhyun menoleh kepada Sungmin dengan wajah masam. “Ada apa?”

“Kita masih punya urusan di daerah lain. Apa kau ingin mengurungkan niat pergi ke sana?”

Kyuhyun menutup mata, tiba-tiba merasa malas sekali mengurusi urusan kantor. Semangatnya yang tadi sempat berkobar telah dibawa pergi oleh Hyukjae. Ia mengacak rambut sampai berantakan dan terlihat seperti orang yang benar-benar frustrasi.

Oh Tuhan… jika terus seperti ini Kyuhyun bisa jadi tidak waras.

“Hyukjae bisa menunggu, Presdir Cho, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan kedudukan dan perusahaanmu terlebih dahulu.”

Kata-kata Sungmin ada benarnya juga. Ini bukanlah waktu di mana dirinya bisa menyeberangi dua pulau dengan satu kali dayung.

Kyuhyun berhenti mengacak rambut, tangannya ia gunakan untuk membenarkan letak dasi dan juga jasnya yang kotor karena perkelahian. Ia sudah memutuskan untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai Presdir, membiarkan jarak tercipta antara dirinya dan Hyukjae. Siapa tahu keadaan seperti ini bisa membuat Hyukjae merubah keputusannya yang semalam. “Baiklah, ayo pergi,” kata Kyuhyun pada Sungmin.

“Kau tidak ingin ganti baju dulu dan merapikan penampilan?”

“Tidak perlu. Dia tidak akan merasa iba saat aku menemuinya dengan penampilan sempurna.”

Sungmin tertawa terpingkal-pingkal mendengar hal tersebut. Suasana hatinya kelihatan bagus sejak tadi pagi. Ck! Bagaimana dia bisa sebahagia itu saat ayah dari sahabatnya mendapat musibah?

Sungmin pasti belum tahu dan tadi pun tidak sempat mendengarkan apa yang dibicarakan Donghae dan Hyukjae tentang ayah mereka karena sibuk memberikan keterangan kepada polisi.

“Hei kalian, bisakah aku menumpang?”

Oh! Junsu.

Kyuhyun benar-benar lupa pada teman kekasihnya yang satu ini.

o0o

Mereka sudah melaju jauh melewati perbatasan, dan terus bergerak cepat menuju pusat keramaian kota Incheon. Tapi Donghae dan Hyukjae tak sedikitpun berinteraksi. Hyukjae sibuk melamun sedangkan Donghae berkonsentrasi pada jalanan, hanya sesekali ia menoleh untuk memeriksa apakah Hyukjae sudah selesai dengan acara melamunnya dan jatuh ke alam mimpi.

Lama-kelamaan Donghae menjadi jengah dengan keadaan tersebut ditambah lagi tenggorokannya kering dan perutnya keroncongan. Ia melirik jam di dasbor mobil. Hampir pukul satu siang. Pantas saja perutnya sudah mengadakan konser minta segera diisi. Donghae menepikan mobil di dekat mini market dua puluh empat jam dan mematikan mesin, sehingga membuat Hyukjae tersadar dari lamunan.

“Apa kita sudah sampai?” tanya Hyukjae dengan wajah lugu.

Donghae mengangguk dengan wajah meyakinkan sekali. “Ayo turun.” Ia melepas sabuk pengaman dan membuka pintu, memutari mobil untuk menghampiri Hyukjae yang sedang berdiri kebingungan sambil menoleh ke kanan dan kiri.

Mereka memang sudah berada di daerah keramaian, tapi mereka belum berada di pusat kota, di mana gedung-gedung pencakar langit berjajar di sepanjang jalan seolah sedang berlomba menggapai langit. Dan lagi, Hyukjae tidak melihat ada tanda-tanda rumah sakit di sekitar situ.

Ketika Hyukjae menyadari bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh Donghae, sang kakak sudah lebih dulu menarik tangannya, memaksa Hyukjae berjalan melintasi pintu ganda mini market, dan baru melepaskannya ketika mereka sudah berdiri di depan deretan rak yang menyimpan berbagai macam jenis roti.

“Aku tidak heran penculik tersebut mudah sekali membawamu pergi,” kata Donghae. Ia mulai mengambil beberapa roti dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan. “Kau mudah sekali dikelabuhi, Lee Hyukjae.”

Donghae beralih menuju deretan minuman. Di sana ia mengambil beberapa kaleng soda dan dua botol air mineral.

“Itu juga salahmu, Lee Donghae! Kau tidak memberitahuku sebelumnya bahwa abeoji mengalami kecelakaan. Saat eomma meneleponmu, kau malah mengatakan akan pulang untuk mengurus beberapa properti.”

Donghae mengalihkan perhatiannya kepada Hyukjae, tangannya terulur untuk menyentuh pipi Hyukjae. “Dengar, keadaanmu kemarin tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan, sekalipun tujuannya hanya ke Incheon. Aku tidak mau mengambil risiko apapun. Apa kau mengerti?”

Untuk sesaat Hyukjae benar-benar terlena hanya karena sentuhan Donghae di pipinya. Sejenak, Hyukjae bersedia memaklumi segala hal yang telah terjadi dan berdamai dengan Donghae. Tapi—

“Untuk apa aku harus mengerti? Kau yang seharusnya mengerti bahwa aku sanggup melakukan perjalanan kemanapun dalam keadaan kemarin.”

—lidahnya sekali lagi menjadi penghianat keji yang berhasil membuat suasana semakin tidak menyenangkan untuk Donghae.

Haruskah mereka bertengkar di sini?

Donghae melirik ke kanan dan ke kiri, beberapa orang dalam mini market tersebut sedang memperhatikan perdebatan mereka dengan penuh minat, beruntung tidak ada yang merekam mereka. Lelaki tampan tersebut menarik napas untuk menahan emosinya. Sangat tidak baik jika sampai dirinya meledak sekarang. “Baiklah, aku yang bersalah. Maafkan aku, nyonya muda Lee.”

Apa Hyukjae puas dengan permintaan maaf tersebut?

Yang benar saja?!

Jangankan puas, Hyukjae malah terlihat makin kesal karena dipanggil nyonya muda oleh Donghae.

Ketika Hyukjae ingin berteriak protes, Donghae mendorong keranjang di tangannya ke dada Hyukjae. “Apa ada lagi yang kau inginkan?”

Hyukjae jadi mengurungkan niat protesnya. Ia menunduk untuk melihat isi keranjang belanjaan Donghae yang hampir penuh dengan roti dan minuman. “Benarkah kau akan menghabiskan semua ini?”

“Kita berdua, bukan hanya aku. Ini sudah waktunya makan siang dan kita harus makan. Jika aku membawamu ke sebuah restoran kau belum tentu bersedia, jadi kupikir ini cukup untuk makan siang kita di sisa perjalanan nanti.”

“Apa?”

Donghae berniat makan siang sambil berkendara?

Apa para penculik tadi memukul kepalanya terlalu keras sampai-sampai pikirannya menjadi eksentrik begitu?

Jika Donghae lapar dan ingin makan, kakaknya yang tampan itu tinggal bilang. Hyukjae tidak akan keberatan menunggu Donghae sampai selesai makan sekalipun dirinya tidak akan ikut makan karena tidak berselera.

“Apa ada lagi yang kau inginkan, Hyukkie?”

“Aku tidak menginginkan semua ini atau apapun yang ada di sini.”

“Baiklah kalau begitu, aku bisa memakan semua ini sendirian.”

Donghae berbalik menuju meja kasir, mengabaikan Hyukjae sepenuhnya saat menunggu belanjaannya selesai di hitung.

Setelah sang pramuniaga menyebutkan berapa nominal yang harus Donghae lunasi, Lelaki tampan tersebut meletakan beberapa lembar Won yang jumlahnya lebih tinggi dari total belanjaannya dan memilih segera pergi meninggalkan mini market tersebut.

Hyukjae mengikuti di belakangnya sambil menggerutukan masalah bagaimana mungkin Donghae yang menyebalkan itu menjadi kakaknya?

Ugh! Hyukjae rasanya benar-benar jengkel dan ingin memukul kepala Donghae supaya sikap eksentriknya hilang.

Setelah kembali ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman, Hyukjae merasakan tangannya digenggam dengan lembut oleh Donghae. Ia menoleh pada Donghae sambil mengupayakan kebebasan tangannya dari Donghae—yang sudah jelas sia-sia saja.

“Kau harus mengerti bahwa semua yang aku lakukan adalah demi kebaikanmu, Lee Hyukjae. Baik itu dulu, sekarang, ataupun nanti. Aku tidak menginginkan hal buruk apapun menimpamu.”

Hyukjae teringat saat-saat Donghae keluar dari dalam SUV dan tanpa rasa takut melawan dua penculik demi menyelamatkannya.

Seharusnya Donghae menunggu polisi datang saja. Kenapa Donghae bertindak seperti pahlawan kesiangan begitu?

“Bagaimana kau bisa menemukanku tadi?”

“Berterima kasihlah pada pihak developer Apple yang telah menanamkan aplikasi pelacak ponsel, sehingga aku bisa dengan mudah menemukan dimana keberadaanmu.”

Ponsel!

Benar sekali! Ponsel dan dompet Hyukjae tertinggal di dalam mobil penculik tadi.

Wajah Hyukjae menjadi lesu dalam sekejap mengingat semua hartanya telah hilang.

Menangkap perubahan mimik di wajah pujaan hatinya, Donghae pun bertanya, “Ada apa?”

“Ponselku tertinggal di mobil penculik tadi.”

Donghae tersenyum dan melepaskan tangan Hyukjae. “Aku kira apa,” komentarnya santai, seolah tak memiliki beban.

“Dompetku yang berisi kartu identitas dan kartu ATM juga ada di sana!”

“Tadi aku sempat membahas hal tersebut juga dengan polisi. Mereka sedang melakukan pengejaran dengan melacak ponselmu. Mereka akan mengembalikan ponselmu setelah proses investigasi selesai. Dan masalah identitas serta kartu ATM mu, kau bisa melakukan pemblokiran melalui call center menggunakan ponselku, jadi tenanglah.”

Hyukjae hanya diam, memasang wajah anak penurutnya sambil menerima ponsel yang disodorkan oleh Donghae, sayangnya ponsel tersebut malah jatuh tanpa disengaja.

Hyukjae dan Donghae sama-sama menunduk untuk mengambil ponsel tersebut, tanpa disengaja jemari mereka bersentuhan tepat di atas layar ponsel.

Keduanya mendongak, saling menatap dalam jarak sempit hingga napas yang mereka hembuskan membelai wajah satu sama lain.

Mereka menenggelamkan diri dalam pemikiran kapankah terakhir kali mereka berada dalam jarak sedekat ini dengan keadaan seratus persen sadar?

Tentunya itu sudah sangat lama sekali.

Tanpa sadar Donghae menutup mata dan mencium Hyukjae tepat di bibir. Kelembutan yang terasa membuat Donghae mabuk kepayang.

Ada sedikit kebahagiaan yang meletup dalam dada Donghae ketika menyadari bahwa Hyukjae tidak menjauh ataupun menolak kontak fisik yang ia ciptakan. Jika seperti ini rasanya Donghae ingin lepas kendali saja.

Bolehkah?

Tidak!

Bayangan Hankyung tiba-tiba mengusik ketenangan Donghae. Ia membuka mata dan menarik diri dengan lembut, kemudian tersenyum saat melihat Hyukjae terdiam dalam posisinya sambil memejamkan mata.

Mungkinkah Hyukjae juga menginginkan apa yang dimau Donghae?

Bagaimana bisa mereka seperti itu saat ayahnya berjuang untuk tetap hidup?

Donghae menarik napas lalu memungut ponselnya dengan cekatan untuk diserahkan pada Hyukjae.

Yang lebih muda segera membuka mata, nampak kecewa ketika melihat Donghae mengaduk isi kantong belanjaan. Hyukjae kemudian menunduk memandangi ponsel di tangannya dengan perasaan campur aduk. Entahlah apa saja, yang jelas di sini Hyukjae merasa dipermainkan oleh Donghae.

“Segeralah hubungi call center, Hyukkie,” kata Donghae sambil membuka tutup botol air mineral lalu menghabiskan setengah isinya dalam beberapa kali tegukan.

Sialan!

TBC

Big thanks to everyone who give me support

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s