ONE OF THOUSANDS ROSES

ONE OF THOUSANDS ROSES

Summary: Cinta itu datang dari sebuah kebiasaan, tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Hanya saja, hal itu bisa berubah menjadi kesalahan yang fatal jika orang yang dicintai adalah ipar sendiri. Lantas siapa yang akan memenangkan kompetisi tersebut? Apakah dia yang telah memberikan keturunan? Ataukah dia yang memberikan keturunan tersebut kasih sayang?

Warning! BL/SLASH! General warning applied.
Cast & Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)
Genre & Rating: Full of Family (Semi-incest) and Romance (Mature content not only for bed scene), lil bit Hurt/Comfort, and much Drama.
Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.
HAPPY READING

o0o

Di salah satu distrik kota Seoul, Hyukjae berlari di sepanjang jalur pejalan kaki, memilih rute yang paling jauh dengan pusat keramaian saat subuh, supaya tidak perlu berpapasan dengan banyak orang yang berpotensi tinggi mengganggu aktivitas paginya. Ketika langit subuh yang pekat di atasnya berubah menjadi lebih terang karena sinar hangat matahari pagi di ufuk timur, Hyukjae memutuskan untuk berlari pulang, ia perlu mempersiapkan diri untuk menjalani rutinitasnya.

Seperempat jam kemudian, Hyukjae sudah sampai di depan rumah besar yang saat ini menjadi tempat tinggalnya. Itu bukan rumahnya, ngomong-ngomong. Kakak iparnya yang kaya raya dan baik hati membelikan rumah itu untuk kakaknya setelah mereka menikah, lantaran Hyukjae sudah tidak memiliki orang tua dan kakaknya yang cemas berlebihan jika harus membiarkan Hyukjae hidup sendirian di sebuah flat di pinggiran ibu kota, maka iparnya itu bermurah hati mengizinkan Hyukjae tinggal di sini.

Sebelum memasuki rumah, Hyukjae berhenti sejenak untuk membungkuk sambil memegangi lutut dan mengatur napasnya yang tersengal, keringat membasahi sebagian rambut pirangnya dan mengucur deras di ujung dagu.

“Berapa kilo hari ini, Hyukkie?”

Itu jelas bukan suara Adam Levin atau Ed Sheeran yang mengalun dari aerphone di telinganya, karena mereka tidak mungkin ada di halaman yang sama dengannya di pagi pergantian musim seperti ini. Suara itu milik seorang wanita, tepatnya milik satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki, kakaknya yang bernama Lee Sungmin. Wanita dengan status menantu paling beruntung yang pernah ia jumpai setelah menantu presiden Korea.

Dia pulang.

Hyukjae buru-buru menegakan badan dan menarik satu aerphone dari telinga, rasanya masih belum bisa percaya bahwa ia sedang berhadapan langsung dengan saudarinya. “Oh, sudah berapa tahun kita tidak bertemu? Bagaimana kabarmu, noona?”

Berlebihan sekali. Padahal mereka hanya tidak bertemu selama tiga hari karena Sungmin sibuk di rumah sakit mengurusi para pasiennya.

Kakaknya mengangkat bahu, tapi tidak mempengaruhi letak tas jinjing dan jas prakteknya yang ditempatkan di tangan. “Seperti yang kau lihat, inilah kabarku sekarang, Hyukkie.”

Kakaknya itu sudah rapi dengan pakaian formalnya yang feminin, terlihat cantik biarpun wajahnya hanya dipulas dengan make-up minimalis dan rambut pirangnya dibiarkan tergerai di bahu. Terlihat tanpa beban layaknya para bujangan yang belum terikat dalam sumpah setia di depan altar bersama orang lain, dan yang paling penting di sini, Sungmin terlihat nyaman dengan semua yang diperlihatkan pada Hyukjae.

“Mau pergi lagi?”

Sang kakak hanya mengangguk sambil menuruni teras dengan langkah anggun.

“Tidak bisakah kau tinggal lebih lama? Mungkin kita bisa sarapan bersama? Sudah berapa tahun kita tidak melakukannya?”

Untuk yang satu ini, Hyukjae tidak melebih-lebihkan karena faktanya mereka memang sudah lama sekali tidak pernah menghabiskan waktu bersama sekalipun tinggal di bawah atap yang sama.

Sang kakak berhenti di depan Hyukjae, tersenyum, menampakan penyesalannya yang mendalam kepada sang adik. “Mungkin lain kali, sayang, aku memiliki jadwal operasi sebentar lagi.”

Oh, rasanya Hyukjae ingin sekali melempar sepatunya pada Sungmin. Sebenarnya apa lagi yang dicari kakaknya ini? Bukankah Sungmin sudah memiliki segalanya? Kalaupun Sungmin ingin menambah koleksi berliannya, dia hanya perlu sedikit merayu kepada sang suami untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ia tidak perlu bekerja siang dan malam seolah ia memiliki hutang yang menggunung kepada selusin lintah darat.

Hyukjae bukannya tidak tahu ataupun tidak peduli pada sumpah yang telah diambil kakaknya untuk mendedikasikan hidupnya menolong orang-orang yang membutuhkan jasa dan pengetahuannya, atau mendahulukan kepentingan yang lain daripada kepentingannya sendiri, tapi apakah Sungmin harus bertingkah seolah dirinya benar-benar tidak memiliki belas kasih sama sekali kepada Hyukjae dan keluarga kecil yang telah ia bangun?

“Cepatlah memilih pasangan Hyukjae, supaya kau tidak perlu sarapan sendirian.”

“Kau terdengar seperti sedang mengusirku dari sini secara halus.”

“Demi Tuhan, bukan itu maksudku sayang.” Dan Sungmin tersenyum menunjukkan keprihatinan kepada adiknya. “Oh astaga, usiamu sudah lebih dari tuga puluh tahun, kau harus berhenti main-main soal asmara dan cobalah untuk serius mencari pendamping hidup. Begini, ada salah satu rekan dokterku yang tertarik padamu. Dia tinggi, menawan, baik dan tentunya masih lajang.”

Lalu mempunyai setumpuk kesibukan yang sama dengan kakaknya?

Terima kasih banyak.

“Lebih baik aku tidak menikah daripada bertemu dengan orang sepertimu yang hanya mementingkan diri sendiri.”

Kakaknya masih berdiri di hadapan Hyukjae dengan tatapan tenang seperti air di dalam kolam. Tapi ia seratus persen tidak setuju dengan perkataan sang adik. “Ini adalah kehidupan yang kupilih, Hyukjae.”

“Dan kami? Apa kami bukan kehidupan yang kau pilih?”

Raut wajah Sungmin mengeruh pertanda bahwa suasana hatinya jadi buruk dan ia berusaha keras untuk tidak terbawa emosi. “Tutup mulutmu, Hyukjae,” katanya dengan gigi terkatup rapat. “Jangan mengajariku tentang apa yang harus dan tidak harus ku lakukan.” Ia meninggalkan Hyukjae, berjalan cepat menuju mobil yang tidak sempat di masukan ke dalam garasi karena ia pulang pukul satu dini hari.

“Kau akan menyesali semua ini, Lee Sungmin, lihat saja!”

Sang kakak tidak peduli. Ia menulikan pendengaran pada umpatan-umpatan sang adik di belakangnya lalu masuk ke dalam mobil dan pergi.

Dengan langkah menghentak, Hyukjae masuk ke dalam rumah, berjalan cepat menaiki tangga sambil melepas jaketnya yang basah karena keringat.

Ketika melintas di depan pintu kamar Sungmin, Hyukjae mendengar suara benda pecah di dalam sana, ia terkejut untuk sesaat lalu menghela napas. “Apa yang dia pecahkan kali ini?” Gelas? Asbak? Vas bunga? Guci? Foto pernikahan? Oh, Hyukjae yakin bukan yang terakhir karena benda tersebut sudah tidak ada lagi di dalam kamar sang kakak. Dua tahun lalu, iparnya yang sekarang gila dalam kesepian itu sudah memecahkannya dan tidak berniat untuk memasang yang baru.

Dengan melihat hal itu saja, semua yang ada di rumah itu tahu bahwa hubungan Sungmin dengan suaminya sudah bisa dikatakan selesai, tapi yang tidak Hyukjae menegerti di sini, mengapa iparnya itu tetap bertahan dengan semua ini? Dalam artian tidak mau menggugat cerai Sungmin ataupun mencari selingkuhan.

Mungkinkah karena anak?

Hyukjae rasa tidak.

Iparnya itu super sibuk sama seperti Sungmin, mereka berdua tidak peduli kepada anak mereka. Saat bocah itu belum genap berumur setengah tahun, kedua orang tuanya lebih memilih untuk memberikan perhatian kepada pekerjaan masing-masing. Sungmin bahkan tidak mau repot memberikan asi eksklusif kepada anaknya padahal ia tahu bahwa hal itu penting.

Karena cinta?

Jadi, seberapa besarkah cinta kakak iparnya itu kepada Sungmin sehingga ia diam dan menerima semua perlakuan Sungmin? Sampai saat ini hal itu masih menjadi misteri bagi Hyukjae.

Baiklah, apapun yang terjadi di dalam sana bukan urusan Hyukjae. Iparnya itu sudah pasti baik-baik saja karena ia lelaki yang rasional, tidak mungkin bunuh diri hanya karena tidak mendapat perhatian lebih dari Sungmin.

Hyukjae kembali berjalan tapi ia berhenti lagi di depan pintu kamar yang terbuka, milik Jeno, keponakannya yang malang. Di dalam sana, Jeno yang lucu masih meringkuk sambil memegangi gulingnya dengan erat, seratus persen mengabaikan seorang pelayan yang mengguncang tubuh kecilnya, memintanya untuk segera bangun dan bersiap pergi ke sekolah.

Hyukjae tersenyum lalu masuk ke dalam kamar. “Tinggalkan saja dia, biar aku yang tangani,” kata Hyukjae sambil meletakan jaketnya di meja belajar Jeno.

Pelayan tersebut membungkuk kemudian segera keluar dan menutup pintu.

Ini adalah peperangan rutinnya tiap pagi yang menyenangkan, dan Hyukjae selalu siap untuk memulainya. “Jeno-ah.” Hyukjae duduk di tepi ranjang Jeno dengan sebelah kaki dilipat di atas tempat tidur dan kaki yang lain dibiarkan tergantung bebas menyentuh lantai. “Apa Jeno tidak mau berangkat ke sekolah?”

Jeno tetap diam dengan mata terpejam dan sepasang lengannya memegangi guling. Oh lucunya~

“Ah, jadi akhir pekan ini Jeno tidak mau pergi ke taman bermain dengan Samchun?”

Jeno mulai bereaksi, ia berbalik untuk menggeser tubuh kecilnya dengan pelan hingga kepalanya sampai di atas paha Hyukjae. “Tamchunie~” rengeknya pelan pada Hyukjae, menyuarakan ketidak setujuannya yang lucu.

“Tidak mau makan es krim dengan Samchun?”

Masih dengan mata terpejam, Jeno meninggalkan gulingnya untuk merangkak dan duduk di pangkuan Hyukjae. “Tamchunie~”

“Tidak mau makan burger sama Samchun?”

Perlahan, Jeno berdiri di pangkuan Hyukjae, mengalungkan lengannya yang kecil mungil di leher sang paman lalu membenamkan wajahnya di pundak Hyukjae, tak peduli tubuh pamannya itu sedang basah karena berkeringat. “Ayo pergi ke sekolah, Tamchunie~”

Selesai sudah.

Hyukjae tertawa senang atas kemenangannya. Ia berdiri sambil memegangi badan kecil Jeno yang menempel di dadanya seperti cicak. “Tapi Jeno harus mandi dulu.”

“Mandi sama Tamchunie~”

Hyukjae tertawa lagi, wajahnya terlihat bahagia dan semua kekesalannya pada Ibu Jeno-pun lenyap. “Oke.”

o0o

Selembar undangan pernikahan dijatuhkan tepat di depan Hyukjae yang sedang berkonsentrasi membuat rancangan bangunan. Mau tak mau Hyukjae harus menjeda kegiatannya, memberikan perhatian kepada dua nama yang tercetak di bagian depan persegi panjang tebal yang di dominasi warna lilac.

Tak lama kemudian kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Hyukjae mengangkat undangan tersebut lalu melihat teman satu timnya yang tengah tersenyum lebar membagi kebahagiaan kepadanya. “Selamat, kau berhasil membuatku terkejut, Kim Ryeowook,” kata Hyukjae, rasa jengkel yang muncul akibat ketidak sopanan temannya itu tidak sebanding dengan rasa senangnya saat menerima kabar bahagia tersebut.

“Rasanya sulit dipercaya bahwa dalam waktu beberapa hari lagi aku akan menjadi pendamping hidupnya.”

Hyukjae memperhatikan temannya memeluk diri sendiri, tersenyum dan membayangkan hal-hal yang indah.

Temannya ini sudah lama sekali berpacaran dengan Jongwoon, terhitung tujuh tahun lebih menjalani hubungan putus-sambung dan ketidakseriuaan sejak mereka dibangku universitas, sama sekali tidak menyangka bahwa mereka akhirnya memutuskan untuk segera mengucap sumpah setia satu sama lain.

“Bagaimana denganmu, Hyukjae? Kapan kau akan membagi kabar baik seperti ini padaku? Kau tidak berencana mencari predikat bujang abadi kan?”

Ini adalah kali keduanya dalam hari ini dirinya ditanyai masalah pendamping hidup. Jika ada satu orang lagi yang menanyakan masalah ini kepadanya, maka Hyukjae akan memberinya rancangan rumah terbaik yang pernah ia buat semasa kuliah dulu

Hyukjae meletakan undangan dari Ryeowook di sisi kiri rancangannya lalu bersedekap, ia masih tersenyum. “Setelah aku menjadi salah satu direktur di sini atau memiliki perusahaan sendiri, mungkin?”

Ryeowook berdecak. “Ayolah Hyukjae, jangan terlalu fokus dengan karir, pikirkan juga dengan siapa kau akan membagi hari tuamu nanti.”

Hyukjae pernah menjalin hubungan asmara dengan beberapa orang yang tentu saja kandas ditengah jalan, pernah mengalami yang namanya dikecewakan dan juga mengecewakan. Untuk saat ini, Hyukjae tidak akan pusing memikirkan tetek bengek percintaan yang seperti itu karena Hyukjae belum bertemu dengan seseorang yang benar-benar bisa membuat hatinya bergetar hebat sampai rasanya tak berdaya hanya karena mendambanya.

“Umurmu akan terus bertambah, Hyukjae. Kau akan semakin tua dan itu bisa mempengaruhi proses pencarian pasangan dalam hidupmu.”

Hyukjae putuskan untuk mengambil pensil mekanik dan kembali membangun konsentrasi pada rancangannya, ia terlihat mulai tidak senang dengan pembicaraan ini, tapi temannya ini sungguh tidak peka.

“Apa rencanamu akhir pekan ini, Hyukjae?”

“Aku berjanji akan membawa Jeno ke taman hiburan.”

“Astaga Hyukjae, akhir pekan mana yang tidak kau lewati bersama makhluk kecil yang lucu dan menggemaskan itu? Aku mengerti jika kedua orang tuanya adalah orang-orang super sibuk, tapi di rumah kakak iparmu itu pasti ada selusin pelayan yang bisa menjaga Jeno untuk satu hari saja kan?”

Benar.

“Jadi, bebaskan sejenak dirimu dari kewajiban yang kau ciptakan sendiri untuk merawat Jeno, dan mulailah menata masa depanmu sendiri.”

Menghabiskan waktunya dengan Jeno bukanlah kewajiban, Hyukjae senang melakukan hal itu karena ia benar-benar menyayangi keponakannya, bahkan Hyukjae bersedia menukar apapun yang ia miliki untuk membuat Jeno bahagia sekalipun hal itu adalah kehidupannya.

Hyukjae melirik Ryeowook dengan mata sinisnya. “Aku mengerti dan sangat berterima kasih atas perhatianmu padaku, Kim Ryeowook. Tapi tolong, untuk saat ini jangan ganggu aku dengan masalah itu. Aku pasti akan menikah suatu hari nanti, di waktu dan kesempatan yang tepat. Dan tentu saja dirimu yang akan pertama kali mendengar kabar baik itu langsung dariku.”

Ryeowook menghembuskan napas pasrah, ia menyerah karena sadar telah menyudutkan temannya. “Baiklah, aku minta maaf jika sudah keterlaluan. Tapi memgertilah Hyukjae, aku hanya frustasi saja karena bosan melihatmu tidak menjalin hubungan dengan seseorang.” Dalam beberapa kasus Ryeowook bahkan sempat curiga temannya ini mau menjadi pastur.

Hyukjae tiba-tiba kehilangan mood untuk membuat rancangan, padahal deadline dari pekerjaannya dua hari lagi. Hyukjae kemudian melirik jam di tangannya. “Aku akan menjemput Jeno dan kembali sesegera mungkin.”

Dan Ryeowook hanya bisa melambai pada temannya, menyuruh Hyukjae untuk segera keluar tanpa banyak kata sekalipun ia tahu bahwa waktu pulang Jeno masih satu jam lagi.

o0o

Setelah mengantarkan Jeno pulang ke rumah dan memastikan seorang pelayan menemani keponakannya, Hyukjae mendapatkan panggilan dari atasnnya yang mengatakan bahwa mereka harus segera mengadakan rapat untuk merombak beberapa rancangan. Hyukjae bergegas kembali ke kantor. Beberapa orang yang tergabung dalam tim yang sama dengan Hyukjae sudah berkumpul di ruangan atasannya dan terlihat sudah siap dengan segala sesuatunya.

Mereka kemudian melakukan perundingan, perhitungan dan penataan kembali pada desain, sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa matahari sudah lama tenggelam dan bintang-bintang mulai bermunculan di langit yang pekat.

Hyukjae sampai di rumah lebih dari jam sembilan malam, ia ingin segera naik ke atas, memeriksa keadaan Jeno, lalu mengurus dirinya sendiri.

“Tamchunie~”

Tapi Hyukjae urung menaiki tangga karena merasakan sepasang tangan kecil memerangkap kaki kanannya dari belakang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan keponakannya yang lucu. Hyukjae lalu berbalik, membungkuk dan mengangkat badan mungil Jeno dari kakinya. Mata keponakannya terlihat sudah tidak bisa dibuka lebar-lebar.

“Jeno-ah, kenapa belum tidur?”

Bocah itu memerangkap leher Hyukjae dan menyamankan kepalanya di pundak Hyukjae sambil memejamkan mata. “Tamchunie dari mana saja? Kenapa baru pulang? Tamchunie pergi dengan siapa saja? Kenapa Jeno tidak diajak?”

Hyukjae tertawa.

Lihatlah bocah menggemaskan ini, dia terlihat mengantuk tapi gayanya masih seperti kekasih galak nan possessive saja, bertanya ini dan itu sesuka hatinya.

Hyukjae mulai menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Jeno sambil menepuk ringan punggung kecil dalam gendongannya. “Ada pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan makanya Samchun pulang terlambat.”

“Padahal Jeno ingin bermain dan bercerita banyak dengan Tamchunie~”

“Kita bisa bermain dan bercerita besok. Untuk hari ini Samchun benar-benar minta maaf karena tidak bisa. Oke?”

“Andwae.”

Hyukjae masuk ke dalam kamar Jeno lalu membaringkan bocah itu di ranjang dan memasangkan selimut. “Samchun akan membelikan mainan baru untuk Jeno besok. Bagaimana, masih tidak mau memaafkan Samchun?”

“Robot bumble bee?”

“Boleh.”

“Jinjja? Dan Optimus Plime?”

Hyukjae tertawa. “Tidak masalah.” Aduh, kapan kira-kira Jeno bisa mengeja semua kata dengan benar? Hyukjae harap tidak secepatnya karena Hyukjae masih ingin merasakan perasaan gemas yang berlebih atas tingkah lucu keponakannya.

“Yaksokhae?”

“Ne. Tapi Jeno harus tidur, sekarang juga.”

Bocah itu tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi susunya yang rapi. “Tamchunie tidur bersama Jeno ya malam ini.”

Oh, baiklah, sekarang Hyukjae malah berharap bocah ini tidak akan pernah tumbuh dewasa supaya Hyukjae punya ribuan alasan untuk memanjakan makhluk polos yang akrab dengan kata mainan itu. “Baiklah, ayo tidur.”

Hyukjae berbaring menyamping dan meletakkan tangannya melintasi badan kecil Jeno.
Jeno langsung menutup matanya rapat-rapat sambil memeluk erat gulingnya. “Selamat malam Tamchunie~”

Hyukjae tersenyum sambil membelai rambut hitam Jeno yang diturunkan dari ayahnya. “Mimpi indah, sayang~”

Tak butuh waktu lama dan Jeno akhirnya jatuh ke alam mimpi karena anak ini sebenarnya sudah mengantuk sedari tadi tapi bertahan untuk menunggu Hyukjae pulang.

Sedikitnya Hyukjae merasa bersalah karena telah membuat keponakannya tersiksa dalam penantian. Tapi semua hal itu tidak cukup untuk membuat Hyukjae bertahan di atas ranjang Jeno.

Ketika Hyukjae mendengar dengkuran halus Jeno, ia perlahan bangkit dari ranjang lalu mengendap keluar kamar Jeno. Ia tidak akan bisa tidur dalam keadaan belum mandi setelah seharian beraktivitas, terlebih belum makan malam dan rancangannya belum selesai. Hyukjae masuk ke dalam kamarnya, melempar tas serta gulungan panjang berisi beberapa lembar rancangannya ke atas ranjang. “Baiklah, kita akan mulai dengan mandi malam.”

o0o

Setelah selesai dengan semangkuk nasi campur yang ia racik sendiri dari beberapa makanan yang tersimpan di dalam lemari pendingin, Hyukjae kembali ke atas menuju kamar, mengambil rancangan dan juga peralatan menggambarnya untuk dibawa ke ruang santai luas di lantai dua.

Hyukjae meletakan gulungan kartonnya di atas meja. Membukanya satu persatu dan menatanya hingga memenuhi meja. Ia memulai pengamatan sebelum akhirnya mengambil pensil mekanik dan memutuskan untuk menghapus serta menambahkan detail ke dalam rancangannya.

Saking fokusnya membuat rancangan, Hyukjae sampai tidak mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah, tepat di bawah balkon yang pintu aksesnya terbuka lebar didepan Hyukjae. Dan beberapa saat kemudian ia bahkan tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mendekat dan memperhatikannya dalam diam dari lorong, tapi hal itu tidak berlangsung lama karena orang tersebut memilih masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya tanpa keributan.

Lama kelamaan Hyukjae mengantuk dan akhirnya jatuh tertidur di atas rancangannya.

Ketika Hyukjae terbangun di waktu subuh, ia menemukan sebuah selimut asing membungkus tubuhnya yang terbaring di sofa panjang. Ia bertanya-tanya dalam hati sejak kapan benda itu dipakaikan padanya? Oleh siapa? Jeno tidak mungkin, kakak iparnya apa lagi, jadi Hyukjae menyimpulkan bahwa Sungmin yang memakaikan selimut untuknya dan mungkin juga yang menuntunnya berbaring di sofa tanpa disadari Hyukjae.

Hyukjae kemudian memperhatikan rancangannya yang masih berserakan di atas meja. Tinggal memberikan sentuhan akhir dan rancangannya akan sempurna.

Baiklah, itu bisa Hyukjae atur nanti. Sekarang ia perlu berkeliling untuk membakar lemak ditubuhnya yang tergolong minim.

Hyukjae merapikan beberapa kertas karton, menumpuk dan menggulungnya jadi satu, kemudian membawanya ke kamar bersama peralatan gambar dan selimut. Tak lama kemudian, Hyukjae keluar dari kamar dan sudah siap berlari mengelilingi distrik.

o0o

Ketika Hyukjae selesai dengan lari paginya, kakaknya kembali muncul di hadapan Hyukjae. Berdiri dengan anggun di tengah teras sambil tersenyum kepadanya, seolah mereka tidak pernah berdebat kemarin pagi.

Mulanya, Hyukjae ingin mengucapkan terima kasih karena telah memasangkan selimut kepadanya semalam, tapi niatan itu buyar saat menyadari penampilan Sungmin yang sudah rapi dan siap pergi ke rumah sakit.

“Selamat pagi, Hyukkie.”

Mungkin pagi ini akan berakhir sama seperti kemarin. Mereka akan bicara, berdebat dan Sungmin akan tetap pergi.

Hyukjae sudah muak dengan semua ini. Ia berjalan melintasi Sungmin tanpa mau repot membalas sapaannya. Hal itu sudah pasti menyakiti hati Sungmin, atau setidaknya membuat kakaknya jengkel karena Sungmin tidak pernah suka diabaikan.

“Berhenti, Lee Hyukjae!”

Tapi Hyukjae tidak mau berhenti, ia mendorong pintu masuk sambil berkata, “Kita akan bicara saat waktumu sudah luang, dokter Lee.” Dan Hyukjae pun menutup kembali pintu utama rumah tersebut, benar-benar tidak memberikan Sungmin kesempatan untuk memprotes.

Tak lama setelah itu, Hyukjae mendengar suara mesin mobil menderu kemudian bergerak menjauh. Apapun yang ia lakukan, kakaknya tidak akan mau repot meluangkan waktu untuknya ataupun suami dan anaknya. Hyukjae menarik napas dalam-dalam sebelum melepas jaket dan berjalan ke atas.

Saat melewati kamar Sungmin, Hyukjae terdiam sesaat. Bukan karena mendengar barang pecah belah dilempar tanpa perasaan ke lantai marmer, tapi karena melihat isi kamar kakaknya yang kosong dan hening, ranjangnya rapi seolah tidak ada yang tidur di sana semalam. Sungmin bukan tipikal wanita yang mau merapikan tempat tidurnya setelah dipakai, Hyukjae yakin akan hal itu, karena dirinya juga memiliki sifat yang sama. Sedangkan kakak iparnya? Oh Hyukjae tidak mengenal iparnya itu dengan baik, tapi ia cukup yakin iparnya tidak akan sudi melakukan hal-hal sacam itu.

Nah, jadi apakah hubungan kakaknya dengan sang suami mengalami kemajuan yang lebih menggerikan? Apa mereka benar-benar sudah tidak tidur satu ranjang?

Pintu kamar mandi dalam kamar Sungmin berderit, membuat Hyukjae melompat kaget dan segera berlari masuk ke kamar Jeno. Ia tidak mau dikatai penguntit atau sejenisnya. Hyukjae hanya penasaran karena ia manusia biasa. Supaya ia tidak terlihat seperti orang yang habis melakukan hal memalukan, Hyukjae memutuskan untuk segera membangunkan Jeno dan mempersiapkan keponakan untuk pergi ke sekolah.

Setelah dirinya dan Jeno rapi dengan seragam lengkap dan ransel berisi peralatan sekolah, Hyukjae mengajak keponakannya itu turun menuju meja makan.

Di sana, dirinya dikejutkan oleh kakak iparnya yang sedang duduk tenang di kursi paling ujung sambil membaca koran. Iya, itu adalah Lee Donghae, dan Hyukjae tidak sedang bermimpi melihat semua ini.

“Oh, abeoji!”

Mata Jeno berbinar ketika melihat ayahnya. Ia berlari dan langsung memanjat naik ke atas pangkuan lelaki yang sudah rapi dalam balutan pakaian formal minus jas.

Donghae menyingkirkan koran paginya lalu melepas kacamata baca yang ia gunakan dan tersenyum pada Jeno, tapi semua pesonanya menguar kemana-mana hingga menembus batas pertahanan Hyukjae, memikat iparnya itu ke dalam halusinasi tak berujung.

“Selamat pagi jagoan. Tidurmu nyenyak semalam?”

Jeno mengangguk antusias kepada ayahnya, terlihat benar-benar senang.

Puas dengan jawaban si kecil, Donghae berpindah menatap Hyukjae yang masih betah berdiri sambil melamun. “Selamat pagi, Hyukjae.”

Saat mata Donghae menemukan mata Hyukjae, saat itulah Hyukjae terbangun dari lamunan dan berhasil mengembalikan setidaknya seperempat dari isi pikirannya yang sempat melayang-layang di udara. “Selamat pagi, kakak ipar,” sapanya dengan gugup.

Kenapa Hyukjae? Apakah kau tidak pernah melihat lelaki tampan tersenyum? Dan lagi, itu bukan pertama kalinya kau melihat senyuman itu! Jadi tolong, kendalikan dirimu dengan baik.

Tapi, yah, memang benar jika Hyukjae sudah lama tidak melihat iparnya seperti itu. Hyukjae jadi penasaran, kira-kira apa yang menimpa iparnya itu pagi ini sehingga Hyukjae bisa melihat keadaan seperti ini?

Secara naluriah, Hyukjae bergerak mendekati meja makan, mengambil dua mangkuk kosong dan mengisinya dengan nasi. Itu sebenarnya untuk Jeno dan dirinya sendiri, tapi saat ia sadar Donghae sedang memperhatikan pergerakannya dan tidak ada satupun pelayan yang berdiri di samping Donghae untuk melayani sang majikan, Hyukjae akhirnya menyerahkan mangkuk nasinya kepada Donghae dan mengambil mangkuk kosong yang lain untuk ia pakai.

Bagaimana? Hyukjae sudah seperti seorang istri yang melayani suami dan anaknya saja.

Supaya tidak terjebak dalam keheningan yang mungkin akan membuatnya canggung, Hyukjae pun berceletuk. “Komisaris Lee sepertinya punya banyak waktu bersantai pagi ini.”

Ini aneh, sangat aneh—bukan keanehan dalam hati yang ia rasakan saat melihat senyuman Donghae, tapi ada angin apa tiba-tiba Lee Donghae mau meluangkan waktu untuk sarapan pagi bersama dirinya dan Jeno? Selama ini Donghae tidak pernah hadir di meja makan baik itu makan pagi ataupun makan malam, sama seperti Sungmin.

Donghae hanya tersenyum, terlihat benar-benar seperti layaknya konglomerat pimpinan utama perusahaan otomotif yang kehidupan rumah tangganya baik-baik saja. Hyukjae jadi meleleh dibuatnya, dan untuk sepersekian detik ia berpikir untuk menjatuhkan diri ke dalam rengkuhan lengan kekarnya Donghae. Itu pasti nyaman sekali. Tak peduli bahwa lelaki ini adalah suami dari kakaknya.

“Aku sudah lelah dan memutuskan untuk menyerah.”

Lamunan Hyukjae buyar, dahinya mengerut dalam tanda ia tidak mengerti. Tapi ketika mulutnya terbuka hendak mengeluarkan pertanyaan, Jeno menarik ujung lengan kemeja Hyukjae, memaksa pamannya yang manis untuk memusatkan perhatian kepada makhluk kecil yang menggemaskan itu. Jeno sudah duduk sendiri di tempat duduknya tepat di sebelah Donghae. “Tamchunie, Jeno lapal~”

Hyukjae tersenyum lalu duduk di samping Jeno dengan dua mangkuk nasi di depannya.

“Biar aku yang menyuapi Jeno.”

Hyukjae berkedip beberapa kali pada mangkuk nasi, kali ini tidak berani menatap Donghae secara langsung karena ia takut kewarasannya menghilang seperti beberapa saat yang lalu.

“Shilo, Jeno mau disuapi Tamchunie~”

Donghae tertawa. Kegembiraan yang diperdengarkan bahkan sampai ke dalam hati Hyukjae, tapi ada hal lain yang ikut masuk ke dalamnya, itu adalah kesedihan mendalam, perpaduan antara kepedihan, penyesalan dan kekecewaan. Bukan karena penolakan Jeno, lebih merujuk kepada kehidupan yang ia jalani.

Hyukjae melirik ke samping dan menemukan Donghae mengusak rambut Jeno yang sudah rapi sambil tersenyum tipis.

“Cepatlah besar supaya kau bisa makan sendiri dan tidak merepotkan Samchun.”

Pipi Jeno menggembung lucu. Ia menunduk sambil berusaha keras merapikan rambutnya, hanya saja itu sia-sia karena Jeno tidak tahu rambut bagian mana yang berantakan. “Shiloyo~”

Kali ini Hyukjae yang tersenyum, lalu membantu merapikan rambut si kecil yang lucu itu. “Biarkan saja, kakak ipar, Jeno akan memahami semua itu seiring berjalannya waktu.”

Selama hal itu tidak kelewat batas, Donghae akan membiarkan Hyukjae memanjakan Jeno.

Akhirnya, Donghae menangkupkan kedua tangan dan mulai memimpin doa sebelum mereka bergelut dengan alat makan dan beberapa macam makanan menu sarapan mereka.

o0o

“Pastikan semua rancangan selesai besok supaya Presdir bisa segera menentukan rancangan siapa yang akan diikut sertakan ke dalam tender.”

Lima orang yang duduk mengelilingi meja manajer menundukkan kepala tanda mengerti dan patuh, salah satu dari mereka adalah Hyukjae.

“Kalian boleh keluar sekarang.”

Mereka berdiri dan berjalan keluar ruangan secara bergantian. Setelah berada di luar, Hyukjae bergegas meletakkan beberapa gulungan kertas kartonnya di atas meja dan segera berlari keluar gedung, mengabaikan semua mata yang menatapnya tanpa rasa terkejut karena hal itu merupakan kelakuan Hyukjae jika dirinya punya urusan yang memakan banyak waktu hingga lewat dari jadwalnya menjemput Jeno.

Ketika Hyukjae sampai di halaman sekolah Jeno dan tidak menemukan keponakannya di sudut taman manapun, wali kelas Jeno datang menghampiri. “Anda tidak perlu cemas, karena Jeno sudah pulang bersama tuan Lee.”

“Anda yakin itu kakak iparku dan bukan seorang penculik?”

Wanita tersebut tersenyum manis dan penuh pengertian. “Jika orang itu adalah penculik, maka Jeno tidak akan memanggilnya abeoji dengan raut wajah bahagia kan?”

Benar sekali.

Tanpa sadar Hyukjae menghembuskan napas lega. “Baiklah, saya permisi, dan terima kasih banyak.”

“Sama-sama.”

Hyukjae berbalik dan berjalan kembali menuju kantornya. Deretan pertanyaan mengenai keanehan yang terjadi kepada kakak iparnya itu muncul lagi dalam pikiran Hyukjae, menjebaknya dalam keingintahuan. Tak tahan, Hyukjae merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan berniat untuk menghubungi Donghae.

Tapi bagaimana caranya?

Hyukjae itu tidak punya nomor ponsel kakak iparnya. Selama ini mereka tidak terlalu akrab dan hanya berkomunikasi seperlunya saja saat kebetulan bertemu, padahal mereka tinggal dalam satu atap yang sama selama lebih dari enam tahun.

Tepat saat Hyukjae mencoba mencari nomor telepon rumah iparnya, ponselnya bergetar, tim leadernya menghubungi, dan Hyukjae tidak punya alasan yang cukup kuat lagi untuk memusingkan Jeno yang saat ini mungkin sedang bersenang-senang dengan Donghae.

o0o

Sekitar pukul enam petang, Hyukjae sampai di rumah. Saat ia menaiki tangga, Ia langsung disambut oleh seorang pelayan yang menuruni tangga dengan wajah cemas.

“Oh syukurlah anda sudah pulang. Tuan muda Jeno muntah-muntah dan mengeluh sakit perut.”

Hyukjae memicingkan mata, tapi ia tidak berpikir bahwa apa yang ia dengar adalah lelucon. Para pelayan tidak akan berani membuat lelucon seperti itu dengannya.

“Sudah berapa lama dia kesakitan?”

“Sekitar satu jam yang lalu setelah saya memandikannya.”

“Oh astaga, selama itu dan tidak ada yang mengambil tindakan?”

Pelayan itu diam, tak bisa mengatakan apa-apa karena merasa bersalah.

“Kalian sudah menghubungi ayah dan ibunya?”

“Saya baru akan menghubungi mereka.”

“Baiklah, coba hubungi kakak ipar, biar aku yang menghubungi kakak.”

Pelayan tersebut turun dan setengah berlari menuju meja telepon. Sedangkan Hyukjae menaiki anak tangga dengan langkah terburu-buru dan langsung melesat menuju kamar Jeno.

Di dalam sana, Hyukjae menemukan keponakannya meringkuk kesakitan di atas tempat tidur. Hyukjae langsung melempar tasnya ke sembarang tempat untuk menghampiri Jeno. “Jeno sayang, kau kenapa?”

“Tamchunie, sakit~” Jeno merintih sambil memegangi perutnya.

“Oh astaga.” Hyukjae mengambil ponselnya di saku celana lalu menghubungi Sungmin, tapi kakaknya itu tidak menjawab.

Hyukjae mematikan sambungan, lalu mencoba menghubungi Sungmin lagi. Berkali-kali seperti itu. Tapi Sungmin tidak juga menjawab.

Hyukjae jengkel. Ia memaki Sungmin dalam hati dan hampir melempar ponselnya karena kesal. Apakah kakaknya itu sama sekali tidak merasakan rasa sakit Jeno saat ini?

“Tamchunie, sakit…”

Apa yang harus Hyukjae lakukan sekarang?

“Apa saja yang kau makan tadi, Jeno?”

Jeno tidak menjawab, hanya merintih dan hal tersebut membuat Hyukjae pusing.

Ditengah kegelisahan tersebut, Donghae memasuki kamar, berjalan tergesa menghampiri tempat tidur.
“Apa yang terjadi pada Jeno?”

Hyukjae menoleh dan menggeleng. “Dia hanya merintih kesakitan. Aku sudah menghubungi kakak tapi dia tidak menjawab.”

Donghae memejamkan mata, terlihat sekali jika ia mati-matian menahan amarah. Detik berikutnya, ia mengambil ponsel dari balik jasnya dan menghubungi seseorang. “Dokter Kim, bisakah anda ke rumah?”

Meminta dokter lain untuk datang ke rumah? Apakah itu benar? Sedikitnya Hyukjae merasa tersinggung dengan perbuatan iparnya itu, tapi… jika ia bersikeras menunggu Sungmin, entah apa yang akan terjadi kepada Jeno, membawa keponakannya ke rumah sakit juga bukan pilihan tercepat saat ini.

Hyukjae harap semua yang dilakukan Donghae sudah tepat.

T.B.C

Seems like i can’t move on from this genre, just it. Ok, lemme know what do you think about this?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s