ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 6]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre Rating: Full of Family (semi incest), Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Saat melihat miniatur mobil, hal yang muncul pertama kali dalam pikiran Hyukjae adalah Donghae. Ia jadi teringat saat sang ipar pertama kali menunjukkan tempat perakitan sederhananya di belakang rumah, mengajaknya berkeliling kota, mengajarinya bermain golf, dan segala sesuatu yang membuatnya berakhir dengan mengenang ribuan mawar yang ia perintahkan untuk di buang begitu saja tanpa kompromi.

Bagaimana nasib bunga-bunga tak berdosa itu saat ini? Apakah berakhir di tempat sampah dengan kejamnya?

Hyukjae tidak seharusnya peduli.

Kemudian, sebuah pertanyaan muncul dalam benak Hyukjae; Benarkah dirinya mencintai Donghae?

Begini, saat Donghae melihatnya tepat di mata, Hyukjae merasa seperti tersihir. Matanya yang indah tidak bisa beralih kepada hal lain dan pikirannya sering kali melayang ke mana-mana. Hyukjae mendamba sentuhan lelaki tampan itu, bahkan pernah berangan-angan akan menyerahkan seluruh hatinya pada Donghae jika suatu saat akal sehatnya benar-benar telah habis terkikis pesona sang ipar.

Hyukjae jelas terpikat kepada Donghae, tapi perasaan Hyukjae pada sang ipar belum sampai pada titik di mana ia benar-benar membutuhkan lelaki tampan itu seperti dirinya membutuhkan udara dan air. Hyukjae belum merasakan yang namanya tergila-gila pada Donghae sampai rasanya tidak sanggup hidup jika lelaki tampan itu tidak ada di sisinya.

Jadi, Hyukjae menyimpulkan bahwa dirinya tidak benar-benar jatuh cinta kepada Donghae. Apa yang ada dalam hatinya saat ini untuk sang ipar hanyalah ketertarikan sesaat.

Ketertarikan biasa yang tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam dan serius.

Dan sebelum malapetaka besar itu terjadi, Hyukjae harus melakukan sesuatu. “Tapi apa?” gumam Hyukjae tanpa sadar.

Dan, oh! Ngomong-ngomong soal perasaan, Hyukjae jadi penasaran; Apakah selama ini yang membuat hubungan Donghae dan Sungmin jadi tidak baik adalah dirinya? Karena ia tinggal bersama mereka dan tanpa sadar telah duduk manis di antara dua orang itu?

Hyukjae menggeleng dengan wajah tidak terima. Kedekatannya dengan Donghae baru terjalin beberapa minggu terakhir, jadi tidak mungkin situasi rumah tangga mereka yang berantakan itu bersumber dirinya.

Hyukjae kemudian meletakan mobil mainan tersebut di atas meja yang berisi miniatur pabrik yang belum jadi, tak mau lagi memeganginya seolah benda tersebut benar-benar Lee Donghae yang hidup dan mempunyai jiwa.

“Sejak kapan lahan parkirnya berpindah di atas lokasi produksi?”

Hyukjae mendongak untuk melihat Doojoon yang sedang bersidekap dengan wajah jengah di seberang meja, lalu kembali menunduk untuk melihat mobil yang tadi ia letakan di atas atap bangunan. “Oh, Mianhae sunbae-nim,” kata Hyukjae sambil tersenyum kikuk, lalu memindahkan mainan tersebut ke lahan parkir yang sebenarnya, di dekat tepi meja yang sudah dihiasi dengan pepohonan dan tiang lampu.

“Sebenarnya ada apa denganmu, Hyukjae? Kau sering melamun dan melantur akhir-akhir ini.”

Hyukjae sangat tergoda untuk bercerita, tapi belum apa-apa sisi lain dari dirinya sudah merasa malu bukan main pada Doojoon, berbeda sekali saat dirinya berhadapan dengan Ryeowook, tapi saat ini Hyukjae tidak mungkin memaksa Ryeowook untuk mendengarkan seluruh permasalahan yang ia hadapi karena sang sahabat masih berbulan madu, di mana tempatnya tidak ada yang tahu.

“Mungkin karena aku melewatkan sarapan.”

Bukan sepenuhnya bualan.

Tadi pagi Hyukjae hadir di meja makan—hanya ia dan Jeno saja, tapi ia tidak memakan sesuap pun nasi. Hyukjae kehilangan selera makannya berkat aksi Donghae yang tidak tanggung-tanggung.

Iparnya mungkin sebaiknya dilarikan ke rumah sakit jiwa, secepatnya kalau bisa! Begitu isi pikiran Hyukjae sepanjang waktu.

Coba pikirkan lagi. Mana ada orang waras yang menyatakan perasaan pada iparnya sendiri? di rumah yang ia tempati bersama sang istri pula. Dan poin paling sinting di sini adalah Sungmin ada di sana, mendukung supaya sang adik mau menerima hati sang suami.

Kepala Hyukjae rasanya mau pecah memikirkan semua hal itu.

“Jaga pola makanmu, Hyukjae. Jangan sampai kau jatuh sakit karena kita akan lebih sering berada di lapangan setelah ini.

“Aku mengerti.”

Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara, Doojoon sibuk membuat pos keamanan di samping pintu gerbang utama sedangkan Hyukjae mengambil beberapa pernak-pernik untuk dipasangkan pada lokasi asrama para pegawai.

Asrama para pegawai?

Sebuah gagasan tiba-tiha muncul dalam pikiran Hyukjae, seolah Tuhan sedang berbaik hati menunjukan jalan tercepat kepada Hyukjae untuk menyelesaikan semua masalah sialannya dengan Donghae.

Sunbae-nim, apakah kau punya informasi tentang beberapa apartemen yang disewakan di dekat-dekat sini?”

o0o

Tidak seperti biasanya.

Sepulang sekolah, Jeno meminta pada Hyukjae untuk diantarkan ke rumah sakit tempat Sungmin bekerja karena ia mendapatkan tugas dari gurunya yakni membuat cerita pendek tentang pekerjaan salah satu orang tua mereka.

Hyukjae mencoba memberikan pengertian kepada Jeno bahwa ia bisa membantu keponakannya itu mengerjakan tugasnya nanti malam di rumah tanpa perlu datang langsung ke rumah sakit, tapi dasarnya Jeno yang sudah lama ingin melihat tempat kerja ibunya, bocah itu tetap bersikeras dan merengek dengan cara paling manis sekali sehingga Hyukjae tidak mampu lagi memberi alasan untuk menolak.

Mengantar Jeno ke rumah sakit adalah pilihan terbaik jika dibandingkan dengan Jeno yang tiba-tiba berubah pikiran dan merengek minta di antarkan ke kantor ayahnya.

Jangan bayangkan bagaimana jadinya Hyukjae jika hal itu benar-benar terjadi karena Hyukjae sendiri tidak mau membayangkannya. Hyukjae tidak mau bertemu Donghae, titik.

Saat pintu ganda lift terbuka, Jeno dan Hyukjae melangkah keluar dengan wajah senang, pasalnya mereka tidak perlu berputar-putar untuk menemukan Sungmin. Sang dokter kini berada tepat di depan mereka, sedang tersenyum sambil melambai pada seseorang yang jauh di samping kanannya, seorang anak kecil, jika dilihat dari gestur kepalanya yang sedikit menunduk.

Tak lama setelah itu, seorang anak perempuan dengan seragam sekolah dasar lengkap datang menghampiri Sungmin untuk menggandeng tangannya dengan erat.

“Sebelum pulang Jaemin ingin minum bubble tea, boleh ya, eomma?”

Dahi Hyukjae mengerut mendengar panggilan bocah itu untuk Sungmin, tapi Hyukjae tidak sampai berpikir bahwa gadis kecil itu adalah keponakannya yang lain karena dia sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan Sungmin kecuali kemiripan jenis kelamin.

Di sisi lain, Jeno yang melihat kedekatan sang ibu dengan anak asing langsung melepaskan genggamannya dari jemari Hyukjae. Ia berlari dan tanpa peringatan mendorong anak perempuan itu menjauhi Sungmin sampai terjatuh di lantai. “Jangan dekat-dekat dengan Eomoni!” katanya dengan nada tinggi penuh peringatan yang membuat gadis kecil itu terkejut dan akhirnya menangis.

Eomma~”

Sungmin memekik kaget, dan segera berlari menghampiri Jaemin. Ia bersimpuh dan memeluk gadis kecil itu sambil mengucapkan semua kata penenang yang lewat di kepalanya. Setelah tangisan Jaemin lebih terkendali barulah Sungmin beralih atensi pada putranya. “Apa yang kau lakukan Lee Jeno?! Seharusnya kau tidak bersikap sekasar itu kepada anak perempuan!”

Noona!” Hyukjae menyela, sama sekali tidak terima dengan sikap kakaknya.

Mungkin Jeno memang bersalah karena telah mendorong seorang anak perempuan sampai terjatuh di lantai dan menangis. Tapi, Sungmin tidak perlu sampai meninggikan suara untuk anaknya kan? Sungmin seharusnya mengerti bahwa Jeno hanya tidak rela melihat ibunya memberikan kasih sayang kepada anak lain. Demi Tuhan! Jeno adalah darah dagingnya sendiri kan? Jeno yang lebih berhak atas semua kasih sayang Sungmin.

Sial bagi Hyukjae karena sang kakak tidak memperdulikannya sama sekali. Matanya yang dipenuhi amarah tidak melepaskan sosok kecil Jeno yang sedang gemetar ketakutan. “Sekarang minta maaf kepada Jaemin!”

Meskipun takut tapi Jeno memilih untuk menggeleng, merasa bahwa apa yang ia lakukan sudah benar.

“Lee Jono, kau benar-benar—”

“Hentikan!” Sebelum kakaknya melakukan sesuatu di luar batas, Hyukjae buru-buru menarik Jeno dan menyembunyikan keponakannya itu di belakang badan. “Dia putramu, noona. Astaga!”

Barulah perhatian Sungmin beralih kepada Hyukjae. Ia berdiri Sejajar dengan sang adik sambil memegangi Jaemin yang saat ini memeluknya dengan erat. “Lihat, beginilah jadinya karena selama ini kau terlalu memanjakan Jeno. Anak ini jadi tidak sopan dan seenaknya sendiri kepada orang lain.”

“Siapa sebenarnya gadis kecil ini sampai-sampai kau membelanya seperti itu?”

“Dia adalah anak seorang teman.”

“Oh ya? Dan teman macam apa yang membiarkan anaknya memanggil orang lain yang bukan ibunya dengan sebutan eomma?”

“Ibu Jaemin meninggal saat melahirkan.”

Hyukjae jadi teringat dulu Sungmin pernah menceritakan padanya tentang sebuah kecelakaan yang menimpa pasangan suami istri. Hyukjae tahu tiap detail dari kejadian itu. Mulai kematian, kelahiran, sampai vonis yang dijatuhkan tim medis kepada lelaki yang baru menyandang status duda beranak satu itu, lelaki yang saat ini diyakini Hyukjae sebagai ayah dari Jaemin gadis kecil di depannya ini.

Hyukjae juga masih ingat wajah cantik Sungmin yang berseri-seri tiap kali menceritakan tentang bayi perempuan yang berhasil ia selamatkan. Kakaknya itu tidak berhenti memuji dan mengatakan ingin memiliki anak secantik bayi itu.

“Lalu? Apa setiap ibu yang meninggal saat melahirkan anaknya menjadi tanggung jawabmu? Tidak, noona.

Kejadian tersebut memang memilukan, tapi bukan berarti Sungmin bisa merawat dan membesarkan Jaemin dengan seluruh kasih sayang yang ia miliki tapi mengabaikan anak kandungnya sendiri.

“Kau harus mengerti kondisi anak ini, Hyukjae—”

“Sudah cukup. Jangan mengatakan apapun lagi.”

Apa yang harus Hyukjae mengerti dari situasi gila ini? Bahwa ia harus diam saja dan menerima semua yang dilakukan Sungmin terhadap keponakannya?

Keponakannya sudah bertahun-tahun mendamba perhatian dari Sungmin dalam rasa sabar, tapi yang ditunggu sama sekali tidak mengerti, dan malah memperhatikan bocah lain.

Hyukjae tidak akan mau diajak berkompromi dengan Sungmin atas masalah ini, tidak akan, selama Sungmin belum menyesali semua perbuatannya kepada Jeno. “Ayo pulang, Lee Jeno.” Tanpa menunggu persetujuan, Hyukjae menggandeng Jeno untuk menjauhi tempat tersebut, tak peduli bahwa ia sempat menabrak Choi Siwon yang tanpa sengaja telah menyaksikan drama antara adik-kakak tersebut dari awal sampai akhir.

o0o

Jangan tertipu dengan wajah tampannya yang tenang, karena nyatanya keadaan hati Donghae saat ini tidak lebih baik dari sebuah rumah yang berhasil diporak-porandakan oleh badai.

Meskipun sebelumnya Donghae sudah memperkirakan bahkan mempersiapkan diri untuk penolakan sang ipar, hatinya tetap saja hancur saat Hyukjae meletakkan setangkai mawar di atas meja lalu berkata tidak bisa tanpa basa-basi.

Matanya mengedar ke seluruh garasi lalu perasaannya mulai tidak enak karena mobil Hyukjae tidak ia temukan di sudut manapun. Saat ini sudah pukul tujuh malam dan Hyukjae belum pulang. Donghae jadi takut kejadian tadi pagi akan memunculkan dinding pembatas antara dirinya dan Hyukjae.

Donghae mengusap wajahnya dengan kasar, menyingkirkan pikiran negatif dari kepalanya, lalu berdoa semoga keterlambatan iparnya kali ini adalah untuk urusan pekerjaan bukan salah satu upaya untuk mulai menghindarinya.

Donghae kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dan berhenti di ruang santai. Di sana sepi, hanya ada seorang pelayan yang sedang menuruni tangga dengan wajah sedih dan berubah menjadi takut ketika menyadari kehadiran sang tuan rumah.

“Di mana Jeno?”

“Tuan muda ada di kamarnya,” kata sang pelayan sambil membungkuk sopan.

Hal tersebut memunculkan kerutan di dahi Donghae. Biasanya pada jam seperti ini jika Hyukjae belum pulang, Jeno akan berlarian ke sana-sini dan membuat pusing beberapa pelayan sebagai upaya meloloskan diri dari kewajibannya belajar. Jika Jeno memilih berdiam diri di kamar, itu artinya sesuatu yang buruk telah terjadi.

Donghae jadi teringat pada Siwon yang berkunjung ke kantornya pada pukul tiga sore tadi dan menceritakan tentang semua kejadian yang ia lihat di rumah sakit, pertengkaran Jeno, Jaemin, Hyukjae, dan Sungmin.

Setelah menghela napas, Donghae kemudian menaiki tangga dan mengarahkan kakinya langsung ke kamar Jeno. Pintunya tidak tertutup sehingga Donghae bisa melihat putranya yang tampan sedang duduk memeluk lututnya dengan wajah murung di samping lintasan kereta api yang cukup panjang dan rumit.

Donghae pikir penolakan Hyukjae tadi pagi adalah hal paling menyakitkan yang pernah ia rasakan, tapi nyatanya melihat anaknya bersedih seperti ini, terlebih yang membuatnya begitu adalah ibunya sendiri, hati Donghae rasanya bagai dicabik-cabik tanpa ampun, rasanya teramat sakit sampai rasanya ingin menangis darah.

Donghae berjalan masuk ke dalam kamar dan mengambil tempat di samping putranya. “Apa Jeno sendiri yang merakit lintasannya?”

Tidak ada jawaban dari Jeno, bocah lucu itu hanya diam mengamati pergerakan kereta api mainannya.

“Bagaimana sekolah Jeno tadi? Menyenangkan?”

Masih belum ada tanggapan dari bocah itu, Jeno  malah sibuk membuka dan menutup beberapa palang perlintasan di dekatnya.

“Jeno tidak ingin mengatakan sesuatu pada abeoji?”

Jeno masih terdiam dan hal itu mengikis kesabaran Donghae.

“Jeno mendengar abeoji kan?”

Cukup, cukup! Donghae sudah tidak tahan lagi. Sungmin harus segera di keluarkan dari pikiran Jeno supaya ia bisa melihat wajah ceria buah hatinya lagi. Tapi bagaimana caranya? Sungmin tetaplah wanita yang telah melahirkan Jeno, ibu kandung Jeno, hubungan mereka tidak akan pernah terputus sekalipun salah satu dari mereka sendiri yang merusaknya.

Abeoji sedang bertanya, kenapa Jeno tidak menjawab?!”

Bocah itu bergeser, menjauhi Donghae karena ketakutan.

Tidak, Donghae tidak menggunakan nada yang terlalu tinggi pada putranya, tapi karena perasaan Jeno sedang sensitif bocah itu jadi menyimpulkan bahwa ayahnya sedang marah-marah.

“Jeno, sayang kemarilah.”

Mereka mengalihkan pandangan pada Hyukjae yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu kamar, siap membuat perhitungan jika Donghae berniat meneruskan aksi protesnya pada Jeno.

Bocah itu berdiri dan segera berlari menghampiri Hyukjae, memeluk kakinya dengan erat sambil menyembunyikan wajahnya di perut sang paman. “Kenapa semua orang memarahi Jeno, Tamchunie? Apa Abeoji dan Eomoni tidak menyayangi Jeno?”

Hyukjae merasa miris sekali melihat keponakannya seperti ini. Hyukjae memutuskan untuk menggendong Jeno dan membawa keponakannya itu pergi ke kamarnya sendiri, meninggalkan Donghae yang hanya bisa menghela napas putus asa dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan.

“Bukan begitu,” kata Hyukjae sambil membuka pintu kamar. “Abeoji tadi menanyakan sesuatu tapi Jeno mengabaikannya, jadi Sangat wajar jika abeoji sedikit kesal karena Jeno telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji.”

Sang paman kemudian menarik kursi dan mendudukan keponakannya di sana. “Dan masalah eomoni.” Hyukjae menggumam, memikirkan satu alasan yang masuk akal sebelum berjongkok di depan Jeno. “Jeno tadi mendorong seseorang anak perempuan sampai terjatuh di lantai dan menangis.”

“Jeno sering didorong oleh Doyoung, tapi Jeno tidak pernah menangis. Doyoung juga tidak pernah menangis saat Jeno mendorongnya sampai jatuh. Anak perempuan itu saja yang cengeng. Dan, Eomoni itu milik Jeno. Tidak ada yang boleh dekat-dekat dengan Eomoni selain Jeno”

Hyukjae menggeleng dalam senyumannya. “Eomoni memang milik Jeno, selamanya.” Meskipun tidak pernah menyayanginya. Bisakah hal itu dibenarkan? “Tapi, sayang. Berbuat kasar kepada orang lain terutama anak perempuan Itu tidak benar. Anak laki-laki yang baik tidak akan pernah menyakiti anak perempuan, dalam bentuk apapun.”

Bocah itu cemberut lalu menunduk. “Jadi, apa eomoni membenci Jeno karena Jeno jahat pada anak perempuan itu?”

Eomoni tidak membenci Jeno.” Entahlah. Hyukjae benar-benar tidak tahu bagaimana perasaan Sungmin yang sebenarnya untuk Jeno. Cara Sungmin memperlakukan Jeno benar-benar jauh berbeda dengan caranya memperlakukan Jaemin.

Astaga, situasi sialan macam apa lagi ini?

Eomoni hanya tidak suka melihat Jeno berkelakuan kasar kepada orang lain seperti tadi, itu saja.”

“Jadi, apa Jeno harus minta maaf pada Eomoni dan anak perempuan itu?”

Hyukjae mengangguk sambil menelan rasa pahit dalam senyumannya. Ingin sekali berkata tidak, tapi dirinya tidak boleh menumbuhkan sedikitpun bibit kebencian di hati Jeno untuk ibunya sendiri.

“Baiklah, Jeno akan melakukannya saat eomoni pulang nanti,” kata Jeno, terlihat masih tidak bisa terima tapi tidak bisa melakukan apapun untuk membantah semua kata-kata lembut dan penuh pengertian dari sang paman.

“Nah, ini baru keponakan kesayangan Samchun.”

Tamchunie tidak membenci Jeno karena telah mendorong anak perempuan tadi kan?”

“Tentu saja tidak. Tapi Jeno harus berjanji pada Samchun untuk tidak mengulanginya lagi, mengerti?”

Jeno mengangguk dalam ketidak berdayaan yang manis sekali. Hyukjae jadi tidak tahan untuk menyatukan keningnya dengan kening Jeno, menekannya sambil berkata. “Sekarang jangan cemberut lagi dan katakan apa yang Jeno mau pada Samchun.”

“Jeno lapal, Tamchunie~”

Lalu, Hyukjae tertawa karena mendengar perut Jeno berbunyi seperti marching band yang bermain tanpa aturan. “Baiklah, ayo turun ke bawah dan lihat apa yang dimasak bibi Jung.”

Jeno turun dari kursi sambil berpegangan pada tangan pamannya lalu keluar dari kamar tanpa keributan.

Di koridor mereka berhadapan lagi dengan Donghae. Saat ini lelaki itu sedang berdiri sambil memegang tongkat kecil yang diberi sapu tangan putih di ujungnya. “Mari kita berdamai, Jeno.” kata Donghae sambil menggoyangkan tongkatnya.

Hyukjae sampai harus memalingkan wajah sambil sekuat tenaga menahan tawanya karena perilaku kekanakan Donghae. Kakak iparnya itu tidak habis terbentur sesuatu kan?

Jeno melangkah dan mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Donghae. “Abeoji janji tidak akan memarahi Jeno lagi kan?”

“Untuk apa abeoji marah jika Jeno tidak melakukan kesalahan? Lagi pula, Abeoji tidak marah tadi.” Lalu Donghae berjongkok sambil berpegangan pada tongkat di tangannya dan mengaitkan jari kelingkingnya pada Jeno.

Akhirnya, sang anak tersenyum dan berlari ke dalam pelukan Donghae. “Jeno sayang abeoji.”

“Benarkah?”

“Eung!”

Hati Hyukjae menjadi hangat melihat interaksi ayah dan anak itu. Ia memeluk dirinya sendiri sambil tersenyum dan meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa suatu saat ia juga akan memiliki keluarga yang hangat seperti ini, memiliki suami yang baik seperti Donghae.

“Baiklah, sekarang ayo kita turun. Bibi Jung bilang makan malamnya sudah siap,” kata Donghae sambil mengusak rambut Jeno, lalu berganti pada iparnya. “Mari, Hyukjae.”

Ingin sekali menolak, tapi Hyukjae tidak mampu berkata tidak saat melihat senyum lebar keponakannya. Hyukjae tidak ingin wajah bahagia keponakannya itu berubah menjadi murung lagi hanya karena ia mengatakan tidak mau. Egonya untuk tidak ingin berada dekat-dekat dengan Donghae bukanlah sebuah prioritas untuk saat ini.

o0o

Pukul dua dini hari.

Sungmin tidak pulang, tapi Sungmin juga tidak sedang berada di rumah sakit untuk berjaga ataupun menangani keadaan darurat, Donghae sudah memastikannya, dan ia juga tahu di mana tepatnya istrinya saat ini berada.

Sambil meneguk anggur di mini bar dekat ruang tamu, Donghae menghubungi nomor ponsel Sungmin, tidak peduli jika saat ini istrinya sedang tidur nyenyak di sana.

Tiga kali mencoba barulah Sungmin menjawab panggilannya.

“Ada apa Donghae?” Suaranya serak, khas orang bangun tidur.

“Kau tidak pulang?”

Donghae tidak sedang membutuhkan Sungmin untuk menemaninya menghabiskan malam ataupun sekedar menemaninya minum, tapi Donghae membutuhkan Sungmin segera ada di hadapannya untuk menyelesaikan semua permasalahan mereka.

“Tidak untuk malam ini. Tiap kali aku turun dari ranjang, Jaemin terbangun, memintaku untuk tidak pergi sambil menangis. Maafkan aku….”

“Aku tidak bisa lagi mentoleransi keadaan ini, Lee Sungmin.”

“Donghae, ku mohon. Kita sudah sering membahas hal ini kan?”

“Pilihlah, Sungmin.”

“Donghae, kau tahu sendiri kan—” Ada kecemasan terselip dalam kalimatnya. Sungmin tahu dengan jelas apa yang dimaksud Donghae. “—ayahnya masih dalam perawatan.”

“Lelaki itu sudah bisa melihat dengan jelas.” Bahkan sudah sejak lama sekali. Sekitar lima tahun karena Sungmin berhasil menemukan pendonor yang cocok. “Dia pun memiliki selusin pelayan yang bisa merawat seorang gadis kecil. Apa lagi yang kau cemaskan?”

“Ku mohon, Donghae—”

“Pilihlah sekarang juga, Lee Sungmin. Putraku atau putri orang lain.”

Hening untuk beberapa saat. Mungkin di seberang sana Sungmin sedang berpikir keras sambil menggigit bibir, atau malah mengumpati Donghae dalam hati? Entahlah. Yang jelas, dalam situasi seperti ini Sungmin tidak boleh salah memilih jika ia masih ingin memiliki segalnya.

“Baiklah, baik. Aku pilih Jeno.”

“Jika demikian maka kau sebaiknya tahu apa yang harus dilakukan.”

“Tapi aku tidak bisa pulang saat ini juga. Ku mohon mengertilah. Biarkan aku di sini setidaknya sampai ayah Jaemin kembali dari luar negeri.”

Tangan Donghae meremas kuat botol anggur di sampingnya sampai hancur dan menimbulkan suara ribut yang sudah pasti terdengar oleh Sungmin.

“Apa yang terjadi di sana, Donghae?”

Tapi Donghae hanya diam, mengatur napasnya yang memburu sekaligus menahan semua umpatan yang telah terkumpul di ujung lidahnya.

“Lee Donghae, jangan membuatku takut.”

“Silahkan lakukan apapun yang kau mau, Lee Sungmin. Aku tidak akan peduli lagi.”

Karena, semuanya sudah berakhir?

Lalu Donghae memutus sambungan telepon mereka, tanpa salam, dan meminum sisa anggur dalam gelasnya tanpa peduli pada tangan kirinya yang perih dan berdarah, juga tidak peduli pada Hyukjae yang sedari tadi memperhatikannya dalam kegelapan.

Harusnya Hyukjae tidak peduli, sama sekali tidak boleh peduli. Tapi kakinya lagi-lagi seperti penghianat keji yang tidak tahu diri, melangkah dengan ringannya mendekati sang ipar.

Tanpa mengatakan apapun, Hyukjae duduk di samping Donghae, meraih tangan iparnya yang terluka, lalu membersihkannya dari darah dan anggur dengan sapu tangan milik Donghae yang kebetulan diletakkan di meja.

Donghae jelas terkejut dengan kehadiran Hyukjae terlebih saat tangan halus sang ipar dengan lembut menggengam tangannya yang terluka, tapi Donghae hanya menoleh dan membiarkan Hyukjae melakukan apapun yang ia mau pada tangannya. “Maaf jika aku membangunkanmu.”

Hyukjae tidak terbangun karena Donghae. Hyukjae terbangun karena haus tapi air di kamarnya habis jadi ia memutuskan turun, ke dapur untuk mengambil air. Saat hendak kembali ke atas ia mendengar suara dentingan barang pecah belah, ia jadi penasaran dan keingintahuannya itu berakhir dengan menguping pembicaraan Donghae dengan kakaknya di telepon. “Tolong maafkanlah kakakku.”

Tangan Donghae yang tidak terluka meraih dagu Hyukjae lalu mengangkatnya, mempertemukan mata mereka yang mempunyai sorot berbeda. “Apa kau tahu berapa kali dia melakukan ini kepada kami?”

Tidak terhitung jumlahnya Hyukjae. Bahkan semua jarimu tidak cukup untuk menghitungnya.

Hyukjae diam, memperhatikan mata Donghae yang sayu. Di sana Hyukjae bisa melihat semuanya. Melihat betapa hancurnya Hati lelaki tampan ini karena kelakuan kakaknya. “Tapi kalian harus bertahan demi Jeno.”

Donghae tersenyum sinis lalu menyingkirkan tangan Hyukjae darinya. Ia jelas tidak setuju dengan Hyukjae karena yang ia inginkan saat ini hanyalah segera terbebas dari semua kekacauan di sekitarnya, terbebas dari Sungmin. “Kembalilah ke kamarmu dan lanjutkan tidurmu, Hyukjae. Selamat malam.”

Setelah mengatakan itu, Donghae masuk ke dalam ruang pagi dan keluar dari rumah melewati pintu kaca. Meninggalkan Hyukjae sendirian yang sedang bertanya-tanya dalam hati. Apakah Hati yang telah hancur lebur itu yang dimaksud Donghae telah menjadi miliknya?

Entah kenapa Hyukjae tiba-tiba jadi kesal.

o0o

Eomoni pulang!” teriak Jeno saat melihat mobil ibunya di depan rumah. Setelah Hyukjae melepas sabuk pengamannya, bocah itu segera membuka pintu dan melompat turun dari mobil.

Hyukjae coba memperingatkan keponakannya dengan kata-kata seperti ini, “Hati-hati Jeno!” dan, “Jangan berlari!” tapi sia-sia saja karena bocah itu tidak peduli. Akhirnya Hyukjae hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum dan mengikuti langkah Jeno sampai mereka berakhir di ruang santai, tempat di mana Sungmin sedang duduk bersidekap di sofa. Wajah cantiknya yang sudah tampak kesal jadi makin keruh saat melihat sang adik datang.

Sangat menyeramkan.

Jeno sampai tidak berani menyapa terlebih mendekat. Bocah itu memilih bersembunyi di belakang pamannya.

“Apa maksudnya ini, Hyukjae?”

Apa?

Hyukjae hanya menjemput Jeno dari sekolah dan mengantarnya pulang, seperti biasanya. Apa ada yang salah dari itu?

Oh! Mungkinkah sang kakak sudah tahu tentang dirinya dan Donghae?

“Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?”

Hyukjae menelan ludahnya dengan susah payah selagi keringat dingin bermunculan di pelipisnya. Apakah sekarang waktunya untuk mengakui segalanya kepada sang kakak?

Hyukjae menunduk. “Jeno sayang, pergilah ke kamar dan ganti bajumu dulu.” Perbincangan ini tidak pantas didengarkan oleh keponakannya yang masih lugu itu.

Dan beruntung sekali karena bocah itu menurut tanpa sedikitpun protes.

Setelah memastikan keponakannya sampai di puncak anak tangga dan masuk ke dalam koridor, Hyukjae memusatkan perhatiannya kembali pada Sungmin. “Aku bisa menjelaskan semuanya, noona,” kata Hyukjae sambil meremas tanyannya sendiri, gugup itu sudah pasti.

“Tentu!” Sungmin berjalan mendekat dengan cepat kepada sang adik. “Kau harus memberi penjelasan secara lengkap tentang kenapa Doojoon hendak menyewa sebuah apartemen tapi menggunakan namamu.”

Oh? Bukan masalah Donghae?

Hyukjae merasa lega sekali. Jujur, Hyukjae tidak ingin mengakui segalanya kepada Sungmin. Yang Ia inginkan adalah tidak lagi mengungkit dosa yang pernah ia lakukan dengan Donghae dan segera pergi, melupakan segalanya dan tidak lagi kembali dalam kehidupan Donghae.

“Kenapa kau ingin pergi dari sini, Hyukjae? Apa kau masih tersinggung dengan perkataanku waktu itu yang memintamu untuk segera menikah?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku tidak mungkin tinggal selamanya di sini, noona.” Terlebih setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Donghae. Entah berapa lama lagi ia bisa bertahan tinggal di bawah atap yang sama dengan Donghae. “Cepat atau lambat aku pasti akan pergi juga dari sini.”

Sungmin makin merapat, mengunci kedua lengan dan mata sang adik. “Apa di sini ada yang mengganggumu? Apa seseorang mencoba mengusirmu dari sini?”

“Tentu tidak ada—”

“Maka, Kau bisa tinggal selama yang kau mau di sini, Hyukjae. Bahkan setelah menikah.” Sungmin sudah tidak waras. “Tidak perlu mencemaskan apapun. Aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu tinggal sendirian di luar sana. Tolong mengertilah.”

“Aku bukan bayi lagi, noona. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku berjanji akan hidup dengan baik meskipun sendiri.”

“Aku bilang TIDAK, HYUKJAE!”

Dengan lembut Hyukjae menurunkan tangan sang kakak dan menggenggam jemarinya yang lentik sama sekali tidak terpengaruh dengan bentakannya. “Jangan menghalangiku, noona. Ku mohon.” Atau kau akan menyesali segalanya.

“Cukup,” kata Sungmin. Serangkaian kata-kata terhenti di tenggorokannya karena ponselnya berdering. Sang dokter tentu saja lebih memilih menjawab panggilannya dari pada meneruskan ceramah pada sang adik.

“Aku akan segera kembali.” Hanya itu yang dikatakan Sungmin sebelum memutus sambungan dan mengembalikan atensinya pada Hyukjae. “Kau tidak akan pergi dari sini, apapun yang terjadi, dan jangan coba membantahku karena hasilnya tidak akan baik.”

Sungmin berbalik untuk mengambil tasnya di sofa, bersiap-siap untuk pergi.

Noona tidak ingin menemui Jeno sebelum pergi? Apa kau tidak merasa perlu untuk mengatakan sesuatu kepadanya?” seperti meminta maaf, mengingat Sungmin begitu keterlaluan saat memarahi Jeno kemarin.

“Tidak.”

Ah, jadi Sungmin mampir ke rumah hanya untuk menceramahinya masalah apartemen?

“Jika sikapmu seperti ini terus, kau bisa kehilangan segalanya, noona.” seperti: Donghae dan Jeno, bahkan mungkin Jaemin.

Tapi Sungmin tidak peduli dengan perkataan Hyukjae, ia berjalan keluar rumah tanpa menoleh lagi kepada sang adik.

o0o

“Bagaimana bisa dia mengabaikan anak setampan ini?” kata Hyukjae sambil membelai rambut hitam keponakannya yang sedang tertidur lelap.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam tapi Hyukjae sama sekali belum mengantuk. Pikirannya terganggu dengan beberapa pertanyaan seperti; Bagaimana jika nanti saat ia sudah pindah tempat tinggal ternyata hubungan di antara Sungmin dan Donghae tidak juga membaik? Bagaimana jika semakin memburuk? Lantas bagaimana nasib keponakan tersayangnya ini?

Tiba-tiba Hyukjae merasa berat sekali untuk pindah, ia tidak sanggup meninggalkan Jeno dalam ketidak-jelasan hubungan kedua orang tuanya. Haruskah Hyukjae mengurungkan niatnya saja?

Kemudian ponsel Hyukjae bergetar tanpa henti karena Chansung menelepon. perlahan ia pun keluar dari kamar Jeno untuk menjawab panggilan tersebut. Temannya itu rupanya mengajak Hyukjae bertemu di suatu tempat untuk minum dan berbagi keluh kesah selagi ia memiliki waktu senggang.

Hyukjae tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan itu. Hyukjae butuh hiburan dan beberapa gelas wiski mungkin cocok untuk membuang penatnya, tidak peduli jika terakhir kali Hyukjae meminum itu dirinya malah berakhir seranjang dengan Donghae.

Itu tidak akan terjadi lagi hari ini. Hyukjae akan berhati-hati malam ini, mulai dari memilih tempat yang benar-benar tidak ada kaitannya dengan sang ipar sampai mewaspadai semua orang asing berwajah tampan tapi menyimpan maksud tertentu macam Seunghyun.

Setelah mengganti pakaian tidurnya dengan kaus lengan panjang warna krimson dan ripped jeans, Hyukjae bergegas turun menuju garasi dan langsung masuk ke dalam mobil.

Ketika Hyukjae memutar kunci, mobilnya tidak mau menyala. Ia mencoba berulang kali namun mobilnya tetap saja diam, tidak mengeluarkan suara sedikit-pun. Akhirnya Hyukjae turun dan memutuskan untuk membuka kap mesin. Ia diam dengan alis menaut untuk mengamati rakitan logam sedemikian rupa pusat dari energi mobilnya.

Sejauh pengamatan Hyukjae, tidak ada yang ganjil pada sistem kelistrikan mobilnya, jadi masalahnya pasti lebih rumit dari pada yang dibayangkan. Hyukjae tidak akan pusing memikirkannya lagi karena itu jelas di luar kemampuannya. Biarkan orang-orang di tempat reparasi saja yang membetulkan mobilnya besok.

“Apa yang terjadi?”

Hyukjae terlonjak kaget lalu menoleh ke belakang dan langsung menahan napas karena matanya melihat Donghae yang baru saja meluncur keluar dari kolong mobil sambil  memegang kunci inggris di tangan kanannya. Lelaki tampan itu hanya memakai celana formal lengkap dengan ikat pinggang dan sepatu kulit warna hitam, badan polosnya cukup kotor dan lusuh karena ternoda oleh oli dan debu.

Sekalipun demikian, aura dari ketampanan Donghae tidak mati, lelaki tampan itu tetap bisa menggoyahkan iman Hyukjae lagi dan lagi, bahkan tanpa sadar membuat iparnya yang manis itu mengulum bibir bawahnya sendiri.

“Apa ada masalah, Hyukjae?”

Tentu saja ada! Astaga! Sebenarnya di mana atasan lelaki ini?

“A-ah!” Hyukjae tergagap. “Bukan masalah besar,” katanya sambil membalikan badan. Tiba-tiba merasa perlu untuk segera pergi dari tempat tersebut, sebelum setengah dari akal sehatnya kembali melayang dan Hyukjae berakhir dengan melompat ke dalam pelukan Donghae.

Tapi tidak bisa!

Jangankan pergi, bergeser sedikit saja Hyukjae rasanya tidak bisa karena iparnya yang tampan itu sudah ada di samping Hyukjae, mengikat Hyukjae dengan aromanya yang maskulin sambil menahan kap mobil yang hendak di tutup oleh Hyukjae.

“Biar ku periksa.”

Ah benar juga. Masalah seperti ini pastilah seperti persoalan matematika paling sederhana bagi Donghae. Sekali lihat pasti langsung bisa diselesaikan.

Setelah beberapa saat mengamati, Donghae akhirnya menunjuk sebuah komponen mobil dengan kunci inggris di tangannya. “Businya aus, ditambah ada beberapa komponen yang harus dibersihkan dari karat, dan juga ada beberapa kabel yang terputus. Aku bisa menanganinya jika kau tidak keberatan.”

“Aku tidak punya cukup uang untuk membayarmu. Jadi biarkan aku membawanya ke reparasi saja besok.”

Donghae tertawa cukup kencang lalu berjalan menuju tepi ruangan, tempat sebuah lemari penyimpanan rendah dan panjang. “Lalu, besok kau akan berangkat ke kantor dan mengantarkan Jeno dengan apa?”

Jeno tidak akan senang diajak naik taxi atau diantar oleh supir Donghae. Apapun yang terjadi, ia lebih suka diantar jemput oleh Hyukjae dengan mobil lama Sungmin, lebih nyaman katanya. Tapi beda lagi ceritanya jika Donghae sendiri yang menawarkan diri untuk mengantarkan Jeno ke sekolah. Bocah itu pasti tidak akan menolak.

Jadi, Hyukjae, apa besok kau bersedia diantarkan iparmu yang tampan itu? Jeno tentu saja tidak akan membiarkan dirimu naik taxi sendirian besok.

Tidak, tentu saja Hyukjae tidak mau semobil dengan Donghae. “Baiklah, lakukan apapun yang kakak ipar mau.”

“Tenang saja, aku tidak akan meminta apapun padamu sebagai bayarannya.”

Hyukjae menghela napas dan akhirnya memutuskan untuk diam saja memperhatikan Donghae yang sedang mengeluarkan beberapa komponen baru dari dalam penyimpanan.

Lelaki itu sudah mendapatkan semua komponen yang diperlukan dan kini berjalan kembali mendekati Hyukjae. “Tapi aku tidak akan menolak jika kau berniat memberikan sesuatu untukku, seperti….” Memberikan hatinya? Ah, tidak! Itu terlalu berlebihan. Donghae bisa menjamin Hyukjae akan langsung pergi dari tempat ini jika Ia nekat mengatakannya.

Kemudian salah satu alis Hyukjae terangkat karena mendengar bunyi tak asing dari perut Donghae, seolah sedang berteriak bahwa dirinya kelaparan.

“Bagaimana bisa seorang pemilik perusahaan pada jam seperti ini kelaparan seperti itu?”

“Aku sudah makan malam tadi.” Tapi sedikit dan itu tidak cukup untuk memenuhi kapasitas perut Donghae. “Yang tadi anggap saja gangguan lambung, jadi, yah seperti itulah.”

Karena malu, Donghae tidak lagi bertingkah, ia membuka kotak perkakas sedang yang berisi berbagai macam kunci lalu mulai memperbaiki mobil Hyukjae dengan gerakan terampil padahal tangan kirinya sedang dibalut perban.

Hyukjae masih ingat dengan jelas seberapa dalam luka di tangan kakak iparnya itu, tapi pergerakan Donghae saat ini seolah menunjukkan bahwa luka seperti itu bukanlah masalah besar. Donghae sudah terbiasa dengan luka-luka fisik semacam itu terlebih luka batin.

“Setelah selesai, mandilah. Akan ku siapkan makan malam untuk kakak ipar.”

Hyukjae sendiri tidak bisa percaya dengan apa yang telah keluar dari mulutnya, tapi karena rasa iba yang tiba-tiba muncul, Hyukjae jadi terdorong untuk melakukan kebaikan pada sang ipar, semacam permintaan maaf tak langsung untuk menebus semua perbuatan kakaknya yang telah melukai hati Donghae berkali-kali.

“Apa yang kakak ipar inginkan untuk dimakan?”

Sekalipun senang karena diperhatikan oleh Hyukjae, Donghae tetap tidak bisa menikmati kegembiraan tersebut karena rasa malunya lebih besar, jadi lelaki tampan itu tetap menunduk di atas mesin sambil berkata, “Apa saja yang kau siapkan.”

Hyukjae akhirnya pergi meninggalkan garasi menuju dapur, seratus persen lupa bahwa ia telah memiliki janji temu dengan temannya, Chansung.

o0o

Saat Donghae muncul di dapur, Hyukjae baru selesai memindah tumisannya ke dalam piring di atas pantry. Lelaki itu sudah bersih dan rapi memakai t-shirt hitam dan celana putih panjang.

Cepat sekali? Apa kakak iparnya ini benar-benar memperbaiki mobil Hyukjae? Atau jangan-jangan lelaki ini malah merusak mobil Hyukjae dan meninggalkannya begitu saja karena pusing menghadapi mesin tua?

“Aku benar-benar sudah memperbaiki mobilmu, Hyukjae. Masalah seperti itu bukanlah hal sulit untukku. Sepuluh menit saja sudah cukup,” kata Donghae sambil menuang air ke dalam gelas bening panjang.

Lagi-lagi.

Apakah kepala Hyukjae itu seperti aquarium yang tembus pandang sehingga Donghae bisa melihat semua isinya dengan jelas?

“A-ah, terimakasih.”

Saat Hyukjae hendak mengangkat tumisan dan alat makan yang sudah ia persiapkan untuk dibawa ke meja makan di ruang sebelah, Donghae berkata, “Di sini saja Hyukjae, tidak apa-apa.” sambil menarik kursi dan duduk dengan tampan di sana.

Sulit dipercaya. Seorang Lee Donghae bersedia makan di dapur?

Nah, begini, Donghae hanya sedang tidak ingin mendadak canggung berada di meja makan malam ini apa lagi jika sampai ia duduk sendirian di sana. Donghae tidak mau. Ia ingin suasana yang benar-benar santai bersama Hyukjae tidak masalah jika itu di dapur, yang penting mereka berdua.

Oh, baiklah. Hyukjae tidak akan memaksa iparnya itu untuk pergi ke meja makan, toh hal ini tidak akan merugikan Hyukjae sama sekali. Hyukjae jadi tidak perlu repot berjalan ke sana-sini untuk memindahkan segalanya.

“Hanya ini yang bisa kubuat untukmu,” kata Hyukjae sambil meletakkan semangkuk nasi hangat di depan Donghae, bersebelahan dengan tumisan tadi. Hyukjae tidak akan mencemaskan masakannya, ia sudah mencicipinya dan makanan tersebut layak dimakan oleh manusia. “Apa ada lagi yang kau inginkan?”

“Sebaiknya kau juga ikut makan, Hyukjae.”

Pukul sepuluh malam dan Donghae memintanya memakan makanan berat?

Terimakasih banyak untuk kemurahan hati kakak iparnya yang tampan itu.

Hyukjae mewakilkan penolakannya yang halus kepada senyum manis yang dipaksakannya. “Habiskanlah selagi masih hangat.”

Hyukjae kemudian berbalik, memanaskan air dan membiarkan Donghae menikmati masakan buatannya.

“Ini enak, rupanya kau berbakat menjadi seorang koki.”

Mendengar hal tersebut, Hyukjae pun tersenyum. Sebenarnya, sang ipar mau menelan makanan buatannya saja itu sudah lebih dari cukup untuk Hyukjae. Demi Tuhan! Itu hanya potongan daging yang ditumis dengan brokoli, paprika merah, baby corn, dan beberapa rempah, siapa saja bisa membuatnya, bahkan mungkin lebih baik dari pada Hyukjae, jadi tolong Lee Donghae jangan membuat Hyukjae kelewat senang dengan memujinya seperti itu.

“Mau teh?”

Apapun, Hyukjae. Apapun! Semua yang kau tawarkan pada Donghae pasti tidak akan mendapat penolakan.

“Boleh, tapi jangan terlalu manis.”

Hyukjae mengambil dua cangkir teh dan mengisinya dengan gula. Satu sendok untuk Donghae dan dua sendok untuknya. “Bagaimana jika kutambahkan ginseng merah?”

Ginseng ya?

Oh, Hyukjae tidak sedang memberikan sinyal pada Donghae untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka lepas kendali dan terjaga sepanjang malam di atas ranjang kan? Bukankah ginseng berkhasiat untuk menambah stamina terutama saat berada di atas tempat tidur?

Ku mohon, bersihkan pikiranmu dari hal-hal kotor itu Lee Donghae karena Hyukjae benar-benar tidak ada niat untuk merujuk ke sana, tidak sama sekali.

“Silahkan tambahkan apapun yang kau mau kecuali racun tikus.”

Tawa Hyukjae pecah. Pada waktu tertentu, ternyata selera humor kakak iparnya itu cukup bagus. Hyukjae menyukainya.

Tak lama setelah itu, bunyi berisik air yang mendidih segera menarik perhatian Hyukjae. Ia pun bergegas mematikan api dan menuang air panas tersebut ke dalam cangkir.

“Bagaimana kabar Jeno hari ini, Hyukjae?”

“Hari ini Jeno mencetak rekor tercepat lari saat pelajaran olah raga, dan dia juga mendapat nilai seratus dalam pelajaran matematika.”

Donghae tersenyum, merasa lega karena sikap Sungmin kemarin sama sekali tidak mempengaruhi pendidikan anaknya. “Apa dia menanyakanku?”

“Tentu saja.” Dan juga Sungmin, menanyakan kenapa ibunya selalu marah saat di depannya padahal bocah itu yakin jika dirinya sudah menjadi anak baik yang penurut dan sopan. Sudahlah, Hyukjae tidak akan membahas hal itu dengan Donghae.

Setelah teh ginseng buatannya siap, Hyukjae membawa kedua cangkir tersebut ke pantry, meletakan salah satunya di depan gelas air Donghae. “Dan dia masih menginginkan untuk memelihara seekor lumba-lumba di rumah ini.”

“Apa menurutmu aku harus menuruti keinginannya itu?”

“Entahlah.”

Mereka terus berbincang, menikmati suasana dan tertawa bersama jika dirasa ada yang lucu, tidak tahu bahwa Sungmin ada di ambang pintu dapur, sedang memperhatikan mereka dalam diam.

Awalnya Sungmin merasa biasa saja melihat interaksi sang adik dan sang suami, namun perasaan tidak nyaman mulai muncul saat Donghae tidak melepaskan pandangannya dari Hyukjae yang sedang tertawa senang, bahkan Donghae tidak berkedip sama sekali saat matanya memancarkan kekaguman khusus kepada Hyukjae.

Mau tak mau Sungmin jadi teringat malam di mana Donghae dan Hyukjae sama-sama tidak pulang ke rumah, dan juga bekas kuku seseorang di punggung Donghae. ‘Tapi tidak, itu bukan Hyukjae. Dia tidak mungkin melakukan itu padaku.’

T.B.C

Gt aja sih buat chap ini, mohon maaf klo borring. As always, Makasih buat semuanya yang udah ngeluangin waktu buat baca ff ini, yg udah ngasih perhatian lebih sama ff ini—review, fav, follow, dan yang ngasih dukungan penuh ke saya buat nerusin ff ini. Love you all! *kiss n hug* see you next chap

Advertisements

2 thoughts on “ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 6]

  1. Yeeee udah dilanjut
    Sungmin keterlaluan, ya kali anak sendiri dibiarin malah ngurus anak orang lain. Bener kata hyukjae, kamu akan kehilangan segalnya kalu sikapmu gini terus sungmin. Aduh Donghae, kenapa kalu ngmuk selalu pecahin barang? Jadi luka kan tangannya. Udah Hyukjae terima cinta dari kakak ipar aja kenapa? Cocok taauuk, biarin sungmin sengsara slah sendiri udah nyia-nyiain donghae sama jeno.
    Kayaknya kalau donghae nurutin maunya jeno buat pelihara lumba-lumba seru juga kak.
    Cemburu2 dah tuh sungminnya
    Wahh aku kepanjangan ya kak? Atau malah kependekan?
    Pokoknya semangan untuk next chapternyaa

  2. Ini ga membosankan kok, suka sama alurnya ga terburu2. Sungmin nyebelin bgt emang ya, aneh bisa gitu. Jgn2 dy udah terpesona sm ayahnya jaemin kkk. Nextnya d tggu ya :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s