ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 5]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre Rating: Full of Family (semi incest), Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Pelan tapi pasti. Begitulah cara mereka menukar gairah yang semakin lama semakin pekat dengan kepuasan yang tidak ada duanya. Mereka tidak bergerak terburu-buru saat bercinta, hanya sesekali menghentak dengan keras karena gemas pada puncak kenikmatan yang mendekat.

Kemudian, setelah gelombang dahsyat yang mereka kejar meresap pada tiap inchi bagian tubuh yang telah terpuaskan, Donghae mencium kening Hyukjae dengan sepenuh hati sehingga membuat adik ipar manisnya tersenyum dalam rasa damai di bawah kungkungannya.

Yang bisa Hyukjae simpulkan setelah kegiatan penyatuan mereka usai adalah; Donghae adalah tipe lelaki idamannya untuk masalah ranjang. Lelaki tampan itu begitu perkasa tapi juga lembut saat menunjukan dominasinya di atas tempat tidur. Donghae tahu dengan pasti bagaimana dan di mana ia harus menyentuh Hyukjae untuk membuat iparnya menggila dan meminta-minta surga.

Hyukjae menaiki teras sambil menggigit bibir untuk menahan senyum membayangkan sederet kejadian erotis yang ia alami selama waktu subuh bersama Donghae.

Sekujur tubuhnya terasa lelah, bahkan ada satu bagian dari dirinya yang terasa nyeri dan tidak bisa diajak berkompromi saat bergerak, tapi Hyukjae tidak akan menyalahkan Donghae atas semua ketidak nyaman yang ia rasakan saat ini, karena Hyukjae sendiri menginginkan semua ini. Hyukjae ingin merasakan lelaki tampan itu di sekujur tubuhnya.

Hyukjae sebenarnya masih ingin berada dalam pelukan Donghae, menunggu lelaki itu sampai membuka mata, membelainya lagi dan mungkin memulai sesi bercinta mereka yang lainnya. Hanya saja Hyukjae teringat kepada Jeno. Keponakannya yang lucu itu pasti tidak akan mau berangkat ke sekolah sebelum mengetahui di mana keberadaannya.

Mungkin akan berbeda ceritanya jika Sungmin ada untuk Jeno, sekedar untuk mempersiapkan bocah itu pergi ke sekolah saja, Jeno pasti mau menurut tanpa banyak tingkah mengingat seperti apa bocah itu mendamba perhatian dari ibunya.

Ngomong-ngomong soal Sungmin, sejak  Hyukjae menjawab panggilan di ponsel kakaknya, wujud bahkan suara Sungmin sedikitpun tidak terdengar di dalam rumah.

Sampai detik ini, ketika kaki Hyukjae hendak menginjak tangga menuju lantai dua.

“Dari mana saja kau?”

Bayangan dirinya melakukan penyatuan dengan Donghae berputar-putar di kepala Hyukjae, seolah sedang menampar jiwanya sekaligus mengingatkan bahwa yang bercinta dengannya adalah suami Sungmin, suami kakaknya sendiri.

Ah, kenapa sisi sehat dari akal Hyukjae baru muncul sekarang?

Dengan perlahan Hyukjae menoleh untuk melihat kakaknya duduk bersandar pada salah satu sofa sambil menyilangkan tangan di depan dada, wajahnya terlihat kesal bukan main dan pakaian tidurnya masih rapi. Sungmin mungkin terjaga semalaman di sana untuk menunggu Hyukjae pulang, atau mungkin juga bukan menunggu sang adik, tapi menunggu Donghae, suaminya.

“Kapan kau pulang, noona?” tanya Hyukjae dengan nada gugup yang jelas tidak mengesankan bagi Sungmin.

“Aku bertanya, dari mana saja kau, Lee Hyukjae?”

Sang adik menelan ludah memdengar nada bicara sang kakak yang naik satu oktaf. Haruskah Hyukjae berkata jujur bahwa dirinya usai menghabiskan malam—atau subuh—yang menggairahkan dengan Donghae?

Oh, mengapa Sungmin tidak muncul sebelum kabut hasrat menutup rapat akal sehatnya?

“Kau menginap di rumah siapa? Dengan siapa? Kenapa kau bertingkah seperti ini lagi Hyukjae?”

Terakhir kali Hyukjae menghabiskan malamnya di luar rumah adalah saat Sungmin masih lajang, dan Hyukjae masih menyandang status sebagai mahasiswa berpola pikir labil yang mudah terjerat oleh bujuk rayu pergaulan bebas yang manis. Sekarang, Hyukjae tidak seperti itu, meskipun hatinya masih tetap lemah terhadap beberapa hal, seperti pesona lelaki tampan semacam Lee Donghae.

Hyukjae yang tadinya takut mendadak jadi jengkel. Ia tidak suka mendengar sederet pertanyaan Sungmin karena ia jadi merasa seperti anak kecil yang bahkan tidak bisa mengeja alamat rumahnya sendiri.

“Astaga, noona. Aku sudah dewasa bahkan bisa dikatakan tua. Berhenti memperlakukanku seperti seorang bayi.”

“Lee Hyukjae, apakah kau tidak mengerti bahwa aku mencemaskanmu?”

“Tapi noona keterlaluan!” Mengingat pada Jeno Sungmin bahkan tidak mau mendekat. Bagaimana mungkin kakaknya sepossessive ini padanya?

Wajah Sungmin kemudian melembut, ia berjalan mendekati Hyukjae untuk menangkup sebelah pipi sang adik. “Kau satu-satunya keluarga yang aku punya—” tidak benar! Sungmin masih memiliki Jeno, dan Donghae sebagai suaminya. “—tapi kau malah berkeliaran seenak pantatmu sampai pagi. Tidakkah kau mengerti apa yang aku rasakan?”

Hyukjae tidak berkeliaran! Dirinya hanya terjebak dalam situasi yang benar-benar tidak terduga oleh siapapun terutama Sungmin. Hal itu membuat rasa jengkel di hati Hyukjae surut, berganti dengan perasaan bersalah.

Selama ini Sungmin sudah seperti seorang ibu bagi Hyukjae, kakaknya selalu menjaganya, merawat, dan menyayanginya sepenuh hati, lantas apa yang telah Hyukjae berikan pada Sungmin sebagai balasannya?

Penghianatan?

“Baiklah, tidak masalah jika kau tidak ingin mengatakan di mana kau bermalam. Kita tidak perlu memperdebatkan hal sialan ini lagi. Yang terpenting kau sudah pulang dalam keadaan aman dan aku bisa tidur dengan tenang sekarang.”

Kenapa tidak sedari tadi Sungmin mengatakan hal itu? Kenapa Sungmin harus membuat Hyukjae terbawa emosi dulu dan makin membuatnya merasa bersalah?

Noona—”

“Jangan memasang wajah seperti itu,” kata Sungmin sambil tersenyum lemah melihat penyesalan Hyukjae. “Jika kau benar-benar menyesal, maka jangan mengulanginya lagi, mengerti?”

Bercinta dengan Donghae?

Bukan hal itu yang dimaksudkan oleh Sungmin, tapi Hyukjae tidak bisa membersihkan isi pikirannya dari hal-hal tersebut, bahwa dirinya telah tidur dengan kakak iparnya, menghianati kakaknya sendiri.

Mianhae, noona,” kata Hyukjae sambil menunduk, tidak berani menatap sang kakak.

Setelah itu, Sungmin menepuk pipi Hyukjae beberapa kali dan berjalan meninggalkan sang adik. Ia menapak tangga, menghilang dalam koridor dan tidak menampakan diri sampai ia berangkat lagi ke rumah sakit.

o0o

Ponselnya terapit di antara pipi dan pundak. Tangan kanannya memegangi sebuah kotak dan yang kiri membuka pintu kamar. “Jeno baik-baik saja, eomonim. Dia tumbuh dengan cepat dan tidak kekurangan apapun.” Selain kasih sayang Sungmin.

Saat ini ibu mertua Sungmin menetap di Shanghai bersama ayah tiri Donghae. Tiap tiga bulan sekali mereka akan berkunjung dan menginap sampai berhari-hari, tapi hanya ibu dan adik tiri Donghae, ayahnya tidak pernah ikut karena hubungannya dengan Donghae tidak cukup baik.

Sungmin meletakan kotak di tangannya dengan hati-hati di atas meja rias, bersebelahan dengan tumpukan undangan dari berbagai acara yang sebagian besar ditujukan untuk Donghae. Ia memeriksa satu persatu lembaran tebal tersebut hingga berjumpa dengan undangan pernikahan yang di dominasi warna lilac. “Eomonim benar, undangannya sudah sampai di rumah.” Sungmin mengamati undangan terdebut lalu mengernyit tidak suka dengan tanggal yang tertera di sana. Waktunya bertepatan dengan seminar kesehatan yang diadakan oleh dinas kesehatan kota.

“Tentu eomonim, akan ku bujuk Donghae untuk datang.” Sedangkan untuk dirinya sendiri? Jangan ditanya, karena Sungmin sudah mengambil keputusan untuk tidak datang. Dia adalah nara sumber dalam seminar nanti.

“Baiklah. Jaga kesehatan eomonim.”

Setelah sambungan itu terputus, Sungmin meletakan ponselnya di atas meja lalu menghela napas. Ia memandang pantulan dirinya di cermin yang tampak lelah karena seharian beraktivitas.

Pernah di suatu titik Sungmin menyesal telah memilih profesi sebagai dokter yang harus selalu mengutamakan kepentingan orang yang membutuhkan jasa dan pengetahuannya. Ia menginginkan kehidupan seperti teman-temannya yang lain. Berangkat dan pulang kerja dengan teratur juga mempunyai jadwal libur yang pasti jadi ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan sang suami.

Namun jika dirinya dulu memilih hal lain, maka Sungmin tidak akan bertemu dengan malaikat kecil cantik bernama Jaemin, tidak akan bertemu Donghae, saling tertarik, dan akhirnya menyandang gelar sebagai istri Donghae.

Hanya status, tidak lebih dari pada itu.

Sungmin mengerti dan merasakan bahwa selama ini Donghae tidak merasa puas dengan sikapnya sebagai seorang istri terlebih seorang ibu untuk putra mereka yang tampan. Donghae menginginkan dirinya bisa dekat dengan Jeno, menuruti semua kemauan anak itu, dan menghujaninya dengan kasih sayang, tapi Sungmin tidak bisa melakukan semua hal itu. Ia sendiri tidak pernah mengerti mengapa dirinya bisa sampai hati untuk tidak memeluk atau mencium Jeno ketika bocah itu berada di hadapannya, tersenyum lucu dan memberikan salam manis kepadanya.

Pintu kamar mandi terbuka, lalu Donghae keluar dari dalam sana hanya dengan memakai celana hitam selutut dan handuk yang menutupi rambut hitamnya yang basah. Dada bidangnya terpampang jelas di mata Sungmin.

Dulu Sungmin sering sekali bermanja-manja di tempat tersebut sembari Donghae membelai rambutnya dengan mesra, lalu mereka menceritakan banyak hal yang kadang berakhir dengan kegiatan percintaan yang menyenangkan. Sungmin sangat menyukainya, sampai saat ini pun ia masih menyukai semua itu dan sering bertanya-tanya kapan kiranya Donghae bisa kembali bersikap mesra padanya seperti dulu?

Eomonim menelepon, dan meminta kepada kita untuk datang ke acara pernikahan anak dari teman abeonim,” kata Sungmin sambil berbalik untuk menghadapkan diri kepada sang suami.

“Aku punya acara penting di hari itu.”

“Tidak ada salahnya menyenangkan orang tuamu, kan?”

Ibunya mungkin tidak salah, tapi ayah tirinya? Donghae tidak akan sudi.

“Kau bisa menyenangkan orang tuaku tanpa bantuanku.”

“Donghae~” Sungmin berkata lembut sambil mendekati Donghae di ujung ranjang yang sedang mengeringkan rambut. “Eomonim sudah mengirimkan hadiah dan aku sudah berkata kau bisa menghadirinya.”

“Seharusnya kau berpikir panjang sebelum menyatakan kesanggupan untuk seseorang.” Merasa rambutnya sudah setengah kering, Donghae meletakan handuknya dan memunggungi sang istri untuk mengambil t-shirt putih yang sudah dipersiapkan di atas ranjang. “Kau bisa pergi ke sana sendiri. Akan ku pesankan gaun untukmu besok.”

Tidak, bukan itu yang diinginkan Sungmin.

Sang istri hendak protes, tapi diurungkan karena matanya menangkap jejak kuku seseorang yang mulai memudar di punggung tegap Donghae.

Sebuah tanda bahwa suaminya yang tampan telah berkhianat.

“Siapa….” yang berani meninggalkan tanda seperti itu di punggung tegap suaminya? Apakah itu alasan mengapa beberapa hari yang lalu suaminya tidak pulang? Karena bermalam dengan seseorang di luar sana? Dan apakah orang itu juga alasan bahwa Donghae tidak bisa datang untuk mewakili orang tuanya? Donghae ingin menghabiskan waktu dengan kekasih gelapnya?

Napas Sungmin memburu, ia mengepalkan tangan untuk mencegah rasa sakit di hatinya bertumbuh besar, lalu menghibur diri sendiri dengan berpikir bahwa bekas tersebut bisa jadi ulah Donghae sendiri saat menggaruk punggung.

Setelah Donghae memakai t-shirt putihnya, lelaki tampan itu menjauh dari Sungmin untuk mengambil ponsel dan beberapa berkas dari dalam tas kerja.

“Kau mau ke mana, Lee Donghae?”

Tidakkah sudah jelas kemana lelaki itu akan pergi?

Sang suami kembali menghadapkan diri pada Sungmun lalu menyilangkan lengan di dadanya. “Luar biasa, kenapa akhir-akhir ini kau begitu peduli padaku?”

Tentu saja. Istri mana yang tidak akan peduli pada suami yang berindikasi selingkuh?

“Jawab saja, ke mana kau akan pergi?”

Tapi Donghae berbalik, lalu berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar tanpa mengatakan sepatah katapun. Hal itu membuat wajah Sungmin memerah karena marah dan terhina, ingin sekali memecahkan sesuatu tapi ia menekankan pada diri sendiri untuk sabar. Jika dirinya sampai lepas kendali, Donghae bisa menjadi waspada dan pada akhirnya Sungmin tidak akan mengetahui apa-apa mengenai kekasih gelap suaminya

Setelah menghela napas, tiba-tiba wanita cantik itu merasa lelah bukan main pada kehidupan dingin rumah tangga yang harus ia jalani, tapi Sungmin tidak bisa menyerah, Ia akan bertahan karena ia mencintai Donghae dan akan menggunakan segala cara untuk membuat Donghae tetap berada dalam genggamannya.

o0o

Enam hari lima malam telah berlalu.

Di setiap pagi dan malam, Donghae dan Hyukjae memang selalu menghabiskan waktu bersama di meja makan, tapi Hyukjae tak sedikitpun menunjukan minatnya kepada Donghae. Hyukjae hanya berbicara seperlunya tanpa menatap lawan bicaranya, bahkan kadang hanya menggumam untuk menjawab pertanyaan Donghae.

Hyukjae juga menolak untuk ikut pergi ke taman hiburan di hari Minggu dengan dalih ia mempunyai pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan. Untuk Jeno, alasan tersebut sudah pasti masuk akal dan bisa langsung diterima, tapi Donghae bukan bocah ingusan, lelaki tampan itu tahu jika iparnya hanya sedang tidak ingin berada di dekatnya.

Donghae jadi bertanya-tanya; Apakah saat mereka bercinta, dirinya melakukan sesuatu yang tidak disukai Hyukjae? Terlalu kasar mungkin? Tapi iparnya itu tidak menunjukan tanda-tanda ketidaknyamanan, saat mereka bercinta, Hyukjae malah terlihat begitu bersemangat memadu kasih dengannya, sama persis seperti yang dirasakan Donghae.

Apa karena Donghae yang akhirnya jatuh ke alam mimpi terlebih dahulu?

Ayolah, Donghae saat itu belum tidur sama sekali, wajar jika ia mengantuk setelah tiga kali mencapai klimaks bersama Hyukjae. Lagipula, saat itu Hyukjae juga tidak terlihat marah, iparnya itu malah membelai pipinya dan memintanya untuk menutup mata, beristirahat sejenak sebelum matahari bersinar terang di langit timur.

Sudah cukup.

Jika keadaan ini berlangsung sampai genap tujuh hari dan tujuh malam, mungkin Donghae benar-benar bisa gila karena dihantui pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya, ditambah sikap iparnya yang benar-benar acuh.

Donghae memutuskan masuk ke dalam kamar Jeno yang pintunya setengah terbuka.

Di dalam sana, iparnya yang manis sedang berbaring menyamping menghadap jeno, menceritakan kisah tentang putri salju dan seorang pemburu dalam keadaan setengah mengantuk.

Hari ini Hyukjae pulang sedikit terlambat, wajahnya terlihat letih sekali dan kurang konsentrasi, iparnya itu bahkan masih memakai helm warna putih dan atribut keselamatan kerja lapangan lainnya saat menginjakan kaki di ruang santai.

Hyukjae juga hampir jatuh karena terpeleset di anak tangga pertama, beruntung iparnya yang manis itu masih bisa menjaga keseimbangan dengan berpegang pada pagar pembatas tangga.

Setelah memastikan tidak ada yang menyaksikan tingkah konyolnya, Hyukjae pun melepas helmnya dan bergegas naik ke lantai atas dengan badan tegap, tak tahu bahwa sedari tadi Donghae mengamatinya dari jauh sambil menahan diri untuk tidak berlari dan memeluk sang ipar.

Jeno yang pertama kali tahu bahwa ayahnya yang tampan berjalan mendekati ranjang, sedangkan Hyukjae masih mengoceh sambil membelai rambut bocah lucu dalam dekapannya.

Abeoji?” kata Jeno sambil menoleh kepada Donghae, tapi tidak berniat melepaskan diri dari pelukan sang paman yang nyaman.

Barulah saat itu Hyukjae sadar akan kehadiran Donghae dan langsung terduduk dengan wajah waspada saat melihat pintu kamar Jeno ditutup rapat.

Hal yang Hyukjae ingat saat terakhir kali mereka berada di ruangan yang sama dengan pintu tertutup adalah; Mereka tanpa rasa malu mengumbar hasrat hingga berakhir dengan posisi saling tumpang tindih, tanpa busana, dan dibanjiri keringat serta kenikmatan dalam helaan napas yang memburu. Hyukjae tidak mau itu terjadi lagi, sekalipun sisi lain dari dirinya yang tidak munafik berteriak bahwa ia menginginkan Donghae di seluruh tubuhnya, lagi.

Lelaki tampan itu duduk di tepi ranjang, menghadapkan dirinya kepada Jeno, dan juga melirik Hyukjae sesekali. “Kenapa belum tidur?”

“Jeno belum mengantuk, abeoji~”

“Jeno menginginkan sesuatu?”

Bocah lucu itu menggeleng.

“Jeno mau tidur ditemani abeoji?”

“Mau,” kata Jeno sambil tersenyum, membuat Hyukjae langsung merasa diduakan dan tersisihkan, tapi Hyukjae cukup tahu di mana posisinya untuk anak ini.

Hyukjae pun bergeser hendak turun dari ranjang dan pergi dari tempat tersebut untuk memberikan kebebasan kepada pasangan anak dan ayah ini, tapi Jeno buru-buru memegangi lengan sang paman sambil cemberut. “Jangan pergi, Tamchunie, Jeno juga mau tidur dengan Tamchunie~”

Artinya dengan Donghae juga?

Oh, ini buruk sekali, lebih buruk daripada disisihkan. Hyukjae akan terkurung bersama Donghae lagi dan kemungkinan akan membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya. “Tapi, sayang—”

“Please~” kata Jeno dengan nada rayuan anak kecil termanis.

Oh ya ampun, betapa menggemaskannya makhluk lucu yang satu ini. Mana rela Hyukjae beranjak dari sana?

Hyukjae tanpa sadar membungkuk, mencium pipi Jeno dengan gemas lalu berbaring lagi di samping Jeno. “Baiklah, akan Samchun temani.” Sekarang Hyukjae harus memikirkan cara supaya keponakannya yang banyak maunya ini cepat tidur dan Hyukjae bisa cepat keluar dari ruangan yang sama dengan Donghae.

Tak hanya Jeno yang memekik senang, karena Donghae juga sedang melakukan hal yang sama dalam hati.

Akhirnya, Donghae menyusul berbaring di ranjang Jeno yang seharusnya hanya muat untuk dua orang dewasa. Sebisa mungkin menahan diri untuk tidak terjatuh demi menyenangkan hati bocah itu.

Bahkan dalam posisi sedekat itu, sikap Hyukjae masih sama seperti sebelumnya. Iparnya yang manis itu tetap tidak mau memandangnya padahal Donghae benar-benar ingin ditatap dengan sepasang mata indah milik Hyukjae.

Donghae mendaratkan tangannya di atas punggung tangan Hyukjae yang sedang menepuki badan Jeno. Donghae membelainya, dan saat Hyukjae menarik tangannya, lelaki tampan itu dengan cekatan menahan tangan Hyukjae supaya tetap berada di atas badan Jeno.

Hyukjae membuka mata, dan melihat Donghae dengan tatapan jengkel. Tanpa kata-kata ia meminta lelaki tampan di depannya untuk segera menyingkir dari tangannya.

Ada puluhan kalimat yang telah berjajar rapi dan siap untuk dihujankan kepada Hyukjae, tapi Donghae tak sampai hati membuat iparnya terjaga lebih lama lagi saat melihat mata Hyukjae yang benar-benar redup karena lelah. “Istirahatlah, Hyukjae,” kata Donghae dengan begitu jelas, dalam artian lelaki ini jelas tidak akan melakukan hal yang lebih berani dari sekedar menggenggam tangan, Donghae tidak akan menuntut apapun dari Hyukjae.

Memangnya siapa dan apa posisi Donghae untuk Hyukjae sehingga lelaki itu sampai berani menuntut sesuatu kepada Hyukjae?

Tak lebih dari seorang kakak ipar yang pernah berhubungan intim dengan adik iparnya sendiri. Itu saja.

Baiklah, karena Hyukjae benar-benar kelelahan secara fisik jadi ia pun mengabaikan segalanya termasuk ucapan selamat malam Donghae untuknya dan juga Jeno, memejamkan mata, dan membiarkan Donghae menepuki tangannya sampai ia terlelap bersama Jeno.

o0o

Hyukjae terbangun saat merasakan belaian jemari Donghae di pipinya.

Memangnya siapa lagi?

Hyukjae sangat yakin dirinya tidak keluar semalam, tidak mabuk, ataupun ditendang keluar dari rumah oleh Sungmin karena ketahuan telah tidur dengan suaminya.

Hyukjae mendapati Donghae berbaring menghadap padanya dengan mata terpejam, tapi lelaki ini tidak tidur.

Mereka berdua sudah berpindah di kamar Hyukjae, entah sejak kapan Hyukjae juga tidak tahu, yang jelas sekarang sudah waktunya ia bangun dan menjalani rutinitas subuhnya yakni berlari.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Donghae membuka mata, belaiannya berhenti dan hal tersebut membuat Hyukjae seperti kehilangan sesuatu.

Donghae tersenyum dan menggeser dirinya untuk lebih dekat kepada sang ipar, tapi Hyukjae menahan dada Donghae supaya tetap membuat jarak dengannya.

“Apa yang terjadi di hotel adalah kesalahan, kakak ipar.”

Itu bukan panggilan kesukaan Donghae, lelaki tampan ini lebih suka jika namanya dialunkan dengan lengkap oleh Hyukjae, apa lagi dengan nada manja penuh permohonan.

“Dan aku tidak mau itu terulang lagi.” Terlebih di sini, rumah di mana kakaknya tinggal dan menjadi nyonyanya. “Tolong, pergilah.”

Mendengar hal itu Donghae menjadi kecewa, tapi ia tetap tersenyum memaklumi. “Kita tidak akan melakukan apapun Hyukjae.” Tidak sekarang karena Donghae berpikir Hyukjae hanya sedang tidak dalam keadaan ingin ia sentuh. Pantat Hyukjae mungkin masih nyeri.

Mengabaikan permintaan Hyukjae sebelumnya, Donghae bertahan dengan posisinya, ia tidak akan beranjak ke manapun. Ia menyukai kenyamanan saat berada di dekat Hyukjae, dan tidak masalah jika mereka tidak melakukan apapun selain saling memandang.

Hyukjae yang tidak menyukai suasana tersebut, karena ia mulai merasa canggung. Ingin rasanya mendorong Donghae sampai terjatuh dari ranjang untuk membebaskan diri, tapi Hyukjae pun tak sampai hati untuk melihat Donghae meringis kesakitan di lantai. “Mintalah seseorang untuk memindahkan ranjangku ke kamarmu, jika kakak ipar memang menyukai ini.”

Apa lagi yang bisa Hyukjae katakan untuk membuat keheningan di antara mereka pecah? Hyukjae pun tidak bisa beranjak dari tempat tidur karena kakinya seperti penghianat keji yang tidak bisa lagi diajak berkompromi untuk lari dari pesona Donghae.

Oh lihatlah, lelaki ini tidak dalam keadaan paling tampan. Dia hanya memakai t-shirt kelabu, cambangnya memanjang tidak elegan dan mukanya kusut karena bangun tidur, tapi kenapa pesonanya tidak pernah gagal membuat setengah dari akal sehat Hyukjae melayang-layang?

Donghae tersenyum antara miris dan geli.

Bukan ranjang ini yang diinginkan Donghae ada di kamarnya, tapi Hyukjae, jiwa dan raganya, dan tidak ada orang lain di antara mereka. Tidak Sungmin, tidak Siwon, tidak Seunghyun, ataupun orang-orang dengan inisial S lain yang ada di sekitar mereka.

“Itu merepotkan.”

“Akan lebih merepotkan jika nanti kakakku menemukanmu di sini.”

Lalu pintu kamar Hyukjae diketuk, dan suara Sungmin yang lembut masuk ke dalam kamar itu.

“Kau sudah bangun, Hyukjae?”

Panjang umur, Lee Sungmin.

Hyukjae terlonjak kaget dan langsung menegakan badan, napasnya tertahan di tenggorokan dan wajahnya jadi pucat.

Apa yang akan dilakukan Sungmin ketika ia melihat Hyukjae dan Donghae berada di atas ranjang yang sama dengan posisi sedekat ini? Mungkinkah Sungmin akan mencekik salah satu dari mereka sampai sesak napas dan meninggal?

Jika sekarang memang akhir dari hidupnya, biarkan Hyukjae berdoa dengan tulus untuk meminta pengampunan kepada Tuhan atas semua dosanya. Terutama untuk dosa yang ia lakukan bersama Donghae.

Oh Tuhan, Hyukjae benar-benar tidak ada niat untuk menggoda Donghae. Semuanya terjadi begitu saja, begitu cepat dan tidak bisa dicegah.

“Jangan cemas, aku sudah mengunci pintunya.”

Perkataan Donghae sama sekali tidak membantu menenangkan Hyukjae, malahan Hyukjae merasa jengkel. Lihat betapa brengseknya lelaki tampan ini. Ia tetap berbaring santai sambil melipat satu tangannya di bawah kepala, seolah ia tidak keberatan jika Sungmin mengetahui tentang semua hal yang mereka lakukan.

Hyukjae memutuskan untuk diam saja sampai akhirnya ia mendengar langkah kaki Sungmin menjauh. Kakaknya sudah menyerah dengan cepat dan Hyukjae amat bersyukur atas hal itu.

Tak lama setelah itu, ponsel Hyukjae berdenting, menandakan adanya pesan masuk. Hyukjae meraih dan membuka pesan yang tidak lain berasal dari Sungmin.

Aku sarankan untuk memulai terapi supaya kebiasaan mengigaumu itu bisa hilang.

Sang kakak pasti telah mendengar suaranya atau suara Donghae tadi sehingga mengira dirinya mengoceh dalam tidur.

Setelah Hyukjae mendengar suara mesin mobil menjauh dari rumah, Hyukjae menoleh pada Donghae yang sedang duduk meminum air. Ia jadi penasaran. “Apa aku pernah mengigau saat tidur?”

Donghae langsung terbatuk karena pikirannya tiba-tiba kembali pada kejadian di mana Hyukjae minta dicumbu dan ditiduri.

“Itu artinya benar. Apa yang aku bicarakan saat tidur?”

Hal yang tentu akan sangat memalukan bagi Hyukjae jika Donghae mengatakannya. “Kau tidak mengigau, Hyukjae.”

“Bohong.” Karena Hyukjae tahu mengigau adalah kebiasaannya yang belum bisa hilang. Pokok dari semua aibnya. Saat di luar kota Ryeowook sempat mengeluh habis-habisan karena tidak bisa tidur berkat igauan Hyukjae tentang Jeno. Beberapa kekasih Hyukjae dulu juga pernah mengeluhkan hal yang sama. Anehnya, mereka semua tetap menginginkan tidur dengan Hyukjae bahkan setelah tidak memiliki hubungan apapun aliyas putus.

Nah, di sini Hyukjae merasa perlu untuk mencari tahu tentang apa yang ia bicarakan saat tidur. Ia ingin memastikan bahwa Donghae tidak tahu tentang hal paling memalukan yang pernah ia lakukan.

“Terserah,” kata Donghae sambil meletakan gelas di atas nakas dan berniat bangkit dari ranjang, merasa perlu untuk menghindari Hyukjae saat ini. Tapi rupanya Hyukjae cukup cekatan. Iparnya yang manis itu sudah lebih dulu menarik lengan Donghae ketika lelaki tampan itu menyibak selimut.

“Beritahu apa yang aku katakan saat tidur.”

Donghae terdiam dengan sebelah alis terangkat, kemudian ia melirik jemari Hyukjae di lengannya bergantian dengan wajah Hyukjae. “Apa kau benar-benar yakin ingin tahu?”

Hyukjae mengangguk penuh keyakinan.

Artinya Hyukjae siap dengan semua konsekuensinya kan?

Kali ini Giliran Donghae yang menarik lengan Hyukjae, memasukan iparnya ke dalam rengkuhan lengan kekarnya dan tidak menyisakan jarak untuk dada mereka.

Oh, oh! Kenapa hal seperti ini terulang lagi?

Hyukjae jadi panik dan menyesal telah mengejar jawaban dari Donghae.

“Ini yang kau bicarakan saat tidur.”

Tanpa peringatan, Donghae mengecup bibir Hyukjae, tidak lama tapi cukup untuk mengguncang seluruh tubuh Hyukjae, mengumpulkan serpihan hasrat dari seluruh penjuru di dalam dadanya.

“Dan ini.”

Kemudian tangan Donghae menjelajah dari ujung jemari naik menyusuri lengan indah sang ipar sampai berhenti di pundak, detik berikutnya tangan Donghae meraba pada kancing teratas pakaian Hyukjae untuk dibuka dengan perlahan.

Bohong jika Hyukjae berkata tidak menikmati tiap detik dari kontak fisik tersebut karena nyatanya ia sempat memejamkan mata menikmati aliran listrik yang menghidupkan gairah dalam dirinya, bahkan hampir mendesah.

“Kau menginginkanku,” kata Donghae dengan suara parau sambil menatap mata Hyukjae yang mulai tidak fokus karena kabut hasrat. Lihat, betapa indahnya sosok manis ini.

Donghae tidak peduli pada siapa yang ada dalam mimpi Hyukjae saat itu. Yang jelas saat Hyukjae mengigau, dialah lelaki yang ada di atas Hyukjae, yang dipeluk Hyukjae, yang mendengarkan permintaan Hyukjae dan juga menginginkan hal yang sama dengan apa yang diinginkan Hyukjae dalam mimpi. Hyukjae harus bertanggung jawab atas kejadian waktu itu, sekarang!

“Apakah kau juga menginginkanku?” tanya Hyukjae saat Donghae kembali mendekatkan wajah untuk mencumbunya. “Apa kau menyukaiku?”

Jangan melempar pertanyaan itu Hyukjae.

“Jika iya, lantas milik siapakah hati tuan Lee Donghae yang terhormat ini? Milikku atau milik kakakku?”

Donghae mendadak bisu. Pergerakan tangannya di pakaian Hyukjae terhenti padahal tinggal satu kancing lagi atasan tidur Hyukjae bisa disingkirkan.

Donghae pikir ia sudah siap untuk memberitahukan segalanya kepada Hyukjae.

Ternyata tidak.

Donghae bahkan tidak bisa mengeluarkan satu pun kata untuk menjawab pertanyaan Hyukjae sekalipun ia memiliki jawaban yang dimau sang ipar.

Akhirnya Lelaki tampan itu turun dari ranjang dan berjalan mundur menuju pintu seperti bajingan keji yang tidak mengenal apa itu tanggung jawab, meninggalkan Hyukjae dalam keputusasaan yang tidak bisa ditoleransi.

Di mata Hyukjae, Donghae tak lebih dari seorang kakak ipar yang brengsek.

o0o

Semua tamu undangan berhasil dibuat tercengang dengan konsep pernikahan yang dipilih Ryeowook. Bahkan Hyukjae, yang sedikit banyak sudah tahu tentang susunan acara bahagia temannya ini juga ikut terkagum-kagum.

Mulanya Hyukjae berpikir pestanya hanya akan berlangsung di sebuah gedung dekat semenanjung Incheon, ternyata gedung tersebut hanyalah tempat persinggahan sementara, untuk mengumpulkan dan mengabsen para tamu, pesta yang sebenarnya berlangsung di dalam sebuah kapal pesiar yang direncanakan berlayar di sekitar perairan Korea bagian barat.

Tak sampai di situ, Hyukjae dan para undangan masih harus dibuat tercengang lagi saat melihat dekorasi ruangan yang didominasi warna putih dan hijau. Sulur-sulur dan bunga-bunga ditata sedemikan rupa pada tiap sudut dan tiap meja sehingga suasananya terasa seperti sedang menginjakan kaki di kebun bunga yang terawat.

Hyukjae bahkan merasa seperti sedang berada di sebuah pulau kecil yang bergerak di tengah laut, bukan kapal.

Sangat pantas jika Ryeowook sempat mengalami gangguan jiwa ringan saat mempersiapkan semua ini, dan membuat Hyukjae naik darah beberapa kali karena dijadikan sasaran kegilaan.

Yang disayangkan dari pesta tersebut hanya satu.

Lee Donghae juga hadir dalam pesta tersebut. Menjadi wakil dari ayah tirinya yang merupakan teman baik ayah Jongwoon.

Oh! Mengapa Donghae selalu muncul terutama disaat Hyukjae paling tidak ingin lelaki tampan itu ada dalam jangkauan matanya? Di dekatnya?

Hyukjae masih menyimpan kemarahan khusus kepada Donghae, karena berkat lelaki tampan itu seharian penuh Hyukjae jadi tidak bisa fokus bekerja lantaran hasratnya tidak bisa diajak berkompromi.

“Aku tidak tahu skenario apa yang ada di balik semua ini, tapi aku sangat berterima kasih karena kau membawa Lee Donghae ke sini,” kata Ryeowook sambil mencondongkan badannya ke samping, mengatur suaranya di tingkat terendah supaya tidak ada orang lain yang mendengarkan percakapannya dengan Hyukjae. “Pesta pernikahanku jadi semakin meriah.” Ryeowook tersenyum senang sambil melirik Lee Donghae di meja lain yang sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang, sama sekali tidak keberatan jika pusat perhatian dalam pestanya berubah menjadi lelaki tampan itu, bukan lagi dirinya ataupun Jongwoon.

“Aku ikut senang untukmu.”

Bohong besar!

Kenyataannya adalah, Hyukjae tidak senang sama sekali ada di sini. Ia tidak bisa menikmati tiap detik yang berlalu dalam acara bahagia tersebut karena tiap kali Donghae menatapnya, Hyukjae jadi ingin lari sejauh-jauhnya dari ruang lingkup pesona lelaki tampan itu sekaligus ingin menjatuhkan diri sedalam-dalamnya ke dalam pelukan Donghae.

Hyukjae butuh terapi kejiwaan. Benar-benar membutuhkannya.

Dan satu lagi, Hyukjae tidak membawa lelaki itu ke pesta ini. Sungmin yang memaksa Donghae untuk datang.

Kemarin malam, Kakaknya itu pulang membawa setelan formal untuk Donghae, lalu berdebat habis-habisan di dalam kamar dengan Donghae yang bersikeras tidak mau datang ke sebuah pesta penikahan.

Saat itu Hyukjae tidak tahu bahwa pesta yang mereka maksud adalah pesta ini. Jika Hyukjae tahu, maka ia akan membuat persiapan yang matang untuk mengabaikan sang ipar.

Hyukjae tidak tahu bagaimana akhirnya Sungmin bisa memenangkan perdebatan tersebut, yang jelas sebelum Hyukjae berangkat ke Incheon, Donghae sudah bersandar pada dinding tepat di depan pintu kamar Hyukjae dengan melipat kedua lengannya di depan dada, dandanannya sudah super rapi dan tampan dengan memakai setelan resmi lain dari yang dibawakan Sungmin, dan lelaki tampan itu berkata, “Kau akan berangkat bersamaku, Hyukjae.”

“Dan aku juga berterima kasih karena kau membawa Jeno,” kata Ryeowook.

Ngomong-ngomong, Hyukjae tidak mungkin meninggalkan bocah itu sendirian di rumah dengan para pelayan, sedangkan dirinya dan Donghae menikmati pesta di sini yang mungkin akan berlangsung sampai tengah malam.

“Keponakan Jongwoon jadi tidak rewel lagi karena memiliki teman. Ah, mereka lucu sekali, aku jadi ingin memiliki anak secepatnya.”

“Maaf saja, tapi Jeno bukan hadiah pernikahan dariku untuk kalian.”

Ryeowook tertawa pelan, sama sekali tidak menyadari bahwa hati temannya sedang kacau, butuh penataan ulang. Lalu Ryeowook berdiri hendak berpindah ke meja yang lain karena Jongwoon memberikan isyarat untuk mendekat. “Baiklah, nikmati sunset-nya, Hyukkie.”

Tidak. Suasana hati Hyukjae sedang buruk, ia tidak akan bisa mengagumi atau menikmati proses matahari tenggelam di sisi barat kapal, tak peduli secantik apapun fenomena alam itu.

Hyukjae menggumam sambil memaksakan sebuah senyum, lalu membiarkan temannya pergi menghampiri sang suami.

Tinggalah Hyukjae sendirian di meja tersebut karena teman-teman yang duduk satu meja dengannya sudah menyebar ke seluruh penjuru kapal pesiar untuk menikmati pesta.

Hyukjae mengambil gelas champagne lalu meminum isinya dengan anggun. Ketika Hyukjae tanpa sengaja menoleh ke arah meja Donghae, dirinya menemukan kakak iparnya yang tampan itu sedang berbicara dengan seorang wanita cantik dan sexy, terlihat nyaman-nyaman saja ketika wanita tersebut tertawa sambil bergelayut di bisepnya.

Tenang dan sabar.

Dua kata itu yang sedang dibisikan Hyukjae kepada dirinya sendiri, untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba terasa panas seperti terbakar api saat melihat interaksi tidak biasa sang ipar dengan orang asing.

Cemburu rupanya.

Entahlah, belum bisa dipastikan apakah perasaan tak nyaman dalam hatinya itu benar-benar karena ia cemburu kepada wanita itu, atau hanya sekedar marah karena Donghae berani berlaku seperti itu kepada wanita lain selain kakaknya.

Tak lama setelah itu, Jeno datang bersama keponakan Jongwoon, namanya Mark. Keduanya sama-sama terlihat menggemaskan memakai setelan khusus anak-anak lengkap dengan dasi kupu-kupunya.

Ajaibnya, dua malaikat kecil tersebut berhasil membuat Hyukjae tersenyum lebar dan menendang jauh-jauh kekesalannya pada Donghae. “Baiklah para pangeran yang tampan, katakan apa mau kalian.”

Dua bocah itu tersenyum sambil meraih tangan Hyukjae. “Kami ingin menunjukan sesuatu pada Tamchunie~”

Hyukjae pun menurut saat kedua bocah itu menariknya keluar dari ruang utama.

Di sisi yang lain, saat Donghae melihat anak dan iparnya keluar dari ruangan, lelaki tampan itu langsung mengabaikan orang-orang di sekitarnya. Matanya yang tajam mengawasi pergerakan mereka yang berakhir di dekat pagar pembatas.

“Permisi,” kata Donghae kepada semua orang yang ada di mejanya, merasa perlu pergi untuk sesuatu.

Tanpa menunggu tanggapan, Donghae beranjak dari sana, melangkah keluar dari ruangan untuk menyusul Hyukjae dan Jeno.

Ia berhenti tepat di samping Jeno yang sedang menunjuk beberapa ekor lumba-lumba melompat dari dalam air.

“Jeno mau lumba-lumba yang itu, Tamchunie. Jeno boleh membawanya pulang kan?”

“Mark juga mau satu.”

Apa bocah-bocah ini mengira lautan adalah tempat pemancingan umum yang ikannya bisa diambil dengan mudah?

“Tidak boleh,” kata Donghae sebelum Hyukjae menjawab pertanyaan anaknya.

Mendengar suara sang ayah, Jeno langsung mengalihkan perhatian dari lumba-lumba kepada Donghae. “Kenapa tidak boleh, abeoji? Kita bisa meletakannya di kolam ikan di samping rumah kan?”

Donghae tertawa lalu mensejajarkan dirinya dengan dua bocah polos itu. “Keluarga mereka akan sedih jika kita membawa salah satu dari mereka pulang ke rumah.”

Apa kalian tahu berapa ukuran kolam yang dimaksudkan Jeno? Hanya sekitar lima meter persegi dan dalamnya hanya selutut. Anak lumba-lumba pun tidak akan betah berada di sana.

“Tapi lumba-lumbanya akan dapat keluarga baru. Jeno, Tamchunie, abeoji, dan eomoni akan jadi keluarga lumba-lumba kan? Jeno janji tidak akan nakal.”

Donghae menggeleng keras kepala. “Pokoknya tidak boleh.”

Abeoji tidak asik,” kata Jeno sambil cemberut.

Rasakan itu, Lee Donghae! Bagaimana perasaanmu saat dikatai tidak asik oleh anak sendiri?

Jika dirinya sedang rumah, Donghae pasti akan menggelitiki Jeno tanpa ampun sebagai hukuman.

“Benar kan, Tamchunie? Abeoji tidak asik kan?”

“Benar.”

Hyukjae juga?

Oh, baiklah. Pengecualian untuk sang ipar. Donghae tidak akan menetapkan hukuman apapun karena konsep hukuman yang muncul dalam kepalanya hanya merujuk kepada tempat tidur.

Setelah itu, Jeno tidak lagi peduli kepada Donghae. Bocah itu dan Mark sedang sibuk menghitung berapa banyak lumba-lumba yang melompat dari dalam air.

“Apa kau menikmati pestanya, Hyukjae?”

“Aku menikmatinya.”

Donghae bisa membaca kebohongan Hyukjae, karena ia tahu Hyukjae sama sekali tidak senang berada di sini.

“Sejujurnya, aku masih penasaran dengan jawaban dari pertanyaanku waktu itu.”

Oh Hyukjae, tidakkah semua sudah jelas? Donghae meninggalkanmu saat itu, bukankah itu berarti Sungminlah yang memiliki hati Donghae?

“Apakah tepat membicarakan hal itu sekarang, Hyukjae?”

“Apakah membutuhkan rekomendasi hari baik dari seorang cenayang hanya untuk memberiku jawaban?”

Donghae tersenyum tipis tapi penuh arti. “Tiga hari dari sekarang, aku berjanji akan memberitahu jawabanku.”

Hyukjae tidak peduli, mungkin saat itu, dirinya sudah tidak lagi tertarik dengan pokok bahasan ini.

Lalu Hyukjae memejamkan mata, membiarkan angin laut sore berpadu dengan kelembutan matahari senja menyapa kulit wajahnya yang cantik dan seratus persen mengabaikan sang ipar yang mulai tenggelam dalam telaga pesonanya.

o0o

Tiga hari itu akhirnya datang, dan Hyukjae sudah benar-benar melupakan tentang pertanyaannya kepada Donghae. Pekerjaannya yang bertumpuk-tumpuk membuat Hyukjae tidak mungkin memberikan perhatian lebih pada hal lain kecuali keponakan tersayangnya, Jeno.

Setelah kembali dari acara lari paginya, Hyukjae berjalan memutar lewat samping rumah karena pintu utama terkunci dari dalam.

Di sana, Hyukjae menemukan beberapa orang sedang memasukan puluhan buket bunga dan lusinan keranjang berisi bunga mawar dengan berbagai macam warna dan jenis ke dalam ruang pagi.

Hyukjae berpikir keras tentang hari perayaan yang mungkin akan diadakan di rumah, tapi Hyukjae tak berhasil menemukan satupun hari yang tepat. Hari ini bukan hari raya, bukan hari peringatan kematian seseorang, bahkan bukan ulang tahun salah satu orang yang tinggal seatap dengannya.

Setelah berada di dalam ruangan, Hyukjae segera berhadapan dengan kepala pelayan yang berdiri tegak seolah dikhususkan untuk menunggu Hyukjae. “Ini untuk anda,” kata si kepala pelayan sambil menyerahkan satu buket bunga dan sebuah kartu ucapan.

Artinya, semua bunga mawar yang jumlahnya mencapai ribuan tangkai ini untuknya?

Tidak dipungkiri bahwa saat ini Hyukjae merasa senang dan tersanjung.

Hyukjae bukan penggemar bunga, tapi, hey, siapa yang tidak akan senang jika diberi perhatian seperti ini oleh seseorang?

Pertanyaannya hanya satu sekarang, siapa yang mengirimkan semua bunga ini? Ia tidak sedang dekat dengan seseorang, dan selain teman-teman satu timnya, tidak ada lagi yang tahu jika Hyukjae tinggal di alamat ini.

Hyukjae menerima buket tersebut lalu mengambil kartu ucapannya.

Senyuman langsung luntur dari wajah Hyukjae setelah membaca kartu ucapan dari si pengirim.

Kau pernah bertanya, milik siapakah hatiku ini? Biar aku berikan jawabannya hari ini. Hatiku hanya milikmu, Lee Hyukjae. —DH, L.

“Tidak mungkin….”

Hyukjae hanya pernah memberikan pertanyaan seperti itu kepada satu orang, dan saat ini Hyukjae tidak akan ragu untuk menunjuknya sebagai pengirim ribuan bunga mawar ini.

“Wow!”

Hyukjae menoleh kepada Sungmin yang baru saja masuk ke dalam ruang pagi. Terlihat makin cantik saat matahari pagi mengguyurnya dengan kelembutan sinar keemasan.

Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa berpaling dari pesona wanita cantik seperti kakaknya ini?

Mata lelaki ini pasti sudah tidak berfungsi lagi dengan baik.

Oh, tapi mungkin jika Hyukjae sendiri yang ditempatkan dalam posisi Donghae, yang memiliki istri super sibuk dan super tidak peduli kepada keluarga terutama anak, Hyukjae juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti Donghae, mencari tempat bersandar lain.

Tapi kenapa harus Hyukjae?

Tanpa disadari, Sungmin sudah mendekat dan merebut kartu ucapan dari tangan sang adik. Tulisan tangan dan inisial yang tercantum di sana terasa begitu tidak asing di mata Sungmin, tapi ia tidak sampai berpikir bahwa yang mengirimkan semua itu adalah suaminya sendiri, Donghae Lee. “Oh, sialan. Kenapa rasanya aku jadi iri denganmu Hyukjae?”

Jantung Hyukjae seperti berhenti berdetak.

“Siapa DH, L ini Hyukkie? Apakah calon adik iparku?”

“Jangan ikut campur noona, ku mohon,” pinta Hyukjae, meskipun ia tahu bahwa Sungmin mempunyai hak penuh untuk mencampuri semua kegilaan ini. “Tuan Park, tolong kembalikan semua bunga ini,” kata Hyukjae sambil mengembalikan buket bunga tersebut kepada sang kepala pelayan.

Di kembalikan ke mana Hyukjae? Pengirimnya ada di rumah ini. Apa kau lupa?

“Ke tokonya,” tambah Hyukjae karena menyadari raut bingung di wajah kepala pelayan itu.

“Apa kau gila? Kau sama saja dengan tidak menghargai usahanya, Hyukjae.”

“Tapi aku tidak menyukainya, noona!”

Bohong besar!

Sungmin bisa melihat dari mata Hyukjae bahwa sang adik juga menyimpan hal yang sama dengan si pengirim ribuan bunga mawar ini, ingin menjadikan lelaki itu satu-satunya orang yang memiliki hatinya, hanya saja, sang adik tidak berani menjabarkan semua itu.

Sungmin tersenyum lalu memperhatikan keadaan sekitar. Ia berjalan mendekati sebuah keranjang berisi mawar merah. Ia mengambil setangkai dan kembali lagi ke hadapan Hyukjae. “Kau tidak perlu takut untuk menerimanya, jika kau juga mencintainya,” kata Sungmin sambil meraih tangan kanan Hyukjae dan meletakan mawar yang ia ambil di atas telapak tangan sang adik. “Baiklah, aku akan berangkat sekarang. Jangan terlalu banyak berpikir, cepat ambil lelaki ini sebelum orang lain yang mengambilnya.”

Bolehkah? Bisakah Sungmin mengatakan semua itu lagi jika ia tahu siapa DH, L ini.

Hyukjae menatap setangkai mawar di tangannya. Bunga itu ibarat Donghae, untuk memilikinya Hyukjae tidak perlu repot mengambilnya, karena Sungmin telah meletakannya di atas telapak tangan Hyukjae. Ia hanya perlu menutup telapak tangan dan bunga itupun sudah menjadi miliknya.

Ketika Hyukjae menoleh lagi kepada tuan Park, Donghae sudah ada di sana, di ambang pintu kaca yang terbuka, entah sejak kapan.

Dan mata Hyukjae tidak bisa meninggalkan mata Donghae. “Tolong buang semua ini, tuan Park. Dan sampaikan ucapan terima kasih sekaligus permintaan maafku kepada pengirimnya,” kata Hyukjae sambil meletakan setangkai mawarnya di meja, meletakan seluruh harapannya, dan meletakan Donghae. “Aku tidak bisa menerima semua ini.” Perasaan Donghae, bahkan Hyukjae tidak bisa menerima perasaannya sendiri.

Rasanya sesak dan menyiksa. Belum pernah Hyukjae menolak seseorang tapi berujung dengan ketidak nyamanannya sendiri seperti ini.

Benarkah karena dia benar-benar mendamba Donghae?

Sang ipar tidak menunjukan reaksi apapun. Raut wajahnya tidak berubah sama sekali mendengar perkataan Hyukjae. Baguslah, dengan begitu, Hyukjae tidak perlu merasa tidak enak atau menyesal lantaran melihat wajah kecewa Donghae.

T.B.C

Yg pertama, minal aidin walfaidzin buat semua teman2 d sini, mohon maaf jika selama ini saya punya banyak salah sama kalian, dalam bentuk apapun, tolong di maafkan ya terutama masalah update yg sering ngaret. Aku gak mau ngasih banyak alasan soalnya aku ngerti kalian pasti udah capek baca chap ini. 😀 Yang ke dua, masalah NC, ah iyah itu gk jd diterisin, dan aku harap gk ada yg kecewa. Oke, buat chap ini awal dari puncak masalah yang artinya ff ini tidak akan berumur sepanjang Broke this Pain. Hehehe. Gk tau harus seneng apa sedih yang jelas temen2 gk boleh sedih. 😀 Oke? As always, Makasih buat semuanya yang udah ngeluangin waktu buat baca ff ini, yg udah ngasih perhatian lebih sama ff ini—review, fav, follow, dan yang ngasih dukungan penuh ke saya buat nerusin ff ini. Love you all! *kiss n hug* see you next chap

Advertisements

2 thoughts on “ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 5]

  1. Oke, saya saaaaaaangaaatt puas dengan ini😀 gak kebayang semewah apa pestanya ryeowook tapi yang jelas itu bikin kepengeeen banget.Donghae pesonamu memang tak pernah terkalahkan😘 Jeno, anak aboeji mintanya jangan aneh2 sayang, ya kali lumba2 mau dibawa pulang. Sungmin sih gak perhatian sama anak dan suami. Gitukan jadinya?. Udah, diterima aja Hyukjae, udah diserahin sendiri sama mbaknya kok gak mau? Nanti nangis guling2 loh
    Aaaaaa semangat untuk chapt selanjutnya yaaa

    • Konsep pernikahan impian, hahaha.
      Bener pesona seorang Lee DH emang luar binasa. Apalagi pas udah wamil gini, makin gk karuan menggodanya X3
      Salahkan Hae yg gk pernah ngajak Jeno camping jadinya apa aja diminta XD
      Makasih banyak buat semangatnya, bakal ngasih yg terbaik buat ff ini. Annyeong :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s