ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 2]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast & Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre & Rating: Full of Family (semi incest) and Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Dokter Kim menyatakan Jeno keracunan makanan. Diduga, kimbab berisi daging salmon mentah adalah pemicu utamanya. Kata pelayan yang menemani Jeno sepanjang siang sampai sore, bocah itu menghabiskan sepiring penuh makanan tersebut setelah bermain.

Untungnya, setelah meminum obat yang diresepkan oleh dokter Kim, Jeno tertidur dalam pangkuan Hyukjae. Wajahnya masih memperlihatkan rasa tidak nyaman karena perutnya yang terganggu, tapi bocah itu sudah berhenti merintih sejak Donghae pergi untuk mengurus pelayan yang telah membuat makanan untuk anaknya.

Di tengah keheningan kamar Jeno, Sungmin menghubungi Hyukjae, sang adik segera meraih ponselnya yang bergetar keras di atas nakas.

“Halo?” sapa Hyukjae dengan suara pelan tapi jelas, tidak mau membangunkan Jeno.

“Aku tidak bisa pulang. Aku mendapat jadwal jaga malam ini. Jadi, katakanlah kenapa kau tadi menghubungiku.”

Hyukjae memejamkan matanya, meredam seluruh amarah yang mulai membakar kesabarannya. “Jeno sakit.”

Tidak ada jeda.

“Dilihat dari suaramu, sepertinya sakitnya tidak terlalu serius.”

Tangannya yang lain ia gunakan untuk membelai rambut Jeno, sekedar untuk mengingatkan diri sendiri bahwa amarah tidak boleh mengalahkannya, Jeno bisa terbangun jika ia berteriak. “Kakak ipar telah menghubungi dokter Kim untuk memeriksa keadaan Jeno.”

“Baguslah kalau begitu.”

Hanya seperti itu? Apa Sungmin tidak cemas ataupun ingin tahu penyakit apa dan bagaimana keadaan sang anak sekarang?

“Kau benar-benar tidak akan pulang, noona?”

“Aku yakin sekali dokter Kim sudah menangani Jeno dengan baik, jika itu yang kau maksud dengan memintaku pulang.”

Hyukjae sudah tidak tahan lagi. “Demi Tuhan. Dia anakmu, Lee Sungmin! Tidakkah sedikitnya kau ingin melihat bagaimana keadaannya sekarang?”

Jeno mengeliat gelisah, dan Hyukjae mengutuk situasi yang ia hadapi. Tangannya menepuk ringan badan Jeno supaya keponakannya kembali terlelap dalam ketenangan.

“Baiklah, aku akan mengubah panggilan ini ke mode video call jika kau mau aku melihatnya.”

Keparat! Bukan itu yang dimaksud oleh Hyukjae!

Astaga.

Bagaimana mungkin kakaknya bersikap seperti ini?

“Kau tidak perlu melakukan itu, kau juga tidak perlu pulang, dokter Lee. Selamat malam.”

Hyukjae memutus sambungan, lalu menenangkan hatinya yang diselimuti amarah. Apakah kakaknya itu benar seorang manusia? Seorang ibu? Jika iya, mengapa sikapnya kepada Jeno benar-benar tidak mencerminkan hal itu?

“Kakakmu adalah seorang wanita yang melahirkan bayi laki-laki.”

Hyukjae mengangkat kepalanya, mengikuti pergerakan Donghae memasuki kamar hingga berakhir di sisi lain tempat tidur Jeno, cukup jauh darinya. Iparnya ini pasti sudah berdiri lama di ambang pintu dan mendengarkan semua ucapannya.

“Tidak lebih dari pada itu.”

Dahi Hyukjae mengerut dalam. “Apa maksudnya?” Tentu saja ia tidak bisa menerima lelaki di depannya ini minilai kakaknya sejelek itu sekalipun Sungmin memang telah melakukan kesalahan dengan mengabaikan Jeno.

“Karena dia belum siap menjadi seorang ibu, aku yang terlalu memaksakan diri kepadanya.”

‘Oh! Jadi lelaki ini memperkosa Sungmin?’

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Hyukjae. Kumohon jangan salah paham.”

Ah, ya, tentu saja. Mereka memutuskan menikah atas dasar suka sama suka, jadi saat mereka melakukannya pastilah bukan karena paksaan salah satu pihak. Hyukjae jadi merasa malu karena sang ipar bisa menebak dengan jelas apa isi pikirannya.

“Saat dokter menyatakan bahwa kakakmu hamil, saat itu pula kakakmu mengatakan padaku bahwa dia belum siap menjadi seorang ibu, tapi aku terus membujuknya, meyakinkannya bahwa dia tidak perlu persiapan apapun untuk menjadi seorang ibu.”

Yang Hyukjae ingat, saat Sungmin mengandung, kakaknya itu terlihat biasa saja, tidak menunjukan keengganan untuk memiliki seorang anak.

“Hingga akhirnya Sungmin melahirkan Jeno. Awalnya, dia mencoba menerima semuanya, tapi Ia menyerah ketika Jeno hampir berusia enam bulan.”

Hyukjae tidak bisa mempercayai hal itu, lalu mulai menganggap penjelasan Donghae sebagai sebuah omong kosong untuk membela diri sendiri dari situasi rumah tangganya yang berantakan. “Kau tahu dan memahami situasi kakakku saat itu, lantas kenapa kau juga ikut mengabaikan Jeno?”

“Saat itu aku berpikir bahwa dengan mengabaikan Jeno, aku bisa menarik perhatian Sungmin untuk anak kami dan perlahan membuatnya bisa menerima Jeno. Tapi—”

Donghae salah dan dia gagal.

“—seperti yang kau lihat, inilah hasil dari kesimpulanku yang salah waktu itu.”

Semuanya hancur berantakan.

“Apakah perlu waktu selama ini untukmu menyadari bahwa pendekatan yang kau ambil tidak berhasil? Demi Tuhan, ini sudah enam tahun dan kau baru menyadari semua itu?”

Donghae mengalihkan pandangan, menuju jendela, dan membiarkan angannya melayang entah kemana. Ia enggan bercerita untuk hal yang satu ini—atau tidak bisa bercerita kepada iparnya? “Katakanlah, demikian, Hyukjae.”

Hyukjae pikir Sungmin adalah satu-satunya orang yang tidak waras, tapi ternyata ada yang lebih tidak waras lagi di rumah ini.

Hyukjae kemudian menarik napas, membelai rambut Jeno yang mulai tertidur pulas. Sekarang, dirinya jadi penasaran tentang hubungan antara kakaknya dan lelaki di depannya ini. “Apa kau masih mencintai kakakku?” Hyukjae benar-benar ingin tahu, sampai-sampai ia menatap lekat-lekat wajah Donghae, siap menilai apapun yang terpancar di sana, tapi Donghae menoleh dan memberikan jawaban yang membuat Hyukjae merasa jadi orang tidak waras nomor tiga di rumah tersebut.

“Menurutmu bagaimana, Hyukjae? Melihat keadaanku, kau seharusnya bisa membuat kesimpulan sendiri tentang hal itu.”

Tidak ada kebencian tapi juga tidak ada rasa cinta di mata itu. Lelaki itu tidak membiarkan apapun terlihat di wajahnya yang tampan. Benar-benar pengendalian diri yang luar biasa. Bagaimana cara Donghae melakukan semua itu?

Rasanya Hyukjae ingin berteriak dan mengumpati Donghae dengan seluruh isi kebun binatang—andaikan ia tidak ingat bahwa Jeno tidur dalam dekapannya.

Donghae, lelaki tampan itu tersenyum geli, seolah senang telah membuat Hyukjae jatuh ke dalam rasa penasaran yang dalam. “Sepertinya Jeno sudah cukup pulas, kau bisa membaringkannya saja.”

Dalam sekejap Hyukjae bisa melupakan rasa kesalnya. Ia menunduk lalu menggeleng, memunculkan kerutan dalam di dahi sang ipar.

“Apa kau tidak pegal?”

“Jeno baru pulas, dia akan segera bangun jika aku membaringkannya di ranjang.”

“Tapi kau belum makan malam, terlihat butuh mandi dan ganti pakaian.”

Itu semua tidak penting jika disandingkan dengan Jeno yang sakit. Tapi, iya, Hyukjae memang butuh ke kamar mandi.

“Apa kau mau menggantikanku?”

“Berikan Jeno padaku,” kata Donghae sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.

Oh tidak, jangan senyuman itu lagi.

Hyukjae buru-buru memalingkan wajah, tak mau lagi isi pikirannya tidak genap karena melayang entah ke mana.

“Jangan sampai dia bangun.”

Donghae hanya menggumam, meyakinkan.

Tanpa menatap wajah Donghae, Hyukjae bergerak maju. bocah lucu itupun berpindah ke dalam pangkuan Donghae dengan gerakan yang lembut tapi cekatan.

Dari jarak sedekat itu, Donghae bisa mencium aroma Hyukjae, bahkan setelah seharian beraktivitas aromanya tetap menyenangkan.

Hanya sesaat.

Sesaat dan semua itu membuat Donghae rasanya sulit untuk berpikir logis. Hal ini bukan yang pertama kali tentunya karena sebelum-sebelumnya, Donghae juga sudah pernah mencium aroma tubuh Hyukjae.

“Aku tidak akan lama.”

Donghae mengangguk.

Tak lama setelah Hyukjae meninggalkan kamar Jeno, bocah itu mengeliat dalam dekapan Donghae, kepalanya bergerak-gerak lucu seolah sedang memastikan sesuatu. Sang ayah dengan sedikit kepanikan mencoba menenangkan anaknya dengan tepukan-tepukan ringan.

Tamchunie~”

Oh bagus, sepertinya bocah ini sudah tahu kalau pamannya telah pergi.

Lalu, Jeno terbangun, matanya yang sayu terbuka, dan ia menghadap ke atas sambil berkedip-kedip. “Abeoji, di mana Tamchunie?”

Apa yang akan terjadi saat Hyukjae tahu Jeno terbangun? Semoga bukan bencana.

Samchun masih mandi, dia akan segera kembali. Jeno tidur saja lagi, oke?”

Shilo~”

Waeyo?”

“Tidak nyaman…”

“Bagaimana bisa?” Badannya besar dan berotot, siapapun pasti akan nyaman berada dalam rengkuhannya.

“Bau abeoji tidak enak.”

Itu perkataan yang artinya sudah sangat jelas, tapi mengapa Donghae butuh waktu lama untuk memahaminya?

“Benarkah?”

Jeno berkedip lemah beberapa kali, sangat lucu, menyuarakan persetujuannya yang menyentil hati Donghae tapi juga membuatnya ingin tertawa bahagia. Sepertinya, bukan Hyukjae yang butuh mandi, tapi dirinya.

o0o

“Sudahlah jangan menangis,” kata Hyukjae pada orang yang ia ajak bicara lewat telepon. Ponselnya ia apit dengan pipi dan pundak, karena tangannya sibuk memegang mangkuk berisi bubur untuk disuapkan kepada Jeno.

“Bagaimana mungkin aku tidak menangis? bayangkan, rancangan kita bahkan disisihkan sebelum masuk ruang presentasi.”

Hyukjae menghembuskan napas, Ia sedih dan kecewa karena hasil kerja kerasnya bersama teman-teman satu timnya tidak bernilai sedikitpun, tapi Hyukjae juga tidak bisa melakukan apapun karena ia tidak bisa berlari ke kantor untuk memperjuangkan hasil kerja kerasnya. Ia mencoba melapangkan dadanya sendiri. “Artinya rancangan kita memang tidak layak mengikuti tender itu.”

“Demi Tuhan! Kita sudah bekerja keras sekali. Aku yakin itu adalah rancangan terbaik sepanjang sejarah perusahaan ini, bahkan manajer mengakui hal itu.”

“Sudah cukup, hentikan, Kim Ryeowook.”

“Rasanya aku ingin meledakan perusahaan.”

Itu mungkin akan terjadi seandainya Hyukjae kehilangan setengah kewarasannya karena terprovokasi oleh temannya yang cerewet bukan buatan ini.

“Apakah itu artinya kau sudah memiliki pandangan di mana akan menempatkanku setelah perusahaan tersebut hancur?”

“Saat perusahaan hancur, bukankah kita akan mendapatkan proyek besar untuk membangun kembali perusahaan? Kita akan mendapat untung besar dari hal itu. Jadi, kau tidak perlu cemas.”

“Dasar sinting.”

“Ini semua gara-gara kau yang tidak masuk hari ini! Semua jadi kacau!”

Hyukjae sudah menduga akhirnya akan jadi seperti ini. Kegagalan mereka pasti akan dikaitkan dengan ketidak hadirannya. Tidak hanya Ryeowook, seluruh timnya pasti akan melakukan hal yang sama besok.

Hyukjae tidak bersalah dalam hal ini. Keponakannya sakit dan tidak ada yang menemani. Meninggalkan Jeno dengan para pelayan bukan termasuk ide bagus bagi Hyukjae karena ia merasa tidak yakin.

Donghae?

Hyukjae merasa telah melakukan kesalahan dengan berpikir bahwa iparnya sudah lebih peduli kepada Jeno ketimbang pekerjaannya. Kenyataannya, pagi tadi sekitar jam enam, Donghae terlihat sudah rapi dan ingin cepat-cepat pergi dari rumah untuk mengurusi bisnisnya. Meskipun Donghae menyempatkan diri mendatangi kamar Jeno, memeriksa keadaan anaknya dan berjanji kepada Jeno akan pulang setelah semua urusannya selesai, semua itu tidak cukup bagi Hyukjae.

Pukul berapa yang dimaksud lelaki itu dengan pulang cepat? Jam lima sore? jam enam?

Hyukjae tetap jengkel terhadap kelakuan Donghae. Terlebih Sungmin. Di mana kakaknya itu sekarang?

Hyukjae meletakan sendok ke dalam mangkuk, lalu menggunakan tangan kanannya untuk memegangi ponsel.

“Ya! Aku tidak terima kau mengatakan hal itu! Jelas-jelas rancangan kita disingkirkan sebelum presentasi di mulai. Jadi, ini semua tidak ada hubungannya dengan ketidak hadiranku!”

Tamchunie~”

Oh, bagus sekali. Ryeowook berhasil memancing amarahnya di depan Jeno.

“Urusi saja keponakanmu itu! Kau tidak perlu peduli kepada karirmu.”

Sambungan itupun terputus secara sepihak.

“Ya! Kim Ryeowook jangan menutup teleponnya!”

Oh ini keterlaluan!

Hyukjae meremas ponselnya sambil memejamkan mata, berusaha keras untuk tidak mengumpat karena ia yakin Jeno sedang memperhatikan.

Tamchunie, gwaenchanayo?”

Hyukjae menarik napas dan mencoba untuk mengekang amarahnya yang seperti kuda liar. Jeno tidak harus melihat kemarahannya yang tidak terpuji, dan seharusnya Hyukjae juga tidak tersulut emosi hanya karena perkataan Ryeowook. Kemudian, Hyukjae memaksakan sebuah senyum. “Gwaenchana.”

Bocah itu bergeser ke pangkuan Hyukjae dengan perlahan sekali karena sesungguhnya Jeno masih lemah. “Jeongmal?”

Ne.”

“Jeno menyayangi Tamchunie~” kata bocah itu sambil memeluk pamannya yang manis.

Lihatlah bagaimana api amarah surut secara ajaib dari mata Hyukjae, hanya karena pernyataan singkat dan polos keponakannya yang begitu menggemaskan. Hyukjae jadi bertanya-tanya. Saat bocah ini dewasa, apakah dia akan menjadi perayu ulung? Siapa sebenarnya yang menurunkan sifat itu kepada Jeno? Kakaknya atau kakak iparnya?

Samchun juga menyayangi Jeno.” Hyukjae menciumi puncak kepala Jeno, ia tidak menyesal telah membolos. Baginya kehilangan kesempatan mengikuti tender sebanding dengan kembalinya kesehatan Jeno.

Hyukjae memisahkan diri dari Jeno, menyandarkan bocah itu lagi pada tumpukan bantal. “Baiklah keponakan Samchun tersayang, habiskan buburnya dan Samchun akan mengajak Jeno ke bawah. Jeno pasti bosan di kamar saja kan?”

Bocah itu mengangguk, dan menerima suapan dari Hyukjae.

Pintu ruangan kemudian terbuka. Hyukjae dan Jeno menoleh bersamaan, mendapati Sungmin di ambang pintu. Pakaiannya santai dan rambutnya masih setengah basah karena baru selesai mandi.

Kakaknya pulang, tapi tidak memilih untuk melihat keadaan putranya terlebih dahulu, meskipun tahu bahwa Jeno sakit.

Eomeoni…”

Sungmin tersenyum, lemah dan terlihat sekali jika dia enggan memberikannya. Ia tetap berdiri di tempatnya, tak mau beranjak barang sesenti saja. “Bagaimana perutmu, Jeno? Apa masih sakit?”

Bocah itu menggeleng dan terlihat ingin sekali melompat untuk memeluk ibunya, tapi ia tidak punya daya.

“Bagus, setelah sarapan, kau harus meminum obat supaya besok bisa benar-benar pulih dan bisa masuk sekolah lagi, mengerti?”

Jeno mengangguk, dan bocah itu terlihat sedih saat Sungmin mundur dan menutup pintu kamar dari luar. Tapi ia terlihat lebih tegar daripada orang dewasa yang tengah patah hati. Seolah Jeno sudah terbiasa dengan apa yang telah terjadi. Jeno terbiasa tanpa kedua orang tuanya.

Sungmin sudah menghilang di balik pintu kamar bahkan sebelum Hyukjae selesai memproses kejadian di depan matanya. Hyukjae menganga kaget, tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat meskipun semua itu nyata, benar-benar terjadi.

Kakaknya benar-benar tidak menginginkan Jeno. Haruskah sekarang Hyukjae percaya kepada semua cerita Donghae?

Hyukjae mengepalkan tangannya kuat-kuat selesai merenungkan kelakuan kakaknya pada Jeno yang memuakan. Saat ingin berdiri untuk mengejar Sungmin dan membuat perhitungan, Jeno menggoyangkan lengannya, menahan pamannya supaya tetap berada di dekatnya.

Tamchunie~ Jeno mau minum~”

Hyukjae memusatkan perhatian kepada keponakannya sambil tersenyum miris. Hyukjae bahkan bisa merasakan keinginan keponakannya untuk disayangi oleh sang ibu, bagaimana mungkin Sungmin bahkan tidak ingin mendekat?

Kemudian Hyukjae meletakan telapak tangannya di kepala Jeno, membelainya dengan penuh kasih sayang. “Dua suapan lagi dan Jeno baru boleh minum. Ayo buka mulutnya.”

Bocah itu cemberut, lucu, dan akhirnya membuka mulut untuk memasukan suapan Hyukjae

“Anak pintar.”

o0o

Jeno sudah tertidur pulas, bahkan makhluk lucu itu mendengkur, benar-benar mendengkur kencang seperti orang dewasa. Hyukjae sampai harus menahan tawanya supaya tidak membangunkan Jeno. Keponakannya itu sudah tidak mengeluh sakit dan badannya juga sudah lebih segar dari pada tadi pagi. Mungkin besok keponakannya benar-benar bisa kembali bersekolah.

Hyukjae meninggalkan kamar Jeno sekitar pukul sebelas malam untuk menuju balkon. Ia ingin menghirup udara malam yang segar sebelum masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia menyandarkan diri pada selasar, menikmati angin yang menyapa ramah kulitnya. Tiba-tiba Hyukjae teringat pada kabar ketidak-berhasilan hasil kerja kerasnya bersama teman-teman. Wajahnya jadi murung, dan bertambah parah saat ia teringat pada sikap Sungmin kepada Jeno.

Setelah meninggalkan kamar Jeno, kakaknya itu beristirahat sampai pukul tiga sore lalu kembali lagi ke rumah sakit karena mendapat panggilan darurat, tanpa berpamitan kepada siapapun. Hyukjae benar-benar tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kakaknya itu, terlebih, sampai kapan situasi ini akan berlangsung.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Hyukjae mendongak dan wajah Donghae yang cemas segera menyambutnya.

Nah, dari mana saja lelaki ini? Bukankah dia berjanji akan pulang lebih awal kepada Jeno?

Tapi kenapa Hyukjae yang terlihat jengkel dengan hal itu? Donghae tidak berjanji pulang cepat kepadanya kan?

“Seharusnya kau tidur, karena ini sudah cukup larut.”

“Kakak ipar sendiri kenapa belum tidur?”

Donghae berjalan mendekati selasar lalu mendongak untuk melihat bintang-bintang. “Masih terlalu awal untuk tidur.”

Jadi, apakah lelaki ini terbiasa terjaga sepanjang malam dan baru tidur sekitar fajar?

“Apa kau menderita insomnia?”

“Apa kau ingin tahu, Hyukjae?”

Hyukjae diam karena mendadak jengkel. Mengapa ia tidak mendapat jawaban yang diinginkan jika bertanya kepada iparnya?

Mengerti apa yang dirasakan iparnya, Donghae menghadapkan diri kepada Hyukjae. “Ikutlah denganku Hyukjae, kebetulan aku membutuhkan bantuanmu.”

Tanpa menunggu persetujuan Hyukjae, Donghae masuk ke dalam ruangan, tidak berniat menoleh ke belakang karena ia tahu Hyukjae akan mengikutinya, iparnya tidak akan menolak.

Hyukjae berdiri dan menyusul langkah Donghae, belum benar-benar percaya bahwa iparnya ini sudi untuk meminta bantuan padanya. “Masalah apa itu?”

“Kau akan tahu nanti.”

Sekarang, apakah iparnya ini ingin minta dibuatkan design untuk kantor baru? atau mengubah interior rumah? Setelah kabar kegagalannya di kantor, Hyukjae jadi tidak bersemangat dengan semua hal yang ada hubungan dengan profesinya.

Mereka melewati lorong, menuruni tangga dan keluar melewati pintu kaca yang terpasang di ruang pagi.

Hyukjae mengikuti di belakang punggung Donghae, tanpa protes bahkan saat iparnya itu membawanya ke belakang rumah, melintasi kebun yang panjang dan terawat hingga berakhir di depan sebuah gudang yang juga terawat.

Hyukjae mengerutkan kening, ia mulai merasa senang. Sudah lama ia penasaran dengan bangunan tersebut karena ia yakin isinya bukan barang-barang lama yang usang dan terlupakan.

Saat hari libur, Donghae sering menghabiskan waktunya di dalam sana. Seringkali dari pagi sampai malam, tanpa ditemani satupun orang. Mungkinkah bangunan ini merupakan tempat ritual atau semacamnya?

“Maaf, tempat kerjaku sedikit berantakan,” kata Donghae sambil membuka pintu alternatif yang ada di sisi lain bangunan, ukurannya tiga kali lebih kecil dari pintu ganda utama di bagian depan.

Hyukjae hanya tersenyum sebelum melangkah masuk. Hal pertama yang menyambut Hyukjae adalah dua deret rak yang berhadapan, membentuk lorong pendek, berisi berbagai macam kunci dan komponen mobil yang ukurannya kecil. Semuanya tertata rapi.

Setelah mereka benar-benar berada di dalam, Hyukjae akhirnya berjumpa dengan beberapa kerangka mobil yang dijajar di tengah ruangan, ada yang masih dalam proses perakitan ada pula yang sudah menjadi kerangka utuh. Beberapa kabel dari peralatan uji coba terjuntai ke bawah, bahkan masih ada yang terpasang pada kerangka.

Rupanya tempat ini adalah tempat perakitan sederhana milik iparnya.

Hal itu menepis jauh-jauh bayangan lilin, bunga tujuh rupa, darah kambing, lantai bergambar bintang dan hal-hal lain untuk pemujaan yang sempat mengganggu ketenangan jiwa Hyukjae.

“Kakak ipar sendiri yang membuat semua ini?” tanya Hyukjae sambil menunjuk semua kerangka.

“Apa kau pernah melihat seseorang datang ke sini?”

“Selama ini, aku pikir yang menciptakan seluruh produkmu adalah para karyawan. Kau tinggal memberikan perintah ini dan itu sambil menghisap pipa rokok,” kata Hyukjae sambil berjalan mengelilingi sebuah kerangka utuh yang paling rendah, kerangka tersebut bahkan sudah dipasangkan roda dan jok di bagian pengemudi.

Donghae tersenyum tipis, lalu meninggalkan Hyukjae untuk naik ke tempat yang lebih tinggi, semacam geledak kapal pesiar yang diatur sedemikian rupa menjadi sebuah mini bar yang nyaman, di dekat selasar ada sepasang sofa lengkap dengan sebuah meja rendah, siapapun yang duduk di sana bisa langsung melihat seluruh isi gudang dengan mudah.

“Aku memang lebih suka dilihat dengan cara seperti itu,” kata Donghae sambil menyalakan sebuah laptop di atas meja.

Sambil menunggu proses booting, Donghae berjalan mendekati selasar. Dari sana ia bisa melihat Hyukjae yang sedang menahan diri dari sesuatu tapi tidak berhasil.

“Apa aku boleh mencobanya?”

Salah satu sudut bibir Donghae terangkat, sesungguhnya ia sudah memprediksikan hal ini akan terjadi. “Jika kau mau.”

Hyukjae mendongak ke atas, mempertemukan tatapan mereka. “Benar-benar boleh?” tanyanya dengan mata berbinar.

Betapa menyenangkannya melihat hal itu. Donghae pun mengangguk sambil tersenyum.

Hyukjae langsung melompat naik ke atas jok pengemudi dan menekan tombol starter tanpa ba-bi-bu.

Kerangka tersebut menyala, bunyinya kencang karena mesinnya terbuka, tapi hal itu tidak berisik, getarannya lembut sekali, dan yang paling penting kendaraan tersebut ramah lingkungan karena Hyukjae tidak melihat ataupun mencium emisi dari bahan bakar kerangka tersebut.

Daebak!” Ia menoleh lagi ke atas. “Ini sepuluh kali lebih baik dari pada Civic lama kakak yang sekarang kupakai.”

“Bahkan lebih halus dari mercedes yang dipakai Sungmin saat ini.”

Hyukjae setuju.

“Boleh aku menjalankannya?”

Oh Hyukjae, mengapa kau meminta jantung saat Donghae sudah memberimu hati?

“Asal kau mau membereskan semua kekacauan pada beberapa barang yang mungkin menjadi korbanmu, aku tidak ada masalah dengan yang lainnya.”

Hyukjae tersenyum lebar sekali, tentu saja ia tidak mau membuat kekacauan terlebih membereskannya sendiri, itu konyol sekali. “Aku penasaran seperti apa performanya saat berada di jalanan.”

“Lebih baik dari pada ferarri.”

“Benarkah?” Hyukjae mematikan mesin lalu turun, tapi ia tidak beranjak dari kerangka tersebut, memutarinya seolah meyakinkan pada diri sendiri bahwa benda tersebut benar-benar bisa menyala. “Tidakkah itu sedikit berlebihan dan sombong?”

“Mereka memang menawarkan segudang fitur yang mengagumkan, tapi sesungguhnya Performa mereka tidak sebanding dengan harga yang ditetapkan.”

Hyukjae mengerucutkan bibir. “Ini bahkan masih kerangka, bagaimana mungkin kau bisa membandingkannya dengan merk terkenal yang sudah menjual ratusan unit itu? Bukan berarti Aku mengatakan bakal kendaraan milikmu ini tidak bagus, tolong jangan salah paham.”

Dan Hyukjae juga tidak sedang meremehkan mobil yang diciptakan Donghae. Selama ini, produk milik perusahaan Donghae selalu menjadi produk dengan penjualan nomor satu di Korea dan negara-negara tetangga, terutama untuk model SUV dan mobil gunung.

“Pagi ini kami telah melakukan uji coba yang terakhir, untuk mengetahui sejauh mana ketahanan rangka luarnya terhadap serangan misil.”

Hyukjae menganga. “Misil? Kau serius?”

Donghae hanya mengangguk, serius.

Sebenarnya pangsa pasar mana yang ingin Donghae jarah dengan menciptakan mobil seperti ini? Timur tengah, Amerika atau Rusia?

Seperti inikah kegilaan yang muncul karena kakaknya tidak memberikan perhatian lebih kepada suaminya?

“Lalu hasilnya?”

“Tentu saja memuaskan untuk semua pihak. Dan kabar baiknya, kendaraan ini bisa segera diproduksi dalam jumlah banyak dan dilepas ke pasaran.”

Donghae diam, menikmati perubahan raut wajah Hyukjae, mulai dari takjub, kaget, tidak percaya hingga kembali lagi ke takjub.

Hyukjae berdehem, membersihkan tenggorokan dan mengusir perasaan gugup yang tiba-tiba muncul. “Jadi, bantuan apa yang bisa aku berikan di sini?”

“Kemarilah Hyukjae.”

Donghae duduk di sofa dan mulai mengutak-atik laptopnya.

Hyukjae sendiri memberanikan diri naik ke atas geledak. Sebelum menghampiri tempat duduk, Hyukjae membiarkan matanya menikmati seluruh tempat tersebut, seluruh gudang dan juga geledak. Saat Donghae mengatakan bahwa tempat kerjanya berantakan, lelaki tersebut pasti hanya berbasa-basi, nyatanya semua yang ada di sini tertata rapi dan terawat, tidak ada debu di manapun, sekalipun pada roda-roda tak terpakai yang disusun membentuk piramida di salah satu sudut.

Semua yang Hyukjae lihat sudah cukup menjelaskan keingin tahuannya selama ini tentang mengapa Donghae tidak punya ruang kerja pribadi di dalam rumah.

Hyukjae akhirnya memilih duduk bersebelahan dengan Donghae yang menunjukan sebuah aplikasi dari laptopnya.

“Perhatikan.”

Keduanya lalu memperhatikan layar yang menampilkan segi enam degradasi warna, di sebelahnya, ada rancangan dari mobil Donghae yang masih polos. Bentuknya rendah, mirip kepala reptil yang setengahnya terendam air sungai, sedang menanti mangsa.

“Kami telah memilih warna putih dan hitam untuk warna standartnya, tapi beberapa anggota dewan menginginkan edisi terbatas dengan warna lain lebih inovatif.”

Hyukjae mengarahkan kursor pada spektrum warna merah, berputar-putar di sana. Ia penggemar ferrari dan tentu saja warna itu yang pertama kali muncul dalam pikirannya.

“Merah sudah terlalu umum, banyak yang memakainya,” kata Donghae seolah tahu isi pikiran Hyukjae.

Mengapa kakak iparnya ini selalu bisa menebak isi pikirannya? Segamblang itukah diri Hyukjae?

Hyukjae memindahkan kursor. “Bagaimana dengan Silver?”

“Silver, Gold, Bronze, banyak yang tidak menyukai warna-warna seperti itu kecuali mereka yang mempunyai selera eksentrik, prosentasinya satu berbanding satu juta jiwa. Dan dewan direksi juga sudah mencoret ketiga warna itu dari daftar pertimbangan.”

Bibir Hyukjae mengerucut saat berpikir keras, sampai-sampai ia tidak sadar kalau Donghae sedang menatapnya.

“Aku menginginkan sesuatu yang tidak biasa tapi bisa memikat banyak orang. Warna yang sedikit rumit, elegan untuk dimiliki wanita tapi tidak membuat lelaki berpikir puluhan kali untuk memilikinya.”

Donghae tentu saja tidak hanya sedang membicarakan tentang warna, tapi juga seseorang, sosok yang beberapa tahun terakhir menyita perhatiannya. Dari pancaran matanya semua orang bisa melihat bahwa dirinya sedang jatuh cinta.

Hyukjae kemudian mengarahkan kursor pada spektrum warna ungu lalu memilih satu warna dan menerapkannya kepada rancangan mobil Donghae.

“Indigo? Aku belum pernah melihat warna itu dalam jajaran produk tingkat atas.”

Donghae mengamati rancangan dengan mata memicing memperhitungkan beberapa hal, lalu tersenyum senang.

“Aku suka, tapi—”

Beberapa orang mungkin akan mengatainya kerasukan atau pemuja hal-hal gaib karena warna tersebut identik dengan hal-hal mistis.

“—aku harus membicarakan hal ini dengan para anggota dewan sebelum mencoba dan benar-benar diresmikan.”

“Tentu.”

Hyukjae menoleh kepada Donghae, kesalahan Hyukjae hanya satu karena iparnya itu kebetulan juga menoleh kepadanya. Tertangkap basar sedang menatapnya dengan pancaran mata yang tidak bisa Hyukjae artikan—atau mungkin tidak berani diartikan?

Saat Donghae memutus kontak mata mereka dan memutuskan untuk fokus pada aplikasi di depannya, Hyukjae berdiri, ia tiba-tiba merasa tak nyaman setelah melihat mata Donghae. Hyukjae tidak mau lagi berada di sini.

“Aku mulai mengantuk. Jika tidak ada hal lain yang bisa aku bantu, bolehkah aku kembali ke rumah?”

Pergerakan Donghae terhenti.

Banyak sekali hal yang bisa dilakukan oleh Hyukjae di sini, Donghae bahkan sudah membuat daftarnya yang panjang di dalam pikiran. Tapi Donghae tidak bisa mengatakan apapun jika Hyukjae sudah tidak ingin berada di sini. Ia pun meninggalkan konsentrasinya pada layar laptop lalu berdiri.

Rasanya menyenangkan berinteraksi dengan Hyukjae seperti ini. Donghae tidak ingin malam ini berakhir. Tapi Ia bukan penguasa waktu yang bisa membuat malam bertahan selama yang ia mau.

“Akan ku antar kembali ke rumah.”

“Tidak perlu mengantarku, sungguh, aku berani melintasi kebun sendirian.”

Dinghae terdiam sejenak sebelum tersenyum. “Baiklah, selamat malam Hyukjae.”

“Selamat malam, kakak ipar.”

Hyukjae beranjak dari tempat duduk tersebut, namun sebelum ia menginjak tangga kayu, Donghae memanggil namanya. Ia pun berhenti sejenak.

“Terima kasih Hyukjae,” kata Donghae dalam senyuman tampannya yang menggoyahkan iman.

Senyuman itu masih sama seperti yang kemarin, tipis, tapi benar-benar memikat, padahal Hyukjae yakin senyuman iparnya itu tidak ditujukan untuk merayu atau sebangsanya. Hyukjae rasanya mau pergi ke ujung dunia saja saat melihatnya karena ia takut mendamba senyuman itu.

Setelah mengangguk, Hyukjae segera turun dan berjalan dengan terburu-buru menuju pintu, tanpa menoleh lagi ke belakang.

o0o

Sebelum masuk ke dalam ruangan, Hyukjae menyempatkan diri menarik napas, menendang jauh-jauh bayangan tidak mengenakan yang mungkin akan menimpanya hari ini.

Hyukjae mendorong pintu dan memasang senyumannya yang lebar lalu berteriak riang. “Selamat pagi semuanya!”

Di dalam ruangan, empat orang temannya sudah berkumpul, memandang dirinya untuk sejenak sebelum akhirnya kembali pada kegiatan masing-masing tanpa perlu repot memikirkan jawaban untuk sapaannya.

Mereka semua terlihat kesal.

Hyukjae menelan ludahnya sendiri. Semua tak semudah yang ia bayangkan. Ia pun menutup pintu dan segera mendekati pimpinan dalam timnya, Yoon Doojoon, untuk memijat pundaknya. “Sunbae-nim, hari ini kau ingin minum kopi? aku bisa membuatkan secangkir yang istimewa untukmu.”

Tim leadernya diam saja, lebih memilih melakukan beberapa perhitungan terhadap rancangan bangunan mereka yang dikatakan Ryeowook telah disisihkan bahkan sebelum masuk ruang presentasi.

Sunbae-nim—

“Kau seharusnya tidak perlu datang ke sini, Hyukjae.” Doojoon tiba-tiba berdiri sambil merapikan kertas-kertas hasil perhitungannya. “Waktunya pergi teman-teman.”

Hyukjae benar-benar seperti orang idiot di sini. Apakah perkataan Doojoon berarti bahwa ia dikeluarkan dari tim? Hanya karena ia tidak datang kemarin? Hyukjae sama sekali tidak mengerti kapan peraturan seperti itu dibuat. Yang ia tahu ketidak-hadirannya bukanlah kesalahan fatal, sebuah rancangan tidak mungkin disisihkan hanya karena satu anggotanya tidak hadir.

Tiga orang yang ada dalam ruangan ikut berdiri sambil membawa sebendel dokumen dan peralatan tulis masing-masing, berjalan menuju pintu, seratus persen mengabaikan Hyukjae.

Ketika Hyukjae hendak berteriak protes, pintu ruangan terbuka, manajernya berdiri di tengah pintu. “Apa kalian sudah siap?”

Mereka minus Hyukjae mengangguk.

Lalu, sang manajer memperhatikan Hyukjae. “Di mana peralatanmu, Lee Hyukjae? Aku sudah mengatakan bahwa kita tidak boleh terlambat semenitpun dalam pertemuan ini.”

Mengatakan pada siapa? Tidak ada yang mau bicara pada Hyukjae sejak ia datang.

Teman-teman satu tim Hyukjae tetap diam, tapi Ryeowook tidak cukup kuat lagi untuk berakting, tawa kecilnya lolos dan mengundang perhatian semua orang.

Sang Manajer langsung mengerti tentang situasi yang sedang terjadi. Ia memicingkan mata kepada Doojoon. “Kalian belum memberitahu Hyukjae rupanya.”

Keempat orang tersebut memalingkan wajah, menahan senyuman mereka dengan cara masing-masing, tapi semuanya gagal dan mereka akhirnya tertawa terbahak-bahak.

Hyukjae seperti ada di negeri orang asing. Tak tahu apa-apa, dan tak bisa mengatakan apa-apa.

“Hyukjae, apakah ada salah satu dari mereka yang memberitahumu bahwa rancangan kalian disisihkan karena ketidak hadiranmu?”

Hyukjae mengangguk. “Kim Ryeowook memberitahuku.”

“Itu artinya kau harus mempersiapkan dirimu untuk menghajarnya.”

Dahi Hyukjae mengerut dalam.

“Karena dia telah membohongimu.” Jeda sesaat, di gunakan sang manajer untuk menilai raut wajah Hyukjae yang masih saja tidak mengerti. “Rancangan kalian disisihkan dari proses pemilihan bukan karena tidak layak, tapi karena telah dipilih oleh komisaris JJ group untuk proyek pembangunan pabrik baru mereka di daerah Wonju. Beliau merasa konsep yang kalian pilih sesuai dengan apa yang mereka inginkan.”

“Bagaimana bisa?”

“Ceritanya panjang. Itu bisa kau dengarkan nanti saat pertemuan. Jangan cemas.”

Hyukjae masih diam, memproses semua informasi yang baru ia dapatkan. Jadi, semua air mata, isakan tangis yang diperdengrkan Ryeowook kemarin, semua itu hanya sandiwara?

“Aku yakin kau sangat ingin mengumpati mereka semua Hyukjae, aku tentu saja akan mendukungmu, tapi itu nanti setelah kalian bertemu dengan perwakilan JJ group.”

Hyukjae tidak akan melewatkan sedikitpun waktu yang ia punya untuk menunggu. Detik itu juga ia mengarahkan matanya yang penuh dendam dan kebahagiaan kepada Ryeowook lalu mendesis seperti ular berbisa. “Berengsek kau Kim Ryeowook.”

Temannya itu malah tertawa sambil merentangkan tangan. “Terimakasih. Aku juga mencintaimu, Hyukjae.”

o0o

Pada pagi di hari sabtu, kira-kira setelah Hyukjae mengantarkan Jeno ke sekolah, Ia menemukan mobil sport warna indigo di depan teras rumah. Bibirnya terbuka dan tertutup beberapa kali karena terpesona.

Sebelumnya Hyukjae sudah melihat rancangannya, mengendarai kerangkanya bahkan membantu memilihkan warna untuk mobil ini meskipun pada akhirnya Donghae membuatnya lebih gelap dari pada rancangan awal karena efek matte. Hyukjae tidak tahu bahwa dengan melihat hasilnya secara langsung bisa membuatnya menganga takjub begini.

“Bagaimana? Kau siap mencobanya untuk berkeliling?”

Hyukjae mendongak, mengarahkan matanya pada Donghae yang menuruni teras dengan langkah penuh karisma menuju sisi penumpang kendaraan itu.

Gila! Tak pernah terbayangkan oleh Hyukjae bahwa iparnya yang kesepian ini mampu menciptakan hal spektakuler seperti ini.

“Aku yang mengemudi?”

Donghae mengangguk dan melemparkan kunci kendaraan tersebut kepada iparnya. Hyukjae menangkapnya dengan baik.

Hyukjae berusaha menahan diri untuk tidak melompat kegirangan. Ia menggenggam kunci tersebut dengan erat, matanya berbinar-binar. “Apakah ini mobil yang sama untuk pengujian anti misil?”

“Ya.”

Donghae yang pertama masuk ke dalam mobil, disusul Hyukjae beberapa detik setelahnya.

“Jadi, apakah mobil ini juga mempunyai tingkat keamanan tinggi untuk tabrakan atau kecelakaan yang lainnya seperti tenggelam dalam air?”

“Tentu. Pengaman akan muncul secara otomatis jika sensor yang terpasang berhasil mengidentifikasi bahaya.”

Hyukjae memperhatikan roda kemudi dengan takjub, ada lambang tiga tetes air di pusatnya, lambang dari semua produk yang dihasilkan perusahaan Donghae.

“Jadi, seharusnya tidak masalah jika aku menabrakannya ke pohon ataupun tembok untuk mengujinya,” kata Hyukjae ditengah tawanya yang jenaka.

“Jangan gila Hyukjae ku mohon,” balas Donghae sambil ikut tertawa.

Hyukjae berpura-pura kecewa. “Kau bilang ini aman?”

“Kita hanya bisa memasang standart, tapi kita tidak bisa tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dan lagi, aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu,” kata Donghae sambil menatap Hyukjae. Iparnya itu tidak sadar bahwa tatapannya menyimpan maksud lain.

“Kenapa?”

“Karena Sungmin akan membunuhku jika aku mengantarkan maut kepadamu.”

Tawa Hyukjae semakin kencang, tapi ada sedikit rasa kecewa saat ia mendengar semua itu. ‘Aku pasti sudah benar-benar sinting,’ batin Hyukjae.

“Ayo,” kata Donghae.

Hyukjae menyingkirkan semua pikiran anehnya, dan segera menyalakan benda tersebut, masih terkagum-kagum saat telinganya tidak mendengar bunyi berisik mesin ataupun merasakan getaran yang berlebihan. Oh, baiklah, Hyukjae akan mengalah pada pendapat Donghae yang waktu itu. Mungkin kendaraan ini memang lebih baik dari pada ferrari.

Mereka akhirnya keluar dari lingkungan rumah, berkendara menuju perbatasan kota dengan memilih jalur bebas hambatan yang sepi.

Mereka memutar musik lalu mengobrol masalah ini dan itu dengan perasaan ringan, bebas, tanpa beban. Seolah mereka telah menjalin hubungan periparan tersebut lebih dari sepuluh tahun dan lupa bahwa mereka tidak pernah sedekat ini sebelumnya.

Hingga akhirnya ponsel Donghae berdering, menghentikan pembicaraan mereka yang menyenangkan.

Donghae harus mengangkatnya karena itu dari teman baiknya.

“Halo?”

“Damn you mr. Whale! That’s fucking cool! Where the hell you’ve found that?”

Donghae menengok pada spion yang menampilkan lamborgini putih, nomor serinya bukan hal yang asing bagi Donghae. “Oh, terimakasih, masi. Ngomong-ngomong warna ini dipilih oleh adik iparku.”

“Kau pasti sedang bersamanya sekarang. Baiklah. Seleranya bagus. Aku harus bertemu dengannya dan membawakan sebuket mawar. Katakan padaku, dia menyukai mawar merah atau mawar biru?”

Dasar buaya.

“Tidak keduanya ku pikir, apa lagi jika itu darimu.”

“Oh! Itu sangat menyentuh sahabatku. Ngomong-ngomong bukankah masa uji cobanya sudah selesai? Harusnya kendaraan itu belum boleh dibiarkan berkeliaran, bukan?”

Donghae kemudian melirik Hyukjae dengan gerakan hati-hati, tidak mau terlihat mencolok. “Terkadang, kita perlu melanggar peraturan untuk menemukan sesuatu yang baru bukan?”

“Oh, dasar gila. Baiklah, apa kau memiliki tujuan atau hanya ingin berputar-putar? Jika hanya berputar-putar aku sarankan untuk ikut denganku. Kita bisa bertanding, sudah lama kita tidak melakukannya bukan?”

Ide yang bagus. Kebetulan Donghae memang tidak punya tujuan dan ia juga ingin bertanding.

“Baiklah.”

Lalu sambungan telepon tersebut terputus, lamborgini Siwon meluncur mendahului Donghae dan Hyukjae seolah menantang sekaligus mengejek.

“Ikuti mobil itu.”

Tak langsung menurut, Hyukjae malah memicingkan mata pada mobil putih di depannya. “Kita mau ke mana?”

“Padang golf.”

o0o

Sepanjang mata memandang hanya ada hamparan rumput hijau yang terawat, bukit, dan deretan pepohonan di beberapa sisi lapangan. Matahari bersinar cerah namun tidak terlalu terik sehingga membuat siapa saja yang berdiri di bawahnya tidak akan merasa terganggu dengan sengatannya. Sayangnya, semua kenyamanan tersebut tidak dapat dirasakan oleh Hyukjae karena ia merasa takut.

Choi Siwon yang datang bersama adik sepupunya, Choi Minho telah menantang Donghae untuk bermain golf, otomatis Hyukjae terseret dalam arus lingkaran persaingan tersebut karena Choi Siwon menginginkan permainan dalam kelompok. Pokok permasalahan di sini adalah, Hyukjae tidak pernah bermain golf, ia tak tahu cara ataupun aturan mainnya.

“Jangan cemas Hyukjae, kita hanya bermain, tidak mempertaruhkan apapun,” kata Donghae. Dengan tenang, lelaki itu memasang sarung tangan pada tangan kirinya.

Oh siapa bilang tidak ada taruhan?

Harga diri Hyukjae di sini yang jadi taruhannya!

Lihatlah ke sisi lain lapangan, tepatnya di bawah kanopi besar di mana kumpulan pria duduk dengan tampannya untuk menonton mereka bermain. Hyukjae heran, mengapa iparnya tidak memprotes saat temannya mengundang banyak orang untuk menjadi saksi permainan mereka? Apakah semua orang kaya seperti itu? Suka menjadi pusat perhatian?

Mengerti akan kecemasan Hyukjae, Donghae pun mendekat untuk menepuk bahu Hyukjae. “Yang perlu kau lakukan hanya berkonsentrasi dan pukul bolanya.”

“Perlu kau tahu bahwa aku bahkan tidak bisa memegang stik golf dengan benar, kakak ipar.”

Donghae tertawa, tak percaya. “Jadi, itu yang kau cemaskan?” Lelaki tampan itu kemudian menarik satu stik, lalu meletakan sebuah bola di depan kaki Hyukjae. “Yang harus kau lakukan adalah memperkirakan seberapa jauh jarak sasaranmu, masalah seberapa keras kau harus memukul, intuisimu nanti yang akan mengambil alih.”

Hyukjae hanya diam memperhatikan, tak langsung mengambil tongkat yang disodorkan Donghae kepadanya, jadi, iparnya itu langsung mengambil tempat di belakang dan meletakan lengannya yang kokoh di sekitar badan Hyukjae.

Pikiran Hyukjae langsung kosong begitu punggungnya merasakan betapa tegap dan kokohnya dada yang menempel padanya ini. Lalu, ada genggaman jemari Donghae begitu mantap pada tangannya, seolah semua perlindungan berkumpul jadi satu di sekeliling Hyukjae. Meskipun demikian, Hyukjae tetap merasa tidak aman, karena ia saat ini tak jauh beda dengan ikan yang kesulitan bernapas karena keluar dari dalam air.

“Pegang yang erat, dan pusatkan konsentrasi hanya pada bola,” bisik Donghae. Suaranya pelan tapi jelas, jernih, dan menjanjikan kepastian. Ditambah lagi aroma maskulin lelaki tampan ini yang kuat tapi segar dan menggoyahkan iman.

Hyukjae jadi tidak bisa berkonsentrasi, ia terlalu sibuk tertegun, bahkan sampai tidak menyadari bahwa jantungnya sendiri berdetak tak karuan.

“Lalu ayunkan seperti ini, tidak perlu kencang, biarkan perasaanmu yang mengambil alih.”

“Tidak bisa!”

‘Perasaanku tidak boleh mengambil alih,’ jerit Hyukjae dalam hati.

Ah, Hyukjae yang berakal sehat rupanya telah kembali.

Ia bergerak tak nyaman dalam dekapan Donghae, tapi lelaki itu tak peka, tak mau melepaskan Hyukjae.

“Ayolah, ini mudah Hyukjae.”

Memukul bolanya memang bukan perkara sulit lagi karena sekarang menghindar dari pesona seorang Lee Donghae adalah hal yang lebih menyulitkan bagi Hyukjae.

“Maksudku, aku sudah mengerti, aku akan mencobanya sendiri. Kakak ipar tidak perlu menuntunku seperti ini.”

“Oh, baiklah.” Baru saat itulah Donghae melepaskan Hyukjae dan bergeser sedikit ke samping untuk memperhatikan Hyukjae memukul bola. “Tidak buruk,” komentarnya setelah melihat bola Hyukjae menggelinding cukup mulus. “Tapi hilangkan rasa gugupmu, Hyukjae, jangan sampai tanganmu gemetar saat memukul bola.”

Jika memang Hyukjae harus menyingkirkan rasa gugupnya, maka, Donghae harus pergi—atau setidaknya jangan memperhatikan Hyukjae, karena yang membuat Hyukjae gugup bukan main adalah lelaki ini, bukan lagi salah satu pria tampan yang menjadi penonton dari sisi lapangan.

“Hei, apakah kalian sudah siap untuk kalah?”

Donghae dan Hyukjae menoleh kepada Choi Siwon yang tersenyum dengan dua cekungan di pipinya, keduanya terlihat terganggu. “Apakah tidak ada cara untuk menutup mulutnya yang sombong?”

Mendengar hal itu, Donghae tersenyum. Ia suka dengan lidah blak-blakan Hyukjae. “Kau hanya perlu mengalahkannya, Hyukjae.”

Hyukjae tak yakin, tapi ia akan mencobanya. “Baiklah, mari kita kalahkan mereka.”

Donghae dan Hyukjae berjalan mendekati Siwon dan Minho.

Tak lama setelah itu, pertandingan dimulai.

o0o

Mereka, Hyukjae dan Minho, sudah bosan bermain karena berulang kali terkena penalti, mereka juga lelah harus berjalan ke sana-sini untuk mengikuti pergerakan bola lawan dan kawan. Mereka menyerahkan permainan sepenuhnya kepada kepala regu masing-masing, lalu duduk di tepi lapangan untuk menonton.

“Bagaimana menurutmu?”

Donghae mendongak dari bolanya hanya untuk mendapati Choi Siwon yang terang-terangan memandangi iparnya di tepi lapangan. Sekarang Donghae tahu apa yang dimaksudkan temannya ini. Tidakkah kami serasi? “Tidak sama sekali,” kata Donghae sambil mengembalikan atensinya pada bola. Dia memukul cukup jauh, tapi masih belum bisa menjangkau bendera.

“Setidaknya, biarkan aku mencoba mendekatinya. Mungkin akulah pangeran yang selama ini dia nantikan.”

Donghae menengok kepada Siwon untuk beberapa saat, memikirkan sesuatu yang akhirnya membuat lelaki tampan ini tersenyum geli. “Apapun yang kau upayakan, dia tidak akan memberikan perhatiannya kepadamu. Aku bisa bertaruh apapun untuk itu, tanpa harus takut kalah dan kehilangan sesuatu.” Karena Donghae yakin iparnya itu tidak akan menomor duakan putranya, Lee Jeno.

Donghae kemudian berjalan menuju tempat di mana bolanya jatuh dan menggelinding. Siwon mengikuti di belakang sambil bersidekap.

“Siapa yang tahu jika tidak dicoba?”

Donghae semakin terlihat geli. “Saranku, jangan membuang waktu untuknya. Itu akan sia-sia.”

“Kenapa? Karena kau menyukainya dan tidak akan membiarkan siapapun memilikinya?”

Hampir saja Donghae berhenti berjalan dan memperlihatkan apa yang ada dalam hatinya kepada Siwon. Beruntunglah karena pengendalian dirinya sangat baik, jadi Donghae hanya tersenyum. “Kau sedang mabuk?”

“Aku melihatnya Donghae.”

Apa?

“Hasratmu untuknya, terlihat sangat jelas, saat kau memegang tangannya untuk mengajarkan cara bermain yang benar.”

Donghae diam mendengarkan saja.

“Kau ingin memilikinya.”

Donghae memberikan senyumannya yang santai. “Apakah terlihat seperti itu? Apakah kami terlihat serasi jika berdiri berdampingan?”

Mungkin jika orang lain, perkataan Donghae akan terdengar seperti candaan. Tapi Siwon berbeda, ia teman dekat Donghae yang mengenal temannya ini dengan baik.

“Kau sudah memiliki Sungmin.”

Tidak ada yang bisa ia harapkan dari Sungmin. Siang dan malam ia menantikan istrinya kembali seperti dulu, ia membuka kesempatan itu setiap hari, bahkan ia rela tersiksa setiap malam dalam kesendiriannya untuk mewujudkan impiannya. Tapi istrinya itu tidak mau menengok kepadanya, meskipun hanya sebentar. Donghae lelah menanti, ia menyerah pada hubungannya dengan Sungmin.

“Kau tidak boleh menginginkan saudaranya juga. Itu terlalu tamak.”

“Aku siap mendapat julukan itu darimu, tuan Choi yang terhormat,”

Mereka sampai di tempat bola Donghae berada. Jaraknya sekitar lima meter dari lubang.

Donghae mempersiapkan tongkatnya lalu memukul bolanya setelah melakukan perhitungan.

Benda bundar itu menggelinding kencang menuju bendera dan bergerak lincah memutar di bibir lubang, seolah sedang mengejek kemampuan lelaki tampan itu.

Melihat hal itu, Siwon tertawa terbahak-bahak, kencang sekali sehingga semua penonton ikut tertawa karena menyadari apa yang terjadi. “Lihatlah, aku akan merampasnya darimu. Salah satu dari mereka.”

Donghae menumpuk telapak tangannya di ujung tongkat sambil membalas senyuman berbahaya Siwon. “Aku sangat takut mendengar hal itu, tuan Choi, sungguh. Haruskah aku memohon supaya kau tidak melakukannya?”

Siwon tertawa lagi, ia menoleh kepada Hyukjae. “Sepertinya dia memanggilmu.”

Donghae ikut menoleh, dan menemukan Hyukjae melambai kepadanya. Iparnya itu kemudian menunjuk jam tangan, otomatis lengan Donghae terangkat. Lelaki tampan itu memperhatikan jarum pendek dan langsung mengerti maksud Hyukjae. Mereka harus menjemput Jeno.

“Sepertinya kita harus mengakhiri permainan hari ini, tuan Choi.”

Choi Siwon mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa? Kau mau berkencan dengan iparmu?”

“Katakanlah demikian,” jawab Donghae santai sambil mengangkat bahunya.

“Lihat, betapa berengseknya dirimu mr. Whale.”

T.B.C

Boring? Forgive me, please. Dan tolong abaikan body anti misil yang nyempil di atas, oke? XD Makasih buat semuanya yang udah ngeluangin waktu buat baca ff ini, yg udah ngasih perhatian lebih sama ff ini—review, fav, follow, dan yang ngasih dukungan penuh ke saya buat nerusin ff ini. Love you all! *kiss n hug* see you next chap

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s