BROKE THIS PAIN;; Chapter 18

Previous Chapter

Donghae menarik napas lalu memungut ponselnya dengan cekatan untuk diserahkan pada Hyukjae.

Yang lebih muda segera membuka mata, nampak kecewa ketika melihat Donghae mengaduk isi kantong belanjaan. Hyukjae kemudian menunduk memandangi ponsel di tangannya dengan perasaan campur aduk. Entahlah apa saja, yang jelas di sini Hyukjae merasa dipermainkan oleh Donghae.

“Segeralah hubungi call center, Hyukkie,” kata Donghae sambil membuka tutup botol air mineral lalu menghabiskan setengah isinya dalam beberapa kali tegukan.

Sialan!

BROKE THIS PAIN

Warning: BL/Slash (But… GS for Heechul, Henry/Xian Hua & Ryeowook), Typo(s), miss typo, EYD Failure, bad des.

Cast & Pairing: Lee Donghae (HaeHyuk) Lee Hyukjae (KyuHyuk) Cho Kyuhyun

Genre & Rating: Angst(?), Romance (Mature), Hurt/Comfort, Showbiz

Dedicated to All of my beloved reader. Hope you enjoy this. ^_^

Note: “Talk“, ‘Think‘, italic = flashback/dream

Chapter 18: Let it go

Mereka berdiri mematung tepat di persimpangan dua koridor, terpaku pada para petugas medis yang keluar masuk ke dalam ruangan Hankyung.

Di sana seharusnya tidak seramai itu.

Hyukjae tak bisa menahan diri untuk mencari tahu, ia mengabaikan Donghae untuk berlari dan masuk ke dalam ruang rawat sang ayah.

Hal pertama yang menyambut Hyukjae adalah Heechul, Ibunya pingsan dalam pelukan Jaejoong yang terduduk di lantai. Hyukjae buru-buru mendekati Jaejoong dan membantu para medis memindahkan Heechul ke sofa.

“Apa yang terjadi, bibi?” tanya Hyukjae.

Bibir Jaejoong bergetar, ia menangis, dan tidak sanggup mengeluarkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Hyukjae.

“Bibi, katakan sesuatu!”

“Semua organ vital tuan Lee tiba-tiba melemah. Kami sudah melakukan semua usaha yang diperlukan, tetapi tuan Lee tetap tidak bisa bertahan.”

Dunia Hyukjae seperti berhenti berputar, tapi jantungnya berdetak lebih cepat karena resah. ‘Ini semua tidak benar.’ Ia berbalik untuk menghadapkan diri kepada seorang dokter yang memberikan penjelasan kepada Donghae tepat di samping ranjang Hankyung. “Katakan ini semua tidak benar, dokter!”

Kenyataannya, dokter yang saat ini menoleh kepada Hyukjae dan menunduk penuh penyesalan itu mengatakan hal yang sesungguhnya.

“Ayahku belum meninggal!” teriak Hyukjae pada sang dokter, lalu Hyukjae meraih tangan Hankyung yang pucat dan dingin. “Abeoji, bangunlah, ku mohon jangan bercanda.”

Tapi Hankyung tidak memberi respon macam apapun, jadi Hyukjae mengguncang tubuh sang ayah seperti orang yang kehilangan semua akal sehatnya.

Donghae memegangi pundak Hyukjae, “Hentikan, Hyukjae,” pintanya dengan lembut, tapi yang lebih muda tidak mau menurut jadi Donghae menariknya menjauh dari Hankyung supaya berhenti mengguncang tubuh sang ayah.

Hyukjae kemudian memegangi lengan Donghae. “Kakak, tolong bangunkan abeoji. Minta abeoji untuk bangun dan berhenti bercanda, kakak.”

“Hentikan, Hyukjae…”

“Kau pernah bilang akan melakukan apapun supaya aku mau memaafkanmu kan? Sekarang, tolong bangunkan abeoji, aku tidak akan menyimpan kemarahan lagi untukmu.”

Air mata menuruni pipi Donghae. Jiwanya juga terguncang saat mendengarkan penuturan dokter, tapi Ia tidak bisa mengabulkan permintaan Hyukjae. Donghae bukan Tuhan yang bisa mengatur kehidupan seseorang.

“Tolong bangunkan abeoji, kakak.”

Donghae memasukkan Hyukjae ke dalam dekapannya, menahan semua usaha protes yang diupayakan Hyukjae sambil berharap bahwa pujaan hatinya bisa berlapang dada untuk menerima kenyataan pahit ini. “Biarkan abeoji beristirahat dengan tenang, Hyukjae.”

“Tidak! Ini tidak benar.”

“Ku mohon.”

Hyukjae berhenti meronta dan mulai menangis dalam dekapan Donghae, menumpahkan semua kepedihannya di sana, membiarkan Donghae membenamkan wajah di rambutnya untuk membagi duka bersama.

o0o

Setelah semua ritual pemakaman selesai, Hyukjae mengatakan kepada Heechul untuk menetap beberapa saat di makam, ia belum mau meninggalkan Hankyung sekaligus belum siap pulang ke rumah yang menyimpan banyak sekali kenangan tentang suka dan dukanya bersama sang ayah. Beruntung sang ibu mengerti dan membiarkan Hyukjae bersama Junsu.

Lalu Donghae?

Tak ada satu orang pun yang tahu di mana sang bintang saat ini berada. Hyukjae juga tidak memusingkan hal itu, karena bersama Donghae hanya akan membuatnya teringat pada malam di mana Hankyung melihat mereka bermesraan, teringat ketika dirinya dan sang ayah berdebat tentang sang kakak, termasuk teringat akan hal yang membuat sang ayah bertekat pergi ke Seoul untuk menjemput ajalnya.

“Hyukjae?”

Junsu dan Hyukjae sama-sama mendongak dan menemukan Kyuhyun berdiri dengan wajah prihatin. Hyukjae ingat Kyuhyun mendatangi rumah duka semalam bahkan sempat memberinya pelukan untuk menguatkan batinnya, tapi tidak menyangka bahwa lelaki ini sampai sekarang masih ada di sini.

“Apa kau punya waktu?”

Kyuhyun menatap Junsu dengan harapan bahwa pemuda itu mau meninggalkannya berdua saja bersama Hyukjae.

Junsu menghembuskan napas, sedikitnya ia merasa kesal kepada Kyuhyun, tapi ia bisa apa? Dia adalah bawahannya Kyuhyun sekalipun mereka tidak sedang di kantor. “Aku harus pergi, Hyukkie, ada urusan mendesak yang harus ku selesaikan.”

Hyukjae menoleh kepada Junsu, meminta dengan sorot matanya supaya tidak ditinggalkan oleh Junsu, tapi sang sahabat hanya tersenyum dan menepuk pundak Hyukjae dua kali sebelum berlalu dari hadapannya.

Setelah beberapa saat mereka lalui dengan keheningan, Kyuhyun akhirnya membuka suara. “Aku turut berduka atas kepergian ayahmu.”

Hyukjae diam dan menunduk. Semua orang yang menyalaminya di rumah duka mengatakan hal yang sama, tapi apakah mereka merasakan sakit yang sama juga seperti yang dirasakan Hyukjae.

“Aku ingin membicarakan sesuatu, tapi tidak di sini. Bisakah?”

Hyukjae menjadi tidak punya pilihan, ia pun mengangguk kepada Kyuhyun dan bersedia menumpang di mobil Kyuhyun untuk meninggalkan pemakaman tanpa banyak kata.

Di tengah keheningan, perut Hyukjae mengeluarkan bunyi khas orang kurang makan. Kyuhyun mati-matian menahan tawanya. Hyukjae bisa tersinggung jika ditertawakan, apalagi saat ini wajahnya sudah mulai merah karena malu. Bisa-bisa Hyukjae nekat melompat keluar dari mobil jika Kyuhyun melepaskan tawanya.

“Aku lapar, apakah kita bisa mampir ke suatu tempat, Hyukjae?” tanya Kyuhyun, memecah keheningan panjang diantara mereka. Kyuhyun cukup yakin Hyukjae tidak makan dengan benar sejak hari pertama ritual pemakaman, karena jika Kyuhyun sendiri yang ada dalam keadaan seperti Hyukjae, jelas ia tidak akan sanggup menelan makanan jenis apapun.

“Bisakah kita berhenti sebentar?”

Sang kekasih—masih bisakah mereka disebut demikian? —menghela napas pasrah satu kali, sebelum melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan di mana lokasi mereka. Rupaya Kyuhyun sudah membawanya berkendara sampai daerah pantai. “Apa yang ingin kau makan, Kyu?”

Senyuman tipis menghiasi wajah tampan Kyuhyun yang terlihat lelah karena kurang tidur. Ia tiba di Incheon pada hari sabtu pukul enam petang dan terjaga sepanjang malam hanya untuk memperhatikan duka Hyukjae dari kejauhan. “Aku dengar di dekat sini ada penjual Odeng yang terkenal.”

Hyukjae tahu.

Hyukjae dan Donghae sering diajak Hankyung jalan-jalan ke tempat yang dimaksudkan Kyuhyun ketika liburan musim dingin mereka tiba, menghabiskan puluhan tusuk Odeng sambil menikmati udara beku pesisir pantai.

“Aku ingin mencobanya.”

Hyukjae diam, menyimpan baik-baik penolakan dalam hatinya atas permintaan Kyuhyun. Sang Presdir tentu saja tidak dengan sengaja memilih tempat tersebut, juga tidak sengaja membuat semuanya terasa makin sulit untuk Hyukjae.

Sampai kapankah hukuman ini akan terus menghantui ketenangannya?

“Bagaimana Hyukjae? Apa kita bisa ke sana?”

Hatinya mungkin terpuruk, tapi Hyukjae sadar dirinya tidak bisa merubah apa yang telah terjadi. Hyukjae akan berusaha berdiri dan melangkah maju dengan kakinya sendiri, meskipun rasanya akan sangat sulit. Waktu pasti akan membantu Hyukjae untuk menghapus semua duka dalam hatinya.

“Tempatnya masih satu kilometer dari sini. Tapi jalannya kecil, mobil tidak bisa melintas, jadi kita akan berhenti di depan sana untuk memarkirkan mobil, lalu berjalan sampai ke kedai.”

Jalan kaki berdua terdengar tidak buruk bagi Kyuhyun, asalkan bersama Hyukjae. Sudah lama juga mereka tidak jalan-jalan bersama.

Sang Presdir segera mencarikan tempat yang strategis untuk Porsche-nya sebelum mematikan mesin dan keluar membukakan pintu untuk Hyukjae.

Keduanya kemudian berjalan berdampingan memasuki jalanan kecil yang dipenuhi penjual pernak pernik di kiri dan kanan jalan.

Tempat tersebut lumayan ramai dengan pengunjung mengingat hari ini adalah hari minggu.

“Apa kau sering ke tempat ini?” tanya Kyuhyun, sesekali mencarikan celah untuk Hyukjae ketika beberapa orang tanpa toleransi berhenti di tengah jalan, sekedar untuk mengambil foto atau melihat dan menawar sebuah hiasan.

Abeoji sering mengajak aku dan kakak ke sini saat libur musim dingin tiba.”

Kyuhyun melirik Hyukjae dari sudut matanya, ia bisa melihat besarnya luka dalam hati Hyukjae melalui mimik wajah sang pujaan hati ketika membahas tentang sang ayah. Kyuhyun pun baru menyadari bahwa tempat yang ia pilih tidak tepat. “Apa kau ingin pindah ke tempat lain, Hyukjae? Sepertinya aku juga menginginkan sesuatu yang berat.”

Menyadari usaha pengalihan yang dilakukan Kyuhyun, Hyukjae jadi tersenyum. Kyuhyun yang ia kenal sudah kembali. Inilah lelaki murah hati yang selama ini ia kenal, bukan lelaki ambisius, egois dan keras kepala yang ia jumpai tengah malam setelah ia pulang dari rumah sakit. “Tidak apa, Kyu. Aku juga ingin makan Odeng.”

Baiklah, Kyuhyun menyerah, sebisa mungkin ia tidak akan menyinggung tentang Hankyung ataupun segala sesuatu yang mengarah padanya. Kyuhyun juga tidak akan memilih topik tentang masa kecil Hyukjae. Selain bisa bersangkutan dengan Hankyung, Donghae juga bisa muncul dalam tiap detail ceritanya. Kyuhyun tidak mau tahu seberapa dekat mereka sekalipun saat itu Hyukjae belum mempunyai perasaan khusus pada Donghae. “Apa rencanamu untuk kedepannya? Apakah kau akan kembali ke Seoul? Atau menetap di sini?”

Hyukjae belum memikirkan hal itu. Jujur saja, ia ingin ada di samping ibunya untuk saling berbagi dalam kehilangan ini, tapi Seoul menyimpan berhagai hal yang terkait dengan mimpi-mimpinya. Sejauh ini Hyukjae belum menyerah untuk meraihnya. “Entahlah. Aku akan membahas hal ini dengan kakak dulu.”

Kyuhyun tidak menyukai hal ini.

Hyukjae hanya tinggal bilang ya atau tidak dan Kyuhyun bisa pindah pada topik perbincangan yang lain. Kenapa Donghae harus muncul dalam pembicaraan ini? Jika Hyukjae menyebut nama Heechul mungkin Kyuhyun akan membuat pengecualian, tapi Hyukjae menyebut kakak, Kyuhyun jadi jengkel. “Kau tidak perlu merundingkan apapun dengan siapapun, Lee Hyukjae. Buatlah keputusanmu sendiri.”

Rasa jengkel dalam hati Kyuhyun menular dengan cepat kepada Hyukjae. “Itu tidak mungkin, Presdir Cho,” kata Hyukjae sambil tersenyum tak nyaman, mulai merasa terganggu dengan sikap Kyuhyun. Donghae memang pernah meninggalkan Hyukjae dengan cara kejam yang tidak bisa dibayangkan oleh siapapun, tapi dia tetaplah kakak Hyukjae. “Aku perlu pendapatnya.”

Kyuhyun tersenyum, menutupi sorot matanya yang penuh luka karena pujaan hatinya terang-terangan lebih memilih menggantungkan keputusan pada pertimbangan orang lain. “Bagaimana jika ternyata kau tidak punya hubungan darah dengannya?”

Hyukjae berhenti di tengah jalan untuk menghadapkan diri kepada Kyuhyun, mengontrol emosinya dengan baik karena ia tidak mau menarik minat orang-orang asing di sekitar mereka. “Itu tidak mungkin, aku mengenal kakakku dengan baik sejak kecil.”

“Donghae bukan kakakmu, Hyukjae!”

Hyukjae mengamati raut wajah Kyuhyun dengan seksama, ia menemukan sorot mata Kyuhyun yang lelah karena mengejar cinta, tapi Hyukjae mengartikan kelelahan tersebut sebagai kelelahan fisik yang akan segera hilang dengan tidur beberapa saat. “Kau butuh beristirahat, Kyu. Rumah peristirahatan milik keluargaku ada di dekat sini. Akan kuantarkan kau ke sana.”

Kyuhyun menggeleng tegas. “Pulanglah, Hyukjae, lalu pastikan sendiri apakah Donghae adalah anggota keluargamu atau bukan.”

Habis sudah kesabaran Hyukjae untuk lelaki bersurai madu ini. Ia menyilangkan tangan di depan dada, tak lagi peduli dengan keadaan sekitar. “Apa sebenarnya maumu dengan mengatakan semua ini padaku, Cho Kyuhyun?”

Itu sudah sangat jelas. Kyuhyun menginginkan Hyukjae. Hanya itu. Tapi keinginan Kyuhyun dihalangi oleh satu nama sehingga ia rela bertingkah seperti orang tidak waras dengan mengumbar rahasia keluarga Hyukjae di depan umum hanya untuk menarik Hyukjae kembali ke dalam pelukannya.

Kyuhyun meraih pergelangan tangan Hyukjae dan menariknya untuk kembali menyusuri jalan yang mereka lewati sebelumnya, menerobos kerumunan orang yang mulai menaruh minat pada perdebatan mereka. “Akan kubuktikan bahwa apa yang aku katakan adalah kebenaran. Donghae tak lebih dari anak haram yang dipungut oleh kedua orang tuamu.”

Kyuhyun yang dikenal Hyukjae bukan orang seperti ini. Sungguh. Dqia bukan Kyuhyun, dia hanyalah wujud dari sikap arogan yang berhasil melukai perasaan Hyukjae.

Setelah mereka keluar dari jalan kecil, Hyukjae menyentakkan tangan Kyuhyun sampai terlepas. Ia tidak bisa memberikan toleransi lagi kepada sang Presdir. “Tolong hentikan semua omong kosong ini, Cho Kyuhyun. Aku bisa gila jika kau tidak mau berhenti. Tidakkah kau mengasihani aku?”

Hyukjae mundur, kemudian berlari secepat yang ia bisa, meninggalkan Kyuhyun yang tiba-tiba tidak berkutik, baru teringat bahwa setengah kekasihnya itu sedang berduka, tidak seharusnya ia terbawa emosi dan menambahkan beban pikiran lain untuk pujaan hatinya.

Kyuhyun mengumpati diri sendiri sambil menutup wajahnya. Ia berputar-putar sambil menendangi udara di sekitar kakinya. Setelah berhenti melakukan hal konyol, ia membuka wajahnya lagi, mata Kyuhyun kemudian menangkap bayangan Lee Sungmin yang sedang berdiri tak jauh darinya dengan wajah terguncang karena tidak sengaja menyimak perbincangan tersebut dari awal sampai akhir.

“Sekalipun kau mengetahui semua rahasia mereka, tidak seharusnya kau ikut campur Presdir Cho,” kata Sungmin lirih tapi cukup untuk sampai dengan jelas di telinga sang Presdir.

o0o

Hyukjae berjalan memasuki rumah dengan langkah ragu-ragu. Ia menoleh ke sana dan ke sini ketika sampai di ruang santai, tak yakin harus ke mana terlebih dahulu. Apakah harus ke kamarnya? Menemui ibunya? Atau mencari sang kakak?

Bagaimana jika ternyata kau tidak punya hubungan darah dengannya?”

Hyukjae menggeleng. Perkataan sialan Kyuhyun mulai sukses mempengaruhi pikirannya. “Tidak, tidak!” Hyukjae menggeleng lagi, kali ini dengan keras supaya ucapan Kyuhyun tidak semakin menggerogoti ketenangan hatinya.

Bibi Jung datang menghampiri Hyukjae ketika melihat sikap aneh dari anak majikannya. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lembut, seperti menanyai balita.

“Di mana kakak?”

Bibi Jung nampak bingung tapi ia tetap memberikan jawaban. “Kakak anda belum kembali dari pemakaman. Hanya nyonya yang sudah kembali dan sekarang ada di kamar.”

“Baiklah, terimakasih.”

Hyukjae mulai berjalan tak tentu arah, memikirkan beberapa kemungkinan mengenai tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Donghae dalam keadaan seperti ini, hingga tanpa sadar, Hyukjae berakhir di dalam ruang kerja Hankyung.

Pulanglah, Hyukjae, lalu pastikan sendiri apakah Donghae adalah anggota keluargamu atau bukan.”

Percakapannya dengan Kyuhyun mulai menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar dan ia tidak bisa berhenti sampai rasa ingin tahunya terpenuhi. Hyukjae melangkah menuju meja kerja, menarik satu-persatu laci sampai akhirnya menemukan tempat di mana Hankyung menyimpan dokumen-dokumen penting tentang kekeluargaan.

Hyukjae mengambil sebendel dokumen dengan sampul yang diberi nama Donghae.

“Ini konyol sekali,” gumam Hyukjae sambil tertawa. Ia tidak percaya akan melakukan hal ini dalam hidupnya, meragukan status Donghae sebagai kakaknya sendiri.

Tapi sekali lagi, Hyukjae tidak bisa berhenti di sini. Hyukjae ingin membuktikan bahwa Kyuhyun salah, informasi yang didapat lelaki tersebut hanyalah omong kosong.

Hyukjae membuka map tersebut, lembar pertama yang menyambut dirinya adalah kepala surat resmi milik salah satu rumah sakit internasional di Taipei. Laporan tersebut adalah hasil tes DNA antara Donghae dan Hankyung yang dilakukan beberapa waktu lalu.

Akan kubuktikan bahwa apa yang aku katakan adalah kebenaran. Donghae tak lebih dari anak haram yang dipungut oleh kedua orang tuamu.”

Jika Donghae adalah anak kandung dalam keluarganya, seharusnya Hyukjae tidak menemukan hal sialan macam laporan tes DNA ini. Akal sehat Hyukjae seperti hilang secara bertahap.

Hyukjae mulai membaca dengan teliti, tak melewatkan satu hurufpun dalam selembar kertas resmi tersebut hingga akhirnya ia sampai pada hasil yang menyatakan bahwa Donghae tidak punya hubungan darah sedikitpun dengan Hankyung.

Badan Hyukjae terasa lemas karena terkejut.

Dia ibuku, Hyukjae.”

Hyukjae terkesiap ketika ingatannya tiba-tiba kembali pada saat ia masih terbaring lemah di rumah sakit dan Donghae mati-matian berusaha memberikan penjelasan tentang Xian Hua. Juga saat mereka terjebak rasa lapar di pagi hari dalam rumah peristirahatan.

“Yang aku dengar dari beberapa orang, bibi Xian Hua mengalami kecelakaan saat hamil tujuh bulan. Dia berhasil selamat tapi tak ada satupun orang yang tahu apakah bayinya saat itu bisa diselamatkan atau tidak.”

“Astaga, apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Hyukjae tidak bisa mempercayai bahwa wanita yang telah membuatnya cemburu setengah mati adalah ibu kandung Donghae. Tidak bisa sama sekali.

Hyukjae jatuh, terduduk di lantai sambil meremas dadanya yang tiba-tiba sakit, seolah ia baru saja dihantam benda tumpul tepat di bagian jantung.

Ibunya melintas di depan ruang kerja dan langsung membelalakkan mata saat melihat Hyukjae kesakitan. “Bibi Jung, tolong ambilkan air!”

Heechul berlari masuk menghampiri Hyukjae dan memegangi kedua lengan anaknya. Ia membantu Hyukjae berdiri, lalu memapahnya menuju sofa panjang di dekat rak buku.

“Apa yang terjadi padamu, Hyukjae?”

Sambil menata napasnya yang terputus-putus, Hyukjae kemudian mendongak menatap lurus mata sang ibu. “Untuk apa kakak pergi ke Taiwan, lima tahun yang lalu?”

Untuk dipertemukan kembali dengan orang tuanya? Ataukah untuk dipisahkan dari Hyukjae?

Itulah pertanyaan yang saat ini mulai mengguncang pikiran Hyukjae.

Heechul kemudian mengedarkan pandangan, lalu melihat sampul dokumen dengan nama Donghae tergeletak di lantai, isinya berceceran di sana-sini. Dari sana, Heechul tahu bahwa anaknya sudah mengetahui hampir semua rahasia yang ia dan Hankyung simpan rapi selama puluhan tahun.

Ketika Heechul mengembalikan perhatian kepada Hyukjae, bibi Jung datang membawa segelas air dengan berlari, tepat bersamaan dengan kesadaran Hyukjae yang menghilang.

o0o

“Kemarin malam Presdir Cho menyerahkan ini padaku.”

Sejenak, Donghae menatap sebuah map yang diulurkan Zhoumi dari kursi penumpang depan sebelum ia menerimanya.

“Dia mengatakan untuk menyerahkan ini kepadamu.”

“Kenapa dia tidak menyerahkannya langsung kepadaku?”

Zhoumi memutar mata enggan untuk menjawab, jadi Xian Hua yang mengambil alih. “Dia tidak bisa.” Karena mereka belum berdamai, dan mungkin tidak akan. Semua orang tahu hal itu tak terkecuali Donghae yang berpura-pura bodoh. “Kau sibuk melakukan ritual bersama Hyukjae dan para kerabat.”

Donghae kemudian membuka map tersebut dan membaca isinya.

Dokumen tersebut berisi laporan penculikan Hyukjae dan juga laporan tentang kejadian penembakan di basement MCent. Di sana tercantum bahwa nomor polisi dari kendaraan mencurigakan yang terekam salah satu CCTV MCent pada hari kejadian penembakan sama persis dengan salah satu nomor polisi dari mobil yang digunakan para penculik.

“Kalian sudah tahu hal ini?”

Zhoumi menggumam sedangkan Xian Hua hanya mengangguk sambil membalas tatapan Donghae.

Zhoumi menambahkan. “Mobil dengan nomor polisi ini juga melintas mendahului mobil Hankyung sebelum kecelakaan itu terjadi. Sabtu pagi, salah seorang saksi mata menyerahkan rekaman video amatir dari kejadian tersebut.”

Donghae kemudian teringat pada dokumen pengalihan yang hilang dari dalam tas kerja Hankyung, juga cerita Hyukjae mengenai apa saja yang terjadi padanya saat bersama para penculik.

“Pelakunya menginginkan saham dan properti milik Li Jiaheng. Dan karena dia tahu abeoji yang mengurus semua itu, pelakunya pasti berasal dari keluarga Li yang bekerja sama dengan seseorang dalam perusahaan, apa aku benar?”

Zhoumi dan Xian Hua terdiam, bukan karena kehabisan kata tapi untuk memilah kata yang tepat.

Donghae menatap Xian Hua dengan seluruh rasa ingin tahunya yang menuntut. “Mungkinkah nyonya Fei?” Karena hanya wanita itu satu-satunya anggota keluarga yang secara terang-terangan menampakkan ketidak sukaannya kepada Donghae ketika ritual pemakaman Jiaheng berlangsung.

“Kita akan segera tahu Donghae,” jawab Xian Hua, tidak ingin menghakimi seseorang karena bukti yang mereka miliki tidaklah banyak.

Mobil yang mereka tumpangi kemudian berhenti di depan sebuah gedung kecil dalam area perusahaan Hankyung, markas para petugas keamanan. Zhoumi, Xian Hua, dan Donghae segera turun untuk memasuki bangunan tersebut.

“Di mana kepala sekretaris?” Donghae bertanya kepada salah satu petugas yang berjaga.

“Mari saya antar.”

Mereka bertiga kemudian dituntun oleh petugas tersebut hingga berakhir di depan sebuah pintu besi berjendela kaca kecil sekitar sembilan inch. Sang petugas membuka pintu tersebut. “Silahkan.”

Donghae masuk terlebih dahulu, kemudian Xian Hua dan Zhoumi. Begitu pintu besi di tutup mereka langsung disambut dengan pengacara pribadi Hankyung dan kepala sekretarisnya yang sedang berdiri di depan lawannya berkelahi saat menyelamatkan Hyukjae.

Donghae berlari mendekati lelaki yang tangannya kini diikat dibalik kursi dan terhubung dengan ikatan di kaki, berusaha menggapainya tapi sang kepala sekretaris mencegahnya.

“Kita akan menyelesaikan ini dengan cara halus tuan muda, tolong kendalikan diri anda.”

Bagaimana Donghae bisa tenang saat ini?

Kepala sekretaris mengembalikan perhatiannya kepada tawanan. “Jawab pertanyaanku, siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?” tanya sang kepala sekretaris, dengan nada bicara halus sarat akan bujuk rayu, tapi tatapannya mengintimidasi.

Orang tersebut mempertahankan ekspresi tenang terkendalinya sampai Donghae membuka suara. “Jika dia tidak mau mengaku, kita harus mulai mencari alternative lain.” Terlihat tidak sabar. “Aku minta data lengkap tentang keluarganya.”

Pengacara Hankyung memberikan sebuah map kepada Donghae. “Dia tinggal bersama seorang wanita tua—ibunya, dan juga anak perempuan yang masih berusia lima tahun. Dan istrinya sudah lama meninggal.”

“Kira-kira apa mereka tahu bahwa lelaki ini terlibat dalam upaya pembunuhan dan penculikan?” tanya Donghae. Semua orang tidak ada yang memberikan respon, tapi wajah mereka seperti sedang meneriakkan kata tidak. “Bagaimana jika kita cari tahu.” Donghae mengeluarkan ponselnya dari saku celana hitam yang ia pakai untuk menghubungi nomor telepon dalam dokumen di tangannya.

Nada sambung terdengar saat Donghae mengaktifkan pengeras suara pada panggilan tersebut.

Tubuh Sang penculik bergerak seolah ingin berdiri dan menyambar telepon Donghae, tapi mulutnya tetap bungkam.

“Halo?” sapa suara wanita dari seberang line. Suaranya serak karena menderita batuk berdahak.

Penculik tersebut bereaksi lagi, kali ini wajahnya mulai cemas.

“Apakah taun Nam Minwoo ada?”

“Tidak, sudah dua hari ini dia tidak pulang.”

“Benarkah? Sebenarnya saat ini—”

“Aku akan bekerja sama dengan kalian,” kata sang tawanan selirih mungkin, tidak mau wanita yang ada di seberang line mendengar suaranya.

Donghae tidak tersenyum, wajahnya keras dan penuh kemurkaan saat melihat sang penculik, dan untuk sesaat lupa pada wanita tua yang penasaran menantikan kelanjutan dari kalimatnya.

“Sayang juga sedang pusing memikirkan dia. Bisakah anda menghubungi saya saat dia pulang?”

“Tentu, nanti saat dia sampai di rumah saya akan mintanya untuk memghubungi anda.”

“Terima kasih.”

“Boleh saya tahu—”

Donghae mengakhiri sambungan tersebut lalu memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celana, tak peduli pada wanita diseberang sana yang mungkin semakin bingung. “Jadi, siapa yang menyuruhmu melakukan semua kegilaan ini?”

“Tuan Taecyeon.”

Donghae mengerutkan kening, nampak tidak asing dengan nama tersebut. Ia lalu menoleh kepada kepala sekretaris yang wajahnya terlihat shock. “Apakah yang dimaksud orang ini adalah salah satu dari dewan direksi di perusahaan?”

Sang sekretaris mengangguk dengan gerakan patah-patah.

“Pantas jika dia tahu dengan tepat kapan, di mana, dan apa yang dilakukan Hankyung,” komentar Zhoumi.

Sang pengacara menambahkan. “Bahkan apa yang sedang dibawa tuan Lee.”

Tangan Donghae mengepal dan dadanya naik turun karena emosi. “Apa ada nama lain?”

“Tidak.”

Donghae menghadapkan dirinya kepada kepala sekretaris. “Aku ingin tahu dimana Jungmo berada saat ini.”

Kepala sekretaris Hankyung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

o0o

Menjelang tengah malam, Hyukjae tidak tidur, tepatnya ia tidak bisa tidur setelah tidur panjangnya tadi siang yang berakhir pada pukul enam petang.

Ia mengambil syal dan mantel, mencari-cari di mana letak sneakersnya lalu menyelinap keluar rumah. Fakta bahwa dirinya tidak berpapasan dengan satu pun orang seolah mendukung perbuatan tidak bertanggung jawabnya.

Hyukjae berjalan kaki menuju pantai, dan perkataan ibunya ketika menceritakan semua kebenaran tentang Donghae seperti kaset yang diputar terus-menerus dalam kelapa.

“Ayahmu mengira apa yang dia lihat lima tahun lalu hanyalah hasrat tak terkendali para remaja, maka dari itu dia tidak bisa membiarkan kalian bersama.”

Apa yang ada dalam hatinya untuk Donghae bukanlah hasrat sesaat. Tidakkah Hankyung bisa melihat ke dasar hati Hyukjae? Mengapa Hankyung membuat segalanya menjadi rumit?

“Kau tidak bisa menyalahkan ayahmu sepenuhnya atas semua hal, karena saat itu, Donghae tanpa berfikir panjang langsung setuju ketika Ayahmu menawarkan padanya hal yang paling kau inginkan untuk ditukar dengan kontrak kerja ZMent.”

Lantas apakah Hyukjae harus menyalahkan Donghae?

Lima tahun Hyukjae menjalani kehidupan sambil membawa beban kebencian untuk Donghae, hatinya hancur setiap ia mengingat Donghae meninggalkannya menangis sendirian dalam kamar.

Hyukjae tidak bisa membawa beban itu lagi jika nyatanya Donghae hanya mencoba untuk mewujudkan impiannya.

“Saat itu kalian masih muda. Perjalanan hidup kalian masih panjang. Ayahmu hanya tidak ingin kalian menyesal dengan apa yang telah kalian pilih. Lebih dari itu, jauh dilubuk hati ayahmu yang paling dalam, ia tidak ingin kehilangan Donghae, balita yang ia besarkan dengan sepenuh hati sampai menjadi lelaki yang mengerti arti pentingnya sebuah tanggung jawab. Kau tahu, ayahmu sangat bahagia ketika mendengar Donghae memanggilnya appa untuk pertama kali. Padahal sebelumnya ia tidak bisa menerima Donghae dengan baik.”

Atas alasan apapun Hyukjae tidak bisa mentolerir perlakuan Hankyung kepada dirinya dan Donghae. Sampai kapanpun, Hyukjae tidak akan mau diajak berdamai tentang masalah ini dengan cara apapun.

Tapi berdamai dengan siapa?

Ayahnya sudah pergi untuk selamanya dan tidak mungkin kembali untuk sekedar mendengar rengekan protes Hyukjae.

Hyukjae membersihkan pipinya dari air mata yang tidak mau berhenti menetes. Ketika sampai di pantai, Ia berteriak kepada lautan, memaki debur ombak dan menendang pasir putih untuk menumpahkan seluruh rasa kesal dan dukanya pada alam.

Beberapa meter di belakangnya, Donghae berdiri dengan perasaan bercampur aduk melihat keadaan Hyukjae. Ia mendekat hendak merangkul Hyukjae dari belakang, bermaksud menenangkan Hyukjae, tapi ketika dirinya berada tepat dibelakang Hyukjae, tangan kanannya hanya mampu menggantung di atas pundak Hyukjae.

Menarik kembali tangannya, Donghae membuang napas lalu menyimpan ke dua tangan ke dalam celana. “Apa yang kau lakukan di sini, Hyukjae?”

Yang lebih muda berhenti terisak, bahunya menegang untuk beberapa saat sebelum kembali lemas dan Hyukjae merosot di atas pasir putih yang dingin. Menekuk kedua lututnya untuk dipakai menyembunyikan wajahnya yang sembab.

“Ini sudah terlalu larut, Hyukjae. Ayo pulang.”

Dua menit Hyukjae tak memberi respon, Donghae akhirnya mengambil tempat di samping Hyukjae, menyilangkan kakinya di atas pasir dan menghadapkan diri pada Hyukjae. “Ini memang tidak mudah untuk diterima, tapi Hyukjae, abeoji tidak akan senang melihatmu seperti ini.”

“Aku memang tidak sedang menyenangkan abeoji, dan aku tidak akan melakukan hal itu.”

Donghae terperanjat untuk beberapa saat, tak habis pikir dengan perkataan yang didengarnya.

Saat itulah Hyukjae mengangkat kepalanya dan menghadapkan wajahnya yang berantakan kepada Donghae.”Tidakkah kau merasa kesal pada abeoji setelah mengetahui segalanya?”

“Segalanya?”

“Tentang dirimu.”

Deru angin dan debur ombak mengisi keheningan diantara mata mereka yang saling membidik, hingga akhirnya hawa dingin pantai tengah malam mengusik mereka sampai ke tulang, memulihkan salah satunya dari keterkejutan.

“Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini lebih lama darimu, tapi—”

“Keadaannya belum tepat. Aku tahu hal itu.”

Hyukjae tidak akan mengeluh karena ia mengerti, yang terjadi dalam beberapa hari belakangan cukup membuat perhatian tersita dan melupakan segalanya.

Hyukjae menyandarkan diri di bahu Donghae sambil memeluk lututnya. “Tidakkah kau merasa dipermainkan saat mengetahui semua ini?”

“Awalnya aku memang marah dan bingung, apa lagi saat abeoji memintaku menyalakan dupa tanpa banyak penjelasan. Aku meneriakkan ketidak percayaanku dihadapan banyak orang, aku seperti orang gila dalam upacara pemakaman Li Jiaheng. Lalu aku meminta abeoji melakukan tes DNA, dan saat hasilnya keluar, duniaku seperti berhenti, Hyukjae.”

Donghae mengangkat tangannya untuk dipakai membelai rambut Hyukjae, matanya menerawang lurus kedepan, dimana langit dan lautan bertemu di ujung horizon. “Aku sangat memahami kemarahanmu saat ini, Hyukjae, tapi apa gunanya menyimpan kemarahan untuk abeoji?” Donghae tersenyum, tipis sekali dan senyuman itu menggambarkan seberapa besar luka dalam dadanya akibat kepergian lelaki yang selama hidup menjadi panutan pertamanya.

Inikah wujud dari rasa sakit yang sebenarnya akibat ditinggalkan seseorang? Apakah Hyukjae juga merasakan derita ini ketika ia meninggalkannya dulu? “Kau harus belajar memaafkan, Hyukjae.” Bukan semata-mata untuk kepentingan Donghae yang tidak pernah berhenti bermimpi untuk memiliki Hyukjae lagi. “Buang semua rasa benci dalam hatimu karena abeoji melakukan semua ini bukan hanya untuk dirinya sendiri.”

Amarah dalam hati Hyukjae belum padam tapi mulai serut sedikit demi sedikit.

Bagaimana bisa Donghae membuat semua ini terasa lebih mudah untuk dilalui? Bahkan hatinya jadi tenang hanya karena berada dalam rengkuhan Donghae. Rasanya, Hyukjae ingin jatuh dan menyerahkan diri lagi kepada Donghae, memulai lagi semua dari awal sehingga ia bisa membagi apapun yang ia miliki bersama Donghae.

“Baiklah.” Donghae melepaskan tangannya dari Hyukjae kemudian memisahkan diri. Hal tersebut sukses membuat Hyukjae cemberut karena kecewa. “Ayo kita pulang.”

“Aku masih ingin di sini,” kata Hyukjae setengah merengek.

Donghae menggeleng, ia menarik tangan Hyukjae dengan lembut untuk mengajaknya berdiri dan merapikan syal yang dipakai Hyukjae.

Hyukjae cemberut tapi memutuskan untuk mengerti tentang kelelahan fisik yang terpancar dari mata mengantuk Donghae. Ia biarkan saja Donghae menggenggam tangannya, menggandengnya menuju sebuah mobil gunung yang Hyukjae ketahui sebagai hadiah ulang tahun ke tujuh belas Donghae dari Hankyung.

“Jam berapa kau pulang ke rumah?”

Karena sejak ia siuman, Hyukjae belum melihat batang hidung Donghae muncul di rumahnya.

Donghae membukakan pintu, dan membantu Hyukjae memanjat ke dalam mobil.

“Beberapa menit setelah kau melintasi pintu gerbang. Awalnya aku kira mataku terlalu lelah hingga membayangkan dirimu, tapi saat aku melihat kamarmu kosong, aku langsung sadar dan keluar untuk mengejarmu.”

Setelah memastikan Hyukjae nyaman di atas kursi kokoh, Donghae pun menutup pintu, lalu berjalan memutar untuk menempatkan diri di kemudi.

Mesinnya menderu kencang dan roda-roda khususnya yang besar menjajaki pasir dengan mulus tanpa hambatan.

o0o

Donghae mengerjabkan mata beberapa kali sampai penglihatan kaburnya berubah menjadi jelas dan wajah bahagia Hyukjae tergambar sempurna dalam matanya.

“Selamat pagi,” kata Hyukjae sambil tersenyum lebar. Senyuman manis yang begitu dirindukan Donghae.

Tangan kekarnya yang berada dipinggang Hyukjae menarik sang pujaan hati untuk merapat, tak menyisakan jarak sedikitpun bagi keduanya. “Selamat pagi, baby.” Donghae menutup kalimat tersebut dengan kecupan singkat di kening dan menambahkan sedikit durasinya saat berpindah di bibir Hyukjae. “Apa tidurmu nyenyak?” tanyanya masih dengan bibir menempel.

“Tidak pernah senyenyak semalam. Padahal kita hanya tidur lima jam.”

Donghae setuju, semalam adalah tidur ternyenyaknya setelah sekian lama. “Benarkah hanya lima jam?”

Hyukjae menggeleng, membuat hidung mereka bergesekan dengan dramatis tapi manis. “Kau tidur setengah jam lebih lama daripada aku.”

Donghae tersenyum lalu menarik wajahnya dari Hyukjae. Padahal Donghae mengira dirinya akan terbangun hampir di tengah hari mengingat semalam ia benar-benar merasa letih dan langsung tertidur begitu ia merebahkan diri di ranjang Hyukjae, pakaian berkabungnya bahkan belum di ganti. Dan Donghae bahkan tidak ingat alasan apa yang ia buat semalam sampai ia berakhir di bawah selimut yang sama dengan Hyukjae.

Mungkin karena Hyukjae ada dalam pelukannya sepanjang malam, Donghae tertidur nyenyak sekali dan jadi lupa pada segalanya

“Ponselmu berbunyi tadi,” kata Hyukjae, jarinya memanja di sekitar rahang Donghae yang kasar karena belum bercukur. Rasanya geli, tapi menyenangkan. Hyukjae terkikik sendiri.

“Apa karena itu kau terbangun?”

“Tidak, aku sudah bangun saat ponselmu berdering, tapi aku tidak mau mengangkatnya.”

“Kenapa?”

Hyukjae takut yang menelepon adalah Xian Hua. Mentalnya benar-benar belum siap untuk menghadapi ibu kandung Donghae setelah semua yang telah terjadi di antara mereka.

“Sudahlah, periksa saja, siapa tahu ada urusan penting.”

Donghae kemudian berbalik, meraih ponselnya di atas nakas, dan memeriksa siapa yang meneleponnya di pagi buta begini. “Kepala sekretaris.”

Hyukjae menyibak selimut, turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela untuk membuka tirai. “Untuk apa kepala sekretaris menelepon pagi-pagi begini?”

Donghae duduk dan bersandar pada kepala ranjang, mulai memainkan ibu jarinya di atas layar smartphone. “Mungkin ingin memberitahukan jadwal penerbangan ke Taipei.”

Hyukjae tiba-tiba diam, mematung di depan jendela. Baru beberapa jam ia merasakan kebahagian atas perdamaiannya dengan Donghae tapi lelaki ini sudah mau pergi lagi?

“Pukul dua siang? Baiklah, aku akan siap sebelum jam itu.”

Donghae memutus sambungan dan meletakkan ponselnya di atas setengah badannya yang masih tertutupi selimut. Ia lalu menatap Hyukjae, dan baru sadar bahwa dirinya belum menceritakan rencana kepergiannya ke Taiwan.

Donghae akhirnya turun dari ranjang dan berjalan mendekati Hyukjae. “Baby.” Ia mulai dengan menangkup wajah Hyukjae, memusatkan perhatian yang paling manis hanya kepadanya. “Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di Taipei.”

“Pergilah.” Diluar dugaan Donghae, Hyukjae tersenyum, rela dengan apa yang dilakukan Donghae. “Tapi cepatlah kembali ke sini.” Di samping Hyukjae tepatnya.

Donghae balas tersenyum, sedikit terharu dengan perkataan Hyukjae. Andaikan lima tahun yang lalu situasinya semudah saat ini…

“Tunggulah, aku tidak akan lama di sana.”

Setelah Hyukjae mengangguk, Donghae mencium Hyukjae tepat di bibir, menghujaninya dengan kelembutan yang penuh perasaan kasih dan sayang.

o0o

Setelah semua persiapannya selesai, Donghae keluar dari kamarnya, berdiri di depan pintu kamar Hyukjae yang tidak tertutup, untuk mendengarkan perdebatan yang berlangsung di dalam sana.

“Kenapa aku harus pergi eomma?”

Donghae melihat Heechul bersidekap di depan Hyukjae, dan juga setelan formal tanpa jas dan dasi yang masih rapi di atas ranjang Hyukjae.

“Karena harus ada salah satu anggota keluarga yang hadir dalam pertemuan itu, kakakmu dan eomma sama-sama tidak bisa.”

Donghae menyilangkan tangan, belum mau mencampuri urusan ibu dan anak di hadapannya.

“Tapi eomma, aku tidak mengerti apapun. Di sana aku mungkin hanya akan jadi pajangan hidup.”

“Tidak masalah, ada kepala sekretaris yang akan membantumu nanti.”

“Eomma~”

“Cepat ganti pakaian dan turunlah.”

Ketika Doghae membuka mulut, hendak membantu Hyukjae terbebas dari urusan bisnis keluarga, Heechul dengan tegas menatapnya, tanpa toleransi, hingga membuat nyali Donghae menciut.

Sang ibu kemudian keluar dari kamar Hyukjae, meninggalkan sang anak berdua saja dengan Donghae.

“Kakak~”

Donghae menoleh dan melemparkan permintaan maaf lewat tatapan matanya. “Ini tidak seburuk yang kau bayangkan Hyukjae, sungguh. Cobalah sekali saja, ya?” Dan Donghae segera berlalu dari kamar Hyukjae, meninggalkan pujaan hatinya yang sedang cemberut menatap setelan formalnya.

Memaksa Hyukjae untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan, Ini terasa tidak benar untuk Donghae. Namun ia mencoba berfikir dari sisi yang lain, dari sisi Heechul. Mungkin dengan kejadian ini, Hyukjae tidak akan kembali ke Seoul, tidak akan bertemu lagi dengan Kyuhyun, dan menetap di Incheon untuk menjaga ibunya yang saat ini menyandang status janda cantik yang kaya raya.

TBC

Big thanks to: Aikawa Hikari, akuu, anon, azihaehyuk, baby baekkie, Bluerissing, chaerashin, cho w lee 794, DeclaJewELF, dekdes, Depi haehyuk, Dianarositadewi4, Donghyukbeby, Elf forever, Elfishy09, fcukchyeah, fff, Fitri, FN, HAEHYUK IS REAL, haehyuk86, isroie106, JUST HAEHYUK, jewel0404, kim Jisung137, KimZiefaElf, Kyusungkoi. Lee Haerieun, lee ikan, Lisa, love haehyuk, lovehyukkie19, Lstories, lyndaariezz, Misshae d’cessevil, natureHole, , NovaFujo03, NovaPolariself, nurul p putri, Polarise437, rani gaem 1, reiasia95, ren, TarraAnggitalini, tarrraaaaa, teukiangle, tina Kwonlee, yhajewell, Zia yeoja, Zhouhee1015, 45 followers, and 53 favorites.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s