ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 4]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre Rating: Full of Family (semi incest), Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Donghae ada di sana—bukan raganya, tapi aromanya yang maskulin dan kuat—menempel erat di salah satu sisi tempat tidur Hyukjae dan berhasil membuat sang pemilik ranjang melayang, membayangkan sang ipar yang tampan memeluknya dari belakang sambil membisikkan kata-kata manis yang mampu membuat Hyukjae merona habis-habisan.

Oh, ayolah Hyukjae itu hanya aromanya Donghae, bukan orangnya!

Hyukjae memejamkan mata dan meremas sebagian rambut pirangnya, mengakhiri paksa seluruh khayalan yang semakin lama terasa menyenangkan. Lamunan itu harus segera diakhiri jika Hyukjae tidak ingin mendesah tanpa sadar karena teringat adegan ranjang bersama sang ipar dalam mimpi kotornya semalam. Hyukjae jadi tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa sampai mabuk hanya karena aroma seorang lelaki? Hyukjae bahkan tidak pernah mengalami hal seperti ini dengan cinta pertamanya. Sebenarnya apa yang ada dalam diri Donghae sehingga berhasil membuatnya pusing begini?

Setelah menghela napas, Hyukjae bangkit dari ranjang dan memutuskan untuk melepas bed cover-nya. Donghae, aroma lelaki itu, jejaknya, apapun itu namanya harus segera disingkirkan dari tempat tidur Hyukjae. Tidak ada toleransi.

Ketika Hyukjae hendak memasang bed cover yang lain, Doojoon menghubunginya, memberitahukan bahwa besok sebagian orang dari tim mereka ditambah beberapa orang dari konstruksi akan pergi ke Wonju untuk melakukan survei lokasi. Banyak gosip tidak sedap beredar di sekitar lahan yang akan digunakan JJ Group sebagai pabrik, pimpinan perusahaannya ingin mereka memastikan situasi dan kondisi di lapangan sebelum melangkah lebih jauh.

Hyukjae tidak suka pergi ke luar kota yang berarti ia harus meninggalkan keponakannya yang lucu untuk beberapa hari. Tapi semua itu adalah bagian dari pekerjaannya, mimpinya, Hyukjae tidak punya banyak pilihan. Toh tidak hanya kali ini ia pergi ke luar kota untuk bekerja dan Jeno juga tidak punya masalah dengan hal itu, asalkan Hyukjae pulang membawakannya mainan.

“Baiklah, sampai jumpa besok, Hyukjae.”

“Selamat malam, Sunbae-nim.”

Setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas dan menyelasikan kegiatannya merapikan ranjang, Hyukjae pun mulai berkemas, memasukan beberapa pasang pakaian dan perlengkapan lainnya ke dalam koper kecil.

Tepat setelah Hyukjae selesai berkemas dan menutup tas beroda-nya, pintu kamar tiba-tiba terbuka, keponakannya berdiri di ambang pintu dengan wajah merajuk sambil memeluk bumble bee.

Hyukjae tersenyum lalu memberikan isyarat pada Jeno untuk mendekat. Keponakannya ini jarang sekali—bahkan bisa dibilang tidak pernah—terbangun saat tertidur, jadi pasti ada yang telah mengganggunya. “Siapa yang membangunkanmu, sayang?”

Bocah itu memeluk Hyukjae yang sedang berjongkok, membenamkan wajah mengantuknya di pundak sang paman. “Abeoji,” jawab bocah itu dengan pipi menggembung yang disembunyikan.

Hyukjae sudah menduga bahwa Donghae-lah tersangka utamanya, sama seperti beberapa hari yang lalu.

Lalu Hyukjae memperhatikan pintu, ia siap menghamburkan caci maki kepada iparnya karena membangunkan Jeno. Tapi tidak ada siapapun di sana, Hyukjae pun menelan kembali seluruh kekesalan dan perasaan kecewanya. Bukan karena ia gagal memarahi Donghae, lebih tepatnya karena ia tidak melihat iparnya yang tampan.

“Pipi Abeoji tajam, Jeno tidak suka Tamchunie~”

Mungkin yang dimaksudkan keponakannya ini adalah cambang Donghae. Bagian tersebut memang terlihat sedikit tidak rapi, tapi bagaimana ya, Hyukjae malah menyukai yang seperti itu, rasanya pasti menyenangkan jika tangannya yang halus mendarat di pipi yang disebut keponakannya tajam itu.

Oh, astaga. Hyukjae kembali membayangkan hal yang tidak-tidak tentang sang ipar.

“Jeno tidur di sini dengan Tamchunie, boleh?”

“Tidak.”

Bocah itu merengek sejadi-jadinya. “Waeyo, Tamchunie? Jeno tidak bau sepelti Abeoji, kenapa Jeno tidak boleh tidur dengan Tamchunie?”

Sang paman tidak bisa menahan tawanya.

“Pokoknya Jeno mau tidur dengan Tamchunie malam ini.”

“Baiklah, baik. Jeno akan tidur dengan Samchun.” Hyukjae berdiri dan membawa keponakannya ke tempat tidur, membaringkan Jeno di sana. “Jeno senang sekarang?”

Bocah itu akhirnya tersenyum senang di tengah wajah tidak berdayanya karena kantuk. “Jeno menyayangi, Tamchunie~”

Jawaban Hyukjae tentu saja sama. Ia juga menyayangi Jeno. Lebih dari apapun.

o0o

Ketika sedang menyimpulkan dasi hitam beraksen garis emas tak beraturan yang tipis, pintu ruangan di belakang Donghae terbuka. Lelaki tampan itu tidak perlu menengok ke belakang untuk mencari tahu siapa orang yang masuk, karena ia yakin Sungmin adalah satu-satunya orang yang berani melakukan hal itu, terlebih saat dirinya sedang berganti pakaian.

Kaki ringan di belakangnya semakin mendekat dan berakhir beberapa langkah di samping Donghae, tepat di depan sederet atasan formal wanita.

“Kau bisa memilih warna yang lebih cerah, supaya terlihat lebih muda dan segar.”

Donghae tidak menoleh, ia menunduk untuk membuka kancing rompi yang hendak ia pakai. Sungmin tetaplah Sungmin, istrinya akan selalu mengurusi hal-hal sepele tentang dirinya tapi tidak mau repot mengurusi masalah yang benar-benar penting.

Setelah mereka bertengkar pada Minggu pagi, Donghae tidak bertemu dengan Sungmin lagi, tapi Donghae tahu bahwa Sungmin pulang setiap malam.

“Oranye cocok dengan setelan yang kau pilih, atau jika itu terlalu mencolok kau bisa memakai yang Krimson.”

“Apakah hari ini kau ingin berdebat denganku masalah pakaian, nyonya Lee?”

“Hanya mengutarakan pendapat, aku sedang tidak berminat untuk berdebat, tuan Lee.”

Begitu pula Donghae. Ia punya meeting penting dan tidak ingin suasana hatinya buruk karena beradu mulut dengan Sungmin. Tapi sang istri terlanjur membuatnya tidak bisa berhenti mengoceh. “Ayolah, kita hanya berdua dan aku tidak ingin memilih warna dasi yang lain, kau bebas memakiku sekarang.”

Donghae menoleh kepada Sungmin. Istrinya itu sedang melepas jubah mandinya untuk digantikan dengan pakaian formal. Sekilas, tubuh Sungmin yang polos terpampang jelas di mata Donghae, tapi lelaki itu tidak tergoda sedikitpun. Hasratnya kepada sang istri sudah lama mati, bahkan jauh sebelum Donghae jatuh kepada hati yang lain. Dan jika saat ini Donghae memilih untuk menunduk, bukan berarti ia goyah dan takut akan tergoda, tapi ia butuh memasangkan jam di tangan kanannya.

Tak juga mendapat tanggapan, Donghae mengambil jas kelabu dari gantungan lalu menoleh kepada Sungmin lagi, kali ini istrinya sedang merapikan bawahannya. “Baiklah jika kau memang tidak ingin berdebat. Semoga harimu menyenangkan, nyonya Lee,” katanya sebelum keluar dari ruang pakaian. Tidak terdengar seperti harapan jika mau memperhatikan lebih jeli lagi terhadap nada yang digunakan Donghae.

Sang kepala keluarga melangkah menuju nakas untuk mengambil ponselnya, tak menyangka jika ponsel Sungmin juga ada di sana, sedang berdering dan memperlihatkan sebuah nama yang tidak asing lagi baginya.

Memutuskan untuk tidak peduli, Donghae melangkah menuju pintu, tepat saat itu pula Sungmin keluar dari ruang pakaian.

Donghae memilih berhenti sesaat tepat di depan istrinya. “Gadis kecil itu pasti bahagia bisa mendapat kasih sayang seorang ibu meskipun dia tidak memiliki ibu.” Setelah mengatakan itu, Donghae melangkah menuju pintu dengan tenang, tapi tidak ada yang tahu bahwa amarah mulai membakar hatinya. Ketika Donghae hendak menarik gagang pintu, perkataan istrinya menahan semua pergerakan Donghae.

“Aku menyukai dirimu yang seperti ini, Lee Donghae.”

Mengapa Sungmin berpikir bahwa keadaan seperti ini bisa dijadikan lelucon?

Setelah diam beberapa saat, Donghae akhirnya benar-benar keluar dari kamar sambil membanting pintu.

Sungmin menghela napas dan akhirnya menghampiri ponselnya, mengangkat panggilan yang tidak mau berhenti tersebut. “Selamat pagi, Jaemin.”

“Selamat pagi, Eomma!”

Sungmin tersenyum lembut, memperlihatkan bahwa ia benar-benar senang mendapatkan sapaan dari si penelepon.

o0o

“Saat aku mengantar Duchess ke rumah sakit, aku bertemu dengan Sungmin.”

Donghae tidak mendongak, ataupun memutus atensinya dari layar tab yang menampilkan laporan dari tim riset dan pengembangan produk perusahaannya. Apapun yang akan dikatakan oleh Siwon sudah bisa ia tebak ke mana arahnya.

“Dan kau tahu siapa yang bersamanya?”

Tentu saja.

“Seorang anak perempuan yang cantik, mungkin usianya satu tahun di atas Jeno. Dan apa kau tahu, dia memanggil istrimu ‘Eomma’. Astaga Lee Donghae, apa yang sebenarnya terjadi?”

Donghae tidak ingin bercerita.

Situasi juga sedang mendukungnya. Saat itu telepon Donghae berdering, sekretarisnya mengingatkan bahwa Donghae harus bersiap-siap untuk meeting setengah jam lagi. Donghae pun mematikan tab dan membereskan beberapa isi dokumen yang berserakan di meja.

Melihat temannya yang tidak juga memberikan respon, Choi Siwon mencondongkan badannya dengan mata memicing seperti serigala pemburu berita hangat, bukan rusa. “Kau tampak tidak terkejut, Mr. Whale? Apa sebenarnya kau sudah mengetahui semua ini? Perselingkuhan istrimu?”

Bukan seperti itu tepatnya.

Sekitar tujuh tahun yang lalu, Sungmin mendapat pasien seorang wanita korban kecelakaan lalu lintas, wanita tersebut sedang hamil. Di ambang kesadarannya, wanita itu meminta kepada Sungmin untuk menyelamatkan kandungannya yang belum genap berumur delapan bulan, serta suaminya yang juga menjadi korban dalam kecelakaan itu.

Para dokter mengupayakan semua hal terbaik yang mereka bisa tapi malang sekali karena wanita tersebut tidak dapat bertahan sampai bayi yang ada di dalam kandungannya berhasil dikeluarkan.

Bayi dengan jenis kelamin perempuan tersebut menangis kencang, kulitnya merah, perpaduan antara warna kulit bayi alami dan darah. Garis kecantikannya terlihat jelas melalui bibir mungil yang indah dan hidungnya mancung.

Saat pertama kali menggendongnya, Sungmin terpana dengan kecantikan murni itu lalu tanpa sadar ia pun tersenyum di balik maskernya. Sungmin memutuskan bahwa dirinya sendiri yang akan membersihkan sang bayi, merawatnya dengan baik selama ayah sang bayi belum sadarkan diri sejak dioperasi.

Dua hari berlalu Saat akhirnya ayah sang bayi membuka mata, Sungmin mendapati lelaki itu berteriak histeris karena salah satu dokter mengatakan bahwa ia lumpuh, buta dan telah ditinggal oleh istri tercintanya. Kenyataan bahwa ia mendapat seorang putri yang cantik tidak mampu menghilangkan kesedihan atas semua musibah yang jatuh beruntun kepadanya, malah semakin menambah bebannya karena lelaki itu bahkan tidak bisa melihat bagaimana rupa putrinya yang jelita.

Dari informasi yang Sungmin dapat, lelaki itu tidak punya sanak saudara lagi di Korea. Yang datang ke rumah sakit untuk mengurus masalah administrasi ayah dan anak tersebut adalah seorang kepala sekretaris ditemani seorang kepala pelayan perempuan tua yang wajahnya tegas bukan main tapi sikapnya lembut.

Sungmin tidak sampai hati menyerahkan bayi perempuan cantik itu kepada mereka semua yang jelas tidak siap untuk merawat seorang bayi. Akhirnya Sungmin memutuskan untuk merawat bayi tersebut secara suka rela, setidaknya sampai sang ayah lebih kuat untuk sekadar menggendong putrinya.

Lama-kelamaan kejadian tersebut menjadi kebiasaan yang tidak bisa diubah bagi semuanya. Bayi perempuan itu terbiasa dengan seluruh perhatian Sungmin sehingga ketika ada orang lain yang menyentuhnya maka bayi itu akan menangis kencang dan tidak akan diam sampai Sungmin membelai atau menciumnya. Sungmin sendiri yang sudah terbiasa merawat bayi perempuan tersebut mulai mengabaikan suaminya, bahkan ia sampai tidak peduli pada jabang bayi dalam perutnya sendiri yang baru diketahui berumur dua Minggu.

Mulanya Donghae tidak keberatan dan menganggap semua itu sebagai sederet dari tuntutan pekerjaan Sungmin sebagai seorang dokter yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap sesama. Tapi lama kelamaan hal tersebut mengganggu Donghae. Puncaknya adalah saat Jeno berumur satu tahun lebih beberapa bulan. Istrinya itu secara terang-terangan meninggalkan Jeno yang sedang menangis demi menemui balita perempuan yang terus-menerus menelepon mencarinya.

Saat itu Donghae sadar bahwa dirinya harus berhenti menggantungkan harapan kepada Sungmin dan mulai melakukan sesuatu untuk Jeno, putranya yang malang. Tapi saat Donghae ingin mendekat kepada Jeno, Ia menemukan Hyukjae menggendong Jeno dengan seluruh kasih sayang dan membuat tangisan anaknya berhenti, tak peduli bahwa ia baru saja tiba dari luar kota sehabis mengikuti serangkaian acara pelatihan di tempat kerjanya yang baru ia dapatkan.

Donghae urung mendekat, membiarkan Hyukjae mengurus anaknya sendirian.

Beberapa hari berjalan, iparnya mulai kesulitan untuk membagi waktu antara Jeno dan pekerjaan barunya. Donghae masih memperhatikan saja dari jauh, tidak berniat membantu karena ia ingin melampiaskan kekesalannya terhadap Sungmin dengan membuat Hyukjae kelabakan. Bagaimanapun juga, Hyukjae adalah adik tersayangnya sang istri. Rasa sayangnya kepada Hyukjae jauh lebih besar dari pada rasa cinta Sungmin kepada Donghae. Jika Hyukjae merasa kerepotan, kelelahan, bahkan sakit, Sungmin pasti tidak akan tinggal diam dan akan kembali memperhatikan Jeno.

Sayangnya semua perhitungan itu salah.

Sungmin sedikitpun tidak pernah melirik keadaan rumah karena ternyata Hyukjae bisa mengatasi semua permasalahannya dengan baik, ia menemukan sebuah metode yang tepat untuk merawat Jeno tanpa harus mengorbankan pekerjaannya. Lama-kelamaan semua hal itu malah menjatuhkan Donghae sendiri. Lelaki tampan itu malah terpesona dengan cara Hyukjae merawat anaknya.

“Ah, sekarang aku mengerti kenapa kau sampai bisa melirik Hyukjae, adik iparmu sendiri.”

Pergerakan Donghae terhenti, ia menoleh kepada Siwon, bukan karena jengkel tapi karena ia mulai jengah mendengar semua omong kosong temannya yang salah kaprah ini.

“Karena istrimu berselingkuh, kau merasa kesepian, dan mulai melihat Hyukjae sebagai Sungmin. Kau sebenarnya tidak tertarik kepada Hyukjae.”

Meskipun mereka memiliki banyak kesamaan, tapi Sungmin dan Hyukjae adalah dua pribadi yang berbeda.

Saat ini Donghae bukanlah remaja yang baru masuk usia pubertas dan tidak bisa memahami isi hatinya sendiri, Ia lelaki dengan usia matang yang memahami dengan jelas apa yang sedang melanda hatinya untuk Hyukjae. Yang disayangkan dari keadaan yang ia hadapi adalah, Donghae tidak bisa mengambil keputusan dalam bentuk apapun. Menceraikan Sungmin artinya ia kehilangan Jeno. Karena putranya masih kecil, pengadilan pasti akan memberikan hak asuh anaknya kepada Sungmin. Kalaupun pada akhirnya ia bisa mengupayakan sesuatu supaya Jeno bisa bersamanya, bocah itu yang akhirnya akan menderita karena Jeno tidak hanya akan terpisah dengan ibunya, tapi juga paman yang selama ini menyayanginya—Hyukjae sudah pasti tidak akan ikut tinggal bersama Donghae jika lelaki tampan ini menceraikan kakaknya.

“Jika kau sudah selesai dengan omong kosongmu itu, lebih baik kau mulai mencarikan model untukku. Sekretarisku sudah mengirimkan rincian konsep untuk acara peluncuran ke email-mu.” Donghae meninggalkan mejanya dan berhenti di ambang pintu yang terbuka. “Ingat, yang tinggi dan jangan yang berambut pirang.”

Setelah itu, Donghae tak lagi terlihat oleh Siwon. Lelaki berlesung itu berdiri dan tersenyum sambil merapikan jasnya. “Mari kita lihat sampai berapa lama kau bisa menyimpan semua ini dariku, Lee Donghae.”

o0o

Abeoji?”

Donghae berhenti melamun lalu menunduk untuk melihat jagoan kecilnya yang sedang cemberut, bersandar pada sofa dan melipat tangan. Tingkahnya mengalahkan sikap orang dewasa yang berkuasa dan memiliki segalanya. “Abeoji tidak mendengarkan Jeno~” kata bocah itu dengan wajah super kesal.

Sang ayah tersenyum sambil mengusak rambut putranya. “Mianhae, Jeno.” Lalu, tubuh kecil itu diangkat oleh Donghae ke atas pangkuannya. “Nah, sekarang coba ulangi lagi apa yang tadi Jeno katakan pada Abeoji.”

“Jeno rindu Tamchunie…” kata bocah itu sambil mengerucutkan bibirnya.

Oh betapa Donghae juga merindukannya. Ia terbiasa melihat Hyukjae di rumah tersebut. Berjalan ke sana sini untuk memanjakan dan menemani Jeno. Saat Hyukjae tidak ada di sana, rasanya seperti ada satu pion yang hilang dari papan caturnya Donghae.

“Boleh Jeno menelepon Tamchunie?”

Samchun mungkin sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Jika memiliki waktu luang, Samchun pasti akan menghubungi Jeno, seperti biasanya.”

“Tapi Jeno sekarang mau belbicara dengan Tamchunie. Boleh ya, Abeoji?”

Donghae menghela napas. Mau bagaimana lagi sekarang? Ia pun menyerahkan ponselnya kepada Jeno.

Ketika sadar bahwa dirinya tidak menyimpan nomor Hyukjae dan hendak memberitahu Jeno, putranya yang pintar sudah selesai mengetik sederet nomor dan menekan simbol video call.

Rupanya, Hyukjae sudah meminta Jeno untuk menghafalkan nomor ponselnya untuk berjaga-jaga dari situasi yang mungkin tidak diduga. Betapa cekatannya sang ipar. Donghae bahkan tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.

Tak lama setelah itu, wajah Hyukjae memenuhi layar dan seluruh ruangan dipenuhi teriakan Jeno. “Tamchunie, bogoshippo~”

Hyukjae tertawa, terlihat manis sekali di mata Donghae. Lelaki itu hanya memperhatikan saat anak dan iparnya bercakap-cakap, tenggelam dalam dunia mereka sendiri, sama sekali tidak meresa perlu mengajak Donghae untuk masuk dan bergabung ke dalam percakapan.

Donghae memaklumi, di layar ponsel Hyukjae yang nampak pastilah hanya dada dan perutnya itupun sebagai background putranya yang banyak bicara. Hyukjae pasti mengira dadanya itu adalah sofa atau kepala ranjang.

Tidak masalah. Melihat Hyukjae saja rasanya sudah lebih dari cukup untuk Donghae.

“Baiklah, karena sudah malam, Jeno harus segera tidur supaya besok tidak terlambat ke sekolah.”

Jeno mengangguk, mencium layar lalu mengucapkan, “Selamat malam, Tamchunie~” dengan nada yang super menggemaskan.

Di seberang sana, Hyukjae tertawa geli lalu membalas ucapan selamat malam dari sang keponakan sambil meniupkan sebuah ciuman hangat.

Donghae merasa seperti di awan saat melihat bibir Hyukjae. Ia merasa seperti ciuman jauh itu ditujukan untuknya bukan Jeno.

Setelah sambungan itu terputus, Jeno berbalik untuk mengembalikan ponsel ayahnya, bocah itu berterima kasih sambil mencium pipi ayahnya dan tersenyum gembira.

Donghae ikut tersenyum, senang, tidak hanya karena anaknya bahagia tapi karena ia bisa melihat Hyukjae juga. “Baiklah. Sekarang waktunya tidur. Jeno ingat apa kata Samchun tadi kan?”

Bocah itu mengangguk dan beberapa detik kemudian badannya melayang karena sang ayah menempatkannya di punggung.

“Oh! Selamat datang, Eomoni~”

Donghae urung berdiri. Ia menoleh pada sang istri sambil memegangi lengan dan pantat Jeno.

Sungmin menatap bocah itu lalu Donghae yang sedang menaikan sebelah alisnya, seolah sedang memberikan tantangan; Jika ia bisa mendekat untuk membelai pipi Jeno saja, maka Donghae bersedia tunduk di bawah ibu jari kaki Sungmin, melakukan apapun yang dimau Sungmin selayaknya budak.

Tawaran yang begitu menggoda, tapi Sungmin tidak mau membuang waktu untuk mencoba, karena ia tahu di mana batasannya. Sungmin akhirnya hanya tersenyum lemah sambil berkata kepada pasangan ayah dan anak tersebut. “Aku lelah dan ingin beristirahat. Selamat malam.” Setelah itu Sungmin berjalan menuju tangga, naik ke atas tanpa menoleh lagi ke belakang.

Abeoji, apa Eomoni tidak menyayangi Jeno?”

Sang ayah menoleh kepada anaknya yang mendadak lesu. Keceriaannya yang tadi menular sekarang hilang. Hati Donghae menjadi sakit dan ingin memaki dirinya sendiri “Bukan seperti itu,” kata Donghae sambil berdiri dan mulai berjalan menuju tangga.

“Lalu, kenapa Eomoni tidak pernah mencium Jeno, seperti yang sering dilakukan Tamchunie dan Abeoji?”

“Katakanlah, Eomoni sedang lelah dan butuh istirahat.”

Pipi bocah itu menggembung. “Tamchunie juga selalu mengatakan hal itu jika Jeno bertanya.”

Donghae memang sedang menirukan jawaban Hyukjae karena ia tidak mau memakai jawabannya sendiri. Putranya bisa terluka dan akhirnya tumbuh dengan membenci semua orang.

“Baiklah, Jeno ingin dibacakan dongeng apa untuk pengantar tidur?”

“Jeno tidak mau dibacakan apapun. Jeno mau tidur di kamar Tamchunie. Boleh kan, Abeoji?”

Tentu saja boleh. Hyukjae juga tidak akan keberatan jika Jeno tidur di sana.

o0o

Pukul sepuluh malam lebih.

Setelah tiga hari dua malam ia berada di kota lain, malam ini Hyukjae akhirnya pulang ke rumah.

Tempat pertama yang dituju Hyukjae adalah kamar Jeno. Ia rindu setengah mati pada keponakannya dan sudah tidak sabar melihat reaksi antusias Jeno yang menggemaskan saat melihat dirinya datang.

Tapi, saat ia membuka kamar Jeno, keponakannya yang lucu tidak ada di dalam sana. Ranjangnya kosong dan rapi. Hyukjae jadi bertanya-tanya, di manakah keponakannya saat ini? Jelas Hyukjae tidak akan menyimpulkan keponakannya itu sedang bermain di tempat perakitan Donghae karena saat ini bukan waktunya untuk bermain.

Lalu, seperti tersadar akan sesuatu, Hyukjae segera menutup pintu dan berlari kecil menuju kamarnya.

Benar apa yang ia pikirkan.

Di dalam sana, keponakannya yang tampan dan menggemaskan sedang tidur nyenyak di dalam pelukan ayahnya. Sedikit merosot ke bawah, mungkin disengaja karena Jeno masih trauma dengan pipi tajam sang ayah.

Tanpa sadar Hyukjae menyilangkan kedua tangannya sambil tersenyum. Mungkin sekarang, ia harus mengakui bahwa Donghae memang ayah dari keponakan tersayangnya, dan lelaki itu menyayangi Jeno.

Dengan perlahan, Hyukjae menutup pintu kamar, dan membawa kopernya ke kamar tamu. Malam ini Hyukjae akan tidur di sana karena ia tidak mungkin bergabung dengan Jeno dan Donghae di dalam kamarnya.

Sebelum Hyukjae masuk ke kamar tamu, Sungmin tiba-tiba muncul di ujung koridor dan berjalan mendekat sambil tersenyum pada sang adik. “Kau sudah pulang rupanya.”

Hyukjae balas tersenyum. “Sepertinya aku harus sering keluar kota supaya noona tidak sering pulang lewat tengah malam.”

Semua itu tidak ada hubungannya sama sekali. Mengapa Sungmin sudah berada di rumah sama sekali bukan karena Hyukjae keluar kota, hal itu murni karena Sungmin memang sedang tidak memiliki banyak tugas di rumah sakit. “Apa kau lupa di mana kamarmu, Hyukjae?” tanya sang kakak sambil melirik koper di kaki Hyukjae.

“Jeno dan ayahnya tidur pulas di kamarku. Aku akan tidur di sini malam ini.”

Sungmin menaikan sebelah alisnya, seolah tidak percaya bahwa sekarang suaminya sudah tidur. Suatu ketika saat Sungmin pulang pukul dua dini hari, ia menemukan Donghae duduk termenung di ruang pagi, wajahnya terlihat lelah bukan main tapi matanya tidak bisa tertutup. Dari sana Sungmin mengetahui bahwa Donghae menderita insomnia akut, dan cukup yakin bahwa saat ini penyakit tersebut belum sembuh. “Apa perlu aku membangunkan mereka dan meminta mereka kembali ke kamar masing-masing?”

Itu terlalu kejam. Keponakan dan iparnya sudah pulas sekali, akan sangat menyakitkan jika mereka dibangunkan hanya untuk disuruh pindah ke kamar yang lain.

Hyukjae tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sungmin. Mungkin untuk Donghae, Hyukjae bisa mentoleransi ide Sungmin, tapi Jeno? Apa Sungmin benar-benar tega membangunkan anaknya yang tertidur lelap?

“Ayolah, noona. Aku tidur di mana saja seharusnya bukan masalah besar kan?”

“Tapi—”

“Ah, aku membawakan sesuatu untukmu.”

Sungmin langsung menutup mulut dengan pasrah dan bersidekap. Adik kesayangannya memang pintar mengalihkan perhatian.

Setelah mengaduk isi kopernya, Hyukjae akhirnya menemukan sebuah kotak berwarna coklat tanah lalu memberikannya kepada Sungmin.

“Boleh ku buka?”

Hyukjae mengangguk, dan merasa senang saat senyuman bahagia terbit di bibir sang kakak karena melihat isi dalam kotak tersebut.

“Kau menyukainya, noona?”

Sungmin mengambil satu dari empat cangkir lukis dari dalam kotak tersebut. Gambarnya berupa sebuah keluarga kecil yang duduk berjajar dengan latar padang rumput dan bunga sakura. “Ini indah, Hyukkie. Terima kasih.”

“Aku harap kau menggunakannya untuk minum teh, bukan anggur.”

Saat memilih hadiah tersebut, Hyukjae berharap bahwa Sungmin bisa sering menggunakan benda itu di rumah, setiap pagi untuk memulai harinya bersama keluarga kecilnya, memperbaiki rumah tangganya dan Hyukjae akan berhenti berhalusinasi tentang iparnya yang tampan.

“Tidak ada salahnya meminum anggur dengan cangkir, Hyukkie. Sensasinya akan tetap sama. Kau mau coba?”

Oh baiklah, Hyukjae mungkin memang membutuhkan segelas anggur untuk menutup harinya yang panjang. Sambil minum ia bisa membicarakan Jeno dengan kakaknya siapa tahu kakaknya ini bisa sedikit lebih perhatian kepada anaknya. Hyukjae pun mengangguk sebelum mengikuti langkah sang kakak turun ke lantai bawah.

Hyukjae berakhir dengan duduk di kursi tinggi mini bar dekat ruang tamu, membiarkan sang kakak pergi ke gudang penyimpanan di bawah tanah untuk mengambil anggur yang ia inginkan.

Selama Sungmin pergi, ponsel sang kakak yang ada di dalam tas jinjing berdering berkali-kali. Karena merasa Sungmin masih lama di bawah sana, Hyukjae memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.

“Halo? Kakakku sedang melakukan sesuatu. Jika ada sesuatu yang mendesak katakanlah, nanti akan ku sampaikan kepada kakakku.”

“Tolong sampaikan kepada nyonya Lee, Jaemin sakit.”

“Hanya itu?”

“Iya.”

“Baiklah.”

“Terima kasih.”

Setelah meletakan ponsel Sungmin, sang kakak akhirnya muncul dengan sebotol anggur tua di tangannya.

“Ada yang menelepon,” kata Hyukjae setelah sang kakak berada di depannya, mengambil pembuka tutup botol anggur dari penyimpanan.

“Siapa?”

“Aku tidak sempat menanyakan namanya, tapi orang itu mengatakan bahwa Jaemin sakit.”

Saat itu juga pergerakan Sungmin terhenti. Wanita itu langsung meletakan botol anggurnya untuk menyambar ponsel dan memeriksa daftar panggilan. Tak lama setelah itu, Sungmin menyambar tasnya sambil berkata kepada Hyukjae dengan wajah cemas. “Aku harus pergi.”

Belum sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi, Sungmin sudah berlari menuju pintu masuk. Saat Hyukjae sadar dan mengejar kakaknya, Sungmin sudah masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraan tersebut seperti orang kesetanan.

Siapa Jaemin? Mengapa kakaknya terlihat secemas itu setelah mendengar kabarnya? Kakaknya tidak terdengar secemas itu saat mengetahui Jeno sedang sakit. Semua hal itu mengganggu pikiran Hyukjae sepanjang malam, sampai akhirnya ia jatuh ke alam mimpi.

o0o

Malam berikutnya, Hyukjae tak lagi pusing memikirkan Jaemin karena ia sedang kesal. Wajah manis Hyukjae mengkerut ketika dirinya bangkit dari ranjang. Aroma iparnya kembali membuat Hyukjae merasa setengah gila. Kali ini bahkan lebih kuat, seolah beberapa detik yang lalu Donghae baru saja beranjak dari ranjang itu.

Hyukjae tak mungkin mengganti bed covernya lagi, para pelayan bisa berpikir ia melakukan hal yang tidak-tidak. Jadi, untuk mengusir rasa frustasinya, Hyukjae memilih untuk keluar, berjalan-jalan sejenak. Kebetulan sekali Ryeowook menelepon dan mengajaknya minum di bar sebuah hotel bintang lima tempat teman mereka bekerja.

Hyukjae, Ryeowook, dan satu teman mereka yang mempunyai pangkat manajer di bar tersebut duduk berjajar di depan seorang bartender yang sibuk meracik minuman, menikmati segelas wiski sambil menceritakan beberapa hal konyol yang membuat perut mereka sakit karena terlalu banyak tertawa.

Kemudian seorang lelaki berbadan tegap datang, memesan segelas vodka dan mengambil tempat di sebelah Hyukjae.

“Boleh bergabung?” tanyanya pada tiga sejoli itu, tapi matanya tidak meninggalkan mata Hyukjae sehingga membuat Ryeowook dan teman mereka mengerti bahwa lelaki itu ingin diberi kesempatan berdua saja dengan Hyukjae.

“Tentu.” Ryeowook yang menjawab. Ia sudah pasti senang sekali melihat lelaki itu menebar pesona kepada Hyukjae. Menurut Ryeowook lelaki itu tampan bukan main dan kelihatannya baik, cocok untuk Hyukjae.

Lelaki itu langsung menggeser kursi supaya lebih dekat dengan Hyukjae. “Choi Seunghyun,” kata lelaki itu sambil mengulurkan tangan kanannya pada Hyukjae.

“Lee Hyukjae,” balas Hyukjae, tak lupa menjabat tangan lelaki tampan di sampingnya.

Ketika hendak menarik tangannya, Seunghyun mengeratkan genggamannya, memberikan isyarat melalui tatapan mata supaya Hyukjae tidak mengakhiri kontak fisik mereka.

Tidak ada getaran dan tidak ada rasa panas membara yang membuatnya mendamba sesuatu. Sentuhan itu tidak membekas di hati Hyukjae, sama sekali tidak. Begitupun tatapan lelaki itu, padahal Hyukjae sangat yakin cara Seunghyun melihatnya sama persis seperti cara Donghae menatapnya pada minggu pagi.

“Nama yang indah,” puji Seunghyun. Senyumannya membuat wajah tampannya berkali lipat lebih mempesona.

Tapi Hyukjae hanya tersenyum canggung dan menyingkirkan tangan Seunghyun dari tangannya dengan sopan. Hyukjae sadar, dirinya tidak ingin disentuh siapapun selain Donghae. “Mereka teman baikku,” Hyukjae menunjuk Ryeowook dengan ibu jarinya. “Yang ini Kim Ryeowook dan yang satunya Hwang Chansung.”

Seunghyun tersenyum kepada mereka untuk formalitas saja, ia tidak mau dikatai sombong oleh Hyukjae. “Halo.”

Dua teman Hyukjae menjawab sapaannya sambil tersenyum ramah kepada Seunghyun.

Tak lama setelah itu, Chansung beranjak dari meja bartender dengan dalih pemilik hotel datang dan dia harus menyambutnya. Kemudian Ryeowook mendapat telepon dari Jongwoon, kekasihnya itu rupanya berada di bawah atap yang sama dengan mereka, sedang menunggu Ryeowook di salah satu ruangan di sana.

Ketika Hyukjae ingin ikut membubarkan diri, Ryeowook menahannya, mendesak temannya itu supaya tetap berada di sana bersama Seunghyun. Lelaki tampan itu sependapat dengan Ryeowook. Malahan, Seunghyun hampir berlutut hanya untuk membuat Hyukjae tetap tinggal.

Dasarnya Hyukjae yang sedang tidak ingin cepat pulang, ia pun pasrah, Hyukjae kembali duduk dengan tenang mendengar Seunghyun mengoceh masalah ini sampai itu.

Lama kelamaan Hyukjae merasakan matanya memberat dan kepalanya berputar-putar, bukan karena efek alkohol saja, ia cukup yakin ada hal lain yang ikut ia minum. Sayangnya, belum sempat ia menemukan kesimpulan yang benar, kepalanya sudah lebih dulu mendarat di telapak tangan kekar Seunghyun, menahannya supaya tidak membentur meja bartender.

Lelaki itu mendekatkan wajah mereka sambil membelai pipi Hyukjae menggunakan punggung tangan yang lain. “Maafkan aku, sayang. Tapi Hyukjae, kau harus jadi milikku malam ini.”

Sebuah telapak tangan kekar yang lain mendarat di pundak Seunghyun.

“Coba saja lakukan, dan aku akan pastikan besok kau tidak bisa melihat matahari lagi.”

Choi Seunghyun menoleh, dan mendapati Chansung berdiri di belakang lelaki berpakaian formal rapi, tampan, tapi wajahnya tidak bisa dibilang santai.

Sorry, but i have nothing to do with you.

“Tentu saja punya jika kau berniat memperkosa adikku yang tidak berdaya ini.”

Seunghyun terkesiap dan ia mendadak bisu saat lelaki tampan di depannya mengeraskan rahangnya.

o0o

Pukul tiga pagi.

Hyukjae mengerang, mengeliat dan akhirnya membuka mata. Ia menemukan dirinya terbaring di ranjang yang begitu asing. Hyukjae jadi bertanya-tanya apakah dirinya tidur dengan seseorang? Seunghyun? Mengingat seringaian tidak senonoh di wajah lelaki itu adalah hal terakhir yang ia ingat. Tapi pakaiannya masih lengkap, terpasang rapi dan pantatnya tidak nyeri. Jadi jelas jawabannya adalah tidak.

Setelah memeriksa jam di ponselnya yang diletakan seseorang di atas nakas, Hyukjae menyadari bahwa dirinya berada di sebuah kamar hotel. Hyukjae kemudian bangkit, matanya tanpa sengaja menemukan Donghae yang sedang tidur di sebuah sofa yang menghadap ranjang, atau mungkin sengaja dihadapkan pada dirinya?

Entahlah.

Lihatlah hal menggelikan yang menimpa Hyukjae. Tujuannya pergi adalah untuk menghindari aroma sang ipar yang tidak pernah gagal membuatnya berfantasi, tapi apa yang ia dapatkan sekarang? Bukannya terbebas, Hyukjae malah berakhir di dalam satu ruangan yang sama dengan Donghae.

Sambil menahan pengar, Hyukjae turun dari ranjang dan berjalan mendekati Donghae. Untuk kesekian kalinya ia pasrah, kali ini pada keinginan di dasar hatinya.

Tangannya terulur ke pipi Donghae yang kata Jeno tajam. Ia benar-benar ingin merasakan kulit lelaki itu, tapi sebelum semua ujung jemarinya mendarat di pipi sang ipar, tiba-tiba Donghae membuka mata dan menangkap pergelangan tangan Hyukjae dengan tangan kirinya.

Jantung Hyukjae langsung berdebar kencang seperti seorang pencuri yang tertangkap basah sedang menjarah. Ia tak bisa melakukan apapun saat Donghae menariknya hingga terjatuh di atas pangkuannya yang nyaman.

Sebisa mungkin Hyukjae tetap bersikap tenang. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Menikmati pesona Hyukjae, tentu saja, dan semuanya yang terasa mustahil untuk ia miliki.

Karena tidak mendapat jawaban, Hyukjae mencoba bangkit dengan mendorong dada Donghae, tapi upayanya malah membuat Donghae semakin menekan punggungnya, mempertemukan dada mereka dan membuat jarak antara wajah mereka tak lebih dari sepuluh senti.

“Sebentar saja, Hyukjae, ku mohon.”

Dari jarak sedekat itu, Hyukjae bisa mencium aroma racikan tembakau berpadu dengan beberapa rempah dan alkohol dalam napas Donghae.

Jagermaister.

“Kau mabuk, kakak ipar.”

“Mungkin iya, mungkin juga tidak.”

Iya untuk Hyukjae, dan tidak untuk minuman keras yang ia tenggak beberapa saat lalu.

“Kenapa aku berada di sini?”

“Kau minum sampai tak sadarkan diri di bawah.” Donghae tidak mungkin mengatakan bahwa Hyukjae diberi obat tidur dan hampir diperkosa orang asing. Iparnya itu tidak akan percaya karena kenyataannya saat ini dirinyalah yang terlihat seperti bajingan tidak bermoral. “Aku membawamu ke sini karena sedang malas menjadi supir orang mabuk.”

Bohong besar!

Yang sebenarnya adalah Donghae tidak bisa menahan diri dari godaan menghabiskan waktu bersama Hyukjae, tak masalah jika dirinya hanya melihat Hyukjae tertidur sepanjang malam karena pengaruh obat bius, siapa tau iparnya itu kembali mengigau minta ditiduri.

Oh, Donghae…

Tak bisa lagi menahan seluruh godaan, tangan Donghae mulai membelai punggung Hyukjae, semakin ke bawah melewati lekukan lembut pinggang sang ipar dan berakhir di atas pahanya yang indah.

Sialnya bagi Hyukjae, belaian Donghae terasa begitu menyenangkan, Hyukjae mau merasakannya lagi, ia tidak mau tangan kekar itu menjauh dari tubuhnya. “Jadi, apakah kau habis bersenang-senang dengan seseorang di sini?”

Merasa Hyukjae tidak akan lari darinya, Donghae akhirnya melepas cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Hyukjae, lalu menangkup leher mulus sang ipar. “Tidak, Hyukjae.” Tapi mungkin hal itu akan terjadi beberapa saat lagi. “Salah seorang manajer menelepon dan memintaku datang untuk menyelesaikan sebuah masalah.” jemarinya merayap ke pipi Hyukjae, membelainya hingga membuat napas Hyukjae semakin berat dan tak beraturan.

“Artinya, tempat ini milikmu?”

Dinding pertahanan Donghae hancur sudah. Ia hanya menggumam. Setelah itu, Donghae melenyapkan semua jarak di antara mereka. Ia mencium Hyukjae tepat di bibir yang merah menggoda itu, memagutnya dengan lembut, dan menyesap semua rasa manis yang dimiliki iparnya. Donghae tidak memberikan sedikitpun akses kepada akal sehat mereka untuk menginterupsi.

Beruntung bagi Donghae karena Sang ipar membalas cumbuannya dengan begitu baik, begitu semangat dan terampil.

“Aku tidak pernah tahu bahwa kau tertarik dalam bidang ini.”

Mencumbu seorang lelaki, bukan tentang tempat mereka saat ini.

Percayalah Hyukjae, dirimu bukan lelaki pertama yang merasakan betapa memabukannya bibir Donghae.

“Aku mendapatkan hotel ini dari salah satu teman yang pailit karena terjerat banyak hutang di meja judi,” kata Donghae di tengah kegiatannya menghisap dan mengecupi bibir Hyukjae.

Hyukjae mendesah, mendongak dengan mata terpejam saat bibir Donghae berpindah pada lehernya. Jemarinya meraba pada kancing pakaian Donghae, membukanya supaya bisa merasakan betapa kekarnya dada bidang sang ipar saat polos. “Such a lucky guy.”

Dan daftar keberuntungan Donghae bisa semakin panjang jika Hyukjae dengan suka rela mau menyerahkan diri kepadanya, membuka kakinya yang indah untuk Donghae.

I’m not,” ralat Donghae. Ia sudah berhenti mempermainkan leher jenjang Hyukjae yang menggoda. Saat ini lelaki tampan itu sedang menatap lekat-lekat mata Hyukjae yang sudah dipenuhi nafsu. “Kenyataannya adalah aku tidak akan bisa memiliki sesuatu yang paling aku inginkan.” Ibu jarinya membelai bibir bawah Hyukjae yang berkilauan.

“Apa?”

Lee Hyukjae.

Donghae memiringkan kepala, kembali menyatukan bibir mereka, menghujani Hyukjae dengan lebih banyak tuntutan dan hasrat. Cumbuan mereka kali ini lebih dalam dengan menggunakan semua elemen yang ada di dalam rongga mulut. Mereka saling mendorong, saling membelit, saling menghisap dalam kebutuhan yang semakin menggila, dan mereka tidak mau berhenti sampai di sana karena mereka belum menemukan nikmat yang sebenarnya. Surga duniawi mereka.

Ketika jemari Hyukjae meraba ikat pinggang Donghae, lelaki itu menggerang protes, menahan tangan Hyukjae dan berbisik di mulut Hyukjae. “Tidak di sini, sayang.”

“Lalu?”

“Ranjang. Maukah?”

Setelah membenamkan sebuah kecupan yang dalam di bibir Donghae, Hyukjae memisahkan diri dan segera berjalan mundur menuju ranjang. “Aku milikmu, Lee Donghae.”

Hanya sampai beberapa jam ke depan, tapi isi pikiran Donghae tidak sama dengan isi pikiran Hyukjae. Lelaki tampan itu menyimpulkan bahwa Hyukjae telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada dirinya, bukan hanya untuk beberapa jam saja, tapi untuk waktu yang tidak terbatas.

Donghae pun tersenyum, berdiri dan membuang atasannya ke sembarang tempat. Dengan bertelanjang dada Ia menghampiri Hyukjae, melepas mantel bulu Hyukjae lalu kaus putih berlengan pendeknya dan mendorong sang ipar hingga jatuh dengan lembut ke tempat tidur.

T.B.C

BOOM! Oke sampe situ aja ya XD Saya mau pamit hiatus sampe bulan depan. Maaf atas keterlambatan update chapter ini, maaf atas semua dramanya, dan maaf atas Nc nya yg menggantung di udara. Makasih buat semuanya yang udah ngeluangin waktu buat baca ff ini, yg udah ngasih perhatian lebih sama ff ini—review, fav, follow, dan yang ngasih dukungan penuh ke saya buat nerusin ff ini. Love you all! *kiss n hug* see you next chap

Advertisements

2 thoughts on “ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 4]

  1. Jeno kau menjerumuskan aboji sayang. Aboji jadi ketergantungan sama tamchuni. Sungmin mah keterlaluan orangnya, perhatian sama orang lain boleh tapi jangan sampai lupa sama keluarga kalik ah. Donghae itung2.nnya tepat, gak mau kehilangan jeno dan tentunya hyukjae sampe rela ngeremukin hati sendiri. Hyukjae siapa yang mengajarimu melakukan itu dengan iparmu???? Oh tapi tak apa, aku suka ☺😒
    Semangat next chapter kakak

    • Oh jangan menyalahkan bocah imut dan lucu itu. 😀 JEno enggak menjerumuskan, tapi menyatukan. kkkk
      Kn Hyukjae udah dapet ilham(?) dari mimpinya, jd akhirnya dy beneran menjatuhkan diri ke dalam pelukan Haek. 😀
      Hyuk di sini karakternya emang sedikit berani, semoga chingu gk ada masalah dengan itu.
      Pasti aku update, tp mungkin sedikit agak lama, sekitar bulan 7 sebelum mereka keluar wamil.
      Makasih udah ngeluangin waktu lagi buat baca ff ini. *kiss n hug*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s