ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 7]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre Rating: Full of Family (semi incest), Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Sungmin bersandar dengan nyaman pada kepala tempat tidur, membalik satu demi satu halaman dari sebuah album yang menyimpan kenangan manisnya saat berbulan madu bersama Donghae. Continue reading

Advertisements

ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 6]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre Rating: Full of Family (semi incest), Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Saat melihat miniatur mobil, hal yang muncul pertama kali dalam pikiran Hyukjae adalah Donghae. Ia jadi teringat saat sang ipar pertama kali menunjukkan tempat perakitan sederhananya di belakang rumah, mengajaknya berkeliling kota, mengajarinya bermain golf, dan segala sesuatu yang membuatnya berakhir dengan mengenang ribuan mawar yang ia perintahkan untuk di buang begitu saja tanpa kompromi. Continue reading

ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 5]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre Rating: Full of Family (semi incest), Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Pelan tapi pasti. Begitulah cara mereka menukar gairah yang semakin lama semakin pekat dengan kepuasan yang tidak ada duanya. Mereka tidak bergerak terburu-buru saat bercinta, hanya sesekali menghentak dengan keras karena gemas pada puncak kenikmatan yang mendekat. Continue reading

ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 4]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre Rating: Full of Family (semi incest), Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Donghae ada di sana—bukan raganya, tapi aromanya yang maskulin dan kuat—menempel erat di salah satu sisi tempat tidur Hyukjae dan berhasil membuat sang pemilik ranjang melayang, membayangkan sang ipar yang tampan memeluknya dari belakang sambil membisikkan kata-kata manis yang mampu membuat Hyukjae merona habis-habisan. Continue reading

ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 3]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre Rating: Full of Family (semi incest), Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Tamchunie~ ayo berangkat ke taman hibulan!”

Senyuman Hyukjae mengembang saat melihat keponakannya melompat-lompat kelewat semangat di atas sofa sambil memegangi mainan barunya—robot bumble bee dan optimus prime yang pernah dijanjikan Hyukjae. Masih memakai piama dan seratus persen mengabaikan acara animasi pagi di televisi.

Lihatlah, saat hari libur Jeno bahkan bisa bangun sebelum Hyukjae selesai berlari. Mengapa saat hari biasa bocah itu tidak akan mau bangun tanpa bujuk rayu yang manis?

Setengah berlari, Hyukjae menghampiri keponakannya, dengan gemas langsung menyambar tubuh bocah itu untuk dimasukkan ke dalam dekapannya yang hangat. Otomatis Jeno langsung tidak bisa berkutik dan melepaskan dua mainan dari tangannya.

Bocah itu tertawa senang. Deretan gigi susunya yang rapi dipamerkan saat pamannya yang manis mendudukan Jeno di atas pangkuan.

“Apa yang pernah Samchun katakan tentang melompat-lompat, hm?” kata Hyukjae sambil memicingkan matanya, tapi seratus persen tidak terlihat memakutkan.

“Tidak boleh melompat-lompat karena Jeno bisa teljatuh dan sakit.”

Anak pintar.

“Lalu kenapa Jeno masih melompat-lompat?”

Bocah itu tersenyum lebih lebar, kali ini disertai harapan. “Jeno sudah tidak sabar ingin cepat pelgi ke taman hiburan, Tamchunie.”

Taman hiburan mana yang sudah dibuka pada pukul enam pagi, Lee Jeno?

Hyukjae menangkupkan tangannya pada wajah jeno lalu menekankan keningnya dengan gemas kepada kening sempit keponakannya yang kecil dan menggemaskan. “Kita pasti akan pergi sayang, tapi nanti, setelah mandi dan melakukan beberapa hal.”

Bocah itu memegangi punggung tangan Hyukjae, terlihat sedikit kesusahan untuk bicara tapi ia tidak keberatan dengan semua perlakuan pamannya. “Ayo kita mandi, Tamchunie~”

Akhirnya, Hyukjae melepaskan tangannya dari pipi Jeno. “Baiklah, tapi cium Samchun dulu,” kata Hyukjae sambil menoleh ke samping, mendekatkan pipinya pada Jeno.

Bocah lucu itu segera mencium kedua pipi Hyukjae. Semakin cepat ia melakukan perintah sang paman, semakin cepat pula ia mendapatkan apa yang ia mau. “Sudah, Tamchunie?”

Hyukjae mengangguk puas sambil tersenyum.

“Gendong belakang, Tamchunie~” kata bocah itu sambil mengulurkan kedua tangannya ke pundak Hyukjae.

Sang paman menggeleng. “Jeno harus jalan sendiri ke atas.”

Bocah itu cemberut, kemudian memasang wajah memelas sambil mengedip beberapa kali, meminta pamannya supaya mau menurut pada kemauannya.

Nah, sekarang bagaimana cara Hyukjae untuk keluar dari rayuan tanpa suara itu?

Tidak akan bisa, karena Hyukjae tidak bisa menemukan satupun cara yang ampuh.

Hyukjae lalu menghela napas, menyerah. “Baiklah keponakan Samchun yang manja.” Memangnya siapa yang membuat makhluk lucu itu semanja ini? Dirimu sendiri Hyukjae, tidak ada yang lain. “Ayo naik.”

Jeno hampir saja melompat-lompat lagi, tapi diurungkan karena melihat mata pamannya yang melotot, mengantisipasi. Jadi, bocah itu turun dari pangkuan Hyukjae ke sofa dengan tenang selayaknya anak penurut yang pintar.

Ketika Hyukjae menghadapkan dirinya ke samping, matanya tanpa sengaja menangkap bayangan Donghae. Iparnya itu muncul dari lorong panjang yang menghubungkan ruangan santai tersebut dengan ruang olahraga, berjalan tenang sambil mengusap keringat di bagian wajah dengan handuk kecil yang mengalung di leher.

Tanpa sadar Hyukjae menahan napas, gugup, saat melihat dada bidang Donghae yang tercetak jelas dibalik t-shirt putih yang basah karena keringat. Itu dada serupa yang kemarin, di padang golf, menempel di punggungnya. Sampai saat ini, Hyukjae masih bisa merasakan betapa kokoh dan nyamannya berada dalam lingkupan dada itu.

Lalu mata Hyukjae berpindah pada bisep Donghae yang berkilauan karena keringat. Hyukjae sampai harus meremas lututnya supaya ia tidak berdiri dan lari ke dalam rengkuhan iparnya yang menggoyahkan iman.

Puncak dari drama tersebut adalah saat pandangan mereka bertemu, saat mata lelaki tampan itu membidik tepat pada mata iparnya yang manis. Seluruh tubuh Hyukjae rasanya menjadi panas, ia tiba-tiba mendamba sesuatu yang bisa membangkitkan binatang buas betina dalam dirinya, menendang jauh rasa malu dan akal sehat yang ia miliki untuk beberapa saat.

Hasrat.

Tidak salah lagi.

Hyukjae menginginkan lelaki itu menghampirinya, meletakkan tangannya yang kokoh di pinggangnya lalu menarik wajahnya mendekat, mencumbunya, membelainya di bagian paling sensitif dan membuat Hyukjae melayang sampai langit ke tujuh sambil meneriakan namanya. Donghae-ah~

Abeoji, mau ikut?”

Halusinasi Hyukjae berakhir karena teriakan Jeno. Ia benar-benar bersyukur pada keponakannya yang sudah menempel di punggungnya. Entah apa yang akan terjadi jika lamunan itu terus berlanjut. Mungkin Hyukjae bisa benar-benar lari ke dalam pelukan Donghae untuk menuntut sesuatu yang tidak akan—belum tentu—bisa diberikan Donghae kepadanya.

“Ke mana?” tanya Donghae kepada Jeno, tapi matanya tidak meninggalkan mata Hyukjae, terpaku di sana seolah di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua.

“Taman hibulan~”

‘Ku mohon, katakan tidak,’ pinta Hyukjae dalam hati.

Setelah diam beberapa saat, Donghae memasang senyuman tanda menyesalnya. “Tidak bisa, Abeoji harus mengerjakan sesuatu.”

Hyukjae kemudian menoleh ke samping untuk melihat keponakannya. Bocah itu terlihat sedih karena penolakan sang ayah, dan Hyukjae benar-benar menyesal telah berharap bahwa Donghae menolak permintaan Jeno.

Hyukjae kemudian menoleh lagi kepada Donghae, ingin menanyakan perkara apa yang lebih penting dari pada Jeno di hari libur begini, siapa tahu dengan begitu Donghae bisa mengubah jawabannya kepada Jeno, tapi Hyukjae menelan lagi pertanyaannya saat Donghae kembali bicara.

“Tapi, jika Jeno mengajak Abeoji ke taman hiburan minggu depan, Abeoji tidak akan menolak. Abeoji akan mengosongkan jadwal untuk minggu depan.”

Mata Jeno berbinar-binar. “Jeongmal?”

Donghae tersenyum sambil mengangguk. “Hari ini Jeno bersenang-senang dengan Samchun saja tidak masalah kan?”

Giliran Jeno yang tersenyum sambil mengangguk. Tidak pernah ada masalah bagi anak itu jika bersama pamannya. “Baik. Tamchunie, ayo kita mandi~”

Hyukjae berdiri sambil memegangi badan Jeno yang menempel di punggungnya. Ia masih menatap Donghae saat berjalan menuju tangga sambil berharap, Donghae tidak akan ingkar janji lagi seperti beberapa hari yang lalu saat ia mengatakan akan pulang cepat kepada Jeno yang sedang sakit.

o0o

Pasangan paman dan keponakan itu berdiri di depan cermin tinggi. Sama-sama sedang merapikan rambutnya dengan lima jari. Sebenarnya hanya Hyukjae, karena rambut Jeno sudah dirapikan Hyukjae sejak tadi, bocah itu hanya meniru apa yang dilakukan pamannya.

Keduanya kemudian mengambil kemeja kotak-kotak berlengan panjang serupa yang telah dipersiapkan Hyukjae. Sang paman memilih pakaian itu karena sang keponakan ingin memakai pakaian yang sama.

Bocah itu memasang kemejanya sendirian, dengan serius menunduk menautkan kancing-kancingnya. Jeno bersikeras untuk memakainya sendiri, katanya ia sudah dewasa dan ingin belajar mandiri. Manis sekali kan tingkah bocah itu?

Sedangkan Hyukjae sendiri hanya menggulung lengan kemejanya, membiarkan kancingnya terbuka dan memamerkan kaus hitam tanpa lengan yang ia pakai.

“Sudah, Tamchunie~” kata Jeno sambil merentangkan kedua lengannya yang kecil, memamerkan semua kancing yang telah tersemat rapi.

Hyukjae tersenyum melihat pantulan keponakannya dalam cermin. “Masih ada yang kurang, Jeno.” Sang paman mengambil topi kecil warna biru, berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Jeno lalu memasangkan topi tersebut pada keponakannya. “Nah, sekarang sudah selesai. Keponakan Samchun sudah tampan~”

Deretan gigi susu putih tersebut kembali diperlihatkan kepada Hyukjae, membuat sang paman mencium gemas pipi keponakannya.

Hyukjae melihat jam di dinding. Sudah pukul delapan pagi, dua jam lagi taman hiburan baru akan dibuka. Hyukjae bisa mengulur waktu dengan sarapan bersama Jeno. “Baiklah, ayo kita makan!”

Jeno mengangguk, lalu menggenggam tangan Hyukjae untuk berjalan keluar kamar menuju lantai bawah.

Ketika sampai di ruang makan, mereka dikejutkan dengan kehadiran Sungmin. Sang dokter yang punya segudang kesibukan itu sedang duduk di salah satu kursi meja makan, mengamati pergerakan beberapa pelayan yang sedang mempersiapkan hidangan sambil memberikan perintah untuk melakukan ini dan itu. Mirip seperti seorang ratu.

Ratu Donghae.

Mungkin perkara inilah yang lebih penting dari pada Jeno bagi Donghae, sehingga lelaki itu menolak ajakan putranya. Donghae ingin menghabiskan waktu dengan Sungmin karena akhirnya istrinya itu mau meluangkan waktu untuk keluarga.

Tentu Hyukjae merasa senang karena kakaknya akhirnya mau muncul di meja makan, di hari libur pula, tapi di sisi yang lain, Hyukjae juga merasa tidak senang dengan semua itu, entah karena apa.

Jeno menarik lengan Hyukjae, membawa sang paman mendekat pada sang ibu.

“Selamat pagi, Eomoni~”

Perhatian Hyukjae tertuju ke bawah, kepada Jeno. Lihatlah, keponakannya yang malang. Bahkan setelah diabaikan sedemikian rupa oleh ibunya sendiri, Jeno tetap berlaku manis untuk mendapatkan perhatian wanita itu.

Sungmin tersenyum sekilas kepada Jeno kemudian beralih memperhatikan Hyukjae. “Mau pergi?”

Hyukjae mengangguk sebagai jawaban. Ia menarik kursi di depan Sungmin, dan membimbing Jeno untuk duduk di sana.

“Saat aku pergi, kau selalu memintaku untuk meluangkan waktu untukmu. Sekarang aku di sini, bagaimana jika kau mengatur ulang rencanamu hari ini supaya kita bisa menghabiskan waktu bersama?”

Seenaknya saja.

Jika hal itu disarankan oleh Hyukjae tiap kali Sungmin akan pergi, apakah kakaknya itu mau mempertimbangkan untuk mengatur ulang kegiatannya?

Tidak.

Jika Sungmin bisa berlaku seenaknya, maka Hyukjae juga bisa.

“Tidak bisa. Aku sudah berjanji membawa Jeno ke taman hiburan hari ini.”

“Kau bisa membawanya ke sana Minggu depan, Hyukkie.”

Minggu depan artinya ia mungkin akan pergi bersama Donghae karena lelaki itu sudah berjanji kepada Jeno. Tapi bukan itu masalah besarnya di sini.

Hyukjae menarik satu kursi lagi untuk dirinya sendiri. Ia duduk dengan tenang sambil menatap lurus kepada kakaknya. “Kita juga masih bisa berkumpul seperti ini lagi Minggu depan, jadi, noona tidak perlu cemas.”

Sungmin mendesiskan nama Hyukjae, terlihat mulai jengkel tapi ditahan sekuat tenaga. “Kesempatan seperti ini tidak datang setiap Minggu padaku, Hyukjae.”

Hyukjae tersenyum pahit sebelum mengalihkan pandangan kepada Jeno yang sejak tadi hanya diam memperhatikan paman dan ibunya berbicara. Meskipun super sibuk, kakaknya pasti bisa meluangkan waktu untuk Jeno di hari libur, tak masalah jika itu hanya satu jam. Masalahnya adalah Sungmin tidak mau mengupayakan, bagaimana Hyukjae bisa menerima hal itu begitu saja. “Baiklah keponakan Samchun yang tampan, hari ini Samchun akan mengabulkan semua permintaan Jeno.”

Mata bocah itu jadi berbinar-binar senang. “Jeongmal, Tamchunie? Semuanya?”

Hyukjae mengangguk.

“Jangan terlalu memanjakannya, Hyukjae. Dia bisa jadi orang tidak berguna jika kau terus menuruti semua keinginannya.”

Teganya Sungmin mengatakan semua itu di depan anaknya.

Jika selama ini Sungmin menjalankan kewajibannya dengan baik, dan bersikap selayaknya seorang ibu yang penuh kasih sayang, perkataan itu mungkin bisa ditoleransi oleh Hyukjae, tapi Sungmin tidak berlaku demikian. Hyukjae jadi makin jengkel kepada sang kakak.

Hyukjae tidak hanya sekedar sedang memanjakan keponakannya, tapi ia berusaha memberikan perhatian dan kasih sayang yang tidak diberikan oleh orang tua Jeno, membesarkan hati keponakannya yang malang, supaya Jeno tidak merasa tersisihkan karena kurang kasih sayang. Membuat keponakannya memahami bahwa meskipun tidak dicintai oleh ibunya, Jeno masih memiliki Hyukjae, pamannya yang manis itu siap memberikan seluruh isi dunia kepadanya. “Aku tahu apa yang harus dan tidak harus ku lakukan, noona. Jadi, jangan mendikteku.”

Melihat hal tersebut, Sungmin menggertakan giginya. Untuk menekan amarahnya, Sungmin kemudian menoleh kepada seorang pelayan yang sedang menata obat-obatan di dekat peralatan makan paling ujung. Ia mengambil obat tersebut lalu membacanya. “Benar semua ini yang diminum tuan Lee tiap pagi?”

“Benar.” Donghae yang menjawab.

Semua orang memperhatikan lelaki itu berjalan mendekat dengan tenang lalu menarik kursi paling ujung untuk ditempati.

“Ini bukan obat yang aku resepkan untukmu.”

“Dokter Kim menggantikan resepnya karena ada efek samping yang tidak bisa ditoleransi oleh tubuhku.” Lelaki tampan itu mengambil koran pagi dan membacanya dengan tenang.

Hyukjae melihat rahang Sungmin mengeras, pertanda bahwa kakaknya itu tersinggung dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.

“Kau seharusnya membicarakan hal ini dulu denganku, supaya aku bisa mencarikan solusinya untukmu.”

Yang benar saja? Sungmin bahkan baru tahu hari ini bahwa obat Donghae sudah diganti oleh dokter Kim. Donghae berani bertaruh bahwa Sungmin tidak tahu jika dokter Kim sudah melakukan pergantian obat kepadanya sebanyak tiga kali dalam waktu setahun karena tidak juga mendapatkan hasil. Lalu, solusi macam apa yang bisa diupayakan oleh Sungmin?

“Tidak bisakah kau melakukannya?” Nada suara Sungmin meninggi, ia merebut koran Donghae. Saat itu juga raut wajah suaminya yang tenang berubah jadi keruh, seperti siap untuk menumpahkan semua kekesalannya.

Apakah mereka akan bertengkar sekarang? Di hadapan para pelayan, Hyukjae dan juga Jeno?

Mereka benar-benar tidak waras!

Hyukjae bangkit dari kursinya, menggendong Jeno dan segera membawanya pergi dari ruang makan tanpa keributan, tak lupa memberikan isyarat pada para pelayan untuk pergi dari sana secepat mungkin. Mereka, terutama keponakannya tidak harus melihat pertengkaran antara Sungmin dan Donghae.

Menyadari bahwa semua orang meninggalkan meja makan, Donghae menghela napas untuk mengekang amarahnya sendiri. Ia tidak mau menambah daftar kesalahan lagi dengan meluapkan kemarahan dalam dadanya di sini. Sudah cukup, ia tidak akan lagi tenggelam dalam amarah yang membuatnya berakhir dengan memecahkan barang-barang seperti yang terjadi tiap pagi.

“Apa sulitnya menghubungiku atau menemuiku di rumah sakit, tuan Lee yang terhormat?”

Haruskah Donghae melakukannya? Melangkah pergi ke rumah sakit untuk menemui istrinya ketika seharusnya ia bisa melakukan segalanya di rumah?

“Kendalikan dirimu, Lee Sungmin. Kita tidak seharusnya melakukan hal ini.”

“Kau yang membuatku seperti ini Lee Donghae. Jika kau tidak mencari masalah denganku, kita tidak akan berakhir seperti ini.”

Donghae menarik napas. “Setidaknya, pikirkan bagaimana pandangan Hyukjae kepadamu sebelum kau meluapkan amarah kepadaku.” Lelaki tampan itu mengambil segelas air dan meminum setengah dari isi gelas tersebut dengan santai. “Jika kau bisa mengendalikan sedikit saja amarahmu, mungkin saat ini Hyukjae dan Jeno masih ada di sini, menghabiskan waktu bersamamu persis seperti yang kau harapkan.” Tidak ada yang bisa mengerti dan memahami Sungmin sebaik Donghae. Apa yang diinginkan Sungmin, apa yang ada dalam hati dan pikirannya, Donghae bisa mengetahui semua itu hanya dalam sekali lihat. Tapi Donghae tidak akan membuat jalan Sungmin menjadi mudah, karena istrinya itu tidak bisa mencintai putranya. “Aku selesai. Nikmati makananmu nyonya Lee Sungmin.”

Lalu Donghae pergi meninggalkan meja makan, tanpa menoleh kepada Sungmin yang menunduk sambil menyelipkan kesepuluh jari pada rambut pirangnya yang indah, menekan kuat-kuat kepalanya yang pusing berdenyut-denyut.

Sungmin hanya menginginkan acara pagi yang hangat bersama Donghae dan Hyukjae, tapi semuanya pergi, semuanya berantakan karena emosinya yang tidak bisa dikendalikan.

o0o

“Apakah Abeoji sakit, Tamchunie?”

Hyukjae melirik keponakannya yang duduk pasrah di bawah belenggu sabuk pengaman lalu kembali fokus pada jalanan. “Entahlah.” Hyukjae sendiri tidak tahu apakah obat yang diributkan Sungmin dan Donghae adalah obat untuk sebuah penyakit kronis atau hanya multivitamin.

Tak mau pusing memikirkan iparnya, Hyukjae pun mengalihkan topik pembicaraan. “Sekarang, Jeno ingin makan apa?”

Tanpa pikir panjang, bocah itu berteriak, “Burger!” dan membuat sang paman berdecak.

“Tidak boleh. Jeno harus makan nasi dulu pagi ini. Ayo coba pikirkan sesuatu tentang nasi yang ingin Jeno makan.”

Bocah itu mengerucutkan bibir, berpikir keras. “Jajangmyun?”

Hyukjae tertawa. “Nasi, sayang~”

Jeno berpikir keras lagi. “Budaejjigae?”

Giliran Hyukjae yang mengerucutkan bibir, mempertimbangkan. “Itu sedikit pedas, ayo coba sebutkan makanan yang lain.”

Hyukjae sedang mengabsen makanan atau apa?

Jeno terlihat mulai kesal, ia bersidekap seperti orang dewasa. “Katanya Tamchunie mau mengabulkan semua permintaan Jeno? Pokoknya Jeno mau budaejjigae.”

Sepertinya boomerang yang Hyukjae lempar telah kembali kepadanya. Hyukjae akhirnya mengulurkan tangan untuk mencubit gemas pipi keponakannya yang tembam. “Baiklah, baik, kita akan makan Budaejjigae, Jeno senang?”

Langsung saja Jeno berteriak senang dengan kedua tangan terangkat ke atas. Jika tidak terbelenggu oleh sabuk pengaman mungkin bocah itu sudah melompat-lompat lagi.

Hyukjae menepikan mobilnya lalu turun membukakan pintu untuk Jeno.

Tak disangka sebuah lamborghini putih yang mulai tak asing bagi Hyukjae berhenti tepat di belakangnya. Lalu, Choi Siwon keluar dan langsung menyambut Hyukjae dengan senyum dua lesung pipinya. “Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Selamat pagi, Hyukjae?”

Choi Siwon menutup pintunya, lalu berjalan mendekati Hyukjae. “Tidakkah kau berpikir bahwa kita memang ditakdirkan bertemu?”

Hyukjae memaksakan sebuah senyuman. Dirinya ada di sini karena pertengkaran sialan Sungmin dan Donghae, bukan karena takdir konyol yang dimaksudkan Siwon. “Selamat pagi, tuan Choi.”

“Cukup Siwon saja, Hyukjae. Aku merasa sudah berjanggut tebal jika kau memanggilku tuan.” Siwon menunduk, lalu berjongkok dan mengusak topi Jeno. “Ah, selamat pagi juga mr. Whale versi anak-anak.”

Jeno mendongak ke atas, menggoyangkan lengan pamannya yang manis. “Orang ini siapa, Tamchunie?”

“Oh, Jeno tidak ingat paman Choi?” Siwon menyela sebelum Hyukjae sempat membuka mulut, menarik lagi perhatian Jeno kepadanya. “Saat kau berumur lima bulan, paman pernah ke rumah dan menggendongmu. Kau tidak ingat?”

Bagaimana bisa seorang bayi mengingat semua hal itu, Choi Siwon yang tampan? Astaga.

Jeno mendongak pada Hyukjae lagi. “Orang ini belbicara apa sih, Tamchunie?”

Hyukjae menutupi mulutnya rapat-rapat karena ia tahu jika sampai tawanya terlepas hal itu bisa menimbulkan keributan. Setelah dirinya lebih terkendali, Hyukjae akhirnya berkata, “Paman Choi ini adalah teman Abeoji. Ayo beri salam, Jeno.”

Shilo~” kata Jeno sambil melengos ke arah lain.

Sambil tersenyum, Siwon mengusak kepala Jeno lagi. “Ayahmu tidak sesombong ini, Jeno. Dari mana kau mendapatkan sifat itu?” tanya Siwon sambil melirik Hyukjae seolah menyatakan bahwa sifat sombongnya Jeno itu diturunkan dari keluarganya, tepatnya oleh dirinya.

Jeno tidak peduli karena ia memang tidak mengerti apa yang dikatakan Siwon. Sambil cemberut, ia menarik-narik lengan Hyukjae. “Tamchunie, jeno lapal~”

Giliran Choi Siwon yang mendongak ke atas. “Apa Lee Donghae memecat seluruh pelayannya? Kenapa anak ini kelaparan di jam segini?”

Kenapa Siwon jadi terlihat seperti wartawan pengejar berita hangat?

Hyukjae benar-benar tidak menyukai itu. “Tidak, kami hanya ingin makan di luar.”

Lalu mata Siwon memicing, bibirnya menyeringai licik. “Apa jangan-jangan Lee Sungmin dan Lee Donghae menyuruh kalian pergi karena mereka ingin bermesraan berdua saja di rumah?”

Bermesraan Pantatnya! Yang ada mungkin mereka saling melempar peralatan makan karena mereka sedang bertengkar.

“Semacam bulan madu ke dua?”

Ini mulai mengganggu Hyukjae. Bukan mengenai apa yang mungkin dilakukan Donghae dan Sungmin di rumah, lebih kepada perkataan Siwon yang keluar tanpa penyaringan di depan keponakannya. Bagaimana jika Jeno menanyakan kata-kata yang asing tersebut? “Baiklah tuan Choi, aku harus pergi untuk mencarikan makanan untuk Jeno.”

“Aku bisa menemani kalian, jika kau tidak keberatan Hyukjae. Kita mungkin bisa saling bertukar cerita sambil memanjakan mr. Whale versi anak-anak ini.”

“Apa itu mislel Whale, Thamchunie?”

Siwon terlihat gemas, ia mencubit pipi kanan Jeno. “Mr. Whale itu ayahmu, Jeno.”

“Jadi nama Abeoji itu Lee Donghae mislel Whale? Kenapa panjang sekali?” tanya Jeno sambil memegangi pipinya.

Hyukjae memejamkan mata, terlihat mulai frustrasi dengan pembicaraan Siwon dan Jeno. Berbanding terbalik dengan Siwon yang tertawa terbahak-bahak karena menikmati percakapannya dengan Jeno. “Itu bagus sekali, Jeno. Hyukjae, aku benar-benar menyukai anak ini. Boleh ku bawa pulang?”

Hyukjae tidak bisa mentoleransi ini lagi. “Tidak ada kata Mr. Whale di belakang nama Abeoji, Jeno. Hanya Lee Donghae.” Nah, mengapa sekarang Hyukjae terlihat seperti seorang istri yang tidak terima suaminya diolok-olok oleh tukang gosip?

“Lalu, mislel Whale itu apa, Tamchunie? Jeno mau tau.”

Sebelum Siwon menyela, Hyukjae sudah terlebih dulu memasang tampang seramnya sehingga lelaki berlesung itu tidak punya nyali untuk mengatakan apapun.

“Itu hanya panggilan akrab paman Choi untuk Abeoji.”

Bocah itu mengangguk mengerti, kemudian tidak lagi bertanya karena perutnya berbunyi.

“Sepertinya dia memang kelaparan.” Siwon berkomentar. “Bagaimana, Jeno mau kan pergi dengan paman Choi?”

Bocah itu menggeleng cepat-cepat, membuat Siwon menaikan alisnya.

Wae?”

“Paman Choi tidak asik.”

Siwon jelas terkejut mendengar hal itu. Dirinya yang tampan dikatai tidak asik? Oleh anak berusia enam tahun pula? Apakah ia dilecehkan? Siwon kemudian berdiri sejajar dengan Hyukjae dan memperlihatkan dengan jelas wajah tidak terimanya. “Apa mulut bocah ini selalu begitu saat dia lapar? Jika demikian aku tidak jadi ingin membawanya pulang.”

Dasar plin-plan.

Hyukjae menyembunyikan tawanya di balik telapak tangan. Selama ini Jeno tidak pernah bersikap begitu kepada orang asing, jika keponakannya sudah berlaku seperti itu, maka pasti ada sesuatu yang tidak baik dengan lelaki ini. Dan Hyukjae sependapat dengan Jeno.

“Aku berterima kasih sekali atas tawaranmu, tapi kami hanya akan menghabiskan waktu berdua saja. Aku benar-benar minta maaf jika perkataan Jeno melukai harga dirimu, tuan Choi.”

Siwon menghela napas dan memasang wajah kecewa buatan. “Aku sedih karena kita harus mengakhiri pertemuan manis ini dengan cara seperti ini.”

Itu harus terjadi, karena Hyukjae sudah tidak tahan di sini. Mulut Siwon ini sombong dan usil, jika dirinya terus bersama lelaki ini entah apa saja yang akan ditanyakan Jeno kepadanya.

“Kita akan bertemu lagi di kesempatan lainnya.”

Sambil tersenyum, Hyukjae berdoa dengan sungguh-sungguh semoga kesempatan itu tidak akan datang. Ia pun membungkuk dan mengucapkan selamat tinggal sebelum berlalu dari hadapan Siwon.

“Aku seperti mengenalnya.”

Siwon menoleh ke belakang, dan mendapati seorang pemuda yang parasnya manis sekali sedang menengok melewati bahunya, melihat Hyukjae dan Jeno.

“Ah, halo sayang,” sapa Siwon sambil memegangi pundak pemuda itu lalu mencium kedua pipinya. “Kau dari mana saja, Kibumie? Aku sampai hampir mendapatkan hati iparnya Lee Donghae karena terlalu lama menunggumu.”

“Itu tadi Lee Hyukjae? Pantas saja terlihat tidak asing.”

Siwon mengangguk lalu merangkul pundak Kibum, menuntun kekasihnya menuju mobil. “Dan anak kecil tadi adalah Lee Jeno.”

“Anaknya Lee Donghae? Sudah sebesar itu?”

Siwon menggumam lalu membukakan pintu untuk Kibum.

Kekasihnya melangkah masuk ke dalam mobil dengan anggun. “Jadi, seberapa bagus prospek antara dirimu dan Lee Hyukjae?”

Choi Siwon tertawa sambil menumpukan tangannya di atas pintu. “Tidak sebagus prospekku dengan dirimu, Duchess.”

Kibum memutar matanya. “Berhenti memanggilku begitu jika kau masih ingin menghabiskan waktu denganku hari ini.”

Siwon mengangkat tangan, memyerah karena tidak berani membantah.

o0o

Mereka tiba di rumah pukul tujuh petang. Sejujurnya Hyukjae takut untuk pulang, bukan takut dalam arti Donghae atau Sungmin akan memarahinya karena mengajak Jeno jalan-jalan seharian penuh, tapi ia takut keponakannya masih akan melihat orang tuanya memperdebatkan hal-hal yang tidak perlu.

Untungnya saat ia datang, keadaan rumah sangat sepi. Seorang pelayan mengatakan bahwa kakak dan iparnya tidak ada di rumah. Sungmin sudah pasti pergi ke rumah sakit, tapi tidak ada yang tahu di mana sang tuan rumah berada saat ini.

Hyukjae tidak akan pusing memikirkan iparnya itu, karena keberadaan sang ipar di dekatnya akhir-akhir ini hanya membuat pikirannya jadi tidak genap.

Selesai memandikan—mandi bersama Jeno, Hyukjae mengajak keponakannya belajar, tidak ada toleransi sekalipun bocah itu mengeluh lelah dan mengantuk.

Tamchunie~” Bocah itu belum menyerah untuk merayu pamannya supaya malam ini ia dibebaskan dari acara belajar. Tapi Hyukjae juga tidak mau kalah gigih dalam mendirikan keteguhan tekadnya. Ia menggeleng tegas kepada Jeno sambil bersidekap di atas tempat tidur.

Jeno cemberut, dan akhirnya menyerah, membaca jadwal pelajaran untuk besok.

Setelah Jeno berhasil menemukan semua buku yang ia perlukan, bocah itu menoleh ke belakang. “Ada pekerjaan rumah yang belum selesai, Tamchunie~”

Nah, jika Hyukjae mengalah dan tadi membiarkan Jeno tidur, maka apa yang akan terjadi pada keponakannya besok? Bisa-bisa makhluk kecil yang lucu itu berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, lalu poin paling buruk adalah Jeno akan merengek tidak mau lagi pergi ke sekolah karena malu. Hyukjae tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

“Bawa ke sini. Akan Samchun bantu menyelesaikannya.”

Jeno membawa tasnya ke atas ranjang, di samping Hyukjae. Bocah itu mengambil sebuah buku lalu membukanya tepat pada halaman di mana pekerjaan rumahnya tertera.

“Baca pertanyaannya, sayang.”

Jeno mulai membaca, Hyukjae membenarkan jika keponakannya salah saat mengeja, lalu memberikan beberapa petunjuk supaya Jeno bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya.

Berlangsung seperti itu sampai akhirnya Hyukjae tertidur dalam keadaan bersandar pada kepala ranjang. Jeno sampai tertawa melihat pamannya.

Bocah itu mengumpulkan semua buku yang ada di atas ranjang, memasukannya ke dalam tas beserta alat tulisnya. Lalu ia menarik selumut dan memasangkan pada pamannya yang manis. “Selamat malam, Tamchunie~” kata bocah itu setelah mencium pipi Hyukjae. Jeno kemudian masuk ke dalam selimut, bersandar pada pamannya dan ikut tidur.

Beberapa jam setelah Jeno terlelap, pintu kamarnya terbuka dengan pelan. Ayahnya masuk dan menghampiri ranjang. Pria itu tersenyum saat melihat kelakuan anak beserta iparnya. ‘Apa-apaan posisi tidur mereka?’ Tapi semua itu terlihat benar-benar manis di mata Donghae. Sering ia merasa bahwa Jeno terlahir untuk menjadi anak Hyukjae, bukan anak Sungmin atau anaknya.

Tamchunie, ayo naik lollel cottel~”

Donghae tersenyum, ingin sekali terbahak mendengar perkataan anaknya yang tidak benar. Jeno pasti sedang memimpikan saat ia bermain di taman hiburan bersama Hyukjae tadi.

Meskipun terlihat manis, tapi mereka tidak bisa dibiarkan seperti itu sampai pagi, atau badan mereka akan sakit di sana-sini saat bangun.

Donghae memulai dengan Jeno. Ia memisahkan anaknya dari Hyukjae, merebahkan bocah itu di sisi ranjang, memagarinya dengan guling supaya tidak terjatuh dan memasangkan selimut. Setelah itu ia berpindah pada Hyukjae. Donghae menarik sang ipar ke dalam pelukannya, mengangkatnya seperti mengangkat seorang mempelai untuk dibawa ke dalam kamar pengantin.

Donghae membawa Hyukjae keluar dari kamar Jeno tanpa adanya halangan. iparnya itu masih tertidur lelap, tidak terganggu sedikitpun bahkan saat Donghae kesulitan membuka pintu kamar Hyukjae.

Setelah menutup pintu, Donghae membawa Hyukjae ke tempat tidur, membaringkan iparnya di sana. Tapi saat Donghae hendak menjauhkan diri, lengan Hyukjae memerangkap lehernya. Tidak rapat, tapi cukup untuk membuat Donghae terdiam, tidak mau beranjak dari posisi tersebut. Matanya menatap lurus pada bibir Hyukjae yang ranum dan sedikit terbuka. Di dalam sana pastilah hangat dan menyenangkan terlebih jika lidah Hyukjae dengan semangat membalas belaian lidahnya. “Apa yang kau inginkan, Hyukjae?” Napas Donghae memberat. Mati-matian lelaki itu menahan tangannya untuk tidak membelai pipi Hyukjae.

“Cium aku…”

Bulu mata iparnya tidak goyah sedikitpun, itu artinya Hyukjae mengigau.

“Bercintalah denganku…”

Ini jelas tidak disengaja.

Donghae benar-benar yakin bahwa iparnya ini tertidur lelap dan memimpikan sesuatu yang kotor tapi panas. Pertnyaannya adalah, dengan siapa?

“Sekarang…”

Sialnya, celana Donghae langsung sempit hanya karena mendengar suara Hyukjae yang manja. Donghae tidak mengerti, bahkan saat tertidur, mengapa Hyukjae masih tetap menjadi godaan terkejam baginya?

Dalam keadaan seperti itu, Donghae bisa saja menciumnya, bahkan melakukan hal yang lebih berani dari pada itu, seperti, menjalankan tangannya pada seluruh tubuh Hyukjae, melepas semua pakaiannya, lalu membuka lebar kaki indah sang ipar yang telanjang. Tapi Donghae menjauh, ia melepaskan tangan Hyukjae dari lehernya dengan perlahan, dan menekan seluruh keinginannya sendiri. Ia tidak boleh jatuh ke dalam godaan yang kejam itu, tidak untuk sekarang.

Donghae kemudian menarik selimut lalu memasangkannya pada Hyukjae. Iparnya itu tidak lagi bereaksi, mungkin mimpi iparnya itu juga sudah berakhir. Donghae harus bersyukur.

Selimut sudah membungkus rapat pada tubuh Hyukjae, seharusnya Donghae bisa langsung pergi meninggalkan kamar iparnya, sayangnya Donghae tergoda untuk tetap berada di samping Hyukjae, seperti malam sebelumnya saat ia menjumpai iparnya itu tertidur di meja. Donghae duduk di sisi ranjang yang kosong lalu tanpa sadar merebahkan diri di samping Hyukjae.

Bantal, selimut dan ranjang semuanya beraroma Hyukjae.

Donghae terlena, matanya memberat karena rasa nyaman, hingga tanpa sadar tertutup sempurna. Donghae mengantuk dan ingin tidur untuk beberapa saat. Dalam hati ia berpikir, membaringkan diri di sana selama lima atau sepuluh menit tentunya tidak akan menimbulkan masalah kan? Toh selama ini, dirinya tidak akan bisa tidur sebelum tengah malam.

o0o

Kim Ryeowook harus berulang kali menyenggol lengan Hyukjae karena temannya itu melamun di tengah rapat. Jika hanya dengan manajernya saja tidak akan ada masalah mau Hyukjae melamun ataupun tidur, tapi mereka sedang rapat dengan salah satu anggota dewan yang mempunyai peranan penting dalam perusahaan tempatnya bekerja.

Jeosonghamnida,” kata Hyukjae sambil membungkuk dalam pada sang pimpinan rapat.

“Jika kau merasa tidak enak badan, kau boleh meninggalkan ruangan ini lebih awal,” kata anggota dewan tersebut.

Tawaran yang tidak buruk, tapi tentu saja tidak bisa diambil oleh Hyukjae.

Dengan sopan Hyukjae menolak, dan menyatakan kesanggupannya untuk mengikuti rapat sampai selesai tentu saja dengan jaminan ia tidak akan melamun lagi.

Setelah rapat selesai, Hyukjae dan Ryeowook pergi ke toilet. Rapat koordinasi tadi cukup menguras pikiran dan mereka butuh mencuci muka untuk menyegarkan badan.

“Kau sebenarnya kenapa, Hyukjae?”

Hyukjae mengaduk isi tas perlengkapan Ryeowook sambil mempertimbangkan untuk bercerita atau tidak kepada temannya.

“Tidak ingin bercerita?”

Oh! Baiklah.

“Semalam aku tidur dengan seseorang.”

Ryeowook membersihkan sudut matanya dari air dengan santai. “Lalu?” Itu bukan berita baru bagi Ryeowook, tentu saja dia tidak akan terkejut. “Apa malammu tidak menyenangkan? Apa dia tidak perkasa?”

Jangankan menyenangkan, Hyukjae bahkan tidak ingat apapun selain menemani keponakannya belajar, dan sebuah mimpi kotor yang terus mengganggu pikirannya. Hyukjae yakin tidak minum alkohol ataupun dipaksa meminum minuman laknat tersebut semalam, tapi mengapa ia benar-benar tidak bisa menemukan apapun yang akhirnya bisa membawa dirinya pada jawaban dari pertanyaan kenapa Donghae bisa ada di ranjangnya tadi pagi? Tidur di sampingnya dengan lelap sambil menggenggam tangannya.

Benar, saat terbangun, Hyukjae mendapati jemari tangan Donghae dan tangannya saling menaut. Apa artinya semua itu?

Hyukjae menjambak rambutnya sambil menunduk di atas wastafel. Bingung harus melakukan apa nanti saat dirinya bertemu Donghae di rumah. Hyukjae berharap iparnya itu sibuk di kantor dan tidak akan pulang sebelum pukul sembilan atau sepuluh malam.

“Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamu? Atau jangan-jangan kau yang melakukan hal memalukan?”

Satu-satunya hal yang memalukan semalam adalah mimpi kotornya. Bagaimana bisa dirinya bermimpi seperti itu? Dengan iparnya pula. Saat iparnya mengangkatnya seperti pengantin dan meletakan dirinya di atas ranjang, semuanya terasa begitu nyata bagi Hyukjae, seperti benar-benar terjadi, tapi tidak terasa nyata saat Donghae menciumnya atau saat iparnya itu menyatukan tubuh mereka.

Hyukjae menggeleng cepat-cepat untuk mengusir bayangan mimpi tidak senonohnya. “Bagaimana bisa semua ini terjadi?”

Ryeowook memutar mata. Ia mulai jengah dengan temannya. “Lee Hyukjae, jika kau mau bercerita, katakanlah semuanya dengan jelas. Jangan berbelit-belit.”

Baiklah.

“Aku tidur dengan kakak iparku.”

Kim Ryeowook menahan napas dengan mulut menganga. Pelembab bibirnya terjatuh dengan dramatis ke dalam wastafel. “Apa kau bercanda? Dengan siapa? Coba kau ulangi.”

Hyukjae menegakan badan, menghela napas sambil menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba mengendalikan dirinya yang mulai tenang karena tidak harus menyimpan rahasia itu sendiri. Ia menatap bayangan Ryeowook di cermin, sama seperti yang dilakukan temannya. “Begini, aku tidak mabuk semalam. Aku tidak tahu kenapa dia bisa ada di ranjangku pagi tadi, yang jelas kami tidak melakukan apapun karena kondisiku saat bangun sangat baik.”

“Bagaimana aku bisa percaya semua itu?” Langsung saja Ryeowook menarik lengan Hyukjae, meraih kerah kemeja Hyukjae dan membuka kancing teratas temannya itu.

YA! Apa yang kau lakukan?!” teriak Hyukjae sambil memegangi kerah kemejanya, menyingkirkan tangan Ryeowook secara paksa.

“Tentu saja melakukan pemeriksaan. Aku baru akan percaya jika sudah melihatnya sendiri.”

“Sialan! Sebenarnya kau temanku atau bukan?” Hyukjae merapikan kembali pakaiannya sambil menatap kesal kepada temannya. “Harusnya aku memang tidak bercerita kepadamu.”

Ryeowook tersenyum, buru-buru meraih lengan Hyukjae ketika temannya hendak pergi. “Kau terlalu cepat marah akhir-akhir ini. Ayolah, aku hanya bercanda, Hyukkie.”

Hyukjae mendengus, menyandarkan punggungnya pada dinding sambil bersidekap. “Bercandamu semakin tidak lucu menjelang hari pernikahan.”

Giliran Ryeowook yang menghela napas. Ia mengambil pelembapnya dan memulas benda tersebut pada bibirnya. “Jongwoon semakin sulit ditemui karena sibuk dengan restoran cabang yang bermasalah. Aku terpaksa harus mempersiapkan segalanya bersama orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang selera Jongwoon. Mungkin karena itu aku jadi stres dan sering melampiaskan rasa frustrasiku dengan mengerjaimu.”

“Berengsek.”

“Aku tahu, aku minta maaf, oke?”

Hyukjae menghela napas. Bagaimanapun orang usil ini tetaplah sahabat baiknya, jadi Hyukjae tidak akan menyimpan kemarahan terlalu lama untuk Ryeowook. “Baiklah, tapi bantu aku mengatasi masalah ini. Beri tahu aku apa yang harus kulakukan nanti saat bertemu kakak iparku.”

o0o

Donghae tiba di kantor pukul delapan lebih seperempat, ia terlambat, itu sudah jelas. Semua terjadi karena ia tidak pernah tidur senyenyak semalam, ia jadi lupa diri dan akhirnya bangun kesiangan. Untungnya ia tidak memiliki janji ataupun meeting penting pagi ini.

Para sekretarisnya berdiri, membungkuk, menyapanya dari balik meja dengan sopan.

Donghae membalas, lalu bertanya pada gadis muda yang berdiri paling dekat. “Dokumen dari tempat perakitan sudah tiba?”

“Sudah saya letakan di meja anda bersama dokumen lain yang harus anda periksa. Dan juga, dokter Kim Yongwoon sedang menunggu di dalam.”

Donghae mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya.

Di dalam sana, seorang lelaki tua sedang duduk santai di salah satu sofa tunggal sambil menikmati secangkir kopi hitam.

“Selamat pagi, dokter Kim,” sapa Donghae. Lelaki tampan tersebut mengambil tempat duduk berseberangan dengan Yongwoon lalu tersenyum. “Ini kejutan, tidak biasanya anda berkunjung sepagi ini.”

Sang dokter meletakan cangkir beserta tatakannya di atas meja, kemudian bersandar sambil memperhatikan penampilan Donghae yang tidak berdasi, dan juga jasnya yang tidak dikancingkan. Mirip seperti berandalan yang baru mendapatkan pekerjaan kantoran. Satu-satunya yang membuat dokter Kim yakin bahwa pria muda di depannya ini adalah pimpinan perusahaan hanyalah tampang tampannya yang segar. Yongwoon kemudian tersenyum misterius kepada Donghae. “Awalnya saya hanya ingin mampir untuk mengajak anda menikmati kopi pagi di restoran ujung jalan. Tapi ternyata anda belum datang. Lalu saya bertanya-tanya, hal apa yang membuat anda terlambat datang ke kantor di awal pekan seperti ini? Dan setelah saya melihat anda masuk, saya tahu apa jawabannya.”

“Benarkah?”

Dokter Kim mengangguk. “Jadi, apakah anda akhirnya bisa tidur dengan nyenyak sebelum tengah malam?”

“Benar.”

“Delapan jam tanpa terbangun?”

Setengah malu, Donghae menggosok tengkuknya. Ia membenarkan lagi pertanyaan sang dokter.

“Metode apa yang anda gunakan? Apa anda mengganti obatnya?”

“Tidak, dokter Kim.” Donghae membuat Jeda, menerawang karena teringat pada Hyukjae yang mengigau minta dicumbu sambil mengalungkan lengan di lehernya. “Saya hanya tidak sengaja tidur di kamar lain.” Sekarang, Donghae tidak tahu apa yang akan dia lakukan ketika bertemu Hyukjae. Bagaimana pandangan Hyukjae kepadanya sekarang? Iparnya itu pasti telah mengambil kesimpulan buruk tentang dirinya.

Donghae akan meminta maaf nanti, saat mereka bertatap muka di rumah.

“Kenapa hal ini tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya?” kata Dokter Kim sambil memegangi dagunya, mempertimbangkan sesuatu.

Perhatian Donghae kembali kepada dokter Kim, ia mengernyit tidak mengerti tapi sabar menanti penjelasan sang dokter.

“Anda butuh suasana semacam bulan madu ke dua, tuan Lee.”

Dengan siapa yang dimaksud sang dokter? Sungmin? Donghae merasa itu tidak benar, karena yang ada di sampingnya semalam adalah Hyukjae, ranjang dan aroma iparnya itulah yang telah membuat Donghae berhasil tertidur lelap seperti putri dalam dongeng. Lalu, apa dia harus berbulan madu dengan Hyukjae?

Oh…

Seperti yang dikatakan Siwon, dirinya—pemikirannya—memang berengsek. Lee Donghae mengakui hal itu.

“Saran saya, bicarakan hal ini baik-baik dengan istri anda, minta dia untuk mengambil cuti dan mulailah merencanakan liburan.”

Mungkin jika hal itu di sarankan jauh hari sebelum ini, maka Donghae akan menyetujuinya, tapi Donghae sudah terlanjur melangkah dan tidak bisa berbalik untuk mundur. “Akan saya pertimbangkan saran anda, dokter Kim, terima kasih,” kata Donghae sekedar basa-basi saja. Ia hanya tidak ingin orang-orang tahu separah apa kebobrokan dalam rumah tangga dan juga hatinya. “Karena ini masih pagi, dan saya juga tidak memiliki jadwal penting, mari kita menikmati kopi pagi di restoran ujung jalan.”

Donghae berdiri, diikuti dokter Kim yang memasang senyuman penuh penyesalan.

“Saya ingin sekali melakukannya, tapi, karena sudah lama berada di sini, dan saya juga sudah mendapat kopi pagi yang nikmat, saya harus segera pergi, tuan Lee.”

“Oh, baiklah. Mungkin kita bisa melakukannya lain waktu.”

Keduanya tersenyum. Donghae kemudian mengantarkan dokter Kim sampai ke luar ruangan sambil membicarakan perkembangan keadaan Jeno.

Di sekretariat, mereka bertemu dengan Choi Siwon yang sedang menggoda tidak hanya satu, tapi semua orang dalam ruangan tersebut.

“Selamat pagi, tuan Choi,” sapa Donghae, merusak kesenangan temannya dengan sengaja.

Lelaki tampan berlesung itu menoleh saat menyadari ada orang lain yang berjalan mendekat. “Ah, selamat pagi, Mr. Whale, dokter Kim,” sapa Siwon dengan ramah hingga membuat Yongwoon tersenyum.

“Selamat pagi, tuan Choi.” hanya dokter Kim yang menjawab.

“Sepertinya saya datang di waktu yang tidak tepat. Coba jika saya datang setengah jam lebih cepat, kita pasti bisa menyatukan kekuatan untuk membuat suasana hati tuan Lee jadi buruk.”

Dokter Kim tertawa setengah geli. “Saya sangat yakin, bahkan tanpa dibantu siapapun anda bisa melakukan hal itu dengan baik tuan Choi.”

Siwon tertawa kencang, membuat para sekretaris Donghae memperhatikan, tapi tidak ada yang merasa terganggu, mereka malah terlihat senang karena melihat lelaki tampan mendapat kesenangannya di pagi hari.

“Saya permisi, tuan Choi.”

Siwon mempersilahkan, dan akhirnya Yongwoon berlalu meninggalkannya dan juga Donghae.

“Jadi, apa yang membawamu kemari sepagi ini, tuan Choi?”

Choi Siwon mengalihkan perhatian kepada Donghae, lalu berdecak. “Tidakkah kau ingin menawarkan kopi dulu kepadaku, Mr. Whale?”

Donghae berbalik, berjalan kembali ke dalam ruangannya diikuti Siwon, tapi sebelumnya dia sudah meminta kepada salah satu sekretarisnya untuk membawakan dua cangkir kopi untuk Siwon dan dirinya sendiri.

“Jadi, ada apa?” Donghae menuntut sambil duduk di balik meja kerja, membuat Siwon akhirnya menyerahkan sebendel dokumen kepada Donghae.

“Rekomendasi model-model terbaik untuk acara peluncuran produk barumu nanti.”

“Ini masih terlalu dini, Masi. Proses produksi bahkan belum selesai. Kami juga belum melakukan pertemuan untuk menentukan konsep acara nanti,” kata Donghae sambil memeriksa dokumen dari Siwon, isinya berupa kumpulan profil para model dari salah satu anak perusahaan Siwon.

“Karena itulah aku membawakan dokumen tersebut. Untuk membantumu mencari inspirasi.”

Dari awal sampai pertengahan halaman, model-model dalam dokumen di tangannya miliki satu kesamaan yaitu rambut mereka semua berwarna pirang, seperti Hyukjae, adik dari istrinya yang berhasil menjatuhkan Donghae ke dalam jurang pesona. Kenapa Siwon tidak sekalian memasukan Hyukjae ke dalam daftar itu?

“Kemarin aku bertemu Jeno. Anakmu cepat sekali tumbuh besar, tapi dia sedikit kurang ajar, bisa-bisanya dia mengataiku tidak asik.”

Donghae hanya tersenyum, tidak harus menanggapinya karena ia yakin bukan Jeno yang ingin dibahas Siwon.

“Dan juga Hyukjae.”

Nah, benar kan?

“Bagaimana bisa iparmu terlihat sememikat itu, Donghae? Oh! bagaimana jika dia saja yang kau jadikan model di acara peluncuran nanti?”

Donghae menghela napas, menutup dokumen yang ia periksa dan melemparkannya ke meja. “Aku tidak menyukai satupun dari mereka.” Termasuk ide sialan Siwon tentang iparnya. “Carikan model yang tinggi dan berambut gelap.”

Mata Siwon memicing, ia menyeringai licik. “Benarkah? Kupikir kau menyukai yang pirang.”

Memang, tapi bukan untuk hal-hal semacam ini.

“Kalau kau tidak suka dengan yang pirang, itu artinya aku bisa mendekati iparmu yang manis itu kan?” tanya Siwon sambil menaik turunkan alisnya. Antara meminta dan mengejek tidak ada bedanya di mata Donghae.

Buaya sialan!

Donghae tersenyum santai berbanding terbalik dengan. hatinya yang jengkel. “Cobalah, Masi. Aku ingin tahu seberapa besar nyalimu untuk melakukan hal itu.”

Siwon tertawa, ia tahu sedikit atau banyak temannya ini telah masuk ke dalam perangkap. “Kau benar-benar ingin tahu?” Wajahnya terlihat meyakinkan, tapi Donghae tahu semua itu hanyalah sandiwara untuk memancing amarah atau pengakuan keluar dari dasar hatinya.

o0o

Hyukjae tiba di rumah tepat pukul enam petang, bersamaan dengan Donghae. Mengapa akhir-akhir ini kebetulan yang ia jumpai selalu mengarah kepada hal yang tidak ia inginkan?

Keduanya keluar dari dalam mobil, saling memandang dan terdiam.

Baiklah, saatnya untuk menjalankan saran Kim Ryeowook.

Hyukjae akan bersikap biasa saja seolah semalam Donghae tidak pernah tidur satu ranjang dengannya toh mereka tidak melakukan apapun, Hyukjae tidak harus menuntut sesuatu sebagai pertanggung jawaban.

Hyukjae mencoba untuk tersenyum kepada Donghae tapi wajahnya terasa kaku hingga ia menyimpulkan senyuman itu pasti terlihat aneh di mata Donghae.

“Bisa kita bicara sebentar, Hyukjae?” tanya Donghae.

Lelaki tampan ini pasti mau menyinggung hal semalam. Apa yang harus Hyukjae lakukan sekarang, Kim Ryeowook?

Setelah menarik napas satu kali, Hyukjae mengangguk. Bisa ia lihat sang ipar berjalan mendekat padanya.

“Ku mohon dengarkan penjelasanku dan jangan menyela.”

Baik.

“Semalam aku hanya memindahkanmu dari kamar Jeno. Aku tidak melakukan hal-hal lain yang tidak pantas kepadamu.”

Lalu, apa maksud dari jemari mereka yang saling menaut itu?

“Dan masalah…” Suara Donghae menjadi rendah, ia malu untuk mengakui, tapi ia harus melakukannya. “Aku tidur di ranjangmu itu bukan kesengajaan. Aku… aku sedang mencari referensi ranjang baru, ya ranjang baru.” Oh alasan macam apa itu, Lee Donghae? Tempat tidur baru ataukah pasangan tidur baru?

Berengsek.

“Dan Ranjangmu terlihat nyaman, aku ingin mencobanya, tapi karena aku mengantuk, aku pun tertidur sampai pagi.” Donghae tak sepenuhnya membual tentang yang satu ini.

“Baiklah,” kata Hyukjae setelah menarik napas untuk yang ke dua kalinya. “Apa itu artinya kau akan mengganti ranjang di kamarmu dengan ranjang di kamarku? Ku pikir semua ranjang di rumah ini sama saja.”

Tentu saja tidak. Ada perbedaan yang memcolok antara ranjang yang sering ditempati dan tidak.

Hyukjae tidak tahu kalau Donghae sudah pernah mencoba tidur di tiap ranjang yang ada dalam kamar di rumah tersebut—kecuali kamar Hyukjae, Jeno dan para pelayan—tapi Donghae tetap tidak bisa tidur sebelum tengah malam tak peduli seberat apapun kepalanya.

“Tidak, tentu saja bukan seperti itu yang ku maksud.” Donghae terlihat mulai bingung dan frustrasi karena alasan yang ia buat sendiri. Ah, senjata makan tuan. “Bagaimana jika kita lupakan masalah ranjang?” Pikiran Donghae bisa jadi kemana-mana jika terus membahasnya. “Pokoknya, inti dari kejadian semalam adalah ketidak sengajaan, dan aku tidak melakukan apapun padamu.” Hyukjae-lah yang melakukan sesuatu padanya. Sesuatu yang membuat pangkal pahanya nyeri saat bangun karena teringat bahwa Hyukjae tanpa sadar meminta bercinta kepadanya.

Jeno tiba-tiba muncul dari halaman samping rumah. Berlari kencang sambil menggiring bola diikuti dua orang pelayan dan tukang kebun. “Tamchunie, tangkap bolanya!”

Hyukjae menoleh, dan matanya melotot kaget saat melihat bola sepak meluncur cepat ke arahnya.

Karena tidak siap menangkap, bola itu pun menghantam perut dan membuat Hyukjae kehilangan keseimbangan. Beruntunglah karena ada Donghae di belakangnya, sehingga Hyukjae tidak sampai terjatuh. Iparnya itu dengan sigap memegangi kedua lengan Hyukjae dari belakang, menjaga Hyukjae supaya tetap berdiri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Donghae, wajahnya cemas.

Hyukjae hanya mengangguk, tapi tangannya memegangi perutnya erat-erat, menghilangkan rasa sakit akibat tendangan bola Jeno. Sejak kapan keponakannya bisa menendang bola sekuat itu?

Tamchunie…”

Donghae mengalihkan perhatian pada putranya yang sedang menatap Hyukjae dengan perasaan bersalah. Ia sudah siap memarahi Jeno, tapi Hyukjae menggenggam tangannya dan menatapnya sambil menggeleng. Benar-benar seperti seorang istri sekaligus ibu yang pengertian.

Sambil memegangi perutnya, Hyukjae berjongkok dan membelai rambut Jeno. Keponakannya itu sudah menggunakan pakaian serba panjang, yang artinya, seharusnya Jeno tidak bermain di luar rumah begini. “Kenapa jam segini Jeno masih bermain di luar?”

“Jeno bosan menunggu Tamchunie pulang di dalam.” Bocah itu terlihat seperti ingin menangis saat melihat Hyukjae masih memegangi perut, korban dari tingkah hyperaktif-nya. “Apakah sakit, Tamchunie? Maafkan Jeno…”

Hyukjae tersenyum, mau ditempatkan dalam situasi apapun, keponakan tersayangnya tetap terlihat menggemaskan. “Tidak jika Jeno berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Maksud Samchun bukan bermain bolanya, tapi menendang bola kepada orang dengan sembarangan.”

“Jeno janji tidak akan melakukannya lagi, Tamchunie,” kata bocah itu sambil mengacungkan jari kelingkingnya yang mungil.

Hyukjae pun mengaitkan kelingkingnya pada Jeno. “Anak pintar, sekarang beri salam pada Abeoji.”

Bocah itu melirik ayahnya dengan perasaan takut karena sisa amarah di mata Donghae. “Maaf, Abeoji…”

Lelaki tampan itu ikut berjongkok bersama Hyukjae. “Apa Jeno menendang bola kepada Abeoji?”

Bocah itu menggeleng.

“Kenapa Jeno meminta maaf kepada Abeoji?”

Karena ayahnya itu terlihat seram sekali tadi. Lebih seram dari pada Frankenstein.

“Jangan mengulanginya lagi, mengerti?”

Jeno mengangguk patuh tanpa sepatah katapun.

“Bagus,” kata Donghae sambil mengusak rambut Jeno yang basah karena berkeringat. “Apa Jeno sudah mandi?”

Bocah itu mengangguk lagi.

Sang ayah kemudian mendekat untuk mencium bau sang anak. “Tapi kenapa bau Jeno seperti belum mandi tiga hari?”

Jeongmal?” Jeno cemberut. “Bau Abeoji juga tidak enak seperti tidak mandi tiga hali.”

Donghae tertawa, begitupula dengan Hyukjae. Lihatlah betapa ajaibnya bocah itu, di saat takutpun dia masih berani membalas ejekan ayahnya.

“Baik, sepertinya kita semua butuh mandi.”

Jeno langsung memeluk Hyukjae dengan wajah gembira, “Mandi dengan Tamchunie~” lupa jika perut pamannya masih sakit karena tendangan bola super darinya. Hyukjae meringis di tengah tawanya. “Baiklah, Jeno akan mandi dengan Samchun.”

Melihat hal itu, Donghae jadi berpikir, Bisakah ia mengatakan hal itu juga? Mandi dengan Hyukjae? Tapi akan lebih menyenangkan jika Hyukjae sendiri yang mengajaknya mandi dengan suara manjanya, sama seperti igauannya semalam.

T.B.C

Iya, ini emang terlalu banyak sifat yg gk beres. Tolong dimaklumi karena imajinasi saya sedang liar. XD Makasih buat semuanya yang udah ngeluangin waktu buat baca ff ini, yg udah ngasih perhatian lebih sama ff ini—review, fav, follow, dan yang ngasih dukungan penuh ke saya buat nerusin ff ini. Love you all! *kiss n hug* see you next chap

ONE OF THOUSANDS ROSES [Chapter 2]

ONE OF THOUSANDS ROSES

Warning! BL/SLASH! also general warning applied.

Cast & Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)

Genre & Rating: Full of Family (semi incest) and Romance (Mature content), lil bit Hurt, and much Drama.

Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.

HAPPY READING

Dokter Kim menyatakan Jeno keracunan makanan. Diduga, kimbab berisi daging salmon mentah adalah pemicu utamanya. Kata pelayan yang menemani Jeno sepanjang siang sampai sore, bocah itu menghabiskan sepiring penuh makanan tersebut setelah bermain. Continue reading

ONE OF THOUSANDS ROSES

ONE OF THOUSANDS ROSES

Summary: Cinta itu datang dari sebuah kebiasaan, tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Hanya saja, hal itu bisa berubah menjadi kesalahan yang fatal jika orang yang dicintai adalah ipar sendiri. Lantas siapa yang akan memenangkan kompetisi tersebut? Apakah dia yang telah memberikan keturunan? Ataukah dia yang memberikan keturunan tersebut kasih sayang?

Warning! BL/SLASH! General warning applied.
Cast & Pairing: Lee Hyukjae (HaeHyuk) Lee Donghae (HaeMin) GS! Lee Sungmin (Yes, this is Lee Brothers’s area)
Genre & Rating: Full of Family (Semi-incest) and Romance (Mature content not only for bed scene), lil bit Hurt/Comfort, and much Drama.
Disclaimer: Story belong to me. They (casts) belong to GOD, themselfs. And HaeHyuk belong to each other.
HAPPY READING Continue reading